6 Rukun Iman Beserta Dalilnya Secara Berurutan

Pada artikel yang lalu, kami telah membahas tentang 5 rukun Islam, kali ini kami akan membahas tentang rukun iman yang 6.

Iman adalah bagian penting dari kehidupan seorang Muslim, dan iman memiliki 6 rukun. 6 rukun atau pilar iman ini berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Pentingnya 6 rukun iman bisa ditemukan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. ” (QS. An-nisa : 136)

Dan, juga dalam Hadits Jibril berikut:

“… Apa itu iman?

Nabi (ﷺ) berkata, “Bahwa engkau beriman pada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan Hari Akhir (hari kiamat), dan kamu beriman pada Takdir yang baik maupun yang buruk.” (Sahih Muslim)

Dan berikut ini adalah penjelasan singkat masing-masing dari rukun iman yang 6:

Beriman kepada Allah

Beriman kepada Allah berarti percaya bahwa hanya ada satu Tuhan yang layak disembah, tanpa pasangan, atau anak. Konsep ini dikenal sebagai Tauhid. Juga, sepenuhnya percaya pada sifat-sifat dan Nama-nama Nya yang indah yang terdapat didalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ.

Allah dengan tegas menjelaskan Tauhid dalam Al-Qur’an, “Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS. Al-ikhlas: 1-4)

Beriman kepada Malaikat-Nya

Para malaikat adalah tentara-tentara Allah dan diciptakan dari cahaya. Malaikat selalu patuh terhadap perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat, karena mereka makhluk yang tidak memiliki nafsu syahwat dan kebebasan memilih seperti manusia. Malaikat diciptakan sebelum manusia, untuk tujuan menyembah dan menaati Allah. Malaikat memiliki tugas yang berbeda-beda, ada yng bertugas menyampaikan wahyu seperti malaikat Jibril, mencabut nyawa, dan lainnya.

Baca juga:  Pengertian Ibadah Menurut Bahasa dan Istilah

Malaikat tidak tidur, makan atau menderita penyakit. Sangat penting untuk beriman pada malaikat, karena mereka menyimpan catatan dari perbuatan kita. Beberapa tugas lain dari sudut meliputi: meniup terompet pada hari penghakiman, mengambil jiwa orang (yaitu malaikat maut) dan menjadi penjaga surga dan neraka. Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-nisa : 136)

Beriman Kepada Kitab-kitab yang Allah Turunkan Kepada Para Nabi-Nya

Allah telah menurunkan dan mewahyukan kitab-kitab Nya kepada para utusan Nya sebagai bentuk bimbingan dan bukti bagi umat manusia. Di antara kitab-kitab ini, adalah Al-Quran, kitab terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman. Allah telah menjamin perlindungan terhadap Quran dari perubahan. Kitab-kitab yang kita ketahui namanya melalui Quran dan Sunnah ialah:

  1. Suhuf Ibrahim ‘Alaihissalam
  2. Kitab Zabur yang diberikan kepada Nabi Dawud ‘Alaihissalam
  3. Kitab Taurat yang diberikan kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam
  4. Kitab Injil yang diberikan kepada Nabi Isa ‘Alaihissalam
  5. Kitab Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad  ﷺ.

Ummat Islam percaya dan beriman pada semua kitab yang diwahyukan kepada para Nabi dan Rasul Allah. Namun, kita hanya mengikuti Al-quran, karena Al-quran adalah wahyu terakhir, dan bertujuan untuk memberi aturan bagi kehidupan sehari-hari ummat Islam, seperti yang diperintahkan oleh Allah dan Nabi Muhammad ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-hijr: 9)

Iman Kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah

Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan ajaran yang sama: yaitu untuk menyembah hanya satu Tuhan, membimbing ummat mereka ke Islam (penyerahan diri kepada Allah) dan menjalankan hukum Nya di muka bumi.Allah Ta’ala berfirman:

Baca juga:  Miqat Umrah dan Haji: Pengertian, Tempat dan Dalilnya

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-nahl : 36)

Jumlah Nabi dan Rasul sejak Nabi adam sangat banyak, dalam sebuah Hadits Nabi disebutkan:

Dalam riwayat Abu Umamah, bahwa Abu Dzar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berapa jumlah persis para nabi.” Beliau menjawab:

مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا

“Jumlah para nabi 124.000 orang, 315 diantara mereka adalah rasul. Banyak sekali.” (HR. Ahmad no. 22288 dan sanadnya dinilai shahih oleh al-Albani dalam al–Misykah).

Adapun Nabi dan Rasul yang diketahui nama mereka dalam Al-quran ada 25, mereka adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud , Salih, Luth , Ibrahim, Ismail , Ishaq, Yaqub , Yusuf , Syu’aib , Ayyub, Dhulkifl , Musa, Harun , Dawud, Sulayman, Ilias, Alyasa, Yunus, Zakariya, Yahya, Isa, Muhammad (Semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka semua).

Sebagian besar utusan Allah diutus kepada bangasa tertentu saja kecuali Nabi Muhammad, yang diutus untuk membimbing semua umat manusia. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-anbiyaa: 107)

Beriman Terhadap Hari Kiamat

Seorang Muslim harus beriman pada keberadaan akhirat, di mana semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan, tidak peduli seberapa besar atau kecilnya. Tidak ada yang tahu kapan hari kiamat akan menjadi kecuali Allah, dan dengan demikian kita harus terus bekerja beramal untuk mencapai yang terbaik.

Muslim juga harus beriman akan keberadaan surga dan neraka, dan tujuan akhir kita akan ditentukan sesuai dengan perbuatan kita dalam kehidupan ini.

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”  (QS. Al-anbiyaa: 47)

Baca juga:  5 Rukun Islam dan Dalilnya yang Wajib Diketahui

Beriman Pada Qadar (Keputusan dan Rencana Allah)

Segala sesuatu yang terjadi, adalah karena kehendak dan ketetapan Allah. Namun demikian, umat Islam juga harus memahami bahwa mereka diberi kehendak dan kebebasan memilih dan memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Iman pada Qadar Ilahi mencakup keyakinan dalam empat hal:

Allah menciptakan segalanya,
Allah mengetahui segalanya; masa lalu, sekarang dan akan datang.
Ada catatan tentang segala sesuatu yang telah terjadi dan akan terjadi,
Apapun yang Allah putuskan untuk terjadi, akan terjadi. Apapun yang Allah kehendaki untuk tidak terjadi, tidak akan terjadi.

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-haj :70)

“Rasulullah (ﷺ) bersabda:

‏ لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعٍ بِاللَّهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَبِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْقَدَرِ ‏”‏ ‏”

“Tidak beriman seorang hamba sampai ia beriman kepada 4 hal: beriman kepada Allah yang maha esa tiada sekutu bagi Nya, dan bahwa aku adalah utusan Nya, dan iman kepada hari kebangkitan setelah mati dan iman kepada qadar.” (Sunan Ibn Majah, Hadis 85)

Tidak peduli seberapa buruk suatu situasi, kita harus selalu menaruh kepercayaan pada Allah dan keputusan-Nya.

Semoga Allah Ta’ala memperkuat Imaan kita dan terus membimbing kita ke jalan yang benar. Amiin..

 

Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •