Hukum Menolak Lamaran Laki-laki Idaman?

bolehkah menolak lamaran laki-laki idaman
bolehkah menolak lamaran lelaki idaman?

Lelaki Idaman boleh ditolak?

Pertanyaan:

Ada seorang gadis yang ingin menikah dengan seorang pemuda Suria, Namun keluarganya menolak ia menikah dengan orang Suriah, padahal gadis ini suka kepada anak muda tadi, dan sekarang keluarganya memperlakukannya dengan cara yang buruk, sampai-sampai sang gadis kepikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Jawab:

Ini sebuah kenyataan yang menunjukkan tidak cerdasnya walinya.

Seorang wali berkewajiban untuk memahami dan memikirkan dan melakukan sesuatu yang paling maslahat dalam pandangannya.

Disana ada sesuatu yang membuatmu heran sehingga engkau berkata: “semoga Allah merahmati para bapak dan para kakek, padahal mereka bukan dari kalangan terpelajar, Namun Allah berikan mereka kepahaman.

Allah berfirman, ketika mengisahkan perkataan seorang wanita Madyan tentang Nabi Musa:

{قالت إحداهن يا أبت استأجره إن خير من استأجرت القوي الأمين}

“Berkata salah seorang dari dua putrinya, wahai ayah, Upahlah dia sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau beri upah adalah orang kuat lagi amanah”  [al-Qosos: 26]

Ketika lelaki itu datang kepadanya ia berkata: “Ia berkata sungguh saya ingin menikahkanmu seorang dari dua putriku ini”

Dan demi Allah yang tiada ilah yg benar kecuali Ia, Salah seorang dari dua gadis ini adalah ia yang mengatakan “Upahlah dia”. Maka inilah bapak yang cerdas, inilah bapak yang mengerti, tatkala ia mengatakan upahlah dia, bapknya tau bahwa wanita ini ada kecondongan kepadanya.

Maka agar jangan sampai syaiton leluasa diantara keduanya, padahal tidak mungkin ia berbuat yang tidak-tidak dia adalah Manusia yang diajak bica langsung oleh Allah, Nabi Musa untuknya dan untuk Nabi kita seutama-utamanya sholawat dan salam, akan tetapi bapak ini memahami anaknya, maka dia mengatakan “saya ingin menikahkanmu”.

“Anak gadismu menyebut-nyebut seorang pemuda, dan pemuda itu orang yang baik agamanya, kenapa engkau menolaknya?

Kemudian anak Gadismu mengatakan “Saya mau bunuh diri”.

Apakah kalian sudah tahu bahwa Nabi pernah bersabda: ” tidak pernah ada dari Dua orang yang saling mencintai yang sebandaing dengan pernikahan”

Yaitu, engkau mengetahui bahwa puteimu ada kecondongan kepada anak pamanya, anak tantenya atau anak Omnya (Sepupu) atau anak tetangga, sedangkan laki-laki itu orang yang baik, akan tetapi seorang pendidik selayaknya untuk memperlakukan pada orang didikannya disesuaikan dengan keadaan mereka dan bukan keadaan sang pendidik, ketika engkau mendidik, didiklah anakmu yang sesuai dengan waktunya (saat ini) dan bukan berpatokan pada Zamanmu (dahulu)

Mungkin seorang dalam keadaan kenyang dan ia memilki istri dan ia memiliki segala kebutuhan terpenuhi, tetapi ketika ia ingin bermuamalah dengan anak-anaknya, dia perlakukan mereka seauai dengan keadaannya, maka ini adalah kesalahan besar.

Adapun anak perempuan jika dia sudah pernah menikah lalu menjanda, sungguh telah datang sebuah hadis didalam Shohih Muslim dari ‘Abdullah bin Abbas -radiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan seorang janda lebih berhak untuk dirinya”

Dalam sebuah riwayat yang lain: “Seorang janda lebih berhak untuk dirinya dari walinya”

Namun haram baginya menurut manyoritas Ulama’ menikahkan dirinya sendiri, haruslah adanya walinya, namun sang wali tidak boleh memaksakan kehendaknya, tidak boleh ia menolak pilihannya kecuali kalau ada suatu sebab yang syar’i yang dianggap.

Selama tidak ada sebab yang syar’i yang dianggap maka pada asalnya adalah diterima, maka ia lebih berhak untuk dirinya daripada engkau

Kenyataan pada kita saat ini, jika ada seorang wanita yang dicerai, atau ditinggal mati suaminya, seakan-anak Haram baginya untuk menikah lagi, sedangkan Kebutuhan janda kepada suami itu lebih besar dari pada kebutuhan Seorang gadis kepada suami.

Maka dengan demikian: orang ini tadi ketika didatangi oleh calon suami orang suriah, apa celanya pada orang suriah?

Ditinjau dari peradaban yang lalu-lalu, dimana seorang syam dibandingkan orang Iraq?

Mana diantara keduanya yang paling maju?

Dimana Suriah dibandingkan seorang Yordan?

Maka Peradaban yang lama adalah milik kita dan ulama kita.

Maka orang Iraq adalah orang yang paling bergengsi dan lebih tinggi kedudukannya dan lebih kaya, kemudian setelahnya adalah orang Suriah.

Maka yang menjadi pembahasannya -Barakallahu fiikum- adalah bahwa yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa, seorang itu tidaklah dia ditolak karena dai orang mesir, ataupun orang Suriah, tidak pula karena dia orang Iraq, tidaklah ditolak karena perkara ini, pandangannya bukan dari ini.
Yang bisa dia diberikan pandangan, jika ia menerima maka baik, dan jika tidak maka ini hak dia, tidak boleh memaksakan kehendak kepada wanita dibawah perwalian saya tersebut untuk menikahkannya.

Kalau misalkan saya didatangi oleh seorang pemuda dari mesir atau orang Iraq, pertama aku akan melihat agama nya dan akhlaq nya, “Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridho agama dan Akhlaqnya maka nikahkanlah ia”.

Emudian barulah aku memberikan pilihan kepada anak perempuanku, kalau ia menerima wajib akupun menerimanya, namun jika ia berkata Saya tidak bisa, wahai Ayah banyak Hal yang saya tidak mampu. Maka ini Urusannya, maka engkau menampakkan persetujuan kemudian membiarkannya memilih.

Adapun pandangan jahiliah ini, yang dipraktekkan manusia  bahwa jika begini maka tidak mau menikahkannya, maka ini tidaklah benar, seperti ini bukanlah pandangan yang syar’i, pandangan syar’i adalah mempertimbangkan masalah agama dan akhlaq.

Wallahu A’lam.

Majelis fatwa setiap jum’at.
6 Rajab 1439 H
23-3-2018 M

Diterjemah dari teks Arab :
http://meshhoor.com/fatwa/2036/

Adalah seorang penuntut ilmu yang saat ini mengajar di salah satu pesantren di Batam, Beliau pernah belajar dan menyelesaikan program S1 di LIPIA, Jakarta selama 5 tahun.

Apakah Sah Shalat Tidak Memakai Mukena

apakah sah sholat tanpa mukena

apakah sah sholat tanpa mukena

Pertanyaan : Sholat tanpa mukena, sahkah? 

Jawab: Bismillah wassholatu wassalamu ala rasulillah wa ashhabihi ajmain, wa ba’du.

Mukena merupakan busana yang sudah tidak asing lagi bagi wanita muslimah di tanah air, karena atribut ini biasa dikenakan ketika sholat di sebabkan mereka meyakini mukena lebih menutup aurat  bagi wanita.

Dari sedikit keterangan diatas maka pakaian / busana apa saja yang dapat menutup aurat  secara sempurna bagi wanita muslimah maka boleh digunakan ketika sholat dan sholatnya sah. Hal ini di dasari oleh sabda nabi صلى الله عليه وسلم :

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا يقبل الله صلاة إلا بخمار. رواه الخمسة إلا النسائى وصححه ابن خزيمة و أحمد شاكر و الألباني.

Artinya: “Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda Allah tidak menerima sholat wanita yang telah haidh (dewasa)tanpa khimar”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-tirmidzi ,Ibnu Majah, dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Albani) .

Berkata Syaikh Ali bassam :Khimar adalah kain yang menutup kepala dan leher (taudihul ahkam 2/6).

Aurat wanita dalam sholat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan menurut mayoritas para ulama(Shahih Fiqih Sunnah 1/300).

Wallahu A’lam bisshowaab.

 

Seorang penuntut ilmu. Alumni LIPIA Jakarta. Saat ini mengajar di salah satu Ponpes di Jakarta.