Rahasia Tujuan Syari’at Islam (Maqashid Sy’ariah)

Rahasia Tujuan Syari’at Islam (Maqashid Sy’ariah)- Segala sesuatu ada tujuaannya, begitu juga dengan syari’at islam. Hukum-hukum syari’at dalam islam bukan sekedar peraturan yang kosong dari tujuan. Segala aturan dalam syari’at Islam memiliki tujuan agung, yang banyak orang tidak mengetahuinya.

Pada tulisan kali ini, kami akan mengupas secara ringkas mengenai rahasia tujuan syari’at Islam atau yang disebut dengan Maqashid Syari’ah (مقاصد الشريعة )

Ini adalah makalah yang ditulis oleh : Syaikh Dr. ‘Abdurrahman bin Ma’la Al-Luwaihiq  (الشيخ الدكتور عبدالرحمن بن معلا اللويحق)

Selamat membaca..

Rahasia Tujuan Syari’at Islam (Maqashid Sy’ariah)

Pengertian Maqashid Syari’ah:

Istilah Maqashid Syari’ah dapat dimaknai dengan tujuan umum yang ingin dicapai oleh syari’at di dalam kehidupan manusia. Maqashid Syari’ah juga dimaksudkan sebagai tujuan khusus yang ingin dicapai pada hukum tertentu.

Pembagian Tujuan Syari’at Islam:

Tujuan Umum: Tujuan umum diberlakukannya syri’at Islam ialah untuk merealisasikan dan menggapai manfaat (maslahat) bagi makhluk Tuhan baik baik manfaat duniawi maupun ukhrawi. Ini dicapai melalui penerapan sejumlah hukum-hukum dalam Syari’at Islam.

Tujuan Khusus: Adalah tujuan-tujuan tertentu (khusus) yang ingin dicapai dalam bidang tertentu diantar bidang-bidang kehidupan, seperti sistem ekonomi, sistem keluarga, sistem politik dst. Ini dicapai melalui penerapat hukum-hukum tertentu yang diterapkan pada setiap bidang secara terperinci.

Tingkatan Kemaslahatan Manusia

Urutan kemaslahatan manusia mulai dari yang paling penting dibagi menjadi tiga:

1. Kemaslahatan Pokok (Primer): adalah kemaslahatan yang wajib ada dan tidak dapat diabaikan oleh manusia dalam keadaan apapun, dan puncak dari kemaslahatan ini adalah kemaslahatan pokok yang lima atau yang disebut juga dengan Al-Kulliyat Al-Khams (الكليات الخمس) atau Adh-Dharuriyat Al-Khams (الضروريات الخمس) yang akan kami jelaskan kemudian.

2. Kemaslahatan Sekunder: ialah kemaslahan yang dibutuhkan manusia untuk menggapai faedah penting dalam hidup. Jika kemaslahatan sekunder ini absen maka akan terjadi gangguan dan ketidakstabilan sistem umum dalam kehidupan, tapi absennya kemaslahan sekunder ini tidak menyebabkan hilangnya sistem, hal ini dapat dilihat pada rincian hukum-hukum jual-beli, pernikahan dan seluruh hukum muamalat lainnya.

3. Kemaslahatan Dekoratif: ialah untuk menyempurnakan, mempercantik dan memperindah status manusia, sikap dan perilaku mereka. Contohnya menjaga keindahan pakaian, makanan dan semua adat-adat yang bagus dalam perilaku manusia.

Lima (5) Kemaslahatan Pokok

Agama samawi dan para cendikiawan telah sepakat bahwa hal yang sangat penting untuk kemaslahatan keadaan manusia ialah sejauh mana penjagaan mereka terhadap lima kemaslahatan pokok ini, atau yang disebut juga dengan Al-Kulliyat Al-Khams (الكليات الخمس) atau Adh-Dharuriyat Al-Khams (الضروريات الخمس) kelima hal tersebut ialah: agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Syari’at Islam datang untuk menekankan pentingnya menjaga kelima pokok tersebut. Syariat telah datang membawa hukum-hukum yang sangat cukup untuk menjaga 5 pokok kemaslahatan tersebut, baik menjaga keberadaannya, yang apabila hukum-hukum itu dilaksanakan akan menjamin wujudnya pada masyarakat, maupun dari segi keberlangsunga, pertumbuhan dan penjagaannya dari hal-hal yang bisa menyebabkannya rusak atau hilang. Hukum-hukum syari’at Islam jika diterapkan akan menjamin hal-hal tersebut.

1. Pokok Pertama: Menjaga Agama

Syari’at Islam sangat menghargai pentingnya kebutuhan agama dalam hidup manusia, dimana agama menyambut panggilan fitrah dan naluri manusia akan kebutuhan menyembah Allah (Tuhan)  yang Esa, kebutuhan spritual, dan agama membantu manusia menguatkan unsur-unsur kebaikan dan kemulian, dan mengisi manusia dengan kebahagian dan ketenangan batin.

Oleh sebab itu, agama merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, Allah Ta’ala berfirman,

 

 فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ- الروم: 30

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS. Ar-Rum: 30)

Karena itu, Henri-Louis Bergson, seorang filsuf Prancis berkata: “Aku telah menemukan -dan tetap akan ada- kelompok manusia yang tanpa sains, tanpa seni dan tanpa filsafat, tapi tidak pernah ada satu kelompokpun yang tidak memiliki agama.”

Melihat begitu pentingnya peran agama dalam hidup manusia, maka Syari’at Islam menjaga keutuhan dan kelanggengan agama, baik dalam hal penanamannya dalam jiwa manusia dan penguatannya, maupun dari sisi penopangan akarnya dan menjaganya agar tetap tumbuh dan terus langgeng, untuk itu islam membuat syari’at seperti berikut:

Sarana Syari’at Islam Dalam Memelihara Agama dari Segi Eksistensinya

Diantara cara islam menanamkan agama didalam jiwa ialah sebagai berikut:

1. Menanamkan keyakinan tentang pokok-pokok keimanan dan rukun-rukunya, yaitu: iman kepada Allah, iman kepada Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab Nya, Malaikat-Nya, hari akhir dan iman kepada Qadar yang baik maupun yang buruk, Allah Ta’ala berfirman,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” (QS. Al-Baqarah : 285)

Allah Ta’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136)

2. Menegakkan iman ini dengan argumentasi  yang logis dan dalil ilmiah, atas dasar inilah isi dakwah islam adalah mengajak manusia untuk berpikir dan  merenung, Allah Ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ يَنظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَن يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?.” (QS. Al-A’raf: 185)
Dan mengecam orang yang tidak berfikir tentang ayat-ayat (tanda-tanda keesaan Allah dan eksistensi Nya) yang bertebaran di alam semesta, Allah Ta’ala berfirman,
وَكَأَيِّن مِّنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.” (QS. Yusuf: 105)
Demikian juga Allah mengecam mereka yang membeo, mengekor kepada nenek moyang dan mengambil akidah dan keyakinan tanpa pertimbangan dan argumentasi. Allah Tala’a berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.”(QS. Yusuf: 170)

3. Menegakkan pokok-pokok ibadah dan rukun Islam, seperti sholat, zakat, puasa, dan haji setelah mengucapkan dua syahadat. Diantara rahasia dan hikmah penting dari pelaksanaan ibadah-ibadah ini ialah, ia menghubungkan antara hamba dan Tuhannya dan menguatkan hubungan itu, dan kemudian mengokohkan dan mempertajam pokok keimanan didalam jiwa.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda sebagaimana yang ia riwayatkan dari Tuhannya,

و ما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه، ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

“Tidaklah hambaku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang aku wajibkan atasnya, dan hambaku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang nawafil (sunnah) sampai Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

 بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun atas 5 perkara: (persaksian) bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, haji (bagi yamng mampu) dan puasa di bulan ramadhan” (HR. Bukhari: 8)

4. Diantara bentuk penjagaan syari’at islam terhadap agama adalah, diwajibkannya berdakwah di jalan Allah, menjaganya dan menyediakan keamanan bagi para pendakwah, Allah Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran: 104)
Dan firman Allah Ta’ala,
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 104)
Firman Nya ketika mengisahkan tentang Luqman,
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

 

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ. عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat,” (QS. Al-‘Alaq: 9, 10)
Dan firman Allah,
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)

Sarana Syari’at Islam Dalam Memelihara Agama Agar Tetap Langgeng

Ini adalah sarana-sarana yang ditempuh oleh Syari’at dalam rangka menjaga agama agar tetap bersemi setelah ia tumbuh, menjaganya dan menghilangkan penghalang-penghalang yang menghambat jalannya, dan mensucikannya didalam jiwa manusia.

Diantara sarananya ialah:

1. Menjamin kebebasan berkeyakinan dan beragama serta menjaganya. Syari’at Islam tidak memaksa seorangpun untuk memeluk Islam, dan Islam mengizinkan hidup berdampingan antar agama didalam wilayah dan negaranya. Dan islam membebaskan pemeluk agama-agama untuk memiliki keyakinan sendiri dan mejalankan ibadah mereka dan gerak gerik mereka sebagai warga negara (dengan peraturan yang telah ditetapka syari’at.)…….Bahkan diantara tujuan dilaksanakana jihad dalam islam ialah untuk menjamin keamanan kebebasan berkeyakinan dan beragama, Allah Ta’ala berfirman:

Baca juga:  Apakah Syarat Masuk Islam Harus Ada Saksi?

 

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا
“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (QS. Al-Hajj: 40)
2. Disyari’atkannya jihad untuk menstabilisasi agama, mematikan permusuhan dan menjaga akidah dan keyakinan, Allah Ta’ala berfirman,
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.” (QS. An-Nisa: 75)
3. Penekanan untuk berkomitmen terhadapa ajaran-ajaran agama, menerapkannya setelah meyakininya, sehingga agama tetap hidup di dalam hati dan membekas dalam jiwa. Oleh karena itu Allah senantiasa mendampingkan iman dengan amal sholeh pada banyak ayat Quran, semisal ayat yang berbunyi,
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh,” (QS. Al-Baqarah: 277)
4. Diberlakukannya hukuman bagi orang murtad, dengan begitu seseorang sungguh-sungguh dalam memeluk agama Islam (bukan hanya untuk coba-coba atau main-man) dan agar orang yang masuk islam setelah benar-benar yakin dengan ajarannya. Syari’at tidak memaksa siapapun untuk memeluk Islam, bahkan Allah tidak akan menerima agama seseorang kecuali yang tulus dari hati pemiliknya. Jika demikian, seharusnya jika seseorang memutuskan masuk Islam sudah benar-benar yakin dengan keputusan yang ia ambil, sehingga jika ia murtad setelah itu berarti ia telah membuat kekacauan pemikiran dan politik yang menyebabkan goncangnya situasi masyarakat, hilangnya kestabilan pemikiran dan kejiwaan. Hal ini seperti firman Allah ketika menjelaskan ajakan kaum musyrikin pada politik semacam ini,
وَقَالَت طَّائِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (QS. Ali-Imran: 72)

Dengan pertimbangan ini maka syari’at Islam menerapkan hukuman bagi murtad untuk menjaga kesungguhan dalam berkeyakinan dan penjagaan terhadap kehormatan dan kesakralan agama (dan agar agama tidak dijadikan sebagai objek coba-coba dan permainan)
5. Membangun jembatan untuk kemaslahatan sekunder dan dekoratif seperti menunaikan sholat secara berjama’ah, melaksanakan berbagai amalan-amalan sunnah (tambahan), dengan ini agama akan semakin tertanam didalam diri dan pada masyarakat untuk menggapai ketenangan dan kebaikan individu dan masyarakat.
2. Pokok Kedua: Menjaga Jiwa Raga

Diantara kemaslahatan pokok manusia ialah: penjagaan terhadap nyawa dan hak untuk hidup.

Oleh karena itu, Syari’at Islam telah menetapkan beberapa sarana untuk memastikan penjagaan terhadapa jiwa raga dan nyawa manusia.
Dari Segi Eksistensi
Islam mensyari’atkan pernikahan untuk keberlangsungan generasi manusia, memperbanyak jiwa untuk memakmurkan dunia dan membentuk bibit-bibit kehidupan generasi berikut. Islam sangat menekankan ikatan suci antara suami istri, dan terhitung sebagai salah satu dari ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah Ta’ala, Allah berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Adapun dari segi keberlangsungan dan kelanggengan hidup manusia, Syari’at Islam telah menetapkan beberapa sarana, diataranya,
1. Syari’at Islam mewajibkan manusia untuk membekali dirinya dengan sarana-sarana untuk keberlangsungan hidupnya seperti kewajiban untuk makan dan minum supaya tetap hidup, menyediakan pakaian dan tempat tinggal. Haram bagi seorang muslim berpantang dari kebutuhan pokok ini jika itu sampai mengancam nyawanya.

Bahkan Islam menjadikan pendapatan pokok ini sebagai batas minimal yang harus disediakan oleh masyarakat dalam suatu negara untuk diberikan kepada orang yang tidak mampu menyediakannya untuk dirinya sendiri (seperti orang dakir, miskin anak yatim, orang cacat dll).

Bahkan syariat Islam mewajibkan seseorang yang terancam nyawanya karena tidak mendapatkan makanan dan minuman untuk mengambil harta orang lain (yang memiliki kelebihan) untuk sekedar bertahan hidup. (Dalam hal ini juga, seseorang dibolehkan memakan yang haram seperti babi, jika ia tidak dapat menemukan makanan halal disekitarnya untuk bertahan hidup)

2. Syari’at mewajibkan kepada negara Islam menegakkan perangkat-perangkat yang menjamin tersedianya keamanan umum bagi individu, seperti hakim, polisi, dan perangkat lainnya untuk merealisasikan keamanan sosial.

3. Syari’at Islam juga mewajibkan penjagaan atas kemulian manusia dengan melarang aksi tuduh menuduh, menghina, melarang kebebasan orang lain tanpa sebab. Dengan ini Islam menjaga kebebasan berfikir, beramal, kebebasan berpendapat dan kebebasan untuk tinggal dan berpergian dan menjaminnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

 

4. Ditentukannya keringanan karena alasan kesulitan bagi jiwa yang berpotensi membahayakannya, diantaranya: keringanan untuk tidak berpuasa di bulan ramadhan karena sebab sakit atau dalam perjalanan (safar), dan keringanan meringkas (Qasar) sholat saat safar.

5. Islam mengharamkan pembunuhan, baik itu membunuh diri sendiri ataupun membunuh orang lain. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah maha mengasihi kalian.” (QS. An-Nisa: 29)

Islam juga mengecam keras orang yang melakukan kejahatan pembunuhan, dan menganggap pembunuhan satu jiwa dosanya sama seperti membunuh seluruh manusia. Allah Ta’ala berfirman,

 مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Maidah: 32)
 وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.”  (QS. Al-An’am: 151)
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)

Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda,
من قتل معاهداً لم يرح ريح الجنة
“Barangsiapa yang membunuh kafir Mu’ahad, niscaya ia tidak akan mencium wanginya surga.”
6. Diwajibkannya Qishash bagi pembunuhan yang disengaja, dan membayar diyat (uang tebusan) serta kaffarat pembunuhan yang tidak disengaja. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh” (Al-Baqarah: 178)
Firman Allah pula,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَن قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَن يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 92)

7. Diberlakukakannya Jihad untuk membela diri dan membela orang-orang yang lemah (dari penindasan para agresor) Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.  (QS. An-Nisa: 75)

8. Seorang muslim diwajibkan menolong orang yang terancam dibunuh secara zhalim, atau ia wajib menolong orang yang dalam marabahaya semampunya.

9. Sebagaimana juga seseorang disyari’atkan untuk membela dirinya jika ada orang yang ingin menyerangnya, dan ia tidak bertanggung jawab jika orang yang menyerangnya mati terbunuh oleh korban penyerangan karena bela diri, dengan syarat bahwa penyerang terbukti ingin menyerang korban.

2. Pokok Ketiga: Menjaga Akal

Akal dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting, karena tanggung jawab adalah tergantung pada fungsi akal seseorang, dan kemulian manusia ada pada akalnya yang membedakan mereka dengan makhluk lain. Karena akal pula manusia  dijadikan khalifah di muka bumi dan membawa beban amanah dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72)

Oleh sebab itu, Syari’at Islam datang untuk menjaga akal dan mengatur peraturan-peraturan yang menjamin keselamatan akal dan fungsinya, diantara peraturan-peraturan itu adalah:
1. Syari’at mengharamkan segala sesatu yang berpengaruh buruk pada akal, mencederai fungsinya, atau mengurangi kemampuannya dalam berfikir seperti minuman keras (khamr), ganja (narkoba) dan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

2. Demikian juga syari’at menetapkan hukuman berat bagi orang yang menggunakan obat terlarang maupun minuman keras, karena begitu bahaya dan dampak buruknya bagi individu dan masyarakat.
3. Islam melatih akal agar independen dalam memahami dan merenung, mengikuti pertunjuk dalil dan membuang jauh-jauh membebek (taqlid buta) yang tidak memiliki dasar hujjah, sebagaimana firman Allah,
أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ
“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: “Unjukkanlah hujjahmu! ” (QS. Al-Anbiya : 24)
Firman Nya,
وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu’minūn: 117)

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”  (QS. Al-Baqarah: 111)

Baca juga:  Hukum Taklifi: Pengetian, Pembagian dan Penjelasannya

4. Sebagaimana Islam juga menyeru kepada pertumbuhan akal secara fisik maupun maknawi: yaitu dengan nutrisi yang baik yang menyehatkan badan dan mengaktifkan akal pikiran. Oleh karena itu, seorang hakim tidak dianjurkan untuk memutuskan perkara disaat ia lapar (karena hal itu akan berpengaruh pada pikirannya sehingga dikhawatirkan ia memutuskan dalam keadaan pikiran tidak jernih) demikian juga diutamakan untuk mendahulukan makan ketika sudah dihidangkan daripada sholat (sehingga sholatnya lebih khuyu’)

Adapun dukungan islam untuk pertumbuhan akal secara maknawi: yaitu dengan penekanan untuk mencari ilmu, dan memasukkannya kedalam asas iman, Allah berfirman,

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”  (QS. Faathir: 28)
 وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. Thaha : 114)
Sebagaimana juga Islam memberi kesempatan kepada semua orang untuk menuntut ilmu, dan menjadikannya sebagai kewajiban bersama sebagai sebuah masyarakat, bahkan Islam mewajibkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk menuntut ilmu minimal  untuk pengetahuan pokok mereka.
5. Syari’at Islam mengangkat martabat akal dan memuliakan akal dalam banyak ayat Quran, diantaranya firman Allat Ta’ala:
فَبَشِّرْ عِبَادِ. الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-zumr : 17, 18)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali-Imran : 190)

 قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumr : 9)

 

6. Memerdekakan akal dari cengkraman khurafat  dan membebaskannya dari belenggu ilusi dan fantasi. Oleh karenanya Islam mengharamkan sihir, nujum, perdukunan dan bentuk-bentuk penipuan dan khurafat lainnya. Demikian juga Syari’at Islam melarang membahas masalah ghaib tanpa dalil atau ilmu yang datang dari wahyu yang diturunkan kepada para Nabi, dan menganggap pembahasan masalah ghaib tanpa dalil termasuk pemborosan energi tanpa faedah, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56)

 

7. Islam melatih akal untuk menggunakan dalil yang membuahkan hasil, mencari dan mengenal kebenaran dengannya. Hal ini dilakukan dengan dua hal:

Pertama: Islam menjelaskan cara yang benar dalam pertimbangan akal yang dapat menghasilkan keyakinan. Dari sini, Islam mengajak manusia untuk melakukan verifikasi dan konfirmasi ulang sebelum meyakini sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra : 36)

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 15)

 

Kedua: Islam mengajak manusia untuk memikirkan tentang hukum alam semesta dan menyelidikinya, mengamati ketelitian dan keharmonisannya, dan ajakan untuk menggunakan daya membaca, menyaring dan menyelidiki informasi untuk mencapai pada keyakinan.

8. Islam memerintahkan pengerahan segala kemampuan akal untuk mengekstrak hukum syari’at dan menggali rahasia-rahasianya.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)

9. Sebagaimana, Islam juga mengarahkan manusia untuk mengerahkan segala kemampuan materil mereka untuk mengelola alam dan mengambil manfaat darinya untuk membangun peradaban yang maju. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”  (QS. Al-Mulk: 15)

10. Dalam rangka meningkatkan dan mengasah ketajaman berfikir, syari’at Islam juga membuka peluang ijtihad untuk menggali hukum syari’at yang tidak ada nash nya, hal ini memalui 2 hal:

Pertama: mencari tahu tujuan dan maksud dari nash-nash dan hukum-hukum syari’at.

Kedua: Menggali hukum-hukum syari’at pada permasalahan-permasalahan yang baru yang kontemporer, dan ini bidang ilmu yang sangat luas yang bergantung pada dasar-dasar yang beragam, seperti Qiyas, mashlahah, istihsan dan lainnya.

4. Pokok Keempat: Menjaga Keturunan

Menjaga keturunan yaitu menjaga agar manusia terus ada di muka bumi dengan cara pernikahan, hal itu karena Islam bertujuan untuk melanggengkan perjalanan manusia dimuka bumi sampai Allah mengizinkan kehancuran alam semesta dan bumi diwariskan oleh siapa yang Ia kehendaki.

Untuk merealisasikan tujuan ini, Islam mensyari’atkan prinsip-prinsip seperti berikut:

1. Syari’at pernikahan: Islam telah mensyari’atkan pernikahan dan memotivasi untuk itu. Islam melihat pernikahan sebagai jalan fitrah dan naluri manusia yang bersih yang mempertemukan antar pria dan wanita bukan semata karena dorongan hawa nafsu, melainkan juga untuk mencapai tujuan yang mulia yaitu menjaga kelangsungan generasi manusia di muka bumi, mendapatkan generasi yang sholeh yang kelak bisa memakmurkan alam dan membangun kehidupan yang berprikemanusiaan yang dapat menerima beban khalifah di bumi dan kemudian menyerahkannya kembali ke genarasi berikutnya sehingga kontribusi manusia terus berlangsung, dan gemilangnya peradaban manusia yang berdasarkan prinsip-prinsip mulia.

2. Kepedualian terhadap pendidikan anak dan mempererat hubungan kasih sayang: Islam mewajibkan kedua orang tua untuk merawat anak-anak mereka dan memberi nafkah mereka, sampai anak-anak mandiri dan bisa mencari nafkah sendiri.

3. Peduli terhadap keluarga dan membangun keluarga berdasarkan dasar dan prinsip yang baik dan benar. Karena keluarga merupakan benteng yang menjadi markas pendidikan untuk mempersiapkan generasi masa depan. Islam menjadikan hubungan pernikahan atas dasar kebebasan memilih dan kerelaan diantara kedua belah pihak, juga menganjurkan musyawarah dan bersepakat dalam menghadapi semua permasalahan, sehingga tercipta spirit kasih sayang dan saling mengerti, dan setiap pasangan dapat membantu membahagiakan pasangannya satu sama lain. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

4. Dalam rangka menjaga keturunan pula, Syari’at Islam membuat aturan, prinsip, adab dan akhlak hubungan antara laki-laki dan perempuan, dimana peraturan ini menjamin tercapainya tujuan mulia dalam dalam hubungan, menghindari praktek “ngawur” dalam hubungan dua lawan jenis. Misalnya dalam peraturan menundukkan (menjaga) pandangan antara laki-laki dan perempuan, dan sebaliknya, dapat memutuskan sarana-sarana yang membangkitkan syahwat dan hawa nafsu. Dengan peraturan tentang pakaian yang harus menutup aurat dengan kriteria-kriteria tertentu, syari’at islam telah memerangi sebab-sebab yang bisa menimbulkan fitnah.

Misalnya pula, dalam hal yang tidak darurat, Islam mengharamkan menyendiri antar laki dan wanita yang bukan mahram walaupun keduanya memakai pakaian syar’i, kecuali jika diantara mereka ada mahram dari pihak wanita. Demikina juga rumah di dalam islam memiliki kehormatan tersendiri yang tidak boleh dimasuki tanpa izin dari pemiliknya dan mengucapkan salam ketika ingin masuk. Allah Ta’a berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. An-Nur: 27)

Disamping adab-adab diatas dan adab lainnya, Syari’at Islam juga membuat aturan yang mengatur keadaan-keadaan yang membolehkan pertemuan antar laki-laki dan wanita yang bukan mahram ketika ada kebutuhan.

5. Islam mengharamkan pelanggaran terhadap harga diri, oleh karena itu diharamkan zina dan juga menuduh perempuan baik-baik berzina, dan mentukan hukuman keras bagi pelaku yang membuat mereka dan selain mereka jera dan takut untuk melakukan hal serupa. Firman Allah Ta’ala,

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah,” (QS. An-Nur: 2)

 

Mengenai hukuman orang yang menuduh wanita baik-baik berzina dan tidak membawa bukti, Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 2)

4. Pokok Kelima: Menjaga Harta

Islam adalah agama yang realistis yang tidak mengabaikan fitrah manusia, salah satunya ialah kecintaan manusia pada harta dan materi. Oleh karena itu islam membebaskan manusia mencari dan mengkonsumsi harta tapi dengan batasan-batasan yang masuk akal. Demikian juga, mencari harta harus dengan cara-cara yang baik dan beradab sehingga hasilnya pun jadi baik dan tidak justru berakibat buruk.

Baca juga:  Pengertian dan Arti Dinul Islam

Demikian juga kecintaan manusia untuk memiliki, Islam membolehkan kepemilikan individu, dan disaat yang bersamaan Islam mengatur kepemilikan ini sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kesewenang-wenangan yang dapat ketidak stabilan sosial dan perputaran harta hanya diantara sekelompok kecil masyarakat. Diantara sistem yang diatur oleh islam dalam hal ini ialah sistem zakat, pembagian warisan dan jaminan sosial, dengan demikian Islam menjadikan harta sebagai salah satu pokok kehidupan manusia.

Dalam hal ini Syari’at Islam membuat aturan dan petunjuk yang memotivasi untuk mencari harta, menjamin pemeliharaan dan pertumbuhannya, diataranya ialah seperti berikut:

Sarana untuk Menjaga Pencarian dan Penghasilan Harta:

1. Anjuran untuk berusaha mencari rezeki dan penghidupan, Syari’at Islam mendorong  pemeluknya untuk mencari harta karena harta merupakan penopang kehidupan manusia, dan islam menjadian usaha seseorang mencari harta -atas dasar niat yang benar dan cara yang boleh dan halal- termasuk bagian dari ibadah dan diantara cara mendekatkan diri kepada Allah, Allah ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”  (QS. Al-Mulk: 15)

Dan firman Nya,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah”  (QS. Al-Mulk: 15)

2. Islam menghargai pekerjaan dan para pekerja, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

ما أكل أحد طعاما قط خيرا من عمل يده، وإن نبي الله داود كان يأكل من عمل يده

“Tidaklah seseorang memakan sesuatu yang lebih baik dari apa yang ia dapat dari hasil usaha tangannya, adalah dahulu Nabiyullah Dawud memakan makanan dari hasil tangannya.” (HR. Bukhari)

Syari’at Islam menetapkan hak untuk bekerja bagi setiap manusia, dan mewajibkan bagi negara untuk menyediakan pekerjaan bagi orang kesulitan mencari kerja, demikian juga Islam menghargai para perkerja dan mewajibkan untuk memenuhi hak-hak materil dan materil para pekerja dengan baik. Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam  bersabda,

 “‏ أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ ‏”‏ ‏

“Berilah pekerja upahnya sebelum keringatnya kering” (HR. Ibnu Majah, Shohih)

 

 عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏ “‏ قال الله تعالى‏:‏ ثلاثة أنا خصمهم يوم القيامة ‏:‏ رجل أعطى بي ثم غدر، ورجل باع حرًا فأكل ثمنه، ورجل استأجر أجيرًا، فاستوفى منه، ولم يعطه أجره‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

Dalam sebuah hadits Qudasi, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam  bersabda, “ Allah Ta’ala berfirman: “Tiga golongan yang Aku akan menjadi lawannya kelak di hari kiamat: seseorang yang membuat perjanjian atas nama Ku, kemudian ia berkhianat, seseorang yang menjual orang merdeka untuk diperbudak lalu memakan hasilnya, dan seseorang yang menyewa pekerja, ia meminta agar haknya dipenuhi, dan ia tidak memenuhi haknya.” (HR. Bukhari)

Syari’at juga menetapkan gaji pekerja harus bisa menutupi kebutuhan dasarnya, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam   bersabda,

من ولي لنا عملا و ليس له منزل فليتخذ منزلا، أو ليست له زوجة، فليتخذ زوجة أو ليس له مركب فليتخذ مركبا

“Barangsiapa bekerja untuk kami sedangkan ia tidak memiliki tempat tinggal maka hendaklah ia (mengambil gajinya) untuk mendapatkan tempat tinggal, atau ia belum punya istri hendaklah ia (mengambil gajinya) untuk mendapatkan istri (dengan menikah) atau ia belum punya kendaraan hendaklah ia (mengambil gajinya) untuk mendapatkan kendaraan.” (HR. Ahmad)

Kandungan hadits inillah yang di zaman sekarang diistilahkan dengan minimum wage atau upah minimum

2. Dibolehkannya transaksi yang adil yang tidak ada unsur zhalim didalamnya, dan tidak pula ada unsur penyalahgunaan terhadap hak-hak orang lain. Karena itu, Syari’at Islam membolehkan berbagai macam jenis akad transaksi yang sudah ada, tapi Islam membersihkannya dari unsur-unsur kezhaliman, seperti akad jual beli, sewa menyewa, gadai, kerjasama dan lainnya. Islam juga membuka peluang penemuan transaksi baru melalui pengalaman dengan syarat tidak ada unsur zhalim dan penipuan dari semua belah pihak, atau yang termasuk kategori memakan harta orang lain dengan cara batil.

 

Dalam rangka untuk menjaga harta agar terus langgeng, Syari’at juga mengatur sarana seperti berikut:

1. Mengatur transaksi keuangan agar sesuai kemaslahatan umum, karena itu Syari’at Islam mengharamkan mencari uang dengan cara-cara yang tidak syar’i yang merugikan orang lain, diantaranya transaksi riba, karena transaksi riba berpengaruh buruk terhadap stabilitas keuangan sosial. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”  (QS. Al-Baqarah: 275)
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ 

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah: 188)

 

2. Demikian juga Islam mengharamkan penyalahgunaan uang orang lain seperti pencurian, perampokan, kecurangan, dan menghukum orang yang melakukan itu semua, seperti firman Allah Ta’ala,

 

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38)

 

Dan mewajibkan ganti rugi dan jaminan untuk orang yang merusak atau menghilangkan harta orang lain, Rasulullah bersabda,

كل المسلم على المسلم حرام دمه و ماله وعرضه

“Setiap muslim atas muslim lainnya (memiliki hak yang) haram (dilanggar, yaitu) jiwanya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

3. Larangan membelanjakan harta dengan cara yang tidak sesuai Syari’at, dan anjuran untuk membelanjakannya untuk jalan kebaikan. Ini berangkan dari suatu kaidah diantara kaidah-kaidah sistem keuangan Islam, yaitu: bahwa harta pada dasarnya adalah milik Allah Ta’ala, dan harta pada manusia pada dasarnya adalah titipan dan amanah, Allah Ta’la berfirman:

وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.”  (QS. Al-Hadid: 7)

وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” (QS. An-Nur: 33)
Karena itu, seseorang wajib membelanjakan hartanya dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Syari’at Islam, ia tidak boleh terfitnah oleh harta dan melampai batas karenanya, karena itu adalah agen kerusakan dan kehancuran, Firman Allah Ta’ala,
وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”(QS. Al-Isra: 16)

Dan seseorang tidak boleh bembuang-buang hartanya tanpa faedah, firman Allah Ta’ala,

 وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al-Isra: 16)
4. Syari’at mengatur perwalian untuk menjaga harta mereka yang memiliki keterbatasan dan yang tidak mampu mengelola harta dengan baik, seperti anak yatim, bayi sampai mereka mencapai usia dewasa dan mampu mengelola harta sendiri, karena itu islam mengatur wali baginya, Allah berfirman,
وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” (QS. An-Nisa: 6)

Firman Nya pula,
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ

Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah yang terbaik,” (QS. Al-Baqarah: 220)

Demikian juga diatur dalam syari’at untuk menahan harta orang dewasa (oleh walinya) jika mengelola hartanya dengan buruk, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS. An-Nisa: 5)

5. Pengaturan sistem transaksi bisnis atas dasar kerelaan dan keadilan, karena itu Islam menetapkan bahwa akan belum selesai kecuali setelah semua pihak yang bertransaksi rela satu sama lain dan transaksinya adil, sebab itu juga Islam menghalalkan perjudian, firman Allah Ta’ala:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.”  (QS. An-Nisa: 29)

6. Ajakan untuk menginvestasikan uang atau harta dan memanfaatkannya agar harta bisa menjalankan fungsi sosialnya, atas dasar itu Islam mengharamkan menahan harta dan tidak memutarnya untuk roda bisnis, dan juga memerangi penimbunan, Allah Ta’ala berfirman,

 وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,”(QS. At-Taubah: 34)

Dengan peraturan-peraturan syari’at ini, Islam telah menjaga harta dari kerusakan, sehingga harta bisa memainkan perannya sebagai nilai yang tidak dapat dipisahkan perannya dalam menjaga sistem kehidupan manusia, merealisasikan dalam membangun peradaban manusia.
Peran harta dalam hal ini seperti halnya peran maslahat-masalahat pokok lainnya yang merupakan asas bagi wujud manusia, penopang hidup, dan sebagai pusat peradaban manusia yang jika tidak diatur dan dijaga sistemnya, akan terjadi kehancuran dunia, dan kehidupan manusia menjadi mustahil serta kontribusi dan pertumbuhannya akan berhenti.
Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •