Hubungan Antara Rezeki dan Kematian (Ajal)

  • admin 
hubungan rezeki dan ajal (kematian)

Pertanyaan: Kata orang kematian (ajal) seseorang ada hubungannya dengan rezekinya. Tapi yang mengganjal dihatiku adalah bahwa rezeki itu banyak macamnya dan pintunya juga banyak. Contohnya rezeki harta, ada orang yang memiliki hutang tapi kemudian meninggal sebelum hutangnya ia bayar. Kemudian ada orang bekerja dengan seseorang, tapi sebelum ia menerima upahnya ia meninggal. Ada pula orang yang sehat sempurna tapi tiba-tiba mati. Bukankah agama itu rezeki, gaji itu rezeki, kesehatan itu rezeki dst. ? Tapi aku merasa bahwa ada jenis rezeki tertentu yang apabila berakhir maka seseorang akan mati setelahnya. Ini jika benar bahwa rezeki itu ada kaitannya dengan kematian.  Lalu, rezeki apakah itu yang apabila rezeki tersebut habis, maka seseorang akan mati?

  • Ringkasan: Rezeki yang apabila ia habis maka pemiliknya akan mati adalah ajal seseorang.

Jawab: 

Segala puji hanya bagi Allah..

Pertama: Ajal manusia adalah masa tinggal dan menetapnya di dunia, dan ajal ini adalah rezeki yang apabila ia habis (jatah, ketetapan dan ketentuannya) maka seseorang akan mati.

Seperti halnya makhluk lain, manusia juga memiliki ajal yang tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan. Ajal sesuatu adalah masa akhir (expire date) nya. Maka umur adalah masa berlaku dan ajal adalah akhir dari umur dengan kematian.

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah shallallahu’alahiwasallam bersabda:

  قدَّرَ الله مقادير الخلائق قبل أن يَخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة، وكان عرشُه على الماء  رواه مسلم 2653

“Allah telah menentukan takdir-takdir seluruh ciptaan Nya lima puluh ribu (50.000) tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, dan ‘Arsy Nya berada diatas air.” (HR. Bukhari : 2635)

Dalam hadits yang lain, beliau bersabda:

 

 كان الله ولم يكن شيء قبله، وكان عرشه على الماء، وكتب في الذِّكْر كلّ شيء، وخلق السموات والأرض، وفي لفظ:  ثم خلق السموات والأرض. وقد قال تعالى:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ [الأعراف: 34]، رواه البخاري: (3191

“Allah ada dan tiada suatu apapun sebelum Nya, dan ‘Arsy Nya berada diatas air, dan Ia menulis (kejadian) segala sesuatu pada Adz-dzikr (Lauhul Mahfuzh), dan Ia menciptakan langit dan bumi.” Dalam riwayat lainnya berbunyi “Kemudian Ia menciptakan langit dan bumi. Dan sungguh Allah telah berfirman: “maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-A’raf :34) (HR. Bukhari : 3191).

Allah telah mengetahui apa yang terjadi sebelum terjadinya dan Dia telah menulis segalanya. Dia telah mengetahui (misalnya) orang ini akan mati karena sakit perut, radang selaput dada, atau karena keruntuhan, tenggelam dan sebab-sebab lainnya. Dan Dia telah mengetahui orang yang akan mati dengan sebab dibunuh, baik dengan racun, kena pedang, sihir, kena batu dan sebab-sebab kematian lainnya. (Lih. Al-Jaami’ Al-masaail, Thariq bin ‘Audhillah vol. 7, hal. 37)

Masa umur manusia termasuk kedalam keumuman rezeki, dan bagian rezeki seorang manusia  akan berakhir dengan berakhirnya ajalnya. Dalam hadits, dari ‘Abdullah, ia berkata: Ummu Habibah istri Nabi shallallahu’alahiwasallam  berkata: “Ya Allah berilah aku kebahagiaan bersama suamiku Rasulullah shallallahu’alahiwasallam  dan bersama ayahku Abu Sufyan dan bersama saudaraku Mu’awiyah.”  ia (perawi) berkata: Maka Rasulullah shallallahu’alahiwasallam  berkata: “Engkau telah meminta kepada Allah ajal-ajal yang telah dibagikan, hari-hari yang tertentu, dan rezeki-rezeki yang telah dijatah. Sesuatu tidak akan disegerakan sebelum masanya dan tidak akan ditunda dari masanya (yang telah ditentukan). Seandainya engkau meminta pada Allah agar dilindungi dari adzab Neraka atau adzab kubur tentu lebih baik dan lebih utama.” (HR. Muslim: 2663)

Kedua: Pada dasarnya apa yang Anda katakan pada pertanyaan diatas maknanya benar, masuk akal dan tidak ada masalah.

Bahwa sesungguhnya “rezeki” adalah apa yang didapat manusia dari apa yang ada di alam dunia ini, apa yang bisa menutupi kebutuhan pokok dan sampingannya dan apa yang membuatnya hidup layak.

Rezeki termasuk setiap apa bisa menutupi kebutuhan hidup, seperti makanan dan minuman, hewan ternak, tumbuhan yang berbuah dan pakaian, dan juga termasuk alat tukar (uang) untuk membeli kebutuhan. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah (rezeki) mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. An-Nisa : 8)

Maksudnya berilah mereka (rezeki) dari harta (waris) peninggalan mayit.

Allah berfirman juga:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’ad: 26)

Ketika mengisahkan Qarun, Allah berfirman: “Dan kami berikan kepadanya (Qarun) sebagian dari harta…” sampai pada firman Nya: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya..” (QS. Al-Qashas : 76-82). Yang dimaksud dengan rezeki pada ayat ini adalah harta Qarun.

Dalam ayat lainnya Allah berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-syuraa : 27)

Menurut Ahlus-sunnah, makna rezeki dalam istilah syari’at sama maknanya seperti dalam pengertian bahasa, karena pada dasarnya tidak dibedakan antara definisi bahasa (arab) dan definisi syari’at kecuali jika ada dalil khusus yang membedakan. Maka, rezeki dalam hal ini termasuk yang didapat secara halal maupun secara haram, karena sifat halal atau haram tidak merubah sifat sesuatu sebagai bagian dari rezeki. Namun demikian, pembahasan halal dan haram ada tempatnya tersendiri, dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik-baik, dan itu juga berbeda tergantung kondisi syar’i nya, sebagai contoh: perdagangan khamr (minuman keras) yang dilakukan sebelum diharamkan. Maksudnya disini adalah mereka menafkahkan apa yang ada pada mereka. (Lih. At-tahrir wa At-Tanwir 234/1-135 dan lihat juga Al-Mu’jam Al-Isytiqaaqy 749/2-795)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Kata “Ar-rizq” maknanya adalah apa yang dibolehkan dan diberikan oleh Allah Ta’ala untuk hamba Nya dan (juga) bermakna sesuatu yang dimakan oleh hamba.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah 8/545)

Maka, ketika seorang manusia mati, segala sesuatu yang belum sempat ia miliki, atau belum sempat ia nikmati atau ia manfaatkan, itu bukanlah rezeki yang telah ditetapkan untuknya. Hal ini jelas dan dapat dipahami, sekalipun seseorang sudah melakukan pekerjaannya, kemudian ia mati sebelum mendapatkan upah atau gaji dari pekerjaan tersebut: maka upah yang seharusnya ia terima tersebut bukanlah rezeki yang ditetapkan untuknya di dunia. Demikian juga jika ia mati (saat sakit) sebelum menikmati kesehatan, berarti kesehatan tersebut bukanlah rezeki yang telah ditetapkan Allah baginya di dunia. Demikian juga, sesuatu yang tidak atau belum sempat masuk ke perutnya, atau belum menjadi miliknya: berarti bukan rezekinya di dunia.

Dalam sebuah hadits, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alahiwasallam  bersabda:

“Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah memerintahkan kalian untuk melakukannya, dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh rezeki salah seorang dari kalian tidak akan terlambat datang, sungguh jibril memberitahuku bahwa salah seorang diantara kalian tidak akan keluar dari dunia sampai ia menyempurnakan (jatah/bagian) dari rezekinya, maka takutlah kepada Allah wahai manusia, dan perbaguslah (cara kalian) dalam mencari (nafkah), jika sesorang kalian (merasa) rezekinya terlambat janganlah ia mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah, karena karunia dan rahmat Allah tidak dapat diperoleh dengan maksiat.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak : 2189 dan lainnya, Al-Albani berkata: hadits ini shohih lighairihi)

Kesimpulannya:

Apa yang disebutkan pada pertanyaan benar adanya tidak diragukan.

Wallahu’alam (dan Allah saja yang lebih mengetahui)

 

Sumber: islamqa.info

 

ARTIKEL LAINNYA: