hosting dan domain murah niaga hoster 03

UMMAT ISLAM MERAYAKAN TAHUN BARU?

sejarah asal usul pohon natal

SEJARAH TAHUN BARU DAN NATAL

Perayaan tahun baru (dan natal) aslinya adalah perayaan Saturnalia, yaitu perayaan orang romawi kuno untuk penyambutan dewa matahari “sol invictus”. Perayaan ini berlangsung selama seminggu mulai dari akhir bulan desember. Setelah kekaisaran romawi mengadopsi kristen dan ditetapkannya 25 desember sebagai hari resmi kelahiran Yesus secara sepihak oleh Paus Julius I, maka perayaan-perayaan yang berbau paganisme tsb. diganti menjadi perayaan hari lahir Yesus (Natal).

Kami telah membahas tentang hal ini dengan lebih panjang pada artikel sebelumnya yang berjudul  Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi

MENGEKOR ADALAH TANDA KELEMAHAN

hukum merayakan tahun baru mengikuti orang kafir 01

Ummat Islam adalah ummat yang kuat dan berprinsip, karena agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar dari Allah. Namun, syarat kekuatan ummat adalah berpegang teguh kepada prinsip-prinsip Islam, semakin kendor memegang prinsip Islam maka ummat islam semakin lemah.

Ummat islam harusnya menjadi pemimpin yang diikuti dengan kebenaran Islam yang ada pada mereka, bukan sebaliknya, mereka mengikuti ummat lain. Ummat Islam adalah ummat yang beda, dan memiliki ciri khas sendiri dari ummat lain dalam banyak hal.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam melarang keras meniru dan menyerupai kaum lain, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai (meniru) suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Dalam banyak kasus, Nabi sering menginstruksikan sahabat-sahabat beliau untuk menyelisihi kaum musyrik dan kaum kafir.

Contohnya dalam hal pakaian, Nabi pernah melihat ‘Amr bin ‘Ash memakai pakaian yang dicelupkan dengan Safron (warna kuning mirip pakaian pendeta hindu/budha), beliau melarang hal itu dan bersabda, “Sesungguhnya ini termasuk pakaian orang-orang kafir, janganlah engkau memakainya.” (HR. Muslim)

Contoh dalam hal ibadah seperti larangan sholat ketika matahari terbit dan terbenam, karena pada dua waktu tersebut adalah waktu ibadahnya orang kafir.

Dalam hal tampilan, Nabi bersabda,“Selisihilah kaum Musyrik, pendekkan kumis dan biarkan jenggot tumbuh.” HR. Bukhari dan Muslim)

Dan banyak lagi hadits serupa yang intinya melarang kita membeo kepada kaum kafir.

Oleh karena itu, generasi awal Islam sangat tangguh dan mampu menguasai dunia dengan waktu yang singkat, karena selain mereka memiliki akidah yang kuat, juga berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam, salah satunya pantang membeo dan meniru kaum lain.

Membeo dan meniru orang lain adalah kelemahan. Ibnu khaldun, seorang muslim peletak batu pertama ilmu sosiologi berkata:

“Kelompok yang kalah akan selalu cenderung meneladani kelompok yang menang, baik dalam tampilan, gaya, ideologi dan seluruh keadaan mereka. Hal itu karena jiwa selalu meyakini kesempurnaan pada orang yang mengalahkannya, lalu ia tunduk kepadanya.” (Ibnu Khaldun)

perkataan mutiara hikmah ibnu khaldun
perkataan mutiara hikmah ibnu khaldun tentang meneladani ummat lain

Negara-negara adidaya saat ini sangat memahami hal ini. Contohnya Amerika yang dengan gencar menyebarkan gaya hidup dan ideologi mereka melalui media seperti holywood, artis, penyanyi dll. Karena mereka paham, selama mereka menjadi panutan dalam segala hal, maka selama itu pula mereka akan terus memimpin.

Cina juga memahami hal ini, mereka ingin menjadi pemain utama dunia dan menjadi pesaing Amerika. Karena itu, Cina mencoba mengurangi pengaruh tren amerika di Negaranya dengan memblokir berbagai media amerika seperti Google, FB dll.

Nah, bagaimana dengan kita?

Hosting Unlimited Indonesia

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi – Beberapa hari ke depan tanggal 25 Desember akan segera tiba, dan dapat ditebak, kontroversi boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal bagi ummat Islam akan mencuat kembali, seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Tahukah Anda bahwa kaum Puritan (bagian dari Kristen Protestan) pada tahun 1647 an pernah melarang perayaan Natal (Christmas) di Inggris dan New England (kini bagian dari Amerika Serikat ). Natal dianggap sebagai perayaan Papist (istilah sindiran untuk gereja Katolik oleh kaum Protestan) dan perayaan yang tidak memiliki dasar dari Alkitab”

Namun, sebelum membahas hukum mengucapkan selamat Natal oleh kaum muslimin, sebaiknya kita mengetahui dulu sedikit sejarah tentang perayaan Natal ini.

Sejarah Perayaan Natal & Tahun Baru

Masyarakat modern umumnya mengenal Natal sebagai perayaan Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, tanggal 25 Desember. Tapi, tidak banyak yang tahu bahwa perayaan ini memiliki jejak sejarah yang jauh sebelum era kekristenan, tepatnya pada era Pagan Romawi.

Menurut ahli sejarah, seperti yang disebutkan situs berita Inggris Indepentent.co.uk  perayaan Natal berawal setidaknya dari 2 perayaan paganisme Romawi saat itu, yaitu perayaan Saturnalia dan Ferstival Yule.

Saturnalia adalah perayaan orang Romawi yang dilaksanakan sekali setahun yang dimulai pada tanggal 19 Desember dan berlangsung selama seminggu. Pada perayaan ini hukum tidak berlaku untuk beberapa waktu selama festival, orang bebas melakukan apa saja, membunuh, merampok, memperkosa dsb. tanpa takut dihukum, dan perayaan ini adalah asal usul adanya “purge”.

Sesuai namanya, Saturnalia, berasal dari nama dewa Romawi “Saturn”, yaitu dewa agrikultur dan kebebasan. Saturnalia mungkin festival yang paling masyhur pada masyarakat Romawi. Saturnalia adalah waktunya pesta-pora, bebas bicara, bebas apa saja (mabuk, seks bebas dll).

Setelah masa titik balik matahari, malam yang paling gelap dalam setahun, perayaan penyambutan pembaharuan mentari baru dan tahun baru kemudia dilakukan oleh imperium Romawi, yaitu pada Dies natalis (hari lahir) dewa matahari resmi kaum Romawi, Sol Invitus, pada 25 Desember.

Kelahiran Yesus, 25 Desember dan Koneksinya Dengan Perayaan Natal

Pada tahun 340 masehi, Paus Julius I, menetepkan 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus. Padahal sebelum itu, tanggal kelahiran Yesus, setidaknya ada 3 perbedaan pendapat, yaitu antara tanggal 29 Maret, 6 Januari, dan Juni, dimana para pakar sejarah kini lebih meyakini pendapat ini (daripada 25 Desember).

250 tahun kemudian, Paus Gregory menugaskan saint Augistine untuk mengkristenkan kaum pagan Inggris (the heathen Brits).

Dengan ditetapkannya 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus, pekerjaan saint Augustine menjadi lebih terbantu, karena penduduk pagan tersebut memiliki beberapa festival tengah musim dingin (sekitar akhir Desember-Januari). Dengan harapan mereka dapat mengadopsi ajaran baru Kristen tersebut tanpa harus kehilangan festival pesta pagan tahunan mereka.

Karena kebiasaan pesta mabuk-mabukan pada hari Natal, bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh orang modern. Kebiasaan ini sudah ada pada masa sebelum kekristenan, setidaknya ada 2 festival besar yang bertepatan dengan tanggal natal, yaitu festival Saturnalia dan dan pesta Yule. (sumber)

Bukti sejarah mengindikasikan bahwa Yesus lahir pada musim semi (bukan pada musim dingin Desember). Tapi, misionaris Kristen waktu itu mengadopsi perayaan kaum pagan Yuli, untuk mengambil hati dan mengkristenkan kaum pagan yang sangat cinta dan fanatik perayaan tradisional mereka. Kaum kristen. Kaum Kristen awal-awal juga mengagumi tradisi pedalaman paganisme.

Philip Shaw, seorang peneliti bahasa Germanic dan Inggris kuno di Universitas Leicester, mengatakan, “Orang Kristen pada periode itu cukup tertarik pada paganisme.” Katanya pula, “Itu jelas mereka mengira itu sesuatu yang buruk, tapi pada waktu yang sama mereka berpikir itu sesuatu yang patut diingat. Ini tradisi yang biasa dilakukan oleh nenek moyang mereka.”

Ada dua hari raya paganisme yang paling terkenal pada waktu itu, yaitu perayaan Germanic Yule dan perayaan Saturnalia Romawi. Misionari Kristen kemudian mengadopsi dan menyesuaikannya yang sekarang kita kenal dengan nama Natal. (sumber)

Asal Usul Paganisme pada Pohon Natal

sejarah asal usul pohon natal
perayaan hari natal tidak lepas dari pohon natal dan sosok Santa Claus

Dikuti dari situs Wikipedia, “Sumber-sumber lain juga menyebutkan hubungan antara simbol pohon natal pertama yang terekam dalam sejarah adalah di Alsace pada tahun 1600, dan tradisi (penyembahan dan pengagunagan) pohon sebelum era kekistrenan. Misalnya, menurut Encyclopædia Britannica, “Penggunaan pohon hijau abadi (seperti pinus, dll) dan karangan bunga sebagai simbol kehidupan abadi merupakan kebiasaan orang Mesir kuno, Cina dan Yahudi. Penyembahan pohon adalah hal yang lumrah pada masa kaum paganisme Eropa, dan masih bertahan meskipun mereka telah menganut kristen, pada kebiasaan orang Skandinavia dalam mendekorasi rumah dan lumbung dengan pohon hijau abadi pada tahun baru untuk menakuti setan dan memasang pohon untuk dihinggapi burung selama hari Natal.

Demikian juga, pada festival Romawi pertengahan musim dingin, Saturnalia, rumah-rumah didekorasi dengan karangan-karangan bunga dari pohon tumbuhan hijau abadi bersama dengan adat kuno yang kini dikaitkan dengan Natal.

Dulu, bangsa Viking dan Saxon juga menyembah pohon. Cerita tentang saint Bonafice memotong  Donar’s Oak (pohon sakral bangsa pagan Jerman) mengilustrasikan praktek paganisme pada abad ke 8 masehi pada bangsa Jerman. Cerita versi lainnya yang berkembang kemudian, menggambarkan secara detail bagaimana sebuah pohon hijau tumbuh pada pohon Oak yang telah ditebang, memberitahukan mereka bagaimana bentuk segi tiganya mengingatkan manusia pada ajaran Trinitas, dan bagaimana ujung atas dari segitiga menunjuk ke langit. (sumber)

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- ditanya:

Apa hukum mengucapkan selamat Natal kepada orang Nasrani? dan bagaimana cara kita merespon jika mereka memberi kita ucapan selamat Natal?

Apakah boleh mengunjungi tempat-tempat perayaan Natal? dan apakah seseorang berdosa melakukan hal-hal tersebut tanpa keyakinan didalam hati? Ia melakukannya hanya untuk basa-basi, atau karena malu, atau perasaan tidak enak atau sebab-sebab lainnya? bolehkah kita meniru mereka dalam hal itu?

Beliau menjawab:

Mengucapkan selamat hari raya Natal atau hari-hari raya mereka (orang kafir) yang lain adalah haram, menurut kesepakatan para ulama, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim -rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkaam Ahludz dzimmah”, beliau berkata,

“Adapun mengucapkan selamat atas syi’ar-syi’ar kekafiran yang merupakan ciri khusu mereka adalah haram menurut ittifaq (kesepakatan ulama), misalnya memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengatakan, “selamat hari raya atasmu” dan yang semisalnya. Ini jika pun pelakunya selamat dari resiko kafir karenanya, tapi ia dapat dipastikan termasuk dalam hal yang haram, ini sama seperti ia mengucapkan selamat padanya atas sujudnya kepada salib. Hal ini, dosanya lebih besar dan lebih dimurkai oleh Allah daripada memberiselamat pada orang yang minum khamr, pembunuh, pezina dan lainnya. Banyak orang yang tidak menghargai akidah dan agamanya terjatuh dalam hal ini, dan ia tidak memahami betapa buruknya perbuatannya, siapa yang memberi selamat kepada pelaku maksiat, pelaku bid’ah atau pelaku kufur, maka sungguh ia telah memaparkan dirinya pada murka Allah.” (Ibnul Qayyim, Ahkaam Ahludz dzimmah)

Bagaimana Respon Kita jika Mereka Mengucapkan Selamat Natal Pada Kita?

Kemudian syaikh Ibnu ‘Utsaimin melanjutkan, “Dan jika mereka memberi kita ucapan selamat atas hari raya mereka, kita tidak perlu membalasnya, karena itu bukan hari raya kita, dan karena itu hari raya yang tidak diridhoi Allah Ta’ala…”

Memenuhi undangan mereka untuk merayakan hari raya mereka juga haram, bahkan ini lebih berat daripada ucapan selamat semata. Karena ia telah ikut serta dalam perayaan tersebut, demikian juga haram bagi muslim menyerupai orang kafir dan melaksanakan pesta untuk acara ini, atau ikut tukar menukar hadiah, membagikan permen atau makanan, atau melakukan cuti, dan semisalnya, berdasarkan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.”

Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya “Iqtidha Shirathal Mustaqim”, “Ikut serta pada sebagian hari raya mereka dapat menjadikan mereka besar hati atas agama mereka yang bathil, dan mungkin itu membuat mereka lebih berambisi mengambil kesempatan untuk merendahkan orang-orang lemah.” (Ibnu Taimiyah)

Dan barangsiapa yang melakukan hal itu maka ia berdosa, baik ia melakukannya demi basa-basi, karena rasa cinta, karena malu atau alasan lainnya, karena itu termasuk penjilat dalam agama Allah, dan termasuk sebab yang membuat jiwa orang kafir bangga dan besar hati dengan agamanya.” (Sumber)

Dan agar tidak salah faham, kita mungkin menjelaskan dengan baik kepada mereka mengenai posisi kita dalam hal ini. Jelaskan bahwa dalam prinsip Islam, seorang muslim tidak boleh memberi selamat kepada hari raya, ibadah dan ritual agama lain, dan ini termasuk hal prinsip yang tidak ada basa basi.

Apakah Tidak Mengucapkan Selamat Natal Berarti Tidak Toleransi (Intolerant)?

Tidak mengucapkan selamat natal sama sekali bukan tidak toleransi. Karena toleransi adalah sikap membiarkan atau diam dengan batas tertentu yang dibolehkan (ditolerir).

Maka, dalam pandangan Islam, mengucapkan atau ikut serta dalam hari raya, ibadah dan ritual agama lain merupakan hal yang telah melewati batas yang diperbolehkan, maka dalam hal ini orang Islam tidak dibolehkan untuk ikut serta.

Setiap agama pasti memiliki batasan-batasan yang tidak boleh diterobos oleh pengikutnya, demikian juga dengan Islam, diantara adalah larangan mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, karena itu telah melampaui batas agama Islam.

Justru orang yang mempermasalahkan orang Islam yang tidak mau mengucapkan selamat Natal, karena mengikuti prinsip agamanya, adalah orang yang intoleran.

Syariat Islam cukup toleran kepada agama lain. Contohnya Islam tidak melarang untuk bertetangga dan berbisnis dengan non muslim, bahkan non muslim yang hidup di negara islam memiliki hak-hak khusus yang tidak boleh dilanggar. Orang Islam wajib berbuat baik kepada tetangganya baik muslim maupun non-muslim, dan haram menyakiti mereka. Non muslim diberi kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing, dan orang islam haram mengganggu atau melarang ibadah mereka.

Islam cukup toleran dalam banyak hal kepada non muslim, tapi tentu dengan batasan-batasan tertentu.

Kesimpulan

Dari ulasan diatas, maka jelas seorang muslim haram hukumnya mengucapkan selamat Natal, dan haram ikut serta dalam acara keagamaan non muslim lainnya.

Terlebih peringatan Natal dan tahun baru, sebagaimana dibuktikan oleh ahli sejarah, merupakan berasal dari perayaan paganisme kuno yang sarat dengan kesyirikan dan immoralitas. Ironisnya kaum puritan yang notabene bagian dari Kristen pernah melarang perayaan ini, namun kenapa kita ummat Islam “latah” dan malah ikut-ikutan?

Tidak mengucapkan selamat natal tidak ada hubungannya dengan toleransi, karena setiap agama memiliki batasan-batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh pemeluknya. Jika demikian, maka setiap orang  yang mengikuti prinsip agamanya masing-masing bisa dikatakan intoleran?

Justru orang yang mempermasalahkan orang Islam yang tidak mau mengucapkan selamat Natal, karena mengikuti prinsip agamanya, adalah orang yang intoleran.


Referensi:

  • https://en.wikipedia.org/wiki/Christmas_controversies#Puritan_era
  • https://newengland.com/today/living/new-england-history/how-the-puritans-banned-christmas/
  • https://www.independent.co.uk/news/long_reads/dark-side-christmas-saturnalia-christmas-carol-dickens-norse-mythology-festive-traditions-a8112341.html
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Christmas_tree#Origin_of_the_modern_Christmas_tree
  • https://ar.islamway.net/fatwa/4582/%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%87%D9%86%D8%A6%D8%A9-%D8%A8%D8%B9%D9%8A%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%B1%D9%8A%D8%B3%D9%85%D8%A7%D8%B3
Hosting Unlimited Indonesia

Pengertian, Makna In Sya Allah dan Penulisannya

website blog artikel tulisan islam

Banyak perdebatan di masyarakat tentang cara penulisan In Sya Allah yang benar, ada yang mengatakan, InsyaAllah, In Syaa Allah, Insya Allah, In Sha Allah, dan lainnya. Manakah yang lebih tepat? Mari kita ulas bersama.

Arti Kata In Sya Allah

Sebelum kita jelaskan cara penulisan In Sya Allah yang benar dalam bahasa latin, ada baiknya kita mencari tahu terlebih dahulu arti perkata dan arti kalimat In Sya Allah, seperti berikut:

 

ArabTransliterasiArti
 إنinjika, bila, apabila
شاءsya-aberkehendak, berkeinginan
 اللهAllaahAllah

Bunyi kalimatnya secara keseluruhan menjadi “In-syaa-Allaah”  dengan “syaa” dibaca panjang, demikian juga “Allaah” dibaca panjang.

Maka arti kalimat in syaa Allah adalah ialah “jika Allah menghendaki”.

Kapan In Syaa Allaah Diucapkan

Kalimat In Syaa Allah diucapkan apabila seorang muslim menunda suatu pekerjaan atau berjanji akan melakukan sesuatu diwaktu yang akan datang dan menggantungkannya kepada kehendak Allah.

Pentingnya Ucapan In Syaa Allaah

Seorang yang beriman harus meyakini bahwa segala kendali, daya dan upaya ada pada Allah semata. Allah yang maha berkehendak. Manusia hanya bisa berusaha, berharap dan berdo’a, adapun keputusan dan hasil adalah semata atas kehendak Allah.

Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang muslim untuk menyadari ini, dan untuk mengingatkan selalu kelemahan dan kekurangan manusia, Allah mengharuskan kita untuk mengucapkan In Syaa Allah ketika ingin atau berjanji ingin melakukan sesuatu di waktu mendatang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “In sya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Bahaya Tidak Mengucapan In Syaa Allaah

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ لأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً تَحْمِلُ كُلُّ امْرَأَةٍ فَارِسًا يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ‏.‏ فَلَمْ يَقُلْ، وَلَمْ تَحْمِلْ شَيْئًا إِلاَّ وَاحِدًا سَاقِطًا إِحْدَى شِقَّيْهِ ‏”‏‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ لَوْ قَالَهَا لَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ‏”‏‏.‏ قَالَ شُعَيْبٌ وَابْنُ أَبِي الزِّنَادِ ‏”‏ تِسْعِينَ ‏”‏‏.‏ وَهْوَ أَصَحُّ‏.‏

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallah’alaihi wa sallam beliau bersabda: “Sualaiman bin Dawud berkata “pada malam ini aku akan mendatangi (berhubungan badan) dengan 70 istriku sehingga setiap istri mengandung seorang pejuang yang berjihad di jalan Allah”, lalu seorang sahabatnya berkata, “In Sya Allah”, namun Sulaiman tidak mengatakannya. Hasilnya, tidak seorangpun dari istrinya yang mengandung, kecuali seorang saja yang melahirkan anak cacat sebelah badannya. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “seandainya ia (Sulaiman) mengatakannya, maka ia akan mendapatkan anak dan mereka semua berjihad di jalan Allah.”

Syu’aib dan Ibnu Abi Az Zinaad berkata: “90” dan ini yang paling sahih.

Penulisan In Syaa Allaah yang Benar

Seperti yang terlihat pada tabel diatas bahwa penulisan In Syaa Allaah yang benar dalam bahasa Arab adalah إن شاء الله terdiri dari tiga kata.

Tapi, ada sebagian orang Arab yang awam menulis إنشاء الله dengan menyambungkan kata in dan sya sehingga membentuk satu kata adalah kesalahan fatal dalam penulisan. Karena إنشاء  (Insya) artinya “menciptakan”, maka maknanya menjadi jauh melenceng.

Adapun transliterasi ke dalam bahasa Indonesia, idealnya adalah “In Syaa Allaah”.

Tapi transliterasi tergantung kesepakatan, tidak mesti dengan cara ideal, asalkan pengucapannya pas. Dan ini erat hubungannya dengan niat dari pengucap itu sendiri.

Demikian semoga bermanfaat.

 

Hosting Unlimited Indonesia

Sabar: Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar, Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar: Pengertian, Keutamaan, Tingkatan dan Batasannya – Hidup tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan ujian merupakan keniscayaan didalam kehidupan. Tidak ada manusia yang terlepas dari cobaan, karena salah satu tujuan diciptakannya manusia ke dunia ini adalah untuk diuji. Maka dari itu, tiada jalan lain untuk sukses dalam menghadapi ujian-ujian hidup kecuali dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155-157)

Banyak orang berspekulasi tentang sabar, setiap orang punya gambaran sendiri tentangnya. Nah, bagaimana pandangan Islam tentang sifat sabar? ikuti ulasannya pada tulisan ini.

Pengertian Sabar

Sabar (الصبر) secara bahasa berarti “menahan” yaitu menahan diri dari kesedihan yang berlebihan dan tidak terkontrol. Adapun sabar menurut istilah syar’i adalah:

الصبر هو حبس النفس عن محارم الله، وحبسها على فرائضه، وحبسها عن التسخط والشكاية لأقداره

“Menahan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan Allah, menahan diri untuk tetap menjalankan apa yang diwajibkan oleh Nya, dan menahan diri untuk tidak marah dan berkeluh kesah atas semua takdir Nya.” (Ibnul Qayyim)

Hukum Sabar

Sebagaimana syukur, sabar hukumnya wajib dalam segala hal. Sabar dan syukur adalah ciri yang paling utama iman seseorang, sebagaimana ingkar dan tidak rela dengan takdir Allah Ta’ala merupakan ciri utama kekufuran.

Seorang mukmin wajib bersabar atas segala musibah hidup yang menimpanya, ia wajib sabar dalam menjalankan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan juga wajib sabar untuk tidak mendekati segala yang diharamkan Allah Ta’ala.

Keutamaan Sabar

Sabar memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam, ada banyak dalil yang berbicara tentang sabar dan keutamaan orang-orang yang sabar.

Sabar merupakan kunci dan tulang punggung bagi semua kegiatan manusia. Manusia butuh sabar dalam hal apapun, tanpa sabar segala sesuatu tidak mungkin terlaksana dengan baik.

Manusia butuh sabar dalam bencana dan musibah, butuh sabar dalam ibadah dan amal shaleh, butuh sabar dalam menjalani hubungan dengan sesama dan butuh sabar dalam segala hal.

Sabar adalah kunci kesuksesan, tiada keberhasilan tanpa kesabaran. Bahkan, orang yang berbuat kejahatan pun perlu sabar untuk “sukses” dalam menjalankan kejahatannya.

Sabar adalah pakaiannya para Nabi dan Rasul, derajat seseorang diangkat dengan kesabaran.

Diantara keutamaan sabar dalam Islam adalah:

  • Orang yang sabar dijanjikan oleh Allah pahala yang tidak terhingga, sebagaimana firman Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

  • Sabar menjadi sebab seseorang diampuni dosa dan dihapuskan segala kesalahan nya oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan dimasukkannya ia ke surga, Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian)”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-ra’d: 22-24)

  • Sabar merupakan diantara sebab untuk menaikkan derajat seseorang disisi Allah, jika Allah mencintai seseorang maka ia akan diuji, dan semakin besar iman dan kecintaan Allah kepadanya maka semakin besar pula ujiannya.
  • Allah selalu menyertai dan bersama orang sabar, ini adalah keutamaan yang sangat besar, jika Allah bersama seseorang maka apa lagi yang dibutuhkan:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Pahala Sabar

Nilai sesuatu diukur dari tingkat kesulitannya, sabar merupakan amalan dan sifat yang sulit dilakukan, dan perlu latihan yang terus menerus untuk dapat bersabar dengan baik.

Oleh karena itu, pahala sabar adalah diantara pahala yang nilainya tidak terhingga, hanya Allah yang mengetahui berapa nilai pahala sabar.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Sabar juga merupakan alat Allah untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat hamba Nya. Jika seseorang hamba banyak dosa dan ia belum bertaubat dari dosa-dosa tersebut, maka diantara cara Allah mengampuni dosa-dosanya adalah dengan diberikan kepadanya cobaan demi cobaan agar ia mendapatkan pahala sabar yang tidak terbatas, yang dengannya Allah menghapus dosa-dosanya dan memasukkannya ke surga.

Bahkan diantara tanda dan ciri seseorang yang istiqamah dan sholeh dicintai oleh adalah dengan banyaknya cobaan yang menimpa dirinya, agar dengan itu mendapat nilai dan pahala sabar.

Oleh karena itu para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia yang paling berat cobaannya dan paling besar sabarnya, maka cinta Allah kepada mereka juga sangat besar sebanding dengan kesabaran yang mereka miliki.

Pembagian Sabar

Sabar dibagi menjadi 3 bagian:

1. Sabar dalam ketaatan

Yaitu istiqamah dalam menjalankan amal shalih berupa ibadah, dan seluruh amal ketaatan lainnya, sabar atas rintangan dan kesulitan yang dihadapi ketika beramal, dan tidak putus asa.

2. Sabar untuk tidak Melakukan yang Haram dan Dilarang

Yaitu menahan diri untuk tidak terjatuh kedalam hal-hal yang di haramkan Allah Ta’ala, dengan manahan nafsu dan syahwat dari ajakan-ajakan syetan.

3. Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Cobaan Hidup

Hidup tidak lepas dari ujian, karena hidup itu sendiri adalah ujian, maka sabar adalah benteng dan penawar untuk menjalani ujian hidup.

Orang yang sabar meskipun dihimpit dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan dari Allah mereka tetap berbahagia dengan sabar. Karena mereka punya harapan di akhiran akan kasih sayang dan pahala dari Allah atas buah kesabaran selama di dunia.

Seorang mu’min senantiasa berada diantara sabar dan syukur, ketika mereka diberi musibah mereka bersabar, dan ketika mendapat nikmat mereka bersyukur, dan kedua kondisi tersebut, bagi orang mukmin adalah baik dan sama-sama menguntungkan.

Maka tidak ada istilah depresi bagi orang yang beriman, ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alahi wa sallam: 

عجباً لأمرِ المؤمنِ، إنّ أمرَه كلَّه خيرٌ، وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ؛ إن أصابته سراءُ شكرَ، فكان خيراً له، وإن أصابته ضراءُ صبر، فكان خيراً له

“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, sesungguhnya segala perkaranya adalah baik, dan itu tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada orang mukmin, ketia ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya, dan ketika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Kemudian dari segi tercela dan tidaknya, sabar juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Sabar yang terpuji: yaitu sabar dalam menjalankan ibadah dan amal sholeh karena Allah, sabar dalam meninggalkan yang haram, dan sabar dalam menghadapi musibah dan takdir Allah.
  2. Sabar yang tercela, yaitu sabar dalam menjalankan kejahatan dan kemaksiatan, sabar ketika melihat kehormatan dan agama Allah diinjak-injak, padalah ia memiliki kemampuat untuk bertindak, dan semisalnya.

Tingkatan Sabar

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa sabar ada tiga tingkatan:

  • Sabar dengan Allah (sabrun billah), yaitu seseorang memandang kesabarannya karena pertolongan Allah ta’ala, ia meyakini Allah lah yang membuatnya sabar, bukan karena dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An.Nahl: 127)

  • Sabar karena Allah (sabrun lillah), yaitu sabar yang didorong oleh rasa cinta kepada Allah dan keingina untuk mendekat (taqqarrub) kepada Nya dan mencari keridhaan Nya, ia bersabar karena ingin menunjukkan kekuatan dirinya.
  • Sabar bersama Allah (sabrun ma’a Allah), yaitu sabarnya seorang hamba dalam mengikuti kehendak syar’i Allah (berupa hukum-hukum syari’at Nya), seorang hamba sabar dalam menjalaninya dan berjalan seiring dengan hukum Allah dimana saja dan kapan saja.

Kedudukan sabar pada iman seperti kedudukan kepala pada jasad, dan tidak ada iman bagi yang tidak ada kesabaran padanya, sebagaimana tidak ada jasad bagi yang tidak ada kepala.

Umar bin khattab radhiyallahu’anhu berkata: “Kehidupan yang baik dapat kita raih dengan sabar.”

Dan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim, “Dan sabar adalah cahaya.”

Ibnul Qayyim juga menyebutkan 4 tingkatan sabar lainnya, yaitu:

  1. Sabar karena Allah dan dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling sempurna dan tingkatan sabar orang-orang yang memiliki tekad yang kuat (ulul ‘azaaim). Orang seperti ini sabar hanya untuk mengharap kerelaan Allah Ta’ala, dan sabar tersebut diyakininya semata karena daya dan upaya dari Allah. Ini adalah tingkatan sabar yang paling tinggi, paling baik dan paling kuat.
  2. Sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling buruk dan paling rendah, dan pemiliknya berhak mendapatkan kehinaan.
  3. Sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah, yaitu orang yang sabar dan menganggap kesabarannya karena daya dan upaya Allah dan tawakkal kepada Nya, tapi sabarnya tersebut bukan karena Allah dan bukan karena ingin mengharap kerelaan Nya, karena ia sabar bukan dalam agama Allah. Orang seperti ini akan mendapatkan kesuksesan duniawi dengan kesabarannya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa di akhirat, bahkan akibat mereka bisa sangat buruk. Bahkan kesabaran model ini dimiliki oleh pemuka-pemuka kafir dan Musyrik yang sukses dalam ambisi duniawi mereka, karena sabar mereka adalah dengan daya dari Allah tapi tidak untuk Allah dan tidak pula dalam keinginan Allah yang syar’i.
  4. Tingkatan yang keempat adalah orang yang sabar karena Allah, tapi lemah dalam sabarnya, kurang dalam bertawakkal dan bersandar kepada Allah. Orang seperti ini akan mendapat akibat yang baik, tapi ia lemah dalam mencapai keinginannya, karena ia kurang memaknai faktor dalam surat Al-fatihah “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in” (hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan). Ini adalah tingkatan kesabaran orang-orang mukmin yang lemah.

Maka, sabar dengan Allah adalah keadaannya orang fasiq yang kuat. Dan sabar karena Allah dan dengan Allah adalah keadaan sabarnya orang mukmin yang kuat, dan orang yang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (tapi pada keduanya ada kebaikan, seperti disebutkan di dalam hadits).

Maka, orang yang sabar karena Allah dan dengan (daya dan upaya) Allah adalah sabarnya orang yang mulia dan terpuji, dan orang yang sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, adalah sabarnya orang-orang tercela dan hina, sedangkan sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah adalah sabar orang yang mampu dan kuat tapi tercela, sedangkan sabar karena Allah dan tidak dengan Allah (atau lemah dalam sabarnya dengan Allah) adalah sabarnya orang-orang yang terpuji tapi lemah, sabarnya orang yang lemah imannya.

Batasan Sabar: Apakah Sabar ada Batasnya?

Apakah sabar ada batasnya? Sabar sendiri adalah sifat, dan sifat tidak dapat dinilai kecuali dari pelaku dan pemilik sifat tersebut.

Maka batas kesabaran adalah sejauh mana batas kemampuan seseorang dalam menahan diri untuk tetap bersabar dalam apa saja yang sedang ia hadapi dan lakukan.

Tapi idealnya sabar itu batasnya adalah kematian, karena sabar adalah wajib. Maka, orang yang kuat imannya akan bertahan dan bersabar sampai Allah menentukan kematian untuknya, dengan itu ia akan mendapatkan ganjaran surga yang abadi yang penuh kenikmatan.

Ini seperti kisah keluarga Yasir yang disiksa oleh orang kafir Quraisy karena keimanan mereka kepada Allah, mereka disiksa agar meninggalkan Islam dan kembali kepada kekafiran. Yasir dan Istrinya bersabar dan gugur dijalan Allah karena siksaat yang dahsyat, sedangkan anaknya tidak sabar dan terpaksa harus mengucapkan kalimat kekafiran karena tidak mampu menahan siksa.

Namun Allah maha pengasih dan tidak membebani hamba Nya melebihi kemampuannya. Allah memaafkan orang yang dipaksa seperti kisah Ammar. Namun tentunya pahala orang yang sabar sampai ajal menjemput lebih besar daripada orang yang kesabarannya lemah.

 

Referensi:

  • https://dorar.net/akhlaq/784/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1-%D9%84%D8%BA%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D8%B5%D8%B7%D9%84%D8%A7%D8%AD%D8%A7
  • https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/9297/
  • https://dorar.net/akhlaq/805/%D9%85%D8%B1%D8%A7%D8%AA%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1
Hosting Unlimited Indonesia

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

apakah kafir non muslim termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Jawabannya Ya dan Tidak. Kenapa ya dan kenapa tidak? akan kami jelaskan sesaat lagi pada tulisan ini.

Selama ini, kita atau kebanyakan dari kita, hanya tahu bahwa ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah mereka yang beriman kepadanya, dan ajaran yang dibawanya, dan mati dalam keadaan beriaman. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada beliau bukan termasuk ummat beliau.

Tapi, tahukah Anda bahwa ummat Nabi Muhammad itu terbagi menjadi dua macam, yakni:

1. Ummatu Da’wah (أمة الدعوة)

Ummat dakwah adalah seluruh jin dan manusia, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada seluruh alam (yaitu jin dan manusia), dan ini termasuk semua jenis manusia, baik Arab maupun non Arab, dan apapun kepercayaan dan agama mereka.

Semua adalah ummat Nabi Muhammad dalam artian mereka semua masuk dalam lingkup yang harus disampaikan atau didakwahkan agama Islam oleh Nabi yang mulia Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Dalilnya sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

والذي نفسي بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار. رواه مسلم

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah seorangpun dari ummat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang (kenabian) ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah (islam) yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk ahli neraka.” (HR. Muslim)

Sabda beliau “dari ummat ini” maksdunya adalah ummat dakwah, mereka yang menjadi objek dakwah beliau, yaitu seluruh manusia dan jin.

Maka, dalam kategori ini, orang kafir dan non-muslim adalah termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana mereka dituntut untuk beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Status orang kafir dan non muslim sebagai ummat dakwah Nabi hanyalah di dunia, adapun di akhirat mereka bukan lagi termasuk ummat dakwah, karena sudah tidak ada dakwah di akhirat.

1. Ummatu Ijabah (أمة الإجابة)

Ummat ijabah artinya ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang telah mengijabah (menjawab dan menerima) dan beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Mereka adalah ummat Islam. Mereka adalah ummat Nabi Muhammad yang sebenarnya, yang status mereka sebagai ummat beliau abadi dan melekat baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana sabda beliau:

شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي. رواه أبو داود والترمذي وقال: حسن صحيح غريب. وأحمد، وصححه الألباني

“Syafa’atku akan diperoleh oleh pelaku dosa besar dari ummatku.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi, dishahihkan oleh Al-albani)

Ummat ijabah ini adalah mereka yang akan menyandang status ummat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  ketika setiap ummat berjalan dibelakang pemimpin mereka, ini sebagaimaan dalam hadits:

عرضت علي الأمم فجعل يمر النبي معه الرجل، والنبي معه الرجلان، والنبي معه الرهط، والنبي ليس معه أحد، ورأيت سوادا كثيرا سد الأفق فرجوت أن تكون أمتي، فقيل: هذا موسى وقومه. ثم قيل لي: انظر فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل لي: انظر هكذا وهكذا، فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل: هؤلاء أمتك، ومع هؤلاء سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب. متفق عليه

“Diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada Nabi yang bersamanya seorang pengikut, Nabi bersamanya dua orang pengikut, Nabi bersamanya sekelompok pengikut dan bahkan ada Nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun. Aku melihat pula sekelompok besar yang banyak, yang jumlah mereka menutupi ufuk, ketika itu aku berharap mereka adalah ummatku, lalu dikatakan: ini adalah Musa dan kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku: lihatlah, maka aku melihat sekelompok besar yang banyak menutupi ufuk, kemudian dikatakan pula kepadaku: lihatlah, begini dan begini, maka aku lihat lagi sekelompok besar yang banyak, menutupi ufuk, lalu dikatakan: mereka adalah ummatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika kata “ummat” atau “ummat Nabi Muhammad” disebut maka yang dimaksud adalah ummat Islam, ummat ijabah, kecuali jika ada indikasi lain yang memalingkannya dari makna dasar ini, indikasi itu bisa berupa keterangan setelahnya seperti pada hadits sebelumnya, dan bisa berupa hal lainnya.

Kesimpulan

Menjawab pertanyaan apakah non muslim (orang kafir) termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, maka jawabannya adalah, ya, mereka adalah ummat dakwah beliau.

Status ummat dakwah bagi orang kafir ini hanya sementara di dunia, sedangkan di akhirat mereka bukan lagi ummat dakwah beliau.

Ummat beliau yang hakiki adalah ummat islam, yaitu ummat ijabah. Status mereka sebagai ummat Nabi abadi sampai hari kiamat.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga kita mati sebagai ummat ijabah Nabi Muhammad shallallahu’aihi wa sallam dan mendapatkan syafa’at beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.

 

Referensi: www.islamweb.net

Hosting Unlimited Indonesia

Satu Amalan Rahasia untuk Berbagai Solusi

istighfar dan taubat

Seseorang datang mengadu kepada Iman Hasan Al-Bashri tentang kemarau yang berkepanjangan, ia menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Orang lainnya datang mengadu tentang kefakiran yang ia alami, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian yang lainnya datang dan berkata, “mohonlah pada Allah agar aku diberi anak.”, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian orang lainnya datang mengeluh tentang kebunnya yang tidak mengahasilkan buah, dan beliau tetap menjawab,  “Istighfarlah kepada Allah”

Seseoang berkata bertanya keheranan kepada imam, “engkau didatangi oleh orang-orang dengan masalah yang berbeda-beda, tapi kenapa semua dari mereka engkau perintahkan untuk beristighfar?”.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak mengatakan sesuatu pun dari diriku sendiri, sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman di dalam surat Nuh,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Istighfarlah (mohonlah ampun kepada Tuhanmu), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh : 10-12)

Seseorang bertanya kepada Hasan Al-Bashri Rahimahullah : Tidakkah salah seorang dari kita malu kepada Tuhannya? Kita melakukan dosa, kemudian minta ampun, kemudian melakukan dosa lagi, kemudia minta ampun lagi, dan begitu seterusnya?

Maka  Hasan Al-Bashri menjawab: “Sungguh Syaithan menginginkan agar ia bisa menipu kalian dengan pikiran seperti itu, jangan pernah tinggalkan istighfar!”

Tidak salah lagi! Istighfar (mohon ampun) kepada Allah adalah satu amal yang mudah, tidak butuh energi ekstra untuk berbagai macam solusi.

Maka, jangan sia-siakan waktu luangmu, gunakan ia untuk memperbanyak istighfar dan dzikir. Bahkan seorang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sekalipun, manusia yang telah dijamin masuk surga, dan tanpa dosa, masih beristighfar kepada Allah setiap hari 70-100 kali. Bagaimana dengan kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada Nya, dalam sehari, lebih dari 70 kali ” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai segenap manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena sungguh aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali!” (HR. Muslim)

 

Sumber: https://kalemtayeb.com/safahat/item/36141

Hosting Unlimited Indonesia

”Nabi Seperti Musa” Nubuat Kedatangan Nabi Muhammad dalam Alkitab (Bible) Bag- 2

”Nabi Seperti Musa” Nubuat Kedatangan Nabi Muhammad dalam Alkitab (Bible) Bag- 2

Oleh: Shabir Ally

Menurut Alkitab, Tuhan berkata kepada Nabi Musa:

“Seorang nabi  akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. (Kitab Ulangan 18:18)

Nabi yang dijelaskan dalam ayat diatas harus memiliki tiga kriteria berikut:

  1. Ia akan seperti Musa
  2. Ia berasal dari saudara-saudara bangsa bani Israil (yaitu bani Ismail, kaum Arab)
  3. Tuhan akan meletakkan perkataan-perkataan Nya pada mulut nabi tersebut dan ia akan mengatakan segala apa yang diperintahkan Nya

Mari kita lihat dan analisa, menurut kriteria diatas, nabi mana yang lebih cocok yang dijanjikan oleh Allah pada ayat tersebut:

Kriteria Pertama: Nabi seperti Musa

Sebagian orang merasa bahwa nubuat ini merujuk kepada Nabi Isa (Yesus) ‘alaihissalam (semoga Allah melimpahkannya kedamaian). Tapi, meski beliau benar-benar Nabi Allah, beliau bukanlah nabi yang sedang dibicarakan oleh ayat diatas. Karena, Nabi Isa lahir secara ajaib, tanpa ayah dan pada akhir misi kenabiannya, beliau diangkat oleh Allah ke langit. Disisi lain, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam lah yang lebih mirip seperti Musa. Keduanya lahir seperti manusia umumnya (dengan ayah dan ibu) dan keduanya wafat dengan seperti manusia pada umumnya (dan masih banyak lagi kemiripan Nabi Musa dan Nabi Muhammad, seperti Nabi Muhammad dan Musa sama-sama menjadi pemimpin pemerintahan atas kaumnya, sedangkan Nabi Isa tidak sempat menjadi otoritas sebagai pemimpin Negara dan menurut Alkitab Yesus tidak menikah, sedangkan Nabi Musa dan Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam memiliki istri dan keturunan)

Kriteria Kedua: Dari Antara Saudara-Saudara Mereka

”Mereka” dalam ayat tersebut merujuk kepada bani Israil, maka Nabi yang dijanjikan yang berasal dari  ”saudara-saudara mereka”  berarti Nabi tersebut tidak akan datang dari bani Israil, melainkan dari kaum yang mereka dalah saudara-saudara bani Israil. Lalu, Kaum manakah yang disebut dengan saudara-saudara (brethren) bani Israil tersebut? Mari kita analisa:

Ibrahim memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq (Kitab Kejadian, pasal 21) Ismail menjadi kakek moyang bangsa Arab, sedangkan Ishaq menjadi kakek moyang dari bani Israil. Nabi yang dijanjikan pada ayat tersebut bukan datang dari bani Israil, melainkan dari saudara-saudara mereka, bani Ismail (bangsa Arab). Maka, tidak diragukan lagi, Nabi Muhammad lah Nabi dari anak cucu Ismail yang dijanjika tersebut.

Kriteria Ketiga: Tuhan Akan Meletakkan Perkataan-Perkataan Nya Pada Mulut  Nabi Tersebut

“Tidak satu huruf pun isi wahyu Al-Quran, tidak pula formatnya, yang merupakan hasil pemikiran Muhammad (Shallallahu’alaihiwasallam) Keduanya diberikan oleh Malaikat Jibril (dari Allah) dan tugas Muhammad (Shallallahu’alaihiwasallam) hanyalah menyampaikan apa yang telah ia dengar.” (World Religions from Ancient History to the Present, oleh  Geoffrey Parrinder, hal. 472)

Allah mengutus Malaikat Jibril untuk mengajarkan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam kalimat-kalimat yang persis dan akurat yang harus beliau sampaikan ulang kepada manusia. Oleh karena itu, kalimat-kalimat tersebut bukanlah dari ucapannya sendiri, bukan dari hasil pikirannya sendiri, akan tetapi kalimat yang diletakkan pada mulutnya oleh Malaikat Jibril. Kalimat-kalimat inilah apa yang tertulis di dalam Al-Quran, persis setiap hurufnya, sebagaimana yang datang dan disampaikan oleh Allah.

Sekarang kita telah mengetahui Nabi yang dijanjikan tersebut (adalah Nabi Muhammad) dan kita harus mendengar ucapannya, karena, menurut Alkitab, pada ayat berikutnya, Tuhan berkata:

“Orang yang tidak mendengarkan  segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.” (Kitab Ulangan 18:19)

Sumber: https://www.whyislam.org/comparative-religion-2/what-the-bible-says-about-muhammad-pbuh/

Hosting Unlimited Indonesia

Nabi Muhammad, Mekkah dan Madinah dalam Alkitab (Bible) (Bag. 1)

Nabi Muhammad, Mekkah dan Madinah dalam Alkitab (Bible) (Bag. 1)

Dasar ummat Islam dalam mencari tahu jejak kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam di dalam Al-Kitab (Bible) Kristen dan Yahudi adalah firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

”(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”  (QS. Al-A’raf : 157)

Tidak ada satu Nabi pun yang Allah utus sebelum Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam kecuali mereka diminta sebuah perjanjian agar beriman kepada Nabi akhir zaman, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Ali Imran : 81)

Ibnu Katsir berkata: ”Ali bin Abi Thalib dan anak pamannya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: ”Tidak lah Allah mengutus seorang Nabi pun kecuali Allah mengambil perjanjian kepadanya, yaitu seandainya Nabi Muhammad diutus sedangkan ia masih hidup, maka ia wajib beriman kepadanya dan menolongnya.”

Informasi kedatangan Nabi Akhir zaman Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam juga tidak luput diberikan kepada Nabi Musa dan ’Isa (Yesus) ’Alaihimassalam, dalilnya firman Allah Ta’ala,

Sifat Nabi akhir zaman ini dijelaskan didalam kitab-kitab terdahulu dengan cukup detail sehingga tidak menyisakan ruang untuk keragu-raguan ketika Nabi tersebut diutus, sebagaimana firman Allah,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 146)

Berkata Ibnu Salam (Abdullah bin Salam, seorang sahabat mantan ulama Yahudi di Madinah): ”Sungguh aku telah mengenalnya ketika aku melihatnya seperti aku mengenal anakku sendiri, bahkan pengetahuanku  tentang (ciri dan sifat) Muhammad lebih baik.”  (Tafsir Jalalain)

Sebelum berlanjut ke pembahasan, mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa kita mengutip dan berdalil dengan Al-Kitab sedangkan kita meyakini bahwa Al-Kitab (Bible) saat ini bukanlah Taurat dan Injil yang asli? Kami telah menulis jawaban atas pertanyaan ini pada artikel yang berjudul Kenapa Ummat Islam Sering Mengutip Alkitab dalam Bergumen?

Silahkan dibaca artikel tersebut terlebih dahulu jika Anda belum mengetahuinya, karena itu sangat penting.

Nabi Muhammad, Mekkah dan Madinah dalam Alkitab (Bible) 

Al-Kitab menubuatkan tentang kedatangan seorang Nabi akhir zaman yang akan datang membawa hukum baru bagi ummat Manusia. Kita meyakini Nabi tersebut adalah Nabi Muhammad shallallahu’aihiwasallam. Karena ciri dan sifat Nabi yang akan datang tersebut secara keseluruhannya  hanya cocok pada ciri Nabi Muhammad shallallahu’aihiwasallam.

Pada artikel ini, kita akan membahas secara khusus sifat-sifat Nabi yang termuat pada kitab Yesaya pasal 42. Karena pada pasal 42 Yesaya tersebut dijelaskan sifat dan ciri yang begitu jelas dan sangat cocok untuk Nabi Muhammad. Orang yang tau sejarah Nabi Muhammad shallallahu’aihiwasallam  dengan baik pasti dengan sangat mudah menyimpulkan bahwa ciri pada kitab Yesaya tersebut adalah ciri Nabi Muhammad shallallahu’aihiwasallam.

Berikut ini beberapa ayat yang menggambarkan ciri dan sifat Nabi yang akan datang di akhir zaman:

1.      Nabi Pilihan (Mushtafa), Hamba Allah, dan Habibullah…

Pada ayat Isaiah 42:1 disebutkan,

”Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku  ke atasnya , supaya ia menyatakan hukum  kepada bangsa-bangsa.”  (Isaiah 42:1)

Ayat diatas menyebutkan beberapa ciri Nabi yang akan datang tersebut, yaitu:

  1. ”Hamba Ku”, kita telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam disamping sebagai Nabi selalu menyebutkan dirinya sebagai hamba Allah (’Abdullah)
  2. ”Orang Pilihan” ini adalah salah satu sifat Nabi shallallahu’alaihiwasallam yang dalam bahasa Arab disebut Al-Mushtafa dan Al-Mukhtaar
  3. yang kepadanya Aku berkenan” yang dalam bahasa disebut dengan ”Habibullah” (kekasih Allah)
  4. ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa”, Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang diutus kepada seluruh bangsa. Ini berbeda dengan Nabi dan Rasul sebelumnya yang hanya diutus untuk bangsa tertentu saja, seperti Nabi Musa dan Isa yang hanya diutus untuk Bani Israil

2.      Nyayian Baru, Kedar dan Gurun dan Penduduk Sela (Penduduk Makkah dan Madinah)

”Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN  dan pujilah Dia dari ujung bumi!  Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya  dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Biarlah padang belantara dan kota-kotanya mengangkat suara mereka, desa-desa yang didiami oleh kaum Kedar. Biarlah penduduk Sela bernyanyi dengan sukacita, biarlah mereka bersorak dari puncak gunung-gunung. ” (Yesaya 42:10-11)

Mari kita kupas ciri-ciri pada ayat ini:

”Nyanyian baru” yang akan dinyanyikan oleh Nabi yang dijanjikan itu adalah Al-Quran, karena Al-Quran berisi hukum-hukum baru menggantikan hukum Nabi Musa di dalam Taurat. Selain itu, Al-Quran dilantunkan dengan cara dilagukan (dinyanyikan), dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak melagukan Quran.” (HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Maka dari itu, tidak seperti membaca buku biasa, untuk membaca Al-Quran ada ilmunya tersendiri yang dirangkum dalam ilmu Tajwid dan Ilmu Qiraat.

“Menyaringkan suara” dan “bersorak-sorai” adalah isyarat untuk kumandang adzan, yaitu panggilan untuk melakukan sholat menghadap Allah Ta’ala.

“padang gurun yang didiami Kedar”  ini merujuk kepada penduduk Kota Makkah (Bakkah) karena Makkah terletak di tengah gurun tandus dan kota Makkah berada dilembah yang diapit oleh gunung-gunung batu.

Adapun “Kedar” merujuk kepada kaum arab Quraisy penduduk Makkah anak cucu Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘Alaihimassala, karena Kedar menurut Al-Kitab adalah salah satu anak Nabi Ismail ‘Alaihissalam, seperti yang disebutkan dalam Kitab 1Tawarikh pasal  1:29,

“Inilah keturunan mereka: anak sulung Ismael ialah Nebayot, lalu Kedar, Adbeel, Mibsam,”

Dan juga ayat,

Arab dan semua pemimpin Kedar berdagang anak domba, biri-biri jantan, dan kambing jantan denganmu; dalam hal itulah mereka berdagang denganmu.” (Yehezkiel 27:21)

Adapun “penduduk Sela” adalah penduduk kota Madinah, tempat hijrahnya Nabi dan para sahabat beliau. Sela atau dalam bahasa Arab dieja Sila’ (سلع ) adalah nama sebuah gunung yang terkenal di Madinah dan letaknya tidak jauh dari Masjid Nabawi. Gunung ini sejak dahulu sampai sekarang masih dinamakan dengan gunung Sela.

Peta Gunung Sela (Sila') سلع di Madinah Saudi Arabia yang diebutkan dalam alkitab
Penampakan gunung Sela (sila’) di Madinah melalui Google Maps

Kabilah Yahudi di Madinah

Hal yang menarik untuk dibahas juga adalah keberadaan beberapa suku Yahudi di Madinah saat itu, yaitu suku Bani Quraizhah, Bani An-Nadhir, dan Bani Qainuqa’.

Keberadaan mereka di Madinah menarik karena asal mereka adalah di Syam (daerah Palestina, Syiria dan sekitarnya) adalah daerah peradaban dan pusat ekonomi, sedangkan Madinah yang ada di Jazirah arab adalah tempat para arab dan badui yang berkehidupan keras ala padang pasir.

Menurut sejarah, kabilah-kanbilah Yahudi tersebut Hijrah ke Madinah dalam rangka menunggu kedatangan Nabi yang dijanjikan oleh Allah yang mereka dapatkan cirinya secara jelas tertulis di dalam Taurat.

Seringkali ketika terjadi perselisihan antara kaum Yahudi dan suku Arab yang ada di Madinah, kaum Yahudi sering mengancam orang Arab dengan Nabi yang dijanjikan tersebut, bahwa ketika Nabi tersebut diutus kaum Yahudi akan memerangi (menaklukkan) orang Arab bersama Nabi tersebut. Ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

”Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir (Arab pada saat itu), maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. Al-Baqarah: 89)

3.      Penduduk Makkah Penyembah Patung akan Dikalahkan dan Patung-Patung Berhala akan Dihancurkan

”Orang-orang yang percaya kepada patung pahatan akan berpaling ke belakang dan mendapat malu, yaitu orang-orang yang berkata kepada patung tuangan: “Kamulah allah  kami!” (Yesaya 42:17)

Ini merujuk kepada kekalahan kaum Kafir Quraisy penyembah patung  pada peristiwa pembebasan Makkah (Fathu Makkah) oleh Nabi dan para sahabat nya yang kemudian diikuti oleh berbagai penaklukan-penaklukan lain di seluruh jazirah arab yang notabene penduduknya adalah penyembah patung dan berhala. Makkah berhasil dibebaskan oleh Nabi dan berhala-berhala yang ada disekitar Ka’bah dibersihkan seperti sebelumnya pada masa Nabi Ibrahim dan Ismail.

Sebenarnya ada banyak lagi sifat dan ciri Nabi Muhammad yang merupakan Nabi yang dijanjikan di dalam Al-Kitab, ada puluhan bahkan ratusan yang akan kami bahas pada lain waktu. Ciri ini termasuk ciri karakter, bentuk tubuh, tempat, nasab, orang-orang sekitarnya, bahkan nama beliau juga tertulis. Karena ciri beliau yang sangat banyak dan gamblang di Al-Kitab, sebenarnya kaum Yahudi mengetahui bahwa Nabi tersebut adalah Nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam, bahkan seperti yang Allah katakan, mereka lebih mengenal beliau daripada anak-anak mereka sendiri. Kaum Yahudi enggan mengakui beliau karena kedengkian mereka, karena ternyata Nabi yang diutus tersebut bukan datang dari kaum Yahudi melainkan dari orang Arab keturuanan Ismail ’alaihissalam.

Hosting Unlimited Indonesia

Kenapa Ummat Islam Sering Mengutip Alkitab dalam Bergumen?

Kenapa Ummat Islam Sering Mengutip Alkitab dalam Bergumen

Sebagian orang mungkin akan bertanya, bukankah menurut  Islam, Bible (Al-kitab) baik perjanjian lama maupun perjanjian baru bukanlah Taurat dan Injil asli yang pernah Allah turunkan kepada Nabi Musa dan ’Isa ’Alaihissalam? Lalu kenapa kita sering mengutip dan menggunakan ayat-ayat Al-Kitab untuk membuktikan kebenaran Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, Al-Quran dan Islam? Bukankah ini kontradiksi?

Jawabannya sederhana:

Benar, bahwa menurut Al-Quran, kitab yang ada pada kaum Yahudi dan Nashrani saat ini bukanlah murni 100% kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Isa ’Alaihimassalam. Kitab-kitab tersebut telah mengalami perubahan oleh tangan-tangan penulisnya, baik sengaja maupun tanpa sengaja.

Perubahan ini terjadi secara bertahap seiring berlalunya masa dengan motif yang beragam.

Ketidak aslian Al-Kitab tidak hanya diklaim oleh Islam, melainkan juga diklaim oleh ilmuan-ilmuan Al-Kitab dan ahli sejarah yang telah meneliti Al-Kitab secara ilmiah dan dengan bukti-bukti. Diantara sarjana Al-Kitab modern yang telah membuktikan ketidak aslian Al-Kitab melalui studi ilmiah yang komprehensif adalah Bart D. Ehrman. Dia awalnya adalah seorang Kristen fundamentalis, tapi  kemudian memilih untuk menjadi seorang Agnostic Atheist setelah meneliti Al-Kitab melalui Studi Kritik Teks Al-Kitab. Dari hasil penelitiannya tersebut, ia menjadi yakin bahwa tingkat kontradiksi dan ketidak sesuaian manuskrip-manuskrip Al-Kitab satu sama lain cukup parah sehingga tidak mungkin untuk dicocokkan dan disingkronkan.

Meskipun begitu, kita percaya meskipun Al-Kitab telah mengalami perubahan dan tidak murni firman Tuhan, tapi kita masih bisa melacak sisa-sisa kebenaran didalam kitab-kitab tersebut. Ini seperti sebagian bangunan kuno yang telah runtuh dan pupus dimakan zaman, namun sebagian pondasi, tiang-tiang atau reruntuhannya masih tersisa dan dapat kita jadikan sebagai bahan penelitian dan perbandingan.

Oleh karena itu, meski Allah menegaskan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah merubah isi Kitab mereka, tapi Allah kerapkali memerintahkan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) untuk merujuk kepada kitab mereka untuk menegaskan kebenaran Islam dan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam seperti mengenai perkara Tauhid dan sebagian hukum.

Maka, posisi Islam dalam menyikapi berita-berita yang ada pada Al-kitab adalah:

  1. Dibenarkan jika suatu berita atau ayat sesuai dengan apa yang terkandung didalam Al-Quran maupun Hadits, seperti ayat-ayat tentang Tauhid yang memerintahkan untuk hanya menyembah Tuhan yang Esa.
  2. Tidak dibenarkan jika jika suatu berita atau ayat bertentangan dengan kandungan Al-Quran maupun Hadits,seperti ayat-ayat tentang trinitas, kematian Isa (Yesus) di tiang salib dll.
  3. Netral, tidak dibenarakan dan tidak pula didustakan (tawaqquf) jika suatu ayat atau berita tersebut tidak tidak terdapat di dalam Al-Quran ataupun Hadits. Tapi berita jenis ini boleh untuk diutarakan dengan syarat menjaga posisi kita agar netral, tidak membenarkan maupun mendustakannya, karena tidak ada ayat Al-Quran ataupun Hadits Nabi yang bisa kita jadikan sebagai tolak ukur benar atau tidaknya berita tersebut. Tidak boleh didustakan karena bisa jadi berita tersebut benar sehingga kita telah mendustakan sesuatu yang benar, demikian juga sebaliknya.

Tiga posisi ummat Islam dalam menyikapi berita dari Al-Kitab tersebut masuk akal, karena bagi kita Al-Quran adalah patokan dan barometer kebenaran dan alah satu nama Al-Quran adalah  Muhaimin (patokan) karena ia merupakan patokan atas kitab-kitab sebelumnya. Karena Al-Quran datang sebagai kitab terakhir yang dijaga oleh Allah dari perubahan dan pemalsuan.

Maka tidak ada kontradiski jika muslim mengutip Al-Kitab meskipun kita yakin sebagian besar isinya telah mengalami perubahan. Karena kita mengutip apa yang kita yakini sebagai sisa-sisa jejak kebenaran di dalamnya, yang sesuai dengan misi Al-Quran dan seluruh Nabi-Nabi.

Hosting Unlimited Indonesia