Satu Amalan Rahasia untuk Berbagai Solusi

istighfar dan taubat

Seseorang datang mengadu kepada Iman Hasan Al-Bashri tentang kemarau yang berkepanjangan, ia menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Orang lainnya datang mengadu tentang kefakiran yang ia alami, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian yang lainnya datang dan berkata, “mohonlah pada Allah agar aku diberi anak.”, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian orang lainnya datang mengeluh tentang kebunnya yang tidak mengahasilkan buah, dan beliau tetap menjawab,  “Istighfarlah kepada Allah”

Seseoang berkata bertanya keheranan kepada imam, “engkau didatangi oleh orang-orang dengan masalah yang berbeda-beda, tapi kenapa semua dari mereka engkau perintahkan untuk beristighfar?”.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak mengatakan sesuatu pun dari diriku sendiri, sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman di dalam surat Nuh,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Istighfarlah (mohonlah ampun kepada Tuhanmu), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh : 10-12)

Seseorang bertanya kepada Hasan Al-Bashri Rahimahullah : Tidakkah salah seorang dari kita malu kepada Tuhannya? Kita melakukan dosa, kemudian minta ampun, kemudian melakukan dosa lagi, kemudia minta ampun lagi, dan begitu seterusnya?

Maka  Hasan Al-Bashri menjawab: “Sungguh Syaithan menginginkan agar ia bisa menipu kalian dengan pikiran seperti itu, jangan pernah tinggalkan istighfar!”

Tidak salah lagi! Istighfar (mohon ampun) kepada Allah adalah satu amal yang mudah, tidak butuh energi ekstra untuk berbagai macam solusi.

Maka, jangan sia-siakan waktu luangmu, gunakan ia untuk memperbanyak istighfar dan dzikir. Bahkan seorang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sekalipun, manusia yang telah dijamin masuk surga, dan tanpa dosa, masih beristighfar kepada Allah setiap hari 70-100 kali. Bagaimana dengan kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada Nya, dalam sehari, lebih dari 70 kali ” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai segenap manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena sungguh aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali!” (HR. Muslim)

 

Sumber: https://kalemtayeb.com/safahat/item/36141

Hukum-Hukum Seputar I’tikaf

hukum seputar itikaf

RINGKASAN HUKUM SEPUTAR I’TIKAF

1. Makna I’tikaf

I’tikaf adalah menetap pada sesuatu, maka disebut orang yang menetap dimasjid untuk melaksanakan ibadah orang yang beri’tikaf (al-misbahul munir 2/424)

2. Anjuran untuk I’tikaf

I’tikaf hukumnya adalah Sunnah pada bulan Ramadhan, berdasarkan pada hadis Abu Hurairoh -radiyallahu ‘anhu- : “ bahwasanya Rasulullah ﷺ melakukan I’tikaf pada setiap kali  Ramadhan selama 10 hari, dan di tahun kewafatan beliau, beliau ﷺ I’tikaf dua puluh hari” (al-Bukhori: 2044)

Dan waktu yang paling utama untuk  melaksanakan I’tikaf  adalah pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan

3. I’tikaf  hanya SAH di masjid

Allah -’azza wajalla-  berfirman:

{ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد}

“Dan janganlah kalian menggauli mereka (para istri) sedangkan kalian beri’tikaf di masjid” (al-Baqoroh: 187)

Jumhur ulama’ (manyoritas) berpendapat bahwa I’tikaf boleh dilakukan di semua masjid, dengan adanya beda pendapat diantara mereka tentang apakah disyaratkan nya masjid jami’ atau tidak, hal ini berdasarkan pada keumuman firman Allah -’azza wajalla-  diatas (di masjid-masjid)

4. Hukum I’tikaf bagi wanita

Wanita juga disyari’atkan (dianjurkan) I’tikaf, tetapi ada dua syarat yang harus terpenuhi

Yang pertama, dapat izin dari suami nya (jika sudah punya suami), karena seorang wanita tidak dibolehkan keluar rumah kecuali telah diizinkan suami nya

Yang kedua, tidak menimbulkan fitnah (godaan)  bagi laki-laki, jika dengan dia beri’tikaf menimbulkan fitnah maka tidak dibolehkan

5. Apakah I’tikaf disyaratkan berpuasa?

Ada dua pendapat dalam masalah ini:

Pertama, menyarakan harus berpuasa dan pendapat kedua tidak mensyaratkan puasa. Tapi, yang benar  puasa bukanlah syarat namun, disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk berpuasa

6. Waktu paling minimal untuk I’tikaf

Manyoritas ulama’ berpendapat, tidaklah ada batasan minimal pada waktu I’tikaf, da nada yang mengatakan waktu minimalnya adalah sehari semalam, dan ada yang mengatakan tiga hari, sepuluh hari….

Tetapi, yang paling tepat, waktu minimal nya adalah semalam, berdaasarkan hadis ‘Umar –radiyallahu ‘anhu- , bahwa Nabi ﷺ memerintahkan nya untuk melaksanakan nadzarnya, maka Umarpun beri’tikaf

7. Kapan ia memulai I’tikaf dan mengakhiri nya ?

Bagi siapa yang berniat I’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, maka disunnahkan mulai masuk beri’tikaf dipagi hari setelah sholat subuh, yaitu pada hari ke dua puluh satu, beginilah yang dilakukan Nabi ﷺ

‘Aisyah –radiyallahu ‘anha-  menceritakan: “bahwa Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh terkhir Ramadhan, maka aku memasang kemah untuk belia, lalu beliau sholat subuh kemudian memasuki kemah beliau”

Mengenai hadis diatas, jumhurul ulama’ mebawakan nya bahwa, sebenarnya Nabi sudah mulai I’tikaf dari malam hari, kemudian barulah belia masuk kemahnya dipagi hari, sehingg jumhur berpendapat, bahwa I’tikaf dimulai semenjak malam hari (pada malam ke 21), dan yang menguatkan pendapat pertama (I’tikaf dimulai pada pagi hari di hari ke 21), adalah  hadis Abu sa’id -radiyallahu ‘anhu-  : “kami pernah beritikaf bersama Rasulullah ﷺ pada sepuluh pertengahan Ramadhan, maka kami keluar di pagi hari di hari ke dua puluh” (al-Bukhari: 2036)

Disitu dijelaskan, bahwa Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh hari tengah Ramadhan, lalu beliau keluar darinya di pagi hari pada hari ke dua puluh, yang berarti beliau mulai masuk pada pagi hari di hari ke sepuluh (bukan malam nya), wAllah -’azza wajalla- u a’lam.

Adapun waktu keluarnya, jika mengikuti mazhab pertama maka dia keluar di pagi hari di hari raya ‘idul fitri. Adapun, menurut madzhab yang kedua, maka dia keluar dari I’tikafnya setelah terbenam nya matahari pada hari terakhir Ramadhan

8.  Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

1. Keluar masjid tanpa ada ‘udzur syar’I dan bukan karena suatu kebutuhan yang mendesak

Maka tidaklah boleh keluar kecuali memang mengharuskan untuk keluar, dan tidak meungkin kan melakukan nya di masjid  seperti, mencari makanan bagi yang tidak ada yang menyediakan makanan untuk nya, atau untuk buang hajat, ataupun mandi junub, maka ini adalah udzur syar’i

Berkata ‘Aisyah -radiyallahu ‘anha-  : “adalah Rasulullah ﷺ memasukkan kepala belia (ke rumah) dan beliau tetap berada di dalam masjid, namun tidaklah beliau masuk ke rumah kecuali jika ada kebutuhan” (al-Bukhari 2029, Muslim : 297)

Adapun jika dia syaratkan untuk kebutuhan tertentu, seperti menlayat jenazah, atau bekerja di siang hari, maka kebanyakan ulama’ mengatakan, syart ini tidak berarti, dan tetap membatalkan I’tikaf nya jika keluar dari masjid.

Namun, berkata as-Tsaury , Syafi’I, Ishak dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad: “bahwa jika dia mensyaratkan hal tersebut dari awal dia memulai I’tikafnya maka, tidaklah batal I’tikaf nya jika dia keluar masjid (untuk apa yang sudah dia syaratkan)

2. Jima’  

Apabila ada orang yang menggauli istrinya pada farjinya dalam keadaan sengaja dan tidak lupa maka, dengan kespakatan ulama’ hal ini dapat membatalkan I’tikaf, berdasarkan firman Allah -’azza wajalla- :

{ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد}

“Dan janganlah kalian menggauli mereka (para istri) sedangkan kalian beri’tikaf di masjid” (al-Baqoroh: 187)

9. Hal-hal yang boleh dilakukan oleh orang yang sedang i’tikaf

  • Keluar dari masjid untuk kebutuhan yang mendesak, seperti mencari makanan bagi yang tidak ada yang menyediakan makanan untuk nya, atau untuk buang hajat, ataupun mandi junub, maka ini adalah udzur syar’i
  • Melakukan perkara-perkara yang mubah, seperti mengantarkan tamu nya bersamanya sampai pintu masjid, atau ngobrol dengan teman nya
  • Istri mengunjungi suami nya yang sedang I’tikaf, dan berdua-duaan bersama nya

Tiga perkara ini, diambil dari hadis Shofiya -radiyallahu ‘anha-  :

“Bahwa beliau dating ke masjid untuk mengunjungi Rasulullah ﷺ pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, aku pun ngobrol dengan beliau ﷺ beberapa saat kemudian beliau (shofiyah) beranjak pulang, maka Nabi ﷺ juga berdiri untuk mengantar nya sampai ke pintu masjid” (Al-Bukhari: 2035, Muslim: 2175)

  • Mandi dan berwudhu’ di masjid
  • membuat kemah di sudut masjid
  • membawa kasur atau tempat tidur ke masjid
  • meminang atau melaksanakan akad nikah
  • boleh nya bagi wanita yang mengalami istahadhoh (darah selain haid dan nifas), dan hendaklah ia berhati-hati, jangan sampai mengotori masjid, juga dibolehkan bagi nya untuk keluar masjid dalam rangka membersihkan diri.

‘Aisyah -radiyallahu ‘anha-  menceritakan : “ada salah seorang wanita dari istri Nabi ﷺ sedang istihadhoh  yang beri’tikaf bersama beliau ﷺ  maka dia melihat kemerah kekuning-kuningan , dan terkadang kami meletakkan bejana dibawah nya sedang dia melaksanakan sholat” (al-Bukhari: 2037, Muslim 2476)

10. Apakah wanita yang sedang mengalami menstuasi boleh beri’tikaf?

Permasalahan ini dibangun atas dua pembahasan, pertama: apakah beri’tikaf disyaratkan harus berpuasa?, kedua: apakah wanita yang haid boleh masuk masjid?

Bagi ulama’ yang mesyaratkan harus puasa, maka dia tidak membolehkan wanita haid untuk I’tikaf, karena dia tidak boleh puasa, demikian juga bagi ulama’ yang mengharamkan wanita haid masuk masjid, maka mereka tidak membolehkan nya untuk I’tikaf

Perhatian: wanita yang ikut I’tikaf di masjid, hendak nya dia menutup diri nya dengan sesuatu, karena para istri-istri Nabi ﷺ ketika mereka hendak I’tikaf di masjid mereka diperintahkan untuk membuat kemah-kemah mereka. Tentu dimasjid banyak laki-laki,maka merupakan kebaikan untuk mereka dan para wanita agar mereka tidak saling melihat, dan jika wanita disediakan tempat tersendiri dari bagian masjid maka, ini lebih afdhol.

11. Diantara adab adab i’tikaf

Disunnahkan bagi orang yang sedang beri’tikaf untuk menyibukkan dirinya dengan keta’atan-keta’atan kepada Allah -’azza wajalla- , seperti: sholat, baca al-Quran, mengingat Allah -’azza wajalla-  (dzikir), mohon ampunan (istighfar), berdo’a dan sholawat kepada Nabi ﷺ, membaca tafsir al-Quran dan mempelajari hadis serta yang semisal nya.

Makruh hukum nya untuk menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang tidak berguna baik ucapan atau perbuatan, atau dia menjadikan tempat I’tikaf sebagai tempat untuk bercengkrama, atau menarik para pengunjung, dan memanfa’atkan nya untuk ajang berbincang-binjang dan ngobrol bersama dengan teman-teman nya, maka ini adalah sebuah nuansa, sedangkan I’tikaf Nabi ﷺ nuansa yang lain (sangat berbeda antara kedua nya)

*dirangkum dari kitab “Shohih fiqih sunnah” (2/150-158)

Diterjemahkan oleh al-‘Abdul Faqiir ila ‘afwi Rabbih @MTH

Adalah seorang penuntut ilmu yang saat ini mengajar di salah satu pesantren di Batam, Beliau pernah belajar dan menyelesaikan program S1 di LIPIA, Jakarta selama 5 tahun.

Kesalahan-Kesalahan Pada Malam Lailatul Qodr

kesalahan pada malam lailatul qadr

Oleh: Syaikh Masyhur bin Hasan alu Salman –Hafizhohullah-

Pengalih bahasa: Abu salman MTH -waffaqohullah-

Kesalahan ini kita bagi menjadi dua bagian:

bagian pertama:

Kesalahan dalam beranggapan dan berkeyakinan, diantaranya:

Keyakinan banyak orang bahwa malam lailatul Qodr memiliki tanda-tanda yang didapati oleh sebagian ahli ibadah, mereka merangkai khurofat-khurofat seputar itu, mereka menklaim bahwa mereka melihat adanya cahaya dari langit, atau terbukanya celah dilangit, dst…

Semoga Allah merhmati alhafizh Ibnu Hajr, beliau menyebutkan dalam kitab (al-Fath) (4/266) : “hikmah disembunyikannya malam lailatul qodr adalah agar tercapai  kesungguhan (dalam melaksanakan ibadah)  untuk mencarinya, berbeda kalau ia ditampakkan maka (orang-orang)  akan  mencukupkan diri dengan malam tesebut (saja)”.

Kemudian beliaupun menukilkan dari at-Thonbari , beliau berpendapat bahwa seluruh tanda-tanda tersebut bukanlah sesuatu yang pasti, tidaklah disyaratkan ketika menemuinya harus mendengar atau melihat sesuatu, dan beliau berkata: “dirahasiakannya malam lailatul Qodr merupakan dalil akan dustanya orang-orang yang menganggap bahwa pada malam tersebut ada yang ditampakkan kepadanya  sesuatu yang tidak pernah terjadi diseluruh tahun-tahun yang lain, karena jika betul begitu maka tidaklah dia samar bagi orang yang bangun dimalam-malam sepanjang tahun, terlebih dimalaam ramadhan”.

 

[BENARKAH MALAM LAILATUL QODR SUDAH DIANGKAT?]

Adapun, ucapan mereka bahwa lailatul Qodr sudah diangkat (tidak akan pernah terjadi lagi) sebagaimana yang dibawaakan oleh mutawalli  as-Syafi’I  dalam kitab nya (at-Tatimmah) dari Rofidhoh, dan dinukilkan oleh al-Fakihani dalam (syarah al-’umdah) dari Hanafiyah!!, maka ini merupakan anggapan  yang keliru, dan kesalahan yang fatal yang dibangun atas pemahaman yang salah dari hadis Nabi ﷺ : ketika ada dua orang bertengkar di lailatul Qodr bahwa beliau ﷺ bersabda  “ia telah diangkat”  (*)

 

 Bantahan atas pendalilan yang salah ini dari dua sisi:

Pertama, Ulama’ mengatakan: maksud dari kata (diangkat) diatas yaitu diangkat dari hatiku, maka aku lupa tentang kepastiannya  karena disibukkan dengan dua orang yang berseteru, dan ada juga yang  mengatakan bahwa,  maknanya adalah: diangkat keberkahan nya pada malam tersebut (karena perseteruan), dan bukanlah maknanya dicabut keberadaannya sama sekali. dan dalilnya adalah hadis dalam mushonnaf ‘Abdurrazzaq (4/252) dari ‘Abdu bin yahnas berkata: aku berkata kepada abu hurairah  -radiyallahu ‘anhu-  : mereka menklaim bahwa malam lailatul Qodr sudah diangkat, beliau mengatakan: “dusta orang yang mengatakan demikian”

Yang kedua, keumuman hadis-hadis yang padanya terdapat anjuran untuk sholat pada malam tersebut, juga menjelaskan keutamaannya, seperti yang dibawakan al-Bukhori dan yang lainnya dari sabda Nabi ﷺ :

(( من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه (( .

 “barang siapa yang berdiri (untuk sholat) pada malam lailatul Qodr dengan penuh keimanan dan mengharapkan ganjaran maka diampuni dosanya yang telah berlalu”

Berkata an-Nawawi: “ketahuilah bahwa lailatul Qodr dia itu ada dan dapat dilihat, akan berjumpa dengannya siapa saja yang Allah kehendaki dari anak adam pada setiap tahunnya dalam bulan ramadhan, sebagaimana telah banyak yang menunjukkan akan hal ini hadis-hadis dan berita dari orang-orang sholih bahwa mereka melihatnya sudah tidak terhitung jumlahnya”.

Saya Masyhur Hasan Salman berkata: “betul, malam lailatul Qodr memungkinkan untuk dilihat, sungguh begitu banyak tanda-tanda yang dikabarkan oleh beliau bahwa ia terdapat disalah satu malam dibulan ramadhan, dan sepertinya inilah yang dimaksud dari ucapan ‘Aisyah -radiyallahu ‘anha – dalam sunan at-Tirmidzi dan ia menshohihkannya- wahai Rasullallah “bagaiman pendapatmu jika aku mendapatkan malam lailatu qodr, apa yang aku ucapkan?” Pada hadis ini –sebagaimana yang dikatakan as-Syaukani dalam “nailul author” (4/303): “ia merupakan dalil bahwa lailatul qodr bisa dikenali dan dia senantiasa  ada”

Berkata az-Zarqoni dalam “syarah” ‘alal muwatho’’ (2/491) : “ Barang siapa yang mengira bahwa makna dari hadis diatas bahwa tidak ada lagi malam lailatul Qodr maka dia telah salah, kalaulah benar demikian, maka tidaklah beliau memerintahkan untuk memerintahkan nya”. Menguatkan nya lagi lanjutan dari hadis tersebut: “dan semoga ini yang terbaik bagi kalian”, karena dengan tersembunyi nya keberadaan lailatul Qodr mendorong kita untuk bangun pada seluruh malam, berbeda jika malam tersebut telah diketahui secara pasti.

Lailatu Qodr itu senantiasa ada sampai hari kiamat,walaupun secara pastinya tidak diketahui dengan kepastian yang menghilangkan kerumitan, walaupun yang lebih kuat bahwa keberadaan nya adalah pada sepuluh malam terakhir, dalil-dalil menguatkan bahwa ia berada pada malam ke dua puluh tujuh, akan tetapi untuk memastikan nya secara yakin adalah perkara yang sulit, wallahu a’lam.

bagian kedua,  adalah bagian kesalahan pada sikap dan perbuatan

Hal-hal yang terjerumus padanya banyak manusia dimalam lailatul Qodr adalah banyak sekali, hampir tidak ada yang selamat kecuali siapa yang dijaga oleh Allah darinya, diantara hal itu:

 

Mencari dan mengecek keberadaannya dan disibukkan dengan mengintai tanda-tandanya dari beribadah dan melakukan keta’atan padanya.

Betapa banyak kita melihat diantara para jama’ah sholat dia disibukkan dengan hal ini dari membaca al-Quran , dzikir dan ilmu, maka engkau dapati yang sholeh diantara mereka sebelum terbit dia mengintai lempengan mentari, untuk melihat apakah ia memiliki cahaya atau tidak?

Maka hendaklah mereka tadi untuk berhenti, diantara dalil yang telah datang dari Nabi ﷺ : “semoga ia sebagai kebaikan untuk kalian”, padanya terdapat isyarat bahwa tidak ada ketentuan nya, para ahli ilmu yang mengambil istinbath dari ucapan Nabi ﷺ ini berkata: “hikmahnya adalah agar para hamba bersungguh-sungguh dan lebih memperbanyak amalan padanya dibandingkan malam-malam yang lainnya, dengan harapan bertepatan dengan malam tersebut, akan berbeda kalau dia telah ditentukan maka (orang-orang) akan mengkhususkan beramal yang banyak hanya pada satu malam saja, maka dia luput mengerjakan amalan dimalam yang lainnya, ataupun amalan nya akan berkaurang. dan ada juga ulama yang menyimpulkan, bahwa sebaiknya bagi siapa saja yang mengenali nya untuk merahasiakan nya, dalilnya bahwa Allah mentaqdirkan kepada Nabi ﷺ untuk tidak mengkhabarkan tentang keberadaan nya, dan  kebaikan itu seluruhnya ada pada apa yang terjadi pada Nabi ﷺ maka disunnahkan untuk mengikuti beliau pada masalah ini.

Maka dari penjelasan diatas diketahui kesalahan yang dilakukan oleh banyak orang, diamana mereka bersemangat berupa qiyam dan ibadah secara umum  pada malam 27, mereka begitu yakin atau hamper yakin, bahwa mereka mendapatkan malam lailatul Qodr, kemudian mereka meninggalkan qiyam dan semangat dalam ibadah pada malam-malam yahng lainnya, mereka berprasangka bahwa mereka telah mendapatkan pahala ibadah melebihi 1000 bulan dengan menghidupkan satu malam ini saja.

Oleh sebab kesalahan ini, membuat kebanyakan manusia berlebih-lebihan dalam keta’atan dimalam ini, engkau lihat mereka tidaklah tidur dan bahkan tidak henti-henti dari melaksanakan sholat, dengan melawan diri agar tidak tidur, dan sebagian mereka ada yang sholat dan memanjangkan shollatnya sedang dia menahan dengan sekuat tenaga rasa kantuknya, dan diantara mereka ada yang kita saksikan tertidur dalam sujudnya

Dan hal ini menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ karena adalanya larangan beliau untuk melakukan hal itu, ini satu sisi, dan sisi kedua,  bahwa ia merupakan kepayahan dan kesusahan yang telah diangkat dari ummat ini –Alhamdulillah.

Diantara kesalahan juga dimalam ini adalah (sebagian orang) disibukkan dengan mengadakan acara-acara perayaan perayaan, dan membuat pidato-pidato dan kultum-kultum, dan diantara mereka disibukkan dengan nasyid  tentang  keta’atan- keta’atan dan qurubat

engkau dapati sebagian mereka yang bersemangat untuk hal ini ia berkeliling ke masjid-masjid untuk menyampaikan berita terhangat, dan mengemasnya dengan tampilan yang mengeluarkan malam ini dari tujuan nya yang syar’i, yang mana atas itulah dia disyari’atkan dan adanya. Dan termasuk kesalahan mereka adalah mengkhususkan sebagian ibadah padanya, seperti sholat yang khusus untuknya.

Catatan syaikh masyhur bin Hasan alu Salman –semoga Allah memberinya taufiq- pada kitab ‘az-zand alwari syarah shohih al-bukhori milik Taqiyuddin al-Hilali” (1/230-233)

 

 

(*)  lengkapnya sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori berikut ini

عن عبادة بن الصامت] أنَّ رَسولَ اللَّهِ ﷺ خَرَجَ يُخْبِرُ بلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاحى رَجُلانِ مِنَ المُسْلِمِينَ فَقالَ: إنِّي خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بلَيْلَةِ القَدْرِ، وإنَّه تَلاحى فُلانٌ وفُلانٌ، فَرُفِعَتْ، وعَسى أنْ يَكونَ خَيْرًا لَكُمْ، التَمِسُوها في السَّبْعِ والتِّسْعِ والخَمْسِ.

Dari ‘Ubadah bin Shomit, Bahwa Nabi ﷺ dating ingin memberitakan tentang lailatul Qodr, lalu ada dua orang dari kalangan muslim saling berseteru lalu Nabi ﷺ bersabda: sungguh aku dating ingin mengabarkan kepada kalian tentang (waktu) lailatul Qodr, namun fulan dengan fulan berseteru, maka ia telah diangkat, dan semoga ini yang terbaik bagi kalian, maka carilah ia pada malam ke 27, 29 dan 25 (diriwayatkan oleh al-bukhori : 49)

Adalah seorang penuntut ilmu yang saat ini mengajar di salah satu pesantren di Batam, Beliau pernah belajar dan menyelesaikan program S1 di LIPIA, Jakarta selama 5 tahun.

Benarkah Rokok Tidak Membatalkan Puasa?

Benarkah Rokok Tidak Membatalkan Puasa

Sebelum membahas apakah menghisap rokok dapat membatalkan puasa atau tidak, terlebih dahulu sangat penting bagi kita untuk memahami tujuan dan hikmah dari puasa itu sendiri, sehingga kita tidak terjebak dengan berbagai retorika yang berbelit karena kita tahu peta dan arah tujuannya.

Hikmah dan tujuan puasa adalah untuk menggapai dan menebalkan taqwa kepada Allah, sebagaimana firman Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183)

Inti dari puasa yang merupakan cara untuk menggapai takwa adalah mengendalikan diri dan hawa nafsu dari hal-hal yang diinginkan dan disukai nafsu, seperti makan, minum, jima’ dan lainnnya.
Saat berpuasa kita diperintahkan untuk menahan diri dari hal-hal yang pada dasarnya boleh, seperti makan, minum dan hubungan suami istri. Ini seperti latihan agar kita lebih mudah untuk mengontrol diri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang haram karena kita telah terlatih mengontrol diri dari hal-hal yang halal di bulan Ramadhan. Inilah inti dari taqwa, yaitu mengerjakan perintah dan menahan diri dari larangan Allah Ta’ala.

Benarkah Rokok Tidak Membatalkan Puasa?

Setelah kita mengetahui gambaran besar dari puasa seperti ulasan diatas, maka sudah dapat ditebak bahwa rokok termasuk hal-hal yang dapat membatalkan dan merusak puasa seseorang. Rokok bertentangan dengan tujuan puasa yaitu pengendalian atau kontrol diri baik dari hal-hal yang halal seperti makan dan minum, lebih-lebih dari hal yang haram seperti rokok.

kandungan berbahaya pada rokok
kandungan berbahaya pada rokok

Diantara hal-hal yang membatalkan puasa yang disebutkan oleh para ulama adalah measukkan suatu benda  kedalam rongga pencernaan, dan merokok adalah tindakan memasukkan benda yang berupa partikel-partikel kecil yang berbahaya kedalam rongga sehingga ia tidak hanya membatalkan puasa tapi juga merupakan perbuatan haram karena rokok membahayakan diri dan termasuk bunuh diri secara perlahan, Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tidak hanya itu, merokok juga merupakan tindakan mubadzir, perbuatan sia-sia, membahayakan diri dan orang lain yang semuanya ini adalah perbuatan haram.
Kesimpulannya jelas bahwa merokok dapat membatalkan puasa dan juga melanggar kehormatan bulan Ramadhan dengan melakukan hal haram lebih-lebih jika dilakukan secara terang-terangan. Dan bagi Anda yang perokok, bulan Ramadhan adalah kesempatan yang baik untuk meninggalkan kebiasaan buruk merokok dan beralih kepada kebiasaan hidup yang lebih sehat dan juga tidak menjadi teladan yang buruk bagi generasi dan anak cucu Anda kelak.

Hukum Menikah di Bulan Ramadhan, Bolehkah?

Menikah di Bulan Ramadhan, Bolehkah

Sebenarnya, tidak ada larangan dalam Syari’at Islam untuk menikah dan melangsungkan akad nikah di bulan Ramadhan, demikian pula tida ada larangan menikah di bulan-bulan lainnya. Bahkan boleh hukumnya menikah pada hari apa saja sepanjang tahun.

Akan tetapi, seseorang yang berpuasa dilarang makan, minum dan juga jima’ (behubungan badan) semenjak terbit fajr sampai terbenam matahari karena hal-hal tersebut merupakan tindakan yang membuat puasa batal. Jika seseorang merasa mampu untuk mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak puasanya, maka tidak mengapa baginya untuk melangsungkan akad nikah di bulan Ramadhan.

Tapi, pada umumnya orang yang ingin membina rumah tangga di bulan Ramadhan, tidak sanggup bersabar dengan istri barunya sepanjang hari, dikhawatirkan ia terjerumus kepada hal yang haram dan melanggar kehormatan bulan yang agung ini sehingga ia terjatuh kedalam dosa besar.

Ketahuilah bahwa orang yang berjima’ di siang hari bulan Ramadhan, ia diwajibkan mengganti (qadha) puasanya disertai dengan kaffarah yang berat (mughallazhah) yaitu; memerdekakan budak, jika tidak ada, ia wajib berpuasa selama dua bulan berturut turut, dan jika tidak mampu, ia harus memberi makan 60 orang miskin. Demikian itu untuk setiap hari ia melakukan jima’, jika ia mengulangi perbuatannya, maka berlaku kelipatan sesuai jumlah hari yang ia langgar.

Maka disarankan bagi orang yang ingin menikah yang merasa tidak mampu menahan diri, agar menunda pernikahannya setelah bulan Ramadhan berlalu dan memanfaatkan momen bulan Ramadhan untuk meningkatkan iman dan taqwanya dengan memperbanyak ibadah dan amal sholeh, dengan memperbanyak sholat-sholat sunnah, membaca Quran, menuntut ilmu, bersedekah dan ibadah-ibadah lainnya.

Wallahu ‘Alam.

Referensi: https://islamqa.info

Hukum Sholat Dua Rakaat Ringan Sebelum Sholat Tarawih

Hukum Sholat Dua Rakaat Ringan Sebelum Sholat Tarawih

Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili -hafizhohullah- ditanya tentang hukum sholat dua rakaat sebelum shalat tarawih.

هل تُشرع ركعتان خفيفتان قبل التراويح كما تُشرع قبل التهجد؟

Apakah dua rakaat ringan yang dilaksanakan sebelum sholat tarawih disyariatkan sebagaimana disyariatkan sebelum sholat tahajjud?

Kemudian beliau menjawab:

النبي ﷺ كان يستفتح قيامه بركعتين خفيفتين، وصلاة التراويح قيام

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka Qiyamul Lail-nya dengan dua rakaat ringan. Dan sholat tarawih juga bagian dari Qiyamullail.

يشرع لك أن تصلي قبل التراويح ركعتين خفيفتين لأمرين
1- أن النبي ﷺ كان يستفتح القيام بركعتين خفيفتين.
2- سنة العشاء.

Disyariatkan bagimu untuk sholat dua rakaat sebelum melakukan sholat tarawih disebabkan dua perkara:

Pertama: Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka sholat malamnya dengan dua rakaat ringan.

Kedua: Karena dua rakaat tersebut bagian dari sunnah Isya’.

أنت تصلي التراويح بعد العشاء، و العشاء له سُنة راتبةٌ بعديةٌ، ولا نعرف دليلاً على إسقاطها في رمضان

Engkau mengerjakan sholat tarawih setelah sholat isya, sedangkan Isya memiliki sholat sunnah rotibah ba’diyyah. Dan kami tidak mengetahui adanya dalil yang menggugurkan Sholat sunnah tersebut di saat Ramadhan.

فأنت تصلي ركعتين قبل التراويح سُنةً من جهتين: من جهة افتتاح القيام، و من جهة سُنة العشاء

Engkau sholat sunnah dua rakaat sebelum sholat tarawih karena dari dua sisi; dari sisi pembukaan untuk qiyamul lail, dan dari sisi kedudukannya sebagai sunnah sholat (ba’diyah) isya.

شرح كتاب الصيام من منار السبيل

Syarh Kitabis Shiyaam Min Manaris Sabil.

Diterjemahkan dari Channel Telegram Fawaid Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili -hafizhohullah- (t.me/Drsuleiman)

Alih Bahasa: Achmadi ZM

Seorang Faqir penuntut ilmu. Pengajar di salah satu pondok pesantren Batam Kepulauan Riau. Alumni Pondok Pesantren Islam Al Irsyad Salatiga Jawa Tengah. Dan telah mengenyam pendidikan fakultas Syariah di LIPIA Jakarta (lembaga ilmu pengetahuan Islam dan Arab) cabang Universitas Muhammad bin Saud Riyadh Saudi Arabiyah.

Rahasia Tujuan Syari’at Islam (Maqashid Sy’ariah)

Rahasia Tujuan Syari'at Islam (Maqashid Sy'ariah)

Rahasia Tujuan Syari’at Islam (Maqashid Sy’ariah)- Segala sesuatu ada tujuaannya, begitu juga dengan syari’at islam. Hukum-hukum syari’at dalam islam bukan sekedar peraturan yang kosong dari tujuan. Segala aturan dalam syari’at Islam memiliki tujuan agung, yang banyak orang tidak mengetahuinya.

Pada tulisan kali ini, kami akan mengupas secara ringkas mengenai rahasia tujuan syari’at Islam atau yang disebut dengan Maqashid Syari’ah (مقاصد الشريعة )

Ini adalah makalah yang ditulis oleh : Syaikh Dr. ‘Abdurrahman bin Ma’la Al-Luwaihiq  (الشيخ الدكتور عبدالرحمن بن معلا اللويحق)

Selamat membaca..

Rahasia Tujuan Syari’at Islam (Maqashid Sy’ariah)

Pengertian Maqashid Syari’ah:

Istilah Maqashid Syari’ah dapat dimaknai dengan tujuan umum yang ingin dicapai oleh syari’at di dalam kehidupan manusia. Maqashid Syari’ah juga dimaksudkan sebagai tujuan khusus yang ingin dicapai pada hukum tertentu.

Pembagian Tujuan Syari’at Islam:

Tujuan Umum: Tujuan umum diberlakukannya syri’at Islam ialah untuk merealisasikan dan menggapai manfaat (maslahat) bagi makhluk Tuhan baik baik manfaat duniawi maupun ukhrawi. Ini dicapai melalui penerapan sejumlah hukum-hukum dalam Syari’at Islam.

Tujuan Khusus: Adalah tujuan-tujuan tertentu (khusus) yang ingin dicapai dalam bidang tertentu diantar bidang-bidang kehidupan, seperti sistem ekonomi, sistem keluarga, sistem politik dst. Ini dicapai melalui penerapat hukum-hukum tertentu yang diterapkan pada setiap bidang secara terperinci.

Tingkatan Kemaslahatan Manusia

Urutan kemaslahatan manusia mulai dari yang paling penting dibagi menjadi tiga:

1. Kemaslahatan Pokok (Primer): adalah kemaslahatan yang wajib ada dan tidak dapat diabaikan oleh manusia dalam keadaan apapun, dan puncak dari kemaslahatan ini adalah kemaslahatan pokok yang lima atau yang disebut juga dengan Al-Kulliyat Al-Khams (الكليات الخمس) atau Adh-Dharuriyat Al-Khams (الضروريات الخمس) yang akan kami jelaskan kemudian.

2. Kemaslahatan Sekunder: ialah kemaslahan yang dibutuhkan manusia untuk menggapai faedah penting dalam hidup. Jika kemaslahatan sekunder ini absen maka akan terjadi gangguan dan ketidakstabilan sistem umum dalam kehidupan, tapi absennya kemaslahan sekunder ini tidak menyebabkan hilangnya sistem, hal ini dapat dilihat pada rincian hukum-hukum jual-beli, pernikahan dan seluruh hukum muamalat lainnya.

3. Kemaslahatan Dekoratif: ialah untuk menyempurnakan, mempercantik dan memperindah status manusia, sikap dan perilaku mereka. Contohnya menjaga keindahan pakaian, makanan dan semua adat-adat yang bagus dalam perilaku manusia.

Lima (5) Kemaslahatan Pokok

Agama samawi dan para cendikiawan telah sepakat bahwa hal yang sangat penting untuk kemaslahatan keadaan manusia ialah sejauh mana penjagaan mereka terhadap lima kemaslahatan pokok ini, atau yang disebut juga dengan Al-Kulliyat Al-Khams (الكليات الخمس) atau Adh-Dharuriyat Al-Khams (الضروريات الخمس) kelima hal tersebut ialah: agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Syari’at Islam datang untuk menekankan pentingnya menjaga kelima pokok tersebut. Syariat telah datang membawa hukum-hukum yang sangat cukup untuk menjaga 5 pokok kemaslahatan tersebut, baik menjaga keberadaannya, yang apabila hukum-hukum itu dilaksanakan akan menjamin wujudnya pada masyarakat, maupun dari segi keberlangsunga, pertumbuhan dan penjagaannya dari hal-hal yang bisa menyebabkannya rusak atau hilang. Hukum-hukum syari’at Islam jika diterapkan akan menjamin hal-hal tersebut.

1. Pokok Pertama: Menjaga Agama

Syari’at Islam sangat menghargai pentingnya kebutuhan agama dalam hidup manusia, dimana agama menyambut panggilan fitrah dan naluri manusia akan kebutuhan menyembah Allah (Tuhan)  yang Esa, kebutuhan spritual, dan agama membantu manusia menguatkan unsur-unsur kebaikan dan kemulian, dan mengisi manusia dengan kebahagian dan ketenangan batin.

Oleh sebab itu, agama merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, Allah Ta’ala berfirman,

 

 فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ- الروم: 30

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS. Ar-Rum: 30)

Karena itu, Henri-Louis Bergson, seorang filsuf Prancis berkata: “Aku telah menemukan -dan tetap akan ada- kelompok manusia yang tanpa sains, tanpa seni dan tanpa filsafat, tapi tidak pernah ada satu kelompokpun yang tidak memiliki agama.”

Melihat begitu pentingnya peran agama dalam hidup manusia, maka Syari’at Islam menjaga keutuhan dan kelanggengan agama, baik dalam hal penanamannya dalam jiwa manusia dan penguatannya, maupun dari sisi penopangan akarnya dan menjaganya agar tetap tumbuh dan terus langgeng, untuk itu islam membuat syari’at seperti berikut:

Sarana Syari’at Islam Dalam Memelihara Agama dari Segi Eksistensinya

Diantara cara islam menanamkan agama didalam jiwa ialah sebagai berikut:

1. Menanamkan keyakinan tentang pokok-pokok keimanan dan rukun-rukunya, yaitu: iman kepada Allah, iman kepada Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab Nya, Malaikat-Nya, hari akhir dan iman kepada Qadar yang baik maupun yang buruk, Allah Ta’ala berfirman,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” (QS. Al-Baqarah : 285)

Allah Ta’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136)

2. Menegakkan iman ini dengan argumentasi  yang logis dan dalil ilmiah, atas dasar inilah isi dakwah islam adalah mengajak manusia untuk berpikir dan  merenung, Allah Ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ يَنظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَن يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?.” (QS. Al-A’raf: 185)
Dan mengecam orang yang tidak berfikir tentang ayat-ayat (tanda-tanda keesaan Allah dan eksistensi Nya) yang bertebaran di alam semesta, Allah Ta’ala berfirman,
وَكَأَيِّن مِّنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.” (QS. Yusuf: 105)
Demikian juga Allah mengecam mereka yang membeo, mengekor kepada nenek moyang dan mengambil akidah dan keyakinan tanpa pertimbangan dan argumentasi. Allah Tala’a berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.”(QS. Yusuf: 170)

3. Menegakkan pokok-pokok ibadah dan rukun Islam, seperti sholat, zakat, puasa, dan haji setelah mengucapkan dua syahadat. Diantara rahasia dan hikmah penting dari pelaksanaan ibadah-ibadah ini ialah, ia menghubungkan antara hamba dan Tuhannya dan menguatkan hubungan itu, dan kemudian mengokohkan dan mempertajam pokok keimanan didalam jiwa.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda sebagaimana yang ia riwayatkan dari Tuhannya,

و ما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه، ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

“Tidaklah hambaku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang aku wajibkan atasnya, dan hambaku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang nawafil (sunnah) sampai Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

 بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun atas 5 perkara: (persaksian) bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, haji (bagi yamng mampu) dan puasa di bulan ramadhan” (HR. Bukhari: 8)

4. Diantara bentuk penjagaan syari’at islam terhadap agama adalah, diwajibkannya berdakwah di jalan Allah, menjaganya dan menyediakan keamanan bagi para pendakwah, Allah Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran: 104)
Dan firman Allah Ta’ala,
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 104)
Firman Nya ketika mengisahkan tentang Luqman,
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

 

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ. عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat,” (QS. Al-‘Alaq: 9, 10)
Dan firman Allah,
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)

Sarana Syari’at Islam Dalam Memelihara Agama Agar Tetap Langgeng

Ini adalah sarana-sarana yang ditempuh oleh Syari’at dalam rangka menjaga agama agar tetap bersemi setelah ia tumbuh, menjaganya dan menghilangkan penghalang-penghalang yang menghambat jalannya, dan mensucikannya didalam jiwa manusia.

Diantara sarananya ialah:

1. Menjamin kebebasan berkeyakinan dan beragama serta menjaganya. Syari’at Islam tidak memaksa seorangpun untuk memeluk Islam, dan Islam mengizinkan hidup berdampingan antar agama didalam wilayah dan negaranya. Dan islam membebaskan pemeluk agama-agama untuk memiliki keyakinan sendiri dan mejalankan ibadah mereka dan gerak gerik mereka sebagai warga negara (dengan peraturan yang telah ditetapka syari’at.)…….Bahkan diantara tujuan dilaksanakana jihad dalam islam ialah untuk menjamin keamanan kebebasan berkeyakinan dan beragama, Allah Ta’ala berfirman:

 

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا
“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (QS. Al-Hajj: 40)
2. Disyari’atkannya jihad untuk menstabilisasi agama, mematikan permusuhan dan menjaga akidah dan keyakinan, Allah Ta’ala berfirman,
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.” (QS. An-Nisa: 75)
3. Penekanan untuk berkomitmen terhadapa ajaran-ajaran agama, menerapkannya setelah meyakininya, sehingga agama tetap hidup di dalam hati dan membekas dalam jiwa. Oleh karena itu Allah senantiasa mendampingkan iman dengan amal sholeh pada banyak ayat Quran, semisal ayat yang berbunyi,
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh,” (QS. Al-Baqarah: 277)
4. Diberlakukannya hukuman bagi orang murtad, dengan begitu seseorang sungguh-sungguh dalam memeluk agama Islam (bukan hanya untuk coba-coba atau main-man) dan agar orang yang masuk islam setelah benar-benar yakin dengan ajarannya. Syari’at tidak memaksa siapapun untuk memeluk Islam, bahkan Allah tidak akan menerima agama seseorang kecuali yang tulus dari hati pemiliknya. Jika demikian, seharusnya jika seseorang memutuskan masuk Islam sudah benar-benar yakin dengan keputusan yang ia ambil, sehingga jika ia murtad setelah itu berarti ia telah membuat kekacauan pemikiran dan politik yang menyebabkan goncangnya situasi masyarakat, hilangnya kestabilan pemikiran dan kejiwaan. Hal ini seperti firman Allah ketika menjelaskan ajakan kaum musyrikin pada politik semacam ini,
وَقَالَت طَّائِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (QS. Ali-Imran: 72)

Dengan pertimbangan ini maka syari’at Islam menerapkan hukuman bagi murtad untuk menjaga kesungguhan dalam berkeyakinan dan penjagaan terhadap kehormatan dan kesakralan agama (dan agar agama tidak dijadikan sebagai objek coba-coba dan permainan)
5. Membangun jembatan untuk kemaslahatan sekunder dan dekoratif seperti menunaikan sholat secara berjama’ah, melaksanakan berbagai amalan-amalan sunnah (tambahan), dengan ini agama akan semakin tertanam didalam diri dan pada masyarakat untuk menggapai ketenangan dan kebaikan individu dan masyarakat.
2. Pokok Kedua: Menjaga Jiwa Raga

Diantara kemaslahatan pokok manusia ialah: penjagaan terhadap nyawa dan hak untuk hidup.

Oleh karena itu, Syari’at Islam telah menetapkan beberapa sarana untuk memastikan penjagaan terhadapa jiwa raga dan nyawa manusia.
Dari Segi Eksistensi
Islam mensyari’atkan pernikahan untuk keberlangsungan generasi manusia, memperbanyak jiwa untuk memakmurkan dunia dan membentuk bibit-bibit kehidupan generasi berikut. Islam sangat menekankan ikatan suci antara suami istri, dan terhitung sebagai salah satu dari ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah Ta’ala, Allah berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Adapun dari segi keberlangsungan dan kelanggengan hidup manusia, Syari’at Islam telah menetapkan beberapa sarana, diataranya,
1. Syari’at Islam mewajibkan manusia untuk membekali dirinya dengan sarana-sarana untuk keberlangsungan hidupnya seperti kewajiban untuk makan dan minum supaya tetap hidup, menyediakan pakaian dan tempat tinggal. Haram bagi seorang muslim berpantang dari kebutuhan pokok ini jika itu sampai mengancam nyawanya.

Bahkan Islam menjadikan pendapatan pokok ini sebagai batas minimal yang harus disediakan oleh masyarakat dalam suatu negara untuk diberikan kepada orang yang tidak mampu menyediakannya untuk dirinya sendiri (seperti orang dakir, miskin anak yatim, orang cacat dll).

Bahkan syariat Islam mewajibkan seseorang yang terancam nyawanya karena tidak mendapatkan makanan dan minuman untuk mengambil harta orang lain (yang memiliki kelebihan) untuk sekedar bertahan hidup. (Dalam hal ini juga, seseorang dibolehkan memakan yang haram seperti babi, jika ia tidak dapat menemukan makanan halal disekitarnya untuk bertahan hidup)

2. Syari’at mewajibkan kepada negara Islam menegakkan perangkat-perangkat yang menjamin tersedianya keamanan umum bagi individu, seperti hakim, polisi, dan perangkat lainnya untuk merealisasikan keamanan sosial.

3. Syari’at Islam juga mewajibkan penjagaan atas kemulian manusia dengan melarang aksi tuduh menuduh, menghina, melarang kebebasan orang lain tanpa sebab. Dengan ini Islam menjaga kebebasan berfikir, beramal, kebebasan berpendapat dan kebebasan untuk tinggal dan berpergian dan menjaminnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

 

4. Ditentukannya keringanan karena alasan kesulitan bagi jiwa yang berpotensi membahayakannya, diantaranya: keringanan untuk tidak berpuasa di bulan ramadhan karena sebab sakit atau dalam perjalanan (safar), dan keringanan meringkas (Qasar) sholat saat safar.

5. Islam mengharamkan pembunuhan, baik itu membunuh diri sendiri ataupun membunuh orang lain. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah maha mengasihi kalian.” (QS. An-Nisa: 29)

Islam juga mengecam keras orang yang melakukan kejahatan pembunuhan, dan menganggap pembunuhan satu jiwa dosanya sama seperti membunuh seluruh manusia. Allah Ta’ala berfirman,

 مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Maidah: 32)
 وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.”  (QS. Al-An’am: 151)
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)

Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda,
من قتل معاهداً لم يرح ريح الجنة
“Barangsiapa yang membunuh kafir Mu’ahad, niscaya ia tidak akan mencium wanginya surga.”
6. Diwajibkannya Qishash bagi pembunuhan yang disengaja, dan membayar diyat (uang tebusan) serta kaffarat pembunuhan yang tidak disengaja. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh” (Al-Baqarah: 178)
Firman Allah pula,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَن قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَن يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 92)

7. Diberlakukakannya Jihad untuk membela diri dan membela orang-orang yang lemah (dari penindasan para agresor) Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.  (QS. An-Nisa: 75)

8. Seorang muslim diwajibkan menolong orang yang terancam dibunuh secara zhalim, atau ia wajib menolong orang yang dalam marabahaya semampunya.

9. Sebagaimana juga seseorang disyari’atkan untuk membela dirinya jika ada orang yang ingin menyerangnya, dan ia tidak bertanggung jawab jika orang yang menyerangnya mati terbunuh oleh korban penyerangan karena bela diri, dengan syarat bahwa penyerang terbukti ingin menyerang korban.

2. Pokok Ketiga: Menjaga Akal

Akal dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting, karena tanggung jawab adalah tergantung pada fungsi akal seseorang, dan kemulian manusia ada pada akalnya yang membedakan mereka dengan makhluk lain. Karena akal pula manusia  dijadikan khalifah di muka bumi dan membawa beban amanah dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72)

Oleh sebab itu, Syari’at Islam datang untuk menjaga akal dan mengatur peraturan-peraturan yang menjamin keselamatan akal dan fungsinya, diantara peraturan-peraturan itu adalah:
1. Syari’at mengharamkan segala sesatu yang berpengaruh buruk pada akal, mencederai fungsinya, atau mengurangi kemampuannya dalam berfikir seperti minuman keras (khamr), ganja (narkoba) dan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

2. Demikian juga syari’at menetapkan hukuman berat bagi orang yang menggunakan obat terlarang maupun minuman keras, karena begitu bahaya dan dampak buruknya bagi individu dan masyarakat.
3. Islam melatih akal agar independen dalam memahami dan merenung, mengikuti pertunjuk dalil dan membuang jauh-jauh membebek (taqlid buta) yang tidak memiliki dasar hujjah, sebagaimana firman Allah,
أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ
“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: “Unjukkanlah hujjahmu! ” (QS. Al-Anbiya : 24)
Firman Nya,
وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu’minūn: 117)

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”  (QS. Al-Baqarah: 111)

4. Sebagaimana Islam juga menyeru kepada pertumbuhan akal secara fisik maupun maknawi: yaitu dengan nutrisi yang baik yang menyehatkan badan dan mengaktifkan akal pikiran. Oleh karena itu, seorang hakim tidak dianjurkan untuk memutuskan perkara disaat ia lapar (karena hal itu akan berpengaruh pada pikirannya sehingga dikhawatirkan ia memutuskan dalam keadaan pikiran tidak jernih) demikian juga diutamakan untuk mendahulukan makan ketika sudah dihidangkan daripada sholat (sehingga sholatnya lebih khuyu’)

Adapun dukungan islam untuk pertumbuhan akal secara maknawi: yaitu dengan penekanan untuk mencari ilmu, dan memasukkannya kedalam asas iman, Allah berfirman,

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”  (QS. Faathir: 28)
 وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. Thaha : 114)
Sebagaimana juga Islam memberi kesempatan kepada semua orang untuk menuntut ilmu, dan menjadikannya sebagai kewajiban bersama sebagai sebuah masyarakat, bahkan Islam mewajibkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk menuntut ilmu minimal  untuk pengetahuan pokok mereka.
5. Syari’at Islam mengangkat martabat akal dan memuliakan akal dalam banyak ayat Quran, diantaranya firman Allat Ta’ala:
فَبَشِّرْ عِبَادِ. الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-zumr : 17, 18)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali-Imran : 190)

 قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumr : 9)

 

6. Memerdekakan akal dari cengkraman khurafat  dan membebaskannya dari belenggu ilusi dan fantasi. Oleh karenanya Islam mengharamkan sihir, nujum, perdukunan dan bentuk-bentuk penipuan dan khurafat lainnya. Demikian juga Syari’at Islam melarang membahas masalah ghaib tanpa dalil atau ilmu yang datang dari wahyu yang diturunkan kepada para Nabi, dan menganggap pembahasan masalah ghaib tanpa dalil termasuk pemborosan energi tanpa faedah, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56)

 

7. Islam melatih akal untuk menggunakan dalil yang membuahkan hasil, mencari dan mengenal kebenaran dengannya. Hal ini dilakukan dengan dua hal:

Pertama: Islam menjelaskan cara yang benar dalam pertimbangan akal yang dapat menghasilkan keyakinan. Dari sini, Islam mengajak manusia untuk melakukan verifikasi dan konfirmasi ulang sebelum meyakini sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra : 36)

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 15)

 

Kedua: Islam mengajak manusia untuk memikirkan tentang hukum alam semesta dan menyelidikinya, mengamati ketelitian dan keharmonisannya, dan ajakan untuk menggunakan daya membaca, menyaring dan menyelidiki informasi untuk mencapai pada keyakinan.

8. Islam memerintahkan pengerahan segala kemampuan akal untuk mengekstrak hukum syari’at dan menggali rahasia-rahasianya.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)

9. Sebagaimana, Islam juga mengarahkan manusia untuk mengerahkan segala kemampuan materil mereka untuk mengelola alam dan mengambil manfaat darinya untuk membangun peradaban yang maju. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”  (QS. Al-Mulk: 15)

10. Dalam rangka meningkatkan dan mengasah ketajaman berfikir, syari’at Islam juga membuka peluang ijtihad untuk menggali hukum syari’at yang tidak ada nash nya, hal ini memalui 2 hal:

Pertama: mencari tahu tujuan dan maksud dari nash-nash dan hukum-hukum syari’at.

Kedua: Menggali hukum-hukum syari’at pada permasalahan-permasalahan yang baru yang kontemporer, dan ini bidang ilmu yang sangat luas yang bergantung pada dasar-dasar yang beragam, seperti Qiyas, mashlahah, istihsan dan lainnya.

4. Pokok Keempat: Menjaga Keturunan

Menjaga keturunan yaitu menjaga agar manusia terus ada di muka bumi dengan cara pernikahan, hal itu karena Islam bertujuan untuk melanggengkan perjalanan manusia dimuka bumi sampai Allah mengizinkan kehancuran alam semesta dan bumi diwariskan oleh siapa yang Ia kehendaki.

Untuk merealisasikan tujuan ini, Islam mensyari’atkan prinsip-prinsip seperti berikut:

1. Syari’at pernikahan: Islam telah mensyari’atkan pernikahan dan memotivasi untuk itu. Islam melihat pernikahan sebagai jalan fitrah dan naluri manusia yang bersih yang mempertemukan antar pria dan wanita bukan semata karena dorongan hawa nafsu, melainkan juga untuk mencapai tujuan yang mulia yaitu menjaga kelangsungan generasi manusia di muka bumi, mendapatkan generasi yang sholeh yang kelak bisa memakmurkan alam dan membangun kehidupan yang berprikemanusiaan yang dapat menerima beban khalifah di bumi dan kemudian menyerahkannya kembali ke genarasi berikutnya sehingga kontribusi manusia terus berlangsung, dan gemilangnya peradaban manusia yang berdasarkan prinsip-prinsip mulia.

2. Kepedualian terhadap pendidikan anak dan mempererat hubungan kasih sayang: Islam mewajibkan kedua orang tua untuk merawat anak-anak mereka dan memberi nafkah mereka, sampai anak-anak mandiri dan bisa mencari nafkah sendiri.

3. Peduli terhadap keluarga dan membangun keluarga berdasarkan dasar dan prinsip yang baik dan benar. Karena keluarga merupakan benteng yang menjadi markas pendidikan untuk mempersiapkan generasi masa depan. Islam menjadikan hubungan pernikahan atas dasar kebebasan memilih dan kerelaan diantara kedua belah pihak, juga menganjurkan musyawarah dan bersepakat dalam menghadapi semua permasalahan, sehingga tercipta spirit kasih sayang dan saling mengerti, dan setiap pasangan dapat membantu membahagiakan pasangannya satu sama lain. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

4. Dalam rangka menjaga keturunan pula, Syari’at Islam membuat aturan, prinsip, adab dan akhlak hubungan antara laki-laki dan perempuan, dimana peraturan ini menjamin tercapainya tujuan mulia dalam dalam hubungan, menghindari praktek “ngawur” dalam hubungan dua lawan jenis. Misalnya dalam peraturan menundukkan (menjaga) pandangan antara laki-laki dan perempuan, dan sebaliknya, dapat memutuskan sarana-sarana yang membangkitkan syahwat dan hawa nafsu. Dengan peraturan tentang pakaian yang harus menutup aurat dengan kriteria-kriteria tertentu, syari’at islam telah memerangi sebab-sebab yang bisa menimbulkan fitnah.

Misalnya pula, dalam hal yang tidak darurat, Islam mengharamkan menyendiri antar laki dan wanita yang bukan mahram walaupun keduanya memakai pakaian syar’i, kecuali jika diantara mereka ada mahram dari pihak wanita. Demikina juga rumah di dalam islam memiliki kehormatan tersendiri yang tidak boleh dimasuki tanpa izin dari pemiliknya dan mengucapkan salam ketika ingin masuk. Allah Ta’a berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. An-Nur: 27)

Disamping adab-adab diatas dan adab lainnya, Syari’at Islam juga membuat aturan yang mengatur keadaan-keadaan yang membolehkan pertemuan antar laki-laki dan wanita yang bukan mahram ketika ada kebutuhan.

5. Islam mengharamkan pelanggaran terhadap harga diri, oleh karena itu diharamkan zina dan juga menuduh perempuan baik-baik berzina, dan mentukan hukuman keras bagi pelaku yang membuat mereka dan selain mereka jera dan takut untuk melakukan hal serupa. Firman Allah Ta’ala,

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah,” (QS. An-Nur: 2)

 

Mengenai hukuman orang yang menuduh wanita baik-baik berzina dan tidak membawa bukti, Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 2)

4. Pokok Kelima: Menjaga Harta

Islam adalah agama yang realistis yang tidak mengabaikan fitrah manusia, salah satunya ialah kecintaan manusia pada harta dan materi. Oleh karena itu islam membebaskan manusia mencari dan mengkonsumsi harta tapi dengan batasan-batasan yang masuk akal. Demikian juga, mencari harta harus dengan cara-cara yang baik dan beradab sehingga hasilnya pun jadi baik dan tidak justru berakibat buruk.

Demikian juga kecintaan manusia untuk memiliki, Islam membolehkan kepemilikan individu, dan disaat yang bersamaan Islam mengatur kepemilikan ini sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kesewenang-wenangan yang dapat ketidak stabilan sosial dan perputaran harta hanya diantara sekelompok kecil masyarakat. Diantara sistem yang diatur oleh islam dalam hal ini ialah sistem zakat, pembagian warisan dan jaminan sosial, dengan demikian Islam menjadikan harta sebagai salah satu pokok kehidupan manusia.

Dalam hal ini Syari’at Islam membuat aturan dan petunjuk yang memotivasi untuk mencari harta, menjamin pemeliharaan dan pertumbuhannya, diataranya ialah seperti berikut:

Sarana untuk Menjaga Pencarian dan Penghasilan Harta:

1. Anjuran untuk berusaha mencari rezeki dan penghidupan, Syari’at Islam mendorong  pemeluknya untuk mencari harta karena harta merupakan penopang kehidupan manusia, dan islam menjadian usaha seseorang mencari harta -atas dasar niat yang benar dan cara yang boleh dan halal- termasuk bagian dari ibadah dan diantara cara mendekatkan diri kepada Allah, Allah ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”  (QS. Al-Mulk: 15)

Dan firman Nya,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah”  (QS. Al-Mulk: 15)

2. Islam menghargai pekerjaan dan para pekerja, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

ما أكل أحد طعاما قط خيرا من عمل يده، وإن نبي الله داود كان يأكل من عمل يده

“Tidaklah seseorang memakan sesuatu yang lebih baik dari apa yang ia dapat dari hasil usaha tangannya, adalah dahulu Nabiyullah Dawud memakan makanan dari hasil tangannya.” (HR. Bukhari)

Syari’at Islam menetapkan hak untuk bekerja bagi setiap manusia, dan mewajibkan bagi negara untuk menyediakan pekerjaan bagi orang kesulitan mencari kerja, demikian juga Islam menghargai para perkerja dan mewajibkan untuk memenuhi hak-hak materil dan materil para pekerja dengan baik. Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam  bersabda,

 “‏ أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ ‏”‏ ‏

“Berilah pekerja upahnya sebelum keringatnya kering” (HR. Ibnu Majah, Shohih)

 

 عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏ “‏ قال الله تعالى‏:‏ ثلاثة أنا خصمهم يوم القيامة ‏:‏ رجل أعطى بي ثم غدر، ورجل باع حرًا فأكل ثمنه، ورجل استأجر أجيرًا، فاستوفى منه، ولم يعطه أجره‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

Dalam sebuah hadits Qudasi, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam  bersabda, “ Allah Ta’ala berfirman: “Tiga golongan yang Aku akan menjadi lawannya kelak di hari kiamat: seseorang yang membuat perjanjian atas nama Ku, kemudian ia berkhianat, seseorang yang menjual orang merdeka untuk diperbudak lalu memakan hasilnya, dan seseorang yang menyewa pekerja, ia meminta agar haknya dipenuhi, dan ia tidak memenuhi haknya.” (HR. Bukhari)

Syari’at juga menetapkan gaji pekerja harus bisa menutupi kebutuhan dasarnya, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam   bersabda,

من ولي لنا عملا و ليس له منزل فليتخذ منزلا، أو ليست له زوجة، فليتخذ زوجة أو ليس له مركب فليتخذ مركبا

“Barangsiapa bekerja untuk kami sedangkan ia tidak memiliki tempat tinggal maka hendaklah ia (mengambil gajinya) untuk mendapatkan tempat tinggal, atau ia belum punya istri hendaklah ia (mengambil gajinya) untuk mendapatkan istri (dengan menikah) atau ia belum punya kendaraan hendaklah ia (mengambil gajinya) untuk mendapatkan kendaraan.” (HR. Ahmad)

Kandungan hadits inillah yang di zaman sekarang diistilahkan dengan minimum wage atau upah minimum

2. Dibolehkannya transaksi yang adil yang tidak ada unsur zhalim didalamnya, dan tidak pula ada unsur penyalahgunaan terhadap hak-hak orang lain. Karena itu, Syari’at Islam membolehkan berbagai macam jenis akad transaksi yang sudah ada, tapi Islam membersihkannya dari unsur-unsur kezhaliman, seperti akad jual beli, sewa menyewa, gadai, kerjasama dan lainnya. Islam juga membuka peluang penemuan transaksi baru melalui pengalaman dengan syarat tidak ada unsur zhalim dan penipuan dari semua belah pihak, atau yang termasuk kategori memakan harta orang lain dengan cara batil.

 

Dalam rangka untuk menjaga harta agar terus langgeng, Syari’at juga mengatur sarana seperti berikut:

1. Mengatur transaksi keuangan agar sesuai kemaslahatan umum, karena itu Syari’at Islam mengharamkan mencari uang dengan cara-cara yang tidak syar’i yang merugikan orang lain, diantaranya transaksi riba, karena transaksi riba berpengaruh buruk terhadap stabilitas keuangan sosial. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”  (QS. Al-Baqarah: 275)
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ 

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah: 188)

 

2. Demikian juga Islam mengharamkan penyalahgunaan uang orang lain seperti pencurian, perampokan, kecurangan, dan menghukum orang yang melakukan itu semua, seperti firman Allah Ta’ala,

 

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38)

 

Dan mewajibkan ganti rugi dan jaminan untuk orang yang merusak atau menghilangkan harta orang lain, Rasulullah bersabda,

كل المسلم على المسلم حرام دمه و ماله وعرضه

“Setiap muslim atas muslim lainnya (memiliki hak yang) haram (dilanggar, yaitu) jiwanya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

3. Larangan membelanjakan harta dengan cara yang tidak sesuai Syari’at, dan anjuran untuk membelanjakannya untuk jalan kebaikan. Ini berangkan dari suatu kaidah diantara kaidah-kaidah sistem keuangan Islam, yaitu: bahwa harta pada dasarnya adalah milik Allah Ta’ala, dan harta pada manusia pada dasarnya adalah titipan dan amanah, Allah Ta’la berfirman:

وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.”  (QS. Al-Hadid: 7)

وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” (QS. An-Nur: 33)
Karena itu, seseorang wajib membelanjakan hartanya dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Syari’at Islam, ia tidak boleh terfitnah oleh harta dan melampai batas karenanya, karena itu adalah agen kerusakan dan kehancuran, Firman Allah Ta’ala,
وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”(QS. Al-Isra: 16)

Dan seseorang tidak boleh bembuang-buang hartanya tanpa faedah, firman Allah Ta’ala,

 وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al-Isra: 16)
4. Syari’at mengatur perwalian untuk menjaga harta mereka yang memiliki keterbatasan dan yang tidak mampu mengelola harta dengan baik, seperti anak yatim, bayi sampai mereka mencapai usia dewasa dan mampu mengelola harta sendiri, karena itu islam mengatur wali baginya, Allah berfirman,
وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” (QS. An-Nisa: 6)

Firman Nya pula,
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ

Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah yang terbaik,” (QS. Al-Baqarah: 220)

Demikian juga diatur dalam syari’at untuk menahan harta orang dewasa (oleh walinya) jika mengelola hartanya dengan buruk, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS. An-Nisa: 5)

5. Pengaturan sistem transaksi bisnis atas dasar kerelaan dan keadilan, karena itu Islam menetapkan bahwa akan belum selesai kecuali setelah semua pihak yang bertransaksi rela satu sama lain dan transaksinya adil, sebab itu juga Islam menghalalkan perjudian, firman Allah Ta’ala:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.”  (QS. An-Nisa: 29)

6. Ajakan untuk menginvestasikan uang atau harta dan memanfaatkannya agar harta bisa menjalankan fungsi sosialnya, atas dasar itu Islam mengharamkan menahan harta dan tidak memutarnya untuk roda bisnis, dan juga memerangi penimbunan, Allah Ta’ala berfirman,

 وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,”(QS. At-Taubah: 34)

Dengan peraturan-peraturan syari’at ini, Islam telah menjaga harta dari kerusakan, sehingga harta bisa memainkan perannya sebagai nilai yang tidak dapat dipisahkan perannya dalam menjaga sistem kehidupan manusia, merealisasikan dalam membangun peradaban manusia.
Peran harta dalam hal ini seperti halnya peran maslahat-masalahat pokok lainnya yang merupakan asas bagi wujud manusia, penopang hidup, dan sebagai pusat peradaban manusia yang jika tidak diatur dan dijaga sistemnya, akan terjadi kehancuran dunia, dan kehidupan manusia menjadi mustahil serta kontribusi dan pertumbuhannya akan berhenti.

Boleh bermaksiat dengan 5 syarat

Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam kitab At-Tawwabin halaman 285 – 286 :

Di riwayatkan bahwa seorang pemuda datang kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata :

إني مسرف على نفسي

” Sungguh, Aku telah tenggelam dalam kemaksiatan ”

فاعرض علي ما يكون لها زاجرا و مستنقذا لقلبي

” Maka, berikanlah aku sesuatu yang dapat menyadarkan hati ini”

Ibrahim bin Adham menjawab :

إن قبلت خمس خصال و قدرت عليها لم تضرك معصية و لم توبقك لذة

” jika kamu dapat terlepas dari lima hal ini, maka tak mengapa kamu bermaksiat dan kamu takkan celaka dengan kelezataan kemaksiatan yang kamu lakukan”

Pemuda itu menjawab :

هات, يا أبا إسحاق

” sebutkan ,wahai Abu Ishak(Ibrahim bin Adham)”

Ibrahim bin Adham mengatakan :

أما الأولى، إذا أردت أن تعصي الله فلا تأكل رزقه

” yang pertama, jika kamu ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah sekali-kali kamu makan dari rizki-Nya”

Pemuda itupun menjawab :

فمن أين آكل و كل ما في الأرض من رزقه

” Dari mana aku makan, sedangkan semua yang ada di muka bumi ini adalah rizki-Nya”

Lantas Ibrahim bin Adham mengatakan :

يا هذا، أفيحسن أن تأكل رزقه و تعصيه ؟!

” wahai pemuda, Apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya kemudian kamu memaksiati-Nya ?!”

Pemuda itupun menjawab :

” Tidak, berikan perkara yang kedua”

Ibrahim bin Adaham melanjutkan :

و إذا أردت أن تعصيه، فلا تسكن شئيا من بلاده

” yang kedua, jika kamu ingin bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah sekali-kali kamu tingal di bumi-Nya”

Pemuda itu menjawab :

هذه أعظم من الأولى,

” ini lebih berat dari yang pertama ”

يا هذا إذا كان المشرق و المغرب و ما بينهما له فأين أسكن ؟!

” Wahai syaikh, Semua timur dan barat serta apa yang di antara keduanya adalah milik-Nya, Di mana Aku akan tinggal ?! ”

Ibrahim bin Adham pun berkata :

يا هذا، أفيحسن أن تأكل رزقه و تسكن بلاده و تعصيه ؟!

” wahai pemuda, Apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya dan kamu pun tinggal di bumiNya lantas kamu memaksiati-Nya?! ”

pemuda itu pun menjawab :

” Tentu tidak, berikan perkara yang ketiga ”

Ibrahim bin Adham melanjutkan :

إذا أردت أن تعصيه و أنت تحت رزقه و في بلاده، فانظر موضعا لا يراك فيه مبارزا له فاعصه فيه

” jika kamu ingin memaksiati-Nya, padahal kamu makan dari rizki-Nya dan tingal di bumi-Nya,maka coba carilah, suatu tempat yang di mana kamu tidak dapat di lihat oleh-Nya, kemudian berbuatlah kemaksiatan pada tempat tersebut sepuasmu”

Pemuda itupun menjawab :

يا إبراهيم، كيف هذا و هو مطلع في السرائر

” wahai Ibarahim, bagaimana mungkin aku mendapatkan tempat tersebut, sedangkan Allah mengatahui segala sesuatu”

Ibrahim bin Adham lantas mengatakan :

يا هذا، أفيحسن أن تأكل رزقه و تسكن بلاده و تعصيه و هو يراك و يرى ما تجاهر به ؟!

” wahai pemuda, Apakah pantas kamu makan dari rizki-Nya, kamu tingal di bumi-Nya dan kamu memaksiatinya sedangkan Ia melihatmu ?! ”

pemuda itupun menjawab :

” tidak, berikan yang ke empat ”

Ibrahim bin Adham pun melanjutkan :

إذا جاءك ملك الموت ليقبض روحك فقل له : أخرني حتى أتوب توبة نصوحا و أعمل لله عملا صالحا

” Apabila nanti malaikat maut datang mencabut ruhmu, katakan padanya : berikanlah Aku kesempatan agar dapat bertaubat dan berbuat amalan sholeh ”

Pemuda tersebut menjawab :

لا يقبل مني

” Dia tak mungkin menerima permintaanku”

Lantas, Ibrahim bin Adham mengatakan :

يا هذا، فأنت إذا لم تقدر إن تدفع عن الموت لتتوب و تعلم أنه إذا جاء لم يكن له تأخير فكيف ترجو الخلاص ؟!

” wahai pemuda, jika kamu dapat menolak kematian agar kembali bertaubat,
Dan kamu tahu jika kematian tidak dapat di akhirkan, bagaimana kamu bisa selamat ?! ”

Pemuda itupun menjawab :

” berikan yang kelima”

Ibrahin bin Adham melanjutkan :

إذا جائتك الزبانية يوم القيامة ليأخذوك إلى النار فلا تذهب معهم

” tolaklah, jika malaikat zabaniyah akan membawamu ke neraka”

Pemuda itupun menjawab :

لا يدعونني ولا يقيل مني

” mereka tidak mungkin membiarkan aku, dan tak kan menerima permintaanku”

Ibrahim bin Adham pun mengatakan :

فكيف ترجو النجاة،إذن،

” Lantas,bagaimana kamu bisa selamat”

pemuda itupun menjawab :

يا إبراهيم، حسبي، حسبي أستغفر الله و أتوب إليه

” wahai Ibrahim, cukup…cukup…

Astagfirullah wa atubuu ilaih..

Setelah dialog tersebut,sang pemuda kembali ke jalan ketaatan dan memperbaiki ibadahnya hingga ajal datang menjemputnya.

Di antara pelajaran yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah :

1) setiap manusia pasti pernah terjatuh dalam perbuatan dosa,dan sebaik-baik pendosa adalah yang menyadari kemudian yang bertobat

2) Hati yang hanif(lurus) adalah hati yang ketika di ingatkan iapun tersadarkan dan kembali ke jalan ketaatan

3) Hendaknya seorang muslim memilih teman yang dapat mengigatkan kepada kebaikan dan menasehati dari keburukan

4) Di antara metode dakwah adalah dengan berdialog dan memberikan pendekatan makna yang mudah di pahami oleh yang di dakwahi

5) Seburuk apapun seseorang di masa lalunya, jika Ia bersunguh -sungguh kembali ke jalan Allah, maka ia pasti akan mendapatkan kebahagiaan

📚 Abu kaysaa,Lc

Seorang penuntut ilmu. Alumni LIPIA Jakarta. Saat ini mengajar di salah satu Ponpes di Jakarta.

Bolehkah menanyakan Calon suami apakah kamu punya mantan?

Afwan! Apakah dulu antum pernah pacaran ?

Apakah ana boleh bertanya demikian kepada ikhwan yang akan melamarku?

Bismillah was sholatu wassalamu ala rosulillah wa ala a’lihi wa ashabihi ajma’in,

Pada dasarnya islam memerintahkan bagi mereka yang akan menikah untuk mencari pasangan yang baik agama dan akhlaknya, hal inilah yang di wasiatkan nabi kepada wali – wali wanita :

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

Artinya :Apabila datang seorang laki-laki untuk(melamar)yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya,maka nikahkanlah, jika tidak maka hal tersebut akan menyebabkan finah di muka bumi dan kerusakan yang besar.(HR.At tirmidzi, dan di hasankan oleh syaikh Al-bani dalam Adh Dho’ifah ).

Nabi memerintahkan untuk memfokuskan pada “agama dan akhlak” karena dua hal tersebut adalah kunci kesuksesan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.

Dan karena kedua sifat tersebutlah pasutri akan mampu mengatasi segala permasalahan rumah tangga yang “pasti” akan datang menerpa bahtera rumah tangga.

Para ulama menjelaskan cara untuk mengetahui baik agama dan akhlak seseorang ditinjaudengan :

👉 memperhatikan ibadah yang nampak dalam keseharian,seperti menjaga sholat lima waktu,dll

👉 mencari informasi terpercaya dari orang-orang terdekat ,seperti tokoh agama,gurunya,orang tuanya,teman dekatnya

👉 memperhatikan bagaimana ia mempergauli orang terdekatny(terlebih para wanita) seperti ibunya,saudari perempuanya.

👉 memperhatikan lingkungan keseharian dia tinggal.

Namun,islam telah memberikan batasan-batasan agar seseorang tidak terlampau mencari-cari kesalahan dan aib seseorang yang akan menimbulkan fitnah dan prasangka buruk terhadap sesama muslim, seperti menanyakan masa lalunya sebelum belajar agama,atau perkara dosa yang telah ia tinggalkan semisal pacaran,judi,minuman keras,dll.

Karena semua manusia “PASTI”pernah melakukan perbuatan dosa atau memiliki kekurangan.

Perhatikanlah, bagaimana Nabi shollallahu alaihi was sallam memerintahkan untuk fokus melihat agama dan akhlaknya kepada para sahabat,yang mana para sahabat juga pernah memiliki masa lalu yang kelam sebelum masuk islam.

Bahkan,sebagian para sahabat sampai bertanya :

يا رسول الله ،و إن كان فيه

Artinya : wahai rosulullah,walaupun dia memiliki kekurangan

Nabi shollahu alaihi wassalam pun menjawab sebanyak tiga kali untuk tertap fokus kepada agama dan akhlaknya.(HR. imam At tirmidzi dan beliau mengatakan hadis hasan ghorib).

Nabi shollahu alaihi was sallam juga bersabda :

من ستر مسلما ستره الله في الدنيا و الآخرة (رواه مسلم)

Artinya : Barang siapa menutupi aib seorang muslim(di dunia) ,maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat(HR.muslim)

✍Berangkat dari penjelasan ringkas di atas, maka tidak selayaknya kita menanyakan sesuatu kesalahan(pacaran),
NAMUN JIKA KESALAHAN TERSEBUT DAPAT MENGURANGI ATAU MENGHALANGI TUJUAN DAN MAKSUT SYARIAT DARI SEBUAH PERNIKAHAN, ATAU AIB TERSEBUT MEMBAHAYAKAN PASANGAN DAN KETURUNANNYA DI KEMUDIAN HARI, seperti orang yang mengidap penyakit AIDS, Maka ia WAJIB menjelaskan kepada yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak.

Serta fokuslah dalam membenahi diri dan menggantungkan segala “harapan dan cinta” hanya kepada Allah.

Dan yakinlah dengan janji Allah dalam surat Al an nur ayat 26 :

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ(النور ٢٦)

Artinya : Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). [ QS.An-nur 26]

Ketika Allah memilih seseorang menjadi pasangan kita dengan segenap usaha yang telah kita upayakan agar mendapatkan pasangan yang baik serta megharapkan ridhoNya dalam pernikahan,maka ia adalah yang terbaik dengan segala kekurangan yang ia miliki.

Wallahu a’lam bis showaab

📚 Abu kaysaa,Lc

Seorang penuntut ilmu. Alumni LIPIA Jakarta. Saat ini mengajar di salah satu Ponpes di Jakarta.