Hukum Mensyaratkan Tidak Dipoligami Kepada Calon Suami

hukum istri meminta agar suami tidak poligami

hukum istri meminta agar suami tidak poligami

Bismillah was sholatu was salamu ala rosulillah wa ala’lihi wa ashhabihi ajmai’n

Para ulama membagi syarat yang di utarakan oleh calon suami istri ketika akad menjadi tiga bagian :

1. Syarat yang sejalan dengan tujuan adanya akad nikah dan sesuai dengan hukum syari’.

Contoh : kamu boleh menikahiku dengan syarat kamu harus menafkahiku dengan baik.

Para ulama sepakat bahwa akad ini wajib di tunaikan, bahkan kandungan dari syarat ini adalah suatu kewajiban yang telah di perintahkan agama sebelum di syaratkan oleh calon suami istri.

2. Syarat bertentangan dengan tujuan dari akad pernikahan dan bertentangan dengan syari’

Contohnya : aku akan menikahimu,dengan syarat tanpa memberikan mahar.

Para ulama bersepakat bahwa syarat ini batil dan tidak di tunaikan, namun mereka berselisih pendapat apakah akad nikah tersebut tetap sah dengan batalnya syarat tersebut.

3.  Syarat yang tidak bertentangan dengan tujuan akad pernikahan dan tidak bertentangan dengan hukum syari’ ,namun syarat tersebut mengandung kemaslahatan untuk salah satu dari calon suami istri, para ulama mempermisalkan sebagaimana pertanyaan di atas, yaitu wanita bersedia di nikahi dengan syarat tidak di poligami.

Para ulama berselisih pendapat tentang hukum syarat ini ,namun pendapat yang kuat adalah syarat tersebut di perbolehkan dan suami wajib menunaikan syarat tersebut jika ia meyetujui syarat tersebut. Di antara dalil akan hal ini adalah :

Firman Allah subhaanahu wa ta’alaa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah olehmu perjanjian itu, (QS.Al-Maidah :1)

Dan juga sabda nabi shollahu alaihi was sallam dari sahabat Uqbah bin amir :

أحق الشروط أن توفوا بها ما استخللتم به الفروج ، رواه البخاري و مسلم

Artinya : “Syarat yang paling berhak untuk kalian tuanaikan adalah syarat untuk menghalalkan farji/akad nikah.”(HR.Bukhori dan muslim)

Dan di antara alasan para ulama memperbolehkan syarat ini,karena tidak bertentangan dengan hukum syari’ dan tujuan suatu pernikahan,
seorang muslim terikat dengan dengan akad yang telah ia setujui.

Pada kasus pertanyaan di atas ,seorang suami di berikan pilihan antara menikah dengan wanita lain atau menikahi wanita tersebut dengan menggugurkan haknya(berpoligami). Ketika ia memilihnya dengan menerima syarat tersebut,maka ia wajib menunaikannya dan berdosa apabila melanggar perjanjian tersebut .

Wallahu a’lam bis showaab

Pembahasan ini kami sarikan dari kitab (syarhul mumti’ 13/166-167, shohih fiqih sunnah 3/153-158,zaadul ma’aad 5/97-98)

Abu Kaysaa, Lc

Seorang penuntut ilmu. Alumni LIPIA Jakarta. Saat ini mengajar di salah satu Ponpes di Jakarta.

5 Amalan Untuk Menggapai Cinta Allah

cara untuk mendapatkan cinta Allah

cara untuk mendapatkan cinta Allah

Menjadi insan yang dicintai oleh Allah adalah tujuan utama seorang beriman, karena surga hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang Allah cintai. Jika Allah mencintai seseorang maka seluruh makhluk juga akan cinta kepadanya.

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي جِبْرِيلُ فِي السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، وَيُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ “

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allâh Tabaraka wa Ta’ala mencintai seorang hamba, Allâh menyeru kepada Jibril, “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia!” Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru di langit, “Sesungguhnya Allâh mencintai Fulan, maka cintailah dia (wahai para malaikat)!” Maka penduduk langit mencintainya. Dan Allâh menjadikan dia diterima di bumi (yakni dicintai orang-orang shalih di bumi-pen) (HR. Al-Bukhâri, no. 7485; Muslim, no. 2637; dan ini lafazh al-Bukhâri)

Apa yang kita cari dalam hidup ini kecuali agar dicintai oleh Allah? Orang akan senang jika dicintai oleh bos atau pimpinannya, bagaimana jika kita dicintai oleh Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, Dzat yang selama ini memberi kita makan dan minum?

Diantara cara kita menggapai cinta Allah adalah dengan mengerjakan apa yang Ia cintai. Ada banyak amalan yang dicintai oleh Allah Ta’ala, bahkan secara umum, semua amalan keta’atan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah dicintai oleh Allah Ta’ala mulai dari yang wajib maupun yang sunnah. Tapi, kali ini kita kita akan membahas amalan-amalan yang secara khusus disebutkan bahwa amalan tersebut dicintai Allah dan orang yang mengamalkannya tergolong kepada orang-orang yang Allah cintai.

Ada banyak amalan untuk menggapai cinta Allah, diantaranya:

1. Menjaga Amalan yang Diwajibkan Allah dan Amalan Sunnah.

Konsisten dengan amalan yang yandi wajibkan dan yang disunnahkan Allah dan Rasul Nya walaupun sedikit adalah diantara cara yang utama menggapai cinta Allah Ta’la. Dalah hadits riwaya Al-bukhari, dari Abu Hurairah, Rasulullah (ﷺ) bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai dari amalan wajib. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506)

2. Orang yang Senantiasa Bertaubat dan Menyucikan Diri

Manusia tidak lepas dari berbuat dosa dan salah, orang yang baik disisi Allah bukanlah mereka yang tidak melakukan dosa sama sekali melainkan mereka yang apailah melakukan dosa langsung kembali dan bertaubat kepada Allah Ta’ala dan Allah tidak akan bosan menerima taubat hambanya sampai hamba tersebut yang bosan. Pintu taubat selalu terbuka sampai ajal seseorang menjemput dan sampai matahari terbit dari barat. Allah menykai orang-orang yang senantiasa bertaubat dan menyucikan diri setia kali berdosa dan bernoda. Menyucikan diri bisa bermakna suci batin dan hatinya, juga bisa bermakna suci dari kotoran dan najis, keduanya dicintai Allah Ta’ala. Allah berfirman.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

3. Allah Mencintai Orang yang Sabar

Dunia adalah negeri cobaan dan ujian, seseorang tidak mungkin bisa bebas dari ujian selama mereka hidup di dunia baik cobaan kecil maupun besar. Karena itu, maka sabar adalah senjata yang harus dimiliki oleh setiap orang beriman dalam menghadapai ujian dan bala yang menimpanya.

Sabar adalah menahan diri dari ucapan dan tindakan yang dibenci oleh Allah ketika terjadi sesuatu yang tidak disukai seperti musibah, bencana, kehilangan dan lainnya. Sabar merupakan amalan yang ringan diucapkan tapi sangat sulit untuk diamalkan, untuk bersabar dengan baik kita butuh latihan terus menerus mulai dari bersabar atas musibah yang kecil.

Karena beratnya sabar, Allah mencintai orang yang bersabar, dan menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang mampu bersabar atas musibah yang diberikan oleh Allah, bahkan sabar merupakan diantra amalan yang pahalanya tanpa batas. Allah berifirman:

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-Imran : 146)

Mengenai pahala orang yang bersabar, Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-zumar : 10)

4. Allah Mencintai Orang yang Berlaku Lembut

Kelembutan merupakan akhlak mulia yang dicintai oleh Allah. Orang yang memiliki sifat lembut juga disenangi oleh manusia, sebaliknya orang yang memiliki sifat yang kasar cenderung dijauhi oleh manusia. Nabi bersabda:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya” (Muslim no. 2593)

Rasulullah adalah orang yang paling lembut akhlaknya, oleh karena itu beliau merupakan orang yang paling dicintai oleh sahabat-sahabatnya baik yang jauh maupun yang dekat, bahkan kecintaan mereka pada beliau melebihi cinta mereka terhadap diri sendiri, anak, ibu dan bapak mereka. Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran : 159)

5. Berpenampilan Rapi, Indah dan Bersih

Kebersihan dan kerapian adalah adab yang diperlukan terutama ketika pergi ke mesjid, sholat, membaca Quran dan lainnya. Allah mencintai orang mu’min yang bersih dan rapi, dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

Dari Abdullah bin Mas’ûd, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.  (HR. Muslim, no. 2749)

Penutup

Ada banyak sekali amalan-amalan yang dicintai oleh Allah Ta’ala, In Sya Allah kami akan membahas amalan-amalan lainnya pada lain kesempatan.

Pada dasarnya semua amal kebaikan adalah amal yang dicintai oleh Allah Ta’ala, yang paling penting ketika beramal, usahakan menghadirkan niat bahwa amal tersebut dilakukan supaya diridhai oleh Allah bukan untuk mencari keuntungan duniawi.

 

 

Bolehkah menanyakan Calon suami apakah kamu punya mantan?

Afwan! Apakah dulu antum pernah pacaran ?

Apakah ana boleh bertanya demikian kepada ikhwan yang akan melamarku?

Bismillah was sholatu wassalamu ala rosulillah wa ala a’lihi wa ashabihi ajma’in,

Pada dasarnya islam memerintahkan bagi mereka yang akan menikah untuk mencari pasangan yang baik agama dan akhlaknya, hal inilah yang di wasiatkan nabi kepada wali – wali wanita :

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

Artinya :Apabila datang seorang laki-laki untuk(melamar)yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya,maka nikahkanlah, jika tidak maka hal tersebut akan menyebabkan finah di muka bumi dan kerusakan yang besar.(HR.At tirmidzi, dan di hasankan oleh syaikh Al-bani dalam Adh Dho’ifah ).

Nabi memerintahkan untuk memfokuskan pada “agama dan akhlak” karena dua hal tersebut adalah kunci kesuksesan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.

Dan karena kedua sifat tersebutlah pasutri akan mampu mengatasi segala permasalahan rumah tangga yang “pasti” akan datang menerpa bahtera rumah tangga.

Para ulama menjelaskan cara untuk mengetahui baik agama dan akhlak seseorang ditinjaudengan :

👉 memperhatikan ibadah yang nampak dalam keseharian,seperti menjaga sholat lima waktu,dll

👉 mencari informasi terpercaya dari orang-orang terdekat ,seperti tokoh agama,gurunya,orang tuanya,teman dekatnya

👉 memperhatikan bagaimana ia mempergauli orang terdekatny(terlebih para wanita) seperti ibunya,saudari perempuanya.

👉 memperhatikan lingkungan keseharian dia tinggal.

Namun,islam telah memberikan batasan-batasan agar seseorang tidak terlampau mencari-cari kesalahan dan aib seseorang yang akan menimbulkan fitnah dan prasangka buruk terhadap sesama muslim, seperti menanyakan masa lalunya sebelum belajar agama,atau perkara dosa yang telah ia tinggalkan semisal pacaran,judi,minuman keras,dll.

Karena semua manusia “PASTI”pernah melakukan perbuatan dosa atau memiliki kekurangan.

Perhatikanlah, bagaimana Nabi shollallahu alaihi was sallam memerintahkan untuk fokus melihat agama dan akhlaknya kepada para sahabat,yang mana para sahabat juga pernah memiliki masa lalu yang kelam sebelum masuk islam.

Bahkan,sebagian para sahabat sampai bertanya :

يا رسول الله ،و إن كان فيه

Artinya : wahai rosulullah,walaupun dia memiliki kekurangan

Nabi shollahu alaihi wassalam pun menjawab sebanyak tiga kali untuk tertap fokus kepada agama dan akhlaknya.(HR. imam At tirmidzi dan beliau mengatakan hadis hasan ghorib).

Nabi shollahu alaihi was sallam juga bersabda :

من ستر مسلما ستره الله في الدنيا و الآخرة (رواه مسلم)

Artinya : Barang siapa menutupi aib seorang muslim(di dunia) ,maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat(HR.muslim)

✍Berangkat dari penjelasan ringkas di atas, maka tidak selayaknya kita menanyakan sesuatu kesalahan(pacaran),
NAMUN JIKA KESALAHAN TERSEBUT DAPAT MENGURANGI ATAU MENGHALANGI TUJUAN DAN MAKSUT SYARIAT DARI SEBUAH PERNIKAHAN, ATAU AIB TERSEBUT MEMBAHAYAKAN PASANGAN DAN KETURUNANNYA DI KEMUDIAN HARI, seperti orang yang mengidap penyakit AIDS, Maka ia WAJIB menjelaskan kepada yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak.

Serta fokuslah dalam membenahi diri dan menggantungkan segala “harapan dan cinta” hanya kepada Allah.

Dan yakinlah dengan janji Allah dalam surat Al an nur ayat 26 :

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ(النور ٢٦)

Artinya : Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). [ QS.An-nur 26]

Ketika Allah memilih seseorang menjadi pasangan kita dengan segenap usaha yang telah kita upayakan agar mendapatkan pasangan yang baik serta megharapkan ridhoNya dalam pernikahan,maka ia adalah yang terbaik dengan segala kekurangan yang ia miliki.

Wallahu a’lam bis showaab

📚 Abu kaysaa,Lc

Seorang penuntut ilmu. Alumni LIPIA Jakarta. Saat ini mengajar di salah satu Ponpes di Jakarta.

5 Rukun Islam dan Dalilnya yang Wajib Diketahui

lima 5 rukun islam, makna dan penjelasannya

Ada 5 rukun islam yang wajib dijalankan seorang muslim. Rukun dari segi bahasa memiliki banyak arti, diantaranya sandaran, pojok, dan tiang. Rukun Islam berarti amalan amalan didalam agama Islam yang memiliki peran penting dalam kehidupan seorang muslim.

Amalan-amalan ini menjadi tiang dan sandaran bagi agama seseorang yang harus ia jaga dengan baik, karena jika tiang tiang ini runtuh dengan tidak mengamalkannya maka islam seseorang dikhawatirkan akan runtuh pula.

Rukun Islam ada 5 (lima) yang diambil dari sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم  :

“Islan didirikan diatas 5 perkara; persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, memberi zakat, haji, dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari : 8)

Untuk rukun iman yang 6, silahkan baca disini.

5 Rukun Islam dan Dalilnya yang Wajib Diketahui

Berikut ini 5 rukun islam secara berurutan dan penjelasan masing-masing dari rukun Islam yang lima secara singkat.

1. Mengucapkan Syahadat

rukun islam syahadat
rukun islam syahadat

Mengucapkan 2 kalimat syahadat merupakan rukun islam pertama dan yang terpenting dari rukun Islam. Syahadat atau disebut juga Syahadatain ibarat pintu gerbang bagi islam, seseorang yang ingin masuk islam harus mengucapkan syahadat ini untuk menjadi seorang muslim.

Berikut ini adalah teks syahadatain dan artinya:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ  وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Asy-hadu an laa ilaaha illaa Allah, wa asy-hadu anna muhammadan rasulullah”

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa muhammad adalah utusan Allah.”

Ada beberapa variasi lafazd atau teks syahadat diantaranya ada penambahan hamba dan rasul Nya, penambahan “‘Isa adalah hamba dan rasul Nya”, semuanya bisa digunakan, intinya sama yaitu penegasan bahwa tiada sesembahan yang  berhak disembah kecuali Allah dan penegasan bahwa nabi Muhammad adalah utusan Nya.

Disebut syahadatai (dua kalimat syahadat) karena padanya terkandung dua bagian penting yang tidak bisa dipisahkan, yaitu:

Bagian pertama: meyakini bahwa hanya Allah semata Tuhan yang menciptakan, mengatur, menjaga, memeri rizki dan menguasai alam semesta. Menetapkan bagi Allah semua nama-nama yang sempurna (Al-asmaa Al-husna) dan sifat sifat-sifat yang sempurna sebagaimana yang telah Ia tetapkan bagi diri Nya dan juga sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasul Nya. Meyakini bahwa hanya Allah saja yang berhak untuk diibadahi (disembah) tidak untuk selain Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.  Demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (QS. Al-an’am : 101-102)

Bagian kedua: meyakini bahwa Allah telah mengutus Rasulnya Muhammad صلى الله عليه وسلم  dan menurunkan kepada Nya kitab Al-quran, dan Allah memerintahkannya untuk menyampaikan ajaran agama islam ini kepada seluruh manusia. Meyakini akan wajibnya mencintai dan mengikuti beliau, dan seseorang tidak dianggap mencintai Allah kecuali dengan mengikuti petunjuk rasulullah صلى الله عليه وسلم , sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali- Imran : 31)

2. Mendirikan Sholat 

rukun islam sholat
rukun islam sholat

Rukun Islam kedua adalah mendirikan sholat wajib 5 waktu sehari semalam. Meyakini bahwa Allah telah mewajibkan bagi muslim yang telah baligh (mencapai masa pubertas) dan berakal untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam.

Mendirikan sholat dengan bersuci (wudhu), ia berdiri dihadapan Rabbnya dengan khusyu dan penuh rendah diri sebagai wujud rasa syukur atas segala nikmat-nikmat Nya. Dalam sholat tersebut seseonga berdoa memohon kemurahan Allah, meminta ampun kepada Nya, memohon agar dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari api neraka.

Sholat yang wajib dilaksanakan sehari semalam ada 5 (lima), yaitu:

  1. Sholat subuh (fajar) dimulai ketika terbit fajar di pagi hari (sekitar jam 4-5 pagi, waktu fajar untuk setiap wilayah bisa berbeda-beda)
  2. Sholat zuhur dilakukan pada tengah hari yaitu ketika bayangan suatu benda sudah mulai condong ke arah barat.
  3. Sholat ‘asar, waktunya dimulai ketika bayang suatu benda sama panjangnya dengan benda tersebut
  4. Sholat maghrib, dimulai ketika matahari telah terbenam
  5. Sholat ‘isya, ketika senja yang berwarna merah di ufuk telah hilang dan malam mulai gelap.

Sholat 5 waktu ini adalah wajib baik bagi muslim maupun muslimah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-nisa : 103)

3. Membayar Zakat

rukun islam membayar zakat
rukun islam membayar zakat

Rukun Islam berikutnya adalah zakat. Allah menciptakan manusia dengan kondisi yang berbeda-beda, baik dari segi warna kulit, karakter, keilmuan dan amal, dan rezeki mereka. Sebagian orang Allah jadikan kaya dan sebagian yang lain miskin, untuk menguji orang kaya apakah bersyukur dan orang miskin apakah bersabar.

Oleh karena orang yang beriman itu bersaudara dan saudara dibangun atas kasih sayang, maka Allah wajibkan bagi setiap muslim untuk mengeluarkan zakat yang diambil dari orang kaya dan diserahkan kepada fakir miskin (dan 8 golongan orang yang berhak menerima zakat lainnya), Allah Ta’ala berfirman:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-taubah : 103)

Banyak fungsi dari zakat, diantaranya yang paling penting adalah menjalankan perintah Allah, membersihkan harta orang kaya, pemerataan ekonomi supaya kekayaan tidak hanya dirasakan oleh satu golongan manusia saja, dan meniadakan kesenjangan antara yang kaya dan miskin.

Secara umum zakat harta dikeluarkan setelah sampai nishob (jumlah tertentu dari harta) dan harta tersebut telah dimiliki atau disimpan selama setahun (haul). Selain itu ada pula zakat al-fitr berupa makanan pokok yang dikeluarkan di akhir bulan ramadhan.

4. Puasa Ramadhan

rukun islam puasa ramadhan
rukun islam puasa ramadhan

Puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan adalah salah satu rukun islam yang wajib dilakukan oleh muslim. Puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, jima’ (hubungan suami istri) mulai sejak terbitnya fajar (waktu sholat subuh) sampai matahari terbenam disertai niat puasa.

Puasa yang diwajibkan Allah adalah puasa di bulan ramadhan, sebulan penuh. Puasa ini diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah yang berakal dan telah baligh. Allah Ta’ala berfirman:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-ha  mri yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-baqarah : 185)

5. Pergi Haji 

rukun islam haji
rukun islam haji

Ibadah haji merupakan rukun islam yang wajib dilakukan orang islam sekali seumur hidup, jika telah memenuhi syarat-syarat wajibnya. Haji adalah ibadah yang dilakukan di sekitar Makkah, seperti tawaf mengelilingi ka’bah, sa’i, wukuf di arafah, mabit di mudzdalifah dan mina, melontar jumrah dan lainnya. Ibadah haji hanya diwajibkan bagi yang mampu baik secara fisik maupun finansial, dan tidak wajib bagi orang yang tidak memiliki kemampuan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali-imran : 97)

Banyak sekali hikmah dari ibadah haji, diantaranya ibadah haji merupakan ajang pertemuan dan persatuan kaum muslimin dari seluruh dunia dengan latar belakang ras, warna kulit, status sosial yang berbeda. Ibadah haji melatih manusia untuk saling mengenal, bekerjasama dan saling membantu antara sesama manusia yang hidup di bumi yang sama dan berasal dari bapak yang sama yaitu Adam ‘alaihissalam.

Penutup

Rukun Islam adalah amalan lahiriah yang menjadi tiang utama bagi agama Islam. Namun demikian, bukan berarti amalan-amalan dalam islam terbatas pada 5 rukun iman saja, amalan dalam Islam sangatlah banyak dan beragam, mulai dari yang wajib maupun yang sunnah (dianjurkan) tapi dari amalan-amalan tersebut ada yang prioritas dan rukun islam merupakan prioritas utama yang hendaknya dijaga dengan baik.

Seseorang dapat masuk surga jika sekedar mengamalkan rukun Islam diatas tanpa mengamalkan ibadah lainnya dengan syarat iman dan ikhlas ketika menjalankannya. Ini berdasarkan hadits Nabi tentang seorang badui yang mendatangi beliau dan menanyakan tentang masing-masing amalan rukun islam diatas, kemudian diakhir hadits disebutkan bahwa badui tersebut berkata:

“Demi Allah aku tidak akan meninggalkan dan menambah dari amalan-amalan tersebut.”

Kemudian, setelah badui tersebut berlalu, Nabi bersabda, “jika orang badui itu benar dengan perkataannya maka ia masuk surga.” (Sunan Ad-darimi, hal. 171)

Referensi: islamqa.info

Bagaimana Cara Masuk Islam dan Menjadi Seorang Muslim?

cara masuk islam dan menjadi seorang muslim

cara masuk islam dan menjadi seorang muslim

Secara terminologi “Muslim” berarti seseorang yang berserah diri kepada kehendak Allah, Tuhan yang Maha Esa, terlepas dari ras, suku, nasional atau latar belakang etnis mereka. Proses untuk menjadi seorang Muslim sangat simpel dan mudah yang tidak membutuhkan prasyarat (tehnis) tertentu. Seseorang dapat menjadi Muslim secara diam-diam, atau ia dapat melakukannya didepan khalayak ramai.

Jika seseorang memiliki minat yang kuat untuk menjadi Muslim dan memiliki keyakinan penuh bahwa Islam adalah agama yang benar dari Tuhan, maka yang harus ia lakukan ialah mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain), yaitu persaksian keimanan, tanpa menunda-nunda lagi. Syahadah atau syahadatain adalah pilar (rukun) pertama dan yang paling penting dari 5 rukun Islam.

Dengan mengikrarkan dan mengucapkan 2 kalimat syahadat disertai dengan keyakinan yang tulus dari hati, seseorang telah resmi masuk kedalam Islam dan menjadi seorang muslim.

Jika seseorang masuk Islam tulus karena mencari keridhaan Allah Ta’ala, maka seluruh dosa-dosa yang pernah ia lakukan sebelumnya terhapus, dan ia memulai hidup baru sebagai orang yang bersih tanpa dosa (seperti bayi yang baru dilahirkan, red.) Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada seseorang (‘Amr bin ‘Ash) yang ketika ingin masuk Islam memberi syarat agar dosa-dosanya diampuni:

“Tidakkah engkau tahu bahwa (menerima) Islam menghapus seluruh dosa yang pernah dilakukan sebelumnya?” (HR. Muslim : 121)

Pada dasarnya, ketika seseorang menerima Islam, berarti dia telah bertaubat dari jalan hidup dan keyakinan sebelumnya. Oleh karena itu, seseorang tidak dibebabani oleh dosa-dosa yang ia lakukan sebelum menerima Islam. Catatan amal seorang yang baru masuk islam bersih, seolah ia seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.

Selanjutnya, seseorang harus berusaha untuk menjaga agar catatan amalnya tetap bersih dan berjuang sekuat tenaga untuk memperbanyak amal kebaikan.

Al-quran dan Hadits (sabda Nabi), keduanya menekankan pentingnya mengikuti dan mengamalkan Islam. Allah berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-Imran: 19)

Pada ayat lain di dalam Al-quran, Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali-Imran: 85)

Pada sabdanya yang lain, Nabi Muhammad (1)   صلى الله عليه وسلم   bersabda:

“Barangsiapa yang mengucapkan (bersaksi) bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, tiada sekutu bagi Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Nya, dan bahwa ‘Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan anak hamba perempuan Nya dan kalimat Nya (2) yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari Nya, dan bersaksi bahwa surga benar adanya, dan neraka benar adanya, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam surga tergantung pada amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka kepada orang yang berkata ‘Laa ilaaha illaa Allah’ (tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), ia mengucapkan itu hanya semata untuk mencari ridha Allah.” (HR. Bukhari: 425 dan Muslim: 33)

Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Untuk masuk Islam dan berubah menjadi Muslim, seseorang diharuskan mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadat atau syahadatain) seperti berikut disertai dengan keyakinan dan memahami artinya:

“Asy-hadu an Laa ilaaha illaa Allah, wa asy-hadu anna Muhammadan rasulullaah”

Artinya:

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Nya.”

Ketika seseorang mengucapkan syahadat diatas dengan penuh keyakinan, maka ia telah menjadi muslim. Proses pengucapan kalimat syahadat bisa dilakukan sendiri, tapi sangat disarankan agar dilakukan bersama pembimbing seorang ustadz atau orang yang paham ilmu agama sehingga ia dapat memberikan dukungan atau bimbingan lebih lanjut tentang Islam.

Bagian pertama dari dua kalimat syahadat mengandung kebenaran yang sangat penting yang diturunkan oleh Allah kepada manusia, yaitu: bahwa tiada tuhan yang memiliki hak untuk disembah kecuali Tuhan yang menciptakan alam semseta semata, yaitu Allah. Allah berfirman di dalam Al-quran:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-anbiya: 25)

Ini bermakna bahwa segala bentuk peribadatan, seperti sholat, puasa, doa, meminta perlindungan, menyembelih hewan untuk korban, harus dilakukan semata kepada Allah, tidak kepada yang lain. Mempersembahkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah (baik itu Malaikat, Nabi, Isa, Muhammad, wali, patung, berhala, bulan, pohon dst.) merupakan pelanggaran atas dasar ajaran Islam, dan merupakan dosa yang tidak dapat diampunkan kecuali jika seseorang bertaubat sebelum ia meninggal dunia. Segala macam bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah semata.

Ibadah adalah semua amalan atau ucapan yang disukai oleh Allah, sesuatu yang Ia perintahkan dan anjurkan untuk dilakukan baik perintah langsung secara tekstual maupun dari analogi. Jadi, ibadah tidak terbatas hanya pada mengamalkan rukun islam yang lima, tapi juga termasuk segala aspek kehidupan. Menyediakan makanan untuk keluarga, mengatakan sesuatu yang membuat orang bahagia adalah merupakan bagian dari ibadah, jika dilakukan dengan niat untuk mencari keridhaan Allah semata. Ini berarti bahwa, agar diterima, semua bentuk ibadah harus dilakukan atas dasar niat untuk mencari kerelaan Allah semata.

Jika ingin dibagi, ibadah ada dua macam:

  • Ibadah mahdhah: yaitu ibadah murni yang berupa ritual seperti sholat, haji, zakat, puasa dan lainnya, dimana kadar, jumlah, waktu dan caranya sudah ditentukan oleh Allah dan Rasulnya. Ibadah jenis ini harus dilakukan sesuai tuntunan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi baik cara, waktu, dan jumlahnya.
  • Ibadah ghair mahdhah: yaitu semua bentuk amal kebaikan jika dikerjakan dengan niat untuk mencari ridha Allah maka akan bernilai ibadah.

Bagian kedua dari syahadat bermakna bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم  adalah hamba dan Rasul (utusan) yang dipilih oleh Allah. Ini berarti seseorang harus patuh dan mengikuti perintah beliau. Seseorang harus percaya apa yang beliau sabdakan, melaksanan ajarannya dan menjauhi apa yang dilarang. Juga berarti seseorang harus beribadah kepada Allah sesuai dengan yang beliau ajarkan (tidak melakukan bid’ah atau inovasi dalam ibadah), karena sejatinya semua ajaran Nabi merupakan wahyu dari Allah Ta’ala.

Seseorang juga harus berusaha menjalani hidup dan memiliki karakter seperti Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم  dengan meneladani beliau, karena beliau diutus untuk menjadi contoh bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-qalam: 4)

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-ahzab: 21)

Agar seseorang benar-benar melaksanakan bagian kedua dari syahadat, maka harus mengikuti contoh Rasulullah صلى الله عليه وسلم pada segala sisi kehidupannya. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran: 31)

Diterjemahkan dengan beberapa tambahan dari situs: http://www.onereason.org/islam-unveiled/how-to-become-muslim/

Catatan kaki:

(1) صلى الله عليه وسلم atau shallallahu’alaihi wa sallam artinya semoga shalawat (rahmat) dan salam tercurah kepada nya. Ucapan atau doa ini diucapkan setiap kali nama Nabi Muhammad atau gelarnya disebut, demikian juga dengan Nabi-nabi yang lain.

(2) Kalimat Allah maknanya ucapan Allah ketika Dia ingin menciptakan sesuatu, karena Allah ketika menciptakan sesuatu hanya dengan mengucapkan “kun” (jadilah) makan terjadilah. sebagaimana firman Nya:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali-imran: 59)

 

Bolehkah Sholat Sunnah Tatkala Iqomat Didirikan

hukum sholat ketika sedang iqomah

hukum sholat ketika sedang iqomah

Bismillah wassholatu wassalamu ala rosulillahi wa ashhabihi ajmain wa ba’du.

Dalam permasalahan ini terjadi silang pendapat di kalangan para ulama’. Diantara mereka berpendapat agar sholat tetap di lanjutkan meskipun harus tertinggal beberapa raka’at bersama Imam, pendapat ini didasari oleh Firman Allah:

و َلَا تُبطِلُوا أَعمَالَكُم.

Artinya: “janganlah kalian membatalkan amalan-amalan kalian”.
(QS.Muhammad:33)

Sedangkan sebagian ulama’ berpendapat sholat sunnah tersebut harus dibatalkan meskipun berada pada tasyahud akhir, pendapat ini didasari oleh sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :

إذا أقمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة. رواه مسلم.

Artinya : “jika iqomat telah didirikan, maka tidak ada sholat kecuali sholat wajib. (HR.Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin memberikan pendapat pertengahan yang menggabungkan antara dua dalil diatas, apabila seseorang telah mendapatkan satu raka’at ketika iqomat didirikan maka ia diperbolehkan menyempurnakan sholat nya dengan lebih dipercepat (red:dengan tetap tuma’ninah),namun jika ia masih di raka’at pertama atau baru memulai sholat sunnah sedangkan iqomat telah didirikan maka ia harus membatalkan sholatnya. (Disarikan dari kitab Majmu’ fatawa wa rosaail Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-utsaimin 15/100-101)

Wallahu A’lam bisshowab

Abu Kaysaa,Lc

Seorang penuntut ilmu. Alumni LIPIA Jakarta. Saat ini mengajar di salah satu Ponpes di Jakarta.

Hukum Sholat yang Telah Lama Ditinggalkan

Penjelasan Tentang Sujud Malaikat Kepada Adam

FATWA FIKIH WANITA

_Sholat # 12_

*Hukum sholat yang telah lama ditinggalkan.*

*Pertanyaan :*
Dulu saya sering meninggalkan sholat kemudian Alhamdulillah Allah memberikan saya hidayah hingga kini saya begitu semangat mengerjakannya. Pertanyaan saya, apakah sholat yang dulu banyak saya tinggalkan wajib bagi saya untuk mengqadha’nya ?

*Jawaban :*
Jika seseorang pernah meninggalkan sholat secara sengaja dan telah berlalu sekian tahun lamanya kemudian dia sudah bertobat dengan senantiasa menjaga sholatnya, maka tidak ada kewajiban atasnya untuk mengqadha sholat-sholat tsb.

Karena Jika sekiranya kewajiban ini menjadi syarat tobatnya maka tentu akan memberatkan atau bahkan menjadikan orang lain enggan untuk bertobat.

Hal yang wajib diperhatikan oleh orang yang telah bertaubat dari perbuatn ini adalah dengan terus menjaga sholatnya dimasa yang akan datang dan agar memperbanyak sholat sunnah, ketaatan dan amal ibadah yang lain dalam rangka taqarrub dan rasa takut kepada Allah ta’ala.

*(Fatawal Mar’ah, hal.37. Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah)*

Alfaqir adalah seorang Tholibul ilmi, pernah mulazamah dan belajar di ma’had syaikh Jamilurrahman as-Salafy, kemudian melanjutkan ke jenjang universitas di STDI Jember dengan bidang studi ahwal syakshiyah. Semoga Allah membimbing kita selalu kejalan yang Ia ridhoi.

Suami melarang menuntut ilmu

Suami Melarang Istri Menuntut Ilmu?

Pertanyaan ditujukan kepada Syaikh Masyhur -hafizhohullahu ta’ala-:

ما حكم أن تطلب المرأة العلم الشرعي وزوجها غير موافق والسبب أنها يمكن أن تقصر في حقه وفي حق بيتها وأولادها؟

Apa hukumnya seorang istri menuntut ilmu syar’i dan suamianya tidak setuju, dengan sebab bahwa ia bisa saja mengurangi hak suaminya dan hak rumah serta anak-anaknya?

Jawaban:

هذا الزوج تفكيره ليس تفكيراً صحيحاً.

Suami seperti ini, pemikirannya bukanlah pemikiran yang benar

يقول لها -يا بنت الحلال- إذا أردت أن تطلبي العلم اطلبيه دون أن تقصري في حق الزوج.

Hendaklah ia berkata kepada istrinya: –wahai istriku- apabila engkau ingin menuntut ilmu, maka tuntutlah ilmu tanpa mengurangi hak suamimu.

وما أدراه لو أنها طلبت العلم لحسنت خدمتها له وحسنت خدمتها لبيتها وحسنت خدمتها لأولادها.

Tidakkah dia tahu, bahwa dengan istrinya menuntut ilmu syari’, maka pasti ia akan memperbaiki pelayanannya terhadap dirinya, rumah dan anak-anaknya.

أولاً: هذه المرأة أمام نوعين من الطلب.

Yang pertama, bahwa wanita ini berada di hadapan dua macam hukum menuntut ilmu;

نوع فرض عين عليها قَبِل زوجها أو لم يقبل كأنه ما له وجود، أن تعرف أحكام الحيض وأحكام الاستحاضة وأحكام اللباس والأحكام التي تلزمها في يومها وليلتها

Bagian menuntut ilmu (yang hukumnya-pent) fardu ‘ain baginya, baik suaminya menerima atau tidak, maka seolah ia (suaminya-pent) tidak ada. Yaitu dia (wajib) mengetahui hukum seputar haidh, hukum istihadhoh, hukum pakaian dan segala macam hukum yang menyertainya di siang maupun di malam harinya.

وكلٌ أدرى بأحكامه التي تلزمه في يومه وليلته، فهذا أمرٌ ليس واجباً أن يستأذن الولد والده فيها، كيف يتعلم الطهارة وكيف يتعلم الصلاة هذا أمرٌ فوق إذن الوالد وفوق إذن الزوج.

Dan masing-masing lebih mengetahui segala macam hukum yang menyertainya di siang maupun malamnya. Maka hal semacam ini tidak wajib bagi seorang anak meminta izin kepada ayahnya; yaitu bagaimana dia mempelajari thoharoh, dan bagaimana dia mempelajari sholat. Hal ini tidak wajib mendapatkan izin ayah maupun izin suami.

أما المسائل العلمية الزائدة فهذه تحتاج لإذن الوالد وتحتاج لإذن الزوج.

Adapun permasalahan ilmiyah yang sifatnya tambahan, maka ia perlu untuk mendapatkan izin ayah dan suaminya.

والعلم ما كان إلا رحمة، يارب علمنا واجعلنا رحمةً لأمتنا، نحتاج أن نتعلم ونحتاج أن نرحم الأمة وأن نحسن إليها وأن نشفق عليها.

Dan tidaklah ilmu itu melainkan sebuah rahmat, -wahai Rabb ajarilah kami dan berikanlah rahmat kepada ummat kami-. Kita butuh untuk belajar, butuh untuk menyayangi umat ini, berlaku baik terhadap mereka, dan mengasihi mereka.

فهذا الرجل يقول تعلمي- يا بنت الحلال- العلم ولا تقصري في حقي ولا تقصري في حق الأولاد، وإلا فما هو حق الأولاد وهي لا تعرف شيئاً ولا تعلم شيئاً.

Dan hendaklah suaminya menyampaikan kepada istrinya: pelajarilah ilmu dan janganlah mengurangi hak-ku dan hak anak-anak. Jika tidak, maka apa itu hak anak, sedangkan dia tidak mengetahuinya sedikitpun.

فالخير له في دينه ودنياه أن تتعلم أحكام الله عز وجل.

Maka kebaikan baginya dalam urusan agama dan dunianya yaitu dengan mempelajari hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla.

Wallahu ta’ala ‘alam

Sumber: http://meshhoor.com/fatwa/2403/

Alih bahasa: Achmadi ZM

Seorang Faqir penuntut ilmu. Pengajar di salah satu pondok pesantren Batam Kepulauan Riau. Alumni Pondok Pesantren Islam Al Irsyad Salatiga Jawa Tengah. Dan telah mengenyam pendidikan fakultas Syariah di LIPIA Jakarta (lembaga ilmu pengetahuan Islam dan Arab) cabang Universitas Muhammad bin Saud Riyadh Saudi Arabiyah.

Pelajari Ilmu yang kecil sebelum ilmu yang besar?

Pertanyaan:
Ustadz, apa yang dimaksud dengan mempelajari ilmu rendah terlebih dahulu baru ilmu yang tinggi?

Jazakumullahu khoiron.

Jawaban:
بسم الله..

Yang dimaksud dengan mempelajari ilmu rendah terlebih dahulu baru kemudian ilmu yang tinggi, bahwa dalam menuntut ilmu seorang harus mempelajari ilmu yang mudah secara tingkatan baru naik level selanjutnya.

Para ulama telah menyebutkan bahwa ilmu itu sangat luas bagaikan lautan yang berlimpah. Seperti perkataan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin –rahimahullahu ta’ala- di dalam Manzhumahnya,

و بعد فالعلم بحور زاخره # لن يبلغ الكادح فيه آخره

Adapun setelahnya, maka ilmu adalah lautan yang berlimpah. Seorang yang bersungguuh-sungguh tak akan sampai ke penghujungnya.

لكن في أصوله تسهيلا# لنيله تجد فيه سبيلا

Tetapi dalam mempelajari prinsipnya akan ada kemudahan. Engkau akan menemukan jalan untuk mendapatkannya.

اغتنم القواعد الأصولا# فمن تفته يحرم الوصولا

Ambillah kaedah ushul, karena barang siapa yang tak memiliki ushul ia tak akan sampai.

Kita tak akan mampu menguasai suatu bidang ilmu tertentu kecuali apabila mempelajarinya secara bertahap. Karena diantara keluasan ilmu tersebut ada ilmu yang seorang tak mampu memahaminya secara langsung dan mudah kecuali apabila ia memahami tahapan sebelumnya dengan cara menekuninya. Sehingga tak jarang kita menemukan penuntut ilmu yang sudah belajar bertahun tahun lamanya namun tak ada satu bidang ilmu pun yang dia kuasai. Sebagaimana perkataan Ibnu Badran rahimahullah:

اعلم أن كثيرا من الناس يقضون السنين الطوال في تعلم العلم، بل في علم واحد و لا يحصلون منه على طائل

“ketahuilah, bahwa kebanyakan manusia menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya untuk belajar ilmu, bahkan dalam satu bidang ilmu, namun belum mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut.” (Al Madkhol Ila Madzhab Al Imam Ahmad bin Hambali, hal. 235).

Syaikh Abdul Aziz bin Ibrahim bin Qosim berkata di dalam kitabnya Ad Dalil ila Al Mutun Al Ilmiyah. Hal. 43, tadarruj dalam menimba ilmu ada dua,

Pertama: bertahap dalam ilmu yang berbeda. Misalnya seorang penuntut ilmu memulai dengan ilmu Tauhid, kemudian jika ia telah menekuninya ia pindah ke ilmu Tafsir, kemudian ilmu Hadits dan seterusnya.

Kedua: bertahap dalam satu bidang ilmu tertentu. Misalnya seorang penuntut ilmu dalam bidang ilmu hadits ia memulai dengan Matan Al Arba’in An Nawawiyah, kemudian Umdatul Ahkam, kemudian Bulughul Marom, kemudian Muntaqo Akhbar. Demikian juga dengan ilmu lainnya.

Demikian juga tatkala seseorang ingin mendalami fiqih madzhab tertentu diantara madzhab yang masyhur, maka ia harus memulai dari kitab yang termudah dalam bentuk ringkasan atau matan baru kemudian naik ke tahapan selanjutnya.

Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin -rahimahullah-:

Seorang penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa hal tatkala ia menimba suatu bidang ilmu:

[1] menghafal matan yang ringkas.

[2] mengoreksinya di hadapan syaikh/ guru yang mutqin dan meneliti lafazh yang bertambah atau berkurang.

[3] Tidak sibuk dengan kitab-kitab yang panjang penjabarannya.

Demikianlah penjelasan secara ringkas dari para ulama yang kemudian akan kami nuqilkan contoh tahapan-tahapan pada beberapa bidang ilmu tertentu untuk dipelajari. Semoga bermanfaat.

[1]. Ilmu Tauhid: Tsalatsatul Ushul dan Al Qowaidul Arba’, kemudian Kasyfu Syubuhat, kemudian Kitabut Tauhid. Yang semua itu karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ini untuk Tauhid Ibadah.

Adapun untuk tauhid Asma’ wa Shifat bisa memulai dengan kitab Al ‘Aqidah Al Washitiyah, kemudian Al Hamawiyah dan At Tadmuriyah, kemudian At Thohawiyah bersama penjelasannya.

[2]. Nahwu: dimulai dengan Al Ajurrumiyah, kemudian Qotrun Nada, dan kemudian Al Fiyah Ibnu Malik bersama penjelasannya.

[3]. Bidang Hadits: dimulai dengan Al Arba’in An Nawawiyyah, kemudian ‘Umdatul Ahkam karangan Ibnu Qudamah Al Maqdisi, kemudian Bulughul Marom karangan Ibnu Hajar Al ‘Asqolani, dan Al Muntaqo karangan Mujib bin Taimiyah, kemudian masuk ke enam kitab hadits.

[4]. Fiqh Syafi’I; dimulai dengan Matan Al Ghoyah wat Taqrib karangan Al Qodhi Abu Syuja’, kemudian Syarh Ibnu Qosim dan Hasyiah Al Bajuri, kemudian Al Minhaj karangan An Nawawi, kemudian Raudhotut Tholibin.

[5]. Fiqh Hanbali: dimulai dengan mempelajari salah satu dari Matan Akhshorul Mukhtashorot karangan Al Balbaani, atau ‘Umdatut Tholib karangan Al Buhuti, atau Dalilut Tholib karangan As Syaikkh Mar’I, atau Zadul Mustaqni’ karangan Al Hajjawi, kemudian Muntaha Al Iroodat karangan Al Futuhi dan Al ‘Iqna’ karangan Al Hajjawi, kemudian Al Inshof karangan Al Mawardi.

[6]. Ushul Fiqh untuk Madzhab Hambali: dimulai dengan Qowaidul Ushul wa Maqo’idul Fushul karangan Shofiyuddin Al Quthoi’I, atau Mukhtashor Ar Raudhah karangan At Tufi atau Mukhtashor At Tahrir karangan Futuhi, kemudian Roudhotun Nazhir karangan Ibnu Qudamah, kemudian Syarhu Mukhtashor Ar Roudhoh, atau Syarhu Al Kaukab Al Munir karangan Futuhi, atau Al Wadhih karangan Ibnu ‘Aqil.

Bagi pemula dalam bidang ilmu Ushul Fiqh juga bisa dengan memulai untuk mempelajari kitab Al Ushul min ‘Ilmil Ushul karangan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –rahimahullah- atau Matan Al Waroqoot karangan Abdul Malik Al Juwaini bersama Syarhnya.

Demikian beberapa contoh bidang ilmu yang bisa kami nuqilkan. Tahapannya tidak harus muthlaq seperti yang kami sebutkan diatas. Mintalah saran dari para guru dan ulama lainnya.

Dan dari sini pula terlihat pentingnya belajar kitab secara terstruktur dan sistematis. Karena dengan belajar kitab kita akan terfokuskan pada alur bidang ilmu tertentu dengan baik dan benar sehingga kita bisa memahaminya.

Dan itu semua bisa kita pelajari dengan baik insyaAllah apabila kita telah memiliki kuncinya yaitu Bahasa Arab. Karena ia adalah kunci gudang ilmu yang dengannya kita mampu membuka banyak wawasan keislaman.

Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam menimba ilmu agamanya. Wallahu ‘alam bis showab.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

Seorang Faqir penuntut ilmu. Pengajar di salah satu pondok pesantren Batam Kepulauan Riau. Alumni Pondok Pesantren Islam Al Irsyad Salatiga Jawa Tengah. Dan telah mengenyam pendidikan fakultas Syariah di LIPIA Jakarta (lembaga ilmu pengetahuan Islam dan Arab) cabang Universitas Muhammad bin Saud Riyadh Saudi Arabiyah.