Hosting Unlimited Indonesia

Hikmah Dibalik Musibah, Wabah dan Bencana Menurut Islam

  • admin 
Hikmah Dibalik Musibah, Wabah dan Bencana Menurut Islam

Bala, bencana, wabah, musibah dan sebagainya merupakan ujian Allah kepada hamba-hambanya yang beriman. Menurut kacamata Islam, musibah, baik itu berupa bencana, wabah dan sebagainya tidak mesti adalah bukti ketidaksukaan Allah kepada seseorang. Bahkan sebaliknya, ujian itu seringkali diberikan karena Allah cinta kepada seseorang. Karena yang menjadi patokan cinta Allah hanyalah iman, amal shaleh dan ketakwaan, bukan materi atau keadaan tertentu.

Ada banyak fungsi dari musibah menurut Islam, diantaranya:

  1. Pendongkrak derajat seseorang disisi Allah. Ini sama halnya seperti sekolah, agar naik, level dan derajat yang lebih tinggi, siswa dan siswi harus melewati ujian terlebih dahulu. Demikian juga dalam hidup, Allah memberikan kita ujian agar level kita naik, dengan syarat harus sabar dan penuh harapan kepada Allah ta’ala. Inilah kategori ujian yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul. Allah menguji mereka dengan seberat-berat ujian untuk menaikkan derajat mereka ke level yang paling tinggi.
  2. Penghapus dosa. Diantara cara Allah menghapus dosa hambanya ialah dengan diberikannya kepada mereka ujian dan cobaan hidup. Ini terutama bagi mereka yang mempunyai dosa besar dan belum bertaubat darinya. Oleh karena itu, diantara sebab Allah menahan bala dan musibah ialah taubat dan istighfar dari segala dosa-dosa.
  3. Peringatan dan teguran. Fungsi ini berlaku kepada seorang muslim yang suka bermaksiat, juga kepada orang kafir agar segera segera bertaubat dari kemaksiatan dan kekafirannya.
Baca juga:  Wabah Penyakit Tha'un: Pengertian, Sejarah, Pencegahan dan Pengobatannya

Jika kita memahami, maka sesungguhnya bala, cobaan, musibah dan wabah sesungguhnya adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hamba Nya, terutama bagi yang beriman. Karena dengan cobaan itu Allah ampuni dosa kita, naikkan derajat kita dan menjadikan kita sadar dan lebih dekat kepada Nya.

Manusia cenderung melampaui batas apabila ia mendapat kelebihan nikmat, baik nikmat itu berupa harta, jabatan, keadaan yang baik maupun kesehatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,

أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

karena dia melihat dirinya serba cukup.

إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ

Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu). (QS. Al-‘Alaq: 6-8)

 

Maka cobaan diberikan untuk menyadarkan manusia agar kembali ke jalur yang benar, agar tidak sombong dan melampaui batas. Musibah mengingatkan manusia bahwa dirinya tidak berdaya dan lemah. Ia juga menyadarkan manusia bahwa Allah lah diatas segala sesuatu.

Ujian dan cobaan adalah sarana Allah untuk menguji klaim keimanan hamba Nya, apakah iman yang ia akui itu tulus atau hanya sekedar hiasan bibir semata.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِين

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Haj:11)

Baca juga:  Bolehkah Bertanya Alasan dan Hikmah dari Hukum Sya'riat?

Musibah juga adalah cara Allah untuk menghapus dosa-dosa hamba Nya, sehingga di hari kiamat ia tidak perlu “mampir” terlebih terlebih dahulu di neraka untuk membersihkan dosa-dosanya. Rasulullah shallallahu’aalaihi wa sallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : ما يزال البلاء بالمؤمن والمؤمنة في نفسه ، وولده ، وماله ، حتى يلقى الله وما عليه خطيئة. رواه الترمذي (2399) وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة

“Cobaan (bala) senantiasa menimpa orang yang beriman laki-laki maupun perempuan pada dirinya, anaknya dan hartanya, sampai ia berjumpa dengan Allah dengan tanpa membawa suatu dosapun.” (HR. At-Tirmidzi, dan disahihkan oleh Al-Albani)

Dan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam:

وعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ . رواه الترمذي (2396) وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة

“Apabiala Allah menghendaki kepada hamba Nya kebaikan maka Ia segerakan (majukan) hukuman untuknya di dunia, dan apabila Allah menghendaki untuk hamba Nya keburukan, maka ia menunda hukuman atas dosanya di dunia, untuk ditunaikan hukuman dosa-dosanya di hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi: 2396 dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Kemudian, musibah pula menjadi cara Allah untuk mengangkat derajat hamba-hambanya di sisi Nya, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Baca juga:  Bolehkah Bertanya Alasan dan Hikmah dari Hukum Sya'riat?

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً ، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

“Tidaklah seorang yang beriman dilanda musibah mulai dari duri yang menusuknya maupun yang lebih besar dari itu, kecuali dengan sebab itu Allah angkat satu derajatnya atau Ia hapus darinya satu kesalahan.” (HR. Muslim: 2527)

Demikian sekilas pencerahan mengenai hikmah dan manfaat dari cobaan berupa musibah, bala dan wabah menurut pandangan islam, semoga bermanfaat.

Referensi:

https://islamqa.info/ar/answers/35914/%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%83%D9%85%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%A8%D8%AA%D9%84%D8%A7%D8%A1%D8%A7%D8%AA