Hosting Unlimited Indonesia

Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami?

  • admin 
Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami

Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami? – Saat ini tengah ramai berita masuk islamnya (menjadi muallaf) seorang presenter terkenal di negara kita yaitu Deddy Corbuzer. Salah satu hal yang menjadi sorotan banyak orang adalah apakah Deddy Corbuzer harus mengganti namanya menjadi lebih Islam? Untuk itu, kami tertarik untuk sedikit membahas hal tersebut dari sudut pandang fiqh Islami. Selamat membaca.

Apakah Mualaf Harus Ganti Nama Islami?

Tidak diragukan bahwa nama sangat penting bagi seseorang, karena nama marupakan bentuk dari doa, harapan dan optimisme. Oleh karena itu, nama itu harus mengandung arti dan makna yang baik, karena nama akan berpengaruh baik maupun buruk pada pemiliknya.

Dalam hal penamaan, islam tidak mewajibkan harus menamai seseorang dengan nama tertentu. Tapi, dalam hal memberi nama Islam hanya memberikan aturan umum yang harus disesuaikan. Aturan umum tersebut ialah:

  1. Sebuah nama tidak boleh mengandung makna yang buruk
  2. Sebuah nama tidak boleh menyelisihi aqidah dan syari’at Islam

Namun demikian, Islam memiliki nama-nama yang baik yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam hadits-hadits beliau, seperti nama Abdullah (hamba Allah) Abdurrahman (hamba Allah yang maha penyayang) dan lainnya. Tapi, ini bersifat anjuran, tidak wajib.

Oleh karena itu, selama sebuah nama tidak menyelisihi hal diatas, maka seseorang bebas memberi nama apa saja, dan nama tersebut tidak harus dalam bahasa arab. Karena Islam datang bukan hanya kepada bangsa Arab, namun Islam datang untuk seluruh alam, Islam itu rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

 

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

 

Baca juga:  Apakah Syarat Masuk Islam Harus Ada Saksi?

Maka, tidak menjadi syarat bagi seseorang yang baru masuk islam (muallaf) untuk menukar namanya menjadi nama Arab, selama nama tersebut tidak mengandung makna kejelekan dan menyelisihi syari’at.

 

Pada masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan Sahabat telah banyak orang non arab dari kalangan Persia dan Romawi yang masuk Islam, nama mereka tetap berlaku dan tidak diganti oleh beliau. Bahkan banyak dari para Nabi dan Rasul ‘alihimussalam yang memiliki nama ‘ajam (non arab).

 

Demikian juga Nabi shallallahu’alaihiwasallam ketika para sahabatnya masuk Islam, nama-nama mereka tidak diganti kecuali beberapa nama sahabat yang beliau ganti karena nama mereka mengandung makna buruk, pesimisme, atau nama yang melanggar akidah dan syari’at Islam.

 

Ada banyak hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dimana beliau memerintahkan untuk mengganti nama sebagian sahabat beliau menjadi nama yang lebih baik. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu’anhu dalam kitab Shahih Muslim bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam  mengubah nama seseorang yang bernama ‘Aashiyah (عاصيةyang bermakna wanita pembangkang menjadi Jamiilah yang berarti wanita cantik atau baik.

 

Dari Ibnul Musayyib dari ayahnya, bahwasanya bapaknya datang kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, kemudian beliau bertanya: siapa namamu?  ia menjawab: namaku adalah Hazn (sulit), beliau menjawab: (tidak tapi) nama kamu adalah Sahl (mudah). Ia menjawab: Tidak, aku tidak akan merubah sebuah nama yang diberikan oleh bapakku. Ibnul Musayyib (perawi yang sekaligus anaknya) berkata: Maka kesulitan masih senantiasa ada pada keluarga kami sampai sekarang. (HR. Bukhari)

 

Sebagian nama diganti oleh Nabi sendiri karena mengandung makna yang buruk. Abu Dawud berkata: Dan Rasulullah – shallallahu’alaihiwasallam – telah mengganti nama Al-‘Ash (pembangkang), ‘Aziz, ‘Utlah, Syithan, Al-Hakam, Ghuraab (burung gagak),  Syihab, Habbab. Beliau memberinya nama Hasyim, dan mengganti nama Harb (perang) menjadi Silm (damai) dan mengganti nama Al-Mudhthaji’ (orang yang suka tidur) menjadi Al-Munba’ith (orang yang enerjik…. Bahkan beliau mengganti nama suku Bani Magwiyah (keturunan yang sesat) menjadi Bani Rasyidah (keturunan yang mendapat petunjuk. (Sunan Abu Dawud 2/707)

Baca juga:  Bagaimana Cara Masuk Islam dan Menjadi Seorang Muslim?

 

Secara lebih rinci, para ulama telah membuat pembagian nama-nama yang dilarang (haram) dan makruh (tidak disukai namun tidak sampai pada derajat haram) seperti berikut:

1. Nama-nama yang terlarang atau haram, diantaranya:

  • Nama yang mengindikasikan penghambaan kepada selain Allah, seperti nama ‘Abdu Samsy (hamba matahari), ‘Abdur Rasul (hamba Rasul), Abdu ‘Ali (hamba Ali), ‘Abdu Husain (hamba husain) dan lainnya.
  • Nama yang dinisbatkan kepada Allah yang mengandung makna bathil, seperti nama Ghulamullah (anak Allah) -maha suci Allah dari hal itu-
  • Nama-nama yang menjadi ciri khas nama orang kafir.
  • Memberi nama dengan nama-nama berhala, seperti Al-Latta, Al-‘Uzza, Hubal dll.
  • Nama yang mengandung kebohongan, pengagungan dan penyucian terhadap diri sendiri, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

إن أخنع اسم عند الله رجل تسمَّى ملك الأملاك – متفق عليه 

“Sesungguhnya nama yang paling dibenci disisi Allah adalah seseorang yang diberi nama Malikul Amlak (raja segala raja).” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  • Memberi nama dengan nama-nama syaithan seperti: Khinzib, Al-Walhan, Al-‘Awar, Al-Ajda’ dan Dahman.

2. Nama-nama yang makruh (tidak sampai haram tapi tidak dianjurkan), ini seperti:

  • Menamakan anak dengan nama hewan yang secara adat dipandang hina, seperti Himar (keledai) dll.
  • Tidak dianjurkan memberi nama yang memiliki makna yang membuat orang takut seperti memberi nama Khinjar (pisau atau tombak) dsb.
  • Memberi nama yang mengandung perbuatan dosa atau maksiat seperti nama Zhalim bin Sariq (orang yang zhalim bin pencuri)
  • Nama-nama diktator yang zhalim dan orang fasiq, seperti Fir’aun, Haman, Qarun dll.
Baca juga:  Adab dan Etika Memberi Nama Anak Menurut Islam

Nama yang Dianjurkan

Dapat disimpulkan bahwa Islam memberikan kebebasan dalam pemberian nama baik seorang anak yang baru lahir dan selainnya. Namun demikian, ada nama-nama yang dianjurkan dan direkomendasikan untuk dipakai, diantaranya seperti dikuti dari muslimah.or.id :

  • Nama-nama Abdullah dan Abdurrahman berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)

  • Nama yang menunjukkan penghambaan diri terhadap salah satu dari nama-nama Allah, seperti ‘Abdul Malik, Abdul Jabbar dll.
  • Memberi nama dengan nama para Nabi dan Rasul
  • Memberi nama dengan nama-nama orang sholeh dari kalangan kaum Muslimin terutama nama-nama para Sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam

Demikian ulasan singkan tentang tuntunan memberikan nama kepada anak atau orang yang baru masuk Islam (Muallaf). Kesimpulannya bahwa tidak ada kewajiban bagi mualaf harus ganti nama atau memberi nama seseorang dengan nama tertentu dalam Islam, selama nama tersebut tidak mengandung makna yang buruk dan bertentangan dengan syari’at Islam. Namun demikian ada nama-nama yang dianjurkan seperti yang telah kami sebutkan diatas.

Wallahu’alam

 

Referensi:

https://islamqa.info

– https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=167973

– https://muslimah.or.id/1557-tuntunan-pemberian-nama-nama-nama-yang-disunnahkan.html