hosting dan domain murah niaga hoster 03

Bolehkah Bertanya Alasan dan Hikmah dari Hukum Sya’riat?

Bolehkah Bertanya Alasan dan Hikmah dari Hukum Sya’riat? – Sebelum membahas alasan dan hikmah dibalik hukum-hukum Syari’at, sangat penting kiranya kita memahami apa itu Islam dan apa itu konsekwensi menjadi seorang Muslim. Dengan memahami ini, maka pertanyaan alasan dan hikmah suatu hukum Syar’I akan mudah dipahami.

Islam dan Konsekwensi Menjadi Seorang Muslim.

 

Islam menurut bahasa berasal dari kata as-la-ma yang berarti berserah diri, taat dan patuh, adapun menurut Istilah berarti “sebuah jalan hidup tentang penyerahan diri kepada Allah secara total, dan taat dan patuh terhadap segala perintah Nya.”

Maka, Muslim adalah orang yang menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya. Artinya, seorang muslim adalah seorang yang menyerahkan dirinya secara total kepada Allah, taat dan patuh atas segala perintah Nya secara mutlak, karena bagi seorang muslim, Allah adalah otoritas tertinggi, maka demikian juga perintah dan larangan Nya adalah otoritas mutlak yang harus dipatuhi tanpa bantahan.

Analogi Dokter-Pasien

 

Hal ini tidak sulit dimengerti, karena kita sering mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya dokter, dokter –terlepas dari spesialisasinya- memiliki otoritas dalam bidang kesehatan dan medis. Sehingga ketika kita pergi ke dokter untuk berobat, itu karena kita percaya kepada nya dan telah menganggapnya sebagai otoritas dalam hal medis. Sehingga, apapun yang dilakukan dan diperintahkan dokter untuk mengobati penyakit kita, kita hanya bisa pasrah dan patuh tanpa banyak Tanya, meskipun kadang intruksinya ada yang mengganjal di hati kita, tapi seketika kita kembali teringat bahwa dokter lebih tahu tentang medis, dan apapun yang ia perintahkan adalah berdasarkan ilmu dan pengetahuannya yang rinci tentang medis tsb. yang mungkin kita tidak ketahui.

Nah, begitulah kira-kira mindset, cara pandang, akidah dan keyakinan seorang muslim dalam menghadapi perintah dan intruksi Allah dan Rasul Nya, yaitu seperti mindset seorang pasien terhadap dokternya.

Ketika Allah membuat hukum tertentu, seorang muslim tahu bahwa hukum tersebut adalah hukum yang paling sempurna, karena ia bersumber dari Dzat yang maha sempurna, maha Mengetahui dan Maha bijaksana.

Bahkan mindset seorang Muslim terhadap Allah tidak bisa dibandingkan dengan otoritas apapun di alam semesta, karena Allah adalah otoritas tertinggi, ia adalah Pencipta dan Pemberi otoritas kepada siapapun yang Dia kehendaki.

Muslim Terbaik

Maka ukuran seorang muslim yang terbaik disisi Allah adalah yang paling bagus penyerahan dirinya kepada Allah Ta’ala, dan yang terbaik diantara manusia ialah para Nabi dan Rasul. Nabi dan Rasul ‘Alaihissalam merupakan manusia yang paling baik penyerahan dirinya kepada Allah tanpa ragu dan bimbang, inilah diantara alasan kenapa Nabi Ibrahim menjadi diantara Nabi pilihan “ulul azmi” bahkan mendapat gelar khalilullah karena beliau tunduk, patuh dan berserah dirinya kepada Allah sangat kuat, bahkan ketika beliau diuji oleh Allah dengan perintah untuk menyembelih anaknya, beliau tanpa protes langsung langsung laksanakan, padahal hal itu diluar kehendak dan kemauan manusia, tapi ketika Allah otoritas tertinggi yang memerintah maka beliau tahu bahwa perintah tersebut memiliki hikmah yang tinggi dan atas dasar ilmu Allah yang luas.

Teladan Pada Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

 

Simaklah kisah Ibrahim ini yang termaktub dalam Al-quran, sunggu pengorbanan dan contoh teladan istislam (penyerahan diri) nya yang luar biasa terhadap perintah Allah,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

(Ibrahim berdoa) Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

 

(QS. Ash-Shoffaat: 100-108)

 

Apakah itu Berarti Kita Tidak Boleh Mencari Hikmah dan Alasan Dibalik Sebuah Hukum?

 

Perlu diketahui bahwa hukum syari’at, ditinjau dari hikmah dan alasannya, setidaknya dibagi menjadi tiga: ada hukum syar’i yang disebutkan alasan, sebab dan hikmahnya secara spesifik (tertentu), ada hukum yang disebutkan hikmahnya secara umum dan ada hukum yang hikmahnya tidak disebutkan.

Mencari hikmah dari sebuah hukum syari’at dengan semangat untuk beramal tentu dibolehkan. Adapun mencari-cari alasan atas dasar keraguan terhadap keputusan Allah dan hukum Nya, adalah indikasi dan tanda bahwa  ada masalah pada imannya terhadap Allah dan Sifat-sifat Nya. Maka, ia harus memperbaiki imannya tersebut dengan mempelajari ilmu Aqidah.

Mencari tahu hikmah dan alasan pada suatu hukum dengan spirit Iman dan amal dibolehkan karena hampir seluruh isi Al-quran adalah ajakan untuk berfikir, dan Al-Quran mencela mereka yang mendasari akidah dengan membebek buta tanpa ilmu, Allah Ta’ala berfirman:

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

 

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.” (QS. Al-Maidah: 104)

Dan mungkin diantara hikmah kenapa Allah tidak memberi tahu semua hikmah dibalik hukum-hukumnya adalah untuk memberikan manusia kesempatan untuk melatih dan mengasah otaknya mencari tahu hikmah Allah Ta’ala agar mereka berkembang, karena itu disyari’atkannya ijtihad bagi ulama untuk mencari kesimpulan hukum pada sebuah permasalahan baru yang tidak ada nash nya.

 

Hosting Unlimited Indonesia