Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

Apa itu mukallaf dan apa syarat-syarat serta dalilnya? simak pembahasannya berikut ini.

Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

Pengertian Mukallaf

Mukallaf adalah sebuah istilah di dalam ilmu ushul fiqh yang artinya orang yang dibebani hukum atau syari’at, berupa perintah maupun larangan.

Seseorang jika sudah mukallaf maka ia menjadi subjek atas hukum taklif. Hukum taklif ada 5 perkara, yaitu: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Syarat Mukallaf

Ada beberapa syarat agar seorang mukallaf dapat dibebani hukum taklif. Berikut ini syarat-syarat seseorang agar dapat dibebani hukum taklif dan menjadi mukallaf:

Islamdalilnya adalah ijma’ (kesepakatan ulama) bahwasanya seorang kafir tidak diterima darinya amalan. Seorang kafir dituntut untuk menerima pokok agama terlebih dahulu yaitu islam, baru setelah itu ia dituntut menjalankan cabang agama berupa hukum-hukum.

Baligh: yaitu telah cukup umur, dan patokan seorang anak cukup umur menurut para ulama adalah setelah ia mengalami “mimpi basah”, atau mulai tumbuh bulu kemaluan dan bulu ketiaknya, atau telah berumur 15 tahun.

Ulama Malikiah (dari madzhab maliki) berpendapat bahwa seorang anak kecil akan mendapat pahala jika ia melakukan yang wajib, akan tetapi ia belum berdosa jika meninggalkan kewajiban tersebut. Demikian juga ia berpahala jika mengerjakan yang sunnah dan menjauhi yang haram, dan belum berdosa jika ia mengerjakannya. Demikian juga jika ia berpahala jika menjauhi yang makruh.

Baca juga:  Pengertian Ibadah Menurut Bahasa dan Istilah

Dalil mereka adalah, bahwasanya seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membawa bayi, ia lalu mengangkat bayi tersebut dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah bayi ini boleh (sah) melakasanakan haji? Beliau menjawab: “Ya, dan pahalanya untukmu.”

Berakal: Para ulama ahli ushul (fiqh) berkata “akal adalah tempatnya taklif (pembebanan hukum)”

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pena diangkat (perbuatannya tidak dicatat/diperhitungkan) dari tiga golongan orang: dari bayi sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh.”

Sampainya informasi hukum syari’at: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَّنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah tidak menghisab manusia atas hukum-hukum syari’at yang dibawa oleh Rasul, sampai informasi mengenai hukum-hukum syari’at itu sampai kepada mereka.

Ibnu katsir ketika menafsirkan ayat dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. berkata: Ini adalah pemberitahuan tentang keadilah Nya subhanahu wa ta’ala, dan bahwa Ia tidak akan mengazab seorangpun kecuali setelah tegak hujjah atasnya dengan diutusnya seorang Rasul kepadanya.(1)
Mampu: perintah itu tergantung kepada kemapuan, karena tidak berlaku sebuah perintah jika lemah, dan tidak pula berlaku larangan jika terpakasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika aku perintah kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah sejauh kemampuan kalian.”

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Baca juga:  Pengertian Taqwa, Dalilnya dan Tingkatannya

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)

Demikian ulasan ringkas tentang Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya. Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menambah ilmu dan wawasan keislaman kita, serta diberi tawfiq untuk mengamalkannya. Aamiin.

 

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/0/103690


Catatan kaki:

(1) Setelah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sudah tidak ada lagi seorang Nabi dan Rasul pun, karena beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir, dan penutup kenabian. Maka setelah beliau, suatu hujjah tegak dengan sampainya Islam dan penjelasannya melalui para ulama, pendakwah dan media apa saja.

Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •