Khilafiyah Dalam Masalah Aqidah, Bolehkah?

PERTANYAAN:

Semoga Allah memantapkan langkah Anda dan memberkahi Anda. Sebagian orang berkata bahwa ada perbedaan pendapat (khilafiyah) pada permasalahan Aqidah dan boleh berijtihad didalamnya. Mereka berdalil bahwa para Sahabat pernah berbeda pendapat tentang apakah Nabi  صلى الله عليه وسلم melihat Rabb nya atau tidak? dimana Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Nabi  صلى الله عليه وسلم pernah melihat Rabbnya sedangkan ‘Aisyah mengingkari hal ini.

Apakah pendapat (adanya khilaf dan ijtihad pada permasalahan Akidah) benar adanya? Bagaimana cara kita membantah mereka?

JAWABAN:

Segala puji dan syukur bagi Allah.

Pertama:

Diantara masalah-masalah Aqidah ada yang dibolehkan khilaf didalamnya, tapi permasalahan aqidah yang dibolehkan berbeda pendapat tergolong sedikit dan termasuk permasalah cabang dari Akidah (bukan permasalahan pokok atau ushul) dan ada permasalahan ‘Aqidah yang tidak dibolehkan berbeda pendapat didalamnya dan inilah yang menjadi dasar dan patokan. Khilafiyah ini terjadi karena ditinjau dari jelas atau samarnya dalil-dalil dalam suatu permasalahan ‘Akidah tertentu.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Tidak mungkin kita berkata: bahwa wajib yaqin  pada semua masalah Akidah, karena diantara masalah Akidah ada yang diperselisihkan oleh para ulama -semoga Allah merahmati mereka-, sesuatu yang diperselisihkan oleh para ulama tidak berkonsekwensi yaqin; karena sesuatu yang yaqin tidak mungkin dinafikan sama sekali.

Sebagai contoh, para ulama telah berselisih tentang adzab kubur, apakah terjadi pada badan atau ruh?

Mereka juga berselisih tentang apa yang akan ditimbang di hari kiamat; apakah amalan atau lembaran-lembaran amal ataukah orang yang melakukan amal?

Para ulama juga berselisih tentang surga yang pernah ditempati oleh nabi Adam sebelum diturunkan ke bumi; apakah itu surga yang abadi atau surga dunia (surga yang rendah)

؛ara ulama juga berselisih tentang Nabi  صلى الله عليه وسلم melihat Rabbnya; apakah beliau melihat Nya dengan mata nya -yaitu ketika beliau hidup- atau beliau melihat Nya dengan hati?

Ulama juga berselisih tentang neraka; apakah abadi atau tidak?

Semua hal diatas termasuk permasalahan Akidah, maka tidak benar berkata bahwa tidak ada khilaf sama sekali pada permasalahan akidah, karena ada permasalahan akidah yang disikapi berdasarkan zhon (dugaan).

Baca juga:  Muqaddimah Aqidah dan Iman

Contoh lain, firman Allah dalam sebuah hadits qudsi “Barangsiapa yang mendekat kepada Ku sejengkal, niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta.” seseorang tidak memastikan bahwa kedekatan yang dimaksud dalam hadits ini adalah kedekatan fisik, karena tidak ragu lagi bahwa yang ada dalam benak seseorang adalah kedekatan maknawi.

Dan juga firman Allah (dalam hadits Qudsi) “Barangsiapa yang datang kepada Ku berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” ini juga, seseorang tidak bisa memastikan bahwa Allah berlari secara hakikat, bahkan yang terbetik dibenak seseorang adalah makna bahwa Allah mengganjar hambanya dengan cepat, dan bahwa Allah Ta’ala lebih cepat ketika memberi pahala kepada hamba Nya daripada amalan seorang hamba itu sendiri.

Oleh karena itu, para ulama Ahlus-sunnah berselisih pendapat dalam masalah ini. Bahkan jika kamu meyakini salah satu dari pendapat-pendapat ini kami tidak bisa memastikannya seperti keyakinanmu tentang turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam “Tuhan kita turun ke langit dunia.” turun disini tidak ada keraguan dalam diri seseorang bahwa maknanya turun secara hakiki. Juga seperti firman Allah Ta’ala “Dan Yang Maha Pengasih beristiwa (bersemayam) diatas ‘Arsy Nya.” Bersemayam disini juga tidak diragukan lagi bermakna semayam secara hakikat.

Kesimpulannya: bahwasanya tidak semua permasalahan Aqidah harus semuanya permasalah yang yaqin (pasti), karena perkara yaqin atau zhan (dugaan) diukur berdasarkan dalil-dalil yang saling tarik ulur, dan tarik ulurnya dalil terjadi bergantung pada pemahaman dan ilmu seseorang. Bisa jadi, dua buah dalil terlihat saling tarik ulur bagi seseorang, tapi bagi orang lainnya tidak sama sekali, karena baginya sudah jelas bahwa dalil satu memiliki sudut pandang yang berbeda dengan dalil lainnya. Maka bagi dia tidak ada permasalahan pada masalah ini bahkan dia yakin dengan masalah, adapun bagi orang pertama yang kesulitan memahami dua dalil atau lebih yang kelihatannya saling bertentangan, maka dia akan berusaha menimbang mana dalil yang paling rajih (kuat) sehingga dia menetapkan suatu hukum berdasarkan dugaan kuat, bukan yaqin (kepastian).

Oleh karena itu, tidak mungkin kita katakan bahwa seluruh permasalahan Aqidah adalah masalah yang jazm (yakin dan pasti) yang tidak ada perselisihan padanya, karena kenyataanya justru sebaliknya. Diantara masalah aqidah ada yang diperselisihkan, dan ada permasalahan aqidah yang seseorang tidak mampu memastikan, tapi ia hanya mampu memilih kesimpulan atau pendapat yang ia anggap lebih kuat dari pendapat lainnya.

Baca juga:  Benarkah Rokok Tidak Membatalkan Puasa?

Maka, pernyataan yang sering kita dengar bahwa “tidak ada perselisihan pendapat dalam masalah aqidah” tidak dimaknai secara mutlak, karena kenyataannya tidak demikian. (Lih. Syarh ‘Aqidah As-safaariniyah 1/307)

Untuk tambahan informasi, lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (19/204)  Minhajus sunnah An-nabawiyah (5/84)

Kedua: Aturan Bolehnya Berbeda Pendapat Dalam Masalah ‘Ilmiah dan ‘Amaliah

1. Suatu Permasalahan tidak memiliki dalil yang eksplisit (jelas / tidak mengandung multi tafsir) dari Quran, Sunnah maupun Ijma’

Selama suatu permasalahan tidak memiliki nash (ketegasan teks) dari Quran dan Sunnah dan ‘ijma (kesepakatan) maka permasalahan tersebut terbuka ruang untuk berijtihad didalamnya. Dan kemampuan ulama dalam hal ini tidaklah sama, ada sebagian dari mereka yang diberi oleh Allah Ta’ala kemampuan berupa kekuatan pandangan dan kemampuan menyimpulkan suatu hukum yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Dalam hal ini tidak berbeda antara masalah ‘aqidah atau masalah fiqih. Manyoritas masalah yang timbul perbedaan pendapat (khilafiyah) ini adalah masalah yang rumit (rinci) yang jarang terjadi ijma’ padanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Tiada keraguan bahwa kesalahan dari hasil ijtihad dalam masalah yang ilmiah yang rumit akan  dimaafkan bagi ummat ini sekalipun hal itu dalam masalah ilmiyah (aqidah). Karena jika tidak demikian niscaya binasalah kebanyakan ulama dari ummat ini (karena kesalahan). (Lih. Majmu’ Fatawa 20/165)

2. Suatu permasalahan memiliki dalil teks (nash) yang shohih namun dalil tersebut tidak eksplisit dalam maksud dan tujuannya (mengandung multi tafsir). Perbedaan pemahaman disini terjadi karena Allah menjadikan manusia berbeda dalam kemampuan pemahamannya.

3. Bahwa suatu masalah memiliki nash yang eksplisit (jelas) maksudnya, namun keshahihannya diperselisihkan dan memiliki dalil lain yang bertentangan dengannya.

Catatan: Khilafiyah yang dianggap adalah khilafiyah atau perbedaan pendapat yang bersumber dari ulama yang mumpuni, adapun perbedaan pendapat dari orang awam, maka perbedaan pendapat mereka tidak dihitung sebagai perbedaan yang dibolehkan.

Baca juga:  Apa Hukum Jual Beli Kucing dan Anjing dalam Islam?

Ketiga:

Diantara para ulama ada yang berpendapat bahwa pada hakikatnya tidak ada khilafiyah diantara para sahabat dalam masalah apakah Nabi melihat Allah pada malam Mi’raj.

Ibnul Qoyyim berkata: ‘Utsman bin Sa’id Ad-darimi dalam kitabnya “Ar-ru’ya” menyebutkan: adanya ijma’ para sahabat bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم tidak melihat Tuhannya pada malam ia dimi’rajkan, dan sebagian mereka mengecualikan pendapat Ibnu ‘Abbas dalam hal ini.

Dan Syaikh kami (yakni Ibnu Taimiyah) berkata: pada hakikatnya itu bukan sebuah perbedaan, karena Ibnu ‘Abbas tidak mengatakan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم  melihat Allah Ta’ala dengan kedua mata kepalanya. Hal inilah yang dipegang oleh Imam Ahmad dalam salah satu dari dua riwayat darinya, ia berkata: bahwa ia (Rasulullah صلى الله عليه وسلم) melihat Allah ‘Azza wa Jalla, tapi ia tidak berkata melihat dengan kedua mata kepalanya. Dan teks Ahmad adalah teks nya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma

Diantara yang menunjukkan kebenaran apa yang dikatakan oleh Saikh kami tentang makna hadits Abi Dzar radhiyallahu’anhu adalah sabda beliau صلى الله عليه وسلم dalam hadits yang lain dengan lafadz (hijab Nya adalah cahaya), yang dimaksud cahaya disini -wallahu’alam- adalah cahaya yang tersebut pada hadits Abu Dzar radhiyallahu’anhu  (aku melihat cahaya). (Lihat. ‘Ijtima’ Al Juyusy Al-Islamiyah 1/12)

Kesimpuan:

Bahwasanya tidak benar menyatakan  bahwa tidak ada khilafiyah yang dibolehkan secara mutlak -demikian juga sebaliknya- yang benar adalah: bahwa kebanyakan atau manyoritas masalah aqidah tidak ada perselisihan didalamnya, perselisihan terjadi hanya pada sebagian permasalahan cabang dari aqidah yang rinci dan rumit yang tidak memiliki nash padanya, atau ada nash nya tapi tidak eksplisit (jelas maksudnya).

Wallahu’alam.

 

Sumber: islamqa.info

 

Artikel lainnya:

Dimana Allah Menurut Aqidah Imam Syafii?

Minta Doa Pada Pak Imam, Bolehkah?

Siapa Yang Menciptakan Allah?

 

Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •