Hosting Unlimited Indonesia

Ikut Adat dan Budaya atau Agama Islam (Budaya vs. Agama)?

  • admin 
Ikut Adat dan Budaya atau Agama Islam (Budaya vs. Agama)

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar pihak-pihak tertentu berusaha membenturkan antara adat dan budaya dengan agama islam, terutama pada musim kampanye politik dimana pendukung partai sekuler mencoba menyerang pendukung partai yang berafiliasi kepada islam.

Sebenarnya bagaimana islam memandang adat dan budaya? Apakah benar islam menjadi musuh adat dan budaya?

Pada artikel ini, kami akan mencoba menjelaskan pertanyaan diatas sebisa mungkin. Namun, sebelum kita menjawabnya, terlebih dahulu penting untuk diketahui bagaimana konsep islam dan konsep adat dan budaya dilihat dari sisi eksistensinya dalam sejarah, sehingga kita dapat menilai permasalahan ini dengan konteks dan gambaran yang lebih besar.

Agama Islam

Ketika Allah memerintahkan Adam turun ke bumi untuk menjadi khalifah (pengurus, pengelola, pemimpin bumi), Allah juga membekalinya dengan ajaran atau agama sebagai pedoman baginya dan anak cucunya tentang bagaimana seharusnya manusia berlaku di muka bumi. Pedoman tentang keyakinan kepada Allah, Pencipta semesta alam dan segala isinya. Pedoman tentang hukum, apa yang tidak boleh dan tidak boleh dilakukan. Dan pedoman tentang akhlak dan penyucian jiwa.

Pedoman itu adalah agama Islam. Islam adalah agama dan jalan hidup satu-satunya yang benar disisi Allah yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul semenjak Adam sampai Muhammad, ‘alaihimussalam. Islam bukan hanya menjadi nama dari agama Allah, tapi islam secara harfiah memiliki arti penyerahan diri, taat, dan tunduk kepada Allah ta’ala. Nama ini dipilih karena memiliki makna yang mewakili seluruh ajaran Allah subhanahu wa ta’ala, karena iman kepada Allah berkonsekwensi islam (tunduk dan patuh) pada Nya, demikian juga mengikuti hukum Allah berkonsekwensi islam (patuh dan taat) pada hukum Allah tersebut.

Mungkin Anda bertanya, bukankah islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam? Bagaimana bisa Nabi Adam dan Nabi-nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad  shallallahu’alaihi wa sallam juga membawa Islam?

Tidak benar bahwa islam adalah agama khusus yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam saja yang berbeda dari agama yang diajarkan oleh Nabi-nabi sebelum beliau. Islam adalah agama Allah, Tuhan semesta alam yang baku dan tetap dan tidak berubah semenjak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad ‘alaihimussalam. Hanya saja Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam  datang dengan syari’at atau hukum yang sedikit berbeda dengan syari’at sebelumnya, akan tetapi prinsip-prinsip islam, seperti tauhid, tidaklah berbeda sedikitpun dari ajaran Nabi-nabi sebelumnya.

Prinsip-prinsip Islam yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul sepanjang masa tidak berubah, yang mungkin berubah adalah syari’at, fiqih atau hukum menyesuaikan zaman dan kondisi suatu masyarakat. Adapun prinsip-prinsip islam yang tidak berubah seperti, kewajiban beriman dan menyembah Allah semata dan larangan menyekutukan Nya dengan suatu apapun, kewajiban Ta’at kepada Allah dan Rasul Nya, iman kepada Malaikat, larangan membunuh, larangan durhaka pada orang tua, dan prinsip-prinsip lainnya. Prinsip-prinsip ini adalah Islam yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul, mulai dari Adam, Nuh, Hud, Sholeh, Ibrahim, Isma’il, Ismai’il, Ishaq, Ya’qub sampai dengan Musa, Isa dan Nabi terakhir Muhammad, ‘alaihimussholatu wassalam. Semua dari mereka membawa pesan, prinsip dan agama yang sama, islam.

Inilah mengapa jalan hidup, agama dan keyakinan yang diterima disisi Allah hanyalah Islam, sebagaimana firman Nya:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

Juga firman Allah ta’ala:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ”. رواه مسلم

“Demi Dia yang jiwa Muhammad pada tangan Nya, tidaklah seorangpun mendengar tentang aku (dan risalah yang aku bawa) dari ummat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk dari penduduk Neraka.” (HR. Muslim, dari sahabat Abu Hurairah)

Oleh karena agama Allah, Islam itu tetap dan baku, maka setiap kali manusia mulai melenceng dari Islam dan mulai menyekutukan Tuhan dengan menyembah selain Allah, maka Allah mengutus Nabi dan Rasul Nya pada setiap zaman,  untuk mengajak kembali manusia kepada Islam, mengajak kembali mereka kepada fitrah manusia yaitu untuk tidak menyembah selain Tuhan pencipta mereka, Allah.

Adat dan Budaya

Budaya dan adat istiadat adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan di dalam masyarakat yang sudah sukar diubah. Adat dan budaya mengalami perubahan dan perkembangan pada setiap zaman dan waktu, tidak ada adat budaya yang abadi.

Budaya dapat berubah seiring waktu. Bahkan faktanya, salah satu aspek budaya yang sangat dapat ditebak adalah keadaannya yang selalu berubah secara terus menerus. Hubungan antara apa yang diajarkan dan apa yang dipahami tidaklah mutlak. Oleh karena itu, sebagian apa yang telah diajarkan bisa hilang, sementara penafsiran baru dari budaya secara konstan dibuat. (sumber)

Adat dan budaya pada masyarakat tertentu yang ada saat ini, adalah adat dan budaya nenek moyang di masa lampau yang diketahui sejarahnya, adapun masa-masa sebelumnya, kita tidak mengetahui seperti apa adat mereka. Poinnya adalah, bahwa suatu adat maupun budaya adalah produk perubahan zaman yang sifatnya terus berubah menyesuaikan zamannya. Namun, ada kalanya budaya tertentu lebih lama bertahan dari budaya yang lain, tapi ia lambat laun akan tetap mengalami perubahan.

Pandangan Islam tentang Budaya

Anda pasti setuju bahwa sesuatu yang prinsip harus didahulukan dari sesuatu yang tidak prinsip, sesuatu yang tetap dan baku harus dikedepankan dan diprioritaskan dari sesuatu yang sifatnya berubah-ubah.

Demikian pula dengan agama islam dan budaya. Islam adalah prinsip yang baku dan tidak berubah, ia tetap sepanjang masa dan zaman dan selalu dijaga oleh Allah setiap kali manusia mulai melenceng darinya. Sedangkan budaya adalah produk yang secara konstan mengalami perubahan. Maka dari sisi ini, islam harus didahulukan oleh manusia, terlebih oleh mereka yang mengaku muslim.

Bagaimana Islam Menyikapi Budaya dan Adat Istiadat?

Untungnya, islam bukanlah agama yang kaku dalam artian tidak menerima perbedaan sama sekali. Hal ini tercermin dari hukum-hukumnya yang fleksibel, namun tanpa mengorbankan prinsip.

Adat dan Budaya Dapat Menjadi Sumber Hukum dalam Islam

Adat dan budaya dalam islam dapat diterima bahkan dapat menjadi patokan hukum, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, atau sesuatu yang diharamkan dan dilarang dalam Islam.

Ada suatu kaidah dalam fiqih islam yang populer berbunyi:

العادة محكَّمة

Artinya: “Adat (budaya) dapat menjadi hukum”

Adat dan budaya dapat menjadi hujjah dan hukum selama tidak menyelisihi dalil syari’at, atau tidak menyelisihi syarat yang dibuat oleh dua belah pihak yang betransaksi.

Banyak contoh bagaimana adat  dan budaya setempat dapat menjadi hukum syariat. Misalnya, dalam Islam seseorang bebas menggunakan bentuk pakaian menurut adat dan budayanya, selama pakaian tersebut menutup aurat, tidak transparan dan tidak sempit sehingga kelihatan lekukan tubuh secara jelas, dan juga tidak meniru pakaian yang menjadi ciri khusus agama lain.

Contoh lainnya, seperti: Jika seseorang meminjam mobil dari temannya, maka ia tidak boleh membawa mobil tersebut ke luar kota, jika adat setempat menganggap hal tersebut tidak patut, kecuali jika orang yang meminjamkan (pemilik mobil) memberi izin. Maka dalam hal ini, adat yang berlaku menjadi hukum seperti syarat dalam pinjam meminjam.

Adat dan Budaya yang Bertentangan dengan Islam

Di sisi lain, islam tidak dapat menerima jika adat dan budaya tertentu bertentangan dengan prinsip-prinsip, akhlak dan moral islami. Karena, sebagaimana yang telah dijelaskan, islam adalah patokan dan prinsip yang bersumber dari Allah ta’ala, sedangkan adat adalah buah pemikiran manusia yang berubah setiap zaman menyesuaikan kebutuhan mereka. Maka perintah agama islam dalam hal ini wajib didahulukan dari pada adat, terlebih jika adatnya secara jelas menentang syari’at.

Contohnya adat atau budaya yang mengandung unsur-unsur syirik, seperti penyembahan kepada pohon atau memberikan sesajen kepada patung, pohon, laut dsb. Maka islam sangat menentang perbuatan ini walaupun dibungkus dengan nama adat dan budaya, karena perbuatan syirik sangat terlarang di dalam islam, bahkan syirik adalah dosa yang paling besar dimana pelakunya kekal di Neraka selama-lamanya jika ia belum sempat bertaubat sebelum meninggal.

 

Referensi:

https://www.alukah.net/sharia/0/87835/

https://www.alukah.net/sharia/0/99224/