Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya

Ijma’: Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya – Apa yang dimaksud dengan ijma’, apa saja syarat-syarat dan berapa macam pembagiannya? Berikut ulasannya.

Pengertian Ijma’

Ijma’ (الإجماع) berasal dari kata jama’a, yajma’u, jam’an, ijmaa’an (جمع – يجمع – جمعا – إجماعا) secara bahasa berarti berkumpul, mengumpulkan, perkumpulan. Ijma’ juga berarti kesepakatan dan tekad.

Adapun defenisi ijma’ secara istilah adalah:

اتفاق مجتهدي هذه الأمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم على حكم شرعي

“Kesepakatan (konsensus) para mujtahid ummat islam setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam atas suatu hukum syar’i.”

Penjelasan definisi:

Kesepakatan (konsensus) para mujtahid : maka tidak termasuk ijma’ jika dalam suatu masalah terdapat perbedaan pendapat (khilaf), meskipun khilaf tersebut dari satu orang mujtahid.

Kemudian, kesepakatan tersebut harus bersumber dari ulama mujtahid, mereka yang telah derajat ijtihad, bukan dari orang awam, atau mereka yang masih taqlid (muqallid).

Adapun orang awam atau muqallid, kesepakatan mereka dalam suatu hukum syari’at tidak dianggap, demikian juga perselisihan mereka, karena orang awam dan muqallid tidak kredibel dan bukan sumber untuk bertanya dalam masalah hukum syari’at.

Ummat islam: kesepakatan tersebut harus dari mujtahid ummat islam, bukan selain mereka

Setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam : suatu ijma’ harus terjadi setelah Nabi shallallahu’alaihiwasallam wafat, maka tidak termasuk ijma’ ketika beliau masih hidup. Karena yang menjadi dalil ketika Nabi shallallahu’alaihiwasallam  masih hidup adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau sendiri.

Oleh karena itu, jika ada sebuah hadits/atsar perkataan sahabat yang berbunyi “dulu kami di zaman Nabi mengerjakan ini..” atau “mereka  dulu mengerjakan ini di zaman Nabi…” adalah berhukum marfu’ (perkataan sahabat yang disandarkan kepada Nabi) , bukan nukilan tentang ijma’.

Atas suatu hukum syar’i: objek dari ijma’ adalah hukum syari’at Islam, maka tidak termasuk ijma’ kesepakatan orang tentang suatu perkara adat atau hukum logika. Karena ijma’ merupakan salah satu dalil dari dalil-dalil syar’i.

Kedudukan Ijma’ dalam Syari’at Islam

Ijma’ merupakan salah satu dalil syar’i dan merupakan hujjah dalam suatu hukum syar’i.

Ijma’ menduduki peringkat ke 3 sebagai dalil syar’i setelah Quran dan Sunnah, kemudian setelah ijma’ ada qiyas yang menduduki peringkat ke 4 sebagai dalil syar’i.

Baca juga:  Lengkap: Pengertian Ghibah, Hukum dan Dalilnya

Perlu diketahui bahwa Al-Quran dan As-sunnah (hadits) merupakan pokok dari dalil-dalil syar’i, sedangkan metode selain keduanya seperti ijma’, qiyas, mashalih al mursalah, dan lainnya adalah cabang.

Ijma’ merupakan hujjah dan dalil untuk menguatkan suatu hukum syari’at, dalilnya adalah:

Firman Allah ta’ala:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Firam Allah “agar kamu menjadi saksi atas manusia” mencakup saksi atas perbuatan dan hukum perbuatan mereka, dan “saksi” perkataannya dapat diterima.

Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam:

روى الترمذي (2167) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ ). وحسنه الألباني.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan ummatku diatas suatu kesesatan, dan tangan Allah diatas al-jama’ah.” (HR. At-Tirmidzi: 2167, dan statusnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah memelihara ummat ini (terutama ulamanya) dari persekongkolan dan kesepakatan atas suatu perkara bathil dan kesesatan.

Pembagian Ijma’, Jenis dan Macam-macamnya

Ijma’ dibagi menjadi dua macam, yaitu ijma’ qath’i (pasti) dan ijma’ zhanni (dugaan), berikut penjelasannya masing-masing:

1. Ijma’ Qath’i

Adalah ijma’ yang bersifat pasti dan diketahui secara spontan telah terjadi, seperti ijma’ mengenai kewajiban sholat lima waktu, ijma’ mengenai haramnya zina dll.

Ijma’ jenis ini tidak dipungkiri terjadinya oleh seorangpun dari kalangan ulama, mereka juga tidak memungkiri tentang kedudukannya sebagai hujjah/dalil, dan menyelisihi ijma’ jenis ini bisa berakibat kafir jika yang menyelisihinya adalah orang yang secara akal tidak mungkin ia tidak tahu (seperti umumnya orang islam, kecuali mungkin sebagian kasus orang yang baru masuk islam yang belum pernah belajar islam dengan baik)

2. Ijma’ Zhanni

Ijma’ zhanni adalah ijma’ yang tidak diketahui secara spontan tentang apakah pernah terjadi atau tidaknya didalam agama kecuali setelah diteliti lebih jauh, dan sifatnya masuh praduga.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kemungkinan terjadinya ijma’ jenis ini. Mungkin, pendapat yang paling tepat mengenai masalah ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah  yang berakata:

Baca juga:  Penjelasan Tentang Sujud Malaikat Kepada Adam

والإجماع الذي ينضبط ما كان عليه السلف الصالح ، إذ بعدهم كثر الاختلاف وانتشرت الأمة ” . أهـ

“Ijma’ yang menjadi patokan adalah ijma’ yang terjadi pada masa salaf shalih(1), adapun masa setelah mereka tidak menjadi patokan karena telah terjadi banyak perbedaan pendapat, dan ummat telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.” (Aqidah Qasithiyah, Ibnu Taimiyah)

Ketahuilah, bahwa ulama ummat ini tidak mungkin bersepakat untuk menyelisihi sebuah dalil yang shahih, sharih (jelas) dan tidak mansukh (dihapus hukumnya), karena mereka tidak mungkin bersepakat kecuali atas kebenaran.

Jika engkau melihat suatu ijma’ dan engkau mengira bahwa ijma’ tersebut menyelisihi dalil shahih, sharih dan tidak mansukh, maka ada 3 kemungkinan:

  1. bahwa yang yang engkau kira ijma’ sebenarnya bukan ijma’, tetapi ada perbedaan pendapat yang engkau tidak ketahui
  2. atau dalilnya tidak shahih
  3. atau dalilnya shahih tapi tidak sharih (jelas atau eksplisit menunjukkan suatu hukum tertentu dan tidak multi tafsir (implisit)
  4. atau dalil tersebut mansukh hukumnya dengan dalil lain.

Syarat Ijma’

Agar suatu masalah hukum syar’i berstatus ijma’  harus memenuhi syarat berikut:

  1. Suatu Ijma’ harus dikonfirmasi melalu jalur yang shahih, bahwa ia harus populer di kalangan para ulama, atau ijma’ tersebut dinukil oleh ulama yang terpercaya (tsiqah), luas pengetahuan dan wawasannya.
  2. Bahwa suatu ijma’ tidak boleh didahului oleh sebuah perbedaan pendapat sebelumnya, jika ada perbedaan pendapat sebelumnya maka kesepakatan yang datang setelahnya tidak dikategorikan ijma’ (secara istilah), karena suatu pendapat tidak hilang dengan wafatnya pemilik pendapat tersebut.

Maka, ijma’ atau kesepakatan yang datang belakangan tidak menghilangkan status sebuah khilaf (perbedaan pendapat) yang terjadi sebelumnya, hanya saja kesepakatan ini bisa mencegah terjadinya perselisihan

Inilah pendapat yang paling kuat (rajih) dalam masalah ini, karena metodeloginya yang kuat.

Pendapat lain mengatakan bahwa suatu ijma’ tidak disyaratkan harus tidak ada khilaf sebelumnya, menurut pendapat ini, jika para ulama di generasi berikutnya berijma’ atas salah satu pendapat sebelumnya(2) maka ijma’ tersebut sah, dan menjadi hujjah atas orang yang datang setelah mereka.

Suatu ijma’, menurut pendapat mayoritas ulama, tidak disyaratkan harus berakhirnya genarasi para ulama yang bersepakat tersebut, maka ijma’ berlaku seterusnya semenjak para ulama pada generasi bersepakat, dan tidak boleh bagi generasi setelah menyelisihi ijma’ tersebut.

Ini karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang hujjahnya ijma’ tidak menyebutkan syarat tentang berlalunya masa terjadinya ijma’, dan ijma’ telah tetap pada saat mereka bersepakat, lalu hal apa yang dapat menghilangkannya?

Baca juga:  Apakah Syarat Masuk Islam Harus Ada Saksi?

Hipotesis Skenario

Jika seorang ulama mujtahid berpendapat dengan suatu pendapat, atau melakukan suatu perbuatan yang berkonsekwensi hukum, lalu hal tersebut menjadi populer (masyhur) di kalangan ulama-ulama mujtahid lainnya, dan tidak seorangpun dari mereka mengingkari pendapat dan perbuatan tersebut padahal mereka punya kemampuan untuk mengingkarinya (jika mereka ingin), dalam kondisi ini ada beberapa pendapat:

  1. Bahwa pendapat seorang mujtahid tersebut menjadi ijma’ (karena tidak ada seorangpu dari ulama lainnya yang menyelisihinya)
  2. Pendapat tersebut hanya berstatus argumen / hujjah tapi bukan ijma’
  3. Lainnya mengatakan, pendapat tersebut bukan hujjah dan bukan pula ijma’
  4. Bahwa jika para ulama yang semasa dengan pendapat tersebut berlalu dan mereka semua telah wafat dan tidak seorang pun dari mereka mengingkari dan berbeda pendapat dengan pendapat seorang ulama mujtahid tersebut, maka pendapat ini menjadi ijma’, karena diam mereka yang terus menerus sampai wafat, padahal mereka memiliki kemampuan untuk menyelisihi dan mengingkari, adalah dalil atas kesepakatan mereka. Pendapat yang terakhir inilah lebih tepat.

Wallahu’alam.

Walhamdulillahirabbil’aalamin..

Tulisan ini utamanya dikutip dari kitab Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitabnya Al-ushul min ‘ilmi al-ushul hal. 62-64, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.

 

Referensi:

https://islamqa.info

https://legacy.quran.com

https://sunnah.com/tirmidhi/33/10

 


Catatan kaki:

(1) Salafus shalih artinya pendahulu yang sholeh, adapun secara istilah mereka adalah 3 generasi awal ummat ini, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, terutama mereka yang dari kalangan ulama.

3 generasi tersebut istimewa berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat) kemudian generasi setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Ijma’ berikutnya harus berdasarkan dan sesuai dengan salah satu pendapat sebelumnya, dan tidak boleh menelurkan pendapat baru yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.

Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •