Hosting Unlimited Indonesia

Arti dan Makna Kata Kafir dan Pembagiannya yang Wajib Diketahui!

  • admin 
MAKNA KAFIR DAN PEMBAGIANNYA

Arti dan Makna Kata Kafir dan Pembagiannya yang Wajib Diketahui!- Alhamdulillah.. Pembahasan tentang kafir atau kufur dan macam-macam jenisnya sungguh panjang, akan tetapi kami akan berusaha menjabarkannya secara garis besar melalui poin-poin berikut:

Pentingnya Mengetahui Tentang Kafir dan Pembagiannya

Dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah menunjukkan bahwa iman tidak sah dan tidak diterima kecuali dengan dua (2) perkara, dua perkara ini adalah yang terkandung di dalam makna Syahadat “Laa Ilaaha Illaa Allah”, keduanya adalah: Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkannya, dan berlepas diri dari kekafiran, kesyirikan dan segala macam jenisnya.

Dan tidak mungkin bagi seseorang untuk berlepas diri dari sesuatu dan waspada terhadapnya kecuali setelah ia memiliki pengetahuan dan penjelasan tentangnya. Maka dari itu, sangat penting mempelajari Tauhid supaya dapat diamalkan dan direalisasikan, demikian juga mengetahui dan mempelajari tentang kekafiran dan kesyirikan agar dapat dijauhi dan diwaspadai.

Defenisi Kufur / Kafir

Kufrun (كفر) dan Kafara (كفر) dari segi bahasa artinya: menutupi sesuatu dan mengatupnya(1).

Adapun kafir menurut istilah syar’i adalah “tidak beriman kepada Allah”, sama saja antara tidak beriman disertai mendustakan maupun tidak disertai mendustakan tapi hanya keraguan, atau berpaling dari iman baik karena kedengkian, kesombongan, atau mengikuti sebagian hawa nafsu yang memalingkannya dari mengikuti risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. 

Kufur (kafir) adalah sebuah sifat bagi orang yang menolak sesuatu dari apa yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala untuk diimani, setelah ilmunya sampai kepadanya, sama saja apakah ia menolaknya (mengingkarinya) dengan hati tanpa lisan, atau menolak dengan lisan saja tapi hatinya tidak, atau dengan keduanya sekaligus, atau ia melakukan suatu amalan yang telah ada nash dalil bahwa amalan tersebut menyebabkan pelakunya keluar dari keimanan. (Lihat Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah 12/335 dan Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, Ibnu Hazm 1/45)

Ibnu Hazm didalam kitabnya Al-Fashl berkata: Bahkan termasuk kekafiran, mengingkari sesuatu yang telah sahih dalilnya bahwa tidak ada iman kecuali dengan membenarkannya, demikian juga, mengucapkan sesuatu yang ada dalil sahihnya bahwa mengucapkannya adalah kekafiran maka ia telah kafir, demikian juga, mengerjakan sesuatu yang ada dalil sahihnya bahwa mengerjakannya adalah kekafiran maka ia telah kafir.

Pembagian Kekafiran Besar (Kufrun Akbar) Yang Mengeluarkan Seseorang dari Islam

Para ulama membagi kekafiran menjadi beberapa bagian dan banyak diantaranya merupakan berbagai bentuk kesyirikan dan macam-macamnya, yaitu:

1. Kufur Penolakan dan Pendustaan (كفر الجحود والتكذيب)

Kufur / kekafiran ini kadang terjadi dengan pendustaan dengan hati (kekafiran jenis ini tidak banyak terdapat pada orang kafir asli, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim) dan kadang terjadi dengan pendustaan dengan lisan dan anggota badan, yaitu dengan menyembunyikan kebenaran dan tidak mau tunduk kepadanya secara lahiriah padahal ia mengetahui kebenarannya di dalam hati, ini seperti kekafiran orang-orang Yahudi kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:

 فَلَمَّا جَاءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ
“maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu kafir (ingkar) kepadanya.” (QS. Al-Baqarah : 89)
Dan firman Nya pula:
وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 146)
Hal ini karena pendustaan tidak mungkin terjadi kecuali pada orang yang telah mengerahui kebenaran tapi kemudian ia menolaknya. Oleh karena itu Allah menafikan pendustaan kaum kafir kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah pendustaan secara hakiki dan pendustaan batin, akan tetapi ia adalah pendustaan pada lisan saja, karena pada dasarnya mereka mengetahui kebenaran beliau. Allah Ta’a berfirman,
فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

“karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (QS. Al-An’am: 33)

Dan firman Allah Ta’ala tentang fir’aun dan kaumnya:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.”(QS. An-Naml: 14)

Dan termasuk dalam kategori kekafiran jenis ini adalah “kufrul istihlal” (كفر الاستحلال) yaitu kekafiran karena menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, barangsiapa yang menghalalkan apa yang telah diketahui keharamannya dari syari’at maka ia telah mendustakan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atas apa yang ia bawa, demikian juga mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh syara’.

2. Kufur Keberpalingan dan Kesombongan (كفر الإعراض والاستكبار)

Ini seperti kekafiran Iblis, Allah berfirman tentangnya,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”  (QS. Al-Baqarah : 34)

Dan sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)”. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 47)

Allah menafikan iman dari siapa yang enggan dan berpaling dari amal, sekalipun secara lisan ia mengakuinya. Maka menjadi jelas bahwa “kufur ‘iradh” adalah meninggalkan kebenaran, tidak mau mempelajari dan mengamalkannya baik itu dalam perkataan, perbuatan maupun ‘itiqad hati, Allah Ta’ala berfirman,
 وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.”(QS. Al-Ahqaf: 3)
Maka siapa yang berpaling dari apa yang dibawa oleh Rasul  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik dengan ucapan seperti ia berkata “aku tidak mengikutinya” atau dengan perbuatan, seperti orang yang berpaling dan menghindar dari mendengar kebenaran yang datang darinya, atau menyumbat kedua telinganya dengan tangannya agar tidak mendengarnya, atau ia mendengarnya akan tetapi hatinya berpaling  tidak mau beriman kepadanya, dan ia tidak mau beramal dengan anggota badannya, maka ia telah kafir dengan kekafiran keberpalingan dan kesombongan.

3. Kufur Kemunafikan (كفرالنفاق)

Adalah kekafiran hati yang tidak membenarkan, akan tetapi ia patuh dan tunduk secara lahiriah hanya untuk supaya dilihat orang, ini seperti kekafiran Ibnu Salul dan seluruh kaum munafik yang Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah : 8-20)

4. Kufur Keragu-raguan (كفر الشك والريبة)

Adalah kekafiran karena ragu-ragu dalam mengikuti kebenaran atau ragu-ragu tentang kebenarannya, karena yang dituntut adalah yakin bahwa apa yang darang dari Rasul adalah kebenaran yang tidak ada keraguan padanya, barangsiapa yang memiliki pilihan bahwa yang dibawa oleh beliau bukanlah kebenran maka ia telah kafir karena keraguan dan prasangka, ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا. وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا. قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا. لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya — sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?  Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 35-38)

Ringkasan:
Bahwa kufur atau kekafiran adalah lawan daripada keimanan, dan kufur ini bisa jadi:
  1. Mendustakan dalam hati, karena ini berlawanan dengan perkataan hati (pembenaran hati)
  2. Kufur dengan amalan hati seperti membenci Allah Ta’ala dan ayat-ayat Nya, atau membenci Rasul Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ini bertentangan dengan kecintaan karena iman yang merupakan amalan hati yang paling utama dan paling penting.
  3. Dan kekufuran bisa jadi karena perkataan lisan (lahiriah) seperti mencaci Allah Ta’ala
  4. Dan kadangkala kekufuran terjadi karena amalan anggota badan, seperti sujud kepada patung berhala, menyembelih hewan (sesajen) kepada selain Allah
Baca juga:  Arti dan Makna Kafir Musta'min

Sebagaimana iman ada pada hati, lisan dan anggota tubuh demikian juga kekafiran ada pada hati, lisan dan anggota tubuh.

Kita memohon pada Allah agar melindungi kita dari kekafiran dan segala cabangnya, dan kiranya Ia menghiasi kita dengan hiasan iman dan menjadikan kita orang yang memberi petunjuk dan juga diberi petunjuk, Amiin.

Wallahu’alam

Referensi: https://islamqa.info

Kufur Kecil

Tambahan: Diatas adalah pembagian kekufuran besar yang membuat pelakunya keluar dari Islam. Ada juga kekufuran yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam atau yang disebut dengan kufur kecil atau kufrun duna kufrin. Kufur kecil adalah segala macam kemaksiatan dan perbuatan dosa yang tidak berkonsekwensi keluar dari Islam, seperti kufur nikmat, zina, mencuri dll.

Meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, setiap orang yang melakukan kufur kecil maka imannya akan berkurang, demikian seterusnya sampai imannya habis jika tidak bertaubat dan mengimbanginya dengan amal shaleh. Dan kufur ini berpotensi menjadi kufur besar jika terus dilakukan.

Adapun pembagian orang kafir asli dan cara ummat Islam bergaul dengan mereka terbagi menjadi 4 yang telah kami bahas pada artikel tersendiri, yaitu:

Catatan Kaki:

(1) Sebagai catatan, kata Cover dalam bahasa inggris yang juga berarti tutup diduga berasal dari bahasa arab kafir atau kufr, karena bahasa-bahasa di Eropa, seperti juga bahasa lain di dunia banyak kosa katanya serapan dari bahasa Arab. Ini terjadi pada masa pertengahan (medieval era) dimana wilayah Islam sedang berada di masa keemasan di bidang sains, dan bahasa pengantar ilmu sains pada waktu itu adalah bahasa arab, sehingga orang Eropa barat yang belajar sains terutama di Andalusia membawa istilah-istilah sains, filsafat dll. yang berbahasa Arab ini dan buku-buku sains ke negara mereka.

Baca juga:  Apakah Non Muslim Termasuk Ummat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam?

 

Artikel Lainnya:

Penjelasan Tentang Sujud Malaikat Kepada Adam

Ucapan dan Perbuatan yang Menyebabkan Murtad, Keluar Dari Islam

Umar Pernah Membunuh Anak Perempuannya: Cerita Palsu!