Hosting Unlimited Indonesia

Delayed Gratification dalam Islam

  • admin 
delayed gratification dalam islam

Delayed Gratification adalah kemampuan untuk menunda sesuatu yang mengandung sedikit kenikmatan atau yang menyenangkan saat ini demi mendapatkan kenikmatan dan kesenangan yang lebih banyak di kemudian hari.

Contohnya, kamu bisa saja menonton TV pada malam hari sebelum ujian, atau kamu dapat mempraktekkan delayed gratification dan belajar untuk persiapan ujian esok harinya. Belajar untuk ujian esok hari akan meningkatkan kesempatan kamu untuk mendapatkan nilai A pada ujian tersebut di akhir semester, pada saat pembagian raport, yang tentunya lebih memuaskan secara jangka panjang dari pada jika kamu menonton TV pada malam tersebut. (sumber)

Delayed gratification secara harfiah artinya kepuasan yang ditunda. Delayed gratification adalah menahan diri dan sabar untuk tidak menuruti hawa nafsu yang ingin mendapatkan kesenangan sesaat. Orang yang memiliki kepribadian ini memiliki visi jauh kedepan dan tidak terburu-buru dalam bertindak atau mengambil keputusan yang hanya memberikan kesenangan sementara (short term vs. long term)

Eksperimen Delayed Gratification (Marshmallow Test)

Berkaitan dengan delayed gratification pernah dilakukan percobaan oleh seorang psikologis Amerika, Walter Mischel yang berawal pada tahun 1960 an, percobaan ini dikenal dengan Marshmallow test.

Tingkat kemampuan orang yang dapat melakukan delayed gratification dapat diukur sejak usia dini, dan dapat memprediksi kesuksesan seseorang di kemudian hari.

Hal ini telah dibuktikan oleh riset yang dilakukan oleh Walter Mischel. Dalam eksperimen yang dilakukannya melibatkan beberapa anak usia 4 tahun. Anak-anak ini diberikan Marshmallow (1) oleh petugas eksperimen dan anak-anak diberitahu bahwa mereka boleh memakan marshmallow sekarang atau menunggu 15 menit kemudian sampai petugas menyelesaikan tugas mereka, bagi mereka yang bisa menunggu dan tidak memakan marshmallownya sekarang maka akan mendapatkan 2 buah marshmallow tambahan.

Kemudian, anak-anak tersebut harus duduk di sebuah ruangan dengan 1 buah marshmallow tepat didepan masing-masing anak. Sebagian anak tidak dapat menahan godaaan dan langsung memakan marshmallow tersebut sebelum petugas kembali. Sementara sebagian anak yang lain dapat memperlihatkan delayad gratification mereka dan dapat menunggu untuk mendapatkan 2 marshmallow tambahan mereka.

Hasil Tes

Setelah melakukan test tersebut, Mischel kemudian menelusuri dan mengamati jejak hidup anak-anak tersebut dan ia menghubungkan test tersebut dengan kesuksesan mereka di dalam hidup lebih dari 10 tahun kemudian.

Baca juga:  Sabar: Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Khususnya anak-anak yang dapat sabar menunggu 2 marshmallow tumbuh menjadi anak yang lebih pintar, lebih dapat menahan godaan, memiliki rasa tanggung jawab sosial yang lebih baik, lebih mampu menghadapi stres dan frustasi, dan mampu berjuang untuk menggapai kesuksesai pada banyak bidang dalam hidup mereka.

Delayed Gratification dalam Islam

Tidak diragukan lagi bahwa delayed gratification adalah bagian dari ajaran islam. Bahkan dapat dikatakan sebagian besar kalau tidak seluruhnya, Islam mendidik ummatnya untuk memiliki kesabaran ekstra, tidak terburu-buru, tidak mementingkan kesenangan sesaat dan mengikuti hawa nafsu.

Bahkan, Islam memiliki puncak (ultimate)  delayed gratification dan mengajak kita untuk menunda kesenangan sesaat di dunia ini untuk mendapatkan kesenangan yang sesungguhnya di akhirat kelak, yaitu masuk syurganya Allah Ta’ala. Allah berfirman,

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (QS. Adh-Dhuha: 4)

Dan firman Nya,

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi’at: 37-41)

Sabar dan tidak mengikuti hawa nafsu adalah bagian dari ajaran Islam yang sangat penting. Banyak ayat dan hadits yang mendorong hal ini, juga ancaman bagi orang yang terburu-buru dan suka mengikuti hawa nafsu mereka.

Islam tidak hanya mendorong agar seorang muslim memiliki sifat delayed gratification, tapi Islam juga memberikan instruksi detail dan latihan untuk menggapai sifat sabar, taqwa dan kemampuan menahan hawa nafsu sesaat, diantaranya:

  • Islam menganjurkan kita banyak berpuasa, bahkan mewajibkan puasa satu bulan dalam setahun, yaitu pada bulan Ramadhan. Puasa bertujuan untuk melatih kesabaran dan mengasah ketakwaan kepada Allah ta’ala.
  • Islam mengajarkan disiplin dan tepat waktu, diantaranya mewajibkan sholat 5 waktu sehari semalam dengan waktu yang telah ditentukan. Ini juga melatih manusia untuk disiplin dan sabar, mengorbankan keinginan jiwa untuk bermalas-malasan demi menta’ati perintah Allah.
  • Islam juga mengajarkan manusia untuk bersedekah mengeluarkan sebagian harta mereka, dan percaya kepada janji Allah terhadap ganjaran yang lebih besar daripada sedikit harta yang mereka keluarkan, baik di dunia maupun di akhirat.

Diatas hanyalah sedikit contoh dari dorongan islam dalam delayed gratification. Bahkan seluruh ajaran Islam dapat dikaitkan dengan delayed gratification ini.

Contoh Delayed Gratification dalam Sejarah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling sabar dan paling dapat menahan hawa nafsunya.

Baca juga:  Sabar: Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Secara lebih luas, beliau mengajarkan ummatnya untuk memiliki sifat sabar dan tidak menuruti hawa nafsu untuk kesenangan sesaat. Visi beliau selalu jauh kedepan.

Pada saat awal-awal berdakwah di Makkah, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ditindas oleh kaumnya, sahabat-sahabat beliau banyak yang disiksa bahkan dibunuh. Namun, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tetap memerintahkan mereka untuk bersabar dan pada masa itu ummat Islam dilarang oleh Allah untuk bereaksi membalas kekejaman mereka. Ummat islam diperintahkan menahan diri meskipun tertindas sampai tiba pertolongan Allah.

Diantara contoh lainnya adalah bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menerima kesepakatan dengan kaum kafir Quraisy pada perjanjian Hudaibiyah, padahal pada poin-poin isi kesepakatan tersebut jelas-jelas merugikan ummat Islam, namun beliau tetap menerima perjanjian tersebut karena beliau memiliki visi jauh kedepan.

Hasilnya luar biasa, selama perjanjian yang berat belah tersebut Islam justru semakin berkembang pesat, kabilah-kabilah Arab berbondong-bondong masuk Islam.

Contoh Pahit Kegagalan Ummat Karena Mengabaikan Perintah Rasul dan Tidak Menjalankan Delayed Gratification

Ummat Islam bahkan pernah mendapatkan pelajaran pahit kekalahan pada perah Uhud, disebabkan oleh maksiat dan ketidak patuhan sebagian sahabat atas perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tergiur dengan ghanimah rampasan perang.

Pada perang Uhud, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menempatkan beberapa pemanah disebuh bukit kecil, dan memerintahkan mereka agar tidak beranjak dari tempat mereka sampai ada perintah dari beliau.

Tapi, sebagian pemanah ketika mengira perang telah usai dan mengira ummat Islam telah menang, dan melihat tumpukan harta kaum kafir yang tergelatak, sebagian mereka tidak sabar dan turun dari bukit untuk mengambil ghanimah mengabaikan perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Akibatnya, para musuh datang menyerbu kembali kaum muslimin dari arah lain dan akhirnya mengalahkan ummat Islam yang sudah hampir menang tersebut.

Pada perang ini ummat Islam mengalami kekalahan dan kerugian besar, banyak para sahabat utama seperti Hamzah paman Nabi terbunuh di perang ini, bahkan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sendiri terluka dan gigi serinya pecah.

Inilah akibat buruk dari mengabaikan perintah dan lebih mementingkan kesenangan sesaat. Kekalahan ini menjadi pelajaran sepanjang zaman bagi ummat Islam agar tidak bermaksiat dan tidak mengejar kesenangan sementara.

Kesimpulan

Delayed gratification adalah nama lain dari menahan diri, sabar, tidak mengikuti hawa nafsu dan mengejar kesenangan sementara. Sifat-sifat ini adalah sifat-sifat inti dalam Islam yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Jika orang barat baru memahami manfaat dari sifat ini setelah riset dan penelitian, Islam telah mengajarkan setiap detailnya sejak 1400 an tahun yang lalu agar orang Islam memiliki sifat-sifat yang agung ini, bukan sekedar teori, tapi juga praktek nyata secara rinci.

Baca juga:  Sabar: Pengertian, Keutamaan, Pembagian, Tingkatan dan Batasannya

Bahkan dalam kajian kaidah fiqih, ada sebuah kaidah yang mengindikasikan ini, yaitu kaidah:

من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه

“Siapa yang terburu-buru dalam sesuatu maka ia dihukum dengan tidak mendapatkan sesuatu yang ia buru-buru ingin mendapatkannya tersebut.” 

Kaidah ini disarikan oleh ulama dari dalil-dalil baik Quran dan hadits yang banyak yang berbicara tentang larangan terburu-buru. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

” الأناة من الله تعالى، والعجلة من الشيطان “. (رواه الترمذي عن سهل بن سعد الساعدي مرفوعًا وقال: حسن غريب

“Sifat tenang adalah dari Allah dan terburu-buru dari syaithan.” (HR. Turmudzi dari Sahl bin Sa’ad As-sa’idi secara marfu’, dan Turmudzi berkata hadits ini hasan gharib)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  pernah bersabda kepada Al-asyaj bin Qais:

إن فيك خصلتين يحبهما الله: الحلم والأناة

“Sesungguhnya padamu ada dua sifat yang keduanya dicintai oleh Allah, yaitu: sifat lembut dan tenang (tidak terburu-buru).” (HR. Muslim)

Tidak sabaran dan mengikuti hawa nafsu adalah sifat yang sangat tercela dalam Islam. Bahkan dalam Al-quran, setiap ada kata (mengikuti) hawa nafsu selalu dikaitkan dengan keburukan, dan Allah selalu memuji sifat sabar dan orang-orang yang sabar.

Bahkan, saking pentingnya hal ini, ada ulama yang menuliskan buku yang diberi judul ذم الهوى (celaan hawa nafsu) yang ditulis oleh Ibnul Jauzi (wafat 597 hijriyah) dalam buku tersebut beliau mengulas dan mengumpulkan dalil-dalil tentang celaan untuk orang yang tergesa-gesa mengikuti hawa nafsu dan tidak sabaran dalam hidup.

 


Catatan kaki:

(1) Marshmallow adalah sejenis gula-gula yang biasanya terbuat dari gula, air, dan gelatin yang dikocok hingga membuntuk konsistensi squishy. Marshmallow digunakan sebagai isian kue, atau biasanya dibentuk dan dilapisi dengan tepung jagung. (wikipedia)

Referensi: