Hosting Unlimited Indonesia

Hukum-Hukum Seputar I’tikaf

hukum seputar itikaf

RINGKASAN HUKUM SEPUTAR I’TIKAF

1. Makna I’tikaf

I’tikaf adalah menetap pada sesuatu, maka disebut orang yang menetap dimasjid untuk melaksanakan ibadah orang yang beri’tikaf (al-misbahul munir 2/424)

2. Anjuran untuk I’tikaf

I’tikaf hukumnya adalah Sunnah pada bulan Ramadhan, berdasarkan pada hadis Abu Hurairoh -radiyallahu ‘anhu- : “ bahwasanya Rasulullah ﷺ melakukan I’tikaf pada setiap kali  Ramadhan selama 10 hari, dan di tahun kewafatan beliau, beliau ﷺ I’tikaf dua puluh hari” (al-Bukhori: 2044)

Dan waktu yang paling utama untuk  melaksanakan I’tikaf  adalah pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan

3. I’tikaf  hanya SAH di masjid

Allah -’azza wajalla-  berfirman:

{ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد}

“Dan janganlah kalian menggauli mereka (para istri) sedangkan kalian beri’tikaf di masjid” (al-Baqoroh: 187)

Jumhur ulama’ (manyoritas) berpendapat bahwa I’tikaf boleh dilakukan di semua masjid, dengan adanya beda pendapat diantara mereka tentang apakah disyaratkan nya masjid jami’ atau tidak, hal ini berdasarkan pada keumuman firman Allah -’azza wajalla-  diatas (di masjid-masjid)

4. Hukum I’tikaf bagi wanita

Wanita juga disyari’atkan (dianjurkan) I’tikaf, tetapi ada dua syarat yang harus terpenuhi

Yang pertama, dapat izin dari suami nya (jika sudah punya suami), karena seorang wanita tidak dibolehkan keluar rumah kecuali telah diizinkan suami nya

Yang kedua, tidak menimbulkan fitnah (godaan)  bagi laki-laki, jika dengan dia beri’tikaf menimbulkan fitnah maka tidak dibolehkan

5. Apakah I’tikaf disyaratkan berpuasa?

Ada dua pendapat dalam masalah ini:

Pertama, menyarakan harus berpuasa dan pendapat kedua tidak mensyaratkan puasa. Tapi, yang benar  puasa bukanlah syarat namun, disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk berpuasa

6. Waktu paling minimal untuk I’tikaf

Manyoritas ulama’ berpendapat, tidaklah ada batasan minimal pada waktu I’tikaf, da nada yang mengatakan waktu minimalnya adalah sehari semalam, dan ada yang mengatakan tiga hari, sepuluh hari….

Baca juga:  Niat Puasa Apakah Harus Diucapkan atau Tidak?

Tetapi, yang paling tepat, waktu minimal nya adalah semalam, berdaasarkan hadis ‘Umar –radiyallahu ‘anhu- , bahwa Nabi ﷺ memerintahkan nya untuk melaksanakan nadzarnya, maka Umarpun beri’tikaf

7. Kapan ia memulai I’tikaf dan mengakhiri nya ?

Bagi siapa yang berniat I’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, maka disunnahkan mulai masuk beri’tikaf dipagi hari setelah sholat subuh, yaitu pada hari ke dua puluh satu, beginilah yang dilakukan Nabi ﷺ

‘Aisyah –radiyallahu ‘anha-  menceritakan: “bahwa Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh terkhir Ramadhan, maka aku memasang kemah untuk belia, lalu beliau sholat subuh kemudian memasuki kemah beliau”

Mengenai hadis diatas, jumhurul ulama’ mebawakan nya bahwa, sebenarnya Nabi sudah mulai I’tikaf dari malam hari, kemudian barulah belia masuk kemahnya dipagi hari, sehingg jumhur berpendapat, bahwa I’tikaf dimulai semenjak malam hari (pada malam ke 21), dan yang menguatkan pendapat pertama (I’tikaf dimulai pada pagi hari di hari ke 21), adalah  hadis Abu sa’id -radiyallahu ‘anhu-  : “kami pernah beritikaf bersama Rasulullah ﷺ pada sepuluh pertengahan Ramadhan, maka kami keluar di pagi hari di hari ke dua puluh” (al-Bukhari: 2036)

Disitu dijelaskan, bahwa Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh hari tengah Ramadhan, lalu beliau keluar darinya di pagi hari pada hari ke dua puluh, yang berarti beliau mulai masuk pada pagi hari di hari ke sepuluh (bukan malam nya), wAllah -’azza wajalla- u a’lam.

Adapun waktu keluarnya, jika mengikuti mazhab pertama maka dia keluar di pagi hari di hari raya ‘idul fitri. Adapun, menurut madzhab yang kedua, maka dia keluar dari I’tikafnya setelah terbenam nya matahari pada hari terakhir Ramadhan

8.  Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

1. Keluar masjid tanpa ada ‘udzur syar’I dan bukan karena suatu kebutuhan yang mendesak

Maka tidaklah boleh keluar kecuali memang mengharuskan untuk keluar, dan tidak meungkin kan melakukan nya di masjid  seperti, mencari makanan bagi yang tidak ada yang menyediakan makanan untuk nya, atau untuk buang hajat, ataupun mandi junub, maka ini adalah udzur syar’i

Berkata ‘Aisyah -radiyallahu ‘anha-  : “adalah Rasulullah ﷺ memasukkan kepala belia (ke rumah) dan beliau tetap berada di dalam masjid, namun tidaklah beliau masuk ke rumah kecuali jika ada kebutuhan” (al-Bukhari 2029, Muslim : 297)

Baca juga:  Benarkah Rokok Tidak Membatalkan Puasa?

Adapun jika dia syaratkan untuk kebutuhan tertentu, seperti menlayat jenazah, atau bekerja di siang hari, maka kebanyakan ulama’ mengatakan, syart ini tidak berarti, dan tetap membatalkan I’tikaf nya jika keluar dari masjid.

Namun, berkata as-Tsaury , Syafi’I, Ishak dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad: “bahwa jika dia mensyaratkan hal tersebut dari awal dia memulai I’tikafnya maka, tidaklah batal I’tikaf nya jika dia keluar masjid (untuk apa yang sudah dia syaratkan)

2. Jima’  

Apabila ada orang yang menggauli istrinya pada farjinya dalam keadaan sengaja dan tidak lupa maka, dengan kespakatan ulama’ hal ini dapat membatalkan I’tikaf, berdasarkan firman Allah -’azza wajalla- :

{ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد}

“Dan janganlah kalian menggauli mereka (para istri) sedangkan kalian beri’tikaf di masjid” (al-Baqoroh: 187)

9. Hal-hal yang boleh dilakukan oleh orang yang sedang i’tikaf

  • Keluar dari masjid untuk kebutuhan yang mendesak, seperti mencari makanan bagi yang tidak ada yang menyediakan makanan untuk nya, atau untuk buang hajat, ataupun mandi junub, maka ini adalah udzur syar’i
  • Melakukan perkara-perkara yang mubah, seperti mengantarkan tamu nya bersamanya sampai pintu masjid, atau ngobrol dengan teman nya
  • Istri mengunjungi suami nya yang sedang I’tikaf, dan berdua-duaan bersama nya

Tiga perkara ini, diambil dari hadis Shofiya -radiyallahu ‘anha-  :

“Bahwa beliau dating ke masjid untuk mengunjungi Rasulullah ﷺ pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, aku pun ngobrol dengan beliau ﷺ beberapa saat kemudian beliau (shofiyah) beranjak pulang, maka Nabi ﷺ juga berdiri untuk mengantar nya sampai ke pintu masjid” (Al-Bukhari: 2035, Muslim: 2175)

  • Mandi dan berwudhu’ di masjid
  • membuat kemah di sudut masjid
  • membawa kasur atau tempat tidur ke masjid
  • meminang atau melaksanakan akad nikah
  • boleh nya bagi wanita yang mengalami istahadhoh (darah selain haid dan nifas), dan hendaklah ia berhati-hati, jangan sampai mengotori masjid, juga dibolehkan bagi nya untuk keluar masjid dalam rangka membersihkan diri.

‘Aisyah -radiyallahu ‘anha-  menceritakan : “ada salah seorang wanita dari istri Nabi ﷺ sedang istihadhoh  yang beri’tikaf bersama beliau ﷺ  maka dia melihat kemerah kekuning-kuningan , dan terkadang kami meletakkan bejana dibawah nya sedang dia melaksanakan sholat” (al-Bukhari: 2037, Muslim 2476)

10. Apakah wanita yang sedang mengalami menstuasi boleh beri’tikaf?

Permasalahan ini dibangun atas dua pembahasan, pertama: apakah beri’tikaf disyaratkan harus berpuasa?, kedua: apakah wanita yang haid boleh masuk masjid?

Baca juga:  10 Persiapan Menyambut Bulan Ramadahan yang Harus Anda Ketahui

Bagi ulama’ yang mesyaratkan harus puasa, maka dia tidak membolehkan wanita haid untuk I’tikaf, karena dia tidak boleh puasa, demikian juga bagi ulama’ yang mengharamkan wanita haid masuk masjid, maka mereka tidak membolehkan nya untuk I’tikaf

Perhatian: wanita yang ikut I’tikaf di masjid, hendak nya dia menutup diri nya dengan sesuatu, karena para istri-istri Nabi ﷺ ketika mereka hendak I’tikaf di masjid mereka diperintahkan untuk membuat kemah-kemah mereka. Tentu dimasjid banyak laki-laki,maka merupakan kebaikan untuk mereka dan para wanita agar mereka tidak saling melihat, dan jika wanita disediakan tempat tersendiri dari bagian masjid maka, ini lebih afdhol.

11. Diantara adab adab i’tikaf

Disunnahkan bagi orang yang sedang beri’tikaf untuk menyibukkan dirinya dengan keta’atan-keta’atan kepada Allah -’azza wajalla- , seperti: sholat, baca al-Quran, mengingat Allah -’azza wajalla-  (dzikir), mohon ampunan (istighfar), berdo’a dan sholawat kepada Nabi ﷺ, membaca tafsir al-Quran dan mempelajari hadis serta yang semisal nya.

Makruh hukum nya untuk menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang tidak berguna baik ucapan atau perbuatan, atau dia menjadikan tempat I’tikaf sebagai tempat untuk bercengkrama, atau menarik para pengunjung, dan memanfa’atkan nya untuk ajang berbincang-binjang dan ngobrol bersama dengan teman-teman nya, maka ini adalah sebuah nuansa, sedangkan I’tikaf Nabi ﷺ nuansa yang lain (sangat berbeda antara kedua nya)

*dirangkum dari kitab “Shohih fiqih sunnah” (2/150-158)

Diterjemahkan oleh al-‘Abdul Faqiir ila ‘afwi Rabbih @MTH