hosting dan domain murah niaga hoster 03

Lupa Tasyahud Awal, Haruskah Sujud Sahwi?

Hukum duduk dan bacaan tasyahud awal dalam sholat adalah wajib (bukan rukun sholat), oleh karena itu jika seseorang lupa mengerjakannya maka ia harus melakukan sujud sahwi sebelum salam di akhir sholatnya.

Dalilnya adalah hadits:

روى البخاري (829) – واللفظ له – ومسلم (570) عن عبد الله بن بُحينه رضي الله عنه : ” أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى بِهِمُ الظُّهْرَ فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ ، فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ ، حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ وَهْوَ جَالِسٌ ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ، ثُمَّ سَلَّمَ

Dari ‘Abdullah bin Buhainah –radhiyallahu’anhu- ia berkata:

“Bahawasanya Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- sholat zhuhur bersama mereka, lalu beliau langsung berdiri pada raka’at kedua, tidak duduk (tasyahud/tahiyyat) dan orang-orang pun berdiri bersama beliau. Sampai ketika sholat hampir selesai dan orang-orang menunggu untuk salam, seketika beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam, kemudian beliau salam. (HR. Bukhari  no. 829 dan Muslim no. 570)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi -rahimahullah- berkata:

“Jika ia meninggalkannya (tasyahhud) karena lupa, maka ia harus sujud sahwi sebelum salam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Malik bin Buhainah (lalu ia menyebutkan hadits diatas). Maka masalah ini telah tetap berdasarkan khabar (hadits), dan kita qiyaskan hal itu kepada seluruh (amalan-amalan wajib) pada sholat.” (Al-Kafi 1/273)

(sumber)

Lupa Tasyahud Awal, Haruskah Sujud Sahwi?

Maka berdasarkan hadits diatas, maka jelas bahwa jika seseorang lupa mengerjakan tasyahud/tahiyat awal maka ia dintut untuk melakukan sujud sahwi di akhir sholat. Dalam kasus ini, sujud sahwinya dilakukan sebelum salam.

Sujud Sahwi

Sujud sahwi (sujud karena lupa) adalah sujud dua kali yang dilakukan di akhir sholat. Tujuannya adalah untuk menambal (menggenapi) kekurangan yang terjadi di dalam sholat karena lupa. Dalam sebuah hadits disebutkan,

عن أبي سعيد عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا شك أحدكم في صلاته فليلغ الشك وليبن على اليقين فإذا استيقن بالتمام فليسجد سجدتين وهو قاعد فإن كان صلى خمسا شفعتا له صلاته وإن صلى أربعا كانتا ترغيما للشيطان

Dari Abu Sa’id, dari Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda.

“Jika salah seorang dari kamu ragu-ragu dalam sholatnya, maka hendaklah ia mengabaikan keraguan tersebut dan mengambil yang lebih meyakinkan (yaitu mengambil bilangan yang lebih kecil/sedikit pent.). Kemudian ketika ia telah yakin menyempurnakan semuanya, hendaklah ia sujud dua kali dalam keadaan masih duduk (tasyahud akhir sebelum salam). Jika ternyata ia telah sholat lima raka’at (karena lupa) maka dua sujud (sahwi) tersebut menjadi pelengkap bagi sholatnya, dan jika ternyata ia benar melakukan empat raka’at (tapi ragu) maka kedua sujud (sahwi) tersebut menjadi sebagai penghinaan untuk syaithan.” (HR. An-Nasa’i)

Sebab yang Mengharuskan Sujud Sahwi

Sebab sujud sahwi adalah karena lupa yang mencakup:

Kelebihan Rukun atau Kewajiban dalam Sholat:

Contoh kelebihan suatu rukun/kewajiban dalam sholat seperti menambah ruku’ dan/atau sujud karena lupa maka ditutupi dengan sujud sahwi.

Perlu digaris bawahi bahwa penambahan tersebut dilakukan karena lupa, bukan disengaja, karena jika disengaja maka sholatnya batal.

Kurang Rukun atau Kewajiban dalam Sholat:

Jika lupa mengerjakan salah satu rukun sholat, maka ada dua skenario:

  1. Lupa mengerjakan rukun dan baru ingat sebelum seseorang sampai pada rukun yang sama pada raka’at berikutnya, maka ia harus kembali mengerjakan rukun yang tertinggal karena lupa tersebut, lalu menyempurnakan amalan sholat secara tertib (urut) dihitung mulai dari rukun yang ia lupakan tersebut. Misalnya seseorang lupa melakukan ruku’, kemudian ia ingat sebelum ia sampai pada ruku’ berikutnya, maka seketika itu ia harus kembali mengerjakan ruku’ yang terlupa tersebut, kemudian ‘itidal, sujud dst.
  2. Lupa mengerjakan rukun dan baru ingat setelah ia sampai pada rukun yang sama pada raka’at berikutnya, maka raka’at kedua tersebut menjadi pengganti untuk raka’at sebelumnya yang rukunnya kurang, dan raka’at sebelumnya tidak dihitung. Misalnya seseorang lupa mengerjakan ruku’ pada raka’at pertama dan baru ingat ketika ia sedang atau telah mengerjakan ruku’ pada raka’at kedua, maka raka’at pertama tidak dihitung karena rukunnya kurang, dan raka’at kedua dihitung sebagai raka’at pertama.

Adapun jika lupa mengerjakan salah satu/beberapa kewajiban sholat, maka tidak ada keharusan baginyanya untuk mengulangi kewajiban tersebut, melainkan ia hanya dituntut untuk melakukan sujud sahwi.

Ragu-ragu tentang Rukun atau Kewajiban dalam Sholat:

Yaitu ragu-ragu tentang apakah ia kelebihan atau kekurangan raka’at atau rukun sholat, maka:

  1. Jika ia ragu antara kelebihan atau kekurangan rukun/raka’at, tapi ia lebih cenderung yakin kepada salah satu dari keduanya, maka ia harus memilih kecenderungannya tersebut. Kemudian ia melakukan sujud sahwi setelah salam. Misalnya seseorang ragu apakah ia berada pada raka’at ketiga atau keempat pada sholat zhuhur. Tapi ia lebih cenderung yakin raka’at ketiga, maka ia harus memilih rak’at ketiga yang lebih ia cenderungi. Kemudian diakhir sholat ia sujud sahwi.
  2. Adapun jika ia ragu dan tidak cenderung kepada salah satu keduanya (keraguannya fifty-fity), maka ia harus memilih yang lebih meyakinkan, yaitu bilangan yang lebih sedikit, kemudian ia sujud sahwi sebelum salam. Misalnya seseorang ragu apakah ia berada pada raka’at ketiga atau keempat pada sholat zhuhur, dan ia tidak lebih cenderung kepada keduanya, maka ia harus memilih angka yang paling sedikit karena itu lebih meyakinkan, kemudian ia menyempurnakan sholatnya dan sujud sahwi di akhir.

Sujud Sahwi Sebelum Salam atau Setelahnya?

Mengenai sujud sahwi apakah dilakukan setelah salam atau sebelumnya, dalam masalah ini ada perbedaan (khilaf) diantara para ulama. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa:

  1. Jika lupa berupa penambahan dalam sholat, maka sujud sahwi dilakukan setelah salam.
  2. Jika lupa berupa kekurangan, maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam.
  3. Adapun dalam keadaan ragu, jika ia lebih cenderung meyakini salah satunya, maka ia sujud sahwi setelah salam, dan jika tidak cenderung kepada salah satu dari keduanya, maka sujud sahwi sebelum salam.
  4. Adapun jika berkumpul dua sebab, yang satunya mengharuskan sujud sahwi sebelum salam, seperti lupa tasyahud awal, dan yang lain mengharuskan sujud sahwi setelah salam, seperti menambah sujud atau ruku’ karena lupa, maka ia cukup melakukan sujud sahwi satu kali (2 kali sujud). Pendapat yang lebih kuat bahwa sujud sahwi dilakukan sebelum salam, terutama jika bagi seorang imam. Hal ini untuk memudahkan bagi para ma’mum, dan menghindari potensi keraguan yang mungkin terjadi pada orang yang masbuq.

Apa Bacaan Ketika Sujud Sahwi dan Ketika Duduk Diantara Keduanya?

Sepengetahuan kami, tidak terdapat dalil tentang dzikir khusus didalam sujud sahwi. Oleh karena itu, hukumnya seperti hukum sujud sholat pada umumnya, dan bacaan pada keduanya seperti bacaan sujud pada sholat, misalnya membaca “subhaana rabbiyal ‘alaa”  dan boleh juga ditambahkan dengan do’a, sebagaimana sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

“Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdo’a (pada waktu sujud).” (HR. Muslim no. 482)

Demikian juga bacaan ketika duduk diantara dua sujud sahwi, sama dengan bacaan diantara dua sujud pada umumnya.

Imam Nawawi -rahimahullah- berkata:

“Sujud sahwi adalah dua sujud yang diantara keduanya ada duduk (diantara dua sujud), pada duduk tersebut disunnahkan untuk duduk iftirasy, dan duduk tawarruk setelah dua sujud sampai ia salam. Dan tatacara dua sujud sahwi, baik bentuk dan bacaannya adalah sama seperti umumnya tatacara sujud pada sholat. ” (Al-Majmu’ 4/72)

duduk iftirasy dan tawarruk
Disunnahkan duduk iftirasy ketika duduk diantara dua sujud sahwi, dan duduk tawarruk setelah bangkit dari sujud terakhir kemudian salam.

Bagaimana jika Kelupaan Sujud Sahwi?

Sujud sahwi disyari’atkan untuk menambal kelupaan yang terjadi di dalam sholat. Namun bagaimana jika seseorang sampai lupa sujud sahwi?

Menurut pendapat yang lebih kuat, apabila seseorang lupa untuk sujud sahwi, maka ia tidak perlu mengqadha (mengganti) sujud tersebut, ini jika ia lupa dan baru ingan setelah berselang jeda waktu yang lama, dan shalatnya dianggap sah. Tapi apabila ia lupa kemudian ingat seketika, baik sebelum salam maupun setelah salam, maka ia wajib untuk sujud sahwi.

Lamanya waktu jeda ditentukan oleh ‘uruf (kebiasaan) setempat.

Demikian pembahasan mengenai apa yang harus dilakukan ketika lupa dalam tasyahud awal, dan tatacara sujud sahwi. Semoga bermanfaat.

 


(Referensi artikel ini diambil dari beberapa artikel di situs https://islamqa.info)

Hosting Unlimited Indonesia

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Isu Toleransi – Beberapa hari ke depan tanggal 25 Desember akan segera tiba, dan dapat ditebak, kontroversi boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal bagi ummat Islam akan mencuat kembali, seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Tahukah Anda bahwa kaum Puritan (bagian dari Kristen Protestan) pada tahun 1647 an pernah melarang perayaan Natal (Christmas) di Inggris dan New England (kini bagian dari Amerika Serikat ). Natal dianggap sebagai perayaan Papist (istilah sindiran untuk gereja Katolik oleh kaum Protestan) dan perayaan yang tidak memiliki dasar dari Alkitab”

Namun, sebelum membahas hukum mengucapkan selamat Natal oleh kaum muslimin, sebaiknya kita mengetahui dulu sedikit sejarah tentang perayaan Natal ini.

Sejarah Perayaan Natal & Tahun Baru

Masyarakat modern umumnya mengenal Natal sebagai perayaan Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, tanggal 25 Desember. Tapi, tidak banyak yang tahu bahwa perayaan ini memiliki jejak sejarah yang jauh sebelum era kekristenan, tepatnya pada era Pagan Romawi.

Menurut ahli sejarah, seperti yang disebutkan situs berita Inggris Indepentent.co.uk  perayaan Natal berawal setidaknya dari 2 perayaan paganisme Romawi saat itu, yaitu perayaan Saturnalia dan Ferstival Yule.

Saturnalia adalah perayaan orang Romawi yang dilaksanakan sekali setahun yang dimulai pada tanggal 19 Desember dan berlangsung selama seminggu. Pada perayaan ini hukum tidak berlaku untuk beberapa waktu selama festival, orang bebas melakukan apa saja, membunuh, merampok, memperkosa dsb. tanpa takut dihukum, dan perayaan ini adalah asal usul adanya “purge”.

Sesuai namanya, Saturnalia, berasal dari nama dewa Romawi “Saturn”, yaitu dewa agrikultur dan kebebasan. Saturnalia mungkin festival yang paling masyhur pada masyarakat Romawi. Saturnalia adalah waktunya pesta-pora, bebas bicara, bebas apa saja (mabuk, seks bebas dll).

Setelah masa titik balik matahari, malam yang paling gelap dalam setahun, perayaan penyambutan pembaharuan mentari baru dan tahun baru kemudia dilakukan oleh imperium Romawi, yaitu pada Dies natalis (hari lahir) dewa matahari resmi kaum Romawi, Sol Invitus, pada 25 Desember.

Kelahiran Yesus, 25 Desember dan Koneksinya Dengan Perayaan Natal

Pada tahun 340 masehi, Paus Julius I, menetepkan 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus. Padahal sebelum itu, tanggal kelahiran Yesus, setidaknya ada 3 perbedaan pendapat, yaitu antara tanggal 29 Maret, 6 Januari, dan Juni, dimana para pakar sejarah kini lebih meyakini pendapat ini (daripada 25 Desember).

250 tahun kemudian, Paus Gregory menugaskan saint Augistine untuk mengkristenkan kaum pagan Inggris (the heathen Brits).

Dengan ditetapkannya 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus, pekerjaan saint Augustine menjadi lebih terbantu, karena penduduk pagan tersebut memiliki beberapa festival tengah musim dingin (sekitar akhir Desember-Januari). Dengan harapan mereka dapat mengadopsi ajaran baru Kristen tersebut tanpa harus kehilangan festival pesta pagan tahunan mereka.

Karena kebiasaan pesta mabuk-mabukan pada hari Natal, bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh orang modern. Kebiasaan ini sudah ada pada masa sebelum kekristenan, setidaknya ada 2 festival besar yang bertepatan dengan tanggal natal, yaitu festival Saturnalia dan dan pesta Yule. (sumber)

Bukti sejarah mengindikasikan bahwa Yesus lahir pada musim semi (bukan pada musim dingin Desember). Tapi, misionaris Kristen waktu itu mengadopsi perayaan kaum pagan Yuli, untuk mengambil hati dan mengkristenkan kaum pagan yang sangat cinta dan fanatik perayaan tradisional mereka. Kaum kristen. Kaum Kristen awal-awal juga mengagumi tradisi pedalaman paganisme.

Philip Shaw, seorang peneliti bahasa Germanic dan Inggris kuno di Universitas Leicester, mengatakan, “Orang Kristen pada periode itu cukup tertarik pada paganisme.” Katanya pula, “Itu jelas mereka mengira itu sesuatu yang buruk, tapi pada waktu yang sama mereka berpikir itu sesuatu yang patut diingat. Ini tradisi yang biasa dilakukan oleh nenek moyang mereka.”

Ada dua hari raya paganisme yang paling terkenal pada waktu itu, yaitu perayaan Germanic Yule dan perayaan Saturnalia Romawi. Misionari Kristen kemudian mengadopsi dan menyesuaikannya yang sekarang kita kenal dengan nama Natal. (sumber)

Asal Usul Paganisme pada Pohon Natal

sejarah asal usul pohon natal
perayaan hari natal tidak lepas dari pohon natal dan sosok Santa Claus

Dikuti dari situs Wikipedia, “Sumber-sumber lain juga menyebutkan hubungan antara simbol pohon natal pertama yang terekam dalam sejarah adalah di Alsace pada tahun 1600, dan tradisi (penyembahan dan pengagunagan) pohon sebelum era kekistrenan. Misalnya, menurut Encyclopædia Britannica, “Penggunaan pohon hijau abadi (seperti pinus, dll) dan karangan bunga sebagai simbol kehidupan abadi merupakan kebiasaan orang Mesir kuno, Cina dan Yahudi. Penyembahan pohon adalah hal yang lumrah pada masa kaum paganisme Eropa, dan masih bertahan meskipun mereka telah menganut kristen, pada kebiasaan orang Skandinavia dalam mendekorasi rumah dan lumbung dengan pohon hijau abadi pada tahun baru untuk menakuti setan dan memasang pohon untuk dihinggapi burung selama hari Natal.

Demikian juga, pada festival Romawi pertengahan musim dingin, Saturnalia, rumah-rumah didekorasi dengan karangan-karangan bunga dari pohon tumbuhan hijau abadi bersama dengan adat kuno yang kini dikaitkan dengan Natal.

Dulu, bangsa Viking dan Saxon juga menyembah pohon. Cerita tentang saint Bonafice memotong  Donar’s Oak (pohon sakral bangsa pagan Jerman) mengilustrasikan praktek paganisme pada abad ke 8 masehi pada bangsa Jerman. Cerita versi lainnya yang berkembang kemudian, menggambarkan secara detail bagaimana sebuah pohon hijau tumbuh pada pohon Oak yang telah ditebang, memberitahukan mereka bagaimana bentuk segi tiganya mengingatkan manusia pada ajaran Trinitas, dan bagaimana ujung atas dari segitiga menunjuk ke langit. (sumber)

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- ditanya:

Apa hukum mengucapkan selamat Natal kepada orang Nasrani? dan bagaimana cara kita merespon jika mereka memberi kita ucapan selamat Natal?

Apakah boleh mengunjungi tempat-tempat perayaan Natal? dan apakah seseorang berdosa melakukan hal-hal tersebut tanpa keyakinan didalam hati? Ia melakukannya hanya untuk basa-basi, atau karena malu, atau perasaan tidak enak atau sebab-sebab lainnya? bolehkah kita meniru mereka dalam hal itu?

Beliau menjawab:

Mengucapkan selamat hari raya Natal atau hari-hari raya mereka (orang kafir) yang lain adalah haram, menurut kesepakatan para ulama, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim -rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkaam Ahludz dzimmah”, beliau berkata,

“Adapun mengucapkan selamat atas syi’ar-syi’ar kekafiran yang merupakan ciri khusu mereka adalah haram menurut ittifaq (kesepakatan ulama), misalnya memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengatakan, “selamat hari raya atasmu” dan yang semisalnya. Ini jika pun pelakunya selamat dari resiko kafir karenanya, tapi ia dapat dipastikan termasuk dalam hal yang haram, ini sama seperti ia mengucapkan selamat padanya atas sujudnya kepada salib. Hal ini, dosanya lebih besar dan lebih dimurkai oleh Allah daripada memberiselamat pada orang yang minum khamr, pembunuh, pezina dan lainnya. Banyak orang yang tidak menghargai akidah dan agamanya terjatuh dalam hal ini, dan ia tidak memahami betapa buruknya perbuatannya, siapa yang memberi selamat kepada pelaku maksiat, pelaku bid’ah atau pelaku kufur, maka sungguh ia telah memaparkan dirinya pada murka Allah.” (Ibnul Qayyim, Ahkaam Ahludz dzimmah)

Bagaimana Respon Kita jika Mereka Mengucapkan Selamat Natal Pada Kita?

Kemudian syaikh Ibnu ‘Utsaimin melanjutkan, “Dan jika mereka memberi kita ucapan selamat atas hari raya mereka, kita tidak perlu membalasnya, karena itu bukan hari raya kita, dan karena itu hari raya yang tidak diridhoi Allah Ta’ala…”

Memenuhi undangan mereka untuk merayakan hari raya mereka juga haram, bahkan ini lebih berat daripada ucapan selamat semata. Karena ia telah ikut serta dalam perayaan tersebut, demikian juga haram bagi muslim menyerupai orang kafir dan melaksanakan pesta untuk acara ini, atau ikut tukar menukar hadiah, membagikan permen atau makanan, atau melakukan cuti, dan semisalnya, berdasarkan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.”

Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya “Iqtidha Shirathal Mustaqim”, “Ikut serta pada sebagian hari raya mereka dapat menjadikan mereka besar hati atas agama mereka yang bathil, dan mungkin itu membuat mereka lebih berambisi mengambil kesempatan untuk merendahkan orang-orang lemah.” (Ibnu Taimiyah)

Dan barangsiapa yang melakukan hal itu maka ia berdosa, baik ia melakukannya demi basa-basi, karena rasa cinta, karena malu atau alasan lainnya, karena itu termasuk penjilat dalam agama Allah, dan termasuk sebab yang membuat jiwa orang kafir bangga dan besar hati dengan agamanya.” (Sumber)

Dan agar tidak salah faham, kita mungkin menjelaskan dengan baik kepada mereka mengenai posisi kita dalam hal ini. Jelaskan bahwa dalam prinsip Islam, seorang muslim tidak boleh memberi selamat kepada hari raya, ibadah dan ritual agama lain, dan ini termasuk hal prinsip yang tidak ada basa basi.

Apakah Tidak Mengucapkan Selamat Natal Berarti Tidak Toleransi (Intolerant)?

Tidak mengucapkan selamat natal sama sekali bukan tidak toleransi. Karena toleransi adalah sikap membiarkan atau diam dengan batas tertentu yang dibolehkan (ditolerir).

Maka, dalam pandangan Islam, mengucapkan atau ikut serta dalam hari raya, ibadah dan ritual agama lain merupakan hal yang telah melewati batas yang diperbolehkan, maka dalam hal ini orang Islam tidak dibolehkan untuk ikut serta.

Setiap agama pasti memiliki batasan-batasan yang tidak boleh diterobos oleh pengikutnya, demikian juga dengan Islam, diantara adalah larangan mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, karena itu telah melampaui batas agama Islam.

Justru orang yang mempermasalahkan orang Islam yang tidak mau mengucapkan selamat Natal, karena mengikuti prinsip agamanya, adalah orang yang intoleran.

Syariat Islam cukup toleran kepada agama lain. Contohnya Islam tidak melarang untuk bertetangga dan berbisnis dengan non muslim, bahkan non muslim yang hidup di negara islam memiliki hak-hak khusus yang tidak boleh dilanggar. Orang Islam wajib berbuat baik kepada tetangganya baik muslim maupun non-muslim, dan haram menyakiti mereka. Non muslim diberi kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing, dan orang islam haram mengganggu atau melarang ibadah mereka.

Islam cukup toleran dalam banyak hal kepada non muslim, tapi tentu dengan batasan-batasan tertentu.

Kesimpulan

Dari ulasan diatas, maka jelas seorang muslim haram hukumnya mengucapkan selamat Natal, dan haram ikut serta dalam acara keagamaan non muslim lainnya.

Terlebih peringatan Natal dan tahun baru, sebagaimana dibuktikan oleh ahli sejarah, merupakan berasal dari perayaan paganisme kuno yang sarat dengan kesyirikan dan immoralitas. Ironisnya kaum puritan yang notabene bagian dari Kristen pernah melarang perayaan ini, namun kenapa kita ummat Islam “latah” dan malah ikut-ikutan?

Tidak mengucapkan selamat natal tidak ada hubungannya dengan toleransi, karena setiap agama memiliki batasan-batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh pemeluknya. Jika demikian, maka setiap orang  yang mengikuti prinsip agamanya masing-masing bisa dikatakan intoleran?

Justru orang yang mempermasalahkan orang Islam yang tidak mau mengucapkan selamat Natal, karena mengikuti prinsip agamanya, adalah orang yang intoleran.


Referensi:

  • https://en.wikipedia.org/wiki/Christmas_controversies#Puritan_era
  • https://newengland.com/today/living/new-england-history/how-the-puritans-banned-christmas/
  • https://www.independent.co.uk/news/long_reads/dark-side-christmas-saturnalia-christmas-carol-dickens-norse-mythology-festive-traditions-a8112341.html
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Christmas_tree#Origin_of_the_modern_Christmas_tree
  • https://ar.islamway.net/fatwa/4582/%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%87%D9%86%D8%A6%D8%A9-%D8%A8%D8%B9%D9%8A%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%B1%D9%8A%D8%B3%D9%85%D8%A7%D8%B3
Hosting Unlimited Indonesia

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

apakah kafir non muslim termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Jawabannya Ya dan Tidak. Kenapa ya dan kenapa tidak? akan kami jelaskan sesaat lagi pada tulisan ini.

Selama ini, kita atau kebanyakan dari kita, hanya tahu bahwa ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah mereka yang beriman kepadanya, dan ajaran yang dibawanya, dan mati dalam keadaan beriaman. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada beliau bukan termasuk ummat beliau.

Tapi, tahukah Anda bahwa ummat Nabi Muhammad itu terbagi menjadi dua macam, yakni:

1. Ummatu Da’wah (أمة الدعوة)

Ummat dakwah adalah seluruh jin dan manusia, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada seluruh alam (yaitu jin dan manusia), dan ini termasuk semua jenis manusia, baik Arab maupun non Arab, dan apapun kepercayaan dan agama mereka.

Semua adalah ummat Nabi Muhammad dalam artian mereka semua masuk dalam lingkup yang harus disampaikan atau didakwahkan agama Islam oleh Nabi yang mulia Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Dalilnya sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

والذي نفسي بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار. رواه مسلم

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah seorangpun dari ummat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang (kenabian) ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah (islam) yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk ahli neraka.” (HR. Muslim)

Sabda beliau “dari ummat ini” maksdunya adalah ummat dakwah, mereka yang menjadi objek dakwah beliau, yaitu seluruh manusia dan jin.

Maka, dalam kategori ini, orang kafir dan non-muslim adalah termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana mereka dituntut untuk beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Status orang kafir dan non muslim sebagai ummat dakwah Nabi hanyalah di dunia, adapun di akhirat mereka bukan lagi termasuk ummat dakwah, karena sudah tidak ada dakwah di akhirat.

1. Ummatu Ijabah (أمة الإجابة)

Ummat ijabah artinya ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang telah mengijabah (menjawab dan menerima) dan beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Mereka adalah ummat Islam. Mereka adalah ummat Nabi Muhammad yang sebenarnya, yang status mereka sebagai ummat beliau abadi dan melekat baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana sabda beliau:

شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي. رواه أبو داود والترمذي وقال: حسن صحيح غريب. وأحمد، وصححه الألباني

“Syafa’atku akan diperoleh oleh pelaku dosa besar dari ummatku.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi, dishahihkan oleh Al-albani)

Ummat ijabah ini adalah mereka yang akan menyandang status ummat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  ketika setiap ummat berjalan dibelakang pemimpin mereka, ini sebagaimaan dalam hadits:

عرضت علي الأمم فجعل يمر النبي معه الرجل، والنبي معه الرجلان، والنبي معه الرهط، والنبي ليس معه أحد، ورأيت سوادا كثيرا سد الأفق فرجوت أن تكون أمتي، فقيل: هذا موسى وقومه. ثم قيل لي: انظر فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل لي: انظر هكذا وهكذا، فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل: هؤلاء أمتك، ومع هؤلاء سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب. متفق عليه

“Diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada Nabi yang bersamanya seorang pengikut, Nabi bersamanya dua orang pengikut, Nabi bersamanya sekelompok pengikut dan bahkan ada Nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun. Aku melihat pula sekelompok besar yang banyak, yang jumlah mereka menutupi ufuk, ketika itu aku berharap mereka adalah ummatku, lalu dikatakan: ini adalah Musa dan kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku: lihatlah, maka aku melihat sekelompok besar yang banyak menutupi ufuk, kemudian dikatakan pula kepadaku: lihatlah, begini dan begini, maka aku lihat lagi sekelompok besar yang banyak, menutupi ufuk, lalu dikatakan: mereka adalah ummatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika kata “ummat” atau “ummat Nabi Muhammad” disebut maka yang dimaksud adalah ummat Islam, ummat ijabah, kecuali jika ada indikasi lain yang memalingkannya dari makna dasar ini, indikasi itu bisa berupa keterangan setelahnya seperti pada hadits sebelumnya, dan bisa berupa hal lainnya.

Kesimpulan

Menjawab pertanyaan apakah non muslim (orang kafir) termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, maka jawabannya adalah, ya, mereka adalah ummat dakwah beliau.

Status ummat dakwah bagi orang kafir ini hanya sementara di dunia, sedangkan di akhirat mereka bukan lagi ummat dakwah beliau.

Ummat beliau yang hakiki adalah ummat islam, yaitu ummat ijabah. Status mereka sebagai ummat Nabi abadi sampai hari kiamat.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga kita mati sebagai ummat ijabah Nabi Muhammad shallallahu’aihi wa sallam dan mendapatkan syafa’at beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.

 

Referensi: www.islamweb.net

Hosting Unlimited Indonesia

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya

ijma' pengertian, definisi, macam dan syaratnya

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya – Apa yang dimaksud dengan ijma’, apa saja syarat-syarat dan berapa macam pembagiannya? Berikut ulasannya.

Pengertian Ijma’

Ijma’ (الإجماع) berasal dari kata jama’a, yajma’u, jam’an, ijmaa’an (جمع – يجمع – جمعا – إجماعا) secara bahasa berarti berkumpul, mengumpulkan, perkumpulan. Ijma’ juga berarti kesepakatan dan tekad.

Adapun defenisi ijma’ secara istilah adalah:

اتفاق مجتهدي هذه الأمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم على حكم شرعي

“Kesepakatan (konsensus) para mujtahid ummat islam setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam atas suatu hukum syar’i.”

Penjelasan definisi:

Kesepakatan (konsensus) para mujtahid : maka tidak termasuk ijma’ jika dalam suatu masalah terdapat perbedaan pendapat (khilaf), meskipun khilaf tersebut dari satu orang mujtahid.

Kemudian, kesepakatan tersebut harus bersumber dari ulama mujtahid, mereka yang telah derajat ijtihad, bukan dari orang awam, atau mereka yang masih taqlid (muqallid).

Adapun orang awam atau muqallid, kesepakatan mereka dalam suatu hukum syari’at tidak dianggap, demikian juga perselisihan mereka, karena orang awam dan muqallid tidak kredibel dan bukan sumber untuk bertanya dalam masalah hukum syari’at.

Ummat islam: kesepakatan tersebut harus dari mujtahid ummat islam, bukan selain mereka

Setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam : suatu ijma’ harus terjadi setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam wafat, maka tidak termasuk ijma’ ketika beliau masih hidup. Karena yang menjadi dalil ketika Nabi shallallahu’alaihiwasallam  masih hidup adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau sendiri.

Oleh karena itu, jika ada sebuah hadits/atsar perkataan sahabat yang berbunyi “dulu kami di zaman Nabi mengerjakan ini..” atau “mereka  dulu mengerjakan ini di zaman Nabi…” adalah berhukum marfu’ (perkataan sahabat yang disandarkan kepada Nabi) , bukan nukilan tentang ijma’.

Atas suatu hukum syar’i: objek dari ijma’ adalah hukum syari’at Islam, maka tidak termasuk ijma’ kesepakatan orang tentang suatu perkara adat atau hukum logika. Karena ijma’ merupakan salah satu dalil dari dalil-dalil syar’i.

Kedudukan Ijma’ dalam Syari’at Islam

Ijma’ merupakan salah satu dalil syar’i dan merupakan hujjah dalam suatu hukum syar’i.

Ijma’ menduduki peringkat ke 3 sebagai dalil syar’i setelah Quran dan Sunnah, kemudian setelah ijma’ ada qiyas yang menduduki peringkat ke 4 sebagai dalil syar’i.

Perlu diketahui bahwa Al-Quran dan As-sunnah (hadits) merupakan pokok dari dalil-dalil syar’i, sedangkan metode selain keduanya seperti ijma’, qiyas, mashalih al mursalah, dan lainnya adalah cabang.

Ijma’ merupakan hujjah dan dalil untuk menguatkan suatu hukum syari’at, dalilnya adalah:

Firman Allah ta’ala:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Firam Allah “agar kamu menjadi saksi atas manusia” mencakup saksi atas perbuatan dan hukum perbuatan mereka, dan “saksi” perkataannya dapat diterima.

Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam:

روى الترمذي (2167) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ ). وحسنه الألباني.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan ummatku diatas suatu kesesatan, dan tangan Allah diatas al-jama’ah.” (HR. At-Tirmidzi: 2167, dan statusnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah memelihara ummat ini (terutama ulamanya) dari persekongkolan dan kesepakatan atas suatu perkara bathil dan kesesatan.

Pembagian Ijma’, Jenis dan Macam-macamnya

Ijma’ dibagi menjadi dua macam, yaitu ijma’ qath’i (pasti) dan ijma’ zhanni (dugaan), berikut penjelasannya masing-masing:

1. Ijma’ Qath’i

Adalah ijma’ yang bersifat pasti dan diketahui secara spontan telah terjadi, seperti ijma’ mengenai kewajiban sholat lima waktu, ijma’ mengenai haramnya zina dll.

Ijma’ jenis ini tidak dipungkiri terjadinya oleh seorangpun dari kalangan ulama, mereka juga tidak memungkiri tentang kedudukannya sebagai hujjah/dalil, dan menyelisihi ijma’ jenis ini bisa berakibat kafir jika yang menyelisihinya adalah orang yang secara akal tidak mungkin ia tidak tahu (seperti umumnya orang islam, kecuali mungkin sebagian kasus orang yang baru masuk islam yang belum pernah belajar islam dengan baik)

2. Ijma’ Zhanni

Ijma’ zhanni adalah ijma’ yang tidak diketahui secara spontan tentang apakah pernah terjadi atau tidaknya didalam agama kecuali setelah diteliti lebih jauh, dan sifatnya masuh praduga.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kemungkinan terjadinya ijma’ jenis ini. Mungkin, pendapat yang paling tepat mengenai masalah ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah  yang berakata:

والإجماع الذي ينضبط ما كان عليه السلف الصالح ، إذ بعدهم كثر الاختلاف وانتشرت الأمة ” . أهـ

“Ijma’ yang menjadi patokan adalah ijma’ yang terjadi pada masa salaf shalih(1), adapun masa setelah mereka tidak menjadi patokan karena telah terjadi banyak perbedaan pendapat, dan ummat telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.” (Aqidah Qasithiyah, Ibnu Taimiyah)

Ketahuilah, bahwa ulama ummat ini tidak mungkin bersepakat untuk menyelisihi sebuah dalil yang shahih, sharih (jelas) dan tidak mansukh (dihapus hukumnya), karena mereka tidak mungkin bersepakat kecuali atas kebenaran.

Jika engkau melihat suatu ijma’ dan engkau mengira bahwa ijma’ tersebut menyelisihi dalil shahih, sharih dan tidak mansukh, maka ada 3 kemungkinan:

  1. bahwa yang yang engkau kira ijma’ sebenarnya bukan ijma’, tetapi ada perbedaan pendapat yang engkau tidak ketahui
  2. atau dalilnya tidak shahih
  3. atau dalilnya shahih tapi tidak sharih (jelas atau eksplisit menunjukkan suatu hukum tertentu dan tidak multi tafsir (implisit)
  4. atau dalil tersebut mansukh hukumnya dengan dalil lain.

Syarat Ijma’

Agar suatu masalah hukum syar’i berstatus ijma’  harus memenuhi syarat berikut:

  1. Suatu Ijma’ harus dikonfirmasi melalu jalur yang shahih, bahwa ia harus populer di kalangan para ulama, atau ijma’ tersebut dinukil oleh ulama yang terpercaya (tsiqah), luas pengetahuan dan wawasannya.
  2. Bahwa suatu ijma’ tidak boleh didahului oleh sebuah perbedaan pendapat sebelumnya, jika ada perbedaan pendapat sebelumnya maka kesepakatan yang datang setelahnya tidak dikategorikan ijma’ (secara istilah), karena suatu pendapat tidak hilang dengan wafatnya pemilik pendapat tersebut.

Maka, ijma’ atau kesepakatan yang datang belakangan tidak menghilangkan status sebuah khilaf (perbedaan pendapat) yang terjadi sebelumnya, hanya saja kesepakatan ini bisa mencegah terjadinya perselisihan

Inilah pendapat yang paling kuat (rajih) dalam masalah ini, karena metodeloginya yang kuat.

Pendapat lain mengatakan bahwa suatu ijma’ tidak disyaratkan harus tidak ada khilaf sebelumnya, menurut pendapat ini, jika para ulama di generasi berikutnya berijma’ atas salah satu pendapat sebelumnya(2) maka ijma’ tersebut sah, dan menjadi hujjah atas orang yang datang setelah mereka.

Suatu ijma’, menurut pendapat mayoritas ulama, tidak disyaratkan harus berakhirnya genarasi para ulama yang bersepakat tersebut, maka ijma’ berlaku seterusnya semenjak para ulama pada generasi bersepakat, dan tidak boleh bagi generasi setelah menyelisihi ijma’ tersebut.

Ini karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang hujjahnya ijma’ tidak menyebutkan syarat tentang berlalunya masa terjadinya ijma’, dan ijma’ telah tetap pada saat mereka bersepakat, lalu hal apa yang dapat menghilangkannya?

Hipotesis Skenario

Jika seorang ulama mujtahid berpendapat dengan suatu pendapat, atau melakukan suatu perbuatan yang berkonsekwensi hukum, lalu hal tersebut menjadi populer (masyhur) di kalangan ulama-ulama mujtahid lainnya, dan tidak seorangpun dari mereka mengingkari pendapat dan perbuatan tersebut padahal mereka punya kemampuan untuk mengingkarinya (jika mereka ingin), dalam kondisi ini ada beberapa pendapat:

  1. Bahwa pendapat seorang mujtahid tersebut menjadi ijma’ (karena tidak ada seorangpu dari ulama lainnya yang menyelisihinya)
  2. Pendapat tersebut hanya berstatus argumen / hujjah tapi bukan ijma’
  3. Lainnya mengatakan, pendapat tersebut bukan hujjah dan bukan pula ijma’
  4. Bahwa jika para ulama yang semasa dengan pendapat tersebut berlalu dan mereka semua telah wafat dan tidak seorang pun dari mereka mengingkari dan berbeda pendapat dengan pendapat seorang ulama mujtahid tersebut, maka pendapat ini menjadi ijma’, karena diam mereka yang terus menerus sampai wafat, padahal mereka memiliki kemampuan untuk menyelisihi dan mengingkari, adalah dalil atas kesepakatan mereka. Pendapat yang terakhir inilah lebih tepat.

Wallahu’alam.

Walhamdulillahirabbil’aalamin..

Tulisan ini utamanya dikutip dari kitab Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya Al-ushul min ‘ilmi al-ushul hal. 62-64, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.

 

Referensi:

https://islamqa.info

https://legacy.quran.com

https://sunnah.com/tirmidhi/33/10

 


Catatan kaki:

(1) Salafus shalih artinya pendahulu yang sholeh, adapun secara istilah mereka adalah 3 generasi awal ummat ini, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, terutama mereka yang dari kalangan ulama.

3 generasi tersebut istimewa berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat) kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Ijma’ berikutnya harus berdasarkan dan sesuai dengan salah satu pendapat sebelumnya, dan tidak boleh menelurkan pendapat baru yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.

Hosting Unlimited Indonesia

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji? ini Faktanya

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji ini Faktanya

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji?- Bulan Ramadhan adalah anugrah kepada ummat Nabi Muhammad shallallau’alaihi wa sallam dimana amal ibadah pada bulan ini akan digandakan pahalanya oleh Allah ta’ala.

Allah maha adil dan mengetahui bahwa umur ummat akhir zaman itu pendek, oleh karena itu, Allah menjadikan buat ummat ini waktu-waktu tertentu yang amalnya dilipat gandakan, sehingga kita bisa mengejar bahkan melampaui ummat terdahulu yang umurnya panjang dan amalnya banyak.

Pada bulan Ramadhan, amal yang biasa menjadi luar biasa, amal sunnah diberi pahala seperti amal wajib, dan amal wajib dilipatkan lagi pahalanya lebih banyak lagi.

Terkhusus umrah di bulan Ramadahan, ada sebuah hadits yang menyebutkan keutamaanya secara khusus, yaitu:

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال لامرأة من الأنصار يقال لها أم سنان: ((إذا جاء رمضان فاعتمري، فإن عمرة فيه تعدل حجة)). متفق عليه، وفي رواية لهما: ((حجة معي))

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasanya Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada seorang wanita dari Anshar yang digelari Ummu Sinan: “Jika telah datang bulan Ramadhan maka lakukakanlah umrah, karena umroh padanya setara dengan satu kali haji. (HR. Bukhari dan Muslim) dalam riwayat lainnya: “(Setara dengan) haji bersamaku”.

Berkata Al-munawi (4/361): “yakni, (umrah di bulan ramadan) menyamai dan menyerupai (haji) pada pahalanya, karena pahala diutamakan seiring keutamaan waktu, akan tetapi bukan berarti umrah di bulan Ramadhan tersebut menggugurkan kewajiban haji seseorang, ini berdasarkan ijma’  (konsensus).”

Hadits diatas menjadi dalil keutamaan umrah di bulan Ramadhan, dan bahwasanya setara dengan pahala satu kali haji, dalam riwayat lain disebutkan setara denga haji bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ini tidak hanya berlaku kepada wanita tersebut, melainkan umum kepada seluruh ummat islam.

Ini merupakan diantara sebagian kebaikan Allah ta’ala  kepada hamba-hamba Nya dengan menjadika pahala umrah setara dengan pahala haji dengan masuknya bulan Ramadhan.

Ini juga menjadi dalil bawha pahala amal akan bertambah dengan bertambahnya kemulian waktu, sebagaimana juga akan bertamabah dengan hadirnya hati, dan ikhlasnya niat.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah maha pemberi dan pengasih, Allah memberi kelebihan dengan apa saja yang dikehendaki Nya, kepada siapa yang dikehendaki Nya dan pada apa saja yang dikehendaki Nya, tiada siapapun yang bisa protes atas keputusan Nya, dan tiada siapapun yang bisa menolak keutamaannya.

Umrah di bulan Ramadahan dengan pahala haji dapat diperoleh dengan hanya sekedar datang ke Makkah melaksanakan manasik umrah saja, meskipun setelahnya ia langsung pulang dan tidak tinggal lama di Makkah.

Tapi, siapa yang diberi Allah tawfiq untuk tinggal lebih lama di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan, untuk beramal sholeh, maka sungguh ia telah diberi keutamaan yang tidak dapat dihargai dengan baik kecuali oleh orang-orang yang sholeh yang mengerti betapa berharganya waktu dan tempat yang mulia.

Sholat di Masjidil Haram pahalanya melebihi masjid-masjidnya, dalilnya:

وعن جابر – رضي الله عنه – أنَّ رسولَ الله – صَلَّى الله عليه وسَلَّم – قال: صلاةٌ في مسجدي أفضل من ألف صلاةٍ فيما سواه، إلاَّ المسجد الحرام، وصلاةٌ في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه

Dari Jabir radhiyallalahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallau’alaihi wa sallam bersabda:

“Sholat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama seribu kali daripada masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali daripada sholat diselainnya.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Al-bushiri berkata di dalam Az-zawaid 1/453 bahwa isnad hadits ini shahih dan perawi-perawinya terpercaya (tsiqah), dan dishahihkan pula oleh Al-mundziri di dalam At-targhib wa at-tarhib 2/214)

Maka ini adalah kesempatan emas bagi orang-orang yang ingin mengumpulkan bekal pahala dan perbendaharaan untuk akhirat, dengan beribadah di tempat yang paling mulia, dengan amalan yang paling mulia, dan waktu yang paling mulia.

Lebih-lebih lagi jika Anda bisa beri’tikaf disana pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yang pada salah satu malamnya terdapat satu malam yang amal di dalamnya lebih baik dari pada amal seribu bulan, itulah malam lailatul qadar.

  إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadar : 1-5)

Demikian penjelasan ringkas tentang keutamaan umrah di bulan Ramadhan, semoga bermanfaat.

Referensi: www.alukah.net

Hosting Unlimited Indonesia

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

pengertian mukallaf syarat dan dalilnya

Apa itu mukallaf dan apa syarat-syarat serta dalilnya? simak pembahasannya berikut ini.

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

Pengertian Mukallaf

Mukallaf adalah sebuah istilah di dalam ilmu ushul fiqh yang artinya orang yang dibebani hukum atau syari’at, berupa perintah maupun larangan.

Seseorang jika sudah mukallaf maka ia menjadi subjek atas hukum taklif. Hukum taklif ada 5 perkara, yaitu: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Syarat Mukallaf

Ada beberapa syarat agar seorang mukallaf dapat dibebani hukum taklif. Berikut ini syarat-syarat seseorang agar dapat dibebani hukum taklif dan menjadi mukallaf:

Islamdalilnya adalah ijma’ (kesepakatan ulama) bahwasanya seorang kafir tidak diterima darinya amalan. Seorang kafir dituntut untuk menerima pokok agama terlebih dahulu yaitu islam, baru setelah itu ia dituntut menjalankan cabang agama berupa hukum-hukum.

Baligh: yaitu telah cukup umur, dan patokan seorang anak cukup umur menurut para ulama adalah setelah ia mengalami “mimpi basah”, atau mulai tumbuh bulu kemaluan dan bulu ketiaknya, atau telah berumur 15 tahun.

Ulama Malikiah (dari madzhab maliki) berpendapat bahwa seorang anak kecil akan mendapat pahala jika ia melakukan yang wajib, akan tetapi ia belum berdosa jika meninggalkan kewajiban tersebut. Demikian juga ia berpahala jika mengerjakan yang sunnah dan menjauhi yang haram, dan belum berdosa jika ia mengerjakannya. Demikian juga jika ia berpahala jika menjauhi yang makruh.

Dalil mereka adalah, bahwasanya seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membawa bayi, ia lalu mengangkat bayi tersebut dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah bayi ini boleh (sah) melakasanakan haji? Beliau menjawab: “Ya, dan pahalanya untukmu.”

Berakal: Para ulama ahli ushul (fiqh) berkata “akal adalah tempatnya taklif (pembebanan hukum)”

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pena diangkat (perbuatannya tidak dicatat/diperhitungkan) dari tiga golongan orang: dari bayi sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh.”

Sampainya informasi hukum syari’at: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَّنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah tidak menghisab manusia atas hukum-hukum syari’at yang dibawa oleh Rasul, sampai informasi mengenai hukum-hukum syari’at itu sampai kepada mereka.

Ibnu katsir ketika menafsirkan ayat dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. berkata: Ini adalah pemberitahuan tentang keadilah Nya subhanahu wa ta’ala, dan bahwa Ia tidak akan mengazab seorangpun kecuali setelah tegak hujjah atasnya dengan diutusnya seorang Rasul kepadanya.(1)
Mampu: perintah itu tergantung kepada kemapuan, karena tidak berlaku sebuah perintah jika lemah, dan tidak pula berlaku larangan jika terpakasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika aku perintah kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah sejauh kemampuan kalian.”

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)

Demikian ulasan ringkas tentang Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya. Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menambah ilmu dan wawasan keislaman kita, serta diberi tawfiq untuk mengamalkannya. Aamiin.

 

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/0/103690


Catatan kaki:

(1) Setelah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sudah tidak ada lagi seorang Nabi dan Rasul pun, karena beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir, dan penutup kenabian. Maka setelah beliau, suatu hujjah tegak dengan sampainya Islam dan penjelasannya melalui para ulama, pendakwah dan media apa saja.

Hosting Unlimited Indonesia

Hukum Taklifi: Pengetian, Pembagian dan Penjelasannya

hukum taklifi pengertian dan pembagiannya

Taklif artinya beban atau tanggungan. Hukum Taklifi atau jamaknya Al-Ahkaam At-Taklifiyyah  (الأحكام التكليفية) adalah hukum-hukum yang dibebankan kepada seorang muslim yang telah memenuhi syarat atau yang disebut dengan mukallaf (orang yang telah dibebabi hukum).

Pembagian Hukum Taklifi

Hukum Taklifi dibagi menjadi 5 hukum, yaitu:

Hukum Taklifi 1: Wajib

Wajib adalah sesuatu yang diperintahkan di dalam syari’at dengan penekanan dan keharusan.

Contohnya sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, melaksanakan haji bagi yang mampu. Wajib juga disebut dengan fardhu, faridhah, hatmun, dan lazim.

Konsekwensi orang yang melaksanakan wajib adalah mendapat pahala, dan orang yang meninggalkannya mendapat dosa dan hukuman.

Hukum Taklifi 2: Sunnah

Sunnah juga dinamakan dengan mandub, mustahab, dan nafilah. Sunnah disini berbeda dengan sunnah yang dimaksud dalam ilmu hadits, karena sunnah menurut ahli hadits adalah perbuatan, perkataan dan persetujuan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. 

Definisinya sunnah dalam hukum taklifi adalah: Segala sesuatu yang diperintahkan oleh syari’at dengan tanpa penekanan dan keharusan.

Contoh sunnah seperti sholat lail atau tahajjud, sholat sunnah rawatib, puasa 3 hari di setiap bulan, puasa di hari senin dan kamis, puasa 6 hari di bulan Syawwal, bersedekah kepada faqir dan miskin.

Sunnah jika dikerjakan berpahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Hukum Taklifi 3: Haram

Haram adalah segala sesuatu yang dilarang oleh syari’at dengan penekanan dan kemestian. Contohnya seperti haramnya zina, mengambil riba, durhaka pada orang tua, mencukur jenggot bagi pria, tabarruj wanita (bersolek secara berlebihan).

Orang yang meninggalkan yang haram akan mendapat pahala, dan pelakunya akan mendapat dosa dan siksa.

Hukum Taklifi 4: Makruh

Makruh adalah sesuatu yang dilarang oleh syari’at tanpa penekanan.

Contoh makruh seperti memberi dan menerima dengan tangan kiri, wanita mengiringi jenazah, ngobrol setelah sholat isya, sholat dengan menggenakan satu kain saja dan pada bahunya tidak ada sehelai kainpun, sholat nafilah setelah sholat subuh sampai terbitnya matahari, dan sholat nafilah setelah ‘ashar sampai terbenam matahari.

Makruh jika ditinggalkan akan mendapat pahala, dan tidak ada hukuman bagi orang yang mengerjakannya.

Hukum Taklifi 5: Mubah 

Mubah juga disebut dengan boleh dan halal.

Definisanya: Segala sesuatu yang tidak terkait dengan perintah maupun larangan pada dzat sesuatu tersebut.

Contoh mubah seperti makan dan minum, transaksi jual beli, pergi untuk melancong maupun mencari rejeki, bermesraan dengan istri pada malam bulan ramadhan, dll.

Pada definisi mubah ditambahakan kalimat “pada dzatnya” karena sesuatu yang mubah tersebut berkaitan dengan hal lain, yang merubah hukumnya menjadi sesuatu yang diperintahkan atau sesuatu yang dilarang. Contohnya, tindakan membeli air asal hukumnya adalah mubah, tapi jika dalam kondisi tidak ada air untuk wudhu dan sholat fardhu kecuali dengan dibeli, maka membeli air menjadi wajib, dari semula hukumnya mubah, karena sesuatu yang jika tidak sempurna sebuah kewajiban kecuali dengannya, maka hukumnya menjadi wajib pula.

Contoh lainnya adalah safar. Pada dasarnya safar atau berpergian hukumnya mubah, tapi jika safar ini menuju negeri kafir yang disana banyak terjadi fitnah, maksiat dan tersebarnya perbuatan keji, maka hukum safar tersebut menjadi haram.

Demikian penjelasan ringkas mengenai hukum taklifi pembagian dan penjelasannya. Tentu ini merupakan penjelasan yang sangat dasar, dengan tujuan untuk memberikan sedikit pemahaman mengenai makna hukum taklifi. Jika ingin mendalaminya lebih jauh Anda dapat mempelajarinya di dalam kitab-kitab ushul fiqh.

Wallahu ‘Alam.

Referensi: https://islamqa.info

Hosting Unlimited Indonesia

Hukum Umrah dan Haji dengan Uang Haram

haji umrah dengan uang dan harta haram

Apa hukumnya jika seseorang ingin melaksanakan haji atau umrah dengan menggunakan uang haram, seperti uang hasil korupsi, mencuri, riba, dan lainnya? Apakah haji dan umrahnya sah?

Berikut jawabannya yang kami kutip dari situs islamqa.info

Hukum Umrah dan Haji dengan Uang Haram

Pertanyaan: Orang yang pergi haji dengan uang haram, apakah hajinya sah atau tidak?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah..

Hajinya sah, dan ia telah menunaikan kewajiban hajinya, akan tetapi hajinya tidak mabrur, dan pahalanya sangat kurang.

Imam Nawawi berkata di dalam kitab Majmu’nya: Jika seseorang pergi haji dengan harta haram, ia mendapat dosa, akan tetapi hukum hajinya sah dan memadai, ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Majmu’, Nawawi, 7/62)

Disebutkan di dalam Al-Mausu’ah Al-fiqhiyah 12/131):

Jika ia pergi haji (atau umrah) dengan harta atau uang yang tidak jelas (syubhat) atau dengan uang hasil curian, maka haji (dan umrah) nya sah menurut hukum zhahir, akan tetapi ia telah melakukan maksiat dan dosa dan hajinya tidak mabrur.

Pendapat ini adalah madzhab Syaafi’i, Malik dan Abu Hanifah rahimahumullah dan pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf (ulama dahulu dan belakangan).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Haji dengan uang haram tidak memadainya.” Di dalam riwayat lain ia berpendapat hajinya sah tetapi tindakannya haram.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, bahwasnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang musafir yang telah lama berjalan, kondisinya lusuh dan berdebu, lalu ia membentangkan kedua tangannya ke langit untuk berdoa: Wahai tuhan ku, wahai Tuhanku, sedangkan makanannya dari haram, minumannya dari haram, pakaiannya dari haram, dan ia hidup dengan harta haram, karena itu bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”

Berkata Syaikh bin Baz rahimahullah:

Hajinya sah jika ia tunaikan sesuai tuntunan syari’at Allah, tetapi ia berdosa karena mengambil pengahasilan haram, dan ia harus bertaubat kepada Allah dari demikian, dan hajinya dianggap kurang sebab mengambil penghasilan haram, akan tetapi telah gugur baginya kewajiban haji (karena ia telah melakukan haji yang sah mesikipun dengan uang haram) (Fatawa Bin Baz 16/387)

Disebutkan di dalam fatwa Lajnah Daimah (11/43):

Melaksanakan haji dengan harta haram tidak menghalangi keabsahan haji tersebut, disetai dengan dosa karena penghasilan haram, dan ia mengurangi pahala hajinya akan tetapi tidak menyebabkan hajinya batal.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/48986/%D8%AD%D8%AC-%D8%A8%D9%85%D8%A7%D9%84-%D8%AD%D8%B1%D8%A7%D9%85

Hosting Unlimited Indonesia

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan – Testis atau testicle adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia yang berbentuk oval telur. Manusia memiliki dua testis, demikian juga umumnya hewan. Sebagian masyarakat menyebut organ ini dengan torpedo karena bentuknya yang mirip dengan proyektil tersebut.

Ketika ada penyembelihan hewan di masyarakat, seperti acara Qurban dan lainnya, testis atau torpedo ini sering menjadi incaran oleh sebagian orang, karena diyakini organ yang satu ini memiliki khasiat yang luar biasa.

Nah, bagaimana pandangan islam mengenai hukum memakan testis ini? Apakah halal atau haram? Berikut ini ulasannya.

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum memakan testis (torpedo) hewan dapat dibagi menjadi 4 bagian:

  • Testis hewan yang haram dimakan, seperti testis babi dan anjing, maka jelas keharamannya, karena bagian dari sesuatu yang haram mengikut hukum sesuatu tersebut, yaitu haram juga.
  • Testis hewan yang halal dimakan tapi hewannya tidak disembelih dengan cara syar’i, maka hukum testis dan seluruh anggota tubuh hewan tersebut haram dimakan.
  • Testis atau torpedo hewan yang halal dimakan, tapi testisnya diambil atau dipotong dari hewan tersebut disaat hewannya masih hidup. Ini hukumnya juga haram.

Dewan fatwa lajnah daimah pernah ditanya: Bolehkah memakan testis hewan yang masih hidup?

Maka dijawab: “Tidak boleh memakan sesuatu yang dipotong dari hewan yang halal dimakan, dan ia dalam keadaan hidup, seperti testis, ekor dan selainnya, karena yang demikian sama hukumnya dengan bangkai, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

ما قطع من البهيمة وهي حية فهو ميتة

“Sesuatu yang dipotong dari hewan ternak sedangkan ia masih hidup, maka ia adalah bangkai (haram dimakan.” (HR. At-tirmidzi no. 1480, hasan) (Fatawa Lajnah Daimah 22/501-502)

  • Testis hewan yang halal dimakan setelah hewannya disembelih, ini hukumnya halal dimakan, karena tidak ada dalil yang mengharamkan atau melarangnya, dan asal hukum sesuatu (dalam urusan dunia) adalah halal sampai ada dalil yang melarangnya.

Disebutkan di dalam kitab “Al-Mudawwanah”:

Sesuatu yang melekat pada daging seperti lemak, hati, rumen (bagian dari lambung hewan), jantung, paru-paru, limpa, ginjal, tenggorokan, testis, betis, kepala dan yang semisalnya, hukumnya mengikut hukum daging. (Tahdzib Al-Mudawwanah, Al-Baradzi’i 1/93)

Hanya saja sebagian ulama menyatakan bahwa hukum memakannya makruh, karena secara kebiasaan testis dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Disebutkan di dalam kitab “Al-Mughni”, “Anggota tubuh itu (testis) tidak dianggap baik.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi 3/296)

Az-Zaila’i berkata: “Dimakruhkan memakan beberapa anggota tubuh dari kambing, bagian kemaluan, testis, kelenjar, kandung kemih, kandung empedu, karena anggota-anggota tersebut termasuk seuatu yang dianggap jijik dan tidak disukai oleh jiwa manusia.” (Tabyiinul Haqaiq 6/226)

Referensi: https://islamqa.info

Hosting Unlimited Indonesia