Hosting Unlimited Indonesia

Apa itu Firasat dan Perbedaannya dengan Dugaan?

  • admin 
pengertian firasat dan perbedaannya dengan dugaan

Firasat (الفِرَاسَةُ)  adalah kemampuan mengetahui sesuatu yang tersembunyi dari gelagat dan tanda-tanda yang tampak. Dalam sebuah haditsnya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إن لله عباداً يعرفون الناس بالتوسم .  رواه الطبراني في الأوسط  3 / 207 ، وابن جرير الطبري في  التفسير  14 / 46

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba  yang mengetahui keadaan manusia dengan tawassum (firasat) mereka.” (HR. At thabrani dan Ibnu Jarir Ath thabari, hadits ini dihasankan oleh Al-Albani)

Dalam sebuah hadits yang statusnya sangat lemah disebutkan:

اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله

“Hati-hatilah kalian dengan firasat orang beriman, karena ia memandang dengan cahaya Allah.” (HR. At-Tirmidzi: 3127 dan selainnya. Ibnul Jauzi menilai hadits ini maudhu’ (palsu), sedangkan Syaikh Al-Albani menilai hadits ini dha’if (lemah) pendapat yang lebih tepat adalah bahwa hadits ini sangat lemah)

Adapun  zhan (الظن) atau sangkaan (dugaan) adalah keyakinan yang disertai keraguan terhadap suatu perkara atau kejadian.

Beda Firasat dengan Dugaan

Secara sekilas, firasat mirip dengan sangkaan, hanya saja firasat adalah kebenaran, sedangkan sangkaan mungkin benar dan mungkin tidak. Dan firasat dimiliki oleh orang shalih dan beriman, sedangkan dugaan bisa datang dari siapa saja.

Ibnul Qayyim rahimaullah berkata:

“Perbedaan antara firasat dan sangkaan adalah, bahwa sangkaan atau dugaan bisa benar dan bisa salah, ia tergantung kepada gelap atau terangnya hati, dan tergantung pada suci atau najisnya hati. Oleh karena itu Allah Ta’ala perintahkan kita agar menjauhi sebagian besar persangkaan dan memberi tahu kita bahwa sebagian persangkaan adalah dosa.

Adapun firasat, Allah memuji dan menyanjung pemiliknya, sebagaimana dalam firman Nya:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِينَ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (mutawassimin).” (QS. Al-Hijr: 75)

Ibnu Abbas radhiyallallahu’anu dan selainnya menafsirkan (mutawassimin dalam ayat diatas) yaitu: orang-orang yang memiliki firasat (mutafarrisin)

Maka, firasat yang benar adalah milik hati yang telah bersih, suci dan tersaring dari segala kotoran dan dosa, dan ia telah dekat kepada Allah, sehingga ia memandang dengan cahaya Allah yang Dia letakkan pada hatinya… Sehingga ketika hati telah dipenuhi dengan cahaya (Allah) maka ia akan menjalar pada seluruh anggota badan, dan berangkat dari hati menuju mata, maka ia melihat dengan pandangan matanya tergantung kepada cahaya itu.

Dan diantara orang yang bagus dan tidak salah firasatnya adalah Syah Al Kirmani, ia pernah berkata: “Siapa yang menundukkan dan menjaga pandangannya dari segala yang diharamkan, menahan dirinya dari syahwat, memakmurkan batinnya dengan terus menerus merasa diawasi oleh Allah dan zahirnya dengan mengikuti sunnah dan membiasakan diri hanya memakan yang halal saja, maka firasatnya tidak akan meleset.”

(Kitab Ar-ruh, Ibnul Qayyim, hal. 238-239)

Cara Mendapatkan Firasat

Firasat yang benar dan tepat adalah anugrah Allah kepada hambanya yang sholeh. Ia adalah buah dan hasil dari iman dan amal sholeh, dan usaha terus menerus untuk membersihkan hati dari segala kotoran dan dosa.

Firasat tidak akan didapat oleh ahli maksiat dan berhati kotor, karena firasat adalah pandangan yang bersumber dari cahaya Allah dan cahaya Allah tidak akan masuk kepada hati yang kotor dan penuh dosa.

 

Referensi:

https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/%D9%81%D8%B1%D8%A7%D8%B3%D8%A9/

https://www.saaid.net/Doat/ehsan/97.htm

https://ar.islamway.net/fatwa/22891/%D8%AD%D9%88%D9%84-%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D8%A7%D8%AA%D9%82%D9%88%D8%A7-%D9%81%D8%B1%D8%A7%D8%B3%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%85%D9%86