hosting dan domain murah niaga hoster 03

Lupa Tasyahud Awal, Haruskah Sujud Sahwi?

Hukum duduk dan bacaan tasyahud awal dalam sholat adalah wajib (bukan rukun sholat), oleh karena itu jika seseorang lupa mengerjakannya maka ia harus melakukan sujud sahwi sebelum salam di akhir sholatnya.

Dalilnya adalah hadits:

روى البخاري (829) – واللفظ له – ومسلم (570) عن عبد الله بن بُحينه رضي الله عنه : ” أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى بِهِمُ الظُّهْرَ فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ ، فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ ، حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ وَهْوَ جَالِسٌ ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ، ثُمَّ سَلَّمَ

Dari ‘Abdullah bin Buhainah –radhiyallahu’anhu- ia berkata:

“Bahawasanya Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- sholat zhuhur bersama mereka, lalu beliau langsung berdiri pada raka’at kedua, tidak duduk (tasyahud/tahiyyat) dan orang-orang pun berdiri bersama beliau. Sampai ketika sholat hampir selesai dan orang-orang menunggu untuk salam, seketika beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam, kemudian beliau salam. (HR. Bukhari  no. 829 dan Muslim no. 570)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi -rahimahullah- berkata:

“Jika ia meninggalkannya (tasyahhud) karena lupa, maka ia harus sujud sahwi sebelum salam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Malik bin Buhainah (lalu ia menyebutkan hadits diatas). Maka masalah ini telah tetap berdasarkan khabar (hadits), dan kita qiyaskan hal itu kepada seluruh (amalan-amalan wajib) pada sholat.” (Al-Kafi 1/273)

(sumber)

Lupa Tasyahud Awal, Haruskah Sujud Sahwi?

Maka berdasarkan hadits diatas, maka jelas bahwa jika seseorang lupa mengerjakan tasyahud/tahiyat awal maka ia dintut untuk melakukan sujud sahwi di akhir sholat. Dalam kasus ini, sujud sahwinya dilakukan sebelum salam.

Sujud Sahwi

Sujud sahwi (sujud karena lupa) adalah sujud dua kali yang dilakukan di akhir sholat. Tujuannya adalah untuk menambal (menggenapi) kekurangan yang terjadi di dalam sholat karena lupa. Dalam sebuah hadits disebutkan,

عن أبي سعيد عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا شك أحدكم في صلاته فليلغ الشك وليبن على اليقين فإذا استيقن بالتمام فليسجد سجدتين وهو قاعد فإن كان صلى خمسا شفعتا له صلاته وإن صلى أربعا كانتا ترغيما للشيطان

Dari Abu Sa’id, dari Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda.

“Jika salah seorang dari kamu ragu-ragu dalam sholatnya, maka hendaklah ia mengabaikan keraguan tersebut dan mengambil yang lebih meyakinkan (yaitu mengambil bilangan yang lebih kecil/sedikit pent.). Kemudian ketika ia telah yakin menyempurnakan semuanya, hendaklah ia sujud dua kali dalam keadaan masih duduk (tasyahud akhir sebelum salam). Jika ternyata ia telah sholat lima raka’at (karena lupa) maka dua sujud (sahwi) tersebut menjadi pelengkap bagi sholatnya, dan jika ternyata ia benar melakukan empat raka’at (tapi ragu) maka kedua sujud (sahwi) tersebut menjadi sebagai penghinaan untuk syaithan.” (HR. An-Nasa’i)

Sebab yang Mengharuskan Sujud Sahwi

Sebab sujud sahwi adalah karena lupa yang mencakup:

Kelebihan Rukun atau Kewajiban dalam Sholat:

Contoh kelebihan suatu rukun/kewajiban dalam sholat seperti menambah ruku’ dan/atau sujud karena lupa maka ditutupi dengan sujud sahwi.

Perlu digaris bawahi bahwa penambahan tersebut dilakukan karena lupa, bukan disengaja, karena jika disengaja maka sholatnya batal.

Kurang Rukun atau Kewajiban dalam Sholat:

Jika lupa mengerjakan salah satu rukun sholat, maka ada dua skenario:

  1. Lupa mengerjakan rukun dan baru ingat sebelum seseorang sampai pada rukun yang sama pada raka’at berikutnya, maka ia harus kembali mengerjakan rukun yang tertinggal karena lupa tersebut, lalu menyempurnakan amalan sholat secara tertib (urut) dihitung mulai dari rukun yang ia lupakan tersebut. Misalnya seseorang lupa melakukan ruku’, kemudian ia ingat sebelum ia sampai pada ruku’ berikutnya, maka seketika itu ia harus kembali mengerjakan ruku’ yang terlupa tersebut, kemudian ‘itidal, sujud dst.
  2. Lupa mengerjakan rukun dan baru ingat setelah ia sampai pada rukun yang sama pada raka’at berikutnya, maka raka’at kedua tersebut menjadi pengganti untuk raka’at sebelumnya yang rukunnya kurang, dan raka’at sebelumnya tidak dihitung. Misalnya seseorang lupa mengerjakan ruku’ pada raka’at pertama dan baru ingat ketika ia sedang atau telah mengerjakan ruku’ pada raka’at kedua, maka raka’at pertama tidak dihitung karena rukunnya kurang, dan raka’at kedua dihitung sebagai raka’at pertama.

Adapun jika lupa mengerjakan salah satu/beberapa kewajiban sholat, maka tidak ada keharusan baginyanya untuk mengulangi kewajiban tersebut, melainkan ia hanya dituntut untuk melakukan sujud sahwi.

Ragu-ragu tentang Rukun atau Kewajiban dalam Sholat:

Yaitu ragu-ragu tentang apakah ia kelebihan atau kekurangan raka’at atau rukun sholat, maka:

  1. Jika ia ragu antara kelebihan atau kekurangan rukun/raka’at, tapi ia lebih cenderung yakin kepada salah satu dari keduanya, maka ia harus memilih kecenderungannya tersebut. Kemudian ia melakukan sujud sahwi setelah salam. Misalnya seseorang ragu apakah ia berada pada raka’at ketiga atau keempat pada sholat zhuhur. Tapi ia lebih cenderung yakin raka’at ketiga, maka ia harus memilih rak’at ketiga yang lebih ia cenderungi. Kemudian diakhir sholat ia sujud sahwi.
  2. Adapun jika ia ragu dan tidak cenderung kepada salah satu keduanya (keraguannya fifty-fity), maka ia harus memilih yang lebih meyakinkan, yaitu bilangan yang lebih sedikit, kemudian ia sujud sahwi sebelum salam. Misalnya seseorang ragu apakah ia berada pada raka’at ketiga atau keempat pada sholat zhuhur, dan ia tidak lebih cenderung kepada keduanya, maka ia harus memilih angka yang paling sedikit karena itu lebih meyakinkan, kemudian ia menyempurnakan sholatnya dan sujud sahwi di akhir.

Sujud Sahwi Sebelum Salam atau Setelahnya?

Mengenai sujud sahwi apakah dilakukan setelah salam atau sebelumnya, dalam masalah ini ada perbedaan (khilaf) diantara para ulama. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa:

  1. Jika lupa berupa penambahan dalam sholat, maka sujud sahwi dilakukan setelah salam.
  2. Jika lupa berupa kekurangan, maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam.
  3. Adapun dalam keadaan ragu, jika ia lebih cenderung meyakini salah satunya, maka ia sujud sahwi setelah salam, dan jika tidak cenderung kepada salah satu dari keduanya, maka sujud sahwi sebelum salam.
  4. Adapun jika berkumpul dua sebab, yang satunya mengharuskan sujud sahwi sebelum salam, seperti lupa tasyahud awal, dan yang lain mengharuskan sujud sahwi setelah salam, seperti menambah sujud atau ruku’ karena lupa, maka ia cukup melakukan sujud sahwi satu kali (2 kali sujud). Pendapat yang lebih kuat bahwa sujud sahwi dilakukan sebelum salam, terutama jika bagi seorang imam. Hal ini untuk memudahkan bagi para ma’mum, dan menghindari potensi keraguan yang mungkin terjadi pada orang yang masbuq.

Apa Bacaan Ketika Sujud Sahwi dan Ketika Duduk Diantara Keduanya?

Sepengetahuan kami, tidak terdapat dalil tentang dzikir khusus didalam sujud sahwi. Oleh karena itu, hukumnya seperti hukum sujud sholat pada umumnya, dan bacaan pada keduanya seperti bacaan sujud pada sholat, misalnya membaca “subhaana rabbiyal ‘alaa”  dan boleh juga ditambahkan dengan do’a, sebagaimana sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdo’a (pada waktu sujud).” (HR. Muslim no. 482)

Demikian juga bacaan ketika duduk diantara dua sujud sahwi, sama dengan bacaan diantara dua sujud pada umumnya.

Imam Nawawi -rahimahullah- berkata:

“Sujud sahwi adalah dua sujud yang diantara keduanya ada duduk (diantara dua sujud), pada duduk tersebut disunnahkan untuk duduk iftirasy, dan duduk tawarruk setelah dua sujud sampai ia salam. Dan tatacara dua sujud sahwi, baik bentuk dan bacaannya adalah sama seperti umumnya tatacara sujud pada sholat. ” (Al-Majmu’ 4/72)

duduk iftirasy dan tawarruk
Disunnahkan duduk iftirasy ketika duduk diantara dua sujud sahwi, dan duduk tawarruk setelah bangkit dari sujud terakhir kemudian salam.

Bagaimana jika Kelupaan Sujud Sahwi?

Sujud sahwi disyari’atkan untuk menambal kelupaan yang terjadi di dalam sholat. Namun bagaimana jika seseorang sampai lupa sujud sahwi?

Menurut pendapat yang lebih kuat, apabila seseorang lupa untuk sujud sahwi, maka ia tidak perlu mengqadha (mengganti) sujud tersebut, ini jika ia lupa dan baru ingan setelah berselang jeda waktu yang lama, dan shalatnya dianggap sah. Tapi apabila ia lupa kemudian ingat seketika, baik sebelum salam maupun setelah salam, maka ia wajib untuk sujud sahwi.

Lamanya waktu jeda ditentukan oleh ‘uruf (kebiasaan) setempat.

Demikian pembahasan mengenai apa yang harus dilakukan ketika lupa dalam tasyahud awal, dan tatacara sujud sahwi. Semoga bermanfaat.

 


(Referensi artikel ini diambil dari beberapa artikel di situs https://islamqa.info)

Hosting Unlimited Indonesia

UMMAT ISLAM MERAYAKAN TAHUN BARU?

sejarah asal usul pohon natal

SEJARAH TAHUN BARU DAN NATAL

Perayaan tahun baru (dan natal) aslinya adalah perayaan Saturnalia, yaitu perayaan orang romawi kuno untuk penyambutan dewa matahari “sol invictus”. Perayaan ini berlangsung selama seminggu mulai dari akhir bulan desember. Setelah kekaisaran romawi mengadopsi kristen dan ditetapkannya 25 desember sebagai hari resmi kelahiran Yesus secara sepihak oleh Paus Julius I, maka perayaan-perayaan yang berbau paganisme tsb. diganti menjadi perayaan hari lahir Yesus (Natal).

Kami telah membahas tentang hal ini dengan lebih panjang pada artikel sebelumnya yang berjudul  Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi

MENGEKOR ADALAH TANDA KELEMAHAN

hukum merayakan tahun baru mengikuti orang kafir 01

Ummat Islam adalah ummat yang kuat dan berprinsip, karena agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar dari Allah. Namun, syarat kekuatan ummat adalah berpegang teguh kepada prinsip-prinsip Islam, semakin kendor memegang prinsip Islam maka ummat islam semakin lemah.

Ummat islam harusnya menjadi pemimpin yang diikuti dengan kebenaran Islam yang ada pada mereka, bukan sebaliknya, mereka mengikuti ummat lain. Ummat Islam adalah ummat yang beda, dan memiliki ciri khas sendiri dari ummat lain dalam banyak hal.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam melarang keras meniru dan menyerupai kaum lain, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai (meniru) suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Dalam banyak kasus, Nabi sering menginstruksikan sahabat-sahabat beliau untuk menyelisihi kaum musyrik dan kaum kafir.

Contohnya dalam hal pakaian, Nabi pernah melihat ‘Amr bin ‘Ash memakai pakaian yang dicelupkan dengan Safron (warna kuning mirip pakaian pendeta hindu/budha), beliau melarang hal itu dan bersabda, “Sesungguhnya ini termasuk pakaian orang-orang kafir, janganlah engkau memakainya.” (HR. Muslim)

Contoh dalam hal ibadah seperti larangan sholat ketika matahari terbit dan terbenam, karena pada dua waktu tersebut adalah waktu ibadahnya orang kafir.

Dalam hal tampilan, Nabi bersabda,“Selisihilah kaum Musyrik, pendekkan kumis dan biarkan jenggot tumbuh.” HR. Bukhari dan Muslim)

Dan banyak lagi hadits serupa yang intinya melarang kita membeo kepada kaum kafir.

Oleh karena itu, generasi awal Islam sangat tangguh dan mampu menguasai dunia dengan waktu yang singkat, karena selain mereka memiliki akidah yang kuat, juga berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam, salah satunya pantang membeo dan meniru kaum lain.

Membeo dan meniru orang lain adalah kelemahan. Ibnu khaldun, seorang muslim peletak batu pertama ilmu sosiologi berkata:

“Kelompok yang kalah akan selalu cenderung meneladani kelompok yang menang, baik dalam tampilan, gaya, ideologi dan seluruh keadaan mereka. Hal itu karena jiwa selalu meyakini kesempurnaan pada orang yang mengalahkannya, lalu ia tunduk kepadanya.” (Ibnu Khaldun)

perkataan mutiara hikmah ibnu khaldun
perkataan mutiara hikmah ibnu khaldun tentang meneladani ummat lain

Negara-negara adidaya saat ini sangat memahami hal ini. Contohnya Amerika yang dengan gencar menyebarkan gaya hidup dan ideologi mereka melalui media seperti holywood, artis, penyanyi dll. Karena mereka paham, selama mereka menjadi panutan dalam segala hal, maka selama itu pula mereka akan terus memimpin.

Cina juga memahami hal ini, mereka ingin menjadi pemain utama dunia dan menjadi pesaing Amerika. Karena itu, Cina mencoba mengurangi pengaruh tren amerika di Negaranya dengan memblokir berbagai media amerika seperti Google, FB dll.

Nah, bagaimana dengan kita?

Hosting Unlimited Indonesia

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi – Beberapa hari ke depan tanggal 25 Desember akan segera tiba, dan dapat ditebak, kontroversi boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal bagi ummat Islam akan mencuat kembali, seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Tahukah Anda bahwa kaum Puritan (bagian dari Kristen Protestan) pada tahun 1647 an pernah melarang perayaan Natal (Christmas) di Inggris dan New England (kini bagian dari Amerika Serikat ). Natal dianggap sebagai perayaan Papist (istilah sindiran untuk gereja Katolik oleh kaum Protestan) dan perayaan yang tidak memiliki dasar dari Alkitab”

Namun, sebelum membahas hukum mengucapkan selamat Natal oleh kaum muslimin, sebaiknya kita mengetahui dulu sedikit sejarah tentang perayaan Natal ini.

Sejarah Perayaan Natal & Tahun Baru

Masyarakat modern umumnya mengenal Natal sebagai perayaan Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, tanggal 25 Desember. Tapi, tidak banyak yang tahu bahwa perayaan ini memiliki jejak sejarah yang jauh sebelum era kekristenan, tepatnya pada era Pagan Romawi.

Menurut ahli sejarah, seperti yang disebutkan situs berita Inggris Indepentent.co.uk  perayaan Natal berawal setidaknya dari 2 perayaan paganisme Romawi saat itu, yaitu perayaan Saturnalia dan Ferstival Yule.

Saturnalia adalah perayaan orang Romawi yang dilaksanakan sekali setahun yang dimulai pada tanggal 19 Desember dan berlangsung selama seminggu. Pada perayaan ini hukum tidak berlaku untuk beberapa waktu selama festival, orang bebas melakukan apa saja, membunuh, merampok, memperkosa dsb. tanpa takut dihukum, dan perayaan ini adalah asal usul adanya “purge”.

Sesuai namanya, Saturnalia, berasal dari nama dewa Romawi “Saturn”, yaitu dewa agrikultur dan kebebasan. Saturnalia mungkin festival yang paling masyhur pada masyarakat Romawi. Saturnalia adalah waktunya pesta-pora, bebas bicara, bebas apa saja (mabuk, seks bebas dll).

Setelah masa titik balik matahari, malam yang paling gelap dalam setahun, perayaan penyambutan pembaharuan mentari baru dan tahun baru kemudia dilakukan oleh imperium Romawi, yaitu pada Dies natalis (hari lahir) dewa matahari resmi kaum Romawi, Sol Invitus, pada 25 Desember.

Kelahiran Yesus, 25 Desember dan Koneksinya Dengan Perayaan Natal

Pada tahun 340 masehi, Paus Julius I, menetepkan 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus. Padahal sebelum itu, tanggal kelahiran Yesus, setidaknya ada 3 perbedaan pendapat, yaitu antara tanggal 29 Maret, 6 Januari, dan Juni, dimana para pakar sejarah kini lebih meyakini pendapat ini (daripada 25 Desember).

250 tahun kemudian, Paus Gregory menugaskan saint Augistine untuk mengkristenkan kaum pagan Inggris (the heathen Brits).

Dengan ditetapkannya 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus, pekerjaan saint Augustine menjadi lebih terbantu, karena penduduk pagan tersebut memiliki beberapa festival tengah musim dingin (sekitar akhir Desember-Januari). Dengan harapan mereka dapat mengadopsi ajaran baru Kristen tersebut tanpa harus kehilangan festival pesta pagan tahunan mereka.

Karena kebiasaan pesta mabuk-mabukan pada hari Natal, bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh orang modern. Kebiasaan ini sudah ada pada masa sebelum kekristenan, setidaknya ada 2 festival besar yang bertepatan dengan tanggal natal, yaitu festival Saturnalia dan dan pesta Yule. (sumber)

Bukti sejarah mengindikasikan bahwa Yesus lahir pada musim semi (bukan pada musim dingin Desember). Tapi, misionaris Kristen waktu itu mengadopsi perayaan kaum pagan Yuli, untuk mengambil hati dan mengkristenkan kaum pagan yang sangat cinta dan fanatik perayaan tradisional mereka. Kaum kristen. Kaum Kristen awal-awal juga mengagumi tradisi pedalaman paganisme.

Philip Shaw, seorang peneliti bahasa Germanic dan Inggris kuno di Universitas Leicester, mengatakan, “Orang Kristen pada periode itu cukup tertarik pada paganisme.” Katanya pula, “Itu jelas mereka mengira itu sesuatu yang buruk, tapi pada waktu yang sama mereka berpikir itu sesuatu yang patut diingat. Ini tradisi yang biasa dilakukan oleh nenek moyang mereka.”

Ada dua hari raya paganisme yang paling terkenal pada waktu itu, yaitu perayaan Germanic Yule dan perayaan Saturnalia Romawi. Misionari Kristen kemudian mengadopsi dan menyesuaikannya yang sekarang kita kenal dengan nama Natal. (sumber)

Asal Usul Paganisme pada Pohon Natal

sejarah asal usul pohon natal
perayaan hari natal tidak lepas dari pohon natal dan sosok Santa Claus

Dikuti dari situs Wikipedia, “Sumber-sumber lain juga menyebutkan hubungan antara simbol pohon natal pertama yang terekam dalam sejarah adalah di Alsace pada tahun 1600, dan tradisi (penyembahan dan pengagunagan) pohon sebelum era kekistrenan. Misalnya, menurut Encyclopædia Britannica, “Penggunaan pohon hijau abadi (seperti pinus, dll) dan karangan bunga sebagai simbol kehidupan abadi merupakan kebiasaan orang Mesir kuno, Cina dan Yahudi. Penyembahan pohon adalah hal yang lumrah pada masa kaum paganisme Eropa, dan masih bertahan meskipun mereka telah menganut kristen, pada kebiasaan orang Skandinavia dalam mendekorasi rumah dan lumbung dengan pohon hijau abadi pada tahun baru untuk menakuti setan dan memasang pohon untuk dihinggapi burung selama hari Natal.

Demikian juga, pada festival Romawi pertengahan musim dingin, Saturnalia, rumah-rumah didekorasi dengan karangan-karangan bunga dari pohon tumbuhan hijau abadi bersama dengan adat kuno yang kini dikaitkan dengan Natal.

Dulu, bangsa Viking dan Saxon juga menyembah pohon. Cerita tentang saint Bonafice memotong  Donar’s Oak (pohon sakral bangsa pagan Jerman) mengilustrasikan praktek paganisme pada abad ke 8 masehi pada bangsa Jerman. Cerita versi lainnya yang berkembang kemudian, menggambarkan secara detail bagaimana sebuah pohon hijau tumbuh pada pohon Oak yang telah ditebang, memberitahukan mereka bagaimana bentuk segi tiganya mengingatkan manusia pada ajaran Trinitas, dan bagaimana ujung atas dari segitiga menunjuk ke langit. (sumber)

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- ditanya:

Apa hukum mengucapkan selamat Natal kepada orang Nasrani? dan bagaimana cara kita merespon jika mereka memberi kita ucapan selamat Natal?

Apakah boleh mengunjungi tempat-tempat perayaan Natal? dan apakah seseorang berdosa melakukan hal-hal tersebut tanpa keyakinan didalam hati? Ia melakukannya hanya untuk basa-basi, atau karena malu, atau perasaan tidak enak atau sebab-sebab lainnya? bolehkah kita meniru mereka dalam hal itu?

Beliau menjawab:

Mengucapkan selamat hari raya Natal atau hari-hari raya mereka (orang kafir) yang lain adalah haram, menurut kesepakatan para ulama, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim -rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkaam Ahludz dzimmah”, beliau berkata,

“Adapun mengucapkan selamat atas syi’ar-syi’ar kekafiran yang merupakan ciri khusu mereka adalah haram menurut ittifaq (kesepakatan ulama), misalnya memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengatakan, “selamat hari raya atasmu” dan yang semisalnya. Ini jika pun pelakunya selamat dari resiko kafir karenanya, tapi ia dapat dipastikan termasuk dalam hal yang haram, ini sama seperti ia mengucapkan selamat padanya atas sujudnya kepada salib. Hal ini, dosanya lebih besar dan lebih dimurkai oleh Allah daripada memberiselamat pada orang yang minum khamr, pembunuh, pezina dan lainnya. Banyak orang yang tidak menghargai akidah dan agamanya terjatuh dalam hal ini, dan ia tidak memahami betapa buruknya perbuatannya, siapa yang memberi selamat kepada pelaku maksiat, pelaku bid’ah atau pelaku kufur, maka sungguh ia telah memaparkan dirinya pada murka Allah.” (Ibnul Qayyim, Ahkaam Ahludz dzimmah)

Bagaimana Respon Kita jika Mereka Mengucapkan Selamat Natal Pada Kita?

Kemudian syaikh Ibnu ‘Utsaimin melanjutkan, “Dan jika mereka memberi kita ucapan selamat atas hari raya mereka, kita tidak perlu membalasnya, karena itu bukan hari raya kita, dan karena itu hari raya yang tidak diridhoi Allah Ta’ala…”

Memenuhi undangan mereka untuk merayakan hari raya mereka juga haram, bahkan ini lebih berat daripada ucapan selamat semata. Karena ia telah ikut serta dalam perayaan tersebut, demikian juga haram bagi muslim menyerupai orang kafir dan melaksanakan pesta untuk acara ini, atau ikut tukar menukar hadiah, membagikan permen atau makanan, atau melakukan cuti, dan semisalnya, berdasarkan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.”

Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya “Iqtidha Shirathal Mustaqim”, “Ikut serta pada sebagian hari raya mereka dapat menjadikan mereka besar hati atas agama mereka yang bathil, dan mungkin itu membuat mereka lebih berambisi mengambil kesempatan untuk merendahkan orang-orang lemah.” (Ibnu Taimiyah)

Dan barangsiapa yang melakukan hal itu maka ia berdosa, baik ia melakukannya demi basa-basi, karena rasa cinta, karena malu atau alasan lainnya, karena itu termasuk penjilat dalam agama Allah, dan termasuk sebab yang membuat jiwa orang kafir bangga dan besar hati dengan agamanya.” (Sumber)

Dan agar tidak salah faham, kita mungkin menjelaskan dengan baik kepada mereka mengenai posisi kita dalam hal ini. Jelaskan bahwa dalam prinsip Islam, seorang muslim tidak boleh memberi selamat kepada hari raya, ibadah dan ritual agama lain, dan ini termasuk hal prinsip yang tidak ada basa basi.

Apakah Tidak Mengucapkan Selamat Natal Berarti Tidak Toleransi (Intolerant)?

Tidak mengucapkan selamat natal sama sekali bukan tidak toleransi. Karena toleransi adalah sikap membiarkan atau diam dengan batas tertentu yang dibolehkan (ditolerir).

Maka, dalam pandangan Islam, mengucapkan atau ikut serta dalam hari raya, ibadah dan ritual agama lain merupakan hal yang telah melewati batas yang diperbolehkan, maka dalam hal ini orang Islam tidak dibolehkan untuk ikut serta.

Setiap agama pasti memiliki batasan-batasan yang tidak boleh diterobos oleh pengikutnya, demikian juga dengan Islam, diantara adalah larangan mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, karena itu telah melampaui batas agama Islam.

Justru orang yang mempermasalahkan orang Islam yang tidak mau mengucapkan selamat Natal, karena mengikuti prinsip agamanya, adalah orang yang intoleran.

Syariat Islam cukup toleran kepada agama lain. Contohnya Islam tidak melarang untuk bertetangga dan berbisnis dengan non muslim, bahkan non muslim yang hidup di negara islam memiliki hak-hak khusus yang tidak boleh dilanggar. Orang Islam wajib berbuat baik kepada tetangganya baik muslim maupun non-muslim, dan haram menyakiti mereka. Non muslim diberi kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing, dan orang islam haram mengganggu atau melarang ibadah mereka.

Islam cukup toleran dalam banyak hal kepada non muslim, tapi tentu dengan batasan-batasan tertentu.

Kesimpulan

Dari ulasan diatas, maka jelas seorang muslim haram hukumnya mengucapkan selamat Natal, dan haram ikut serta dalam acara keagamaan non muslim lainnya.

Terlebih peringatan Natal dan tahun baru, sebagaimana dibuktikan oleh ahli sejarah, merupakan berasal dari perayaan paganisme kuno yang sarat dengan kesyirikan dan immoralitas. Ironisnya kaum puritan yang notabene bagian dari Kristen pernah melarang perayaan ini, namun kenapa kita ummat Islam “latah” dan malah ikut-ikutan?

Tidak mengucapkan selamat natal tidak ada hubungannya dengan toleransi, karena setiap agama memiliki batasan-batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh pemeluknya. Jika demikian, maka setiap orang  yang mengikuti prinsip agamanya masing-masing bisa dikatakan intoleran?

Justru orang yang mempermasalahkan orang Islam yang tidak mau mengucapkan selamat Natal, karena mengikuti prinsip agamanya, adalah orang yang intoleran.


Referensi:

  • https://en.wikipedia.org/wiki/Christmas_controversies#Puritan_era
  • https://newengland.com/today/living/new-england-history/how-the-puritans-banned-christmas/
  • https://www.independent.co.uk/news/long_reads/dark-side-christmas-saturnalia-christmas-carol-dickens-norse-mythology-festive-traditions-a8112341.html
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Christmas_tree#Origin_of_the_modern_Christmas_tree
  • https://ar.islamway.net/fatwa/4582/%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%87%D9%86%D8%A6%D8%A9-%D8%A8%D8%B9%D9%8A%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%B1%D9%8A%D8%B3%D9%85%D8%A7%D8%B3
Hosting Unlimited Indonesia

4 Cara Menurunkan Berat Badan Dalam Seminggu

4 Cara Menurunkan Berat Badan Dalam Seminggu – Simak video berikut ini yang dibawakan oleh Dr. Zaidul Akbar, tentang cara menurutkan berat badan hanya dalam seminggu.

Menurut Dr. Zaidul Akbar, untuk memulai hidup sehat sekaligus menurunkan berat badan, ada 4 macam makanan yang harus dihindari.

Menurut beliau, jika keempat jenis makanan itu dihindari, maka In Syaa Allah berat badan akan turun dalam seminggu, dan badan akan terasa lebih enak dan sehat.

Keempat makanan yang harus dihindari tersebut adalah:

  1. Makanan yang berbahan tepung
  2. Makanan dan minuman yang mengandung gula pasir
  3. Nasi putih
  4. Produk yang mengandung minyak goreng, terutama minyak sawit

Demikian ulasan dan video singkat tentang cara menurunkan berat badan, semoga bermanfaat.

Hosting Unlimited Indonesia

Pengertian, Makna In Sya Allah dan Penulisannya

website blog artikel tulisan islam

Banyak perdebatan di masyarakat tentang cara penulisan In Sya Allah yang benar, ada yang mengatakan, InsyaAllah, In Syaa Allah, Insya Allah, In Sha Allah, dan lainnya. Manakah yang lebih tepat? Mari kita ulas bersama.

Arti Kata In Sya Allah

Sebelum kita jelaskan cara penulisan In Sya Allah yang benar dalam bahasa latin, ada baiknya kita mencari tahu terlebih dahulu arti perkata dan arti kalimat In Sya Allah, seperti berikut:

 

ArabTransliterasiArti
 إنinjika, bila, apabila
شاءsya-aberkehendak, berkeinginan
 اللهAllaahAllah

Bunyi kalimatnya secara keseluruhan menjadi “In-syaa-Allaah”  dengan “syaa” dibaca panjang, demikian juga “Allaah” dibaca panjang.

Maka arti kalimat in syaa Allah adalah ialah “jika Allah menghendaki”.

Kapan In Syaa Allaah Diucapkan

Kalimat In Syaa Allah diucapkan apabila seorang muslim menunda suatu pekerjaan atau berjanji akan melakukan sesuatu diwaktu yang akan datang dan menggantungkannya kepada kehendak Allah.

Pentingnya Ucapan In Syaa Allaah

Seorang yang beriman harus meyakini bahwa segala kendali, daya dan upaya ada pada Allah semata. Allah yang maha berkehendak. Manusia hanya bisa berusaha, berharap dan berdo’a, adapun keputusan dan hasil adalah semata atas kehendak Allah.

Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang muslim untuk menyadari ini, dan untuk mengingatkan selalu kelemahan dan kekurangan manusia, Allah mengharuskan kita untuk mengucapkan In Syaa Allah ketika ingin atau berjanji ingin melakukan sesuatu di waktu mendatang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “In sya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Bahaya Tidak Mengucapan In Syaa Allaah

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ لأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً تَحْمِلُ كُلُّ امْرَأَةٍ فَارِسًا يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ‏.‏ فَلَمْ يَقُلْ، وَلَمْ تَحْمِلْ شَيْئًا إِلاَّ وَاحِدًا سَاقِطًا إِحْدَى شِقَّيْهِ ‏”‏‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ لَوْ قَالَهَا لَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ‏”‏‏.‏ قَالَ شُعَيْبٌ وَابْنُ أَبِي الزِّنَادِ ‏”‏ تِسْعِينَ ‏”‏‏.‏ وَهْوَ أَصَحُّ‏.‏

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallah’alaihi wa sallam beliau bersabda: “Sualaiman bin Dawud berkata “pada malam ini aku akan mendatangi (berhubungan badan) dengan 70 istriku sehingga setiap istri mengandung seorang pejuang yang berjihad di jalan Allah”, lalu seorang sahabatnya berkata, “In Sya Allah”, namun Sulaiman tidak mengatakannya. Hasilnya, tidak seorangpun dari istrinya yang mengandung, kecuali seorang saja yang melahirkan anak cacat sebelah badannya. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “seandainya ia (Sulaiman) mengatakannya, maka ia akan mendapatkan anak dan mereka semua berjihad di jalan Allah.”

Syu’aib dan Ibnu Abi Az Zinaad berkata: “90” dan ini yang paling sahih.

Penulisan In Syaa Allaah yang Benar

Seperti yang terlihat pada tabel diatas bahwa penulisan In Syaa Allaah yang benar dalam bahasa Arab adalah إن شاء الله terdiri dari tiga kata.

Tapi, ada sebagian orang Arab yang awam menulis إنشاء الله dengan menyambungkan kata in dan sya sehingga membentuk satu kata adalah kesalahan fatal dalam penulisan. Karena إنشاء  (Insya) artinya “menciptakan”, maka maknanya menjadi jauh melenceng.

Adapun transliterasi ke dalam bahasa Indonesia, idealnya adalah “In Syaa Allaah”.

Tapi transliterasi tergantung kesepakatan, tidak mesti dengan cara ideal, asalkan pengucapannya pas. Dan ini erat hubungannya dengan niat dari pengucap itu sendiri.

Demikian semoga bermanfaat.

 

Hosting Unlimited Indonesia

Sabar: Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar, Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar: Pengertian, Keutamaan, Tingkatan dan Batasannya – Hidup tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan ujian merupakan keniscayaan didalam kehidupan. Tidak ada manusia yang terlepas dari cobaan, karena salah satu tujuan diciptakannya manusia ke dunia ini adalah untuk diuji. Maka dari itu, tiada jalan lain untuk sukses dalam menghadapi ujian-ujian hidup kecuali dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155-157)

Banyak orang berspekulasi tentang sabar, setiap orang punya gambaran sendiri tentangnya. Nah, bagaimana pandangan Islam tentang sifat sabar? ikuti ulasannya pada tulisan ini.

Pengertian Sabar

Sabar (الصبر) secara bahasa berarti “menahan” yaitu menahan diri dari kesedihan yang berlebihan dan tidak terkontrol. Adapun sabar menurut istilah syar’i adalah:

الصبر هو حبس النفس عن محارم الله، وحبسها على فرائضه، وحبسها عن التسخط والشكاية لأقداره

“Menahan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan Allah, menahan diri untuk tetap menjalankan apa yang diwajibkan oleh Nya, dan menahan diri untuk tidak marah dan berkeluh kesah atas semua takdir Nya.” (Ibnul Qayyim)

Hukum Sabar

Sebagaimana syukur, sabar hukumnya wajib dalam segala hal. Sabar dan syukur adalah ciri yang paling utama iman seseorang, sebagaimana ingkar dan tidak rela dengan takdir Allah Ta’ala merupakan ciri utama kekufuran.

Seorang mukmin wajib bersabar atas segala musibah hidup yang menimpanya, ia wajib sabar dalam menjalankan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan juga wajib sabar untuk tidak mendekati segala yang diharamkan Allah Ta’ala.

Keutamaan Sabar

Sabar memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam, ada banyak dalil yang berbicara tentang sabar dan keutamaan orang-orang yang sabar.

Sabar merupakan kunci dan tulang punggung bagi semua kegiatan manusia. Manusia butuh sabar dalam hal apapun, tanpa sabar segala sesuatu tidak mungkin terlaksana dengan baik.

Manusia butuh sabar dalam bencana dan musibah, butuh sabar dalam ibadah dan amal shaleh, butuh sabar dalam menjalani hubungan dengan sesama dan butuh sabar dalam segala hal.

Sabar adalah kunci kesuksesan, tiada keberhasilan tanpa kesabaran. Bahkan, orang yang berbuat kejahatan pun perlu sabar untuk “sukses” dalam menjalankan kejahatannya.

Sabar adalah pakaiannya para Nabi dan Rasul, derajat seseorang diangkat dengan kesabaran.

Diantara keutamaan sabar dalam Islam adalah:

  • Orang yang sabar dijanjikan oleh Allah pahala yang tidak terhingga, sebagaimana firman Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

  • Sabar menjadi sebab seseorang diampuni dosa dan dihapuskan segala kesalahan nya oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan dimasukkannya ia ke surga, Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian)”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-ra’d: 22-24)

  • Sabar merupakan diantara sebab untuk menaikkan derajat seseorang disisi Allah, jika Allah mencintai seseorang maka ia akan diuji, dan semakin besar iman dan kecintaan Allah kepadanya maka semakin besar pula ujiannya.
  • Allah selalu menyertai dan bersama orang sabar, ini adalah keutamaan yang sangat besar, jika Allah bersama seseorang maka apa lagi yang dibutuhkan:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Pahala Sabar

Nilai sesuatu diukur dari tingkat kesulitannya, sabar merupakan amalan dan sifat yang sulit dilakukan, dan perlu latihan yang terus menerus untuk dapat bersabar dengan baik.

Oleh karena itu, pahala sabar adalah diantara pahala yang nilainya tidak terhingga, hanya Allah yang mengetahui berapa nilai pahala sabar.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Sabar juga merupakan alat Allah untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat hamba Nya. Jika seseorang hamba banyak dosa dan ia belum bertaubat dari dosa-dosa tersebut, maka diantara cara Allah mengampuni dosa-dosanya adalah dengan diberikan kepadanya cobaan demi cobaan agar ia mendapatkan pahala sabar yang tidak terbatas, yang dengannya Allah menghapus dosa-dosanya dan memasukkannya ke surga.

Bahkan diantara tanda dan ciri seseorang yang istiqamah dan sholeh dicintai oleh adalah dengan banyaknya cobaan yang menimpa dirinya, agar dengan itu mendapat nilai dan pahala sabar.

Oleh karena itu para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia yang paling berat cobaannya dan paling besar sabarnya, maka cinta Allah kepada mereka juga sangat besar sebanding dengan kesabaran yang mereka miliki.

Pembagian Sabar

Sabar dibagi menjadi 3 bagian:

1. Sabar dalam ketaatan

Yaitu istiqamah dalam menjalankan amal shalih berupa ibadah, dan seluruh amal ketaatan lainnya, sabar atas rintangan dan kesulitan yang dihadapi ketika beramal, dan tidak putus asa.

2. Sabar untuk tidak Melakukan yang Haram dan Dilarang

Yaitu menahan diri untuk tidak terjatuh kedalam hal-hal yang di haramkan Allah Ta’ala, dengan manahan nafsu dan syahwat dari ajakan-ajakan syetan.

3. Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Cobaan Hidup

Hidup tidak lepas dari ujian, karena hidup itu sendiri adalah ujian, maka sabar adalah benteng dan penawar untuk menjalani ujian hidup.

Orang yang sabar meskipun dihimpit dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan dari Allah mereka tetap berbahagia dengan sabar. Karena mereka punya harapan di akhiran akan kasih sayang dan pahala dari Allah atas buah kesabaran selama di dunia.

Seorang mu’min senantiasa berada diantara sabar dan syukur, ketika mereka diberi musibah mereka bersabar, dan ketika mendapat nikmat mereka bersyukur, dan kedua kondisi tersebut, bagi orang mukmin adalah baik dan sama-sama menguntungkan.

Maka tidak ada istilah depresi bagi orang yang beriman, ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alahi wa sallam: 

عجباً لأمرِ المؤمنِ، إنّ أمرَه كلَّه خيرٌ، وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ؛ إن أصابته سراءُ شكرَ، فكان خيراً له، وإن أصابته ضراءُ صبر، فكان خيراً له

“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, sesungguhnya segala perkaranya adalah baik, dan itu tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada orang mukmin, ketia ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya, dan ketika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Kemudian dari segi tercela dan tidaknya, sabar juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Sabar yang terpuji: yaitu sabar dalam menjalankan ibadah dan amal sholeh karena Allah, sabar dalam meninggalkan yang haram, dan sabar dalam menghadapi musibah dan takdir Allah.
  2. Sabar yang tercela, yaitu sabar dalam menjalankan kejahatan dan kemaksiatan, sabar ketika melihat kehormatan dan agama Allah diinjak-injak, padalah ia memiliki kemampuat untuk bertindak, dan semisalnya.

Tingkatan Sabar

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa sabar ada tiga tingkatan:

  • Sabar dengan Allah (sabrun billah), yaitu seseorang memandang kesabarannya karena pertolongan Allah ta’ala, ia meyakini Allah lah yang membuatnya sabar, bukan karena dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An.Nahl: 127)

  • Sabar karena Allah (sabrun lillah), yaitu sabar yang didorong oleh rasa cinta kepada Allah dan keingina untuk mendekat (taqqarrub) kepada Nya dan mencari keridhaan Nya, ia bersabar karena ingin menunjukkan kekuatan dirinya.
  • Sabar bersama Allah (sabrun ma’a Allah), yaitu sabarnya seorang hamba dalam mengikuti kehendak syar’i Allah (berupa hukum-hukum syari’at Nya), seorang hamba sabar dalam menjalaninya dan berjalan seiring dengan hukum Allah dimana saja dan kapan saja.

Kedudukan sabar pada iman seperti kedudukan kepala pada jasad, dan tidak ada iman bagi yang tidak ada kesabaran padanya, sebagaimana tidak ada jasad bagi yang tidak ada kepala.

Umar bin khattab radhiyallahu’anhu berkata: “Kehidupan yang baik dapat kita raih dengan sabar.”

Dan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim, “Dan sabar adalah cahaya.”

Ibnul Qayyim juga menyebutkan 4 tingkatan sabar lainnya, yaitu:

  1. Sabar karena Allah dan dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling sempurna dan tingkatan sabar orang-orang yang memiliki tekad yang kuat (ulul ‘azaaim). Orang seperti ini sabar hanya untuk mengharap kerelaan Allah Ta’ala, dan sabar tersebut diyakininya semata karena daya dan upaya dari Allah. Ini adalah tingkatan sabar yang paling tinggi, paling baik dan paling kuat.
  2. Sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling buruk dan paling rendah, dan pemiliknya berhak mendapatkan kehinaan.
  3. Sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah, yaitu orang yang sabar dan menganggap kesabarannya karena daya dan upaya Allah dan tawakkal kepada Nya, tapi sabarnya tersebut bukan karena Allah dan bukan karena ingin mengharap kerelaan Nya, karena ia sabar bukan dalam agama Allah. Orang seperti ini akan mendapatkan kesuksesan duniawi dengan kesabarannya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa di akhirat, bahkan akibat mereka bisa sangat buruk. Bahkan kesabaran model ini dimiliki oleh pemuka-pemuka kafir dan Musyrik yang sukses dalam ambisi duniawi mereka, karena sabar mereka adalah dengan daya dari Allah tapi tidak untuk Allah dan tidak pula dalam keinginan Allah yang syar’i.
  4. Tingkatan yang keempat adalah orang yang sabar karena Allah, tapi lemah dalam sabarnya, kurang dalam bertawakkal dan bersandar kepada Allah. Orang seperti ini akan mendapat akibat yang baik, tapi ia lemah dalam mencapai keinginannya, karena ia kurang memaknai faktor dalam surat Al-fatihah “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in” (hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan). Ini adalah tingkatan kesabaran orang-orang mukmin yang lemah.

Maka, sabar dengan Allah adalah keadaannya orang fasiq yang kuat. Dan sabar karena Allah dan dengan Allah adalah keadaan sabarnya orang mukmin yang kuat, dan orang yang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (tapi pada keduanya ada kebaikan, seperti disebutkan di dalam hadits).

Maka, orang yang sabar karena Allah dan dengan (daya dan upaya) Allah adalah sabarnya orang yang mulia dan terpuji, dan orang yang sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, adalah sabarnya orang-orang tercela dan hina, sedangkan sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah adalah sabar orang yang mampu dan kuat tapi tercela, sedangkan sabar karena Allah dan tidak dengan Allah (atau lemah dalam sabarnya dengan Allah) adalah sabarnya orang-orang yang terpuji tapi lemah, sabarnya orang yang lemah imannya.

Batasan Sabar: Apakah Sabar ada Batasnya?

Apakah sabar ada batasnya? Sabar sendiri adalah sifat, dan sifat tidak dapat dinilai kecuali dari pelaku dan pemilik sifat tersebut.

Maka batas kesabaran adalah sejauh mana batas kemampuan seseorang dalam menahan diri untuk tetap bersabar dalam apa saja yang sedang ia hadapi dan lakukan.

Tapi idealnya sabar itu batasnya adalah kematian, karena sabar adalah wajib. Maka, orang yang kuat imannya akan bertahan dan bersabar sampai Allah menentukan kematian untuknya, dengan itu ia akan mendapatkan ganjaran surga yang abadi yang penuh kenikmatan.

Ini seperti kisah keluarga Yasir yang disiksa oleh orang kafir Quraisy karena keimanan mereka kepada Allah, mereka disiksa agar meninggalkan Islam dan kembali kepada kekafiran. Yasir dan Istrinya bersabar dan gugur dijalan Allah karena siksaat yang dahsyat, sedangkan anaknya tidak sabar dan terpaksa harus mengucapkan kalimat kekafiran karena tidak mampu menahan siksa.

Namun Allah maha pengasih dan tidak membebani hamba Nya melebihi kemampuannya. Allah memaafkan orang yang dipaksa seperti kisah Ammar. Namun tentunya pahala orang yang sabar sampai ajal menjemput lebih besar daripada orang yang kesabarannya lemah.

 

Referensi:

  • https://dorar.net/akhlaq/784/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1-%D9%84%D8%BA%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D8%B5%D8%B7%D9%84%D8%A7%D8%AD%D8%A7
  • https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/9297/
  • https://dorar.net/akhlaq/805/%D9%85%D8%B1%D8%A7%D8%AA%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1
Hosting Unlimited Indonesia

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

apakah kafir non muslim termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Jawabannya Ya dan Tidak. Kenapa ya dan kenapa tidak? akan kami jelaskan sesaat lagi pada tulisan ini.

Selama ini, kita atau kebanyakan dari kita, hanya tahu bahwa ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah mereka yang beriman kepadanya, dan ajaran yang dibawanya, dan mati dalam keadaan beriaman. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada beliau bukan termasuk ummat beliau.

Tapi, tahukah Anda bahwa ummat Nabi Muhammad itu terbagi menjadi dua macam, yakni:

1. Ummatu Da’wah (أمة الدعوة)

Ummat dakwah adalah seluruh jin dan manusia, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada seluruh alam (yaitu jin dan manusia), dan ini termasuk semua jenis manusia, baik Arab maupun non Arab, dan apapun kepercayaan dan agama mereka.

Semua adalah ummat Nabi Muhammad dalam artian mereka semua masuk dalam lingkup yang harus disampaikan atau didakwahkan agama Islam oleh Nabi yang mulia Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Dalilnya sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

والذي نفسي بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار. رواه مسلم

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah seorangpun dari ummat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang (kenabian) ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah (islam) yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk ahli neraka.” (HR. Muslim)

Sabda beliau “dari ummat ini” maksdunya adalah ummat dakwah, mereka yang menjadi objek dakwah beliau, yaitu seluruh manusia dan jin.

Maka, dalam kategori ini, orang kafir dan non-muslim adalah termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana mereka dituntut untuk beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Status orang kafir dan non muslim sebagai ummat dakwah Nabi hanyalah di dunia, adapun di akhirat mereka bukan lagi termasuk ummat dakwah, karena sudah tidak ada dakwah di akhirat.

1. Ummatu Ijabah (أمة الإجابة)

Ummat ijabah artinya ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang telah mengijabah (menjawab dan menerima) dan beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Mereka adalah ummat Islam. Mereka adalah ummat Nabi Muhammad yang sebenarnya, yang status mereka sebagai ummat beliau abadi dan melekat baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana sabda beliau:

شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي. رواه أبو داود والترمذي وقال: حسن صحيح غريب. وأحمد، وصححه الألباني

“Syafa’atku akan diperoleh oleh pelaku dosa besar dari ummatku.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi, dishahihkan oleh Al-albani)

Ummat ijabah ini adalah mereka yang akan menyandang status ummat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  ketika setiap ummat berjalan dibelakang pemimpin mereka, ini sebagaimaan dalam hadits:

عرضت علي الأمم فجعل يمر النبي معه الرجل، والنبي معه الرجلان، والنبي معه الرهط، والنبي ليس معه أحد، ورأيت سوادا كثيرا سد الأفق فرجوت أن تكون أمتي، فقيل: هذا موسى وقومه. ثم قيل لي: انظر فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل لي: انظر هكذا وهكذا، فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل: هؤلاء أمتك، ومع هؤلاء سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب. متفق عليه

“Diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada Nabi yang bersamanya seorang pengikut, Nabi bersamanya dua orang pengikut, Nabi bersamanya sekelompok pengikut dan bahkan ada Nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun. Aku melihat pula sekelompok besar yang banyak, yang jumlah mereka menutupi ufuk, ketika itu aku berharap mereka adalah ummatku, lalu dikatakan: ini adalah Musa dan kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku: lihatlah, maka aku melihat sekelompok besar yang banyak menutupi ufuk, kemudian dikatakan pula kepadaku: lihatlah, begini dan begini, maka aku lihat lagi sekelompok besar yang banyak, menutupi ufuk, lalu dikatakan: mereka adalah ummatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika kata “ummat” atau “ummat Nabi Muhammad” disebut maka yang dimaksud adalah ummat Islam, ummat ijabah, kecuali jika ada indikasi lain yang memalingkannya dari makna dasar ini, indikasi itu bisa berupa keterangan setelahnya seperti pada hadits sebelumnya, dan bisa berupa hal lainnya.

Kesimpulan

Menjawab pertanyaan apakah non muslim (orang kafir) termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, maka jawabannya adalah, ya, mereka adalah ummat dakwah beliau.

Status ummat dakwah bagi orang kafir ini hanya sementara di dunia, sedangkan di akhirat mereka bukan lagi ummat dakwah beliau.

Ummat beliau yang hakiki adalah ummat islam, yaitu ummat ijabah. Status mereka sebagai ummat Nabi abadi sampai hari kiamat.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga kita mati sebagai ummat ijabah Nabi Muhammad shallallahu’aihi wa sallam dan mendapatkan syafa’at beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.

 

Referensi: www.islamweb.net

Hosting Unlimited Indonesia

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya

ijma' pengertian, definisi, macam dan syaratnya

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya – Apa yang dimaksud dengan ijma’, apa saja syarat-syarat dan berapa macam pembagiannya? Berikut ulasannya.

Pengertian Ijma’

Ijma’ (الإجماع) berasal dari kata jama’a, yajma’u, jam’an, ijmaa’an (جمع – يجمع – جمعا – إجماعا) secara bahasa berarti berkumpul, mengumpulkan, perkumpulan. Ijma’ juga berarti kesepakatan dan tekad.

Adapun defenisi ijma’ secara istilah adalah:

اتفاق مجتهدي هذه الأمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم على حكم شرعي

“Kesepakatan (konsensus) para mujtahid ummat islam setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam atas suatu hukum syar’i.”

Penjelasan definisi:

Kesepakatan (konsensus) para mujtahid : maka tidak termasuk ijma’ jika dalam suatu masalah terdapat perbedaan pendapat (khilaf), meskipun khilaf tersebut dari satu orang mujtahid.

Kemudian, kesepakatan tersebut harus bersumber dari ulama mujtahid, mereka yang telah derajat ijtihad, bukan dari orang awam, atau mereka yang masih taqlid (muqallid).

Adapun orang awam atau muqallid, kesepakatan mereka dalam suatu hukum syari’at tidak dianggap, demikian juga perselisihan mereka, karena orang awam dan muqallid tidak kredibel dan bukan sumber untuk bertanya dalam masalah hukum syari’at.

Ummat islam: kesepakatan tersebut harus dari mujtahid ummat islam, bukan selain mereka

Setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam : suatu ijma’ harus terjadi setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam wafat, maka tidak termasuk ijma’ ketika beliau masih hidup. Karena yang menjadi dalil ketika Nabi shallallahu’alaihiwasallam  masih hidup adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau sendiri.

Oleh karena itu, jika ada sebuah hadits/atsar perkataan sahabat yang berbunyi “dulu kami di zaman Nabi mengerjakan ini..” atau “mereka  dulu mengerjakan ini di zaman Nabi…” adalah berhukum marfu’ (perkataan sahabat yang disandarkan kepada Nabi) , bukan nukilan tentang ijma’.

Atas suatu hukum syar’i: objek dari ijma’ adalah hukum syari’at Islam, maka tidak termasuk ijma’ kesepakatan orang tentang suatu perkara adat atau hukum logika. Karena ijma’ merupakan salah satu dalil dari dalil-dalil syar’i.

Kedudukan Ijma’ dalam Syari’at Islam

Ijma’ merupakan salah satu dalil syar’i dan merupakan hujjah dalam suatu hukum syar’i.

Ijma’ menduduki peringkat ke 3 sebagai dalil syar’i setelah Quran dan Sunnah, kemudian setelah ijma’ ada qiyas yang menduduki peringkat ke 4 sebagai dalil syar’i.

Perlu diketahui bahwa Al-Quran dan As-sunnah (hadits) merupakan pokok dari dalil-dalil syar’i, sedangkan metode selain keduanya seperti ijma’, qiyas, mashalih al mursalah, dan lainnya adalah cabang.

Ijma’ merupakan hujjah dan dalil untuk menguatkan suatu hukum syari’at, dalilnya adalah:

Firman Allah ta’ala:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Firam Allah “agar kamu menjadi saksi atas manusia” mencakup saksi atas perbuatan dan hukum perbuatan mereka, dan “saksi” perkataannya dapat diterima.

Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam:

روى الترمذي (2167) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ ). وحسنه الألباني.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan ummatku diatas suatu kesesatan, dan tangan Allah diatas al-jama’ah.” (HR. At-Tirmidzi: 2167, dan statusnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah memelihara ummat ini (terutama ulamanya) dari persekongkolan dan kesepakatan atas suatu perkara bathil dan kesesatan.

Pembagian Ijma’, Jenis dan Macam-macamnya

Ijma’ dibagi menjadi dua macam, yaitu ijma’ qath’i (pasti) dan ijma’ zhanni (dugaan), berikut penjelasannya masing-masing:

1. Ijma’ Qath’i

Adalah ijma’ yang bersifat pasti dan diketahui secara spontan telah terjadi, seperti ijma’ mengenai kewajiban sholat lima waktu, ijma’ mengenai haramnya zina dll.

Ijma’ jenis ini tidak dipungkiri terjadinya oleh seorangpun dari kalangan ulama, mereka juga tidak memungkiri tentang kedudukannya sebagai hujjah/dalil, dan menyelisihi ijma’ jenis ini bisa berakibat kafir jika yang menyelisihinya adalah orang yang secara akal tidak mungkin ia tidak tahu (seperti umumnya orang islam, kecuali mungkin sebagian kasus orang yang baru masuk islam yang belum pernah belajar islam dengan baik)

2. Ijma’ Zhanni

Ijma’ zhanni adalah ijma’ yang tidak diketahui secara spontan tentang apakah pernah terjadi atau tidaknya didalam agama kecuali setelah diteliti lebih jauh, dan sifatnya masuh praduga.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kemungkinan terjadinya ijma’ jenis ini. Mungkin, pendapat yang paling tepat mengenai masalah ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah  yang berakata:

والإجماع الذي ينضبط ما كان عليه السلف الصالح ، إذ بعدهم كثر الاختلاف وانتشرت الأمة ” . أهـ

“Ijma’ yang menjadi patokan adalah ijma’ yang terjadi pada masa salaf shalih(1), adapun masa setelah mereka tidak menjadi patokan karena telah terjadi banyak perbedaan pendapat, dan ummat telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.” (Aqidah Qasithiyah, Ibnu Taimiyah)

Ketahuilah, bahwa ulama ummat ini tidak mungkin bersepakat untuk menyelisihi sebuah dalil yang shahih, sharih (jelas) dan tidak mansukh (dihapus hukumnya), karena mereka tidak mungkin bersepakat kecuali atas kebenaran.

Jika engkau melihat suatu ijma’ dan engkau mengira bahwa ijma’ tersebut menyelisihi dalil shahih, sharih dan tidak mansukh, maka ada 3 kemungkinan:

  1. bahwa yang yang engkau kira ijma’ sebenarnya bukan ijma’, tetapi ada perbedaan pendapat yang engkau tidak ketahui
  2. atau dalilnya tidak shahih
  3. atau dalilnya shahih tapi tidak sharih (jelas atau eksplisit menunjukkan suatu hukum tertentu dan tidak multi tafsir (implisit)
  4. atau dalil tersebut mansukh hukumnya dengan dalil lain.

Syarat Ijma’

Agar suatu masalah hukum syar’i berstatus ijma’  harus memenuhi syarat berikut:

  1. Suatu Ijma’ harus dikonfirmasi melalu jalur yang shahih, bahwa ia harus populer di kalangan para ulama, atau ijma’ tersebut dinukil oleh ulama yang terpercaya (tsiqah), luas pengetahuan dan wawasannya.
  2. Bahwa suatu ijma’ tidak boleh didahului oleh sebuah perbedaan pendapat sebelumnya, jika ada perbedaan pendapat sebelumnya maka kesepakatan yang datang setelahnya tidak dikategorikan ijma’ (secara istilah), karena suatu pendapat tidak hilang dengan wafatnya pemilik pendapat tersebut.

Maka, ijma’ atau kesepakatan yang datang belakangan tidak menghilangkan status sebuah khilaf (perbedaan pendapat) yang terjadi sebelumnya, hanya saja kesepakatan ini bisa mencegah terjadinya perselisihan

Inilah pendapat yang paling kuat (rajih) dalam masalah ini, karena metodeloginya yang kuat.

Pendapat lain mengatakan bahwa suatu ijma’ tidak disyaratkan harus tidak ada khilaf sebelumnya, menurut pendapat ini, jika para ulama di generasi berikutnya berijma’ atas salah satu pendapat sebelumnya(2) maka ijma’ tersebut sah, dan menjadi hujjah atas orang yang datang setelah mereka.

Suatu ijma’, menurut pendapat mayoritas ulama, tidak disyaratkan harus berakhirnya genarasi para ulama yang bersepakat tersebut, maka ijma’ berlaku seterusnya semenjak para ulama pada generasi bersepakat, dan tidak boleh bagi generasi setelah menyelisihi ijma’ tersebut.

Ini karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang hujjahnya ijma’ tidak menyebutkan syarat tentang berlalunya masa terjadinya ijma’, dan ijma’ telah tetap pada saat mereka bersepakat, lalu hal apa yang dapat menghilangkannya?

Hipotesis Skenario

Jika seorang ulama mujtahid berpendapat dengan suatu pendapat, atau melakukan suatu perbuatan yang berkonsekwensi hukum, lalu hal tersebut menjadi populer (masyhur) di kalangan ulama-ulama mujtahid lainnya, dan tidak seorangpun dari mereka mengingkari pendapat dan perbuatan tersebut padahal mereka punya kemampuan untuk mengingkarinya (jika mereka ingin), dalam kondisi ini ada beberapa pendapat:

  1. Bahwa pendapat seorang mujtahid tersebut menjadi ijma’ (karena tidak ada seorangpu dari ulama lainnya yang menyelisihinya)
  2. Pendapat tersebut hanya berstatus argumen / hujjah tapi bukan ijma’
  3. Lainnya mengatakan, pendapat tersebut bukan hujjah dan bukan pula ijma’
  4. Bahwa jika para ulama yang semasa dengan pendapat tersebut berlalu dan mereka semua telah wafat dan tidak seorang pun dari mereka mengingkari dan berbeda pendapat dengan pendapat seorang ulama mujtahid tersebut, maka pendapat ini menjadi ijma’, karena diam mereka yang terus menerus sampai wafat, padahal mereka memiliki kemampuan untuk menyelisihi dan mengingkari, adalah dalil atas kesepakatan mereka. Pendapat yang terakhir inilah lebih tepat.

Wallahu’alam.

Walhamdulillahirabbil’aalamin..

Tulisan ini utamanya dikutip dari kitab Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya Al-ushul min ‘ilmi al-ushul hal. 62-64, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.

 

Referensi:

https://islamqa.info

https://legacy.quran.com

https://sunnah.com/tirmidhi/33/10

 


Catatan kaki:

(1) Salafus shalih artinya pendahulu yang sholeh, adapun secara istilah mereka adalah 3 generasi awal ummat ini, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, terutama mereka yang dari kalangan ulama.

3 generasi tersebut istimewa berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat) kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Ijma’ berikutnya harus berdasarkan dan sesuai dengan salah satu pendapat sebelumnya, dan tidak boleh menelurkan pendapat baru yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.

Hosting Unlimited Indonesia

26 Kosa Kata Bahasa Inggris Serapan dari Bahasa Arab

Kosa Kata Bahasa Inggris Serapan dari Bahasa Arab

Kosa Kata Bahasa Inggris Serapan dari Bahasa Arab – Sejak inggris dan sekutunya menang perang, maka secara de facto mereka telah menjadi penguasa dunia dalam berbagai hal, seperti ekonomi, politik, teknologi dan lainnya.

Ini berpengaruh juga kepada bahasa, banyak kosa kata bahasa-bahasa di dunia berasal dari serapan bahasa Inggris.

Banyak faktor yang menyebabkan fenomena penyerapan terjadi, diantara melalui istilah-istilah dalam bidang teknologi dan ilmu sains yang kebanyakan menggunakan bahasa Inggris, juga massivenya propaganda barat melalui media, industri film dan lainnya.

Lain dulu lain sekarang, ummat islam juga pernah menguasai dunia, dimulai pada tahun 600an Masehi, wilayah kekuasaan ummat islam sudah membentang dari perbatasan cina di timur, sampai Andalus Spanyol di barat.

Pada saat ummat Islam berkuasa, bahasa resmi yang dipakai adalah bahasa Arab.

Penguasa ilmu pengetahuan dan sains pada saat itu adalah ummat Islam, pemerintah islam sangat mendukung berkembangnya ilmu dan sains, sehingga menghasilkan ilmuan-ilmuan muslim yang handal.

Hegemoni ummat Islam atas ilmu pengetahuan ini membuat bangsa-bangsa lain, terutama bangsa eropa pada abad pertengahan berbondong-bondong belajar ke sekolah dan universitas islam, terutama di Andalusia.

Kosa Kata Bahasa Inggris Serapan dari Bahasa Arab

Kontak budaya dan politik antara ummat Islam dengan bangsa eropa tersebut juga sedikit banyak berpengaruh pada penyerapan bahasa Arab ke dalam kosa kata bahasa-bahasa di Eropa pada saat itu, termasuk bahasa Inggris.

Menurut pakar bahasa, ada ratusan bahkan kosa kata bahasa inggis yang diambil dari kosa kata bahasa Arab.

Berikut ini adalah beberapa contoh kosa kata dalam bahasa Inggris yang diambil dari bahasa Arab:

1. Alcohol

Kata “Alcohol” berasar dari bahasa Arab Al-Kuhl (الكحل)  yaitu suatu serbuk yang digunakan untuk mata (celak). Dulu kuhl / kohl digunakan sebagai anti septik,  celak mata dan kosmetik. Makna Alkohol kemudian berkembang menjadi semua zat yang disuling secara umum, kemudian maknanya menyempit menjadi ethanol. (sumber)

2. Ally

Ally artinya teman, atau sekutu, berasal dari bahasa Arab wali (ولي) yang berarti teman, penolong penjaga dll.

3. Assassin

Assassin artinya pembunuh, kalimat ini berasal dari bahasa Arab  Asāsiyyūn (أساسيون) yaitu sebuah grup di dalam ummat Islam. Kelompok ini ditakuti oleh tentara salib waktu itu. Sebutan Assassin terpelihara dalam sumber-sumber Eropa, seperti pada tulisan Marco Polo, dimana mereka digambarkan sebagai pembunuh yang terlatih, dan bertanggung jawab atas pembunuhan sistematis atas pihak yang berlawanan. Kata “assassin” kemudian sejak itu digunakan untuk menggambarkan pembunuh bayaran professional, assassination yang berarti tindakan pembunuhan yang menargetkan orang kalangan atas untuk kepentingan politik. (sumber)

4. Body

Body berarti badan berasal dari kata bahasa Arab “Badan” (بدن) dengan arti yang sama.

5. Coffee

Coffee artinya kopi berasal dari kata Qahwa (القهوة) adalah minuman yang ditemukan di ethiophia dan dikembangkan di Yaman sebagai minuman. Minuman ini kemudian masuk ke Turki dengan nama Kahve, kemudian masuk ke Italia dengan nama caffee, kemudian ke bahasa Inggris dengan nama coffee.

Kopi Mocha atau mocaccino, juga ternyata berasal nama sebuah pelabuhan di Yaman, yaitu pelabuhan Mokha, pelabuhan ini dulunya merupakan tempat ekspor kopi ke berbagai negara.

6. Camel

Camel atau unta berasal dari bahasa Arab Jamaal (الجمال)

7. Carrat

Carrat adalah ukuran kadar kemurian emas, kata ini berasal dari bahasa Arab Qiiraat (القيراط), menurut kamus Mu’jaam Al-Wasiith Qiraat adalah sebuah patokan untuk mengukur berat timbangan atau ukuran sesuatu.

8. Cave 

Cave atau gua, berasal dari baha arab Kahf (الكهف)

9. Cotton

Cotton adalah kapas, berasal dari bahasa arab Qutn (االقطن)

10. Cover

Cover artinya tutup atau penutup berasal dari bahasa arab Kafara, Kufr (كفر/الكفر) secara bahasa artinya menutup atau menutupi. Dalam istilah, orang yang tidak beriman disebut kafir karena ia menutupi kebenaran dan mengingkarinya setelah ia tahu itu benar. Dalam penggunaan klasik petani disebut dengan kafir jamaknya kuffaar, karena petani menutupi benih ketika menanamnya di dalam tanah.

11. Cup

Cup atau cangkir berasal dari kata Arab Kub atau jamaknya Akwaab (كوب / أكواب) yang juga berarti cangkir

12. Earth 

Artinya bumi, berasal dari kata Arab Ardh (الأرض)

13. Eye

Artinya mata berasal dari kata ‘Ayn (االعين) juga berarti mata, atau mata-mata

14. Ghoul

Ghoul dalam bahasa inggris  artinya setan kubur, kata ini diambil dari bahasa Arab Gul (الغول) adalah jenis Jin yang ada di gurun yang dipercaya oleh orang Arab pada jaman dahulu, jin ini, menurut mereka, bertugas menyesatkan jalan manusia ketika mereka melalui gurun.

15. Good

Berasal dari kata Jaada, Yajudu, Juudan (جاد يجود جودا) yang artinya baik

16. Harem

Artinya selir, atau bilik yang diperuntukkan untuk selir pada zaman dahulu

17. Kill

Artinya bunuh atau membunuh berasal dari kata  Arab Qatl (قتل) yang artinya juga pembunuhan

18. Magazine

Magazine memiliki beberapa arti, diantaranya majalah, gudang peluru, dan gudang senjata. Kata ini berasal dari bahasa Arab, dari kata, Makhzan jamaknya Makhaazin (مخزن / مخازن) yang artinya tempat penyimpanan, atau gudang.

19. Man

Man berarti seorang pria, atau manusia, kata ini berasal dari kata Arab Man (من) yaitu kata ganti untuk makhluk berakal, artinya bisa menjadi “siapa”, dan juga bisa berarti “orang”.

20. Mile

Mile adalah unit jarak tempuh 1 mile sekitar 1600 KM, atau bisa juga berarti ungkapan untuk jarak yang jauh. Kata ini diambil dari bahasa Arab Miil (ميل) yang juga dahulu dipakai untuk menunjukkan jarak, miil juga berarti menara yang dibuat pada suatu jalan sebagai petunjuk bagi musafir dan menandakan jarak tempuh.

21. Noble

Nobel artinya mulia, ini adalah serapan dari kata bahasa Arab “Nabiil” (نبيل) yang artinya orang yang mulia dan bermartabat.

22. Paradise

Paradise artinya surga, ini diambil dari bahasa Arab Firdaus dan jamaknya Faraadiis (فردوس / فراديس) adalah tingkatan surga yang paling tinggi.

23. Safari

Safari artinya ekspedisi untuk mengamati atau berburu binatang di habitat alami mereka, terutama di Afrika Timur. Kata ini berasal dari kata bahasa arab Safar yang artinya perjalanan.

24. Sugar

Sugar atau gula berasal dari kata Sukkar (سكر)

25. Wail

Wail artinya meratap, kata ini diambil dari bahasa Arab “Wail” (ويل) yang artinya celaka atau adzab, menurut sebagian tafsir, wail adalah nama sebuah lembah di Neraka Jahannam.

26. Zero

Artinya nol diambi dari kata Sifr (صفر) yang berarti kosong, atau hampa, kata ini kemudian berubah menjadi zephrum pada bahasa latin, dan zero pada bahasa Inggris.

Demikian sebagian contoh dari kosa kata serapan bahasa inggris yang diambil dari kosa kata bahasa Arab. Menurut pakar, ada ratusab bahkan ribuan kosa kata inggris lainnya yang merupakan serapan dari bahasa Arab yang terjadi pada masa kejayaan Islam. Penyerapan ini juga terjadi pada bahasa-bahasa eropa lainnya, seperti Spanyol dan Portugis, German, Belanda, Prancis, dll.

 

Referensihttps://www.almaany.com

Hosting Unlimited Indonesia