Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

apakah kafir non muslim termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam

Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Jawabannya Ya dan Tidak. Kenapa ya dan kenapa tidak? akan kami jelaskan sesaat lagi pada tulisan ini.

Selama ini, kita atau kebanyakan dari kita, hanya tahu bahwa ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah mereka yang beriman kepadanya, dan ajaran yang dibawanya, dan mati dalam keadaan beriaman. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada beliau bukan termasuk ummat beliau.

Tapi, tahukah Anda bahwa ummat Nabi Muhammad itu terbagi menjadi dua macam, yakni:

1. Ummatu Da’wah (أمة الدعوة)

Ummat dakwah adalah seluruh jin dan manusia, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada seluruh alam (yaitu jin dan manusia), dan ini termasuk semua jenis manusia, baik Arab maupun non Arab, dan apapun kepercayaan dan agama mereka.

Semua adalah ummat Nabi Muhammad dalam artian mereka semua masuk dalam lingkup yang harus disampaikan atau didakwahkan agama Islam oleh Nabi yang mulia Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Dalilnya sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

والذي نفسي بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار. رواه مسلم

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan Nya, tidaklah seorangpun dari ummat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang (kenabian) ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah (islam) yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk ahli neraka.” (HR. Muslim)

Sabda beliau “dari ummat ini” maksdunya adalah ummat dakwah, mereka yang menjadi objek dakwah beliau, yaitu seluruh manusia dan jin.

Maka, dalam kategori ini, orang kafir dan non-muslim adalah termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana mereka dituntut untuk beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Status orang kafir dan non muslim sebagai ummat dakwah Nabi hanyalah di dunia, adapun di akhirat mereka bukan lagi termasuk ummat dakwah, karena sudah tidak ada dakwah di akhirat.

1. Ummatu Ijabah (أمة الإجابة)

Ummat ijabah artinya ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang telah mengijabah (menjawab dan menerima) dan beriman kepada beliau dan risalah islam yang beliau bawa.

Mereka adalah ummat Islam. Mereka adalah ummat Nabi Muhammad yang sebenarnya, yang status mereka sebagai ummat beliau abadi dan melekat baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana sabda beliau:

شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي. رواه أبو داود والترمذي وقال: حسن صحيح غريب. وأحمد، وصححه الألباني

“Syafa’atku akan diperoleh oleh pelaku dosa besar dari ummatku.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi, dishahihkan oleh Al-albani)

Ummat ijabah ini adalah mereka yang akan menyandang status ummat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  ketika setiap ummat berjalan dibelakang pemimpin mereka, ini sebagaimaan dalam hadits:

عرضت علي الأمم فجعل يمر النبي معه الرجل، والنبي معه الرجلان، والنبي معه الرهط، والنبي ليس معه أحد، ورأيت سوادا كثيرا سد الأفق فرجوت أن تكون أمتي، فقيل: هذا موسى وقومه. ثم قيل لي: انظر فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل لي: انظر هكذا وهكذا، فرأيت سوادا كثيرا سد الأفق، فقيل: هؤلاء أمتك، ومع هؤلاء سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب. متفق عليه

“Diperlihatkan kepadaku ummat-ummat, maka ada Nabi yang bersamanya seorang pengikut, Nabi bersamanya dua orang pengikut, Nabi bersamanya sekelompok pengikut dan bahkan ada Nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun. Aku melihat pula sekelompok besar yang banyak, yang jumlah mereka menutupi ufuk, ketika itu aku berharap mereka adalah ummatku, lalu dikatakan: ini adalah Musa dan kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku: lihatlah, maka aku melihat sekelompok besar yang banyak menutupi ufuk, kemudian dikatakan pula kepadaku: lihatlah, begini dan begini, maka aku lihat lagi sekelompok besar yang banyak, menutupi ufuk, lalu dikatakan: mereka adalah ummatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu (70.000) orang yang akan masuk surga tanpa hisab.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika kata “ummat” atau “ummat Nabi Muhammad” disebut maka yang dimaksud adalah ummat Islam, ummat ijabah, kecuali jika ada indikasi lain yang memalingkannya dari makna dasar ini, indikasi itu bisa berupa keterangan setelahnya seperti pada hadits sebelumnya, dan bisa berupa hal lainnya.

Kesimpulan

Menjawab pertanyaan apakah non muslim (orang kafir) termasuk ummat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, maka jawabannya adalah, ya, mereka adalah ummat dakwah beliau.

Status ummat dakwah bagi orang kafir ini hanya sementara di dunia, sedangkan di akhirat mereka bukan lagi ummat dakwah beliau.

Ummat beliau yang hakiki adalah ummat islam, yaitu ummat ijabah. Status mereka sebagai ummat Nabi abadi sampai hari kiamat.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga kita mati sebagai ummat ijabah Nabi Muhammad shallallahu’aihi wa sallam dan mendapatkan syafa’at beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.

 

Referensi: www.islamweb.net

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya

ijma' pengertian, definisi, macam dan syaratnya

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya – Apa yang dimaksud dengan ijma’, apa saja syarat-syarat dan berapa macam pembagiannya? Berikut ulasannya.

Pengertian Ijma’

Ijma’ (الإجماع) berasal dari kata jama’a, yajma’u, jam’an, ijmaa’an (جمع – يجمع – جمعا – إجماعا) secara bahasa berarti berkumpul, mengumpulkan, perkumpulan. Ijma’ juga berarti kesepakatan dan tekad.

Adapun defenisi ijma’ secara istilah adalah:

اتفاق مجتهدي هذه الأمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم على حكم شرعي

“Kesepakatan (konsensus) para mujtahid ummat islam setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam atas suatu hukum syar’i.”

Penjelasan definisi:

Kesepakatan (konsensus) para mujtahid : maka tidak termasuk ijma’ jika dalam suatu masalah terdapat perbedaan pendapat (khilaf), meskipun khilaf tersebut dari satu orang mujtahid.

Kemudian, kesepakatan tersebut harus bersumber dari ulama mujtahid, mereka yang telah derajat ijtihad, bukan dari orang awam, atau mereka yang masih taqlid (muqallid).

Adapun orang awam atau muqallid, kesepakatan mereka dalam suatu hukum syari’at tidak dianggap, demikian juga perselisihan mereka, karena orang awam dan muqallid tidak kredibel dan bukan sumber untuk bertanya dalam masalah hukum syari’at.

Ummat islam: kesepakatan tersebut harus dari mujtahid ummat islam, bukan selain mereka

Setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam : suatu ijma’ harus terjadi setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam wafat, maka tidak termasuk ijma’ ketika beliau masih hidup. Karena yang menjadi dalil ketika Nabi shallallahu’alaihiwasallam  masih hidup adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau sendiri.

Oleh karena itu, jika ada sebuah hadits/atsar perkataan sahabat yang berbunyi “dulu kami di zaman Nabi mengerjakan ini..” atau “mereka  dulu mengerjakan ini di zaman Nabi…” adalah berhukum marfu’ (perkataan sahabat yang disandarkan kepada Nabi) , bukan nukilan tentang ijma’.

Atas suatu hukum syar’i: objek dari ijma’ adalah hukum syari’at Islam, maka tidak termasuk ijma’ kesepakatan orang tentang suatu perkara adat atau hukum logika. Karena ijma’ merupakan salah satu dalil dari dalil-dalil syar’i.

Kedudukan Ijma’ dalam Syari’at Islam

Ijma’ merupakan salah satu dalil syar’i dan merupakan hujjah dalam suatu hukum syar’i.

Ijma’ menduduki peringkat ke 3 sebagai dalil syar’i setelah Quran dan Sunnah, kemudian setelah ijma’ ada qiyas yang menduduki peringkat ke 4 sebagai dalil syar’i.

Perlu diketahui bahwa Al-Quran dan As-sunnah (hadits) merupakan pokok dari dalil-dalil syar’i, sedangkan metode selain keduanya seperti ijma’, qiyas, mashalih al mursalah, dan lainnya adalah cabang.

Ijma’ merupakan hujjah dan dalil untuk menguatkan suatu hukum syari’at, dalilnya adalah:

Firman Allah ta’ala:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Firam Allah “agar kamu menjadi saksi atas manusia” mencakup saksi atas perbuatan dan hukum perbuatan mereka, dan “saksi” perkataannya dapat diterima.

Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam:

روى الترمذي (2167) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ ). وحسنه الألباني.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan ummatku diatas suatu kesesatan, dan tangan Allah diatas al-jama’ah.” (HR. At-Tirmidzi: 2167, dan statusnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah memelihara ummat ini (terutama ulamanya) dari persekongkolan dan kesepakatan atas suatu perkara bathil dan kesesatan.

Pembagian Ijma’, Jenis dan Macam-macamnya

Ijma’ dibagi menjadi dua macam, yaitu ijma’ qath’i (pasti) dan ijma’ zhanni (dugaan), berikut penjelasannya masing-masing:

1. Ijma’ Qath’i

Adalah ijma’ yang bersifat pasti dan diketahui secara spontan telah terjadi, seperti ijma’ mengenai kewajiban sholat lima waktu, ijma’ mengenai haramnya zina dll.

Ijma’ jenis ini tidak dipungkiri terjadinya oleh seorangpun dari kalangan ulama, mereka juga tidak memungkiri tentang kedudukannya sebagai hujjah/dalil, dan menyelisihi ijma’ jenis ini bisa berakibat kafir jika yang menyelisihinya adalah orang yang secara akal tidak mungkin ia tidak tahu (seperti umumnya orang islam, kecuali mungkin sebagian kasus orang yang baru masuk islam yang belum pernah belajar islam dengan baik)

2. Ijma’ Zhanni

Ijma’ zhanni adalah ijma’ yang tidak diketahui secara spontan tentang apakah pernah terjadi atau tidaknya didalam agama kecuali setelah diteliti lebih jauh, dan sifatnya masuh praduga.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kemungkinan terjadinya ijma’ jenis ini. Mungkin, pendapat yang paling tepat mengenai masalah ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah  yang berakata:

والإجماع الذي ينضبط ما كان عليه السلف الصالح ، إذ بعدهم كثر الاختلاف وانتشرت الأمة ” . أهـ

“Ijma’ yang menjadi patokan adalah ijma’ yang terjadi pada masa salaf shalih(1), adapun masa setelah mereka tidak menjadi patokan karena telah terjadi banyak perbedaan pendapat, dan ummat telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.” (Aqidah Qasithiyah, Ibnu Taimiyah)

Ketahuilah, bahwa ulama ummat ini tidak mungkin bersepakat untuk menyelisihi sebuah dalil yang shahih, sharih (jelas) dan tidak mansukh (dihapus hukumnya), karena mereka tidak mungkin bersepakat kecuali atas kebenaran.

Jika engkau melihat suatu ijma’ dan engkau mengira bahwa ijma’ tersebut menyelisihi dalil shahih, sharih dan tidak mansukh, maka ada 3 kemungkinan:

  1. bahwa yang yang engkau kira ijma’ sebenarnya bukan ijma’, tetapi ada perbedaan pendapat yang engkau tidak ketahui
  2. atau dalilnya tidak shahih
  3. atau dalilnya shahih tapi tidak sharih (jelas atau eksplisit menunjukkan suatu hukum tertentu dan tidak multi tafsir (implisit)
  4. atau dalil tersebut mansukh hukumnya dengan dalil lain.

Syarat Ijma’

Agar suatu masalah hukum syar’i berstatus ijma’  harus memenuhi syarat berikut:

  1. Suatu Ijma’ harus dikonfirmasi melalu jalur yang shahih, bahwa ia harus populer di kalangan para ulama, atau ijma’ tersebut dinukil oleh ulama yang terpercaya (tsiqah), luas pengetahuan dan wawasannya.
  2. Bahwa suatu ijma’ tidak boleh didahului oleh sebuah perbedaan pendapat sebelumnya, jika ada perbedaan pendapat sebelumnya maka kesepakatan yang datang setelahnya tidak dikategorikan ijma’ (secara istilah), karena suatu pendapat tidak hilang dengan wafatnya pemilik pendapat tersebut.

Maka, ijma’ atau kesepakatan yang datang belakangan tidak menghilangkan status sebuah khilaf (perbedaan pendapat) yang terjadi sebelumnya, hanya saja kesepakatan ini bisa mencegah terjadinya perselisihan

Inilah pendapat yang paling kuat (rajih) dalam masalah ini, karena metodeloginya yang kuat.

Pendapat lain mengatakan bahwa suatu ijma’ tidak disyaratkan harus tidak ada khilaf sebelumnya, menurut pendapat ini, jika para ulama di generasi berikutnya berijma’ atas salah satu pendapat sebelumnya(2) maka ijma’ tersebut sah, dan menjadi hujjah atas orang yang datang setelah mereka.

Suatu ijma’, menurut pendapat mayoritas ulama, tidak disyaratkan harus berakhirnya genarasi para ulama yang bersepakat tersebut, maka ijma’ berlaku seterusnya semenjak para ulama pada generasi bersepakat, dan tidak boleh bagi generasi setelah menyelisihi ijma’ tersebut.

Ini karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang hujjahnya ijma’ tidak menyebutkan syarat tentang berlalunya masa terjadinya ijma’, dan ijma’ telah tetap pada saat mereka bersepakat, lalu hal apa yang dapat menghilangkannya?

Hipotesis Skenario

Jika seorang ulama mujtahid berpendapat dengan suatu pendapat, atau melakukan suatu perbuatan yang berkonsekwensi hukum, lalu hal tersebut menjadi populer (masyhur) di kalangan ulama-ulama mujtahid lainnya, dan tidak seorangpun dari mereka mengingkari pendapat dan perbuatan tersebut padahal mereka punya kemampuan untuk mengingkarinya (jika mereka ingin), dalam kondisi ini ada beberapa pendapat:

  1. Bahwa pendapat seorang mujtahid tersebut menjadi ijma’ (karena tidak ada seorangpu dari ulama lainnya yang menyelisihinya)
  2. Pendapat tersebut hanya berstatus argumen / hujjah tapi bukan ijma’
  3. Lainnya mengatakan, pendapat tersebut bukan hujjah dan bukan pula ijma’
  4. Bahwa jika para ulama yang semasa dengan pendapat tersebut berlalu dan mereka semua telah wafat dan tidak seorang pun dari mereka mengingkari dan berbeda pendapat dengan pendapat seorang ulama mujtahid tersebut, maka pendapat ini menjadi ijma’, karena diam mereka yang terus menerus sampai wafat, padahal mereka memiliki kemampuan untuk menyelisihi dan mengingkari, adalah dalil atas kesepakatan mereka. Pendapat yang terakhir inilah lebih tepat.

Wallahu’alam.

Walhamdulillahirabbil’aalamin..

Tulisan ini utamanya dikutip dari kitab Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya Al-ushul min ‘ilmi al-ushul hal. 62-64, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.

 

Referensi:

https://islamqa.info

https://legacy.quran.com

https://sunnah.com/tirmidhi/33/10

 


Catatan kaki:

(1) Salafus shalih artinya pendahulu yang sholeh, adapun secara istilah mereka adalah 3 generasi awal ummat ini, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, terutama mereka yang dari kalangan ulama.

3 generasi tersebut istimewa berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat) kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Ijma’ berikutnya harus berdasarkan dan sesuai dengan salah satu pendapat sebelumnya, dan tidak boleh menelurkan pendapat baru yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

pengertian mukallaf syarat dan dalilnya

Apa itu mukallaf dan apa syarat-syarat serta dalilnya? simak pembahasannya berikut ini.

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

Pengertian Mukallaf

Mukallaf adalah sebuah istilah di dalam ilmu ushul fiqh yang artinya orang yang dibebani hukum atau syari’at, berupa perintah maupun larangan.

Seseorang jika sudah mukallaf maka ia menjadi subjek atas hukum taklif. Hukum taklif ada 5 perkara, yaitu: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Syarat Mukallaf

Ada beberapa syarat agar seorang mukallaf dapat dibebani hukum taklif. Berikut ini syarat-syarat seseorang agar dapat dibebani hukum taklif dan menjadi mukallaf:

Islamdalilnya adalah ijma’ (kesepakatan ulama) bahwasanya seorang kafir tidak diterima darinya amalan. Seorang kafir dituntut untuk menerima pokok agama terlebih dahulu yaitu islam, baru setelah itu ia dituntut menjalankan cabang agama berupa hukum-hukum.

Baligh: yaitu telah cukup umur, dan patokan seorang anak cukup umur menurut para ulama adalah setelah ia mengalami “mimpi basah”, atau mulai tumbuh bulu kemaluan dan bulu ketiaknya, atau telah berumur 15 tahun.

Ulama Malikiah (dari madzhab maliki) berpendapat bahwa seorang anak kecil akan mendapat pahala jika ia melakukan yang wajib, akan tetapi ia belum berdosa jika meninggalkan kewajiban tersebut. Demikian juga ia berpahala jika mengerjakan yang sunnah dan menjauhi yang haram, dan belum berdosa jika ia mengerjakannya. Demikian juga jika ia berpahala jika menjauhi yang makruh.

Dalil mereka adalah, bahwasanya seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membawa bayi, ia lalu mengangkat bayi tersebut dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah bayi ini boleh (sah) melakasanakan haji? Beliau menjawab: “Ya, dan pahalanya untukmu.”

Berakal: Para ulama ahli ushul (fiqh) berkata “akal adalah tempatnya taklif (pembebanan hukum)”

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pena diangkat (perbuatannya tidak dicatat/diperhitungkan) dari tiga golongan orang: dari bayi sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh.”

Sampainya informasi hukum syari’at: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَّنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah tidak menghisab manusia atas hukum-hukum syari’at yang dibawa oleh Rasul, sampai informasi mengenai hukum-hukum syari’at itu sampai kepada mereka.

Ibnu katsir ketika menafsirkan ayat dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. berkata: Ini adalah pemberitahuan tentang keadilah Nya subhanahu wa ta’ala, dan bahwa Ia tidak akan mengazab seorangpun kecuali setelah tegak hujjah atasnya dengan diutusnya seorang Rasul kepadanya.(1)
Mampu: perintah itu tergantung kepada kemapuan, karena tidak berlaku sebuah perintah jika lemah, dan tidak pula berlaku larangan jika terpakasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika aku perintah kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah sejauh kemampuan kalian.”

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)

Demikian ulasan ringkas tentang Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya. Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menambah ilmu dan wawasan keislaman kita, serta diberi tawfiq untuk mengamalkannya. Aamiin.

 

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/0/103690


Catatan kaki:

(1) Setelah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sudah tidak ada lagi seorang Nabi dan Rasul pun, karena beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir, dan penutup kenabian. Maka setelah beliau, suatu hujjah tegak dengan sampainya Islam dan penjelasannya melalui para ulama, pendakwah dan media apa saja.

Hukum Umrah dan Haji dengan Uang Haram

haji umrah dengan uang dan harta haram

Apa hukumnya jika seseorang ingin melaksanakan haji atau umrah dengan menggunakan uang haram, seperti uang hasil korupsi, mencuri, riba, dan lainnya? Apakah haji dan umrahnya sah?

Berikut jawabannya yang kami kutip dari situs islamqa.info

Hukum Umrah dan Haji dengan Uang Haram

Pertanyaan: Orang yang pergi haji dengan uang haram, apakah hajinya sah atau tidak?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah..

Hajinya sah, dan ia telah menunaikan kewajiban hajinya, akan tetapi hajinya tidak mabrur, dan pahalanya sangat kurang.

Imam Nawawi berkata di dalam kitab Majmu’nya: Jika seseorang pergi haji dengan harta haram, ia mendapat dosa, akan tetapi hukum hajinya sah dan memadai, ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Majmu’, Nawawi, 7/62)

Disebutkan di dalam Al-Mausu’ah Al-fiqhiyah 12/131):

Jika ia pergi haji (atau umrah) dengan harta atau uang yang tidak jelas (syubhat) atau dengan uang hasil curian, maka haji (dan umrah) nya sah menurut hukum zhahir, akan tetapi ia telah melakukan maksiat dan dosa dan hajinya tidak mabrur.

Pendapat ini adalah madzhab Syaafi’i, Malik dan Abu Hanifah rahimahumullah dan pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf (ulama dahulu dan belakangan).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Haji dengan uang haram tidak memadainya.” Di dalam riwayat lain ia berpendapat hajinya sah tetapi tindakannya haram.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, bahwasnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang musafir yang telah lama berjalan, kondisinya lusuh dan berdebu, lalu ia membentangkan kedua tangannya ke langit untuk berdoa: Wahai tuhan ku, wahai Tuhanku, sedangkan makanannya dari haram, minumannya dari haram, pakaiannya dari haram, dan ia hidup dengan harta haram, karena itu bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”

Berkata Syaikh bin Baz rahimahullah:

Hajinya sah jika ia tunaikan sesuai tuntunan syari’at Allah, tetapi ia berdosa karena mengambil pengahasilan haram, dan ia harus bertaubat kepada Allah dari demikian, dan hajinya dianggap kurang sebab mengambil penghasilan haram, akan tetapi telah gugur baginya kewajiban haji (karena ia telah melakukan haji yang sah mesikipun dengan uang haram) (Fatawa Bin Baz 16/387)

Disebutkan di dalam fatwa Lajnah Daimah (11/43):

Melaksanakan haji dengan harta haram tidak menghalangi keabsahan haji tersebut, disetai dengan dosa karena penghasilan haram, dan ia mengurangi pahala hajinya akan tetapi tidak menyebabkan hajinya batal.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/48986/%D8%AD%D8%AC-%D8%A8%D9%85%D8%A7%D9%84-%D8%AD%D8%B1%D8%A7%D9%85

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan – Testis atau testicle adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia yang berbentuk oval telur. Manusia memiliki dua testis, demikian juga umumnya hewan. Sebagian masyarakat menyebut organ ini dengan torpedo karena bentuknya yang mirip dengan proyektil tersebut.

Ketika ada penyembelihan hewan di masyarakat, seperti acara Qurban dan lainnya, testis atau torpedo ini sering menjadi incaran oleh sebagian orang, karena diyakini organ yang satu ini memiliki khasiat yang luar biasa.

Nah, bagaimana pandangan islam mengenai hukum memakan testis ini? Apakah halal atau haram? Berikut ini ulasannya.

Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Hukum memakan testis (torpedo) hewan dapat dibagi menjadi 4 bagian:

  • Testis hewan yang haram dimakan, seperti testis babi dan anjing, maka jelas keharamannya, karena bagian dari sesuatu yang haram mengikut hukum sesuatu tersebut, yaitu haram juga.
  • Testis hewan yang halal dimakan tapi hewannya tidak disembelih dengan cara syar’i, maka hukum testis dan seluruh anggota tubuh hewan tersebut haram dimakan.
  • Testis atau torpedo hewan yang halal dimakan, tapi testisnya diambil atau dipotong dari hewan tersebut disaat hewannya masih hidup. Ini hukumnya juga haram.

Dewan fatwa lajnah daimah pernah ditanya: Bolehkah memakan testis hewan yang masih hidup?

Maka dijawab: “Tidak boleh memakan sesuatu yang dipotong dari hewan yang halal dimakan, dan ia dalam keadaan hidup, seperti testis, ekor dan selainnya, karena yang demikian sama hukumnya dengan bangkai, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

ما قطع من البهيمة وهي حية فهو ميتة

“Sesuatu yang dipotong dari hewan ternak sedangkan ia masih hidup, maka ia adalah bangkai (haram dimakan.” (HR. At-tirmidzi no. 1480, hasan) (Fatawa Lajnah Daimah 22/501-502)

  • Testis hewan yang halal dimakan setelah hewannya disembelih, ini hukumnya halal dimakan, karena tidak ada dalil yang mengharamkan atau melarangnya, dan asal hukum sesuatu (dalam urusan dunia) adalah halal sampai ada dalil yang melarangnya.

Disebutkan di dalam kitab “Al-Mudawwanah”:

Sesuatu yang melekat pada daging seperti lemak, hati, rumen (bagian dari lambung hewan), jantung, paru-paru, limpa, ginjal, tenggorokan, testis, betis, kepala dan yang semisalnya, hukumnya mengikut hukum daging. (Tahdzib Al-Mudawwanah, Al-Baradzi’i 1/93)

Hanya saja sebagian ulama menyatakan bahwa hukum memakannya makruh, karena secara kebiasaan testis dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Disebutkan di dalam kitab “Al-Mughni”, “Anggota tubuh itu (testis) tidak dianggap baik.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi 3/296)

Az-Zaila’i berkata: “Dimakruhkan memakan beberapa anggota tubuh dari kambing, bagian kemaluan, testis, kelenjar, kandung kemih, kandung empedu, karena anggota-anggota tersebut termasuk seuatu yang dianggap jijik dan tidak disukai oleh jiwa manusia.” (Tabyiinul Haqaiq 6/226)

Referensi: https://islamqa.info

Satu Amalan Rahasia untuk Berbagai Solusi

istighfar dan taubat

Seseorang datang mengadu kepada Iman Hasan Al-Bashri tentang kemarau yang berkepanjangan, ia menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Orang lainnya datang mengadu tentang kefakiran yang ia alami, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian yang lainnya datang dan berkata, “mohonlah pada Allah agar aku diberi anak.”, dan beliau menjawab: “Istighfarlah kepada Allah”

Kemudian orang lainnya datang mengeluh tentang kebunnya yang tidak mengahasilkan buah, dan beliau tetap menjawab,  “Istighfarlah kepada Allah”

Seseoang berkata bertanya keheranan kepada imam, “engkau didatangi oleh orang-orang dengan masalah yang berbeda-beda, tapi kenapa semua dari mereka engkau perintahkan untuk beristighfar?”.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak mengatakan sesuatu pun dari diriku sendiri, sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman di dalam surat Nuh,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Istighfarlah (mohonlah ampun kepada Tuhanmu), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh : 10-12)

Seseorang bertanya kepada Hasan Al-Bashri Rahimahullah : Tidakkah salah seorang dari kita malu kepada Tuhannya? Kita melakukan dosa, kemudian minta ampun, kemudian melakukan dosa lagi, kemudia minta ampun lagi, dan begitu seterusnya?

Maka  Hasan Al-Bashri menjawab: “Sungguh Syaithan menginginkan agar ia bisa menipu kalian dengan pikiran seperti itu, jangan pernah tinggalkan istighfar!”

Tidak salah lagi! Istighfar (mohon ampun) kepada Allah adalah satu amal yang mudah, tidak butuh energi ekstra untuk berbagai macam solusi.

Maka, jangan sia-siakan waktu luangmu, gunakan ia untuk memperbanyak istighfar dan dzikir. Bahkan seorang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sekalipun, manusia yang telah dijamin masuk surga, dan tanpa dosa, masih beristighfar kepada Allah setiap hari 70-100 kali. Bagaimana dengan kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada Nya, dalam sehari, lebih dari 70 kali ” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai segenap manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena sungguh aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali!” (HR. Muslim)

 

Sumber: https://kalemtayeb.com/safahat/item/36141

Membantah Cara Berdalil Dungu ala Pelegal Zina dan Mencabut Akar Argumentasinya

Membantah Cara Berdalil Dungu ala Pelegal Zina dan Mencabut Akar Argumentasinya

Saat ini, kita sedang dihebohkan oleh berita yang menuai kontroversi di tengah masyarakat. Yaitu disertasi yang ditulis oleh pria yang bernama Abdul Aziz yang terindikasi melegalkan zina. Disertasi tersebut ia tulis untuk meraih gelar doktoralnya, di Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga (UIN SUKA) Yogyakarta. Isi dan kesimpulan dari disertasinya ialah bahwa seks di luar pernikahan hukumnya boleh asal dilakukan suka sama suka.

Membantah Cara Berdalil Dungu ala Pelegal Zina dan Mencabut Akar Argumentasinya

Menurut penulis,  hukum praktek seks diluar nikah adalah halal asal dilakukan dengan suka sama suka,  dasar hukumnya ialah di-qiyaskan(1) dengan hukum milkul yamin (budak yang dimiliki). Menurutnya, seks yang dilakukan atas dasar suka, bukan lah zina yang haram.

Bantahan:

Tahukah Anda bahwa cara berdalilnya sangat rapuh, dan jika Anda sedikit jeli,  maka akan nampak secara jelas kesalahan yang nyata cara berdalilnya.  Bahkan cara ia berdalil ini seperti trik,  untuk menipu orang awam yang tidak mengerti hukum fiqh.

Saya tidak tahu,  apakah si penulis benar tulus dan jujur dalam menulis disertasinya,  atau ia memang sengaja ingin menipu ummat dengan mempermainkan dalil dan istilah-istilah yang tidak dimengeti orang awam.

Jika ia jujur,  berarti ia telah melakukan kedunguan yang luar biasa,  tapi jika ia ingin menipu ummat,  maka semoga Allah melaknatnya dan Allah akan membalas makarnya.

Baiklah mari kita ulas bagaimana dungunya argumentasi yang ia buat.

Ia berpendapat bahwa hubungan diluar pernikahan asalkan suka sama suka tidak haram dan bukan zina.

Melihat cara berdalil penulis,  dapat disimpulkan bahwa ia mengira pada masa jahiliyah dan pada masa Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam, saat wahyu masih turun,  tidak ada orang yang berhubungan seks atas dasar suka sama suka.  Dan ia mengira bahwa orang pada masa itu tidak memiliki kekasih diluar nikah.

Oleh karena itu, ia merasa perlu mengeluarkan istinbath (mengekstrak)  hukum untuk masalah hubungan seksual diluar pernikahan,  yang ia mengira  hal tersebut adalah permasalahan baru di zaman modern ini, permasalahan yang belum ada pada zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam, ketika wahyu masih turun.

Ia merasa ingin jadi pahlawan. Ia ingin dianggap sebagai seorang yang briliant karena telah mampu mengeluarkan disertasi hukum baru -yang menurutnya- ulama islam sejak 1400 tahun lalu tidak mampu melakukan itu.

Tapi, sayang sungguh sayang,  niat hati ingin jadi pahlawan, justru idenya hanyalah pameran kedunguan belaka. Kesimpulannya terlalu gegabah dan cara berpikirnya cacat.

Tidakkah ia tahu bahwa yang dimaksud  dengan  zina,  yang diharamkan didalam Qur’an dan Sunnah,  adalah praktek seks suka sama suka, yang umum dilakukan pada masa jahiliyah?

Justru praktek itu lah zina sebenarnya,  karena pada masa jahiliyah pun orang berzina atas dasar suka sama suka. Sejak masa jahiliyah, sebagian orang  sudah memiliki kekasih dan melakukan seks diluar akad nikah. Dan inilah hakikat zina itu yang ditegaskan keharamannya dalam Qur’an dan sunnah.

Al Quran datang, diantaranya justru untuk menegaskan keharaman praktek seks atas dasar suka sama suka diluar akad pernikahan dan milkul yamin, yang diistilahkan didalam syari’at Islam sebagai zina. Dan ketika istilah ”zina” disebut maka yang terbayang adalah praktek seks diluar pernikahan atas dasar suka sama suka. Adapun seks atas dasar paksaan, disebut dengan perkosaan atau ightishob (الاغتصاب) yang tentu hukumnya lebih berat daripada zina (atas dasar suka sama suka)

Maka,  runtuh sudah argument dan cara berdalilnya yang karbitan tersebut.

Qiyas yang kacau yang ia pakai berdalil tidak berguna lagi.  Karena Qiyas digunakan apabila hukum suatu perkara tidak ada penjelasan dari Al Quran dan Sunnah.  Sedangkan hukum seks diluar akad nikah meskipun suka sama suka sudah ada hukumnya,  yaitu haram dan namanya adalah zina.

Justru ayat yang menjelaskan hukuman bagi pezina adalah konsep seks (jima’) yang dilakukan atas dasar suka sama suka, karena didalam ayatnya disebutkan bahwa kedua pelaku, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama mendapat hukuman, yaitu cambuk bagi yang belum pernah menikah (ghairu muhshon) dan rajam bagi orang yang sudah pernah menikah (muhshon)

Firman Allah Ta’ala,

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

”Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 2)

Zina hukumnya haram.  Dan definisi zina adalah semua praktek seks baik suka sama suka atau paksaan kecuali seks dengan istri dan budak perempuan yang ia miliki/milku alyamin (bukan budak milik orang lain)

Justru hukum zina yang ada dalam Qur’an dan sunnah, dan yang didiskusikan oleh para ulama dalam kitab fiqh mereka sejak ratusan tahun lalu, adalah zina yang umum dilakukan di masyarakat,  yaitu seks atas dasar suka sama suka diluar nikah dan milku alyamin.

Adapun atas dasar paksaan ada hukumannya sendiri,  ini disamping zina juga pemerkosaan,  dan hukumannya lebih dari zina atas dasar saling suka.

Diantara hukuman bagi pezina karena saling suka,  bahwa keduanya,  baik laki maupun perempuan harus dihukum.  Adapun pemerkosaan,  yang yang dihukum hanyalah pelaku saja.

Konsep dan istilah zina tidak hanya  ada pada Islam, bahkan hampir semua agama dan budaya di dunia memiliki konsep dan istilah ini, yaitu perbuatan seks tanpa akad nikah yang umumnya dilakukan atas dasar suka sama suka, dan hampir semua agama mengharamkannya dan menganggapnya sebagai immoral. Karena orang yang fitrah dan akalnya masih sehat tahu bahwa zina adalah perbuatan keji.

Maka jelas,  zina yang diharamkan oleh oleh Al Quran adalah hubungan seks diluar nikah dan milkul yamin,  yang dikira oleh penulis disertasi belum ada kasusnya tersebut kecuali di zaman modern ini.

Oleh karena itu,  runtuh sudah premis yang dibangun oleh penulis disertasi sampai ke akar-akarnya.

Jika demikian,  apa yang ia sebut disertasi itu tidak layak publish,  hanya layak untuk dibuang ke tong sampah,  atau kertasnya untuk membungkus gorengan. Dan setelah penjelasan ini, hanya orang yang benar-benar dungu atau benar-benar sesat,  yang akan tertipu oleh disertasi sampah tersebut.


Catatan kaki:

(1) (Qiyas adalah analogi, merupakan salah satu sumber hukum sekunder dalam Islam, penjelasannya bisa Anda baca pada artikel kami yang berjudul : Arti dan Makna Kata Qiyas)

Adab dan Etika Memberi Nama Anak Menurut Islam

Adab dan Etika Memberi Nama Anak Menurut Islam

Dikutip dari islamqa.info berikut ini ulasan singkat mengenai Adab dan Etika Memberi Nama Anak Menurut Islam, selamat membaca.

Baca juga: Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami?

Adab dan Etika Memberi Nama Anak Menurut Islam

Pertanyaan: Aku ingin memberi nama pada anakku, apa saja adab-adab dalam syri’at islam mengenai hal tersebut?

Jawaban:

Tidak diragukan bahwa masalah nama diantara hal yang sangat penting dalam hidup manusia. Karena ibaratnya, nama adalah alamat dan tanda bagi orang yang diberi nama, nama adalah suatu keharusan untuk saling memahami dengan seseorang, tentang seseorang dan kepada seseorang. Nama juga menjadi hiasan bagi orang yang diberi nama dan menjadi syi’ar panggilan baginya baik di dunia maupun di akhirat kelak…

Pada prinsipnya hukum memberikan nama apa saja itu boleh, hanya saja ada beberapa ketentuan yang harus dihindari ketika memberi nama, diantaranya adalah:

Kategori Nama yang Haram

1. Nama yang berindikasi penghambaan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, baik itu penghambaan kepada Nabi dan Rasul, Malaikat atau selainnya, tidak boleh memberina nama yang berindikasi penghambaan kepada selain Allah secara mutlak.

Diantara contoh nama-nama yang mengindikasikan penghambaan kepada selain Allah seperti, Abdur Rasul (hamba Rasul), Abdun Nabi (hamba Nabi), Abdul Amir (hamba pemerintah) dan nama lainnya yang mengandung makna penghambaan dan kerendahan diri kepada selain Allah Ta’ala.

Nama-nama yang memiliki makna penghambaan kepada selain Allah ini wajib dirubah oleh pemiliknya. Sahabat yang mulia, Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu’anhu berkata: “Aku dahulu memiliki nama ‘Abdu Amr -dalam riwayat lain ‘Abdu ka’bah- namun ketika aku masuk Islam, Rasulullah mengganti namaku menjadi ‘Abdurrahman.” (HR. Al-Hakim 3/306)

2. Memberi nama dengan nama-nama yang merupakan nama khusus bagi Allah Ta’ala, seperti memberi nama Al-khaliq (Sang Pencipta) Ar-Raziq (Sang Pemberi Rezeki), Ar-Rabb (Tuhan), Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan nama-nama lain yang menjadi nama khusus bagi Allah.

Termasuk juga nama yang mengandung sifat yang tidak layak diperuntukkan kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla saja, seperti Malikul Muluk (raja segala raja), Al-Qahir (yang maha perkasa) dan lainnya.

Nama-nama semacam ini haram dipakai dan wajib untuk dirubah jika terlanjur telah diberi nama dengannya. Allah Ta’ala setelah menceritakan tentang nama-nama Nya, berfirman:

 

رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama (nama dan sifatnya) dengan Dia (yang patut disembah)?.” (QS. Maryam: 65)

3. Memberi nama dengan nama-nama yang khusus bagi orang kafir yang tidak biasa dipakai oleh orang lain selain mereka, seperti ChristianPetrus, George dan yang semacamnya, yaitu nama yang secara adat menunjukkan bahwa pemilik nama adalah penganut agama tertentu yang bukan Islam.

4. Memberi nama dengan nama-nama berhala atau segala sesuatu yang disembah selain Allah, seperti memberi nama dengan nama syaithan dan lainnya.

Nama-nama semacam semacam diatas tidak boleh digunakan bahkan haram dipakai dan wajib untuk dirubah jika terlanjur telah diberi nama dengannya.

Kategori Nama yang Makruh (Tidak Dianjurkan)

Nama-nama yang termasuk kategori berikut makruh diberikan kepada anak atau bayi. Makruh berarti tidak dianjurkan atau yang yang terbaik dihindari.

1. Dimakruhkan memberi nama dengan nama yang membuat orang takut, seperti nama yang memiliki arti yang buruk atau hinaan. Nama-nama seperti ini bertentangan dengan petunjuk Nabi shallallahu’alaihiwasallam yang memerintahkan untuk memperbagus nama. Contoh nama yang membuat orang takut adalah Harb yang berarti perang, dan nama lainnya yang mengandung arti tidak baik.

2. Dimakruhkan memberi nama yang memiliki makna yang membangkitkan syahwat dan hasrat seksual.

3. Dimakruhkan memberi nama dengan nama-nama orang fasiq, seperti nama-nama biduan atau penyanyi, nama selebritis dan lainnya. Adapun jika nama mereka memiliki arti yang baik, maka boleh memberi nama anak/bayi dengannya, motifnya bukan karena ingin meniru nama orang fasiq tersebut melainkan karena namanya mengandung arti baik.

4. Dimakruhkan menamakan anak/bayi dengan nama yang mengandung arti dan makna kemaksiatan dan dosa, seperti nama Fasiq, Sariq (pencuri) dan Zhalim. Atau memberi nama dengan nama-nama diktator dan ahli maksiat, seperti Fir’aun, Haman, Qarun dll.

5. Memberi nama dengan nama binatang yang masyhur dalam sebuah adat sebagai hewan hina, seperti nama Himar (kedelai), Kalb (anjing), Qird (kera) dan yang semisalnya.

6. Dimakruhkan memberi nama dengan sesuatu yang dinisbatkan kepada agama Islam, seperti  Nurdin atau Nuruddin (cahaya agama Islam), Shamsyuddin (matahari agama islam) demikian juga nama Nurul Islam dan Syamsul Islam. Hal ini dimakruhkan karena berindikasi memberikan seseorang status nama yang tidak layak baginya. Para ulama salaf terdahulu tidak menyukai jika mereka diberi gelar seperti itu, misalnya Imam Nawawi tidak suka digelari dengan Muhyiddin (yang menghidupkan agama), demikian juga Ibnu Taimiyah tidak menyukai jika digelari Taqiyuddin, beliau berkata: “Tapi keluargaku terlanjur memberiku gelar demikan sehingga menjadi masyhur.”.

7. Dimakruhkan juga memberi nama yang dinisbatkan kepada kata “Allah”, kecuali Abdullah, seperti nama Hasbullah, Rahmatullah, dsb. Demikian juga nama yang dinisbatkan dengan kata “Rasul”.

8. Dimakruhkan juga memberi nama dengan nama-nama Malaikat, nama-nama surat Al-Quran seoerti Thoha, Yasin. Nama-nama ini, menurut pendapat yang paling kuat adalah Huruf Muqaththa’ah yang ada pada awal-awal sebagian surat Al-quran, huruf-huruf itu bukan nama-nama Nabi shallallahu’alaihiwasallam seperti yang dikira oleh sebagian orang.

Catatan: Diatas adalah kategori nama-nama yang makruh digunakan, namun jika seseorang telah dewasa dan terlanjur diberi nama demikian oleh keluarganya, dan kesulitan untuk merubahnya maka tidak wajib untuk dirubah.

Urutan (Kategori) Nama Terbaik untuk Anak atau Bayi Anda

Meskipun bebas memberi nama anak/bayi dengan nama apa saja dengan syarat-syarat diatas, Islam juga memiliki nama-nama yang dianjurkan untuk dipakai bagi seorang anak muslim. Urutan kategori nama terbaik yang dianjurkan Islam adalah seperti berikut:

1. Nama ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman. Ini berdasarkan hadits shahih dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam beliau bersabda, “Sebaik-baik nama disisi Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim 1398)

2. Semua nama yang bermakna penghambaan diri kepada Allah Ta’ala, misalnya ‘Abdul ‘Aziz (hamba Allah yang maha Mulia), ‘Abdul Malik, ‘Abdul Ilah, ‘Abdus Salam dan lain sebagainya.

3. Nama-nama Nabi dan Rasul ‘Alaihissalam, dan yang terbaik diantara mereka adalah nama Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam, dianatara nama-nama beliau juga seperti Ahmad. Kemudian urutan setelah beliau, nama-nama Nabi dan Rasul Ulul-‘azmi, mereka adalah Ibrahim, Musa, Isa, Nuh ‘Alaihimussalam. Kemudian nama-nama Nabi dan Rasul yang lain.

4. Nama orang-orang sholeh terutama nama para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Dianjurkan untuk memberi nama dengan nama mereka sebagai bentuk teladan dan harapan agar yang anak/bayi yang diberi nama derajatnya terangkat.

5. Semua nama yang mengandung makna yang baik dan bagus yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam dan tidak mengandung makna penyucian dan mengagungkan diri sendiri.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penamaan

Ketikan hendak memberikan nama kepada anak, sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Menyadari bahwa nama anak/bayi Anda akan melekat pada dirinya sepanjang hidup. Nama tersebut bisa menjadi penyebab tidak enak hati seorang anak kepada orang tuanya. Oleh karena itu bijaklah dalam memberi nama anak.
  2. Ketika memilih nama bagi anak hendaknya orang tua melihat dari berbagai sisi, pertama melihat kelayakan nama itu sendiri dari segi arti, kemudian kelayakan nama tersebut kepada anak sewaktu ia kecil, ketika ia dewasa dan ketika ia tua kelak. Hendaknya dilihat sejauh mana kelayakan nama tersebut kepadanya bahkan kepada orang tuanya.
  3. Memberi nama anak adalah hak ayah secara khusus, karena anak tersebut akan menyandang nama bapaknya di kemudian hari. Namun demikian sebaiknya ibu juga dilibatkan dan dimintai pendapatnya mengenai nama sang anak.
  4. Seorang anak/bayi wajib menyandang dan dinisbatkan kepada nama ayahnya, meskipun ayahnya tidak pernah mengasuhnya atau anak tersebut tidak pernah melihat wajah ayahnya. Haram secara mutlak menisbatkan seorang anak kepada selain ayah kandungnya, kecuali dalam satu kondisi yaitu anak tersebut lahir dari hasil zina -na’udzubillah min dzalik-, maka anak tersebut harus dinisbatkan kepada ibunya, bukan kepada “ayahnya”.

Demikian itu pembahasan singkat mengenai Adab dan Etika Memberi Nama Anak Menurut Islam. Semoga kita diberi keturunan yang sholeh dan bija dalam memberi nama kepada mereka sesuai dengan tuntunan Islam. Aamiin..

Wallahu’alam

Referensi:

https://islamqa.info

 

Dhab Kadal Arab yang Halal Dimakan

dhab kadal arab halal dimakan

Dhab Kadal Arab yang Halal DimakanDhab atau Dhabb ( الضب) adalah kadal gurun atau biasa juga disebut kadal arab atau kadal mesir (dhab mashri) yang hidup di gurun pasir. Kadal ini banyak didapati di wilayah timur tengah, seperti di Saudi Arabia, Mesir dan sekitarnya. Walaupun secara sekilas bentuk dhab mirip dengan kadal  atau biawak pada umumnya, tapi ada banyak perbedaan antara kadal dhabb dengan kadal-kadal yang lain, diantara perbedaannya ialah bahwa dhab itu jenis hewan herbivora alias pemakan tumbuh-tumbuhan, bukan carnivora yang suka makan hewan lainnya.

Dhab Kadal Arab yang Halal Dimakan 03
Bentuk dhab

Dhab Kadal Arab yang Halal Dimakan

Dasar hukum dari halalnya memakan dhab ialah sebuah riwayat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Dhabb, aku tidak memakannya namun aku tidak mengharamkannya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat imam Muslim, beliau shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Makanlah, karena sungguh ia halal, akan tetapi ia bukan makanan (kaum) ku.”

Atas dasar hadits yang shahih diatas maka mayoritas para ulama menyatakan bahwa Dhab halal untuk dikonsumsi.

Namun, ada pula sebagian kecil para ulama madzhab Hanafi yang mengharamkan makan daging dhab atau kadal gurun ini. Dalil mereka adalah sebuah hadits yang dilemahkan (dhoif) oleh  mayoritas para ulama, yaitu hadits ‘Abdurrahman bin Syibl Al-Anshori radhiyallahu’anhu yang berbunyi:

“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam melarang memakan daging Dhabb.” (HR. Abu Dawud dalam kitab Sunan nya)

Hadits diatas dianggap lemah oleh para ulama seperti oleh Al-Baihaqi. Namun Ibnu Hajar berkata bahwa hadits ini Hasan (derajat hadits yang tidak sampai kepada shahih namun tidak dhaif), tapi walaupun begitu beliau tidak berhujjah (berdalil) dengan hadits ini karena menurut beliau hadits ini dihapuskan (mansukh) hukumnya dengan hadits yang shahih seperti diatas.

Gambar Dhab

Jika Anda belum familiar dengan bagaimana bentuk dhabb, berikut ini beberapa gambar dhab yang kami dapat dari internet.

Dhab Kadal Arab yang Halal Dimakan 04
Seorang pemburu dhab sedang memperlihatkan hasil tangkapannya
Dhab Kadal Arab yang Halal Dimakan 02
Hidangan dhab bersama nasi ala Arab
Dhab dipercaya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan seperti untuk menambah kekuatan pria, dsb.

 

Referensi:

http://www.saaid.net