Hosting Unlimited Indonesia

Hukum Makan Daging Biawak, Dhab, Kadal, Tokek dan Cicak

  • admin 
Hukum Makan Daging Biawak, Dhab, Kadal, Tokek dan Cicak

Hukum Makan Daging Biawak, Dhab, Kadal, Tokek dan Cicak – Biawak, Dhabb, Kadal, Tokek dan Cicak adalah sama-sama hewan reptil yang berjalan dengan merayap / melata dan memiliki 4 kaki dan ekor. Namun apakah hewan-hewan ini boleh (halal) dimakan?  Simak penjelasannya berikut ini.

Hukum Makan Daging Biawak, Dhab, Kadal, Tokek dan Cicak

1. Hukum Memakan Daging Dhabb

hukum memakan biawak, dhabb, cicak, tokek dan kadal

hewan dhab

Dhab (الضب) hampir serupa dengan biawak dengan ukuran lebih kecil dan warna yang lebih cerah. Hewan ini hidup di gurun dan umumnya ditemukan di daerah jazirah arab. Berbeda dengan biawak, dhab adalah hewan herbivora yang mengkonsumsi tumbuh-tubuhan, sedangkan biawak adalah hewan carnivora yang mengkonsumsi hewan lainnya.

Mayoritas ulama menghalalkan memakan daging dhab, ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu’alaihiwasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar secara marfu’, Nabi bersabda: “Adapun Dhab aku tidak memakannya namun aku tidak mengharamkannya.” HR. Bukhari dalam kitab shahihnya. Dalam riwayat Muslim beliau bersabda: “Makanlah (Dhobb) tersebut karena ia halal, tapi ia bukan makananku.”

Hadits diatas menjadi dalil bolehnya memakan daging Dhab, karena Nabi shallallahu’alaihiwasallam mengizinkan sahabatnya memakan Dhab. Hanya saja beliau tidak memakan Dhab karena hewan tersebut bukan makanan pada kaumnya. Karena Dhab tidak lazim dimakan pada suku Quraisy sehingga beliau tidak selera atau enggan. Namun beliau tidak mengaharamkan Dhab tersebut, justru beliau mengahalalkannya.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdurraman bin Syabl Al-anshari radhiyallahu’anhu yang berbunyi, “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melarang memakan daging dhabb.”  Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunannya, sekelompok ulama hadits diantaranya Al-baihaqi telah mendha’ifkan (melemahkan) sanad hadits ini. Akan tetapi Al-hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Syarah Al-bukhari, “hadits ini diriwayatkan (dikeluarkan) oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan.”  ia mengatakan kemungkinan hadits ini mansukh (telah dihapus hukumnya).

Oleh karena itu dalil bolehnya makan daging Dhab lebih kuat, Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarah Muslim:

“Para ulama kaum muslimin telah sepakat bahwa Dhab (Dhabb) halal dimakan, dan tidak makruh, kecuali pendapat sebagian kalangan dari madzhab hanafi yang memakruhkan Dhab, demikian juga yang disebutkan oleh Qadhi ‘Iyadh bahwa ada sebagian kalangan yang menyatakan keharamannya, dan aku mengira pendapat-pendapat tersebut tidak sahih, walaupun sahih maka pendapat mereka tertolak dengan nash-nash dalil yang membolehkan dan juga ijma’ yang telah ada sebelumnya.” Wallahu’alam

Kesimpulan Hukum Memakan Daging Dhab (Dhab)

  • Berdasarkan hadits yang shahih sebagaimana diatas bahwa hukum memakan daging Dhab adalah halal
  • Meskipun ada hadits yang melarang memakan Dhab, tapi haditsnya berstatus lemah atau hukumnya mansukh, dan hadits yang menyebutkan halalnya Dhab lebih kuat dan shahih.
Baca juga:  Hukum Memakan Testis (Torpedo) Hewan

Lihat: Sumber

Hadits-Hadits tentang Dhab

Hadits 1:

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { أَكُلَّ اَلضَّبِّ عَلَى مَائِدَةِ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-} مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallallahu ‘anhuma- ia berkata: “aku memakan dhab diatas hidangan Rasululah -shallallahu’alaihi wa sallam-“ (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits 2 :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَجُلاً، قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَرَى فِي الضَّبِّ قَالَ ‏ “‏ لَسْتُ بِآكِلِهِ وَلاَ مُحَرِّمِهِ ‏”‏

Dari Ibnu ‘Umar –radhiyallahu’anhu– bahwasanya seorang laki-laki berkata: “wahai Rasulullah, apa pendapat engkau tentang Dhab?”,  beliau menjawab: “aku tidak memakannya dan tidak pula mengharamkannya.” (Sunan an-Nasa’i 4315)

Hadits 3:

 ابْنَ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فِيهِمْ سَعْدٌ وَأُتُوا بِلَحْمِ ضَبٍّ فَنَادَتِ امْرَأَةٌ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ كُلُوا فَإِنَّهُ حَلاَلٌ وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي ‏”

Dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- waktu itu sedang bersama orang sahabatnya, diantara mereka ada Sa’ad,  lalu mereka dihidangkan daging dhab, maka salah seorang dari istri-istri Nabi  -shallallahu’alaihi wa sallam- menyeru, “sungguh itu adalah daging dhab!”, maka Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “makanlah kalian, karena ia (dhab) itu halal, akan tetapi ia bukan dari makananku (maka aku tidak memakannya).” (HR. Muslim 1944 a)

Hadits 4:

أَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ الَّذِي يُقَالُ لَهُ سَيْفُ اللَّهِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ، دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى مَيْمُونَةَ ـ وَهْىَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا مَحْنُوذًا، قَدِمَتْ بِهِ أُخْتُهَا حُفَيْدَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ مِنْ نَجْدٍ، فَقَدَّمَتِ الضَّبَّ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ قَلَّمَا يُقَدِّمُ يَدَهُ لِطَعَامٍ حَتَّى يُحَدَّثَ بِهِ وَيُسَمَّى لَهُ، فَأَهْوَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَدَهُ إِلَى الضَّبِّ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ الْحُضُورِ أَخْبِرْنَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ، هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ‏.‏ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَدَهُ عَنِ الضَّبِّ، فَقَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ أَحَرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ‏ “‏ لاَ وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ ‏”‏‏.‏ قَالَ خَالِدٌ فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْظُرُ إِلَىَّ

Dari Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu’anhu- bahwasanya Khalid bin Al Walid yang dijuluki dengan Saifullah (pedang Allah) mengabarkan kepadanya, bahwasanya ia pernah bersama Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- masuk  ke rumah Maimunah -dia adalah bibi beliau dan Ibnu ‘Abbas- maka beliau mendapati padanya (sang bibi) daging dhab panggang yang dibawa oleh saudarinya, Hufaidah binti Al-haarits dari Najd, maka ia menghidangkan dhab tersebut kepada Rasulullah -shallallauhu’alaihi wa sallam- dan beliau sangat jarang  menjulurkan tangannya ke makanan sebelum diberitahu tentangnya dan disebut nama makanannya, maka Rasulullah -shallallauhu’alaihi wa sallam-menjulurkan tangannya kepada dhab tersebut, lalu salah seorang dari wanita yang hadir berkata, “beritahu Rasulullah -shallallauhu’alaihi wa sallam- apa yang telah kalian hidangkan kepada beliau, itu adalah dhab wahai Rasulullah.” lalu Rasulullah -shallallauhu’alaihi wa sallam- mengangkat tangannya dari dhab tersebut, maka Khalid bin Walid bertanya: “Apakah dhab haram wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab. “Tidak, akan tetapi ia tidak ada di tanah kaumku, oleh karena itu aku tidak menginginkannya.” Khalid berkata: “maka aku mengunyahnya kemudian memakannya, sedangkan Rasulullah  -shallallauhu’alaihi wa sallam-  melihat kepadaku.” (Sahih al-Bukhari 5391)

Baca juga:  Apa Hukum Jual Beli Kucing dan Anjing dalam Islam?

2. Hukum Makan Daging Biawak

hukum memakan biawak dan dhabb

Biawak (Warl)

Biawak atau dalam bahasa Arab disebut dengan Waral (ورل) termasuk binatang melata (reptil) herbivora yang memakan hewan lainnya. Meski ada ulama yang menghalalkan memakan biawak (warl) dengan asumsi bahwa binatang ini sama dengan Dhab, tapi pendapat yang lebih kuat biawak tidak halal boleh (haram) dimakan dengan alasan:

Bahwa Biawak berbeda dengan Dhab, maka biawak tidak bisa diqiyaskan (analogikan) hukumnya dengan Dhabb. Biawak memangsa hewan lain dengan taringnya seperti komodo, sedangkan telah ada hadits larangan memakan binatang jenis ini. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

“Seluruh binatang pemangsa dengan gigi taringnya maka haram memakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Adapun Dhab adalah hewan pemakan tumbuhan, bukan binatang buas. dan telah ada dalil khusus yang membolehkan memakan Dhab.

Sebagian ulama ada yang mengkategorikan Warl (biawak) termasuk binatang Hasyarat.  An-nawawi dari madzhab Syafi’i berkata tentang hewan hasyarat:

“Dalam madzhab kami (madzhab syafi’i) bahwasanya (hewan hasyarat) haram dimakan, demikian juga pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan Dawud..” (Kitab Majmu’, Nawawi 9/17-18) Lihat : sumber

Kesimpulannya  hukum makan biawak adalah haram untuk dimakan dan tidak halal. Karena biawak termasuk binatang yang memangsa dengan taringnya, dan binatang yang memangsa dengan taringnya hukumnya haram dimakan. Oleh karena itu hukum makan biawak itu tidak halal atau haram.

Baca juga:  Dhab Kadal Arab yang Halal Dimakan

3. Hukum Makan Daging Kadal, Tokek dan Cicak

hukum memakan kadal cicak dan tokek

Kadal, tokek dan cicak

Sama halnya dengan hukum makan biawak, mayoritas para ulama telah mengharam daging kadal (السحلية) dan tokek / cicak (الوزغ), karena binatang-binatang ini menjijikkan dan membahayakan. Bahkan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam  dalam sebuah hadits telah memerintahkan untuk membunuh tokek atau cicak:

وفي صحيح البخاري عن أم شريك ـ رضي الله عنها: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بقتل الوزغ وقال: وكان ينفخ على إبراهيم عليه السلام.

Dalam Shahih Bukhari dari Ummi Syuraik Radhiyallahu’anha, berkata: “bahwasanya Rasulullah memerintahkan untuk membunuh wazagh (cicak/tokek) dan bersabda: “Dahulu tokek pernah meniup (api supaya membesar untuk membakar) Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam (saat beliau dibakar kaumnya).”

Lihat: sumber

Penutup

Kesimpulannya, diantara hewan-hewan reptil diatas: biawak, dhab, kadal, tokek dan cicak, pendapat yang lebih kuat adalah haram dimakan kecuali dhab, karena Nabi Shallallahu’alaihiwasallam  membolehkannya dan tidak melarang para sahabat memakannya meskipun beliau tidak suka. Maka hukum makan biawak, kadal, tokek, cicak dan hewan sejenis itu tidak halal (haram) dimakan.

Artikel lainnya:

Hukum Merayakan Valentine Day Menurut Islam

Hukum Mensyaratkan Tidak Dipoligami Kepada Calon Suami