hosting dan domain murah niaga hoster 03

10 Persiapan Menyambut Bulan Ramadahan yang Harus Anda Ketahui

Suatu rencana agar sukses harus diawali dengan persiapan yang matang, banyak rencana yang gagal karena tidak direncanakan dengan baik sejak awal. Demikian halnya untuk rencana menghadapai bulan Ramadhan, agar sukses Anda harus mempersiapkan segalanya dengan baik jauh-jauh hari sebelum bulan puasa Ramadhan datang.

Jika kebanyakan dari kita sangat antusias merencanakan urusan duniawi yang bersifat sementara, maka sebagai orang yang beriman dengan hari akhir, seharusnya kita lebih antusias lagi untuk rencana menyambut bulan yang penuh berkah, bulan puasa yang merupakan salah satu dari 5 rukun Islam, bulan yang subur untuk beramal dan meraih pahala untuk bekal di akhirat kelak. Inilah kesempatan Anda, dunia adalah ladang amal untuk akhirat, persiapkan diri untuk hari perhitungan dan pembalasan dimana tidak ada lagi kesempatan untuk beramal.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ. إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,  kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Untuk itu, kami telah mempersiapkan 10 hal yang perlu Anda siapkan dalam rangka menyambut datangnya bulan ramadhan. Selamat membaca.

1. Membersihkan Jiwa Dengan Taubat

Taubat bermakna kembali, yaitu kembali kepada jalan yang benar setelah melakukan dosa dan kesalahan dengan memperbanyak istighfar dan meminta ampun kepada Allah Ta’ala. Manusia adalah tempat salah dan dosa, karena Allah menciptakan manusia demikian, oleh karena itu pintu taubat selalu dibuka oleh Allah kapan saja, tanpa peduli sebesar apa dosa seseorang, Allah senantiasa menanti dan menerima taubat hamba Nya, selama ajal seseorang  belum tiba dan sebelum matahari terbit dari barat (tanda kiamat akan terjadi). Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan berbuat dosa), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumr: 53)

Taubat adalah wajib setiap saat, namun ketika hendak memasuki bulan Ramadhan yang mulia dan penuh berkah, maka selayaknya seseorang bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa yang ia lakukan, dan meminta maaf kepada sesama manusia jika pernah melakukan kesalahan, sehingga ia memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenah, sehingga melakukan ibadah di bulan Ramadhan lebih fokus dan khusyu’, Allah Ta’ala berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat (dengan beristighfar) sehari seratus kali.” (HR. Muslim)

2. Memperbanyak Do’a

Telah dikisahkan bahwa sebagian kalangan dari para salaf (1) bahwa mereka berdoa kepada Allah 6 bulan sebelum bulan Ramadhan supaya dipanjangkan umur untuk dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan, dan juga berdo’a 5 bulan setelahnya supaya amalan-amalan mereka, terutama amalan di bulan Ramadhan, diterima oleh Allah Ta’ala.

Do’a adalah senjata orang yang beriman. Segala sesuatu tidak akan berjalan dengan lancar tanpa bantuan dan pertolongan dari Allah, maka do’a adalah senjata ampuh untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam menghadapi bulan Ramadhan.

Maka hendaknya seorang Muslim berdo’a kepada Allah Ta’ala agar ditemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan baik, agama maupun badannya, dan berdo’a memohon kepada Nya agar diberi bantuan dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhan, kemudian berdo’a supaya amal ibadanya diterima oleh Nya.

3. Gembira Menyambut Bulan Ramadhan

Seorang Muslim akan sangat bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan, karena bulan merupakan salah satu nikmat Allah yang paling besar atas hamba-hamba Nya, karena pada bulan ini pahala kebaikan-kebaikan dilipat gandakan, pintu-pintu surga dibuka lebar, dan pintu-pintu Neraka dikunci rapat. Bulan Ramadhan juga bulan Al-Quran dan bulan pertempuran yang menentukan dalam Islam.

Seorang yang beriman akan sangat bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan, karena bulan ini adalah kesempatan emas untuk mendulang pahala sebanyak-banyak nya yang tidak didapat pada bulan-bulan yang lain. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.”  (QS. Yunus: 58)

4. Menyelesaikan Hutang Puasa Wajib

Hendaknya seseorang sebelum memasuki bulan Ramadhan telah melaksanakan segala hutang puasa wajib, seperti puasa Ramadhan tahun lalu yang pernah ia tinggalkan. Sehingga ketika memasuki bulan Ramadhan ia telah terbebas dari hutang puasa.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ : سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ : كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلا فِي شَعْبَانَ .

رواه البخاري ( 1849 ) ومسلم ( 1146 )

Dari Abi Salamah berkata: Aku mendengar ‘Aisyah Radhiyallahu’anha berkata: “Dahulu aku memiliki beberapa hari hutang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu menggantinya (mengqadha nya) kecuali pada bulan Sya’ban (satu hari sebelum Ramadhan berikutnya tiba) (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-hafidz Ibnu Hajar berkata:

“Dari tekad beliau (‘Aisyah) untuk mengganti puasa Ramadhan di bulan Sya’ban, disimpulkan bahwa tidak boleh menunda penggantian (qadha) puasa sampai memesuku bulan Ramadhan berikutnya (harus diselesaikan sebelum bulan Ramadhan tiba)” (Fathul Bari, Ibnu Hajar 4/191)

5. Membekali Diri Dengan Ilmu Tentang Ramadhan

Segala amalan harus didasari dengan ilmu, demikian juga ketika hendak memasuki bulan Ramadhan hendaknya seseorang mempersiapkan diri dengan belajar segala hal yang penting yang berkaitan dengan puasa Ramadhan, Sholat Tarawih, hal-hal yang membatalkan puasa, dst.

Membekali diri dengan ilmu adalah kewajiba, Rasulullah Shallallahu’AlaihiWaSallam  bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)

6. Segera Menyelesaikan Urusan

Dalam menjalankan Ibadah di bulan Ramadhan dengan fokus dan khuyu’, seseorang harus memiliki pikiran yang lapang dan jernih. Oleh karena itu hendaknya sebelum Ramadhan tiba, hendaknya seseorang telah menyelesaikan segala urusan-urusan yang membuat pikiran kusut, seperti hutang piutang, masalah keluarga atau kerjaan dll. sehingga ketika memasuki bulan Ramadhan, ia lebih fokus dalam Ibadah.

7.Puasa di Bulan Sya’ban

Banyak berpuasa di bulan Sya’ban sangat membantu untuk persiapan puasa di bulan Ramadhan. Berpuasa di bulan Ramadhan seperti latihan agar terbiasa, sehingga ketika memasuki puasa Ramadhan seseorang tidak merasa terlalu berat karena telah didahului oleh puasa pada bulan Sya’ban.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu’AlaihiWaSallam berpuasa sampai kami berkata (seolah) beliau tidak pernah makan, dan makan sampai kami berkata (seolah) beliau tidak pernah berpuasa, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu’AlaihiWaSallam  menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihatnya lebih banyak berpuasa darinya pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau banyak berpuasa di suatu bulan seperti puasa engkau di bulan Sya’ban? Beliau menjawab: “Itu (Sya’ban) adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia, suatu bulan diantara Rajab dan Ramadhan, ia adalah bulan yang padanya diangkat segala amal kepada Tuhan semesta alam, dan aku suka agar amalku diangkat dan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasai, dihasankan oleh Al-Albani)

Dalam hadits diatas menjelaskan tentang hikmah dari puasa Sya’ban, yaitu bahwa ia adalah bulan segala amal perbuatan diangkat (diangkut kepada Allah Ta’ala), dan sebagian para ulama telah menyebutkan hikmah lain dari puasa di bulan Sya’ban, yaitu bahwa puasa pada bulan Sya’ban ibarat sunnah qabliyah pada sholat wajib, karena ia mempersiapkan jiwa dan mental dan membuatnya semangat untuk menjalankan sholat wajib, demikian halnya untuk puasa Sya’ban sebelum puasa bulan Ramadhan.

8.Memperbanyak Baca Quran

Salamah bin Kahil berkata: Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulannya para Qurraa (para pembaca dan ahli Quran)

‘Amr bin Qais apabila telah masuk bulan Sya’ban ia menutup seluruh lapak dagangannya dan fokus untuk membaca Quran.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan bercocok tanam dan bulan Sya’ban adalah bulan menyiram (dan memupuk) tanaman, sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan panen tanaman.”

Ia juga berkata: Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, dan bulan Sya’ban seperti mendung, sedangkan bulan Ramadhan seperti hujan, maka siapa yang tidak menanam pada bulan Rajab, dan tidak menyiram tanamannya pada Sya’ban, bagaimana mungkin ia ingin memanen pada bulan Ramadhan. Ini bulan Rajab sudah berlalu, apa yang akan engkau lakukan pada bulan Sya’ban jika engkau ingin (memanen) di Ramadhan, inilah keadaan Nabimu dan keadaan para pendahulu ummat pada bulan yang berkah, lalu bagaimana posisimu dari amal-amal dan derajat-derajat ini?

9. Berkumpul dengan Keluarga

Hendaknya seorang suami meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarganya, anak-anak dan istrinya, untuk mengajarkan, memberitahu dan mengingatkan mereka tentang hukum-hukum puasa dan memberi semangat anaknya yang masih kecil untuk berpuasa atau untuk latihan berpuasa.

10. Mempersiapkan Buku

Bulan Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan buku-buku untuk dibaca pada bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan adalah bulan ilmu dan membaca buku adalah salah satu cara terbaik untuk mencari ilmu. Dengan buku-buku tersebut Anda dapat membacanya sendiri atau dengan keluarga di rumah, dan bisa juga Anda hadiahkan atau Anda berikan kepada imam mesjid untuk ia bacakan kepada para jama’ahnya.

 


Catatan Kaki:

(1) As-Salaf atau Salafus Shaleh adalah generasi terbaik di awal Islam, mereka adalah 3 generasi pertama Islam yaitu generasi Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ Tabi’in. Ini berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallahu’AlaihiWaSallam yang berbunyi,

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi para Sahabat) kemudian setelahnya (Tabi’in) dan kemudian setelahnya.”

Tiga generasi awal ini menjadi model dalam beragama terutama pada generasi para Sahabat, karena pada masa itu lebih dekat kepada sumber Islam yaitu Nabi Muhammad Shallallahu’AlaihiWaSallam , sehingga kemurnian agama masih terpelihara, ibarat sungai semakin kehulu semakin jernih. Juga berdasarkan fakta bahwa kelompok-kelompok sesat dalam tubuh ummat Islam mulai marak muncul setelah berlalu 3 generasi tersebut.

Namun, sebagian ulama kadang memakai kata salaf untuk makna ulama terdahulu secara umum yang Mu’tabar (yang kredibel).

 

Referensi: islamqa.info

 

Hosting Unlimited Indonesia