Sabar: Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar, Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Sabar: Pengertian, Keutamaan, Tingkatan dan Batasannya – Hidup tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan ujian merupakan keniscayaan didalam kehidupan. Tidak ada manusia yang terlepas dari cobaan, karena salah satu tujuan diciptakannya manusia ke dunia ini adalah untuk diuji. Maka dari itu, tiada jalan lain untuk sukses dalam menghadapi ujian-ujian hidup kecuali dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155-157)

Banyak orang berspekulasi tentang sabar, setiap orang punya gambaran sendiri tentangnya. Nah, bagaimana pandangan Islam tentang sifat sabar? ikuti ulasannya pada tulisan ini.

Pengertian Sabar

Sabar (الصبر) secara bahasa berarti “menahan” yaitu menahan diri dari kesedihan yang berlebihan dan tidak terkontrol. Adapun sabar menurut istilah syar’i adalah:

الصبر هو حبس النفس عن محارم الله، وحبسها على فرائضه، وحبسها عن التسخط والشكاية لأقداره

“Menahan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan Allah, menahan diri untuk tetap menjalankan apa yang diwajibkan oleh Nya, dan menahan diri untuk tidak marah dan berkeluh kesah atas semua takdir Nya.” (Ibnul Qayyim)

Hukum Sabar

Sebagaimana syukur, sabar hukumnya wajib dalam segala hal. Sabar dan syukur adalah ciri yang paling utama iman seseorang, sebagaimana ingkar dan tidak rela dengan takdir Allah Ta’ala merupakan ciri utama kekufuran.

Seorang mukmin wajib bersabar atas segala musibah hidup yang menimpanya, ia wajib sabar dalam menjalankan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan juga wajib sabar untuk tidak mendekati segala yang diharamkan Allah Ta’ala.

Keutamaan Sabar

Sabar memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam, ada banyak dalil yang berbicara tentang sabar dan keutamaan orang-orang yang sabar.

Sabar merupakan kunci dan tulang punggung bagi semua kegiatan manusia. Manusia butuh sabar dalam hal apapun, tanpa sabar segala sesuatu tidak mungkin terlaksana dengan baik.

Manusia butuh sabar dalam bencana dan musibah, butuh sabar dalam ibadah dan amal shaleh, butuh sabar dalam menjalani hubungan dengan sesama dan butuh sabar dalam segala hal.

Sabar adalah kunci kesuksesan, tiada keberhasilan tanpa kesabaran. Bahkan, orang yang berbuat kejahatan pun perlu sabar untuk “sukses” dalam menjalankan kejahatannya.

Sabar adalah pakaiannya para Nabi dan Rasul, derajat seseorang diangkat dengan kesabaran.

Diantara keutamaan sabar dalam Islam adalah:

  • Orang yang sabar dijanjikan oleh Allah pahala yang tidak terhingga, sebagaimana firman Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

  • Sabar menjadi sebab seseorang diampuni dosa dan dihapuskan segala kesalahan nya oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan dimasukkannya ia ke surga, Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian)”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-ra’d: 22-24)

  • Sabar merupakan diantara sebab untuk menaikkan derajat seseorang disisi Allah, jika Allah mencintai seseorang maka ia akan diuji, dan semakin besar iman dan kecintaan Allah kepadanya maka semakin besar pula ujiannya.
  • Allah selalu menyertai dan bersama orang sabar, ini adalah keutamaan yang sangat besar, jika Allah bersama seseorang maka apa lagi yang dibutuhkan:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Pahala Sabar

Nilai sesuatu diukur dari tingkat kesulitannya, sabar merupakan amalan dan sifat yang sulit dilakukan, dan perlu latihan yang terus menerus untuk dapat bersabar dengan baik.

Oleh karena itu, pahala sabar adalah diantara pahala yang nilainya tidak terhingga, hanya Allah yang mengetahui berapa nilai pahala sabar.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Sabar juga merupakan alat Allah untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat hamba Nya. Jika seseorang hamba banyak dosa dan ia belum bertaubat dari dosa-dosa tersebut, maka diantara cara Allah mengampuni dosa-dosanya adalah dengan diberikan kepadanya cobaan demi cobaan agar ia mendapatkan pahala sabar yang tidak terbatas, yang dengannya Allah menghapus dosa-dosanya dan memasukkannya ke surga.

Bahkan diantara tanda dan ciri seseorang yang istiqamah dan sholeh dicintai oleh adalah dengan banyaknya cobaan yang menimpa dirinya, agar dengan itu mendapat nilai dan pahala sabar.

Oleh karena itu para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia yang paling berat cobaannya dan paling besar sabarnya, maka cinta Allah kepada mereka juga sangat besar sebanding dengan kesabaran yang mereka miliki.

Pembagian Sabar

Sabar dibagi menjadi 3 bagian:

1. Sabar dalam ketaatan

Yaitu istiqamah dalam menjalankan amal shalih berupa ibadah, dan seluruh amal ketaatan lainnya, sabar atas rintangan dan kesulitan yang dihadapi ketika beramal, dan tidak putus asa.

2. Sabar untuk tidak Melakukan yang Haram dan Dilarang

Yaitu menahan diri untuk tidak terjatuh kedalam hal-hal yang di haramkan Allah Ta’ala, dengan manahan nafsu dan syahwat dari ajakan-ajakan syetan.

3. Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Cobaan Hidup

Hidup tidak lepas dari ujian, karena hidup itu sendiri adalah ujian, maka sabar adalah benteng dan penawar untuk menjalani ujian hidup.

Orang yang sabar meskipun dihimpit dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan dari Allah mereka tetap berbahagia dengan sabar. Karena mereka punya harapan di akhiran akan kasih sayang dan pahala dari Allah atas buah kesabaran selama di dunia.

Seorang mu’min senantiasa berada diantara sabar dan syukur, ketika mereka diberi musibah mereka bersabar, dan ketika mendapat nikmat mereka bersyukur, dan kedua kondisi tersebut, bagi orang mukmin adalah baik dan sama-sama menguntungkan.

Maka tidak ada istilah depresi bagi orang yang beriman, ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alahi wa sallam: 

عجباً لأمرِ المؤمنِ، إنّ أمرَه كلَّه خيرٌ، وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ؛ إن أصابته سراءُ شكرَ، فكان خيراً له، وإن أصابته ضراءُ صبر، فكان خيراً له

“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, sesungguhnya segala perkaranya adalah baik, dan itu tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada orang mukmin, ketia ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya, dan ketika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Kemudian dari segi tercela dan tidaknya, sabar juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Sabar yang terpuji: yaitu sabar dalam menjalankan ibadah dan amal sholeh karena Allah, sabar dalam meninggalkan yang haram, dan sabar dalam menghadapi musibah dan takdir Allah.
  2. Sabar yang tercela, yaitu sabar dalam menjalankan kejahatan dan kemaksiatan, sabar ketika melihat kehormatan dan agama Allah diinjak-injak, padalah ia memiliki kemampuat untuk bertindak, dan semisalnya.

Tingkatan Sabar

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa sabar ada tiga tingkatan:

  • Sabar dengan Allah (sabrun billah), yaitu seseorang memandang kesabarannya karena pertolongan Allah ta’ala, ia meyakini Allah lah yang membuatnya sabar, bukan karena dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An.Nahl: 127)

  • Sabar karena Allah (sabrun lillah), yaitu sabar yang didorong oleh rasa cinta kepada Allah dan keingina untuk mendekat (taqqarrub) kepada Nya dan mencari keridhaan Nya, ia bersabar karena ingin menunjukkan kekuatan dirinya.
  • Sabar bersama Allah (sabrun ma’a Allah), yaitu sabarnya seorang hamba dalam mengikuti kehendak syar’i Allah (berupa hukum-hukum syari’at Nya), seorang hamba sabar dalam menjalaninya dan berjalan seiring dengan hukum Allah dimana saja dan kapan saja.

Kedudukan sabar pada iman seperti kedudukan kepala pada jasad, dan tidak ada iman bagi yang tidak ada kesabaran padanya, sebagaimana tidak ada jasad bagi yang tidak ada kepala.

Umar bin khattab radhiyallahu’anhu berkata: “Kehidupan yang baik dapat kita raih dengan sabar.”

Dan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim, “Dan sabar adalah cahaya.”

Ibnul Qayyim juga menyebutkan 4 tingkatan sabar lainnya, yaitu:

  1. Sabar karena Allah dan dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling sempurna dan tingkatan sabar orang-orang yang memiliki tekad yang kuat (ulul ‘azaaim). Orang seperti ini sabar hanya untuk mengharap kerelaan Allah Ta’ala, dan sabar tersebut diyakininya semata karena daya dan upaya dari Allah. Ini adalah tingkatan sabar yang paling tinggi, paling baik dan paling kuat.
  2. Sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, ini adalah tingkatan sabar yang paling buruk dan paling rendah, dan pemiliknya berhak mendapatkan kehinaan.
  3. Sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah, yaitu orang yang sabar dan menganggap kesabarannya karena daya dan upaya Allah dan tawakkal kepada Nya, tapi sabarnya tersebut bukan karena Allah dan bukan karena ingin mengharap kerelaan Nya, karena ia sabar bukan dalam agama Allah. Orang seperti ini akan mendapatkan kesuksesan duniawi dengan kesabarannya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa di akhirat, bahkan akibat mereka bisa sangat buruk. Bahkan kesabaran model ini dimiliki oleh pemuka-pemuka kafir dan Musyrik yang sukses dalam ambisi duniawi mereka, karena sabar mereka adalah dengan daya dari Allah tapi tidak untuk Allah dan tidak pula dalam keinginan Allah yang syar’i.
  4. Tingkatan yang keempat adalah orang yang sabar karena Allah, tapi lemah dalam sabarnya, kurang dalam bertawakkal dan bersandar kepada Allah. Orang seperti ini akan mendapat akibat yang baik, tapi ia lemah dalam mencapai keinginannya, karena ia kurang memaknai faktor dalam surat Al-fatihah “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in” (hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan). Ini adalah tingkatan kesabaran orang-orang mukmin yang lemah.

Maka, sabar dengan Allah adalah keadaannya orang fasiq yang kuat. Dan sabar karena Allah dan dengan Allah adalah keadaan sabarnya orang mukmin yang kuat, dan orang yang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (tapi pada keduanya ada kebaikan, seperti disebutkan di dalam hadits).

Maka, orang yang sabar karena Allah dan dengan (daya dan upaya) Allah adalah sabarnya orang yang mulia dan terpuji, dan orang yang sabar bukan karena Allah dan bukan pula dengan Allah, adalah sabarnya orang-orang tercela dan hina, sedangkan sabar dengan Allah tapi tidak karena Allah adalah sabar orang yang mampu dan kuat tapi tercela, sedangkan sabar karena Allah dan tidak dengan Allah (atau lemah dalam sabarnya dengan Allah) adalah sabarnya orang-orang yang terpuji tapi lemah, sabarnya orang yang lemah imannya.

Batasan Sabar: Apakah Sabar ada Batasnya?

Apakah sabar ada batasnya? Sabar sendiri adalah sifat, dan sifat tidak dapat dinilai kecuali dari pelaku dan pemilik sifat tersebut.

Maka batas kesabaran adalah sejauh mana batas kemampuan seseorang dalam menahan diri untuk tetap bersabar dalam apa saja yang sedang ia hadapi dan lakukan.

Tapi idealnya sabar itu batasnya adalah kematian, karena sabar adalah wajib. Maka, orang yang kuat imannya akan bertahan dan bersabar sampai Allah menentukan kematian untuknya, dengan itu ia akan mendapatkan ganjaran surga yang abadi yang penuh kenikmatan.

Ini seperti kisah keluarga Yasir yang disiksa oleh orang kafir Quraisy karena keimanan mereka kepada Allah, mereka disiksa agar meninggalkan Islam dan kembali kepada kekafiran. Yasir dan Istrinya bersabar dan gugur dijalan Allah karena siksaat yang dahsyat, sedangkan anaknya tidak sabar dan terpaksa harus mengucapkan kalimat kekafiran karena tidak mampu menahan siksa.

Namun Allah maha pengasih dan tidak membebani hamba Nya melebihi kemampuannya. Allah memaafkan orang yang dipaksa seperti kisah Ammar. Namun tentunya pahala orang yang sabar sampai ajal menjemput lebih besar daripada orang yang kesabarannya lemah.

 

Referensi:

  • https://dorar.net/akhlaq/784/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1-%D9%84%D8%BA%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D8%B5%D8%B7%D9%84%D8%A7%D8%AD%D8%A7
  • https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/9297/
  • https://dorar.net/akhlaq/805/%D9%85%D8%B1%D8%A7%D8%AA%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%A8%D8%B1

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

apakah kafir non muslim termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Jawabannya Ya dan Tidak. Kenapa ya dan kenapa tidak? akan kami jelaskan sesaat lagi pada tulisan ini.

Selama ini, kita atau kebanyakan dari kita, hanya tahu bahwa ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah mereka yang beriman kepadanya, dan ajaran yang dibawanya, dan mati dalam keadaan beriaman. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada beliau bukan termasuk ummat beliau.

Tapi, tahukah Anda bahwa ummat Nabi Muhammad itu terbagi menjadi dua macam, yakni:

1. Ummatu Da’wah (أمة الدعوة)

Ummat dakwah adalah seluruh jin dan manusia, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada seluruh alam (yaitu jin dan manusia), dan ini termasuk semua jenis manusia, baik Arab maupun non Arab, dan apapun kepercayaan dan agama mereka.

Semua adalah ummat Nabi Muhammad dalam artian mereka semua masuk dalam lingkup yang harus disampaikan atau didakwahkan agama Islam oleh Nabi yang mulia Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Dalilnya sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

والذي نفسي بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار. رواه مسلم

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah seorangpun dari ummat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang (kenabian) ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah (islam) yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk ahli neraka.” (HR. Muslim)

Sabda beliau “dari ummat ini” maksdunya adalah ummat dakwah, mereka yang menjadi objek dakwah beliau, yaitu seluruh manusia dan jin.

Maka, dalam kategori ini, orang kafir dan non-muslim adalah termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana mereka dituntut untuk beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Status orang kafir dan non muslim sebagai ummat dakwah Nabi hanyalah di dunia, adapun di akhirat mereka bukan lagi termasuk ummat dakwah, karena sudah tidak ada dakwah di akhirat.

1. Ummatu Ijabah (أمة الإجابة)

Ummat ijabah artinya ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang telah mengijabah (menjawab dan menerima) dan beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Mereka adalah ummat Islam. Mereka adalah ummat Nabi Muhammad yang sebenarnya, yang status mereka sebagai ummat beliau abadi dan melekat baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana sabda beliau:

شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي. رواه أبو داود والترمذي وقال: حسن صحيح غريب. وأحمد، وصححه الألباني

“Syafa’atku akan diperoleh oleh pelaku dosa besar dari ummatku.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi, dishahihkan oleh Al-albani)

Ummat ijabah ini adalah mereka yang akan menyandang status ummat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  ketika setiap ummat berjalan dibelakang pemimpin mereka, ini sebagaimaan dalam hadits:

عرضت علي الأمم فجعل يمر النبي معه الرجل، والنبي معه الرجلان، والنبي معه الرهط، والنبي ليس معه أحد، ورأيت سوادا كثيرا سد الأفق فرجوت أن تكون أمتي، فقيل: هذا موسى وقومه. ثم قيل لي: انظر فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل لي: انظر هكذا وهكذا، فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل: هؤلاء أمتك، ومع هؤلاء سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب. متفق عليه

“Diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada Nabi yang bersamanya seorang pengikut, Nabi bersamanya dua orang pengikut, Nabi bersamanya sekelompok pengikut dan bahkan ada Nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun. Aku melihat pula sekelompok besar yang banyak, yang jumlah mereka menutupi ufuk, ketika itu aku berharap mereka adalah ummatku, lalu dikatakan: ini adalah Musa dan kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku: lihatlah, maka aku melihat sekelompok besar yang banyak menutupi ufuk, kemudian dikatakan pula kepadaku: lihatlah, begini dan begini, maka aku lihat lagi sekelompok besar yang banyak, menutupi ufuk, lalu dikatakan: mereka adalah ummatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika kata “ummat” atau “ummat Nabi Muhammad” disebut maka yang dimaksud adalah ummat Islam, ummat ijabah, kecuali jika ada indikasi lain yang memalingkannya dari makna dasar ini, indikasi itu bisa berupa keterangan setelahnya seperti pada hadits sebelumnya, dan bisa berupa hal lainnya.

Kesimpulan

Menjawab pertanyaan apakah non muslim (orang kafir) termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, maka jawabannya adalah, ya, mereka adalah ummat dakwah beliau.

Status ummat dakwah bagi orang kafir ini hanya sementara di dunia, sedangkan di akhirat mereka bukan lagi ummat dakwah beliau.

Ummat beliau yang hakiki adalah ummat islam, yaitu ummat ijabah. Status mereka sebagai ummat Nabi abadi sampai hari kiamat.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga kita mati sebagai ummat ijabah Nabi Muhammad shallallahu’aihi wa sallam dan mendapatkan syafa’at beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.

 

Referensi: www.islamweb.net

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji? ini Faktanya

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji ini Faktanya

Umrah di Bulan Ramadhan seperti Haji?- Bulan Ramadhan adalah anugrah kepada ummat Nabi Muhammad shallallau’alaihi wa sallam dimana amal ibadah pada bulan ini akan digandakan pahalanya oleh Allah ta’ala.

Allah maha adil dan mengetahui bahwa umur ummat akhir zaman itu pendek, oleh karena itu, Allah menjadikan buat ummat ini waktu-waktu tertentu yang amalnya dilipat gandakan, sehingga kita bisa mengejar bahkan melampaui ummat terdahulu yang umurnya panjang dan amalnya banyak.

Pada bulan Ramadhan, amal yang biasa menjadi luar biasa, amal sunnah diberi pahala seperti amal wajib, dan amal wajib dilipatkan lagi pahalanya lebih banyak lagi.

Terkhusus umrah di bulan Ramadahan, ada sebuah hadits yang menyebutkan keutamaanya secara khusus, yaitu:

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال لامرأة من الأنصار يقال لها أم سنان: ((إذا جاء رمضان فاعتمري، فإن عمرة فيه تعدل حجة)). متفق عليه، وفي رواية لهما: ((حجة معي))

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasanya Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada seorang wanita dari Anshar yang digelari Ummu Sinan: “Jika telah datang bulan Ramadhan maka lakukakanlah umrah, karena umroh padanya setara dengan satu kali haji. (HR. Bukhari dan Muslim) dalam riwayat lainnya: “(Setara dengan) haji bersamaku”.

Berkata Al-munawi (4/361): “yakni, (umrah di bulan ramadan) menyamai dan menyerupai (haji) pada pahalanya, karena pahala diutamakan seiring keutamaan waktu, akan tetapi bukan berarti umrah di bulan Ramadhan tersebut menggugurkan kewajiban haji seseorang, ini berdasarkan ijma’  (konsensus).”

Hadits diatas menjadi dalil keutamaan umrah di bulan Ramadhan, dan bahwasanya setara dengan pahala satu kali haji, dalam riwayat lain disebutkan setara denga haji bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ini tidak hanya berlaku kepada wanita tersebut, melainkan umum kepada seluruh ummat islam.

Ini merupakan diantara sebagian kebaikan Allah ta’ala  kepada hamba-hamba Nya dengan menjadika pahala umrah setara dengan pahala haji dengan masuknya bulan Ramadhan.

Ini juga menjadi dalil bawha pahala amal akan bertambah dengan bertambahnya kemulian waktu, sebagaimana juga akan bertamabah dengan hadirnya hati, dan ikhlasnya niat.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah maha pemberi dan pengasih, Allah memberi kelebihan dengan apa saja yang dikehendaki Nya, kepada siapa yang dikehendaki Nya dan pada apa saja yang dikehendaki Nya, tiada siapapun yang bisa protes atas keputusan Nya, dan tiada siapapun yang bisa menolak keutamaannya.

Umrah di bulan Ramadahan dengan pahala haji dapat diperoleh dengan hanya sekedar datang ke Makkah melaksanakan manasik umrah saja, meskipun setelahnya ia langsung pulang dan tidak tinggal lama di Makkah.

Tapi, siapa yang diberi Allah tawfiq untuk tinggal lebih lama di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan, untuk beramal sholeh, maka sungguh ia telah diberi keutamaan yang tidak dapat dihargai dengan baik kecuali oleh orang-orang yang sholeh yang mengerti betapa berharganya waktu dan tempat yang mulia.

Sholat di Masjidil Haram pahalanya melebihi masjid-masjidnya, dalilnya:

وعن جابر – رضي الله عنه – أنَّ رسولَ الله – صَلَّى الله عليه وسَلَّم – قال: صلاةٌ في مسجدي أفضل من ألف صلاةٍ فيما سواه، إلاَّ المسجد الحرام، وصلاةٌ في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه

Dari Jabir radhiyallalahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallau’alaihi wa sallam bersabda:

“Sholat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama seribu kali daripada masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali daripada sholat diselainnya.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Al-bushiri berkata di dalam Az-zawaid 1/453 bahwa isnad hadits ini shahih dan perawi-perawinya terpercaya (tsiqah), dan dishahihkan pula oleh Al-mundziri di dalam At-targhib wa at-tarhib 2/214)

Maka ini adalah kesempatan emas bagi orang-orang yang ingin mengumpulkan bekal pahala dan perbendaharaan untuk akhirat, dengan beribadah di tempat yang paling mulia, dengan amalan yang paling mulia, dan waktu yang paling mulia.

Lebih-lebih lagi jika Anda bisa beri’tikaf disana pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yang pada salah satu malamnya terdapat satu malam yang amal di dalamnya lebih baik dari pada amal seribu bulan, itulah malam lailatul qadar.

  إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadar : 1-5)

Demikian penjelasan ringkas tentang keutamaan umrah di bulan Ramadhan, semoga bermanfaat.

Referensi: www.alukah.net

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

pengertian mukallaf syarat dan dalilnya

Apa itu mukallaf dan apa syarat-syarat serta dalilnya? simak pembahasannya berikut ini.

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

Pengertian Mukallaf

Mukallaf adalah sebuah istilah di dalam ilmu ushul fiqh yang artinya orang yang dibebani hukum atau syari’at, berupa perintah maupun larangan.

Seseorang jika sudah mukallaf maka ia menjadi subjek atas hukum taklif. Hukum taklif ada 5 perkara, yaitu: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Syarat Mukallaf

Ada beberapa syarat agar seorang mukallaf dapat dibebani hukum taklif. Berikut ini syarat-syarat seseorang agar dapat dibebani hukum taklif dan menjadi mukallaf:

Islamdalilnya adalah ijma’ (kesepakatan ulama) bahwasanya seorang kafir tidak diterima darinya amalan. Seorang kafir dituntut untuk menerima pokok agama terlebih dahulu yaitu islam, baru setelah itu ia dituntut menjalankan cabang agama berupa hukum-hukum.

Baligh: yaitu telah cukup umur, dan patokan seorang anak cukup umur menurut para ulama adalah setelah ia mengalami “mimpi basah”, atau mulai tumbuh bulu kemaluan dan bulu ketiaknya, atau telah berumur 15 tahun.

Ulama Malikiah (dari madzhab maliki) berpendapat bahwa seorang anak kecil akan mendapat pahala jika ia melakukan yang wajib, akan tetapi ia belum berdosa jika meninggalkan kewajiban tersebut. Demikian juga ia berpahala jika mengerjakan yang sunnah dan menjauhi yang haram, dan belum berdosa jika ia mengerjakannya. Demikian juga jika ia berpahala jika menjauhi yang makruh.

Dalil mereka adalah, bahwasanya seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membawa bayi, ia lalu mengangkat bayi tersebut dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah bayi ini boleh (sah) melakasanakan haji? Beliau menjawab: “Ya, dan pahalanya untukmu.”

Berakal: Para ulama ahli ushul (fiqh) berkata “akal adalah tempatnya taklif (pembebanan hukum)”

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pena diangkat (perbuatannya tidak dicatat/diperhitungkan) dari tiga golongan orang: dari bayi sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh.”

Sampainya informasi hukum syari’at: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَّنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah tidak menghisab manusia atas hukum-hukum syari’at yang dibawa oleh Rasul, sampai informasi mengenai hukum-hukum syari’at itu sampai kepada mereka.

Ibnu katsir ketika menafsirkan ayat dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. berkata: Ini adalah pemberitahuan tentang keadilah Nya subhanahu wa ta’ala, dan bahwa Ia tidak akan mengazab seorangpun kecuali setelah tegak hujjah atasnya dengan diutusnya seorang Rasul kepadanya.(1)
Mampu: perintah itu tergantung kepada kemapuan, karena tidak berlaku sebuah perintah jika lemah, dan tidak pula berlaku larangan jika terpakasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika aku perintah kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah sejauh kemampuan kalian.”

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)

Demikian ulasan ringkas tentang Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya. Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menambah ilmu dan wawasan keislaman kita, serta diberi tawfiq untuk mengamalkannya. Aamiin.

 

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/0/103690


Catatan kaki:

(1) Setelah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sudah tidak ada lagi seorang Nabi dan Rasul pun, karena beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir, dan penutup kenabian. Maka setelah beliau, suatu hujjah tegak dengan sampainya Islam dan penjelasannya melalui para ulama, pendakwah dan media apa saja.

Hukum Umrah dan Haji dengan Uang Haram

haji umrah dengan uang dan harta haram

Apa hukumnya jika seseorang ingin melaksanakan haji atau umrah dengan menggunakan uang haram, seperti uang hasil korupsi, mencuri, riba, dan lainnya? Apakah haji dan umrahnya sah?

Berikut jawabannya yang kami kutip dari situs islamqa.info

Hukum Umrah dan Haji dengan Uang Haram

Pertanyaan: Orang yang pergi haji dengan uang haram, apakah hajinya sah atau tidak?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah..

Hajinya sah, dan ia telah menunaikan kewajiban hajinya, akan tetapi hajinya tidak mabrur, dan pahalanya sangat kurang.

Imam Nawawi berkata di dalam kitab Majmu’nya: Jika seseorang pergi haji dengan harta haram, ia mendapat dosa, akan tetapi hukum hajinya sah dan memadai, ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Majmu’, Nawawi, 7/62)

Disebutkan di dalam Al-Mausu’ah Al-fiqhiyah 12/131):

Jika ia pergi haji (atau umrah) dengan harta atau uang yang tidak jelas (syubhat) atau dengan uang hasil curian, maka haji (dan umrah) nya sah menurut hukum zhahir, akan tetapi ia telah melakukan maksiat dan dosa dan hajinya tidak mabrur.

Pendapat ini adalah madzhab Syaafi’i, Malik dan Abu Hanifah rahimahumullah dan pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf (ulama dahulu dan belakangan).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Haji dengan uang haram tidak memadainya.” Di dalam riwayat lain ia berpendapat hajinya sah tetapi tindakannya haram.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, bahwasnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang musafir yang telah lama berjalan, kondisinya lusuh dan berdebu, lalu ia membentangkan kedua tangannya ke langit untuk berdoa: Wahai tuhan ku, wahai Tuhanku, sedangkan makanannya dari haram, minumannya dari haram, pakaiannya dari haram, dan ia hidup dengan harta haram, karena itu bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”

Berkata Syaikh bin Baz rahimahullah:

Hajinya sah jika ia tunaikan sesuai tuntunan syari’at Allah, tetapi ia berdosa karena mengambil pengahasilan haram, dan ia harus bertaubat kepada Allah dari demikian, dan hajinya dianggap kurang sebab mengambil penghasilan haram, akan tetapi telah gugur baginya kewajiban haji (karena ia telah melakukan haji yang sah mesikipun dengan uang haram) (Fatawa Bin Baz 16/387)

Disebutkan di dalam fatwa Lajnah Daimah (11/43):

Melaksanakan haji dengan harta haram tidak menghalangi keabsahan haji tersebut, disetai dengan dosa karena penghasilan haram, dan ia mengurangi pahala hajinya akan tetapi tidak menyebabkan hajinya batal.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/48986/%D8%AD%D8%AC-%D8%A8%D9%85%D8%A7%D9%84-%D8%AD%D8%B1%D8%A7%D9%85

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan – Testis atau testicle adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia yang berbentuk oval telur. Manusia memiliki dua testis, demikian juga umumnya hewan. Sebagian masyarakat menyebut organ ini dengan torpedo karena bentuknya yang mirip dengan proyektil tersebut.

Ketika ada penyembelihan hewan di masyarakat, seperti acara Qurban dan lainnya, testis atau torpedo ini sering menjadi incaran oleh sebagian orang, karena diyakini organ yang satu ini memiliki khasiat yang luar biasa.

Nah, bagaimana pandangan islam mengenai hukum memakan testis ini? Apakah halal atau haram? Berikut ini ulasannya.

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum memakan testis (torpedo) hewan dapat dibagi menjadi 4 bagian:

  • Testis hewan yang haram dimakan, seperti testis babi dan anjing, maka jelas keharamannya, karena bagian dari sesuatu yang haram mengikut hukum sesuatu tersebut, yaitu haram juga.
  • Testis hewan yang halal dimakan tapi hewannya tidak disembelih dengan cara syar’i, maka hukum testis dan seluruh anggota tubuh hewan tersebut haram dimakan.
  • Testis atau torpedo hewan yang halal dimakan, tapi testisnya diambil atau dipotong dari hewan tersebut disaat hewannya masih hidup. Ini hukumnya juga haram.

Dewan fatwa lajnah daimah pernah ditanya: Bolehkah memakan testis hewan yang masih hidup?

Maka dijawab: “Tidak boleh memakan sesuatu yang dipotong dari hewan yang halal dimakan, dan ia dalam keadaan hidup, seperti testis, ekor dan selainnya, karena yang demikian sama hukumnya dengan bangkai, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

ما قطع من البهيمة وهي حية فهو ميتة

“Sesuatu yang dipotong dari hewan ternak sedangkan ia masih hidup, maka ia adalah bangkai (haram dimakan.” (HR. At-tirmidzi no. 1480, hasan) (Fatawa Lajnah Daimah 22/501-502)

  • Testis hewan yang halal dimakan setelah hewannya disembelih, ini hukumnya halal dimakan, karena tidak ada dalil yang mengharamkan atau melarangnya, dan asal hukum sesuatu (dalam urusan dunia) adalah halal sampai ada dalil yang melarangnya.

Disebutkan di dalam kitab “Al-Mudawwanah”:

Sesuatu yang melekat pada daging seperti lemak, hati, rumen (bagian dari lambung hewan), jantung, paru-paru, limpa, ginjal, tenggorokan, testis, betis, kepala dan yang semisalnya, hukumnya mengikut hukum daging. (Tahdzib Al-Mudawwanah, Al-Baradzi’i 1/93)

Hanya saja sebagian ulama menyatakan bahwa hukum memakannya makruh, karena secara kebiasaan testis dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Disebutkan di dalam kitab “Al-Mughni”, “Anggota tubuh itu (testis) tidak dianggap baik.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi 3/296)

Az-Zaila’i berkata: “Dimakruhkan memakan beberapa anggota tubuh dari kambing, bagian kemaluan, testis, kelenjar, kandung kemih, kandung empedu, karena anggota-anggota tersebut termasuk seuatu yang dianggap jijik dan tidak disukai oleh jiwa manusia.” (Tabyiinul Haqaiq 6/226)

Referensi: https://islamqa.info

Satu Amalan Rahasia untuk Berbagai Solusi

istighfar dan taubat

Seseorang datang mengadu kepada Iman Hasan Al-Bashri tentang kemarau yang berkepanjangan, ia menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Orang lainnya datang mengadu tentang kefakiran yang ia alami, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian yang lainnya datang dan berkata, “mohonlah pada Allah agar aku diberi anak.”, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian orang lainnya datang mengeluh tentang kebunnya yang tidak mengahasilkan buah, dan beliau tetap menjawab,  “Istighfarlah kepada Allah”

Seseoang berkata bertanya keheranan kepada imam, “engkau didatangi oleh orang-orang dengan masalah yang berbeda-beda, tapi kenapa semua dari mereka engkau perintahkan untuk beristighfar?”.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak mengatakan sesuatu pun dari diriku sendiri, sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman di dalam surat Nuh,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Istighfarlah (mohonlah ampun kepada Tuhanmu), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh : 10-12)

Seseorang bertanya kepada Hasan Al-Bashri Rahimahullah : Tidakkah salah seorang dari kita malu kepada Tuhannya? Kita melakukan dosa, kemudian minta ampun, kemudian melakukan dosa lagi, kemudia minta ampun lagi, dan begitu seterusnya?

Maka  Hasan Al-Bashri menjawab: “Sungguh Syaithan menginginkan agar ia bisa menipu kalian dengan pikiran seperti itu, jangan pernah tinggalkan istighfar!”

Tidak salah lagi! Istighfar (mohon ampun) kepada Allah adalah satu amal yang mudah, tidak butuh energi ekstra untuk berbagai macam solusi.

Maka, jangan sia-siakan waktu luangmu, gunakan ia untuk memperbanyak istighfar dan dzikir. Bahkan seorang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sekalipun, manusia yang telah dijamin masuk surga, dan tanpa dosa, masih beristighfar kepada Allah setiap hari 70-100 kali. Bagaimana dengan kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada Nya, dalam sehari, lebih dari 70 kali ” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai segenap manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena sungguh aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali!” (HR. Muslim)

 

Sumber: https://kalemtayeb.com/safahat/item/36141

14 Rukun Sholat yang Wajib Dipenuhi dan Dalilnya

14 rukun sholat

14 Rukun Sholat yang Wajib Dipenuhi dan Dalilnya – Shalat merupakan salah satu rukun islam yang wajib dikerjakan. Shalat juga adalah ibadah yang sangat penting dan merupakan salah satu sarana yang disyari’atkan oleh Allah untuk berkomunikasi dan munajat antara Allah dan hamba Nya. Shalat juga merupakan amalan yang paling pertama diperiksa di hari kiamat, jika amal sholat lolos hisab maka akan diperikasa amal ibadah lainnya, namun jika sholat tidak lolos hisab maka amal lainnya tidak akan diterima.

Maka mengetahui ilmu tentang sholat dan segala yang berkaitan dengannya sangat penting demi tegaknya salah satu rukun Islam ini di dalam hidup seorang muslim.

Dalam sholat ada pembagian yang perlu diketahui yaitu syarat, rukun, wajib dan sunnah sholat.

Sebenarnya pembagian syarat, rukun, wajib dan sunnah sholat ini tidak terdapat di dalam Al-Quran maupun Hadits. Pembagian ini dibuat oleh ulama berdasarkan pengamatan dan pengambilan hukum dari dalil-dalil Quran dan Hadits. Pembagian itu dibuat dalam rangka untuk memudahkan pemahaman dan proses belajar mengajar.

Ketika para ulama meneliti suatu masalah yang perintahnya sangat kuat, maka ini mereka sebagai rukun, jika perintahnya tidak terlalu kuat maka termasuk kategori wajib, kemudian jika perintahnya tidak kuat maka dikategorikan sebagai sunnah, dan seterusnya. Ilmu ini dapat dipelajari pada studi ushul fiqh (ilmu pokok-pokok fiqh)

Memahami macam-macam kategori sangat penting untuk mengetahui skala prioritas, terutama jika terjadi pertentangan diantara amalan-amalan, maka kita tahu mana yang harus didahulukan.

Pada tulisan ini kita akan membahas mengenai rukun sholat, pengertiannya, urgensinya dan 14 rukun sholat yang wajib dilaksanakan.

Pengertian Rukun Sholat

Rukun secara bahasa artinya sisi yang paling kokoh dari sebuah bangunan atau dapat diartikan juga dengan tiang, penyangga dan pokok. Maka rukun sholat  adalah ucapan dan perbuatan di dalam sholat yang menjadi pokok dan asas dari shalat.

Urgensi Rukun Sholat

Rukun sholat sangat penting diketahui dan diterapkan, karena sholat seseorang tidak sah jika salah satu rukunnya ditinggalkan. Sah dan tidaknya sholat tergantung pada penerapan rukun-rukun sholat dengan baik dan lengkap.

Rukun sholat harus dikerjakan dengan lengkap untuk keabsahan sholat. Sholat yang salah satu rukunnya ditinggalkan, baik sengaja atau tidak sengaja seperti lupa dan lainnya menjadi tidak sah dan sholatnya harus diulang ketika ingat.

Adapun jika salah satu rukun sholat terlupa, dan diingat ketika masih dalam sholat, maka raka’at yang kurang rukunnya harus diulang dan ditambahkan seketika itu juga, karena raka’at tersebut tidak terhitung disebabkan rukunnya tidak sempurna. Adapun jika seseorang mengingat ada rukun yang kurang setelah sholatnya selesai, maka sholatnya harus diulang dari awal.

Perbedaan antara wajib Sholat dan Rukun Sholat 

  • Wajib sholat gugur pengerjaannya apabila terlupa dan dapat ditutupi dengan sujud sahwi. Meskipun begitu sholat bisa batal apabila wajib sholat ini sengaja ditinggalkan.
  • Adapun rukun sholat tidak gugur meskipun lupa, dan harus dikerjakan ketika ingat. Jika seseorang lupa mengerjakan rukun sholat, kemudian mengingatnya ketika masih dalam sholat, maka ia harus menambahkan atau mengulang raka’at yang dilupakan rukunnya. Tapi, jika seseorang lupa mengerjakan rukun dan baru ingat setelah sholat selesai, maka sholat tersebut harus ia ulang dari awal.

14 Rukun Sholat yang Wajib Dipenuhi dan Dalilnya

Ada 14 rukun sholat yang mesti diterapkan pada sholat. Rukun-rukun ini terdiri dari gerakan, ucapan dan keadaan di dalam sholat. Berikut rinciannya:

Berdiri bagi yang Mampu pada Sholat Fardhu

Berdiri bagi orang yang mampu merupakan salah satu rukun dalam sholat fardhu. Bagi yang tidak mampu berdiri, boleh dengan duduk, jika tidak mampu maka berbaring dan seterusnya, ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

صل قائماً فإن لم تستطع فقاعداً، فإن لم تستطع فعلى جنب

“Sholatlah dengan berdiri, jika engkau tidak mampu maka duduk,  dan jika engkau tidak mampu juga maka berbaring.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hubairah berkata:

“Mereka (para ulama) sepakat bahwa berdiri di dalam sholat fardhu wajib dilakukan bagi orang yang mampu, dan bahwasanya meninggalkan berdiri padahal mampu maka sholatnya tidak sah.” (Al-Ifshah 1/122)

Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram adalah takbir atau ucapan “Allaahu Akbar” pertama dan merupakan pembuka sholat.

Disebut dengan takbiratul ihram karena setelah melakukan takbir ini, maka telah haram bagi seseorang melakukan hal-hal yang tidak berkaiatan dengan sholat, seperti makan minum, ketawa, gerakan-gerakan diluar sholat dan lainnya. Ini sama dengan salah satu rukun haji yang pertama yaitu ihram, dimana setelah seseorang berihram maka telah haram untuknya segala hal yang bisa membatalkan dan merusak hajinya.

Takbiratul ihram dilakukan dengan mengucapkan takbir “Allaahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan sebahu. Mengangkat tangan itu sendiri bu

Dalil wajibnya takbiratul ihram adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

 إذا قمت إلى الصلاة فاستقبل القبلة فكبر

“Jika engkau telah berdiri untuk sholat maka menghadaplah ke kiblat kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membaca Al-Fatihah

Membaca surat Al-Fatihah (yaitu surat pertama pada urutan mushaf) pada setiap raka’at adalah salah satu rukun sholat yang sangat penting, bahkan Nabi shallallahu’alihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada (tidak sah) sholat bagi orang yang tidak membaca (surat) pembuka Kitab (Al-fatihah)”

Ruku’

Ruku’ adalah salah satu rukun sholat yang wajib dilaksanakan, caranya adalah dengan membungkukkan badan, kedua tangan bertumpu pada kedua lutut (seolah menggenggamnya), posisi kepala, punggung dan pinggang lurus sejajar, dan mata memandang kebawah pada tempat sujud.

Dalil wajibnya ruku’, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Haj:77)

Bangkit dari Ruku’ dan ‘Itidal

Bangkit dari ruku’ dan ‘itidal yaitu berdiri tegak merupakan salah satu rukun sholat. Dalilnya adalah sebuah hadits yang lumayan panjang yang menerangkan tentang tatacara sholat, diantaranya berbunyi:

.. ثم اركع حتى تطمئن راكعاً ثم ارفع حتى تعتدل قائماً..

“…Kemudian ruku’ lah sampai engkau ruku’ dengan tenang, kemudian bangkitlah sampai berdiri dengan sempurna (‘itidal)..” (HR. Bukhari dan Muslim)

dan hadits

” لا تجزئ صلاة لا يقيم الرجل صلبه في الركوع والسجود ” رواه أحمد وأبو داود والترمذي وصححه

“Tidak sah sholat orang yang tidak menegakkan (meluruskan) tulang sulbi (tulang punggungnya) didalam ruku’ dan sujud.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dam At-Turmudzi dan ia menyatakan hadits ini shahih)

Hadits ini sekaligus menjadi dalil tentang wajibnya sujud

Sujud

Sujud merupakan salah satu rukun sholat yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala seperti yang telah kami sebutkan pada rukun ruku’ (QS. Al-haj : 77)

Caranya adalah dengan menempelkan 7 anggota sujud ke lantai. Tujuh anggota sujud yang harus menempel pada lantai adalah:

  • Dahi (dengan ujung hidung)
  • Kedua telapak tangan
  • Kedua lutut
  • Kedua ujung kaki

Tidak sempurna sujud seseorang yang tidak menempelkan ketujuh anggota sujud tersebut ke lantai, ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam:

أمرنا أن نسجد على سبعة أعضاء، الجبهة وأشار بيده إلى أنفه، والكفين، والركبتين، وأطراف القدمين ” متفق عليه

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Kami diperintahkan untuk sujud diatas tujuh anggota tubuh, yaitu: kening dan beliau sambil menunjuk kepada hidung nya, dan kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bangkit dari Sujud dan Duduk diantara Dua Sujud

Bangkit dari sujud dan duduk diantara dua sujud merupakan rukun sholat yang juga mesti dilakukan, sebagian ulama ada yang menjadikannya dua rukun, yaitu bangkit dari sujud sebagai satu rukun dan duduk diantara dua sujud sebagai satu rukun lainnya.

Diantara dalilnya:

حديث عائشة: ” كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا رفع رأسه من السجود لم يسجد حتى يستوي قاعداً ” رواه مسلم.

Hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata: “Adalah Nabi shallallahu’alaihiwasallam apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak langsung sujud kembali sampai duduk dengan tegak dan sempurna.” (HR. Muslim)

Duduk Tasyahhud Akhir

Sebagian orang menjadikan ini satu rukun dengan tasyahhud akhir, tapi pendapat yang lebih kuat bahwa duduk tasyahhud akhir merupakan rukun sholat tersendiri, karena jika seseorang bertasyahhud tapi dalam keadaan berdiri maka sholat dan tasyahhudnya tidak sah.

Tasyahhud Akhir

tasyahhud akhir adalah ucapan “Attahiyatu Lillah..” sampai akhir dzikir. Ada dua tasyahhud pada sholat fardhu yang memiliki jumlah raka’at 3 dan 4, yang merupakan rukun sholat adalah tasyahhud yang kedua atau yang terakhir, sedangkan tasyahhud pertama, menurut pendapat yang lebih kuat, tidak termasuk rukun, namun hanya kewajiban sholat. Artinya jika seseorang lupa melakukan tasyahhud awal maka sholatnya tidak batal, dan ia tidak perlu mengulang tasyahhud tersebut, hanya saja ia harus menutupinya dengan sujud sahwi. Adapun sholat yang berjumlah 2 raka’at hanya ada satu tasyahhud yang sekaligus merupakan rukun sholat.

Diantara dalilnya adalah hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

” إذا قعد أحدكم في صلاته فليقل: التحيات لله… ” متفق عليه.

“Jika salah seorang diantara kalian telah duduk (tahiyat) hendaknya berkata: “Attahiyaatu lillah..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bershalawat Kepada Nabi pada Tasyahhud Akhir

Sholawat pada  Nabi di tasyahhud akhir merupakan salah satu rukun sholat yang tidak boleh ditinggalkan.

Mengucapkan Dua Salam

Yaitu mengucapkan “Assalaamu’alaikum warahmatullaah” sambil menoleh ke kanan dan mengucapkan “Assalaamu’alaikum warahmatullaah” sambil menoleh ke kiri.

Thuma’ninah

Thuma’ninah merupakan salah satu rukun sholat yang sering dilanggar oleh kebanyakan orang. Thuma’ninah adalah tenang dan tidak terburu-buru ketika melaksanakan rukun-rukun sholat.

Diantara dalil wajibnya thuma’ninah dalam sholah adalah hadits berikut:

حديث حذيفة: ” أنه رأى رجلاً لا يتم ركوعه ولا سجوده، فلما قضى صلاته دعاه، فقال له حذيفة: ما صليت ولومت مت على غير الفطرة التي فطر الله عليها محمداً صلى الله عليه وسلم ” رواه البخاري.

Bahwasanya Hudzaifah radhiyallahu’anhu pernah melihat seorang (sholat) yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Setelah orang itu selesai, ia memanggilnya, lalu Hudzaifah berkata padanya: “Engkau (sesungguhnya) belum sholat, dan seandainya engkau mati, maka engkau mati bukan diatas fithrah yang Allah telah fithrahkan Muhammad shallallahu’alaihiwasallam diatasnya.” (HR. Bukhari)

Ibnu Taimiyah berkata:

“Dan juga tidak dinamakan ruku’ dan sujud dalam bahasa Arab kecuali jika ia telah tenang ketika menunduk, dan ketika meletakkan keningnya diatas tanah. Adapun sekedar merendah lalu bangkit begitu saja, bukanlah dinamakan ruku’ bukan pulas sujud, siapa yang menamakannya ruku’ dan sujud maka sungguh ia telah keliru dalam memahami bahasa Arab.” (Majmu’ Fatawa 22/569)

Kadar Minimal Thuma’ninah:

Menurut pendapat yang lebih kuat (rajih) kadar minimal thuma’ninah ialah sampai ia menyelesaikan bacaan atau dzikir wajib pada sholat dengan kecepatan bacaan normal.

Tertib

Tertib adalah mengerjakan semua rukun diatas secara tertib atau berurutan, dan tidak boleh melakukan rukun secara acak, atau mendahulukan yang seharusnya diakhirkan. Contoh, tidak boleh mendahulukan sujud sebelum ruku’, atau mendahulukan ‘itidal sebelum ruku’ dan lainnya.

Penutup

Demikian penjelasan ringkas tentang rukun-rukun sholat yang wajib dilakukan. Mempelajari rukun-rukun sholat adalah keharusan, karena sah dan tidaknya shalat seseorang tergantung pada sempurna atau tidaknya rukun sholat seseorang. Untuk rinciannya Anda bisa dapatkan infonya pada buku-buku tentang sholat, dan usahakanlah selalu agar mempelajari ilmu agama terutama sholat dengan dalilnya yang shahih, karena Raulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah bersabda:

صلوا كما رأيتموني أصلي

“Sholatlah kalian sebagaimana melihat aku sholat.” (HR. Bukhari)

Pada dasarnya semua yang dilakukan Nabi shallallahu’alaihiwasallam  dalam sholatnya mesti kita contoh. Karena beliau adalah teladan kita dalam beragama. Kita mempelajari tentang rukun, syarat, sunnah, wajib dan lainnya, bukan berarti untuk bermalas-malasan dan hanya melakukan yang wajib saja. Seorang yang beriman harus memiliki jiwa berlomba-lomba untuk kebajikan dan selalu mencapat peringkat yang tertinggi dalam kebaikan.

 

Referensi:

https://www.alukah.net/sharia/0/108731/

14 Hukum, Syarat dan Ketentuan Haji Badal yang Wajib Diketahui

haji badal syarat hukum ketentuan

Badal (البدل) artinya ganti maka haji badal” (حج البدل) adalah haji yang dilakukan atau diwakilkan oleh orang lain untuk orang yang berhalangan melakukannya sendiri, baik karena sakit atau orang yang telah meninggal.

Haji badal pada dasarnya boleh dilakukan, hanya saja harus dipenuhi syarat dan ketentuannya. Karena banyak orang yang menghaji badalkan orang lain tanpa memperhatikan ketentuan, sehingga haji badalnya tidak sah.

Selain itu, karena banyaknya permintaan haji badal, sehingga jasa haji badal cukup banyak berkembang. Sebagian jasa haji badal ini ada yang amanah dalam menjalankan tugasnya, ada pula yang curang, dan tidak memperhatikan ketentuan-ketentuannya, sehingga merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Maka, sebelum Anda menghaji badalkan orang lain baik itu saudara, kerabat dan lainnya, maka sangat penting mengetahui syarat dan ketentuan haji badal ini, agar hajinya sah dan tidak ada yang dirugikan.

Baca juga: 

Haji Badal: Hukum, Syarat dan Ketentuannya yang Wajib Diketahui

Berikut terlah kami rangkum mengenai hukum, syarat dan ketentuan-ketentuan tentang haji badal yang wajib Anda ketahui sebelum melakukan haji badal. Ketentuan ini penting Anda ketahui, karena jika tidak Anda akan rugi baik tenaga, biaya dan waktu. Berikut ketentuannya:

  • Orang yang menggantikan (membadalkan) haji untuk orang lain harus telah menunaikan haji wajib untuk dirinya terlebih dahulu. Jika ia tetap melaksanakan haji badal untuk orang lain sedangkan ia sendiri belum menunaikan haji wajibnya, maka haji tersebut hanya sah untuk dirinya sendiri dan tidak sah untuk orang lain.

Ulama pada Komisi Tetap Fatwa (Saudi Arabia) berkata:

“Tidak boleh bagi seseorang menghajikan orang lain sebelum ia sendiri menunaikan haji. Dalil tentang hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam mendengar seseorang berkata (ketika bertalbiah ihram) “Labbaika ‘an Shubrumah” (Aku penuhi panggilan Mu (ya Allah) untuk haji dari Syubrumah) Nabi bertanya: Apakah engkau telah melakukan haji untuk dirimu sendiri? Ia menjawab: tidak, Beliau berkata: Jika demikian, hajilah untuk dirimu terlebih dahulu kemudian hajikan Syubrumah.” (Fatawa Lajnah Daimah 11/50)

  • Tidak sah membadalkan haji islam untuk orang yang mampu secara fisik. Haji Islam adalah haji pertama yang wajib, karena haji yang wajib yang termasuk rukun islam adalah sekali seumur hidup, adapun haji berikutnya adalah haji sunnah. Haji islam (haji wajib) tidak boleh diwakilkan (dibadalkan kepada orang lain) selama yang bersangkutan masih mampu melaksanakannya sendiri secara fisik.

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah: “Tidak boleh badal (menggantikan) haji wajib (haji pertama) bagi orang yang mampu melaksanakan hajinya sendiri secara fisik, berdasarkan ijma’ (konsensus para ulama). Ibnu Mundzir berkata: Para ulama telah ijma’ bahwa barangsiapa yang telah memenuhi kewajiban haji islam dan ia mampu melaksanakannya sendiri, maka tidak boleh orang lain mengahajikan untuknya (haji badal). (Al-Mughni 3/185)

  • Haji badal hanya boleh dilakukan untuk orang yang sakit dengan penyakit yang (secara teori) tidak diharapkan kesembuhannya, atau orang yang lemah badannya, atau orang yang telah meninggal. Tidak boleh badal haji bagi orang yang lemah ekonomi (fakir dan miskin), dan tidak mampu baik karena kondisi politik maupun keamanan.  Karena orang yang tidak mampu secara ekonomi, karena politik atau keamanan secara hukum tidak memenuhi syarat wajib haji.

Al-hafidz Ibnu-Hajar berkata. “Ulama yang membolehkan badal haji telah sepakat mengenai tidak bolehnya haji badal wajib kecuali untuk orang yang telah wafat atau orang lumpuh, maka tidak termasuk dalam hal ini orang yang sakit (biasa) karena ia diharapkan kesembuhannya, tidak pula orang gila karena ia diharapkan kesadarannya, tidak pula napi karena ia diharapkan kebebasannya dan tidak pula orang fakir karena ia mungkin menjadi kaya.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 4/70)

Komisi Fatwa Lajnah Daimah pernah ditanya:

“Apakah boleh bagi seorang muslim yang telah menunaikan kewajiban hajinya, untuk menunaikan haji badal bagi salah seorang kerabatnya di negeri China, karena kerabatnya tersebut tidak mampu untuk datang menunaikan haji?.”

Jawaban:

“Boleh bagi seorang muslim yang telah menunaikan kewajiban hajinya sendiri untuk menunaikan haji badal bagi orang lain, jika orang tersebut tidak mampu menunaikan hajinya sendiri, baik karena usia tua, atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya atau orang yang telah wafat. Ini berdasarkan hadits-hadits shahih yang membolehkan hal itu. Adapun jika orang yang ingin haji badal tersebut tidak mampu haji karena sesuatu penghalang yang diharapkan hilangnya, seperti sakit biasa yang mungkin sembuh, atau seperti persoalan politik, atau keamanan ketika di perjalanan dan sebagainya, maka orang dengan kategori ini tidak boleh dibadalkan hajinya. (Fatwa Lajnah Daimah, 11/51)

  • Boleh bagi wanita melaksanakan haji badal untuk laki-laki, begitu juga sebaliknya boleh bagi laki-laki menghajikan wanita.

Ulama di Lajnah Daimah berkata:

“Sesungguhnya seorang wanita menggantikan haji untuk wanita dan laki-laki dibolehkan, karena ada dalil-dalil yang datang dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam tentang hal itu.” (Fatawa Lajnah Daimah 11/52)

  • Tidak boleh menghajikan lebih dari satu orang dalam satu kali perjalanan. Satu orang hanya boleh melakukan satu kali haji badal untuk seorang lainnya, tidak boleh lebih.

Disebutkan di dalam fatwa lajnah daimah:

“Dan tidak boleh bagi seseorang berhaji sekali dan meniatkannya untuk dua orang. Satu perjalanan hanya boleh untuk satu orang, demikian juga umrah. Akan tetapi, jika sesorang menghajikan orang lain, kemudian setelahnya ia melakukan badal umrah untuk orang lainnya pada tahun yang sama, maka boleh, jika orang yang membadalkan tersebut tersebut telah melakukan haji dan umrah untuk dirinya sendiri sebelumnya.” (Fatwa Lajnah Daimah, 11/58)

  • Hendaknya orang yang melakukan badal haji tidak melakukannya semata karena upah. Hendaknya ia melakukan itu dengan niat ikhlas karena Allah, dan karena ingin membantu saudaranya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata:

“Dan badal haji dengan upah: jika seseorang melakukan badal haji karena upah semata, Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) rahimahullah berkata: Barangsiapa yang berhaji untuk memakan harta (upah) maka ia tidak mendapatkan apa-apa di akhirat kelak. Adapun orang yang diberi upah dengan niat berhaji (bukan semata karena harta) maka tidak mengapa. Dan hendaknya bagi orang yang mengambil upah badal haji supaya berniat dengan upah tersebut untuk membantunya dalam biaya haji, dan meniatkan pula untuk menunaikan badal haji saudaranya. Karena orang yang yang minta dibadalkan adalah orang yang membutuhkan, dan bergemberi jika ada orang lain yang menggantikannya, maka hendaknya dengan itu ia berniat untuk berbuat baik untuknya dalam menunaikan hajinya, dengan begitu ia telah berniat baik.” (Liqaa Al-Bab Al-Maftuh 89/ pertanyaan no. 6)

  • Jika ada orang islam meninggal dan ia belum melaksanakan haji wajibnya, padahal ia telah memenuhi semua syarat wajib haji, maka wajib dilakukan haji badal untuknya dengan biaya harta yang ia tinggalkan, baik ia berwasiat untuk itu maupun tidak. Dan jika ada orang yang berhaji untuknya, dan orang tersebut telah melakukan haji untuk dirinya sendiri sebelumnya, maka haji tersebut sah untuk mayit, dan telah memadai untuk menghapus kewajiban haji baginya. (Fatwa Lajnah Daimah 11/100)
  • Yang terbaik adalah seorang anak menghajikan (haji badal) orang tuanya, demikian juga kerabat menghajikan kerabatnya. Tapi jika ia ingin mengupah orang lain untuk haji badal, hukumnya boleh.

Syaikh Bin Baz pernah ditanya tentang ini, beliau menjawab:

“Jika engkau sendiri menghajikan keduanya (orang tuamu) dan engkau bersungguh-sungguh menyempurnakan hajimu sesuai syar’i, maka itu yang terbaik. Tapi, jika engkau mengupah seseorang yang amanah dan mengerti agama untuk menghajikan keduanya, maka tidak mengapa. Sebaiknya engkau menunaikan haji dan umrah keduanya, demikian juga orang lain yang menggantikan keduanya, engkau disyari’atkan menyuruhnya untuk menghajikan dan mengumrahkan keduanya. Ini termasuk perbuatan baktimu kepada keduanya. Semoga Allah menerima amalan kami dan engkau.” (Fatawa Shaikh bin Baz 16/408)

  • Tidak disyaratkan mengetahui nama orang yang hendak dibadalkan hajinya, tapi cukup dengan diniatkan haji untuk orang tersebut, meskipun namanya tidak diketahui.

Ulama di komisi fatwa pernah ditanya:

“Aku memiliki sekitar empat orang antara kakek-nenek dan paman-paman, laki-laki dan perempuan, dan aku tidak mengetahui nama sebagian dari mereka, dan aku ingin mengutus seorang yang melakukan haji badal untuk untuk masing-masing mereka dengan biaya tanggunganku?.”

Dijawab:

“Jika persoalannya seperti itu, siapa yang engkau ketahui namanya baik pria maupun wanita, maka tidak ada masalah, dan siapa yang engkau tidak tahu namanya, maka boleh bagimu untuk meniatkan baik untuk pria maupun wanita, paman dari pihak ayah maupun ibu, berdasarkan urutan umur dan ciri (sifat) mereka, dan dalam hal itu cukup diniatkan, meski engkau tidak ketahui namanya.” (Fatawa Lajnah Daimah 11/172)

  • Tidak boleh bagi orang yang diminta untuk mewakilkan (membadalkan) haji orang lain untuk mewakilkannya ke orang lainnya kecuali atas izin orang yang diwakilkan.
  • Apakah boleh badal haji sunnah (haji kedua dan seterusnya)? Ada perbedaan pendapat tentang masalah ini. Syaikh Utsaimin rahimahullah memilih pendapat bahwa tidak boleh dilakukan haji badal kecuali haji yang wajib. Beliau berkata:

“Jika seseorang telah menunaikan haji wajibnya, tapi ia ingin mewakilkan seseorang untuk mengerjakan badal haji dan umrah untuknya, maka ada perbedaan pendapat tentang ini diantara para ulama, sebagian mereka ada yang membolehkannya dan sebagian ada yang melarangnya.

Pendapat yang lebih tepat menurutku adalah yang melarang, bahwasanya tidak boleh bagi seorangpun mewakilkan haji dan umrah sunnah (nafilah) untuk dirinya, karena pada dasarnya ibadah harus dilakukan oleh dirinya sendiri. 

Sebagaimana tidak boleh bagi seseorang untuk mewakilkan puasa dirinya, meskipun jika ia wafat dan masih ada tanggungan puasa wajib, maka walinya harus mengganti puasa tersebut, demikian juga pada haji.

Haji adalah ibadah yang dilakukan dengan badan, bukan ibadah harta yang yang diberikan kepada orang lain. Jika itu adalah ibadah badan, maka seseorang harus melakukannya dengan badannya, maka tidak sah ibadah badan tersebut dilakukan oleh orang lain untuk dirinya, kecuali sesuatu yang ada dalilnya dari sunnah, sedangkan tidak ada dalil di dalam sunnah bolehnya melakukan haji badal untuk haji sunnah.

Ini adalah pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat darinya, maksudku riwayat tentang bahwa seseorang tidak sah mewakilkan orang lain untuk melakukan haji sunnah maupun umrah, sama saja apakah ia mampu atau tidak mampu.

Jika kita berpegang pada pendapat ini, maka ini menjadi dorangan bagi orang kaya yang mampu melakukan haji dengan fisiknya, karena sebagian orang telah beralalu tahun demi tahun tapi ia tidak pergi ke Makkah, ia bertumpu pada orang yang ia wakilkan untuk berhaji untuknya setiap tahun, maka ia terus luput melaksanakan haji dan hanya berpatokan pada orang yang mewakiliknya.” (Fawata Islamiah 2/192,193)

  • Hendaklah mencari orang yang baik, jujur, amanah dan mengetahui ilmu manasik haji untuk melakukan haji badal.

“Hendaklah bagi orang yang ingin membadalkan hajinya untuk mencari yang akan membadalkan, seseorang yang berpegang pada agama, dan amanah sehingga ia tenang dalam menunaikan kewajibannya.” (Fatawa Lajnah Daimah 11/53)

Wallahu’alam

Referensi:  islamqa.info