4 Cara Menurunkan Berat Badan Dalam Seminggu

4 Cara Menurunkan Berat Badan Dalam Seminggu – Simak video berikut ini yang dibawakan oleh Dr. Zaidul Akbar, tentang cara menurutkan berat badan hanya dalam seminggu.

Menurut Dr. Zaidul Akbar, untuk memulai hidup sehat sekaligus menurunkan berat badan, ada 4 macam makanan yang harus dihindari.

Menurut beliau, jika keempat jenis makanan itu dihindari, maka In Syaa Allah berat badan akan turun dalam seminggu, dan badan akan terasa lebih enak dan sehat.

Keempat makanan yang harus dihindari tersebut adalah:

  1. Makanan yang berbahan tepung
  2. Makanan dan minuman yang mengandung gula pasir
  3. Nasi putih
  4. Produk yang mengandung minyak goreng, terutama minyak sawit

Demikian ulasan dan video singkat tentang cara menurunkan berat badan, semoga bermanfaat.

Pengertian, Makna In Sya Allah dan Penulisannya

website blog artikel tulisan islam

Banyak perdebatan di masyarakat tentang cara penulisan In Sya Allah yang benar, ada yang mengatakan, InsyaAllah, In Syaa Allah, Insya Allah, In Sha Allah, dan lainnya. Manakah yang lebih tepat? Mari kita ulas bersama.

Arti Kata In Sya Allah

Sebelum kita jelaskan cara penulisan In Sya Allah yang benar dalam bahasa latin, ada baiknya kita mencari tahu terlebih dahulu arti perkata dan arti kalimat In Sya Allah, seperti berikut:

 

Arab Transliterasi Arti
 إن in jika, bila, apabila
شاء sya-a berkehendak, berkeinginan
 الله Allaah Allah

Bunyi kalimatnya secara keseluruhan menjadi “In-syaa-Allaah”  dengan “syaa” dibaca panjang, demikian juga “Allaah” dibaca panjang.

Maka arti kalimat in syaa Allah adalah ialah “jika Allah menghendaki”.

Kapan In Syaa Allaah Diucapkan

Kalimat In Syaa Allah diucapkan apabila seorang muslim menunda suatu pekerjaan atau berjanji akan melakukan sesuatu diwaktu yang akan datang dan menggantungkannya kepada kehendak Allah.

Pentingnya Ucapan In Syaa Allaah

Seorang yang beriman harus meyakini bahwa segala kendali, daya dan upaya ada pada Allah semata. Allah yang maha berkehendak. Manusia hanya bisa berusaha, berharap dan berdo’a, adapun keputusan dan hasil adalah semata atas kehendak Allah.

Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang muslim untuk menyadari ini, dan untuk mengingatkan selalu kelemahan dan kekurangan manusia, Allah mengharuskan kita untuk mengucapkan In Syaa Allah ketika ingin atau berjanji ingin melakukan sesuatu di waktu mendatang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “In sya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Bahaya Tidak Mengucapan In Syaa Allaah

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ لأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً تَحْمِلُ كُلُّ امْرَأَةٍ فَارِسًا يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ‏.‏ فَلَمْ يَقُلْ، وَلَمْ تَحْمِلْ شَيْئًا إِلاَّ وَاحِدًا سَاقِطًا إِحْدَى شِقَّيْهِ ‏”‏‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ لَوْ قَالَهَا لَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ‏”‏‏.‏ قَالَ شُعَيْبٌ وَابْنُ أَبِي الزِّنَادِ ‏”‏ تِسْعِينَ ‏”‏‏.‏ وَهْوَ أَصَحُّ‏.‏

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallah’alaihi wa sallam beliau bersabda: “Sualaiman bin Dawud berkata “pada malam ini aku akan mendatangi (berhubungan badan) dengan 70 istriku sehingga setiap istri mengandung seorang pejuang yang berjihad di jalan Allah”, lalu seorang sahabatnya berkata, “In Sya Allah”, namun Sulaiman tidak mengatakannya. Hasilnya, tidak seorangpun dari istrinya yang mengandung, kecuali seorang saja yang melahirkan anak cacat sebelah badannya. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “seandainya ia (Sulaiman) mengatakannya, maka ia akan mendapatkan anak dan mereka semua berjihad di jalan Allah.”

Syu’aib dan Ibnu Abi Az Zinaad berkata: “90” dan ini yang paling sahih.

Penulisan In Syaa Allaah yang Benar

Seperti yang terlihat pada tabel diatas bahwa penulisan In Syaa Allaah yang benar dalam bahasa Arab adalah إن شاء الله terdiri dari tiga kata.

Tapi, ada sebagian orang Arab yang awam menulis إنشاء الله dengan menyambungkan kata in dan sya sehingga membentuk satu kata adalah kesalahan fatal dalam penulisan. Karena إنشاء  (Insya) artinya “menciptakan”, maka maknanya menjadi jauh melenceng.

Adapun transliterasi ke dalam bahasa Indonesia, idealnya adalah “In Syaa Allaah”.

Tapi transliterasi tergantung kesepakatan, tidak mesti dengan cara ideal, asalkan pengucapannya pas. Dan ini erat hubungannya dengan niat dari pengucap itu sendiri.

Demikian semoga bermanfaat.

 

Sabar: Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar, Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar: Pengertian, Keutamaan, Tingkatan dan Batasannya – Hidup tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan ujian merupakan keniscayaan didalam kehidupan. Tidak ada manusia yang terlepas dari cobaan, karena salah satu tujuan diciptakannya manusia ke dunia ini adalah untuk diuji. Maka dari itu, tiada jalan lain untuk sukses dalam menghadapi ujian-ujian hidup kecuali dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155-157)

Banyak orang berspekulasi tentang sabar, setiap orang punya gambaran sendiri tentangnya. Nah, bagaimana pandangan Islam tentang sifat sabar? ikuti ulasannya pada tulisan ini.

Pengertian Sabar

Sabar (الصبر) secara bahasa berarti “menahan” yaitu menahan diri dari kesedihan yang berlebihan dan tidak terkontrol. Adapun sabar menurut istilah syar’i adalah:

الصبر هو حبس النفس عن محارم الله، وحبسها على فرائضه، وحبسها عن التسخط والشكاية لأقداره

“Menahan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan Allah, menahan diri untuk tetap menjalankan apa yang diwajibkan oleh Nya, dan menahan diri untuk tidak marah dan berkeluh kesah atas semua takdir Nya.” (Ibnul Qayyim)

Hukum Sabar

Sebagaimana syukur, sabar hukumnya wajib dalam segala hal. Sabar dan syukur adalah ciri yang paling utama iman seseorang, sebagaimana ingkar dan tidak rela dengan takdir Allah Ta’ala merupakan ciri utama kekufuran.

Seorang mukmin wajib bersabar atas segala musibah hidup yang menimpanya, ia wajib sabar dalam menjalankan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan juga wajib sabar untuk tidak mendekati segala yang diharamkan Allah Ta’ala.

Keutamaan Sabar

Sabar memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam, ada banyak dalil yang berbicara tentang sabar dan keutamaan orang-orang yang sabar.

Sabar merupakan kunci dan tulang punggung bagi semua kegiatan manusia. Manusia butuh sabar dalam hal apapun, tanpa sabar segala sesuatu tidak mungkin terlaksana dengan baik.

Manusia butuh sabar dalam bencana dan musibah, butuh sabar dalam ibadah dan amal shaleh, butuh sabar dalam menjalani hubungan dengan sesama dan butuh sabar dalam segala hal.

Sabar adalah kunci kesuksesan, tiada keberhasilan tanpa kesabaran. Bahkan, orang yang berbuat kejahatan pun perlu sabar untuk “sukses” dalam menjalankan kejahatannya.

Sabar adalah pakaiannya para Nabi dan Rasul, derajat seseorang diangkat dengan kesabaran.

Diantara keutamaan sabar dalam Islam adalah:

  • Orang yang sabar dijanjikan oleh Allah pahala yang tidak terhingga, sebagaimana firman Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

  • Sabar menjadi sebab seseorang diampuni dosa dan dihapuskan segala kesalahan nya oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan dimasukkannya ia ke surga, Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian)”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-ra’d: 22-24)

  • Sabar merupakan diantara sebab untuk menaikkan derajat seseorang disisi Allah, jika Allah mencintai seseorang maka ia akan diuji, dan semakin besar iman dan kecintaan Allah kepadanya maka semakin besar pula ujiannya.
  • Allah selalu menyertai dan bersama orang sabar, ini adalah keutamaan yang sangat besar, jika Allah bersama seseorang maka apa lagi yang dibutuhkan:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Pahala Sabar

Nilai sesuatu diukur dari tingkat kesulitannya, sabar merupakan amalan dan sifat yang sulit dilakukan, dan perlu latihan yang terus menerus untuk dapat bersabar dengan baik.

Oleh karena itu, pahala sabar adalah diantara pahala yang nilainya tidak terhingga, hanya Allah yang mengetahui berapa nilai pahala sabar.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Sabar juga merupakan alat Allah untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat hamba Nya. Jika seseorang hamba banyak dosa dan ia belum bertaubat dari dosa-dosa tersebut, maka diantara cara Allah mengampuni dosa-dosanya adalah dengan diberikan kepadanya cobaan demi cobaan agar ia mendapatkan pahala sabar yang tidak terbatas, yang dengannya Allah menghapus dosa-dosanya dan memasukkannya ke surga.

Bahkan diantara tanda dan ciri seseorang yang istiqamah dan sholeh dicintai oleh adalah dengan banyaknya cobaan yang menimpa dirinya, agar dengan itu mendapat nilai dan pahala sabar.

Oleh karena itu para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia yang paling berat cobaannya dan paling besar sabarnya, maka cinta Allah kepada mereka juga sangat besar sebanding dengan kesabaran yang mereka miliki.

Pembagian Sabar

Sabar dibagi menjadi 3 bagian:

1. Sabar dalam ketaatan

Yaitu istiqamah dalam menjalankan amal shalih berupa ibadah, dan seluruh amal ketaatan lainnya, sabar atas rintangan dan kesulitan yang dihadapi ketika beramal, dan tidak putus asa.

2. Sabar untuk tidak Melakukan yang Haram dan Dilarang

Yaitu menahan diri untuk tidak terjatuh kedalam hal-hal yang di haramkan Allah Ta’ala, dengan manahan nafsu dan syahwat dari ajakan-ajakan syetan.

3. Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Cobaan Hidup

Hidup tidak lepas dari ujian, karena hidup itu sendiri adalah ujian, maka sabar adalah benteng dan penawar untuk menjalani ujian hidup.

Orang yang sabar meskipun dihimpit dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan dari Allah mereka tetap berbahagia dengan sabar. Karena mereka punya harapan di akhiran akan kasih sayang dan pahala dari Allah atas buah kesabaran selama di dunia.

Seorang mu’min senantiasa berada diantara sabar dan syukur, ketika mereka diberi musibah mereka bersabar, dan ketika mendapat nikmat mereka bersyukur, dan kedua kondisi tersebut, bagi orang mukmin adalah baik dan sama-sama menguntungkan.

Maka tidak ada istilah depresi bagi orang yang beriman, ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alahi wa sallam: 

عجباً لأمرِ المؤمنِ، إنّ أمرَه كلَّه خيرٌ، وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ؛ إن أصابته سراءُ شكرَ، فكان خيراً له، وإن أصابته ضراءُ صبر، فكان خيراً له

“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, sesungguhnya segala perkaranya adalah baik, dan itu tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada orang mukmin, ketia ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya, dan ketika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Kemudian dari segi tercela dan tidaknya, sabar juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Sabar yang terpuji: yaitu sabar dalam menjalankan ibadah dan amal sholeh karena Allah, sabar dalam meninggalkan yang haram, dan sabar dalam menghadapi musibah dan takdir Allah.
  2. Sabar yang tercela, yaitu sabar dalam menjalankan kejahatan dan kemaksiatan, sabar ketika melihat kehormatan dan agama Allah diinjak-injak, padalah ia memiliki kemampuat untuk bertindak, dan semisalnya.

Tingkatan Sabar

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa sabar ada tiga tingkatan:

  • Sabar dengan Allah (sabrun billah), yaitu seseorang memandang kesabarannya karena pertolongan Allah ta’ala, ia meyakini Allah lah yang membuatnya sabar, bukan karena dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An.Nahl: 127)

  • Sabar karena Allah (sabrun lillah), yaitu sabar yang didorong oleh rasa cinta kepada Allah dan keingina untuk mendekat (taqqarrub) kepada Nya dan mencari keridhaan Nya, ia bersabar karena ingin menunjukkan kekuatan dirinya.
  • Sabar bersama Allah (sabrun ma’a Allah), yaitu sabarnya seorang hamba dalam mengikuti kehendak syar’i Allah (berupa hukum-hukum syari’at Nya), seorang hamba sabar dalam menjalaninya dan berjalan seiring dengan hukum Allah dimana saja dan kapan saja.

Kedudukan sabar pada iman seperti kedudukan kepala pada jasad, dan tidak ada iman bagi yang tidak ada kesabaran padanya, sebagaimana tidak ada jasad bagi yang tidak ada kepala.

Umar bin khattab radhiyallahu’anhu berkata: “Kehidupan yang baik dapat kita raih dengan sabar.”

Dan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim, “Dan sabar adalah cahaya.”

Ibnul Qayyim juga menyebutkan 4 tingkatan sabar lainnya, yaitu:

  1. Sabar karena Allah dan dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling sempurna dan tingkatan sabar orang-orang yang memiliki tekad yang kuat (ulul ‘azaaim). Orang seperti ini sabar hanya untuk mengharap kerelaan Allah Ta’ala, dan sabar tersebut diyakininya semata karena daya dan upaya dari Allah. Ini adalah tingkatan sabar yang paling tinggi, paling baik dan paling kuat.
  2. Sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling buruk dan paling rendah, dan pemiliknya berhak mendapatkan kehinaan.
  3. Sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah, yaitu orang yang sabar dan menganggap kesabarannya karena daya dan upaya Allah dan tawakkal kepada Nya, tapi sabarnya tersebut bukan karena Allah dan bukan karena ingin mengharap kerelaan Nya, karena ia sabar bukan dalam agama Allah. Orang seperti ini akan mendapatkan kesuksesan duniawi dengan kesabarannya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa di akhirat, bahkan akibat mereka bisa sangat buruk. Bahkan kesabaran model ini dimiliki oleh pemuka-pemuka kafir dan Musyrik yang sukses dalam ambisi duniawi mereka, karena sabar mereka adalah dengan daya dari Allah tapi tidak untuk Allah dan tidak pula dalam keinginan Allah yang syar’i.
  4. Tingkatan yang keempat adalah orang yang sabar karena Allah, tapi lemah dalam sabarnya, kurang dalam bertawakkal dan bersandar kepada Allah. Orang seperti ini akan mendapat akibat yang baik, tapi ia lemah dalam mencapai keinginannya, karena ia kurang memaknai faktor dalam surat Al-fatihah “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in” (hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan). Ini adalah tingkatan kesabaran orang-orang mukmin yang lemah.

Maka, sabar dengan Allah adalah keadaannya orang fasiq yang kuat. Dan sabar karena Allah dan dengan Allah adalah keadaan sabarnya orang mukmin yang kuat, dan orang yang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (tapi pada keduanya ada kebaikan, seperti disebutkan di dalam hadits).

Maka, orang yang sabar karena Allah dan dengan (daya dan upaya) Allah adalah sabarnya orang yang mulia dan terpuji, dan orang yang sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, adalah sabarnya orang-orang tercela dan hina, sedangkan sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah adalah sabar orang yang mampu dan kuat tapi tercela, sedangkan sabar karena Allah dan tidak dengan Allah (atau lemah dalam sabarnya dengan Allah) adalah sabarnya orang-orang yang terpuji tapi lemah, sabarnya orang yang lemah imannya.

Batasan Sabar: Apakah Sabar ada Batasnya?

Apakah sabar ada batasnya? Sabar sendiri adalah sifat, dan sifat tidak dapat dinilai kecuali dari pelaku dan pemilik sifat tersebut.

Maka batas kesabaran adalah sejauh mana batas kemampuan seseorang dalam menahan diri untuk tetap bersabar dalam apa saja yang sedang ia hadapi dan lakukan.

Tapi idealnya sabar itu batasnya adalah kematian, karena sabar adalah wajib. Maka, orang yang kuat imannya akan bertahan dan bersabar sampai Allah menentukan kematian untuknya, dengan itu ia akan mendapatkan ganjaran surga yang abadi yang penuh kenikmatan.

Ini seperti kisah keluarga Yasir yang disiksa oleh orang kafir Quraisy karena keimanan mereka kepada Allah, mereka disiksa agar meninggalkan Islam dan kembali kepada kekafiran. Yasir dan Istrinya bersabar dan gugur dijalan Allah karena siksaat yang dahsyat, sedangkan anaknya tidak sabar dan terpaksa harus mengucapkan kalimat kekafiran karena tidak mampu menahan siksa.

Namun Allah maha pengasih dan tidak membebani hamba Nya melebihi kemampuannya. Allah memaafkan orang yang dipaksa seperti kisah Ammar. Namun tentunya pahala orang yang sabar sampai ajal menjemput lebih besar daripada orang yang kesabarannya lemah.

 

Referensi:

  • https://dorar.net/akhlaq/784/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1-%D9%84%D8%BA%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D8%B5%D8%B7%D9%84%D8%A7%D8%AD%D8%A7
  • https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/9297/
  • https://dorar.net/akhlaq/805/%D9%85%D8%B1%D8%A7%D8%AA%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

apakah kafir non muslim termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Jawabannya Ya dan Tidak. Kenapa ya dan kenapa tidak? akan kami jelaskan sesaat lagi pada tulisan ini.

Selama ini, kita atau kebanyakan dari kita, hanya tahu bahwa ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah mereka yang beriman kepadanya, dan ajaran yang dibawanya, dan mati dalam keadaan beriaman. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada beliau bukan termasuk ummat beliau.

Tapi, tahukah Anda bahwa ummat Nabi Muhammad itu terbagi menjadi dua macam, yakni:

1. Ummatu Da’wah (أمة الدعوة)

Ummat dakwah adalah seluruh jin dan manusia, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada seluruh alam (yaitu jin dan manusia), dan ini termasuk semua jenis manusia, baik Arab maupun non Arab, dan apapun kepercayaan dan agama mereka.

Semua adalah ummat Nabi Muhammad dalam artian mereka semua masuk dalam lingkup yang harus disampaikan atau didakwahkan agama Islam oleh Nabi yang mulia Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Dalilnya sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

والذي نفسي بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار. رواه مسلم

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah seorangpun dari ummat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang (kenabian) ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah (islam) yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk ahli neraka.” (HR. Muslim)

Sabda beliau “dari ummat ini” maksdunya adalah ummat dakwah, mereka yang menjadi objek dakwah beliau, yaitu seluruh manusia dan jin.

Maka, dalam kategori ini, orang kafir dan non-muslim adalah termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana mereka dituntut untuk beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Status orang kafir dan non muslim sebagai ummat dakwah Nabi hanyalah di dunia, adapun di akhirat mereka bukan lagi termasuk ummat dakwah, karena sudah tidak ada dakwah di akhirat.

1. Ummatu Ijabah (أمة الإجابة)

Ummat ijabah artinya ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang telah mengijabah (menjawab dan menerima) dan beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Mereka adalah ummat Islam. Mereka adalah ummat Nabi Muhammad yang sebenarnya, yang status mereka sebagai ummat beliau abadi dan melekat baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana sabda beliau:

شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي. رواه أبو داود والترمذي وقال: حسن صحيح غريب. وأحمد، وصححه الألباني

“Syafa’atku akan diperoleh oleh pelaku dosa besar dari ummatku.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi, dishahihkan oleh Al-albani)

Ummat ijabah ini adalah mereka yang akan menyandang status ummat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  ketika setiap ummat berjalan dibelakang pemimpin mereka, ini sebagaimaan dalam hadits:

عرضت علي الأمم فجعل يمر النبي معه الرجل، والنبي معه الرجلان، والنبي معه الرهط، والنبي ليس معه أحد، ورأيت سوادا كثيرا سد الأفق فرجوت أن تكون أمتي، فقيل: هذا موسى وقومه. ثم قيل لي: انظر فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل لي: انظر هكذا وهكذا، فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل: هؤلاء أمتك، ومع هؤلاء سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب. متفق عليه

“Diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada Nabi yang bersamanya seorang pengikut, Nabi bersamanya dua orang pengikut, Nabi bersamanya sekelompok pengikut dan bahkan ada Nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun. Aku melihat pula sekelompok besar yang banyak, yang jumlah mereka menutupi ufuk, ketika itu aku berharap mereka adalah ummatku, lalu dikatakan: ini adalah Musa dan kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku: lihatlah, maka aku melihat sekelompok besar yang banyak menutupi ufuk, kemudian dikatakan pula kepadaku: lihatlah, begini dan begini, maka aku lihat lagi sekelompok besar yang banyak, menutupi ufuk, lalu dikatakan: mereka adalah ummatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika kata “ummat” atau “ummat Nabi Muhammad” disebut maka yang dimaksud adalah ummat Islam, ummat ijabah, kecuali jika ada indikasi lain yang memalingkannya dari makna dasar ini, indikasi itu bisa berupa keterangan setelahnya seperti pada hadits sebelumnya, dan bisa berupa hal lainnya.

Kesimpulan

Menjawab pertanyaan apakah non muslim (orang kafir) termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, maka jawabannya adalah, ya, mereka adalah ummat dakwah beliau.

Status ummat dakwah bagi orang kafir ini hanya sementara di dunia, sedangkan di akhirat mereka bukan lagi ummat dakwah beliau.

Ummat beliau yang hakiki adalah ummat islam, yaitu ummat ijabah. Status mereka sebagai ummat Nabi abadi sampai hari kiamat.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga kita mati sebagai ummat ijabah Nabi Muhammad shallallahu’aihi wa sallam dan mendapatkan syafa’at beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.

 

Referensi: www.islamweb.net

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya

ijma' pengertian, definisi, macam dan syaratnya

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya – Apa yang dimaksud dengan ijma’, apa saja syarat-syarat dan berapa macam pembagiannya? Berikut ulasannya.

Pengertian Ijma’

Ijma’ (الإجماع) berasal dari kata jama’a, yajma’u, jam’an, ijmaa’an (جمع – يجمع – جمعا – إجماعا) secara bahasa berarti berkumpul, mengumpulkan, perkumpulan. Ijma’ juga berarti kesepakatan dan tekad.

Adapun defenisi ijma’ secara istilah adalah:

اتفاق مجتهدي هذه الأمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم على حكم شرعي

“Kesepakatan (konsensus) para mujtahid ummat islam setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam atas suatu hukum syar’i.”

Penjelasan definisi:

Kesepakatan (konsensus) para mujtahid : maka tidak termasuk ijma’ jika dalam suatu masalah terdapat perbedaan pendapat (khilaf), meskipun khilaf tersebut dari satu orang mujtahid.

Kemudian, kesepakatan tersebut harus bersumber dari ulama mujtahid, mereka yang telah derajat ijtihad, bukan dari orang awam, atau mereka yang masih taqlid (muqallid).

Adapun orang awam atau muqallid, kesepakatan mereka dalam suatu hukum syari’at tidak dianggap, demikian juga perselisihan mereka, karena orang awam dan muqallid tidak kredibel dan bukan sumber untuk bertanya dalam masalah hukum syari’at.

Ummat islam: kesepakatan tersebut harus dari mujtahid ummat islam, bukan selain mereka

Setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam : suatu ijma’ harus terjadi setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam wafat, maka tidak termasuk ijma’ ketika beliau masih hidup. Karena yang menjadi dalil ketika Nabi shallallahu’alaihiwasallam  masih hidup adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau sendiri.

Oleh karena itu, jika ada sebuah hadits/atsar perkataan sahabat yang berbunyi “dulu kami di zaman Nabi mengerjakan ini..” atau “mereka  dulu mengerjakan ini di zaman Nabi…” adalah berhukum marfu’ (perkataan sahabat yang disandarkan kepada Nabi) , bukan nukilan tentang ijma’.

Atas suatu hukum syar’i: objek dari ijma’ adalah hukum syari’at Islam, maka tidak termasuk ijma’ kesepakatan orang tentang suatu perkara adat atau hukum logika. Karena ijma’ merupakan salah satu dalil dari dalil-dalil syar’i.

Kedudukan Ijma’ dalam Syari’at Islam

Ijma’ merupakan salah satu dalil syar’i dan merupakan hujjah dalam suatu hukum syar’i.

Ijma’ menduduki peringkat ke 3 sebagai dalil syar’i setelah Quran dan Sunnah, kemudian setelah ijma’ ada qiyas yang menduduki peringkat ke 4 sebagai dalil syar’i.

Perlu diketahui bahwa Al-Quran dan As-sunnah (hadits) merupakan pokok dari dalil-dalil syar’i, sedangkan metode selain keduanya seperti ijma’, qiyas, mashalih al mursalah, dan lainnya adalah cabang.

Ijma’ merupakan hujjah dan dalil untuk menguatkan suatu hukum syari’at, dalilnya adalah:

Firman Allah ta’ala:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Firam Allah “agar kamu menjadi saksi atas manusia” mencakup saksi atas perbuatan dan hukum perbuatan mereka, dan “saksi” perkataannya dapat diterima.

Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam:

روى الترمذي (2167) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ ). وحسنه الألباني.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan ummatku diatas suatu kesesatan, dan tangan Allah diatas al-jama’ah.” (HR. At-Tirmidzi: 2167, dan statusnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah memelihara ummat ini (terutama ulamanya) dari persekongkolan dan kesepakatan atas suatu perkara bathil dan kesesatan.

Pembagian Ijma’, Jenis dan Macam-macamnya

Ijma’ dibagi menjadi dua macam, yaitu ijma’ qath’i (pasti) dan ijma’ zhanni (dugaan), berikut penjelasannya masing-masing:

1. Ijma’ Qath’i

Adalah ijma’ yang bersifat pasti dan diketahui secara spontan telah terjadi, seperti ijma’ mengenai kewajiban sholat lima waktu, ijma’ mengenai haramnya zina dll.

Ijma’ jenis ini tidak dipungkiri terjadinya oleh seorangpun dari kalangan ulama, mereka juga tidak memungkiri tentang kedudukannya sebagai hujjah/dalil, dan menyelisihi ijma’ jenis ini bisa berakibat kafir jika yang menyelisihinya adalah orang yang secara akal tidak mungkin ia tidak tahu (seperti umumnya orang islam, kecuali mungkin sebagian kasus orang yang baru masuk islam yang belum pernah belajar islam dengan baik)

2. Ijma’ Zhanni

Ijma’ zhanni adalah ijma’ yang tidak diketahui secara spontan tentang apakah pernah terjadi atau tidaknya didalam agama kecuali setelah diteliti lebih jauh, dan sifatnya masuh praduga.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kemungkinan terjadinya ijma’ jenis ini. Mungkin, pendapat yang paling tepat mengenai masalah ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah  yang berakata:

والإجماع الذي ينضبط ما كان عليه السلف الصالح ، إذ بعدهم كثر الاختلاف وانتشرت الأمة ” . أهـ

“Ijma’ yang menjadi patokan adalah ijma’ yang terjadi pada masa salaf shalih(1), adapun masa setelah mereka tidak menjadi patokan karena telah terjadi banyak perbedaan pendapat, dan ummat telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.” (Aqidah Qasithiyah, Ibnu Taimiyah)

Ketahuilah, bahwa ulama ummat ini tidak mungkin bersepakat untuk menyelisihi sebuah dalil yang shahih, sharih (jelas) dan tidak mansukh (dihapus hukumnya), karena mereka tidak mungkin bersepakat kecuali atas kebenaran.

Jika engkau melihat suatu ijma’ dan engkau mengira bahwa ijma’ tersebut menyelisihi dalil shahih, sharih dan tidak mansukh, maka ada 3 kemungkinan:

  1. bahwa yang yang engkau kira ijma’ sebenarnya bukan ijma’, tetapi ada perbedaan pendapat yang engkau tidak ketahui
  2. atau dalilnya tidak shahih
  3. atau dalilnya shahih tapi tidak sharih (jelas atau eksplisit menunjukkan suatu hukum tertentu dan tidak multi tafsir (implisit)
  4. atau dalil tersebut mansukh hukumnya dengan dalil lain.

Syarat Ijma’

Agar suatu masalah hukum syar’i berstatus ijma’  harus memenuhi syarat berikut:

  1. Suatu Ijma’ harus dikonfirmasi melalu jalur yang shahih, bahwa ia harus populer di kalangan para ulama, atau ijma’ tersebut dinukil oleh ulama yang terpercaya (tsiqah), luas pengetahuan dan wawasannya.
  2. Bahwa suatu ijma’ tidak boleh didahului oleh sebuah perbedaan pendapat sebelumnya, jika ada perbedaan pendapat sebelumnya maka kesepakatan yang datang setelahnya tidak dikategorikan ijma’ (secara istilah), karena suatu pendapat tidak hilang dengan wafatnya pemilik pendapat tersebut.

Maka, ijma’ atau kesepakatan yang datang belakangan tidak menghilangkan status sebuah khilaf (perbedaan pendapat) yang terjadi sebelumnya, hanya saja kesepakatan ini bisa mencegah terjadinya perselisihan

Inilah pendapat yang paling kuat (rajih) dalam masalah ini, karena metodeloginya yang kuat.

Pendapat lain mengatakan bahwa suatu ijma’ tidak disyaratkan harus tidak ada khilaf sebelumnya, menurut pendapat ini, jika para ulama di generasi berikutnya berijma’ atas salah satu pendapat sebelumnya(2) maka ijma’ tersebut sah, dan menjadi hujjah atas orang yang datang setelah mereka.

Suatu ijma’, menurut pendapat mayoritas ulama, tidak disyaratkan harus berakhirnya genarasi para ulama yang bersepakat tersebut, maka ijma’ berlaku seterusnya semenjak para ulama pada generasi bersepakat, dan tidak boleh bagi generasi setelah menyelisihi ijma’ tersebut.

Ini karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang hujjahnya ijma’ tidak menyebutkan syarat tentang berlalunya masa terjadinya ijma’, dan ijma’ telah tetap pada saat mereka bersepakat, lalu hal apa yang dapat menghilangkannya?

Hipotesis Skenario

Jika seorang ulama mujtahid berpendapat dengan suatu pendapat, atau melakukan suatu perbuatan yang berkonsekwensi hukum, lalu hal tersebut menjadi populer (masyhur) di kalangan ulama-ulama mujtahid lainnya, dan tidak seorangpun dari mereka mengingkari pendapat dan perbuatan tersebut padahal mereka punya kemampuan untuk mengingkarinya (jika mereka ingin), dalam kondisi ini ada beberapa pendapat:

  1. Bahwa pendapat seorang mujtahid tersebut menjadi ijma’ (karena tidak ada seorangpu dari ulama lainnya yang menyelisihinya)
  2. Pendapat tersebut hanya berstatus argumen / hujjah tapi bukan ijma’
  3. Lainnya mengatakan, pendapat tersebut bukan hujjah dan bukan pula ijma’
  4. Bahwa jika para ulama yang semasa dengan pendapat tersebut berlalu dan mereka semua telah wafat dan tidak seorang pun dari mereka mengingkari dan berbeda pendapat dengan pendapat seorang ulama mujtahid tersebut, maka pendapat ini menjadi ijma’, karena diam mereka yang terus menerus sampai wafat, padahal mereka memiliki kemampuan untuk menyelisihi dan mengingkari, adalah dalil atas kesepakatan mereka. Pendapat yang terakhir inilah lebih tepat.

Wallahu’alam.

Walhamdulillahirabbil’aalamin..

Tulisan ini utamanya dikutip dari kitab Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya Al-ushul min ‘ilmi al-ushul hal. 62-64, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.

 

Referensi:

https://islamqa.info

https://legacy.quran.com

https://sunnah.com/tirmidhi/33/10

 


Catatan kaki:

(1) Salafus shalih artinya pendahulu yang sholeh, adapun secara istilah mereka adalah 3 generasi awal ummat ini, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, terutama mereka yang dari kalangan ulama.

3 generasi tersebut istimewa berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat) kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Ijma’ berikutnya harus berdasarkan dan sesuai dengan salah satu pendapat sebelumnya, dan tidak boleh menelurkan pendapat baru yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.

26 Kosa Kata Bahasa Inggris Serapan dari Bahasa Arab

Kosa Kata Bahasa Inggris Serapan dari Bahasa Arab

Kosa Kata Bahasa Inggris Serapan dari Bahasa Arab – Sejak inggris dan sekutunya menang perang, maka secara de facto mereka telah menjadi penguasa dunia dalam berbagai hal, seperti ekonomi, politik, teknologi dan lainnya.

Ini berpengaruh juga kepada bahasa, banyak kosa kata bahasa-bahasa di dunia berasal dari serapan bahasa Inggris.

Banyak faktor yang menyebabkan fenomena penyerapan terjadi, diantara melalui istilah-istilah dalam bidang teknologi dan ilmu sains yang kebanyakan menggunakan bahasa Inggris, juga massivenya propaganda barat melalui media, industri film dan lainnya.

Lain dulu lain sekarang, ummat islam juga pernah menguasai dunia, dimulai pada tahun 600an Masehi, wilayah kekuasaan ummat islam sudah membentang dari perbatasan cina di timur, sampai Andalus Spanyol di barat.

Pada saat ummat Islam berkuasa, bahasa resmi yang dipakai adalah bahasa Arab.

Penguasa ilmu pengetahuan dan sains pada saat itu adalah ummat Islam, pemerintah islam sangat mendukung berkembangnya ilmu dan sains, sehingga menghasilkan ilmuan-ilmuan muslim yang handal.

Hegemoni ummat Islam atas ilmu pengetahuan ini membuat bangsa-bangsa lain, terutama bangsa eropa pada abad pertengahan berbondong-bondong belajar ke sekolah dan universitas islam, terutama di Andalusia.

Kosa Kata Bahasa Inggris Serapan dari Bahasa Arab

Kontak budaya dan politik antara ummat Islam dengan bangsa eropa tersebut juga sedikit banyak berpengaruh pada penyerapan bahasa Arab ke dalam kosa kata bahasa-bahasa di Eropa pada saat itu, termasuk bahasa Inggris.

Menurut pakar bahasa, ada ratusan bahkan kosa kata bahasa inggis yang diambil dari kosa kata bahasa Arab.

Berikut ini adalah beberapa contoh kosa kata dalam bahasa Inggris yang diambil dari bahasa Arab:

1. Alcohol

Kata “Alcohol” berasar dari bahasa Arab Al-Kuhl (الكحل)  yaitu suatu serbuk yang digunakan untuk mata (celak). Dulu kuhl / kohl digunakan sebagai anti septik,  celak mata dan kosmetik. Makna Alkohol kemudian berkembang menjadi semua zat yang disuling secara umum, kemudian maknanya menyempit menjadi ethanol. (sumber)

2. Ally

Ally artinya teman, atau sekutu, berasal dari bahasa Arab wali (ولي) yang berarti teman, penolong penjaga dll.

3. Assassin

Assassin artinya pembunuh, kalimat ini berasal dari bahasa Arab  Asāsiyyūn (أساسيون) yaitu sebuah grup di dalam ummat Islam. Kelompok ini ditakuti oleh tentara salib waktu itu. Sebutan Assassin terpelihara dalam sumber-sumber Eropa, seperti pada tulisan Marco Polo, dimana mereka digambarkan sebagai pembunuh yang terlatih, dan bertanggung jawab atas pembunuhan sistematis atas pihak yang berlawanan. Kata “assassin” kemudian sejak itu digunakan untuk menggambarkan pembunuh bayaran professional, assassination yang berarti tindakan pembunuhan yang menargetkan orang kalangan atas untuk kepentingan politik. (sumber)

4. Body

Body berarti badan berasal dari kata bahasa Arab “Badan” (بدن) dengan arti yang sama.

5. Coffee

Coffee artinya kopi berasal dari kata Qahwa (القهوة) adalah minuman yang ditemukan di ethiophia dan dikembangkan di Yaman sebagai minuman. Minuman ini kemudian masuk ke Turki dengan nama Kahve, kemudian masuk ke Italia dengan nama caffee, kemudian ke bahasa Inggris dengan nama coffee.

Kopi Mocha atau mocaccino, juga ternyata berasal nama sebuah pelabuhan di Yaman, yaitu pelabuhan Mokha, pelabuhan ini dulunya merupakan tempat ekspor kopi ke berbagai negara.

6. Camel

Camel atau unta berasal dari bahasa Arab Jamaal (الجمال)

7. Carrat

Carrat adalah ukuran kadar kemurian emas, kata ini berasal dari bahasa Arab Qiiraat (القيراط), menurut kamus Mu’jaam Al-Wasiith Qiraat adalah sebuah patokan untuk mengukur berat timbangan atau ukuran sesuatu.

8. Cave 

Cave atau gua, berasal dari baha arab Kahf (الكهف)

9. Cotton

Cotton adalah kapas, berasal dari bahasa arab Qutn (االقطن)

10. Cover

Cover artinya tutup atau penutup berasal dari bahasa arab Kafara, Kufr (كفر/الكفر) secara bahasa artinya menutup atau menutupi. Dalam istilah, orang yang tidak beriman disebut kafir karena ia menutupi kebenaran dan mengingkarinya setelah ia tahu itu benar. Dalam penggunaan klasik petani disebut dengan kafir jamaknya kuffaar, karena petani menutupi benih ketika menanamnya di dalam tanah.

11. Cup

Cup atau cangkir berasal dari kata Arab Kub atau jamaknya Akwaab (كوب / أكواب) yang juga berarti cangkir

12. Earth 

Artinya bumi, berasal dari kata Arab Ardh (الأرض)

13. Eye

Artinya mata berasal dari kata ‘Ayn (االعين) juga berarti mata, atau mata-mata

14. Ghoul

Ghoul dalam bahasa inggris  artinya setan kubur, kata ini diambil dari bahasa Arab Gul (الغول) adalah jenis Jin yang ada di gurun yang dipercaya oleh orang Arab pada jaman dahulu, jin ini, menurut mereka, bertugas menyesatkan jalan manusia ketika mereka melalui gurun.

15. Good

Berasal dari kata Jaada, Yajudu, Juudan (جاد يجود جودا) yang artinya baik

16. Harem

Artinya selir, atau bilik yang diperuntukkan untuk selir pada zaman dahulu

17. Kill

Artinya bunuh atau membunuh berasal dari kata  Arab Qatl (قتل) yang artinya juga pembunuhan

18. Magazine

Magazine memiliki beberapa arti, diantaranya majalah, gudang peluru, dan gudang senjata. Kata ini berasal dari bahasa Arab, dari kata, Makhzan jamaknya Makhaazin (مخزن / مخازن) yang artinya tempat penyimpanan, atau gudang.

19. Man

Man berarti seorang pria, atau manusia, kata ini berasal dari kata Arab Man (من) yaitu kata ganti untuk makhluk berakal, artinya bisa menjadi “siapa”, dan juga bisa berarti “orang”.

20. Mile

Mile adalah unit jarak tempuh 1 mile sekitar 1600 KM, atau bisa juga berarti ungkapan untuk jarak yang jauh. Kata ini diambil dari bahasa Arab Miil (ميل) yang juga dahulu dipakai untuk menunjukkan jarak, miil juga berarti menara yang dibuat pada suatu jalan sebagai petunjuk bagi musafir dan menandakan jarak tempuh.

21. Noble

Nobel artinya mulia, ini adalah serapan dari kata bahasa Arab “Nabiil” (نبيل) yang artinya orang yang mulia dan bermartabat.

22. Paradise

Paradise artinya surga, ini diambil dari bahasa Arab Firdaus dan jamaknya Faraadiis (فردوس / فراديس) adalah tingkatan surga yang paling tinggi.

23. Safari

Safari artinya ekspedisi untuk mengamati atau berburu binatang di habitat alami mereka, terutama di Afrika Timur. Kata ini berasal dari kata bahasa arab Safar yang artinya perjalanan.

24. Sugar

Sugar atau gula berasal dari kata Sukkar (سكر)

25. Wail

Wail artinya meratap, kata ini diambil dari bahasa Arab “Wail” (ويل) yang artinya celaka atau adzab, menurut sebagian tafsir, wail adalah nama sebuah lembah di Neraka Jahannam.

26. Zero

Artinya nol diambi dari kata Sifr (صفر) yang berarti kosong, atau hampa, kata ini kemudian berubah menjadi zephrum pada bahasa latin, dan zero pada bahasa Inggris.

Demikian sebagian contoh dari kosa kata serapan bahasa inggris yang diambil dari kosa kata bahasa Arab. Menurut pakar, ada ratusab bahkan ribuan kosa kata inggris lainnya yang merupakan serapan dari bahasa Arab yang terjadi pada masa kejayaan Islam. Penyerapan ini juga terjadi pada bahasa-bahasa eropa lainnya, seperti Spanyol dan Portugis, German, Belanda, Prancis, dll.

 

Referensihttps://www.almaany.com

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji? ini Faktanya

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji ini Faktanya

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji?- Bulan Ramadhan adalah anugrah kepada ummat Nabi Muhammad shallallau’alaihi wa sallam dimana amal ibadah pada bulan ini akan digandakan pahalanya oleh Allah ta’ala.

Allah maha adil dan mengetahui bahwa umur ummat akhir zaman itu pendek, oleh karena itu, Allah menjadikan buat ummat ini waktu-waktu tertentu yang amalnya dilipat gandakan, sehingga kita bisa mengejar bahkan melampaui ummat terdahulu yang umurnya panjang dan amalnya banyak.

Pada bulan Ramadhan, amal yang biasa menjadi luar biasa, amal sunnah diberi pahala seperti amal wajib, dan amal wajib dilipatkan lagi pahalanya lebih banyak lagi.

Terkhusus umrah di bulan Ramadahan, ada sebuah hadits yang menyebutkan keutamaanya secara khusus, yaitu:

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال لامرأة من الأنصار يقال لها أم سنان: ((إذا جاء رمضان فاعتمري، فإن عمرة فيه تعدل حجة)). متفق عليه، وفي رواية لهما: ((حجة معي))

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasanya Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada seorang wanita dari Anshar yang digelari Ummu Sinan: “Jika telah datang bulan Ramadhan maka lakukakanlah umrah, karena umroh padanya setara dengan satu kali haji. (HR. Bukhari dan Muslim) dalam riwayat lainnya: “(Setara dengan) haji bersamaku”.

Berkata Al-munawi (4/361): “yakni, (umrah di bulan ramadan) menyamai dan menyerupai (haji) pada pahalanya, karena pahala diutamakan seiring keutamaan waktu, akan tetapi bukan berarti umrah di bulan Ramadhan tersebut menggugurkan kewajiban haji seseorang, ini berdasarkan ijma’  (konsensus).”

Hadits diatas menjadi dalil keutamaan umrah di bulan Ramadhan, dan bahwasanya setara dengan pahala satu kali haji, dalam riwayat lain disebutkan setara denga haji bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ini tidak hanya berlaku kepada wanita tersebut, melainkan umum kepada seluruh ummat islam.

Ini merupakan diantara sebagian kebaikan Allah ta’ala  kepada hamba-hamba Nya dengan menjadika pahala umrah setara dengan pahala haji dengan masuknya bulan Ramadhan.

Ini juga menjadi dalil bawha pahala amal akan bertambah dengan bertambahnya kemulian waktu, sebagaimana juga akan bertamabah dengan hadirnya hati, dan ikhlasnya niat.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah maha pemberi dan pengasih, Allah memberi kelebihan dengan apa saja yang dikehendaki Nya, kepada siapa yang dikehendaki Nya dan pada apa saja yang dikehendaki Nya, tiada siapapun yang bisa protes atas keputusan Nya, dan tiada siapapun yang bisa menolak keutamaannya.

Umrah di bulan Ramadahan dengan pahala haji dapat diperoleh dengan hanya sekedar datang ke Makkah melaksanakan manasik umrah saja, meskipun setelahnya ia langsung pulang dan tidak tinggal lama di Makkah.

Tapi, siapa yang diberi Allah tawfiq untuk tinggal lebih lama di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan, untuk beramal sholeh, maka sungguh ia telah diberi keutamaan yang tidak dapat dihargai dengan baik kecuali oleh orang-orang yang sholeh yang mengerti betapa berharganya waktu dan tempat yang mulia.

Sholat di Masjidil Haram pahalanya melebihi masjid-masjidnya, dalilnya:

وعن جابر – رضي الله عنه – أنَّ رسولَ الله – صَلَّى الله عليه وسَلَّم – قال: صلاةٌ في مسجدي أفضل من ألف صلاةٍ فيما سواه، إلاَّ المسجد الحرام، وصلاةٌ في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه

Dari Jabir radhiyallalahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallau’alaihi wa sallam bersabda:

“Sholat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama seribu kali daripada masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali daripada sholat diselainnya.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Al-bushiri berkata di dalam Az-zawaid 1/453 bahwa isnad hadits ini shahih dan perawi-perawinya terpercaya (tsiqah), dan dishahihkan pula oleh Al-mundziri di dalam At-targhib wa at-tarhib 2/214)

Maka ini adalah kesempatan emas bagi orang-orang yang ingin mengumpulkan bekal pahala dan perbendaharaan untuk akhirat, dengan beribadah di tempat yang paling mulia, dengan amalan yang paling mulia, dan waktu yang paling mulia.

Lebih-lebih lagi jika Anda bisa beri’tikaf disana pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yang pada salah satu malamnya terdapat satu malam yang amal di dalamnya lebih baik dari pada amal seribu bulan, itulah malam lailatul qadar.

  إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadar : 1-5)

Demikian penjelasan ringkas tentang keutamaan umrah di bulan Ramadhan, semoga bermanfaat.

Referensi: www.alukah.net

Saudi Arabia Buka Visa Turis untuk 49 Negara, Indonesia Termasuk?

Saudi Arabia Buka Visa Turis untuk 49 Negara, Indonesia Termasuk?

Saudi Arabia baru-baru ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, membuka visa kunjungan turis ke negaranya.

Untuk pertama kalinya, kini turis yang ingin berkunjung ke negara Saudi bisa mewujudkan impiannya dengan mudah melalui Kedutaan atau Konsulat Saudi Arabia.

Ahmed Al Khateeb, Ketua Komisi Saudi untuk Pariwisata dan Warisan Budaya (SCTH), telah mengumumkan peluncuran visa turis untuk Kerajaan Saudi Arabia pada sebuah acara di Ad-Diri’yah, Riyadh.

Namun tidak semua negara di dunia bisa menikmati layanan visa turis ini, ada 49 negara yang dapat mengajukan visa turis tersebut dan ternyata Indonesia tidak termasuk didalam nya.

Sementara warga Indonesia, untuk berkunjung ke Saudi masih harus menggunakan visa haji dan umrah, visa kerja, diplomatik, atau undangan khusus kerajaan.

Berikut ini 40 daftar negara yang dapat mengajukan visa turis ke Saudi Arabia:

    1. Amerika Serikat
    2. Kanada
    3. Kazakhstan
    4. Singapura
    5. Brunei
    6. Selandia Baru
    7. Korea Selatan
    8. Jepang
    9. Spanyol
    10. Belgium
    11. Malaysia
    12. Austria
    13. Siprus
    14. Inggris
    15. Kroasia
    16. Estonia
    17. Andorra
    18. Denmark
    19. Jerman
    20. Bulgaria
    21. Perancis
    22. Hungaria
    23. Republik Ceko
    24. Belanda
    25. Italia
    26. Finlandia
    27. Irlandia
    28. Lithuania
    29. Yunani
    30. Liechtenstein
    31. Monako
    32. Islandia
    33. Malta
    34. Polandia
    35. Latvia
    36. Norway
    37. Rusia
    38. Luksemburg
    39. Rumania
    40. Slovenia
    41. Montenegro
    42. Slovakia
    43. Swiss
    44. Portugal
    45. Swedia
    46. Australia
    47. San Marino
    48. Ukraina
    49. China, termasuk Hong Kong, Makau dan Taiwan

Sumber: Gulfnews

Saudi Arabia Membuka Visa Turis untuk Pertama Kalinya

Saudi Arabia Membuka Visa Turis untuk Pertama Kalinya

Saudi Arabia Membuka Visa Turis untuk Pertama Kalinya- Saudi Arabia sejak berdirinya pada 23 September 1932 tidak pernah membuka visa turis ke negaranya. Orang luar yang ingin datang kesana hanya bisa melalui visa umrah atau haji, visa kerja, diplomatik atau undangan khusus dari pemerintah.

Kini, semenjak Raja Salman dan anaknya pangeran Muhammad bin Salman menjabat, telah banyak terjadi perubahan kebijakan di negara tersebut, salah satunya adalah dibolehkannya wanita mengemudi, dan baru-baru ini (9/19) dikeluarkannya visa kunjungan turis.

Visa turis dapat diurus di kedutaan atau konsulat Saudi Arabia terdekat, di kota Anda atau bisa melalui online di www.visitsaudi.com. Proses mengurus visa melauli kedutaan memakan waktu 1-2 hari kerja, sedangkan via online 5-30 menit.

Visa turis berlaku sampai setahun, Anda bisa melakukan beberapa kali kunjungan menggunakan visa tersebut dalam satu tahun, dengan maksimal masa menetap di setiap perjalanan maksimal 3 bulan. Sedangkan untuk setiap single entri visa berlaku hanya 1 bulan.

Biaya untuk penerbitan e-visa dan visa on arrival adalah 440 Riyal (setara dengan (Rp. 1.664.000,-) belum termasuk pajak. Sedangkan denda overstay sebesar 100 SAR (sekitar Rp 378.000,-) per hari overstay.

Sumber: Gulfnews