Hosting Unlimited Indonesia

Bagaimana Cara Masuk Islam dan Menjadi Seorang Muslim?

  • admin 
cara masuk islam dan menjadi seorang muslim

cara masuk islam dan menjadi seorang muslim

Secara terminologi “Muslim” berarti seseorang yang berserah diri kepada kehendak Allah, Tuhan yang Maha Esa, terlepas dari ras, suku, nasional atau latar belakang etnis mereka. Proses untuk menjadi seorang Muslim sangat simpel dan mudah yang tidak membutuhkan prasyarat (tehnis) tertentu. Seseorang dapat menjadi Muslim secara diam-diam, atau ia dapat melakukannya didepan khalayak ramai.

Jika seseorang memiliki minat yang kuat untuk menjadi Muslim dan memiliki keyakinan penuh bahwa Islam adalah agama yang benar dari Tuhan, maka yang harus ia lakukan ialah mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain), yaitu persaksian keimanan, tanpa menunda-nunda lagi. Syahadah atau syahadatain adalah pilar (rukun) pertama dan yang paling penting dari 5 rukun Islam.

Dengan mengikrarkan dan mengucapkan 2 kalimat syahadat disertai dengan keyakinan yang tulus dari hati, seseorang telah resmi masuk kedalam Islam dan menjadi seorang muslim.

Jika seseorang masuk Islam tulus karena mencari keridhaan Allah Ta’ala, maka seluruh dosa-dosa yang pernah ia lakukan sebelumnya terhapus, dan ia memulai hidup baru sebagai orang yang bersih tanpa dosa (seperti bayi yang baru dilahirkan, red.) Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada seseorang (‘Amr bin ‘Ash) yang ketika ingin masuk Islam memberi syarat agar dosa-dosanya diampuni:

“Tidakkah engkau tahu bahwa (menerima) Islam menghapus seluruh dosa yang pernah dilakukan sebelumnya?” (HR. Muslim : 121)

Pada dasarnya, ketika seseorang menerima Islam, berarti dia telah bertaubat dari jalan hidup dan keyakinan sebelumnya. Oleh karena itu, seseorang tidak dibebabani oleh dosa-dosa yang ia lakukan sebelum menerima Islam. Catatan amal seorang yang baru masuk islam bersih, seolah ia seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.

Selanjutnya, seseorang harus berusaha untuk menjaga agar catatan amalnya tetap bersih dan berjuang sekuat tenaga untuk memperbanyak amal kebaikan.

Al-quran dan Hadits (sabda Nabi), keduanya menekankan pentingnya mengikuti dan mengamalkan Islam. Allah berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-Imran: 19)

Pada ayat lain di dalam Al-quran, Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali-Imran: 85)

Baca juga:  5 Rukun Islam dan Dalilnya yang Wajib Diketahui

Pada sabdanya yang lain, Nabi Muhammad (1)   صلى الله عليه وسلم   bersabda:

“Barangsiapa yang mengucapkan (bersaksi) bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, tiada sekutu bagi Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Nya, dan bahwa ‘Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan anak hamba perempuan Nya dan kalimat Nya (2) yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari Nya, dan bersaksi bahwa surga benar adanya, dan neraka benar adanya, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam surga tergantung pada amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka kepada orang yang berkata ‘Laa ilaaha illaa Allah’ (tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), ia mengucapkan itu hanya semata untuk mencari ridha Allah.” (HR. Bukhari: 425 dan Muslim: 33)

Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Untuk masuk Islam dan berubah menjadi Muslim, seseorang diharuskan mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadat atau syahadatain) seperti berikut disertai dengan keyakinan dan memahami artinya:

“Asy-hadu an Laa ilaaha illaa Allah, wa asy-hadu anna Muhammadan rasulullaah”

Artinya:

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Nya.”

Ketika seseorang mengucapkan syahadat diatas dengan penuh keyakinan, maka ia telah menjadi muslim. Proses pengucapan kalimat syahadat bisa dilakukan sendiri, tapi sangat disarankan agar dilakukan bersama pembimbing seorang ustadz atau orang yang paham ilmu agama sehingga ia dapat memberikan dukungan atau bimbingan lebih lanjut tentang Islam.

Bagian pertama dari dua kalimat syahadat mengandung kebenaran yang sangat penting yang diturunkan oleh Allah kepada manusia, yaitu: bahwa tiada tuhan yang memiliki hak untuk disembah kecuali Tuhan yang menciptakan alam semseta semata, yaitu Allah. Allah berfirman di dalam Al-quran:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-anbiya: 25)

Baca juga:  Adab dan Etika Memberi Nama Anak Menurut Islam

Ini bermakna bahwa segala bentuk peribadatan, seperti sholat, puasa, doa, meminta perlindungan, menyembelih hewan untuk korban, harus dilakukan semata kepada Allah, tidak kepada yang lain. Mempersembahkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah (baik itu Malaikat, Nabi, Isa, Muhammad, wali, patung, berhala, bulan, pohon dst.) merupakan pelanggaran atas dasar ajaran Islam, dan merupakan dosa yang tidak dapat diampunkan kecuali jika seseorang bertaubat sebelum ia meninggal dunia. Segala macam bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah semata.

Ibadah adalah semua amalan atau ucapan yang disukai oleh Allah, sesuatu yang Ia perintahkan dan anjurkan untuk dilakukan baik perintah langsung secara tekstual maupun dari analogi. Jadi, ibadah tidak terbatas hanya pada mengamalkan rukun islam yang lima, tapi juga termasuk segala aspek kehidupan. Menyediakan makanan untuk keluarga, mengatakan sesuatu yang membuat orang bahagia adalah merupakan bagian dari ibadah, jika dilakukan dengan niat untuk mencari keridhaan Allah semata. Ini berarti bahwa, agar diterima, semua bentuk ibadah harus dilakukan atas dasar niat untuk mencari kerelaan Allah semata.

Jika ingin dibagi, ibadah ada dua macam:

  • Ibadah mahdhah: yaitu ibadah murni yang berupa ritual seperti sholat, haji, zakat, puasa dan lainnya, dimana kadar, jumlah, waktu dan caranya sudah ditentukan oleh Allah dan Rasulnya. Ibadah jenis ini harus dilakukan sesuai tuntunan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi baik cara, waktu, dan jumlahnya.
  • Ibadah ghair mahdhah: yaitu semua bentuk amal kebaikan jika dikerjakan dengan niat untuk mencari ridha Allah maka akan bernilai ibadah.

Bagian kedua dari syahadat bermakna bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم  adalah hamba dan Rasul (utusan) yang dipilih oleh Allah. Ini berarti seseorang harus patuh dan mengikuti perintah beliau. Seseorang harus percaya apa yang beliau sabdakan, melaksanan ajarannya dan menjauhi apa yang dilarang. Juga berarti seseorang harus beribadah kepada Allah sesuai dengan yang beliau ajarkan (tidak melakukan bid’ah atau inovasi dalam ibadah), karena sejatinya semua ajaran Nabi merupakan wahyu dari Allah Ta’ala.

Baca juga:  Apakah Syarat Masuk Islam Harus Ada Saksi?

Seseorang juga harus berusaha menjalani hidup dan memiliki karakter seperti Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم  dengan meneladani beliau, karena beliau diutus untuk menjadi contoh bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-qalam: 4)

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-ahzab: 21)

Agar seseorang benar-benar melaksanakan bagian kedua dari syahadat, maka harus mengikuti contoh Rasulullah صلى الله عليه وسلم pada segala sisi kehidupannya. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran: 31)

Diterjemahkan dengan beberapa tambahan dari situs: http://www.onereason.org/islam-unveiled/how-to-become-muslim/

Catatan kaki:

(1) صلى الله عليه وسلم atau shallallahu’alaihi wa sallam artinya semoga shalawat (rahmat) dan salam tercurah kepada nya. Ucapan atau doa ini diucapkan setiap kali nama Nabi Muhammad atau gelarnya disebut, demikian juga dengan Nabi-nabi yang lain.

(2) Kalimat Allah maknanya ucapan Allah ketika Dia ingin menciptakan sesuatu, karena Allah ketika menciptakan sesuatu hanya dengan mengucapkan “kun” (jadilah) makan terjadilah. sebagaimana firman Nya:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali-imran: 59)