Arti Ihsan Menurut Bahasa dan Istilah, Tingkatan dan Contohnya

Arti Ihsan Menurut Bahasa dan Istilah, Tingkatan dan Contohnya- Ihsan (الإحْسَان) berasal dari kata Ahsana (أحسنَ) yang secara bahasa berarti: berbuat baik, memberikan yang terbaik, dan melaksanakan sesuatu dengan seluruh potensi kemampuan (tekun). Adapun pelaku ihsan disebut dengan Muhsin, yang jama’ (pluralnya) adalah Muhsinun atau Muhsinin

Arti Ihsan Menurut Istilah Syari’at Islam

Adapun makna dan arti Ihsan secara istilah syari’at islam dapat ditinjau dari dua segi, yaitu:

1. arti Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala ialah seseorang melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala seolah-olah ia melihat Nya, sekalipun ia tidak dapat melihat Nya (di dunia)  maka sungguh Ia melihatmu. Ihsan adalah bersungguh-sungguh dalam melaksanakan hak-hak Allah atas dirinya dengan sempurna dan penuh ketulusan dan merasakan pengawasan Allah atas dirinya setiap waktu.

2. Adapun arti Ihsan yang berkaitan dengan hak-hak sesama makhluk ialah mengerahkan seluruh kemampuan untuk memberi manfaat apa saja kepada sesama makhluk ciptaan Allah siapapun mereka. Tapi ihsan kepada makhluk bervariasi tergantung kedudukan dan keagungan makhluk tersebut. Juga bervariasi tergantung ihsan itu sendiri, seberapa besar keagungan dan manfaatnya. Juga tergantung kepada keikhlasan dan keimanan muhsin (orang yang melakukan ihsan) dan sebab atau dorongannya dalam melakukan ihsan.

Maka arti ihsan secara umum adalah mengerahkan seluruh kemampuan, kesungguhan dan ketekunan dalam melaksanakan sesuatu baik itu ibadah maupun muamalah dengan penuh keikhlasan dan ketulusan di dalam hati.

Kedudukan Ihsan di dalam Islam

Ihsan menduduki posisi tertinggi didalam Islam diatas derajat iman dan Islam, dapat dikatakan bahwa seorang muhsin ia sudah pasti muslim dan mu’min, seorang mu’min sudah pasti muslim tapi belum tentu muhsin, sedangkan seorang muslim belum tentu mu’min apalagi muhsin.

posisi ihsan, iman dan islam dalam agama islam
Ilustrasi: posisi Ihsan dalam Islam

Kedudukan Ihsan diatas iman dan Islam ini berdasarkan dalil dari sebuah hadits yang sangat populer yang dikenal dengan hadits Jibril yang berbunyi:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

Baca juga:  Pengertian Ibadah Menurut Bahasa dan Istilah

Dari Umar radhiyallahu anhu, ia berkata, “Suatu hari ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika datang seorang pria yang memakai pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di paha Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika kamu mampu,“ kemudian dia berkata, “Engkau benar.“ Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” Dia berkata, “Engkau benar.” Kemudian dia berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan.” Beliau menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu.” Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan terjadinya).” Beliau menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya.” Dia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?“ Beliau menjawab, “Jika seorang budak melahirkan tuannya dan jika kamu melihat orang yang sebelumnya tidak beralas kaki dan tidak berpakaian, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunan,” Orang itu pun pergi dan aku berdiam lama, kemudian Beliau bertanya, “Tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepadamu dengan maksud mengajarkan agamamu.(HR. Muslim)

Dalil dan Perintah untuk Berbuat Ihsan

Sangat banyak dalil baik dari Al-quran maupun As-sunnah (hadits) yang memuji perilaku ihsan dan mendorong untuk menjadi muhsin, diantaranya adalah hadits Jibril yang telah kami sebutkan diatas. Diantara dalil dari Al-quran firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan (kebajikan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl: 90)

Firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan Ihsan (kebaikan), dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (QS. An-Nisa: 125)

Firman Allah Ta’ala,
…قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa… (QS. Al-An’am: 151)
Firman Nya pula,
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali- Imran: 134)

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sebuah konteks hadits tentang ihsan dalam menyembelih hewan untuk dimakan bersabda,

Baca juga:  Lengkap: Pengertian Ghibah, Hukum dan Dalilnya

((إنَّ الله كتب الإحْسَان على كلِّ شيء، فإذا قتلتم فأحسنوا القِتْلَة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذَّبح، وليُحِدَّ أحدكم شَفْرَتَه، فليُرح ذبيحته))

“Sesungguhnya Allah menulis (menetapkan)  ihsan pada segala sesuatu, oleh karena itu jika engkau hendak membunuh (dalam peperangan atau hukum hadd maupun qisas) maka berlaku ihsanlah, dan apabila kalian hendak menyembelih (hewan untuk dimakan) maka berlaku ihsanlah dalam penyembelihan, hendaklah kalian mengasah pisaunya sampai tajam sehingga sembelihannya cepat mati dan tidak tersiksa.”  (HR. Muslim no. 1955)

Contoh Perbuatan Ihsan

Semua amal dan perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati merupakan perbuatan ihsan, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan interaksi sehari-hari.

Contoh ihsan dalam melakukan ibadah sholat, yaitu melakukan sholat dengan penuh khusyu’, tidak riya, melakukan semua prosesnya sesempurna mungkin, berupaya mencontoh cara shola Nabi shallallahu’alaihi wasallam sebaik mungkin dan melakukan sholat seolah-olah ia melihat dan diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Contoh ihsan dalam kehidupan sehari-hari seperti melakukan pekerjaan kantor dengan tekun dan sebaik mungkin, melakukannya tulus dari hati, bukan karena ingin mencari muka, melainkan karena rasa tanggung jawab dalam diri untuk melaksanakan beban amanah yang ditanggungnya.

Pada dasarnya ihsan adalah kesadaran diri atas tugas dan tanggung jawab seorang hamba kepada Allah Ta’ala yang telah mempercayakan hidup kepadanya untuk menanggung amanah sebagai khalifah di muka bumi untuk menjadi hamba Allah yang terbaik dalam segala aspek kehidupan. Dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab ini maka muncullah sifat ihsan yang tercermin dalam ucapan, perilaku dan perbuatannya.

Baca juga:  Arti dan Makna Kafir Mu'ahad

Cara Menjadi Seorang Muhsin (Pelaku Ihsan)

Menjadi seorang muhsin yang berlaku ihsan terus menerus bukanlah proses instan, ia tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menjadi seorang muhsin butuh waktu, latihan dan kesabaran. Para sahabat Nabi harus melewati proses yang panjang dan melelahkan sampai mereka menjadi  generasi Muhsinin yang tangguh, mereka adalah model dan panutan kita dalam menggapai derajat Ihsan, dan tentunya model yang paling utama adalah guru yang telah membimbing mereka yaitu baginda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam.

Seseorang yang ingin menjadi muhsin harus melewati proses menjadi seorang muslim yang baik terlebih dahulu, kemudian menjalani proses menjadi mukmin yang baik kemudian baru memasuki proses ihsan.

Ihsan adalah suatu akhlak yang sangat mahal dan berharga. Menjadi muhsin dan memiliki perilaku ihsan terus menerus adalah anugrah Allah yang sangat besar kepada hamba Nya yang tidak semua orang bisa meraihnya.

Maka untuk menjadi seorang yang muhsin, seseorang harus konsisten dalam beribadah kepada Allah, terus berdo’a dan bertawakkal kepada Allah setiap waktu, sabar dan syukur dalam segala kondisi dan bertakwa kepada Allah dimana dan kapan saja. Jika seseorang menjalani proses hidup ini dengan baik sesuai petunjuk Allah dan Rasul Nya, maka Allah akan memberikannya kedudukan Ihsan atas izin Nya.

Penutup

Ihsan merupakan kedudukan yang paling tinggi dalam Islam. Pokok dari ihsan ialah seseorang menyembah Allah dengan penuh khusyu’ seolah-olah Allah sedang mengawasinya. Dalam konteks duniawi, orang yang ihsan adalah yang melakukan pekerjaannya dengan tekun dan memenuhi hak-hak segala sesuatu dengan sempurna.

Seorang muslim harus berusaha untuk menggapai tingkat ihsan dalam hidupnya. Meskipun tidak mudah, untuk mencapai derajat muhsinin adalah proses sepanjang hidup yang harus diusahakan.

Derajat ihsan merupakan anugrah Allah yang paling berharga kepada seorang hamba, oleh karena itu, selain berusaha untuk menggapai ihsan dengan amalan kebaikan, seseorang juga harus berdoa meminta kepada Allah supaya diberi anugrah derajat ihsan tersebut, karena tanpa anugrah dan pemberian dari Allah derajat ihsan tidak mungkin dicapai

Referensi:

https://dorar.net

 

Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •