Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

apakah kafir non muslim termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Jawabannya Ya dan Tidak. Kenapa ya dan kenapa tidak? akan kami jelaskan sesaat lagi pada tulisan ini.

Selama ini, kita atau kebanyakan dari kita, hanya tahu bahwa ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah mereka yang beriman kepadanya, dan ajaran yang dibawanya, dan mati dalam keadaan beriaman. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada beliau bukan termasuk ummat beliau.

Tapi, tahukah Anda bahwa ummat Nabi Muhammad itu terbagi menjadi dua macam, yakni:

1. Ummatu Da’wah (أمة الدعوة)

Ummat dakwah adalah seluruh jin dan manusia, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada seluruh alam (yaitu jin dan manusia), dan ini termasuk semua jenis manusia, baik Arab maupun non Arab, dan apapun kepercayaan dan agama mereka.

Semua adalah ummat Nabi Muhammad dalam artian mereka semua masuk dalam lingkup yang harus disampaikan atau didakwahkan agama Islam oleh Nabi yang mulia Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Dalilnya sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

والذي نفسي بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار. رواه مسلم

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah seorangpun dari ummat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang (kenabian) ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah (islam) yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk ahli neraka.” (HR. Muslim)

Sabda beliau “dari ummat ini” maksdunya adalah ummat dakwah, mereka yang menjadi objek dakwah beliau, yaitu seluruh manusia dan jin.

Maka, dalam kategori ini, orang kafir dan non-muslim adalah termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana mereka dituntut untuk beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Status orang kafir dan non muslim sebagai ummat dakwah Nabi hanyalah di dunia, adapun di akhirat mereka bukan lagi termasuk ummat dakwah, karena sudah tidak ada dakwah di akhirat.

1. Ummatu Ijabah (أمة الإجابة)

Ummat ijabah artinya ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang telah mengijabah (menjawab dan menerima) dan beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Mereka adalah ummat Islam. Mereka adalah ummat Nabi Muhammad yang sebenarnya, yang status mereka sebagai ummat beliau abadi dan melekat baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana sabda beliau:

شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي. رواه أبو داود والترمذي وقال: حسن صحيح غريب. وأحمد، وصححه الألباني

“Syafa’atku akan diperoleh oleh pelaku dosa besar dari ummatku.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi, dishahihkan oleh Al-albani)

Ummat ijabah ini adalah mereka yang akan menyandang status ummat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  ketika setiap ummat berjalan dibelakang pemimpin mereka, ini sebagaimaan dalam hadits:

عرضت علي الأمم فجعل يمر النبي معه الرجل، والنبي معه الرجلان، والنبي معه الرهط، والنبي ليس معه أحد، ورأيت سوادا كثيرا سد الأفق فرجوت أن تكون أمتي، فقيل: هذا موسى وقومه. ثم قيل لي: انظر فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل لي: انظر هكذا وهكذا، فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل: هؤلاء أمتك، ومع هؤلاء سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب. متفق عليه

“Diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada Nabi yang bersamanya seorang pengikut, Nabi bersamanya dua orang pengikut, Nabi bersamanya sekelompok pengikut dan bahkan ada Nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun. Aku melihat pula sekelompok besar yang banyak, yang jumlah mereka menutupi ufuk, ketika itu aku berharap mereka adalah ummatku, lalu dikatakan: ini adalah Musa dan kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku: lihatlah, maka aku melihat sekelompok besar yang banyak menutupi ufuk, kemudian dikatakan pula kepadaku: lihatlah, begini dan begini, maka aku lihat lagi sekelompok besar yang banyak, menutupi ufuk, lalu dikatakan: mereka adalah ummatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika kata “ummat” atau “ummat Nabi Muhammad” disebut maka yang dimaksud adalah ummat Islam, ummat ijabah, kecuali jika ada indikasi lain yang memalingkannya dari makna dasar ini, indikasi itu bisa berupa keterangan setelahnya seperti pada hadits sebelumnya, dan bisa berupa hal lainnya.

Kesimpulan

Menjawab pertanyaan apakah non muslim (orang kafir) termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, maka jawabannya adalah, ya, mereka adalah ummat dakwah beliau.

Status ummat dakwah bagi orang kafir ini hanya sementara di dunia, sedangkan di akhirat mereka bukan lagi ummat dakwah beliau.

Ummat beliau yang hakiki adalah ummat islam, yaitu ummat ijabah. Status mereka sebagai ummat Nabi abadi sampai hari kiamat.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga kita mati sebagai ummat ijabah Nabi Muhammad shallallahu’aihi wa sallam dan mendapatkan syafa’at beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.

 

Referensi: www.islamweb.net

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya

ijma' pengertian, definisi, macam dan syaratnya

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya – Apa yang dimaksud dengan ijma’, apa saja syarat-syarat dan berapa macam pembagiannya? Berikut ulasannya.

Pengertian Ijma’

Ijma’ (الإجماع) berasal dari kata jama’a, yajma’u, jam’an, ijmaa’an (جمع – يجمع – جمعا – إجماعا) secara bahasa berarti berkumpul, mengumpulkan, perkumpulan. Ijma’ juga berarti kesepakatan dan tekad.

Adapun defenisi ijma’ secara istilah adalah:

اتفاق مجتهدي هذه الأمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم على حكم شرعي

“Kesepakatan (konsensus) para mujtahid ummat islam setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam atas suatu hukum syar’i.”

Penjelasan definisi:

Kesepakatan (konsensus) para mujtahid : maka tidak termasuk ijma’ jika dalam suatu masalah terdapat perbedaan pendapat (khilaf), meskipun khilaf tersebut dari satu orang mujtahid.

Kemudian, kesepakatan tersebut harus bersumber dari ulama mujtahid, mereka yang telah derajat ijtihad, bukan dari orang awam, atau mereka yang masih taqlid (muqallid).

Adapun orang awam atau muqallid, kesepakatan mereka dalam suatu hukum syari’at tidak dianggap, demikian juga perselisihan mereka, karena orang awam dan muqallid tidak kredibel dan bukan sumber untuk bertanya dalam masalah hukum syari’at.

Ummat islam: kesepakatan tersebut harus dari mujtahid ummat islam, bukan selain mereka

Setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam : suatu ijma’ harus terjadi setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam wafat, maka tidak termasuk ijma’ ketika beliau masih hidup. Karena yang menjadi dalil ketika Nabi shallallahu’alaihiwasallam  masih hidup adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau sendiri.

Oleh karena itu, jika ada sebuah hadits/atsar perkataan sahabat yang berbunyi “dulu kami di zaman Nabi mengerjakan ini..” atau “mereka  dulu mengerjakan ini di zaman Nabi…” adalah berhukum marfu’ (perkataan sahabat yang disandarkan kepada Nabi) , bukan nukilan tentang ijma’.

Atas suatu hukum syar’i: objek dari ijma’ adalah hukum syari’at Islam, maka tidak termasuk ijma’ kesepakatan orang tentang suatu perkara adat atau hukum logika. Karena ijma’ merupakan salah satu dalil dari dalil-dalil syar’i.

Kedudukan Ijma’ dalam Syari’at Islam

Ijma’ merupakan salah satu dalil syar’i dan merupakan hujjah dalam suatu hukum syar’i.

Ijma’ menduduki peringkat ke 3 sebagai dalil syar’i setelah Quran dan Sunnah, kemudian setelah ijma’ ada qiyas yang menduduki peringkat ke 4 sebagai dalil syar’i.

Perlu diketahui bahwa Al-Quran dan As-sunnah (hadits) merupakan pokok dari dalil-dalil syar’i, sedangkan metode selain keduanya seperti ijma’, qiyas, mashalih al mursalah, dan lainnya adalah cabang.

Ijma’ merupakan hujjah dan dalil untuk menguatkan suatu hukum syari’at, dalilnya adalah:

Firman Allah ta’ala:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Firam Allah “agar kamu menjadi saksi atas manusia” mencakup saksi atas perbuatan dan hukum perbuatan mereka, dan “saksi” perkataannya dapat diterima.

Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam:

روى الترمذي (2167) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ ). وحسنه الألباني.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan ummatku diatas suatu kesesatan, dan tangan Allah diatas al-jama’ah.” (HR. At-Tirmidzi: 2167, dan statusnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah memelihara ummat ini (terutama ulamanya) dari persekongkolan dan kesepakatan atas suatu perkara bathil dan kesesatan.

Pembagian Ijma’, Jenis dan Macam-macamnya

Ijma’ dibagi menjadi dua macam, yaitu ijma’ qath’i (pasti) dan ijma’ zhanni (dugaan), berikut penjelasannya masing-masing:

1. Ijma’ Qath’i

Adalah ijma’ yang bersifat pasti dan diketahui secara spontan telah terjadi, seperti ijma’ mengenai kewajiban sholat lima waktu, ijma’ mengenai haramnya zina dll.

Ijma’ jenis ini tidak dipungkiri terjadinya oleh seorangpun dari kalangan ulama, mereka juga tidak memungkiri tentang kedudukannya sebagai hujjah/dalil, dan menyelisihi ijma’ jenis ini bisa berakibat kafir jika yang menyelisihinya adalah orang yang secara akal tidak mungkin ia tidak tahu (seperti umumnya orang islam, kecuali mungkin sebagian kasus orang yang baru masuk islam yang belum pernah belajar islam dengan baik)

2. Ijma’ Zhanni

Ijma’ zhanni adalah ijma’ yang tidak diketahui secara spontan tentang apakah pernah terjadi atau tidaknya didalam agama kecuali setelah diteliti lebih jauh, dan sifatnya masuh praduga.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kemungkinan terjadinya ijma’ jenis ini. Mungkin, pendapat yang paling tepat mengenai masalah ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah  yang berakata:

والإجماع الذي ينضبط ما كان عليه السلف الصالح ، إذ بعدهم كثر الاختلاف وانتشرت الأمة ” . أهـ

“Ijma’ yang menjadi patokan adalah ijma’ yang terjadi pada masa salaf shalih(1), adapun masa setelah mereka tidak menjadi patokan karena telah terjadi banyak perbedaan pendapat, dan ummat telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.” (Aqidah Qasithiyah, Ibnu Taimiyah)

Ketahuilah, bahwa ulama ummat ini tidak mungkin bersepakat untuk menyelisihi sebuah dalil yang shahih, sharih (jelas) dan tidak mansukh (dihapus hukumnya), karena mereka tidak mungkin bersepakat kecuali atas kebenaran.

Jika engkau melihat suatu ijma’ dan engkau mengira bahwa ijma’ tersebut menyelisihi dalil shahih, sharih dan tidak mansukh, maka ada 3 kemungkinan:

  1. bahwa yang yang engkau kira ijma’ sebenarnya bukan ijma’, tetapi ada perbedaan pendapat yang engkau tidak ketahui
  2. atau dalilnya tidak shahih
  3. atau dalilnya shahih tapi tidak sharih (jelas atau eksplisit menunjukkan suatu hukum tertentu dan tidak multi tafsir (implisit)
  4. atau dalil tersebut mansukh hukumnya dengan dalil lain.

Syarat Ijma’

Agar suatu masalah hukum syar’i berstatus ijma’  harus memenuhi syarat berikut:

  1. Suatu Ijma’ harus dikonfirmasi melalu jalur yang shahih, bahwa ia harus populer di kalangan para ulama, atau ijma’ tersebut dinukil oleh ulama yang terpercaya (tsiqah), luas pengetahuan dan wawasannya.
  2. Bahwa suatu ijma’ tidak boleh didahului oleh sebuah perbedaan pendapat sebelumnya, jika ada perbedaan pendapat sebelumnya maka kesepakatan yang datang setelahnya tidak dikategorikan ijma’ (secara istilah), karena suatu pendapat tidak hilang dengan wafatnya pemilik pendapat tersebut.

Maka, ijma’ atau kesepakatan yang datang belakangan tidak menghilangkan status sebuah khilaf (perbedaan pendapat) yang terjadi sebelumnya, hanya saja kesepakatan ini bisa mencegah terjadinya perselisihan

Inilah pendapat yang paling kuat (rajih) dalam masalah ini, karena metodeloginya yang kuat.

Pendapat lain mengatakan bahwa suatu ijma’ tidak disyaratkan harus tidak ada khilaf sebelumnya, menurut pendapat ini, jika para ulama di generasi berikutnya berijma’ atas salah satu pendapat sebelumnya(2) maka ijma’ tersebut sah, dan menjadi hujjah atas orang yang datang setelah mereka.

Suatu ijma’, menurut pendapat mayoritas ulama, tidak disyaratkan harus berakhirnya genarasi para ulama yang bersepakat tersebut, maka ijma’ berlaku seterusnya semenjak para ulama pada generasi bersepakat, dan tidak boleh bagi generasi setelah menyelisihi ijma’ tersebut.

Ini karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang hujjahnya ijma’ tidak menyebutkan syarat tentang berlalunya masa terjadinya ijma’, dan ijma’ telah tetap pada saat mereka bersepakat, lalu hal apa yang dapat menghilangkannya?

Hipotesis Skenario

Jika seorang ulama mujtahid berpendapat dengan suatu pendapat, atau melakukan suatu perbuatan yang berkonsekwensi hukum, lalu hal tersebut menjadi populer (masyhur) di kalangan ulama-ulama mujtahid lainnya, dan tidak seorangpun dari mereka mengingkari pendapat dan perbuatan tersebut padahal mereka punya kemampuan untuk mengingkarinya (jika mereka ingin), dalam kondisi ini ada beberapa pendapat:

  1. Bahwa pendapat seorang mujtahid tersebut menjadi ijma’ (karena tidak ada seorangpu dari ulama lainnya yang menyelisihinya)
  2. Pendapat tersebut hanya berstatus argumen / hujjah tapi bukan ijma’
  3. Lainnya mengatakan, pendapat tersebut bukan hujjah dan bukan pula ijma’
  4. Bahwa jika para ulama yang semasa dengan pendapat tersebut berlalu dan mereka semua telah wafat dan tidak seorang pun dari mereka mengingkari dan berbeda pendapat dengan pendapat seorang ulama mujtahid tersebut, maka pendapat ini menjadi ijma’, karena diam mereka yang terus menerus sampai wafat, padahal mereka memiliki kemampuan untuk menyelisihi dan mengingkari, adalah dalil atas kesepakatan mereka. Pendapat yang terakhir inilah lebih tepat.

Wallahu’alam.

Walhamdulillahirabbil’aalamin..

Tulisan ini utamanya dikutip dari kitab Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya Al-ushul min ‘ilmi al-ushul hal. 62-64, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.

 

Referensi:

https://islamqa.info

https://legacy.quran.com

https://sunnah.com/tirmidhi/33/10

 


Catatan kaki:

(1) Salafus shalih artinya pendahulu yang sholeh, adapun secara istilah mereka adalah 3 generasi awal ummat ini, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, terutama mereka yang dari kalangan ulama.

3 generasi tersebut istimewa berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat) kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Ijma’ berikutnya harus berdasarkan dan sesuai dengan salah satu pendapat sebelumnya, dan tidak boleh menelurkan pendapat baru yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji? ini Faktanya

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji ini Faktanya

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji?- Bulan Ramadhan adalah anugrah kepada ummat Nabi Muhammad shallallau’alaihi wa sallam dimana amal ibadah pada bulan ini akan digandakan pahalanya oleh Allah ta’ala.

Allah maha adil dan mengetahui bahwa umur ummat akhir zaman itu pendek, oleh karena itu, Allah menjadikan buat ummat ini waktu-waktu tertentu yang amalnya dilipat gandakan, sehingga kita bisa mengejar bahkan melampaui ummat terdahulu yang umurnya panjang dan amalnya banyak.

Pada bulan Ramadhan, amal yang biasa menjadi luar biasa, amal sunnah diberi pahala seperti amal wajib, dan amal wajib dilipatkan lagi pahalanya lebih banyak lagi.

Terkhusus umrah di bulan Ramadahan, ada sebuah hadits yang menyebutkan keutamaanya secara khusus, yaitu:

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال لامرأة من الأنصار يقال لها أم سنان: ((إذا جاء رمضان فاعتمري، فإن عمرة فيه تعدل حجة)). متفق عليه، وفي رواية لهما: ((حجة معي))

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasanya Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada seorang wanita dari Anshar yang digelari Ummu Sinan: “Jika telah datang bulan Ramadhan maka lakukakanlah umrah, karena umroh padanya setara dengan satu kali haji. (HR. Bukhari dan Muslim) dalam riwayat lainnya: “(Setara dengan) haji bersamaku”.

Berkata Al-munawi (4/361): “yakni, (umrah di bulan ramadan) menyamai dan menyerupai (haji) pada pahalanya, karena pahala diutamakan seiring keutamaan waktu, akan tetapi bukan berarti umrah di bulan Ramadhan tersebut menggugurkan kewajiban haji seseorang, ini berdasarkan ijma’  (konsensus).”

Hadits diatas menjadi dalil keutamaan umrah di bulan Ramadhan, dan bahwasanya setara dengan pahala satu kali haji, dalam riwayat lain disebutkan setara denga haji bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ini tidak hanya berlaku kepada wanita tersebut, melainkan umum kepada seluruh ummat islam.

Ini merupakan diantara sebagian kebaikan Allah ta’ala  kepada hamba-hamba Nya dengan menjadika pahala umrah setara dengan pahala haji dengan masuknya bulan Ramadhan.

Ini juga menjadi dalil bawha pahala amal akan bertambah dengan bertambahnya kemulian waktu, sebagaimana juga akan bertamabah dengan hadirnya hati, dan ikhlasnya niat.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah maha pemberi dan pengasih, Allah memberi kelebihan dengan apa saja yang dikehendaki Nya, kepada siapa yang dikehendaki Nya dan pada apa saja yang dikehendaki Nya, tiada siapapun yang bisa protes atas keputusan Nya, dan tiada siapapun yang bisa menolak keutamaannya.

Umrah di bulan Ramadahan dengan pahala haji dapat diperoleh dengan hanya sekedar datang ke Makkah melaksanakan manasik umrah saja, meskipun setelahnya ia langsung pulang dan tidak tinggal lama di Makkah.

Tapi, siapa yang diberi Allah tawfiq untuk tinggal lebih lama di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan, untuk beramal sholeh, maka sungguh ia telah diberi keutamaan yang tidak dapat dihargai dengan baik kecuali oleh orang-orang yang sholeh yang mengerti betapa berharganya waktu dan tempat yang mulia.

Sholat di Masjidil Haram pahalanya melebihi masjid-masjidnya, dalilnya:

وعن جابر – رضي الله عنه – أنَّ رسولَ الله – صَلَّى الله عليه وسَلَّم – قال: صلاةٌ في مسجدي أفضل من ألف صلاةٍ فيما سواه، إلاَّ المسجد الحرام، وصلاةٌ في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه

Dari Jabir radhiyallalahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallau’alaihi wa sallam bersabda:

“Sholat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama seribu kali daripada masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali daripada sholat diselainnya.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Al-bushiri berkata di dalam Az-zawaid 1/453 bahwa isnad hadits ini shahih dan perawi-perawinya terpercaya (tsiqah), dan dishahihkan pula oleh Al-mundziri di dalam At-targhib wa at-tarhib 2/214)

Maka ini adalah kesempatan emas bagi orang-orang yang ingin mengumpulkan bekal pahala dan perbendaharaan untuk akhirat, dengan beribadah di tempat yang paling mulia, dengan amalan yang paling mulia, dan waktu yang paling mulia.

Lebih-lebih lagi jika Anda bisa beri’tikaf disana pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yang pada salah satu malamnya terdapat satu malam yang amal di dalamnya lebih baik dari pada amal seribu bulan, itulah malam lailatul qadar.

  إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadar : 1-5)

Demikian penjelasan ringkas tentang keutamaan umrah di bulan Ramadhan, semoga bermanfaat.

Referensi: www.alukah.net

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

pengertian mukallaf syarat dan dalilnya

Apa itu mukallaf dan apa syarat-syarat serta dalilnya? simak pembahasannya berikut ini.

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

Pengertian Mukallaf

Mukallaf adalah sebuah istilah di dalam ilmu ushul fiqh yang artinya orang yang dibebani hukum atau syari’at, berupa perintah maupun larangan.

Seseorang jika sudah mukallaf maka ia menjadi subjek atas hukum taklif. Hukum taklif ada 5 perkara, yaitu: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Syarat Mukallaf

Ada beberapa syarat agar seorang mukallaf dapat dibebani hukum taklif. Berikut ini syarat-syarat seseorang agar dapat dibebani hukum taklif dan menjadi mukallaf:

Islamdalilnya adalah ijma’ (kesepakatan ulama) bahwasanya seorang kafir tidak diterima darinya amalan. Seorang kafir dituntut untuk menerima pokok agama terlebih dahulu yaitu islam, baru setelah itu ia dituntut menjalankan cabang agama berupa hukum-hukum.

Baligh: yaitu telah cukup umur, dan patokan seorang anak cukup umur menurut para ulama adalah setelah ia mengalami “mimpi basah”, atau mulai tumbuh bulu kemaluan dan bulu ketiaknya, atau telah berumur 15 tahun.

Ulama Malikiah (dari madzhab maliki) berpendapat bahwa seorang anak kecil akan mendapat pahala jika ia melakukan yang wajib, akan tetapi ia belum berdosa jika meninggalkan kewajiban tersebut. Demikian juga ia berpahala jika mengerjakan yang sunnah dan menjauhi yang haram, dan belum berdosa jika ia mengerjakannya. Demikian juga jika ia berpahala jika menjauhi yang makruh.

Dalil mereka adalah, bahwasanya seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membawa bayi, ia lalu mengangkat bayi tersebut dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah bayi ini boleh (sah) melakasanakan haji? Beliau menjawab: “Ya, dan pahalanya untukmu.”

Berakal: Para ulama ahli ushul (fiqh) berkata “akal adalah tempatnya taklif (pembebanan hukum)”

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pena diangkat (perbuatannya tidak dicatat/diperhitungkan) dari tiga golongan orang: dari bayi sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh.”

Sampainya informasi hukum syari’at: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَّنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah tidak menghisab manusia atas hukum-hukum syari’at yang dibawa oleh Rasul, sampai informasi mengenai hukum-hukum syari’at itu sampai kepada mereka.

Ibnu katsir ketika menafsirkan ayat dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. berkata: Ini adalah pemberitahuan tentang keadilah Nya subhanahu wa ta’ala, dan bahwa Ia tidak akan mengazab seorangpun kecuali setelah tegak hujjah atasnya dengan diutusnya seorang Rasul kepadanya.(1)
Mampu: perintah itu tergantung kepada kemapuan, karena tidak berlaku sebuah perintah jika lemah, dan tidak pula berlaku larangan jika terpakasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika aku perintah kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah sejauh kemampuan kalian.”

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)

Demikian ulasan ringkas tentang Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya. Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menambah ilmu dan wawasan keislaman kita, serta diberi tawfiq untuk mengamalkannya. Aamiin.

 

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/0/103690


Catatan kaki:

(1) Setelah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sudah tidak ada lagi seorang Nabi dan Rasul pun, karena beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir, dan penutup kenabian. Maka setelah beliau, suatu hujjah tegak dengan sampainya Islam dan penjelasannya melalui para ulama, pendakwah dan media apa saja.

Hukum Taklifi: Pengetian, Pembagian dan Penjelasannya

hukum taklifi pengertian dan pembagiannya

Taklif artinya beban atau tanggungan. Hukum Taklifi atau jamaknya Al-Ahkaam At-Taklifiyyah  (الأحكام التكليفية) adalah hukum-hukum yang dibebankan kepada seorang muslim yang telah memenuhi syarat atau yang disebut dengan mukallaf (orang yang telah dibebabi hukum).

Pembagian Hukum Taklifi

Hukum Taklifi dibagi menjadi 5 hukum, yaitu:

Hukum Taklifi 1: Wajib

Wajib adalah sesuatu yang diperintahkan di dalam syari’at dengan penekanan dan keharusan.

Contohnya sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, melaksanakan haji bagi yang mampu. Wajib juga disebut dengan fardhu, faridhah, hatmun, dan lazim.

Konsekwensi orang yang melaksanakan wajib adalah mendapat pahala, dan orang yang meninggalkannya mendapat dosa dan hukuman.

Hukum Taklifi 2: Sunnah

Sunnah juga dinamakan dengan mandub, mustahab, dan nafilah. Sunnah disini berbeda dengan sunnah yang dimaksud dalam ilmu hadits, karena sunnah menurut ahli hadits adalah perbuatan, perkataan dan persetujuan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. 

Definisinya sunnah dalam hukum taklifi adalah: Segala sesuatu yang diperintahkan oleh syari’at dengan tanpa penekanan dan keharusan.

Contoh sunnah seperti sholat lail atau tahajjud, sholat sunnah rawatib, puasa 3 hari di setiap bulan, puasa di hari senin dan kamis, puasa 6 hari di bulan Syawwal, bersedekah kepada faqir dan miskin.

Sunnah jika dikerjakan berpahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Hukum Taklifi 3: Haram

Haram adalah segala sesuatu yang dilarang oleh syari’at dengan penekanan dan kemestian. Contohnya seperti haramnya zina, mengambil riba, durhaka pada orang tua, mencukur jenggot bagi pria, tabarruj wanita (bersolek secara berlebihan).

Orang yang meninggalkan yang haram akan mendapat pahala, dan pelakunya akan mendapat dosa dan siksa.

Hukum Taklifi 4: Makruh

Makruh adalah sesuatu yang dilarang oleh syari’at tanpa penekanan.

Contoh makruh seperti memberi dan menerima dengan tangan kiri, wanita mengiringi jenazah, ngobrol setelah sholat isya, sholat dengan menggenakan satu kain saja dan pada bahunya tidak ada sehelai kainpun, sholat nafilah setelah sholat subuh sampai terbitnya matahari, dan sholat nafilah setelah ‘ashar sampai terbenam matahari.

Makruh jika ditinggalkan akan mendapat pahala, dan tidak ada hukuman bagi orang yang mengerjakannya.

Hukum Taklifi 5: Mubah 

Mubah juga disebut dengan boleh dan halal.

Definisanya: Segala sesuatu yang tidak terkait dengan perintah maupun larangan pada dzat sesuatu tersebut.

Contoh mubah seperti makan dan minum, transaksi jual beli, pergi untuk melancong maupun mencari rejeki, bermesraan dengan istri pada malam bulan ramadhan, dll.

Pada definisi mubah ditambahakan kalimat “pada dzatnya” karena sesuatu yang mubah tersebut berkaitan dengan hal lain, yang merubah hukumnya menjadi sesuatu yang diperintahkan atau sesuatu yang dilarang. Contohnya, tindakan membeli air asal hukumnya adalah mubah, tapi jika dalam kondisi tidak ada air untuk wudhu dan sholat fardhu kecuali dengan dibeli, maka membeli air menjadi wajib, dari semula hukumnya mubah, karena sesuatu yang jika tidak sempurna sebuah kewajiban kecuali dengannya, maka hukumnya menjadi wajib pula.

Contoh lainnya adalah safar. Pada dasarnya safar atau berpergian hukumnya mubah, tapi jika safar ini menuju negeri kafir yang disana banyak terjadi fitnah, maksiat dan tersebarnya perbuatan keji, maka hukum safar tersebut menjadi haram.

Demikian penjelasan ringkas mengenai hukum taklifi pembagian dan penjelasannya. Tentu ini merupakan penjelasan yang sangat dasar, dengan tujuan untuk memberikan sedikit pemahaman mengenai makna hukum taklifi. Jika ingin mendalaminya lebih jauh Anda dapat mempelajarinya di dalam kitab-kitab ushul fiqh.

Wallahu ‘Alam.

Referensi: https://islamqa.info

Hukum Umrah dan Haji dengan Uang Haram

haji umrah dengan uang dan harta haram

Apa hukumnya jika seseorang ingin melaksanakan haji atau umrah dengan menggunakan uang haram, seperti uang hasil korupsi, mencuri, riba, dan lainnya? Apakah haji dan umrahnya sah?

Berikut jawabannya yang kami kutip dari situs islamqa.info

Hukum Umrah dan Haji dengan Uang Haram

Pertanyaan: Orang yang pergi haji dengan uang haram, apakah hajinya sah atau tidak?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah..

Hajinya sah, dan ia telah menunaikan kewajiban hajinya, akan tetapi hajinya tidak mabrur, dan pahalanya sangat kurang.

Imam Nawawi berkata di dalam kitab Majmu’nya: Jika seseorang pergi haji dengan harta haram, ia mendapat dosa, akan tetapi hukum hajinya sah dan memadai, ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Majmu’, Nawawi, 7/62)

Disebutkan di dalam Al-Mausu’ah Al-fiqhiyah 12/131):

Jika ia pergi haji (atau umrah) dengan harta atau uang yang tidak jelas (syubhat) atau dengan uang hasil curian, maka haji (dan umrah) nya sah menurut hukum zhahir, akan tetapi ia telah melakukan maksiat dan dosa dan hajinya tidak mabrur.

Pendapat ini adalah madzhab Syaafi’i, Malik dan Abu Hanifah rahimahumullah dan pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf (ulama dahulu dan belakangan).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Haji dengan uang haram tidak memadainya.” Di dalam riwayat lain ia berpendapat hajinya sah tetapi tindakannya haram.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, bahwasnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang musafir yang telah lama berjalan, kondisinya lusuh dan berdebu, lalu ia membentangkan kedua tangannya ke langit untuk berdoa: Wahai tuhan ku, wahai Tuhanku, sedangkan makanannya dari haram, minumannya dari haram, pakaiannya dari haram, dan ia hidup dengan harta haram, karena itu bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”

Berkata Syaikh bin Baz rahimahullah:

Hajinya sah jika ia tunaikan sesuai tuntunan syari’at Allah, tetapi ia berdosa karena mengambil pengahasilan haram, dan ia harus bertaubat kepada Allah dari demikian, dan hajinya dianggap kurang sebab mengambil penghasilan haram, akan tetapi telah gugur baginya kewajiban haji (karena ia telah melakukan haji yang sah mesikipun dengan uang haram) (Fatawa Bin Baz 16/387)

Disebutkan di dalam fatwa Lajnah Daimah (11/43):

Melaksanakan haji dengan harta haram tidak menghalangi keabsahan haji tersebut, disetai dengan dosa karena penghasilan haram, dan ia mengurangi pahala hajinya akan tetapi tidak menyebabkan hajinya batal.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/48986/%D8%AD%D8%AC-%D8%A8%D9%85%D8%A7%D9%84-%D8%AD%D8%B1%D8%A7%D9%85

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan – Testis atau testicle adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia yang berbentuk oval telur. Manusia memiliki dua testis, demikian juga umumnya hewan. Sebagian masyarakat menyebut organ ini dengan torpedo karena bentuknya yang mirip dengan proyektil tersebut.

Ketika ada penyembelihan hewan di masyarakat, seperti acara Qurban dan lainnya, testis atau torpedo ini sering menjadi incaran oleh sebagian orang, karena diyakini organ yang satu ini memiliki khasiat yang luar biasa.

Nah, bagaimana pandangan islam mengenai hukum memakan testis ini? Apakah halal atau haram? Berikut ini ulasannya.

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum memakan testis (torpedo) hewan dapat dibagi menjadi 4 bagian:

  • Testis hewan yang haram dimakan, seperti testis babi dan anjing, maka jelas keharamannya, karena bagian dari sesuatu yang haram mengikut hukum sesuatu tersebut, yaitu haram juga.
  • Testis hewan yang halal dimakan tapi hewannya tidak disembelih dengan cara syar’i, maka hukum testis dan seluruh anggota tubuh hewan tersebut haram dimakan.
  • Testis atau torpedo hewan yang halal dimakan, tapi testisnya diambil atau dipotong dari hewan tersebut disaat hewannya masih hidup. Ini hukumnya juga haram.

Dewan fatwa lajnah daimah pernah ditanya: Bolehkah memakan testis hewan yang masih hidup?

Maka dijawab: “Tidak boleh memakan sesuatu yang dipotong dari hewan yang halal dimakan, dan ia dalam keadaan hidup, seperti testis, ekor dan selainnya, karena yang demikian sama hukumnya dengan bangkai, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

ما قطع من البهيمة وهي حية فهو ميتة

“Sesuatu yang dipotong dari hewan ternak sedangkan ia masih hidup, maka ia adalah bangkai (haram dimakan.” (HR. At-tirmidzi no. 1480, hasan) (Fatawa Lajnah Daimah 22/501-502)

  • Testis hewan yang halal dimakan setelah hewannya disembelih, ini hukumnya halal dimakan, karena tidak ada dalil yang mengharamkan atau melarangnya, dan asal hukum sesuatu (dalam urusan dunia) adalah halal sampai ada dalil yang melarangnya.

Disebutkan di dalam kitab “Al-Mudawwanah”:

Sesuatu yang melekat pada daging seperti lemak, hati, rumen (bagian dari lambung hewan), jantung, paru-paru, limpa, ginjal, tenggorokan, testis, betis, kepala dan yang semisalnya, hukumnya mengikut hukum daging. (Tahdzib Al-Mudawwanah, Al-Baradzi’i 1/93)

Hanya saja sebagian ulama menyatakan bahwa hukum memakannya makruh, karena secara kebiasaan testis dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Disebutkan di dalam kitab “Al-Mughni”, “Anggota tubuh itu (testis) tidak dianggap baik.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi 3/296)

Az-Zaila’i berkata: “Dimakruhkan memakan beberapa anggota tubuh dari kambing, bagian kemaluan, testis, kelenjar, kandung kemih, kandung empedu, karena anggota-anggota tersebut termasuk seuatu yang dianggap jijik dan tidak disukai oleh jiwa manusia.” (Tabyiinul Haqaiq 6/226)

Referensi: https://islamqa.info

Satu Amalan Rahasia untuk Berbagai Solusi

istighfar dan taubat

Seseorang datang mengadu kepada Iman Hasan Al-Bashri tentang kemarau yang berkepanjangan, ia menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Orang lainnya datang mengadu tentang kefakiran yang ia alami, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian yang lainnya datang dan berkata, “mohonlah pada Allah agar aku diberi anak.”, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian orang lainnya datang mengeluh tentang kebunnya yang tidak mengahasilkan buah, dan beliau tetap menjawab,  “Istighfarlah kepada Allah”

Seseoang berkata bertanya keheranan kepada imam, “engkau didatangi oleh orang-orang dengan masalah yang berbeda-beda, tapi kenapa semua dari mereka engkau perintahkan untuk beristighfar?”.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak mengatakan sesuatu pun dari diriku sendiri, sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman di dalam surat Nuh,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Istighfarlah (mohonlah ampun kepada Tuhanmu), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh : 10-12)

Seseorang bertanya kepada Hasan Al-Bashri Rahimahullah : Tidakkah salah seorang dari kita malu kepada Tuhannya? Kita melakukan dosa, kemudian minta ampun, kemudian melakukan dosa lagi, kemudia minta ampun lagi, dan begitu seterusnya?

Maka  Hasan Al-Bashri menjawab: “Sungguh Syaithan menginginkan agar ia bisa menipu kalian dengan pikiran seperti itu, jangan pernah tinggalkan istighfar!”

Tidak salah lagi! Istighfar (mohon ampun) kepada Allah adalah satu amal yang mudah, tidak butuh energi ekstra untuk berbagai macam solusi.

Maka, jangan sia-siakan waktu luangmu, gunakan ia untuk memperbanyak istighfar dan dzikir. Bahkan seorang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sekalipun, manusia yang telah dijamin masuk surga, dan tanpa dosa, masih beristighfar kepada Allah setiap hari 70-100 kali. Bagaimana dengan kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada Nya, dalam sehari, lebih dari 70 kali ” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai segenap manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena sungguh aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali!” (HR. Muslim)

 

Sumber: https://kalemtayeb.com/safahat/item/36141

14 Rukun Sholat yang Wajib Dipenuhi dan Dalilnya

14 rukun sholat

14 Rukun Sholat yang Wajib Dipenuhi dan Dalilnya – Shalat merupakan salah satu rukun islam yang wajib dikerjakan. Shalat juga adalah ibadah yang sangat penting dan merupakan salah satu sarana yang disyari’atkan oleh Allah untuk berkomunikasi dan munajat antara Allah dan hamba Nya. Shalat juga merupakan amalan yang paling pertama diperiksa di hari kiamat, jika amal sholat lolos hisab maka akan diperikasa amal ibadah lainnya, namun jika sholat tidak lolos hisab maka amal lainnya tidak akan diterima.

Maka mengetahui ilmu tentang sholat dan segala yang berkaitan dengannya sangat penting demi tegaknya salah satu rukun Islam ini di dalam hidup seorang muslim.

Dalam sholat ada pembagian yang perlu diketahui yaitu syarat, rukun, wajib dan sunnah sholat.

Sebenarnya pembagian syarat, rukun, wajib dan sunnah sholat ini tidak terdapat di dalam Al-Quran maupun Hadits. Pembagian ini dibuat oleh ulama berdasarkan pengamatan dan pengambilan hukum dari dalil-dalil Quran dan Hadits. Pembagian itu dibuat dalam rangka untuk memudahkan pemahaman dan proses belajar mengajar.

Ketika para ulama meneliti suatu masalah yang perintahnya sangat kuat, maka ini mereka sebagai rukun, jika perintahnya tidak terlalu kuat maka termasuk kategori wajib, kemudian jika perintahnya tidak kuat maka dikategorikan sebagai sunnah, dan seterusnya. Ilmu ini dapat dipelajari pada studi ushul fiqh (ilmu pokok-pokok fiqh)

Memahami macam-macam kategori sangat penting untuk mengetahui skala prioritas, terutama jika terjadi pertentangan diantara amalan-amalan, maka kita tahu mana yang harus didahulukan.

Pada tulisan ini kita akan membahas mengenai rukun sholat, pengertiannya, urgensinya dan 14 rukun sholat yang wajib dilaksanakan.

Pengertian Rukun Sholat

Rukun secara bahasa artinya sisi yang paling kokoh dari sebuah bangunan atau dapat diartikan juga dengan tiang, penyangga dan pokok. Maka rukun sholat  adalah ucapan dan perbuatan di dalam sholat yang menjadi pokok dan asas dari shalat.

Urgensi Rukun Sholat

Rukun sholat sangat penting diketahui dan diterapkan, karena sholat seseorang tidak sah jika salah satu rukunnya ditinggalkan. Sah dan tidaknya sholat tergantung pada penerapan rukun-rukun sholat dengan baik dan lengkap.

Rukun sholat harus dikerjakan dengan lengkap untuk keabsahan sholat. Sholat yang salah satu rukunnya ditinggalkan, baik sengaja atau tidak sengaja seperti lupa dan lainnya menjadi tidak sah dan sholatnya harus diulang ketika ingat.

Adapun jika salah satu rukun sholat terlupa, dan diingat ketika masih dalam sholat, maka raka’at yang kurang rukunnya harus diulang dan ditambahkan seketika itu juga, karena raka’at tersebut tidak terhitung disebabkan rukunnya tidak sempurna. Adapun jika seseorang mengingat ada rukun yang kurang setelah sholatnya selesai, maka sholatnya harus diulang dari awal.

Perbedaan antara wajib Sholat dan Rukun Sholat 

  • Wajib sholat gugur pengerjaannya apabila terlupa dan dapat ditutupi dengan sujud sahwi. Meskipun begitu sholat bisa batal apabila wajib sholat ini sengaja ditinggalkan.
  • Adapun rukun sholat tidak gugur meskipun lupa, dan harus dikerjakan ketika ingat. Jika seseorang lupa mengerjakan rukun sholat, kemudian mengingatnya ketika masih dalam sholat, maka ia harus menambahkan atau mengulang raka’at yang dilupakan rukunnya. Tapi, jika seseorang lupa mengerjakan rukun dan baru ingat setelah sholat selesai, maka sholat tersebut harus ia ulang dari awal.

14 Rukun Sholat yang Wajib Dipenuhi dan Dalilnya

Ada 14 rukun sholat yang mesti diterapkan pada sholat. Rukun-rukun ini terdiri dari gerakan, ucapan dan keadaan di dalam sholat. Berikut rinciannya:

Berdiri bagi yang Mampu pada Sholat Fardhu

Berdiri bagi orang yang mampu merupakan salah satu rukun dalam sholat fardhu. Bagi yang tidak mampu berdiri, boleh dengan duduk, jika tidak mampu maka berbaring dan seterusnya, ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

صل قائماً فإن لم تستطع فقاعداً، فإن لم تستطع فعلى جنب

“Sholatlah dengan berdiri, jika engkau tidak mampu maka duduk,  dan jika engkau tidak mampu juga maka berbaring.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hubairah berkata:

“Mereka (para ulama) sepakat bahwa berdiri di dalam sholat fardhu wajib dilakukan bagi orang yang mampu, dan bahwasanya meninggalkan berdiri padahal mampu maka sholatnya tidak sah.” (Al-Ifshah 1/122)

Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram adalah takbir atau ucapan “Allaahu Akbar” pertama dan merupakan pembuka sholat.

Disebut dengan takbiratul ihram karena setelah melakukan takbir ini, maka telah haram bagi seseorang melakukan hal-hal yang tidak berkaiatan dengan sholat, seperti makan minum, ketawa, gerakan-gerakan diluar sholat dan lainnya. Ini sama dengan salah satu rukun haji yang pertama yaitu ihram, dimana setelah seseorang berihram maka telah haram untuknya segala hal yang bisa membatalkan dan merusak hajinya.

Takbiratul ihram dilakukan dengan mengucapkan takbir “Allaahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan sebahu. Mengangkat tangan itu sendiri bu

Dalil wajibnya takbiratul ihram adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

 إذا قمت إلى الصلاة فاستقبل القبلة فكبر

“Jika engkau telah berdiri untuk sholat maka menghadaplah ke kiblat kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membaca Al-Fatihah

Membaca surat Al-Fatihah (yaitu surat pertama pada urutan mushaf) pada setiap raka’at adalah salah satu rukun sholat yang sangat penting, bahkan Nabi shallallahu’alihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada (tidak sah) sholat bagi orang yang tidak membaca (surat) pembuka Kitab (Al-fatihah)”

Ruku’

Ruku’ adalah salah satu rukun sholat yang wajib dilaksanakan, caranya adalah dengan membungkukkan badan, kedua tangan bertumpu pada kedua lutut (seolah menggenggamnya), posisi kepala, punggung dan pinggang lurus sejajar, dan mata memandang kebawah pada tempat sujud.

Dalil wajibnya ruku’, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Haj:77)

Bangkit dari Ruku’ dan ‘Itidal

Bangkit dari ruku’ dan ‘itidal yaitu berdiri tegak merupakan salah satu rukun sholat. Dalilnya adalah sebuah hadits yang lumayan panjang yang menerangkan tentang tatacara sholat, diantaranya berbunyi:

.. ثم اركع حتى تطمئن راكعاً ثم ارفع حتى تعتدل قائماً..

“…Kemudian ruku’ lah sampai engkau ruku’ dengan tenang, kemudian bangkitlah sampai berdiri dengan sempurna (‘itidal)..” (HR. Bukhari dan Muslim)

dan hadits

” لا تجزئ صلاة لا يقيم الرجل صلبه في الركوع والسجود ” رواه أحمد وأبو داود والترمذي وصححه

“Tidak sah sholat orang yang tidak menegakkan (meluruskan) tulang sulbi (tulang punggungnya) didalam ruku’ dan sujud.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dam At-Turmudzi dan ia menyatakan hadits ini shahih)

Hadits ini sekaligus menjadi dalil tentang wajibnya sujud

Sujud

Sujud merupakan salah satu rukun sholat yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala seperti yang telah kami sebutkan pada rukun ruku’ (QS. Al-haj : 77)

Caranya adalah dengan menempelkan 7 anggota sujud ke lantai. Tujuh anggota sujud yang harus menempel pada lantai adalah:

  • Dahi (dengan ujung hidung)
  • Kedua telapak tangan
  • Kedua lutut
  • Kedua ujung kaki

Tidak sempurna sujud seseorang yang tidak menempelkan ketujuh anggota sujud tersebut ke lantai, ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam:

أمرنا أن نسجد على سبعة أعضاء، الجبهة وأشار بيده إلى أنفه، والكفين، والركبتين، وأطراف القدمين ” متفق عليه

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Kami diperintahkan untuk sujud diatas tujuh anggota tubuh, yaitu: kening dan beliau sambil menunjuk kepada hidung nya, dan kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bangkit dari Sujud dan Duduk diantara Dua Sujud

Bangkit dari sujud dan duduk diantara dua sujud merupakan rukun sholat yang juga mesti dilakukan, sebagian ulama ada yang menjadikannya dua rukun, yaitu bangkit dari sujud sebagai satu rukun dan duduk diantara dua sujud sebagai satu rukun lainnya.

Diantara dalilnya:

حديث عائشة: ” كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا رفع رأسه من السجود لم يسجد حتى يستوي قاعداً ” رواه مسلم.

Hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata: “Adalah Nabi shallallahu’alaihiwasallam apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak langsung sujud kembali sampai duduk dengan tegak dan sempurna.” (HR. Muslim)

Duduk Tasyahhud Akhir

Sebagian orang menjadikan ini satu rukun dengan tasyahhud akhir, tapi pendapat yang lebih kuat bahwa duduk tasyahhud akhir merupakan rukun sholat tersendiri, karena jika seseorang bertasyahhud tapi dalam keadaan berdiri maka sholat dan tasyahhudnya tidak sah.

Tasyahhud Akhir

tasyahhud akhir adalah ucapan “Attahiyatu Lillah..” sampai akhir dzikir. Ada dua tasyahhud pada sholat fardhu yang memiliki jumlah raka’at 3 dan 4, yang merupakan rukun sholat adalah tasyahhud yang kedua atau yang terakhir, sedangkan tasyahhud pertama, menurut pendapat yang lebih kuat, tidak termasuk rukun, namun hanya kewajiban sholat. Artinya jika seseorang lupa melakukan tasyahhud awal maka sholatnya tidak batal, dan ia tidak perlu mengulang tasyahhud tersebut, hanya saja ia harus menutupinya dengan sujud sahwi. Adapun sholat yang berjumlah 2 raka’at hanya ada satu tasyahhud yang sekaligus merupakan rukun sholat.

Diantara dalilnya adalah hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

” إذا قعد أحدكم في صلاته فليقل: التحيات لله… ” متفق عليه.

“Jika salah seorang diantara kalian telah duduk (tahiyat) hendaknya berkata: “Attahiyaatu lillah..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bershalawat Kepada Nabi pada Tasyahhud Akhir

Sholawat pada  Nabi di tasyahhud akhir merupakan salah satu rukun sholat yang tidak boleh ditinggalkan.

Mengucapkan Dua Salam

Yaitu mengucapkan “Assalaamu’alaikum warahmatullaah” sambil menoleh ke kanan dan mengucapkan “Assalaamu’alaikum warahmatullaah” sambil menoleh ke kiri.

Thuma’ninah

Thuma’ninah merupakan salah satu rukun sholat yang sering dilanggar oleh kebanyakan orang. Thuma’ninah adalah tenang dan tidak terburu-buru ketika melaksanakan rukun-rukun sholat.

Diantara dalil wajibnya thuma’ninah dalam sholah adalah hadits berikut:

حديث حذيفة: ” أنه رأى رجلاً لا يتم ركوعه ولا سجوده، فلما قضى صلاته دعاه، فقال له حذيفة: ما صليت ولومت مت على غير الفطرة التي فطر الله عليها محمداً صلى الله عليه وسلم ” رواه البخاري.

Bahwasanya Hudzaifah radhiyallahu’anhu pernah melihat seorang (sholat) yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Setelah orang itu selesai, ia memanggilnya, lalu Hudzaifah berkata padanya: “Engkau (sesungguhnya) belum sholat, dan seandainya engkau mati, maka engkau mati bukan diatas fithrah yang Allah telah fithrahkan Muhammad shallallahu’alaihiwasallam diatasnya.” (HR. Bukhari)

Ibnu Taimiyah berkata:

“Dan juga tidak dinamakan ruku’ dan sujud dalam bahasa Arab kecuali jika ia telah tenang ketika menunduk, dan ketika meletakkan keningnya diatas tanah. Adapun sekedar merendah lalu bangkit begitu saja, bukanlah dinamakan ruku’ bukan pulas sujud, siapa yang menamakannya ruku’ dan sujud maka sungguh ia telah keliru dalam memahami bahasa Arab.” (Majmu’ Fatawa 22/569)

Kadar Minimal Thuma’ninah:

Menurut pendapat yang lebih kuat (rajih) kadar minimal thuma’ninah ialah sampai ia menyelesaikan bacaan atau dzikir wajib pada sholat dengan kecepatan bacaan normal.

Tertib

Tertib adalah mengerjakan semua rukun diatas secara tertib atau berurutan, dan tidak boleh melakukan rukun secara acak, atau mendahulukan yang seharusnya diakhirkan. Contoh, tidak boleh mendahulukan sujud sebelum ruku’, atau mendahulukan ‘itidal sebelum ruku’ dan lainnya.

Penutup

Demikian penjelasan ringkas tentang rukun-rukun sholat yang wajib dilakukan. Mempelajari rukun-rukun sholat adalah keharusan, karena sah dan tidaknya shalat seseorang tergantung pada sempurna atau tidaknya rukun sholat seseorang. Untuk rinciannya Anda bisa dapatkan infonya pada buku-buku tentang sholat, dan usahakanlah selalu agar mempelajari ilmu agama terutama sholat dengan dalilnya yang shahih, karena Raulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bersabda:

صلوا كما رأيتموني أصلي

“Sholatlah kalian sebagaimana melihat aku sholat.” (HR. Bukhari)

Pada dasarnya semua yang dilakukan Nabi shallallahu’alaihiwasallam  dalam sholatnya mesti kita contoh. Karena beliau adalah teladan kita dalam beragama. Kita mempelajari tentang rukun, syarat, sunnah, wajib dan lainnya, bukan berarti untuk bermalas-malasan dan hanya melakukan yang wajib saja. Seorang yang beriman harus memiliki jiwa berlomba-lomba untuk kebajikan dan selalu mencapat peringkat yang tertinggi dalam kebaikan.

 

Referensi:

https://www.alukah.net/sharia/0/108731/