Hosting Unlimited Indonesia

Hukum Pria Memakai Rok Wanita Untuk Menutup Auratnya Ketika Sholat, Apakah Sholatnya Sah?

  • admin 
Hukum Pria Memakai Rok Wanita Untuk Menutup Auratnya Ketika Sholat, Apakah Sholatnya Sah

Hukum Pria Memakai Rok Wanita Untuk Menutup Auratnya Ketika Sholat dan Apakah Sholatnya Sah? Dan Bagaimana Jika Ia Memakainya Sewaktu Sendirian Tanpa ada Orang Lain?

Pertanyaan:

Suatu saat kami pernah mengadakan acara keluarga, saat hendak sholat, ada seorang pemuda yang hanya mengenakan celana pendek yang tidak menutupi lututnya.

Ketika imam memulai sholat, pemuda itu buru-buru memakai rok wanita atau sarung khusus bawahan wanita yang digunakan untuk sholat, lalu ia sholat dengan rok tersebut. Pada rok ini ada hiasan dan sedikit kain chiffon yang khusus untuk wanita.

Setelah selesai sholat, aku datang mengingkarinya (menasehatinya) dan aku katakan, kenapa kamu tidak mencari penutup yang lain selain rok wanita, kenapa kamu tidak coba tanyakan pada pemilik rumah untuk meminjamkan celana untuk menutup auratmu?!

Aku sering melihatnya melakukan hal itu lebih dari sekali tanpa mau repot mencari pakaian untuk laki-laki. Ia berdalih bahwa ia memakai itu hanya untuk menutup aurat. Ia juga mengatakan bahwa saya tidak boleh mengingkarinya dalam kasus ini karena ini bukan bentuk tasyabbuh (menyerupai wanita).

Apa hukum perbuatan pemuda ini?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shlallallau’alaihi wa sallam, seluruh keluarga dan sahabat beliau..

Pertama: Hukum Tasyabbuh (Menyerupai Lawan Jenis)

Tidak boleh bagi laki-laki memakai sesuatu yang menjadi kekhususan bagi wanita, demikian juga sebaliknya. Ini termasuk dosa besar karena ada dalil yang melaknat perbuatan ini.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallallhu’anhuma, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat orang-orang yang menyerupai wanita dari kalangan pria, dan orang-orang yang menyerupai pria dari kalangan wanita.” (HR. Bukhari, no. 5435)

Baca juga:  Hukum Sholat yang Telah Lama Ditinggalkan

Dan dari Abu Hurairah radhiyallallhu’anhu, ia berkata:“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Dawud no. 4098, dishahihkan oleh An-nawawi di dalam kitab “Al majmu’ dan Al-albani di dalam kitab “Shahih Abu Dawud”)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Perkataannya, ‘Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat orang-orang yang menyerupai’, dijelaskan oleh Ath-thabari: maknanya tidak boleh bagi laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakian dan perhiasan yang khusus untuk wanita dan juga tidak boleh sebaliknya.” (Fathul Bari 10/332)

Demikian juga tidak boleh menyerupai (lawan jenis) dalam cara jalan dan cara bicara (yang khas bagi masing-masing jenis).

Adapun bentuk pakaian berbeda-beda tergantung kepada adat dan budaya setiap negeri. Mungkin ada kaum yang tidak membedakan antara pola pakaian pria dan wanita mereka. Tapi, pakaian wanita memiliki ciri khas hijab dan lebih tertutup.

Berkaitan dengan tasyabbuh (menyerupai) yang tercela dalam gaya bicara dan gaya jalan, maka khusus bagi orang yang sengaja melakukan itu. Adapun orang yang bergaya seperti itu karena bawaan lahir, maka ia diperintah dan dianjurkan untuk meninggalkan gaya tersebut secara kontinyu dan bertahap. Jika ia tidak mau berusaha untuk meninggalkannya maka ia menjadi tercela, terutama apabila ia menyukai gaya tersebut dan tidak merasa risih dengannya. Ini jelas dalilnya sesuai lafadz “mereka yang menyerupai”.

Ciri khas pria atau pria termasuk warna dan ciri detailnya, dan ini berbeda-beda tergantung kepada adat masing-masing tempat seperti yang telah disebutkan Ibnu Hajar diatas dan perkataan Ibnu ‘Utsaimin yang akan kami sebutkan nanti.

Kedua: Hukum Tasyabbuh Tersembunyi (Tidak ada Orang yang Melihat)

Tidak ada perbedaan apakah ia memakai pakaian ini di keramaian maupun di tempat sepi yang tidak dilihat orang, seperti jika ia pakai di rumah atau sekedar memakai pakaian dalam lawan jenis.

Baca juga:  Sholat Witir Wajib atau Sunnah?

Ulama Lajnah Daimah di Saudi Arabia pernah ditanya tentang ini, mereka menjawab: “…Perbuatan ini haram sekalipun di tempat yang tersembunnyi berdasarkan dalil umum yang mengharamkannya.” (Fatawa Lajnah Daimah 24/94)

Keempat: Hukum Sholatnya (Sah atau Tidak)

Apabila pria yang sholat telah menutup auratnya dengan pakian wanita, ada perbedaan pendapat tentang keabsahan sholatnya. Ulama dari kalangan madzhab Hambali menganggapnya tidak sah, karena mereka mensyaratkan agar pakaian yang dipakai untuk menutupi aurat harus dari yang halal (baik bahannya maupun cara mendapatkannya).

Ibnu ‘Utsaimin, ketika menjawab sebuah pertanyaan, berkata:

“… Tapi wajib kita ketahui apa yang menjadi ciri khas (yang haram untuk ditiru oleh lawan jenis), bukan hanya ciri khas warna saja, tapi ciri khas warna dan juga karakter, karena itu wanita boleh memakai pakian warna putih jika detail karakternya tidak seperti pakaian pria.

Jika jelas wanita itu memakai pakaian khas pria maka hal itu haram dan sholatnya tidak sah, menurut pendapat sebagian ulama yang mensyaratkan agar penutup aurat harus dari yang halal.

Ini persoalan khilaf diantara para ulama, sebagian ada yang memberi syarat (untuk keabsahan sholat) agar penutup aurat dari yang halal (mubah) dan sebagian ulama yang lain tidak mensyaratkannya.

Alasan atau hujjah mereka yang menyaratkan penutup aurat harus dari yang halal: bahwa menutup aurat termasuk syarat sahnya sholat dan syarat harus dari apa yang Allah izinkan, jika tidak maka secara syar’at ia tidak termasuk penutup, karena adanya pelanggaran disana.

Adapun alasan mereka yang mengatakan bahwa sholatnya sah tapi disertai dosa: bahwa syarat menutup aurat (dalam sholat) telah terpenuhi, sedangkan soal dosa itu diluar bahasan menutup aurat, dan ia (memakai pakaian lawan jenis) bukan khusus bahasan sholat, haram memakai pakian haram baik di dalam sholat maupun di luar sholat.

Baca juga:  Lupa Tasyahud Awal, Haruskah Sujud Sahwi?

Bagaimanapun, orang yang sholat dengan pakaian haram berada pada posisi yang berbahaya (jika) sholatnya ditolak dan tidak diterima.

(Fatawa Nur ‘Alad Darb, Ibnu ‘Utsaimin 2/8)

Kesimpulan

Bahwa tindakanmu sudah benar dalam mengingkari dan menasehati pemuda itu, dan ia seharusnya bertaubat kepada Allah ta’ala  agar tidak mengulangi perbuatannya, dan hendaknya ia takut kepada hukuman Allah. Adapun hukum sholatnya sah menurut pendapat madzhab mayoritas (jumhur) ulama.

Dan ketahuilah bahwa aurat laki-laki itu diantara pusat dan lutut, maka ia tidak boleh mengenakan sesuatu yang menampakkan auratnya di depan orang lain. Ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: 

“Apa-apa diantara pusat dan lutut adalah aurat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan selain keduanya, hadits ini dihasankan oleh Al-albani dalam “Irwaul Ghalil” no. 271)

Demikian halnya auratnya ketika sholat, diantara pusat dan lutut, meskipun lutut tidak termasuk aurat, tapi jika pakaiannya tidak menutupi lutut, biasanya ketika sholat pahanya akan tersingkap, khususnya ketika ruku’ dan duduk ketika tasyahhud dan duduk diantara dua sujud.

Wallahu’alam

 

Sumber dan referensi:

islamqa.info/ar/answers/319147