Kisah Mengharukan Diterimanya Taubat Ka’ab Bin Malik Oleh Allah

Kisah haru diterimanya taubat ka'ab bin malik oleh Allah

Kisah Mengharukan Diterimanya Taubat Ka’ab Bin Malik Oleh Allah– Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, Menceritakan kepada kami Al-laitsi dari ‘Uqoil bin Syihab dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik. Bahwa, ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, (dan beliau adalah penuntun Ka’ab bin Malik ketika beliau sudah buta, yang mana ‘Abdullah ini merupakan anak beliau sendiri) beliau berkata:
Saya telah mendengar Ka’ab bin Malik menceritakan kisah ketidak ikut sertaan Beliau dalam peperangan Tabuk.

Ka’ab berkata: aku tidaklah pernah mangkir dari peperangan bersama dengan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- kecuali pada peperangan Tabuk. Memang, saya pernah tidak ikut serta dalam perang badar. Namun, pada saat itu Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak mencela seorangpun yang tidak ikut serta pada perang Badr.
Karena, sebetulnya (diperang Badr ini) Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam Hanya ingin mendapatkan Kafilah dagang Milik Quraisy. (Dan apa yang diinginkan tidak tercapai) Sehingga Allah mempertemukan mereka dengan para musuh mereka tanpa ada perjanjian sebelumnya.

dan sesungguhnya aku telah Hadir bersama Rasulullah dimalam (bai’at) al- ‘Aqobah, Ketika kami mengukuhkan keislaman kami. dan aku tidak pernah lebih mencintai ikut serta dalam perang Badr (dari ikut serta dalam Bai’atul ‘Aqobah), walaupun perang Badr ini Lebih dikenang oleh manusia dari pada (Bai’atul ‘Aqobah).

Ceritaku ketika itu bermula, Bahwa belum pernah ada dari keadaanku yang lebih baik dan lebih mudah melebihi disaat diriku Berpaling dari peperangan tersebut.

demi Allah. tidaklah pernah sebelumnya aku memiliki dua kendaraan. Namun pada peperangan ini (Tabuk) aku mampu mengumpulkan dua kendaraan sekaligus.

Biasanya, setiap kali Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ingin berperang, Beliau mesti menyebutkan nama yang lainnya (yakni, tidak menyebutkan arah dan tujuan peperangan yang dimaksut secara langsung). Sampai tiba saatnya pada peperangan ini. disaat terik matahari yang Menyengat, dan menghadapi jarak tempuh perjalanan yang begitu panjang beserta padang pasir (yang luas), ditambah dengan Jumlah musuh yang begitu banyak. Maka, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berterus terang kepada kaumuslimin, agar mereka semua mempersiapkan segala sesuatunya untuk peperangan (Tabuk) ini.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- Mengabarkan kepada mereka secara terus terang tentang arah tujuan yang beliau inginkan.

Adapun, jumlah kaumuslimin yang bersama dengan Rasulullah -Shallallahu’alaihi wasallam- sangatlah banyak. Namun, nama-nama mereka tidak disatukan dalam sebuah kitab. Maksut (Ka’ab) adalah catatan diwan.
berkata Ka’ab, seandainya jika ada seseorang yang ingin Mangkir, dia akan mengira bahwa dirinya tidak akan ketahuan, kecuali Jika Allah menurunkan Wahyu tentang keberadaannya.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berperang pada peperang ini, disaat buah-buahan sedang membaik, dan (enak) berteduh.

maka Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan kaumuslimin yang bersama beliau telah bersiap-siap.
maka, akupun bergegas berangkat dipagi harinya (berniat) untuk mempersiapkan perbekalku seperti Halnya mereka, namun sayapun pulang dan belum melakukan (persiapan) apa-apa. dan aku berkata pada diriku sendiri: “aku akan mampu mempersiapkannya”. teruslah aku mengulur-ngulur waktu, sehinggai orang-orang sudah Benar-benar siap. Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam-bersama dengan para sahabatnya (Sudah siap semuanya). Namun, aku belum mempersiapkan perbekalanku sedikitpun. Aku (malah) berkata: “aku akan mempersiapkannya sehari sampai dua Hari sebelumnya, dan akan ku susul mereka.

maka, dipagi hari, setelah mereka menjauh meninggalkanku, aku pun Pergi di pagi hari untuk memulai persiapan. namun, aku pulang (ke rumahku) dan tidak mempersiapkan apa pun. tiba hari selanjutnya,aku pun belum mempersiapkan apa-apa. maka begitulah senantiasa keadaanku Sampai mereka semakin Menjauh dan hampir memulai peperangan. akupun kemudian berkeinginan berangkat untuk menyusul mereka. dan andai saja aku melakukan hal itu, namun hal itu tidak ditakdirkan terjadi untukku.

Dan ketika itu, jika aku keluar dari rumahku menuju kerumunan manusia, yakni setelah keberangkatan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- (keTabuk), akupun berkeliling disekitaran mereka, membuat diriku semakin bersedih. Karena, aku tidak melihat kecuali laki-laki yang tertuduh dengan kemunafikan, ataupun orang yang Allah beri ‘udzur dari kalangan orang-orang yang lemah.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tidaklah mengingatku (sama sekali) sampai tibanya beliau di Tabuk. Maka, ketika beliau duduk bersama kaumuslimin diTabuk, beliau berkata:
“apa yang dilakukan oleh Ka’ab bin Malik?”

maka ada seseorang dari bani Salimah yang berkata: “Ia dihalangi oleh pakaian bagusnya (disibukkan oleh dunia) dan pandangannya kepada dirinya” (bahasa kiasan untuk sombong).

maka berkatalah Mu’adz bin Jabal -radiyallahu ‘anhu- : Sungguh jelek ucapanmu, maka demi Allah wahai Rasulallah, Saya tidak mengetahui tentangnya kecuali kebaikan. maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam.

Berkata Ka’ab bin Malik:

ketika saya mendengar berita, bahwa beliau akan beranjak pulang, Terbesit dibenakku keinginan untuk berdusta dan mengucapkan kata-kata yang dapat menyelamatkanku dari murka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- diesok hari, dan aku minta bantuan kepada orang-orang yang memiliki kepandaian dari keluargaku.

namun, ketika ada yang berkata, bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam Hampir tiba, hilanglah dariku segala pikiran yang batil tadi, dan aku sadar bahwa tidak mungkin keluar dari lisanku sebuah kedustaan dihadapan beliau, akupun bertekat untuk berkata jujur kepada beliau. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah tiba.
kebiasaan beliau –Shollallahu ‘alaihi wasallam- jika telah datang dari sebuah safar, maka yang pertama kali beliau datangi adalah Masjid. Lalu, beliau menunaikan sholat dua raka’at kemudian beliau duduk Menghadap kepada para sahabat.

Ketika beliau dalam keadaan seperti itu, datanglah orang-orang yang tidak ikut kemedan perang, dan mulailah masing-masing dari mereka mengemukakan udzurnya.

jumlah mereka sekitar delapan puluh orang laki-laki. maka Rasulullah- shllallahu ‘alaihi wasallam- menerima mereka, memaafkan mereka serta memohonkan ampunan untuk mereka dan menyerahkan rahasia mereka ( jujur atau tidaknya) kepada Allah.

tibalah aku giliranku untuk menghadap kepada beliau, (aku melihat) beliau senyum, tetapi dengan senyuman yang menunjukkan kemarahan (beliau kepadaku). lalu beliau berkata, kemarilah!
akupun berjalan ke arah beliau, sampai aku berada dihadapan beliau.

maka, beliau bertanya, apa sebabnya engkau tidak ikut serta? tidakkah engkau telah membeli kendaraanmu?
maka akupun menjawab, betul. sungguh demi Allah, jika aku berada dihadapan selain dirimu dari penduduk bumi ini, aku akan selamat dari marahnya dengan diriku mengemukakan udzurku , sungguh aku pandai berjidal. tapi, saya ini demi Allah, jika saya berkata dusta dihadapan engkau yang membuatmu ridho, Kemungkinan besar Allah akan membuat engkau marah kepadaku. dan jika aku berkata jujur yang membuat engkau marah kepadaku, sungguh dengannya aku berharap akan turun ampunan Allah kepadaku.

tidaklah demi Allah, sungguh tidak ada satu ‘udzurpun yang aku miliki. Bahkan, aku memiliki kekuatan, keluasan dan kemudahan yang tak pernah aku alami seperti disaat diriku mangkir ini.

maka Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- berkata: “adapun orang ini maka dia telah berkata jujur. dan pergilah engkau sampai Allah memutuskan perkaramu!”.
maka akupun pergi.

dan berdatanganlah beberapa laki-laki dari bani Salimah. mereka mengikutiku, seraya mereka berkata kepadaku, “sungguh, kami tidak pernah mengetahuimu melakukan dosa sebelum peristiwa ini. dan sesungguhnya engkau tidak mampu untuk mengemukakan udzurmu kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan udzur yang dikemukakan oleh orang-orang yang berpaling tersebut, dan sungguh cukuplah permohonan ampun Rasulullah untukmu (jika engkau mengemukakan udzur dengan berdusta) sebagai sebuah dosamu”.

demi Allah, begitulah mereka senantiasa menyerangku, sampai-sampai aku ingin kembali (kepada Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wasallam- ), namun aku mengabaikan bisikan hatiku ini.

akupun balik bertanya kepada mereka, apakah ada yang mengalami Hal yang serupa dengnku selain diriku?
mereka menjawab, iya. ada dua orang yang mereka berkata seperti perkataanmu (jujur), dan merekapun mendapatkan jawaban yang serupa denganmu.

aku bertanya, siapakah mereka berdua itu?

 

mereka menjawab, Murarah bin Ar-rabi’ Al’amri, dan Hilal bin Umayyah Alwaqifi, maka mereka sebutkanlah kepadaku dua orang sholih ini, yang mana keduanya ikut hadir pada perang Badr, dan keberadaan keduanya sebagai panutan.

Maka, akupun beranjak pergi ketika mereka menceritakan tentang dua orang tadi. (sekarang) Nabi –Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang kaumuslimin untuk berbicara dengan kami bertiga, (yaitu) orang-orang yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk.

maka Orang-orang pun menjauhi kami, dan sikap mereka berubah terhadap kami. Sampai, seakan bumi ini asing bagiku, tidaklah seperti daerah yang pernah aku kenali.
begitulah keadaan kami selama lima puluh malam.

adapun kedua temanku, maka mereka berdua memilih untuk tetap berdiam dirumah, sambil keduanya menangis.

adapun saya, sayalah orang yang termuda dari kami bertiga, saya juga yang terkuat. maka saya keluar menghadiri sholat jama’ah bersama kaumuslimin, dan saya berkeliling dipasar. namun, tidak ada seorangpun yang mengajakku bicara. akupun mendatangi Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan aku ucapkan salam untuk beliau. ketika itu beliau sedang duduk ditempat biasanya beliau duduk selepas sholat. akupun bertanya-tanya dalam diriku, apakah beliau menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku ataukah tidak?

Kemudian aku sholat didekat beliau, Dan aku mencuri pandangan, maka aku melihat beliau memperhatikan kearahku jika aku dalam keadaan sholatku, namun, jika aku menghadap kepada beliau, beliau membuang muka dariku.
dan begitulah sampai aku merasa sungguh lama perlakuan orang-orang yang begitu Kasar kepadaku.

maka aku memanjat pagar kebun milik Abi Qotadah. dia ini adalah anak pamanku, orang yang paling aku cintai, maka aku mengucapkan salam untuknya. dan demi Allah, dia tidak menjawab salamku. akupun berkata, wahai abu qotadah, aku bertanya kepadamu dengan Nama Allah, apakah engkau mengetahui bahwa aku cinta kepada Allah dan Rasulnya?
ia hanya diam. akupun kembali bertanya kepadanya, dan dia tetap diam. aku ulangi lagi bertanya, maka dia mengatakan “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”. maka berlinanglah air mataku, lalu akupun pergi dan memanjat pagar lagi.

lanjut beliau, Ketika aku berjalan, tiba-tiba ada seorang Petani dari negri syaam, yang biasa membawa makanan untuk dijual dimadinah , dia berkata: siapa yang bisa menunjukkanku kepada rumah Ka’ab bin Malik?
maka langsung saja orang-orang menunjukkannya sampailah ia tiba kepadaku, maka ia menyerahkanku sebuah surat dari seorang raja Ghassan, ternyata, didalamnya tertulis, amma ba’du: sesungguhnya telah sampai kepadaku berita, bahwa sahabatmu telah berlaku kasar kepadamu, dan tidaklah Allah menempatkanmu ditempat kehinaan, tidak pula Kesia-siaan, maka Datanglah kemari bersama kami, kami akan menghiburmu. ketika aku membaca surat tersebut, aku berkata, inipun merupakan Ujian. Maka, aku menuju ketungku api, akupun membakar surat tersebut.

Ketika telah berlalu 40 hari dari 50 hari ini, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah mendatangiku dan beliaupun berkata: “Sesungguhnya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- menyuruhmu untuk menjauhi istrimu. Aku berkata, apakah aku menceraikannya ataukah bagaimana? Ia berkata, tidak. Tetapi jauhi dan jangan mendekatinya. Dan begitu pula diutuskan kepada kedua sahabatku seperti apa yang diutuskan kepadaku. Maka, aku berkaata kepada istriku, Pergilah engkaau ke rumah keluargamu sampai Allah memutuskan perkaraku. Berkata Ka’ab, maka datanglah istri Hilal bin Umayyah kepada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan dia berkata, Ya Rasulullah, sesungguhnya hilal bin Umayyah Orang Tua yang terlantar, ia tidak memiliki pembantu. apakah engkau benci jika aku membantu kebutuhannya? Nabi Berkata, Tidak (aku tidak melarangmu membantunya) Namun, janganlah engkau mendekatinya. Istrinya berkata, sungguh –demi Allah- dia tidak pernah bergeser. demi Allah, dia selalu menangis semenjak kejadian yang menimpanya itu sampai Hari Ini.

Maka, ada sebahagian kerabatku yang menyarankan agar aku minta idzin kepada Rasulullah untuk memberi izin kepada istriku untuk membantuku, sebagaimana Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberi izin untuk istri Hilal bin Umayyah untuk membantunya. Maka aku berkata, demi Allah, Saya tidak akan meminta izin kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wasallam- kepadaku jika aku meminta izin atas hal ini, padahal aku adalah seorang laki-laki yang kuat.

Maka aku berdiam diri setelah nya selama sepuluh Hari, sempurnalah penantian kami selama lima puluh Hari dari semenjak larangan mengajak kami berbicara.

Maka ketika aku sholat subuh, pada hari yang ke lima puluh itu, ketika itu aku berada dibelakang rumah rumah kami. Maka, ketika aku berdiam dalam kondisi yang sebagaimana Allah sebutkan (dalam firman Nya) “telah sempit bagiku dunia yang amatlah luas”, lalu aku mendengar suara seseorang yang berteriak dari puncak gunung sal’i, ia berteriak dengan suaranya yang paling keras, ia berkata: “wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah” Ka’ab melanjutkan, maka aku tersungkur kesujudku, dan akupun tahu bahwa telah turun kelapangan untukku.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumumkan tentang penerimaan Allah terhadap taubat kami, yaitu ketika beliau menunaikan sholat fajar.

Maka, datanglah orang-orang untuk memberi kabar gembiraa kepada kami, berderai orang-orang yang mengungkapkan kabar gembira untuk kedua sahabatku, dan ada seorang laki-laki yang menunggangi kuda datang kepadaku, dan ada pula seorang dari bani Aslam yang menuju sebuah bukit lalu mendakinya, dan suaranya lebih cepat daripada kuda. Ketika telah sampai kerumahku orang yang tadi aku mendengar suaranya yang membawa kabar gembira untukku, akupun langsung menanggalkan dua pakaianku, dan aku pakaikan kepadanya. karena, dia telah membawa kabar gembira untukku.

Dan demi Allah, saya tidak memiliki pakaian lain pada saat itu, maka akupun meminjam pakaian dan aku memakainya.

lalu, aku beranjak kepada Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wa sallam-. maka, orang-orang menemuiku berbondong-bondong, mereka mengucapkan selamat untukku, karena telah diterimanya taubatku. Ucapan mereka adalah: “selamatlah atas taubat dari Allah untukmu”, ia berkata: (begitulah mereka menyambutku) sampai aku memasuki masjid.

Dan disana ada Rasulullah, dan duduk disekitar beliau para sahabat. maka bangunlah Tolhah bin Ubaidillah menemuiku sambil berjalan cepat, sehingga ia menyalamiku, dan mengucapkan selamat untukku.
Dan demi Allah, tidak ada seorang muhajirin pun yang berdiri menemuiku selain dirinya. Dan kebaikan Tolhah ini tidak akan aku lupakan.

Maka, ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-, Rasulullah berkata dengan wajah beliau yng berseri-seri: “bergembiralah dengan Hari terbaik yang pernah engkau lalui dari semenjak engkau dilahirkanoleh ibumu!”. Ka’ab berkata, aku pun berkata, “apakah dari anda ya Rasulullah? Beliau menjawab, “tidak. Tapi, dari Allah”. Adalah Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wasallam- jika dalam keadaan bahagia, wajah beliau bersinar, sampai seakan-akan wajah beliau bagaikan potongan Rembulan, dan kami semua mengetahui hal ini dari kebiasaan beliau.

Ketika aku duduk dihadapan beliau –Shollallahu ‘alaihi wasallam- maka, aku berkata Ya Rasulullah, sesungguhnya dari bentuk taubatku, bahwa aku melepaskan semua hartaku sebagai shodaqoh untuk Allah dan untuk Rasulnya. Berkata Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- : “tahanlah bersamamu sebagian hartamu, sungguh itu lebih baik bagimu”. Aku berkata, sesungguhnya aku telah menahankan bagianku dipeperangan khaibar. lalu aku berkata, ya Rasulallah! Sesungguhnya Allah hanyalah menyelamatkanku dengan kejujuran, dan sesungguhnya diantara bentuk taubatku bahwa tidaklah aku berbicaraa kecuali kejujuran, selama saya hidup. Dan demi Allah, tidak ada seorangpun dari kaumuslimin yang berkata dengan kejujuran melebihi diriku semenjak aku berucap seperti itu kepada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Aku tidak pernah menyengaja berdusta dalam pembicaraanku, semenjak aku berikrar seperti diatas dihadapan Rasulullah, sampai detik ini.

Dan aku berharap, semoga Allah menjagaku pada hari-hariku yang tersisa.
Allah telah menurunkan kepada Rasulullah –Shollallahu “alaihi Wasallam- (Ayat Taubatku):

لقد تاب الله على النبي والمهجرين والأنصار

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar.”

Sampai pada firman-Nya:

وكونو مع الصدقين

“dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

 

Dan demi Allah, Tidak ada nikmat yang terbesar yang aku rasakan dari Nikmat yang Allah karuniakan kepadaku setelah kenikmatan Hidayah Islam, melebihi nikmat kejujuranku kepada Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wasallam-. dimana, aku tidak berdusta kepada beliau sehingga akupun celaka, sebagaimana orang-orang yang berdusta kepada beliau telah celaka.

Karena, sesungguhnya Allah berfirman tentang orang-orang yang berdusta dengan Ungkapan yang paling buruk. Maka Allah berfirman (tentang mereka):

سيحلفون بالله لكم إذا انقلبتم

“kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka,”

Sampai pada Firman Nya:

فإن الله لا يرضى عن القوم الفسقين

“Maka, Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang Fasik itu.”

Berkata Ka’ab, dan kami bertiga adalah orang-orang yang diakhirkan perkaranya daripada perkara mereka yang diterima oleh Rasulullah –Shollallahu ‘alaihi wa sallam-. ketika mereka semua bersumpah kepada beliau, maka Nabi –Shollallahu ‘alaihi wasallam- pun menerima mereka dan mendoakan ampunan untuk mereka.

Namun, Nabi –Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengakhirkan urusan kami (bertiga) sampai Allah yang memutuskan (langsung) tentang perkara ini.

Maka ,oleh karena itu Allah berfirman:

وعلى الثلاثة الذين خلفوا

“Dan bagi tiga orang yang diakhirkan.”

Dan bukanlah makna dari firman Allah diatas menceritakan tentang berpalingnya kami dari medan perang. namun, yang dimaksut adalah Penundaan dan pengakhiran Allah terhadap perkara kami disbanding perkara mereka orang-orang yang bersumpah kepada beliau dan mengemukakan udzurnya, maka Beliaupun menerima mereka.
————–
* Kisah ini diriwayatkan oleh imam Bukhari (4418) dan Imam Muslim (2769), dan ini adalah Laafazh Bukhari.

#diterjemahkan Oleh: Muhammad Thoha
(Hamba yang Faqir kepada Ampunan Robbnya)

Adalah seorang penuntut ilmu yang saat ini mengajar di salah satu pesantren di Batam, Beliau pernah belajar dan menyelesaikan program S1 di LIPIA, Jakarta selama 5 tahun.