Sabar: Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar, Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar: Pengertian, Keutamaan, Tingkatan dan Batasannya – Hidup tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan ujian merupakan keniscayaan didalam kehidupan. Tidak ada manusia yang terlepas dari cobaan, karena salah satu tujuan diciptakannya manusia ke dunia ini adalah untuk diuji. Maka dari itu, tiada jalan lain untuk sukses dalam menghadapi ujian-ujian hidup kecuali dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155-157)

Banyak orang berspekulasi tentang sabar, setiap orang punya gambaran sendiri tentangnya. Nah, bagaimana pandangan Islam tentang sifat sabar? ikuti ulasannya pada tulisan ini.

Pengertian Sabar

Sabar (الصبر) secara bahasa berarti “menahan” yaitu menahan diri dari kesedihan yang berlebihan dan tidak terkontrol. Adapun sabar menurut istilah syar’i adalah:

الصبر هو حبس النفس عن محارم الله، وحبسها على فرائضه، وحبسها عن التسخط والشكاية لأقداره

“Menahan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan Allah, menahan diri untuk tetap menjalankan apa yang diwajibkan oleh Nya, dan menahan diri untuk tidak marah dan berkeluh kesah atas semua takdir Nya.” (Ibnul Qayyim)

Hukum Sabar

Sebagaimana syukur, sabar hukumnya wajib dalam segala hal. Sabar dan syukur adalah ciri yang paling utama iman seseorang, sebagaimana ingkar dan tidak rela dengan takdir Allah Ta’ala merupakan ciri utama kekufuran.

Seorang mukmin wajib bersabar atas segala musibah hidup yang menimpanya, ia wajib sabar dalam menjalankan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan juga wajib sabar untuk tidak mendekati segala yang diharamkan Allah Ta’ala.

Keutamaan Sabar

Sabar memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam, ada banyak dalil yang berbicara tentang sabar dan keutamaan orang-orang yang sabar.

Sabar merupakan kunci dan tulang punggung bagi semua kegiatan manusia. Manusia butuh sabar dalam hal apapun, tanpa sabar segala sesuatu tidak mungkin terlaksana dengan baik.

Manusia butuh sabar dalam bencana dan musibah, butuh sabar dalam ibadah dan amal shaleh, butuh sabar dalam menjalani hubungan dengan sesama dan butuh sabar dalam segala hal.

Sabar adalah kunci kesuksesan, tiada keberhasilan tanpa kesabaran. Bahkan, orang yang berbuat kejahatan pun perlu sabar untuk “sukses” dalam menjalankan kejahatannya.

Sabar adalah pakaiannya para Nabi dan Rasul, derajat seseorang diangkat dengan kesabaran.

Diantara keutamaan sabar dalam Islam adalah:

  • Orang yang sabar dijanjikan oleh Allah pahala yang tidak terhingga, sebagaimana firman Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

  • Sabar menjadi sebab seseorang diampuni dosa dan dihapuskan segala kesalahan nya oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan dimasukkannya ia ke surga, Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian)”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-ra’d: 22-24)

  • Sabar merupakan diantara sebab untuk menaikkan derajat seseorang disisi Allah, jika Allah mencintai seseorang maka ia akan diuji, dan semakin besar iman dan kecintaan Allah kepadanya maka semakin besar pula ujiannya.
  • Allah selalu menyertai dan bersama orang sabar, ini adalah keutamaan yang sangat besar, jika Allah bersama seseorang maka apa lagi yang dibutuhkan:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Pahala Sabar

Nilai sesuatu diukur dari tingkat kesulitannya, sabar merupakan amalan dan sifat yang sulit dilakukan, dan perlu latihan yang terus menerus untuk dapat bersabar dengan baik.

Oleh karena itu, pahala sabar adalah diantara pahala yang nilainya tidak terhingga, hanya Allah yang mengetahui berapa nilai pahala sabar.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Sabar juga merupakan alat Allah untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat hamba Nya. Jika seseorang hamba banyak dosa dan ia belum bertaubat dari dosa-dosa tersebut, maka diantara cara Allah mengampuni dosa-dosanya adalah dengan diberikan kepadanya cobaan demi cobaan agar ia mendapatkan pahala sabar yang tidak terbatas, yang dengannya Allah menghapus dosa-dosanya dan memasukkannya ke surga.

Bahkan diantara tanda dan ciri seseorang yang istiqamah dan sholeh dicintai oleh adalah dengan banyaknya cobaan yang menimpa dirinya, agar dengan itu mendapat nilai dan pahala sabar.

Oleh karena itu para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia yang paling berat cobaannya dan paling besar sabarnya, maka cinta Allah kepada mereka juga sangat besar sebanding dengan kesabaran yang mereka miliki.

Pembagian Sabar

Sabar dibagi menjadi 3 bagian:

1. Sabar dalam ketaatan

Yaitu istiqamah dalam menjalankan amal shalih berupa ibadah, dan seluruh amal ketaatan lainnya, sabar atas rintangan dan kesulitan yang dihadapi ketika beramal, dan tidak putus asa.

2. Sabar untuk tidak Melakukan yang Haram dan Dilarang

Yaitu menahan diri untuk tidak terjatuh kedalam hal-hal yang di haramkan Allah Ta’ala, dengan manahan nafsu dan syahwat dari ajakan-ajakan syetan.

3. Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Cobaan Hidup

Hidup tidak lepas dari ujian, karena hidup itu sendiri adalah ujian, maka sabar adalah benteng dan penawar untuk menjalani ujian hidup.

Orang yang sabar meskipun dihimpit dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan dari Allah mereka tetap berbahagia dengan sabar. Karena mereka punya harapan di akhiran akan kasih sayang dan pahala dari Allah atas buah kesabaran selama di dunia.

Seorang mu’min senantiasa berada diantara sabar dan syukur, ketika mereka diberi musibah mereka bersabar, dan ketika mendapat nikmat mereka bersyukur, dan kedua kondisi tersebut, bagi orang mukmin adalah baik dan sama-sama menguntungkan.

Maka tidak ada istilah depresi bagi orang yang beriman, ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alahi wa sallam: 

عجباً لأمرِ المؤمنِ، إنّ أمرَه كلَّه خيرٌ، وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ؛ إن أصابته سراءُ شكرَ، فكان خيراً له، وإن أصابته ضراءُ صبر، فكان خيراً له

“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, sesungguhnya segala perkaranya adalah baik, dan itu tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada orang mukmin, ketia ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya, dan ketika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Kemudian dari segi tercela dan tidaknya, sabar juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Sabar yang terpuji: yaitu sabar dalam menjalankan ibadah dan amal sholeh karena Allah, sabar dalam meninggalkan yang haram, dan sabar dalam menghadapi musibah dan takdir Allah.
  2. Sabar yang tercela, yaitu sabar dalam menjalankan kejahatan dan kemaksiatan, sabar ketika melihat kehormatan dan agama Allah diinjak-injak, padalah ia memiliki kemampuat untuk bertindak, dan semisalnya.

Tingkatan Sabar

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa sabar ada tiga tingkatan:

  • Sabar dengan Allah (sabrun billah), yaitu seseorang memandang kesabarannya karena pertolongan Allah ta’ala, ia meyakini Allah lah yang membuatnya sabar, bukan karena dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An.Nahl: 127)

  • Sabar karena Allah (sabrun lillah), yaitu sabar yang didorong oleh rasa cinta kepada Allah dan keingina untuk mendekat (taqqarrub) kepada Nya dan mencari keridhaan Nya, ia bersabar karena ingin menunjukkan kekuatan dirinya.
  • Sabar bersama Allah (sabrun ma’a Allah), yaitu sabarnya seorang hamba dalam mengikuti kehendak syar’i Allah (berupa hukum-hukum syari’at Nya), seorang hamba sabar dalam menjalaninya dan berjalan seiring dengan hukum Allah dimana saja dan kapan saja.

Kedudukan sabar pada iman seperti kedudukan kepala pada jasad, dan tidak ada iman bagi yang tidak ada kesabaran padanya, sebagaimana tidak ada jasad bagi yang tidak ada kepala.

Umar bin khattab radhiyallahu’anhu berkata: “Kehidupan yang baik dapat kita raih dengan sabar.”

Dan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim, “Dan sabar adalah cahaya.”

Ibnul Qayyim juga menyebutkan 4 tingkatan sabar lainnya, yaitu:

  1. Sabar karena Allah dan dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling sempurna dan tingkatan sabar orang-orang yang memiliki tekad yang kuat (ulul ‘azaaim). Orang seperti ini sabar hanya untuk mengharap kerelaan Allah Ta’ala, dan sabar tersebut diyakininya semata karena daya dan upaya dari Allah. Ini adalah tingkatan sabar yang paling tinggi, paling baik dan paling kuat.
  2. Sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling buruk dan paling rendah, dan pemiliknya berhak mendapatkan kehinaan.
  3. Sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah, yaitu orang yang sabar dan menganggap kesabarannya karena daya dan upaya Allah dan tawakkal kepada Nya, tapi sabarnya tersebut bukan karena Allah dan bukan karena ingin mengharap kerelaan Nya, karena ia sabar bukan dalam agama Allah. Orang seperti ini akan mendapatkan kesuksesan duniawi dengan kesabarannya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa di akhirat, bahkan akibat mereka bisa sangat buruk. Bahkan kesabaran model ini dimiliki oleh pemuka-pemuka kafir dan Musyrik yang sukses dalam ambisi duniawi mereka, karena sabar mereka adalah dengan daya dari Allah tapi tidak untuk Allah dan tidak pula dalam keinginan Allah yang syar’i.
  4. Tingkatan yang keempat adalah orang yang sabar karena Allah, tapi lemah dalam sabarnya, kurang dalam bertawakkal dan bersandar kepada Allah. Orang seperti ini akan mendapat akibat yang baik, tapi ia lemah dalam mencapai keinginannya, karena ia kurang memaknai faktor dalam surat Al-fatihah “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in” (hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan). Ini adalah tingkatan kesabaran orang-orang mukmin yang lemah.

Maka, sabar dengan Allah adalah keadaannya orang fasiq yang kuat. Dan sabar karena Allah dan dengan Allah adalah keadaan sabarnya orang mukmin yang kuat, dan orang yang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (tapi pada keduanya ada kebaikan, seperti disebutkan di dalam hadits).

Maka, orang yang sabar karena Allah dan dengan (daya dan upaya) Allah adalah sabarnya orang yang mulia dan terpuji, dan orang yang sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, adalah sabarnya orang-orang tercela dan hina, sedangkan sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah adalah sabar orang yang mampu dan kuat tapi tercela, sedangkan sabar karena Allah dan tidak dengan Allah (atau lemah dalam sabarnya dengan Allah) adalah sabarnya orang-orang yang terpuji tapi lemah, sabarnya orang yang lemah imannya.

Batasan Sabar: Apakah Sabar ada Batasnya?

Apakah sabar ada batasnya? Sabar sendiri adalah sifat, dan sifat tidak dapat dinilai kecuali dari pelaku dan pemilik sifat tersebut.

Maka batas kesabaran adalah sejauh mana batas kemampuan seseorang dalam menahan diri untuk tetap bersabar dalam apa saja yang sedang ia hadapi dan lakukan.

Tapi idealnya sabar itu batasnya adalah kematian, karena sabar adalah wajib. Maka, orang yang kuat imannya akan bertahan dan bersabar sampai Allah menentukan kematian untuknya, dengan itu ia akan mendapatkan ganjaran surga yang abadi yang penuh kenikmatan.

Ini seperti kisah keluarga Yasir yang disiksa oleh orang kafir Quraisy karena keimanan mereka kepada Allah, mereka disiksa agar meninggalkan Islam dan kembali kepada kekafiran. Yasir dan Istrinya bersabar dan gugur dijalan Allah karena siksaat yang dahsyat, sedangkan anaknya tidak sabar dan terpaksa harus mengucapkan kalimat kekafiran karena tidak mampu menahan siksa.

Namun Allah maha pengasih dan tidak membebani hamba Nya melebihi kemampuannya. Allah memaafkan orang yang dipaksa seperti kisah Ammar. Namun tentunya pahala orang yang sabar sampai ajal menjemput lebih besar daripada orang yang kesabarannya lemah.

 

Referensi:

  • https://dorar.net/akhlaq/784/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1-%D9%84%D8%BA%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D8%B5%D8%B7%D9%84%D8%A7%D8%AD%D8%A7
  • https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/9297/
  • https://dorar.net/akhlaq/805/%D9%85%D8%B1%D8%A7%D8%AA%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1

Satu Amalan Rahasia untuk Berbagai Solusi

istighfar dan taubat

Seseorang datang mengadu kepada Iman Hasan Al-Bashri tentang kemarau yang berkepanjangan, ia menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Orang lainnya datang mengadu tentang kefakiran yang ia alami, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian yang lainnya datang dan berkata, “mohonlah pada Allah agar aku diberi anak.”, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian orang lainnya datang mengeluh tentang kebunnya yang tidak mengahasilkan buah, dan beliau tetap menjawab,  “Istighfarlah kepada Allah”

Seseoang berkata bertanya keheranan kepada imam, “engkau didatangi oleh orang-orang dengan masalah yang berbeda-beda, tapi kenapa semua dari mereka engkau perintahkan untuk beristighfar?”.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak mengatakan sesuatu pun dari diriku sendiri, sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman di dalam surat Nuh,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Istighfarlah (mohonlah ampun kepada Tuhanmu), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh : 10-12)

Seseorang bertanya kepada Hasan Al-Bashri Rahimahullah : Tidakkah salah seorang dari kita malu kepada Tuhannya? Kita melakukan dosa, kemudian minta ampun, kemudian melakukan dosa lagi, kemudia minta ampun lagi, dan begitu seterusnya?

Maka  Hasan Al-Bashri menjawab: “Sungguh Syaithan menginginkan agar ia bisa menipu kalian dengan pikiran seperti itu, jangan pernah tinggalkan istighfar!”

Tidak salah lagi! Istighfar (mohon ampun) kepada Allah adalah satu amal yang mudah, tidak butuh energi ekstra untuk berbagai macam solusi.

Maka, jangan sia-siakan waktu luangmu, gunakan ia untuk memperbanyak istighfar dan dzikir. Bahkan seorang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sekalipun, manusia yang telah dijamin masuk surga, dan tanpa dosa, masih beristighfar kepada Allah setiap hari 70-100 kali. Bagaimana dengan kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada Nya, dalam sehari, lebih dari 70 kali ” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai segenap manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena sungguh aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali!” (HR. Muslim)

 

Sumber: https://kalemtayeb.com/safahat/item/36141

Pembagian Jenis Hasad (Dengki dan Iri)

Pembagian Jenis Hasad (Dengki dan Iri)

Para ulama telah membuat pembagian tentang hasad (dengki dan iri hati) menjadi beberapa jenis, diantaranya Ibnul Qayyim membagi hasad menjadi 3 macam:

1. Hasad yang disembunyikan oleh pemiliknya, dan hasad ini tidak berakibat suatu bahaya apapun, baik dengan hati, lisan atau tangannya, suatu hasad muncul pada hatinya tapi dia tidak memperturutkannya untuk menyakiti saudaranya.

2. Hasad yang disertai dengan keinginan agar orang lain tidak mendapatkan suatu nikmat, ia benci jika Allah memeberi nikmat kepada hamba Nya, bahkan ia lebih suka jika seseorang tetap pada keadaanya, yang bodoh tetap bodah, demikian juga yang miskin, lemah atau yang jauh hatinya dari Allah atau yang kurang agamanya.

3. Hasad Ghibthahadalah keinginan agar ia mendapatkan seperti apa yang didapat oleh orang lain, tanpa keinginan hilangnya nikmat itu dari orang lain, hasad model ini tidak masalah dan pelakunya tidak tercela, ini mirip dengan saling berlomba (dalam kebaikan).

(Bada’iul Fawaid 2/237 dengan perubahan)

Sedangkan Al-Ghazali membagi hasad menjadi empat macam, yaitu:

1. Keinginan agar suatu nikmat hilang dari orang lain sekalipun nikmat tersebut tidak berpindah kepadanya. Ini adalah jenis hasad yang paling jelek.

2. Keinginan agar suatu nikmat yang ada pada orang lain hilang karena ia sangat ingin nikmat tersebut untuknya, seperti keinginannya pada rumah yang bagus, wanita yang cantik atau kekuasaan yang hebat, atau kelapangan rejeki yang ada pada orang lain. Dia ingin nikmat-nikmat tersebut menjadi miliknya, ia sangat mengincar nikmat itu dan ia tidak ingin kehilangannya.

3. Seseorang yang tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tapi ia ingin untuk dirinya nikmat yang yang semisalnya, jika ia tidak mampu mendapat yang semisalnya, maka ia ingin agar nikmat tersebut menghilang sehingga tidak tampak perbedaan antara keduanya.

4. Ia ingin nikmat seperti yang ada pada orang lain, tapi jika keinginannya tidak tercapai, ia tidak ingin agar nikmat yang ada pada orang lain itu sirna. Hasad jenis ini tidak mengapa (boleh) jika berkaitan dengan perkara duniawi, dan dianjurkan untuk perkara agama. (Ihyaa Ulumuddin 3/192)

Referensi: https://dorar.net

Baca Juga:

 

8 Akibat Buruk Hasad (Iri dan Dengki)

Pembagian Jenis Hasad (Dengki dan Iri)

Banyak akibat buruk dari hasad. Pada artikel ini kami akan menyebutkan 8 akibat buruk dari memendam, memelihara bahkan bertindak berdasarkan hasad, yaitu:

  1. Orang yang hasad akan sengsara dan badannya akan sakit, kemudian ia tidak akan menemukan akhir dari penderitaannya, sakitnya tidak bisa diobati. Ibnul Mu’taz berkata, “hasad itu penyakit badan”
  2. Harkat dan martabat orang yang suka hasad, iri dan dengki akan jatuh dan rendah, karena manusia berpaling dan lari darinya. Dalam perkataan hikmah dikatakan bahwa orang yang pedengki tidak akan bisa memimpin.
  3. Orang-orang akan marah dan tidak suka kepadanya, ia tidak akan menemukan ada orang yang mencintainya dan tidak pula menemukan pembela maka ia menjadi objek kemarahan dan permusuhan orang.
  4. Orang yang hasad akan mendapatkan murka Allah dan dosa penyelisihan perintah Nya. Karena ia melihat pada keputusan Allah sebagai sebuah keadilan dan tidak pula nikmat Nya kepada orang lain sebagai hak.
  5. Hasad mengakibatkan putusnya tali persaudaraan, pemboikotan,permusuhan, dan pertengkaran.
  6. Hasad juga menyebabkan terjadinya ghibah (gosip) dan namimah (adu domba)
  7. Hasad mengakibatkan permusuhan dan kezhaliman
  8. Hasad juga bisa menyebabkan pencurian dan pembunuhan.

Demikian sedikit penjelasan akibat buruk yang ditimbulkan oleh hasad. Semoga kita semua terhindar dari hasad.

Referensi: https://dorar.net

Baca juga:

Ghibthah, Hasad yang Diperbolehkan dan Dalilnya

ghibthah hasad yang dibolehkan

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas mengenai definisi hasad, yaitu keinginan hilangnya nikmak dari seseorang dan beralihnya nikmat itu kepada dirinya. Pada tulisan ini, kami akan membahas mengenai hasad yang diperbolehkan yang disebut dengan ghibthah.

Ghibthah (الغبطة) sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama adalah: Seseorang melihat orang lain dalam kenikmatan, kemudian ia berangan-angan agar ia mendapatkan nikmat seperti itu untuk dirinya tanpa keinginan hilangnya nikmat tersebut dari orang lain…Sedangkan hasad adalah keinginan agar apa yang ada pada orang lain beralih kepada dirinya dan nikmat pada orang lain hilang. (Lisaanul ‘Arab 7/359, Ibnu Manzhur)

Ar-razi berkata: “Jika Allah memberi suatu nikmat kepada saudaramu dan kamu ingin agar nikmat tersebut sirna maka itulah hasad, tapi jika engkau ingin diberi nikmat seperti dirinya (tanpa keinginan hilangnya nikmat tersebut dari saudaramu) maka itulah ghibthah.” (Mafaatiihul ghaib 3/646)

Ghibthah termasuk jenis hasad yang lebih ringan, dari sisi bahwa keduanya ingin agar nikmat yang ada pada orang lain ada juga pada dirinya, tapi yang membedakannya adalah, orang yang hasad ingin agar nikmat tersebut hilang dari orang lain sedangkan ghibthah tidak.

Hasad jenis ghibthah ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,

لا حسد إلا في اثنتين: رجل آتاه الله مالًا فسلط على هلكته في الحق، ورجل آتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها

“Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal: yaitu hasad kepada seseorang yang diberi oleh Allah harta, kemudian ia infakkan pada kebenaran, dan seseorang yang diberi oleh Allah hikmah lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya (kepada orang lain).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan makna hasad pada hadits ini: bahwa ia ingin memiliki nikma seperti orang lain tanpa keinginan agar nikmat tersebut hilang darinya. (Sharah shahih Muslim 6/97)

Referensi: dorar.net

 

Baca juga:

 

Pengertian Sifat Hasad dan Dalilnya

pengertian sifat hasad dan dalil haramnya

Pengertian Sifat Hasad dan Dalilnya – Hasad (الحسد ) secara bahasa artinya “angan-angan dan keinginan hati agar nikmat dan kelebihan yang ada pada orang lain berpindah kepadanya, atau nikmat dan kelebihan tersebut hilang darinya.”

Adapun menunut Istilah makna hasad tidak jauh berbeda dengan makna secara bahasa, yaitu keinginan agar nikmat dan kelebihan yang ada pada orang lain hilang atau berpindah pada dirinya.

Sinonim dari hasad adalah iri, dengki, sirik dll.

Hasad adalah salah satu sifat buruk yang harus dijauhi oleh seorang Muslim. Hasad adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Orang yang hatinya dipenuhi dengan rasa hasad, hidupnya penuh dengan kegelisahan. Karena hati orang yang hasad tidak akan tenang jika ada orang lain mendapatkan nikmat yang lebih darinya. Ia akan iri dan hatinya terbakar melihat kelebihan yang ada pada orang lain. orang hasad  tidak merasa tenang sampai nikmat yang ada pada orang lain hilang atau berpindah padanya.

Dalil Haramnya Hasad

Banyak sekali dalil yang mencela sifat hasad baik didalam Quran maupun Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Bahkan begitu bahanya sifat dan pelaku hasad, Allah Ta’ala telah mengajarkan kepada doa perlindungan dari pelaku hasad, yaitu firman Nya,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.” (QS. Al-Falaq :1-5)

Al-Husain bin Al-Fadhl berkata mengomentari ayat diatas: “Pada ayat ini Allah menyebutkan seluruh keburukan dan menutupnya dengan hasad supaya diketahui bahwa ia adalah watak yang sangat buruk.”

Dan firman Allah ta’ala,

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32)

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

لا تباغضوا، ولا تحاسدوا، ولا تدابروا  ، وكونوا عباد الله إخوانًا

“Janganlah kalian saling bermusuhan, saling hasad (dengki dan iri) dan saling membelakangi dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Referensi: dorar.net

 

Baca juga:

 

Perbedaan ‘Ain dan Hasad (Iri dan Dengki)

perbedaan ain dan hasad (dengki)

Hasad (iri hati dan dengki) dan ain keduanya adalah akhlak buruk yang harus diobati. Hasad sangat berbahaya karena dapat membakar amal baik seseorang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,

“Hati-hatilah kalian dengan hasad, karena sesungguhnya hasad melahap kebaikan-kebaikan seperti api melahap kayu bakar.” (HR. Abu Dawud, derajat hadits ini dhaif)

Dan sabda beliau,

لا تباغضوا، ولا تحاسدوا، ولا تدابروا  ، وكونوا عباد الله إخوانًا

“Janganlah kalian saling membenci, saling iri hati, dan saling bermusuhan, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

يعرّف العلماء الحسد على أنّه تمنّي الحاسد زوال النعمة والخير عن المحسود المستحق لها، وربّما سعى هذا الحاسد لإزالتها ودفعها عن صاحبها، وقد ورد لفظ الحسد في القرآن الكريم في سورة الفلق في قوله تعالى: (وَمِن شَرِ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ)، كما ورد في ا

Hasad adalah keinginan agar nikmat yang ada pada orang lain hilang, bahkan terkadang keinginan itu berubah menjadi tindakan pendengki untuk menghilangkan dan mencegah nikmat dari orang lain.

Sedangkan ‘ain adalah pandangan dan penglihatan yang disertai rasa takjub yang berlebihan yang kemudian berubah menjadi angan-angan yang buruk.

Perbedaan ‘Ain dan Hasad (Iri dan Dengki)

Hasad (iri dan dengki) lebih umum dari  penyakit ‘ainSetiap pelaku ‘ain adalah pelaku hasad dan pelaku hasad tidak mesti pelaku ‘ain. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

فكل عائن حاسد ، وليس كل حاسد عائنا ، فلما كان الحاسد أعم من العائن ، كانت الاستعاذة منه استعاذة من العائن

Setiap pelaku ‘ain adalah pelaku hasad, dan tidak setiap lelaku hasad itu pelaku ‘ain. Karena pelaku hasad lebih umum daripada pelaku ‘ain maka memohon perlindungan (kepada Allah) dari pelaku hasad sama dengan memohon perlindungan dari pelaku ‘ain. (Zaadul Ma’aad, Ibnul Qayyim)

Maka dalam surat Al-Falaq, Allah mengajarkan kita untuk berlindung dari pelaku hasad (iri dan dengki) ini sudah termasuk didalamnya meminta perlindungan dari pelaku ‘ain, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS. Al-Falaq : 1-5)

Berikut beberapa perbedaan antara hasad dan ‘ain :

  1. Hasad lebih umum daripada ain, setiap pelaku ain itu pelaku hasad dan tidak setiap pelaku hasad itu pelaku ain.
  2. Pelaku ain lebih berbahaya daripada pelaku hasad (pendengki)
  3. Sumber hasad adalah gejolak yang membakar hati dan merasa nikmat orang lebih banyak dari dirinya, dan keinginan agar nikmat tersebut hilang dari orang lain. Adapun sumber ain adalah pandangan dan kekakguman atas sesuatu secara berlebihan, atau juga karena jiwa yang buruk.
  4. Ain bisa terkena kepada sesuatu yang dicintai oleh pelaku seperti pada anak dan harta, sedangkan hasad tidak bisa membahayakan sesuatu yang dicintai pelaku.
  5. Ain terjadi pada sesuatu yang disaksikan secara langsung, sedangkan hasad tidak demikian, seseorang bisa hasad kepada sesuatu yang tidak ia lihat atau sesuatu yang belum terjadi.

‘Ain Dapat Disebabkan oleh Jin

Penyakit ‘ain tidak hanya bisa dilakukan oleh manusia, jin juga dapat membahayakan manusia dengan ‘ain nya, berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,

Ada dua macam ‘ain, pertama ‘ain manusia dan kedua ain jin, berdasarkan hadits shahih dari Ummu Salamah, bahwasanya Nabi shallallhu’alaihiwasallam melihat seorang anak perempuan yang pada wajahnya ada saf’ah, maka beliau bersabda, “lakukan oleh kalian ruqyah untuknya karena ia terkena nazhrah.”

Al-Husain bin Mas’ud Al-Farraa berkata: “Saf’ah” adalah pandangan (ain) yang disebabkan oleh jin. (Zaadul Ma’aad)

Artikel berikutnya:

 

Lengkap: Pengertian Ghibah, Hukum dan Dalilnya

pengertian ghibah gosip hukum akibat dan dalilnya

Pengertian Ghibah Hukum dan Dalilnya – Ghibah dan membicarakan aib orang lain bagi sebagian bahkan bagi banyak orang adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan, terutama jika orang tersebut adalah orang yang dibenci. Ghibah seolah bumbu wajib dari sebuah obrolan dan perkumpulan yang tanpanya obrolan rasanya hambar.

Maka, tidak heran jika acara-acara gosip di televisi sangat laris dan memiliki rating yang tinggi. Acara gosip dan ghibah  dipandang sebagai entertainment dimana membicarakan aib dan kejelekan orang lain dianggap sebagai hiburan yang menyenangkan.

Pada artikel kali ini kami kami akan mengulas secara ringkas tentang ghibah ditinjau dari berbagai aspek.

Pengertian Ghibah Menurut Bahasa dan Istilah

Ghibah berasal dari kata ghaaba, yaghiibu, ghaibun (غاب، يغيب، غيب) secara bahasa bermakna sesuatu yang tidak nampak. Ghibah berasal dari kata yang sama dengan ghaib yaitu sesuatu yang tidak kelihatan, maka makhluk ghaib berarti makhluk yang tidak tampak. Lawan katanya adalah syahadah atau haadhir (tampak atau hadir).

Adapun secara istilah syari’at Islam, ghibah bermakna:

  أَن تذكر أَخاك من ورائه بما فيه من عيوب يسترها ويسوءه ذِكْرُها

Membicarakan aib dan kejelekan saudaramu dibelakangnya (ketika ia tidak hadir) yang telah ia tutupi, dan ia tidak suka bila aib tersebut dibicarakan. 

Dari definisi ghibah diatas maka dapat disimpulkan bahwa agar sesuatu bisa disebut ghibah harus memiliki syarat, yaitu:

  1. Orang yang dibicarakan (dighibahi) tidak hadir ditempat
  2. Sesuatu yang dibicarakan berupa aib dan kejelekan orang lain yang ia tidak suka diungkit-ungkit
  3. Aib atau kejelekan tersebut betul dan realita ada pada yang dibicarakan

Bagaimana jika aib yang dibicarakan tersebut tidak benar dan tidak sesuai realita?

Pertanyaan ini sudah dijawab sendiri oleh Nabi sallahu’alaihi wa sallam  dalam sebuah hadits beliau:

عن أبي هريرة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: ((أتدرون ما الغيبة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: ذكرك أخاك بما يكره. قيل أفرأيت إن كان في أخي ما أقول؟ قال: إن كان فيه ما تقول، فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته))

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu -bahwasanya Rasulullah -shallallahu’alaihiwasallam- bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah? mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul Nya yang lebih tahu”, beliau menjawab: “Ghibah adalah engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak suka.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika apa yang aku bicarakan itu benar adanya.” Beliau menjawab, “jika apa yang engkau bicarakan itu benar maka sungguh engkau telah mengghibahnya, tapi jika tidak benar maka sungguh engkau telah menuduh (menfitnah) nya.”(HR. Muslim 2589)

Maka berdasarkan hadits ini, ghibah adalah membicarakan aib orang lain disaat ia tidak hadir yang mana aib tersebut memang benar ada pada orang yang dibicarakan. Tapi jika aib tersebut tidak benar ada padanya maka kategorinya lebih berat, yaitu masuk pada kategori fitnah atau tuduhan yang tidak berdasar.

Hukum, Akibat dan Dalil Dosa Ghibah

Salah satu misi dan tujuan dari syari’at Islam ialah menjaga persatuan dan persaudaraan antar ummat islam dengan menebar cinta dan kasih sayang dan menjauhi sebab-sebab yang menghantarkan pada perpecahan dan permusuhan, seperti fitnah, namimah (adu domba), ghibah dll.

Ghibah adalah salah satu sifat dan akhlak yang buruk yang ada pada manusia. Tidak diragukan ghibah termasuk dosa besar yang patut diwaspadai, karena suatu masyarkat yang penduduknya suka membicarakan aib orang lain akan diliputi dengan rasa curiga dan benci satu sama lain. Tidak ada kebahagian pada suatu masyarakat yang dipenuhi dengan rasa curiga dan benci satu sama lain. Bahkan dengan ghibah perpecahan, perkelahian dan peperangan bisa terjadi.

Mengingat begitu besar bahaya ghibah, maka tidak heran banyak dalil yang tidak hanya mengharamkan tapi juga mengancam tindakan dan pelaku ghibah dengan ancaman paling berat, baik di dunia maupun di akhirat, karena pelaku ghibah telah menyebabkan tersebarnya kebencian dan kecurigaan, yang dengan sebab itu masyarakat menjadi saling memusuhi satu sama lain, bahkan akibatnya bisa menjadi pertumpahan darah. Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa diantara sekian banyak dalil dari Al-Quran dan As-sunnah mengenai ancaman dan bahaya ghibah.

Allah menyamakan orang yang melakukan ghibah seperti seseorang yang makan daging mayit saudaranya sendiri, sebagaimana firman Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Allah Ta’ala berfirman,
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

 

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,” (QS. Al-Humazah: 1)

Muqatil bin Sulaiman, salah seorang ahli tafsir berkata mengenai ayat ini, “(pengumpat dan pencela) adalah orang yang suka menikam dan suka ghibah yang apabila orang yang dicela tidak hadir, ia segera mengghibah dibelakangnya.” 

Dalam sebuah hadits Nabi -shallallahu’alaihiwasallam- memberi gambaran kepada kita bagaimana realita azab yang akan didapat oleh pelaku namimah dan ghibah, 

وعن ابن عباس رضي الله تعالى عنهما أنَّه قال: مرَّ النبي صلى الله عليه وسلم على قبرين، فقال: إنَّهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير، ثُمَّ قال: بلى، أمَّا أحدهما: فكان يسعى بالنَّمِيمَة، وأما الآخر: فكان لا يستتر من بوله، قال: ثُمَّ أخذ عودًا رطبًا، فكسره باثنتين، ثُمَّ غرز كل واحد منهما على قبر، ثُمَّ قال: لعله يُخفف عنهما مالم ييبسا..

Dari Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu’anhuma- ia berkata, “Nabi -shallallahu’alaihiwasallam- pernah melewati dua buah kubur, lalu beliau berkata, “sesungguhnya keduanya sedang diazab, tapi keduanya tidak diazab karena dosa besar.” Kemudia beliau berkata, “ya (keduanya adalah dosa besar), adapun (dosa) salah seorang dari keduanya dahulu ia suka menebar namimah, adapun (dosa) yang lainnya karena tidak sempurna membersihkan kencingnya.” Kemudia beliau mengambil sebuah tongkat yang masih basah, kemudia mematahkannya menjadi dua potong, kemudia beliau menanam masing-masing tongkat pada kubur tersebut, kemudian beliau berkata: semoga dengan tongkat yang basah ini adzab keduanya diringankan selama belum kering.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Meskipun hadits diatas berbicara tentang namimah (adu domba) namun ghibah juga termasuk didalamnya, karena orang yang mengadu domba otomatis melakukan ghibah  dengan menukil perkataan buruk orang lain dengan maksud untuk memecah belah dan menimbulkan fitnah.

Hukum Haramnya Ghibah Tidak Hanya Berlaku Bagi Pelaku, Tapi Juga Pendengar 

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

Ketahuilah bahwa sebagaimana ghibah haram bagi pelaku, juga haram bagi pendengar untuk mendengarkan dan menyetujuinya. Maka wajib bagi orang yang apabila mendengar seseorang mulai pembicaraan ghibah yang haram untuk melarangnya jika hal tersebut tidak menimbulkan bahaya yang jelas, tapi jika ia takut bahaya maka wajib baginya untuk mengingkarinya dengan hati, dan meninggalkan majlis tersebut jika memungkinkan. Tapi jika ia mampu untuk mengingkari hal tersebut dengan lisannya, atau memutus (mengalihkan) pembicaraan yang mengandung ghibah dengan pembicaraan lainnya, maka ia harus melakukan usaha tersebut.

Ghibah Penyebab Seseorang BANGKRUT di Hari Kiamat

Salah satu hadits yang membuat kita takut dan ngeri adalah hadits tentang ancaman untuk beberapa perbuatan buruk yang menyebabkan pelakunya bangkrut di hari kiamat. Bangkrut artinya kita tidak membicarakan tentang orang miskin, tapi kita berbicara tentang orang yang awalnya kaya, memiliki banyak harta yang dalam konteks hari kiamat ialah orang yang awalnya memiliki banyak tabungan pahala tapi kemudian pahalanya tersebut habis karena harus membayar kepada orang yang pernah ia sakiti ketika di dunia.

Hadits tersebut berbunyi:

أتدرون ما المفلس؟ قالوا: المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال: إنَّ المفلس من أمتي يأتي يوم القيامة بصلاة، وصيام، وزكاة، ويأتي قد شتم هذا، وقذف هذا، وأكل مال هذا، وسفك دم هذا، وضرب هذا، فيعطى هذا من حسناته، وهذا من حسناته، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه، أُخذ من خطاياهم فطرحت عليه، ثم طرح في النار

Dari Abu hurairah, bahwasanya Rasulullah -shallallahu’alaihiwasallam-  bersabda: “Tahukan kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka (sahabat) menjawab: “orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki Dirham (uang) dan tidak memiliki harta.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang muflis (bangkrut) dari ummatku ialah orang yang datang di hari kiamat membawa pahala sholat, puasa dan zakatnya, disaat yang sama ia pernah (ketika di dunia) mencela orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang ini. Kemudian orang ini (yang pernah ia sakiti) diberikan sebagian dari pahalanya, dan orang yang lain diberikan juga dari pahalanya, (demikian seterusnya) sampai ketika pahala kebaikan-kebaikannya habis tapi belum bisa menebus perbuatan buruknya, maka dosa-dosa orang yang pernah ia sakiti tersebut diambil lalu dibebankan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

Jika di dunia kita masih bisa berusaha mencari harta ketika habis, tidak demikian dengan akhirat, akhirat adalah tempat memanen hasil usaha kita ketika di dunia. Tidak ada lagi usaha di akhirat, apa yang kita hasilkan itulah yang menjadi bekal kita untuk menuju kehidupan abadi, baik itu abadi di surga maupun abadi di akhirat, semoga Allah menyelamatkan kita di hari yang melelahkan itu.

Perbedaan Gibah, Gosip  dan Fitnah

Gosip menurut kamus bahasa Indonesia dimaknai sebagai: obrolan tentang orang-orang lain; cerita negatif tentang seseorang; pergunjingan. Dari makna ini maka gosip dan pergunjingan lebih kurang sama maknanya dengan ghibah, oleh karena itu maka gosip juga sama hukumnya dengan ghibah yaitu haram dan termasuk dosa besar.

Sedangkan fitnah menurut istilah syar’i memiliki banyak makna, diantaranya bermakna perselisihan dan perpecahan ummat. Maka ghibah dan gosip bisa dikatakan fitnah karena ghibah adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan terjadinya perpecahan, kebencin dan saling curiga didalam masyarakat.

Pengecualian: Ghibah yang Dibolehkan

Setiap peraturan umum ada pengecualian. Demikian juga dengan ghibah, secara umum hukum ghibah adalah haram, tidak boleh dan termasuk dosa besar. Tapi, ada kondisi-kondisi tertentu yang menjadi pengecualian yang membolehkan untuk berghibah padanya. Bukan karena ghibah itu baik, tapi kondisi yang membuat harus untuk melakukan ghibah demi kemaslahatan.

Para ulama menyebutkan setidaknya ada 6 situasi dan kondisi yang memungkinkan bagi seseorang untuk menyebutkan aib orang lain seperlunya dan tidak berlebihan, kondisi-kondisi tersebut adalah:

  1. Mengadukan perkara kezhaliman kepada pihak yang berwenang. Boleh bagi orang yang dizhalimi untuk mengadu dan menyebutkan perbuatan atau perkataan buruk orang yang telah menzhaliminya kepada pihak berwenang yang sekiranya bisa memberikan keadilan kepadanya, seperti hakim, kepolisian atau pemimpin suatu daerah.
  2. Sarana untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang zhalim atau ahli maksiat kepada kebenaran. Maka, boleh misalnya menyebutkan kepada pihak yang sekiranya memiliki kemampuan: bahwa si fulan berbuat ini dan itu, saya harap Anda menasehati atau mencegahnya.
  3. Meminta fatwa. Boleh menyebutkan aib dalam rangka meminta fatwa. Misalnya, seseorang bertanya kepada mufti yang ahli dalam bidang hukum Islam, “Si fulan telah berbuat zhalim kepadaku atau kepada saudaraku atau kepada ayahku, apa hukuman baginya? atau bagaimana agar aku terbebas dari kezhalimannya?.”
  4. Memberi peringatan kepada ummat atas bahaya seseorang. Seperti menyebutkan aib perawi, para saksi dan pengarang tertentu. Misalnya Anda melihat orang membeli barang yang cacat, atau Anda melihat orang berteman dengan pencuri, pezina, atau ia ingin menikahkan saudara/i nya dengannya dan semisalnya, maka Anda boleh menyebutkan aibnya tersebut dalam rangka menasehati bukan untuk menyakiti atau menimbulkan kerusakan.
  5. Pelaku kefasikan atau bid’ah yang terang-terangan melakukan atau mempropagandakan kefasikan dan bid’ahnya. Seperti seseorang yang secara terang-terangan minum khamr atau mengambil harta orang lain tanpa hak, maka boleh disebutkan aib yang ia lakukan secara terang-terangan tersebut, tapi tidak boleh menyebutkan aibnya yang lain yang tidak ia lakukan secara terbuka, kecuali karena sebab yang lain.
  6. Menyebutkan suatu ciri atau gelar jika seseorang dikenal dengan ciri atau gelar tersebut untuk pengenalan. Boleh misalnya menyebutkan orang rabun, buta, buta sebelah, pincang untuk memperkenalkannya. Tapi haram menyebutkan hal tersebut dengan motif menjelekkan dan mencela. Jika ada ciri lain yang bukan aib untuk mengenalnya maka tentu lebih utama.

PENTING: Sekalipun Anda memiliki alasan yang membolehkan menyebut aib orang lain, hendaknya pikirkan kembali secara matang atas keputusan Anda tersebut. Ingat kembali bahaya dan dosa ghibah yang sangat mengerikan, bagaimana ghibah adalah seperti kanibal yang memakan mayat saudaranya sendiri, dan bagaimana ghibah dapat menyebabkan Anda bangkrut di hari kiamat dan ancaman-ancaman lainnya. Ingatlah, bahwa “nikmat” nya ghibah untuk memuaskan nafsu kebencian Anda tidak sepadan dengan dosa dan siksa yang akan Anda terima di hari kiamat kelak. Pertimbangkan kembali dan minta saran orang yang lebih bijaksana, boleh jadi sesuatu yang Anda kira alasan pembenaran ghibah hanyalah ilusi dan bisikan setan untuk menjebak Anda kedalam dosa.

Cara Terbebas dari Ghibah

Akhlak buruk ghibah dan gosip memang sulit untuk dihindari, terutama pada zaman sekarang ini dimana sarana dan media untuk ghibah semakin mudah, ditambah lagi acara-acara TV, media berita cetak maupun elektronik secara tidak malu-malu menjadikan gosip dan ghibah sebagai objek hiburan demi meraup sedikit keuntungan duniawi.

Namun demikian bukan berarti kita harus menyerah dengan kondisi dan ikut arus begitu saja. Justru seharusnya kondisi yang sulit ini menjadi tantangan bagi kita untuk terus berjuang memperbaiki diri dan menjadi orang yang tegar dan berakhlak sesuai tuntunan Islam.

Berikut beberapa tips yang mungkin akan membantu kita untuk tidak terjebak dalam jebakan setan yang bernama ghibah dan gosip ini:

  1. Berdo’a kepada Allah agar kita tidak menjadi tukang gosip, karena tanpa bantuan dan pertolongan dari Nya, segala sesuatu tidak mungkin.
  2. Bekali diri dengan ilmu. Ilmu adalah bekal dan senjata dalam hidup. Keselamatan dan kebaikan dunia dan akhirat, salah satu pondasinya adalah ilmu. Membekali diri dengan ilmu tentang dosa ghibah, bahaya dan siksa bagi orang yang melakukan ghibah adalah cara efektif untuk menekan nafsu agar tidak sembarangan menggunjing orang lain. Karena orang yang tidak tahu tentang suatu bahaya, kemungkinan besar ia akan terjatuh kedalamnya.
  3. Hindari percakapan, obrolan dan perkumpulan yang tidak perlu dan tidak bermanfaat. Karena perkumpulan merupakan sarang yang empuk bagi setan untuk mengajak manusia berghibah. Kalaupun harus hadir, sebisa mungkin untuk tidak berbicara hal-hal yang memancing ghibah. Ingatkan saudara Anda jika pembicaraan sudah masuk kepada pergunjingan. Tinggalkan majlis segera jika mereka tidak mau diingatkan dari ghibah.
  4. Latih diri dengan cara terus menerus membaca, mendengar nasehat tentang bahaya ghibah. Karena manusia memiliki sifat sering lupa dan lengah, maka dengan terus mengingatkan diri tentang bahaya ghibah diharapkan sifat buruk lagi najis dan menjijikkan tersebut benar-benar hilang dari diri kita. Akhlak dan sifat bisa diperoleh dengan latihan.

Demikian sedikit ulasan mengenai ghibah, hukumnya, bahaya dan dosanya, dan cara untuk menghindarinya. Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah untuk menahan diri dari perbuatan tercela yang bernama ghibah ini. Aamiin

 

Referensi:

 

 

Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami?

Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami

Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami? – Saat ini tengah ramai berita masuk islamnya (menjadi muallaf) seorang presenter terkenal di negara kita yaitu Deddy Corbuzer. Salah satu hal yang menjadi sorotan banyak orang adalah apakah Deddy Corbuzer harus mengganti namanya menjadi lebih Islam? Untuk itu, kami tertarik untuk sedikit membahas hal tersebut dari sudut pandang fiqh Islami. Selamat membaca.

Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami?

Tidak diragukan bahwa nama sangat penting bagi seseorang, karena nama marupakan bentuk dari doa, harapan dan optimisme. Oleh karena itu, nama itu harus mengandung arti dan makna yang baik, karena nama akan berpengaruh baik maupun buruk pada pemiliknya.

Dalam hal penamaan, islam tidak mewajibkan harus menamai seseorang dengan nama tertentu. Tapi, dalam hal memberi nama Islam hanya memberikan aturan umum yang harus disesuaikan. Aturan umum tersebut ialah:

  1. Sebuah nama tidak boleh mengandung makna yang buruk
  2. Sebuah nama tidak boleh menyelisihi aqidah dan syari’at Islam

Namun demikian, Islam memiliki nama-nama yang baik yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam hadits-hadits beliau, seperti nama Abdullah (hamba Allah) Abdurrahman (hamba Allah yang maha penyayang) dan lainnya. Tapi, ini bersifat anjuran, tidak wajib.

Oleh karena itu, selama sebuah nama tidak menyelisihi hal diatas, maka seseorang bebas memberi nama apa saja, dan nama tersebut tidak harus dalam bahasa arab. Karena Islam datang bukan hanya kepada bangsa Arab, namun Islam datang untuk seluruh alam, Islam itu rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

 

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

 

Maka, tidak menjadi syarat bagi seseorang yang baru masuk islam (muallaf) untuk menukar namanya menjadi nama Arab, selama nama tersebut tidak mengandung makna kejelekan dan menyelisihi syari’at.

 

Pada masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan Sahabat telah banyak orang non arab dari kalangan Persia dan Romawi yang masuk Islam, nama mereka tetap berlaku dan tidak diganti oleh beliau. Bahkan banyak dari para Nabi dan Rasul ‘alihimussalam yang memiliki nama ‘ajam (non arab).

 

Demikian juga Nabi shallallahu’alaihiwasallam ketika para sahabatnya masuk Islam, nama-nama mereka tidak diganti kecuali beberapa nama sahabat yang beliau ganti karena nama mereka mengandung makna buruk, pesimisme, atau nama yang melanggar akidah dan syari’at Islam.

 

Ada banyak hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dimana beliau memerintahkan untuk mengganti nama sebagian sahabat beliau menjadi nama yang lebih baik. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu’anhu dalam kitab Shahih Muslim bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam  mengubah nama seseorang yang bernama ‘Aashiyah (عاصيةyang bermakna wanita pembangkang menjadi Jamiilah yang berarti wanita cantik atau baik.

 

Dari Ibnul Musayyib dari ayahnya, bahwasanya bapaknya datang kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, kemudian beliau bertanya: siapa namamu?  ia menjawab: namaku adalah Hazn (sulit), beliau menjawab: (tidak tapi) nama kamu adalah Sahl (mudah). Ia menjawab: Tidak, aku tidak akan merubah sebuah nama yang diberikan oleh bapakku. Ibnul Musayyib (perawi yang sekaligus anaknya) berkata: Maka kesulitan masih senantiasa ada pada keluarga kami sampai sekarang. (HR. Bukhari)

 

Sebagian nama diganti oleh Nabi sendiri karena mengandung makna yang buruk. Abu Dawud berkata: Dan Rasulullah – shallallahu’alaihiwasallam – telah mengganti nama Al-‘Ash (pembangkang), ‘Aziz, ‘Utlah, Syithan, Al-Hakam, Ghuraab (burung gagak),  Syihab, Habbab. Beliau memberinya nama Hasyim, dan mengganti nama Harb (perang) menjadi Silm (damai) dan mengganti nama Al-Mudhthaji’ (orang yang suka tidur) menjadi Al-Munba’ith (orang yang enerjik…. Bahkan beliau mengganti nama suku Bani Magwiyah (keturunan yang sesat) menjadi Bani Rasyidah (keturunan yang mendapat petunjuk. (Sunan Abu Dawud 2/707)

 

Secara lebih rinci, para ulama telah membuat pembagian nama-nama yang dilarang (haram) dan makruh (tidak disukai namun tidak sampai pada derajat haram) seperti berikut:

1. Nama-nama yang terlarang atau haram, diantaranya:

  • Nama yang mengindikasikan penghambaan kepada selain Allah, seperti nama ‘Abdu Samsy (hamba matahari), ‘Abdur Rasul (hamba Rasul), Abdu ‘Ali (hamba Ali), ‘Abdu Husain (hamba husain) dan lainnya.
  • Nama yang dinisbatkan kepada Allah yang mengandung makna bathil, seperti nama Ghulamullah (anak Allah) -maha suci Allah dari hal itu-
  • Nama-nama yang menjadi ciri khas nama orang kafir.
  • Memberi nama dengan nama-nama berhala, seperti Al-Latta, Al-‘Uzza, Hubal dll.
  • Nama yang mengandung kebohongan, pengagungan dan penyucian terhadap diri sendiri, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

إن أخنع اسم عند الله رجل تسمَّى ملك الأملاك – متفق عليه 

“Sesungguhnya nama yang paling dibenci disisi Allah adalah seseorang yang diberi nama Malikul Amlak (raja segala raja).” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  • Memberi nama dengan nama-nama syaithan seperti: Khinzib, Al-Walhan, Al-‘Awar, Al-Ajda’ dan Dahman.

2. Nama-nama yang makruh (tidak sampai haram tapi tidak dianjurkan), ini seperti:

  • Menamakan anak dengan nama hewan yang secara adat dipandang hina, seperti Himar (keledai) dll.
  • Tidak dianjurkan memberi nama yang memiliki makna yang membuat orang takut seperti memberi nama Khinjar (pisau atau tombak) dsb.
  • Memberi nama yang mengandung perbuatan dosa atau maksiat seperti nama Zhalim bin Sariq (orang yang zhalim bin pencuri)
  • Nama-nama diktator yang zhalim dan orang fasiq, seperti Fir’aun, Haman, Qarun dll.

Nama yang Dianjurkan

Dapat disimpulkan bahwa Islam memberikan kebebasan dalam pemberian nama baik seorang anak yang baru lahir dan selainnya. Namun demikian, ada nama-nama yang dianjurkan dan direkomendasikan untuk dipakai, diantaranya seperti dikuti dari muslimah.or.id :

  • Nama-nama Abdullah dan Abdurrahman berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)

  • Nama yang menunjukkan penghambaan diri terhadap salah satu dari nama-nama Allah, seperti ‘Abdul Malik, Abdul Jabbar dll.
  • Memberi nama dengan nama para Nabi dan Rasul
  • Memberi nama dengan nama-nama orang sholeh dari kalangan kaum Muslimin terutama nama-nama para Sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam

Demikian ulasan singkan tentang tuntunan memberikan nama kepada anak atau orang yang baru masuk Islam (Muallaf). Kesimpulannya bahwa tidak ada kewajiban bagi mualaf harus ganti nama atau memberi nama seseorang dengan nama tertentu dalam Islam, selama nama tersebut tidak mengandung makna yang buruk dan bertentangan dengan syari’at Islam. Namun demikian ada nama-nama yang dianjurkan seperti yang telah kami sebutkan diatas.

Wallahu’alam

 

Referensi:

https://islamqa.info

– https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=167973

– https://muslimah.or.id/1557-tuntunan-pemberian-nama-nama-nama-yang-disunnahkan.html