jual kurma curah impor dari uni emirat arab (UAE) grosir

Minta Doa Pada Pak Imam, Bolehkah?

  • admin 
istighfar dan taubat

Minta Doa Pada Pak Imam, Bolehkah? – Pertanyaan: Aku seorang imam masjid. Sebagian jamaah sholat memintaku untuk berdoa kepada Allah untuk keluarga mereka yang telah meninggal agar diampuni dan diberi rahmat, dan bagi yang sakit agar disembuhkan. Aku memenuhi permintaan mereka dengan berdoa kepada Allah dan diaminkan oleh para ma’mum. Pertanyaanya, apakah hal ini boleh? Kalau boleh apakah aku mengangkat tangan ketika berdoa atau tidak?

Minta Doa Pada Pak Imam, Bolehkah?

Jawab: Alhamdulillah..

Pertama: pada dasarnya meminta agar didoakan oleh orang yang tampaknya sholeh, masih hidup, hadir (bukan orang yang sudah mati atau ghaib) adalah perkara yang disyari’atkan.

Berkata Syaikh Abdurrahman Al-mu’allimi:

“Para ulama telah sepakat atas bolehnya meminta doa dari orang yang masih hidup di dunia ini dengan yang permintaan yang wajar, seperti orang meminta langsung kepadanya melalui percakapan langsung, atau ia menulis surat kepadanya atau ia mengutus utusan.” (Lih. Atsar Asy-syaikh Al-mu’allimi 6/303)

Akan tetapi, diantara tugas imam adalah mengarahkan dan membimbing manusia kepada kemaslahatan dan kebaikan untuk agama mereka. Karena sebagian orang awam, merasa cukup dengan doa para imam dan jama’ah sholat yang mengaminkan, sedangkan mereka sendiri tidak bersungguh-sungguh untuk berdoa kepada Allah, atau mungkin ia merasa penuh dosa dan merasa bahwa doanya tidak berfaedah, karenanya ia tidak menunjukkan kebutuhan dirinya kepada Allah.

Baca juga:  Bolehkah Membaca Doa dari Quran Ketika Ruku' dan Sujud?

Maka, kewajiban seorang imam memberi pengarahan kepada mereka yang meminta agar didoakan tersebut kepada cara yang terbaik yaitu dengan menganjurkan mereka agar bersungguh-sungguh beribadah dengan berdoa kepada Allah langsung tanpa harus minta didoakan, dan supaya hati mereka ikhlas dalam memohon kepada Allah semata, bukan kepada selain Nya. Hendaknya pula ia menampakkan kebutuhan (kefakiran) nya di hadapan Allah semata bukan selain Nya. Dan bahwa permohonan mereka lebih cepat terpenuhi jika mereka berdoa dan memohon langsung kepada Allah Ta’ala. Hendaknya imam juga memperingatkan mereka akan bahaya kerusakan yang mungkin bisa menimpa mereka karena kebiasaan meminta didoakan dari orang lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Karena sesungguhnya ada 3 kerusakan pada meminta kepada makhluk, yaitu: kerusakan merasa berkebutuhan kepada manusia, dan ini termasuk dari jenis syirik. Dan kerusakan mengganggu orang yang diminta dan ini termasuk zhalim terhadap orang lain. Dan kerusakan ketiga adalah merendahkan diri kepda selain Allah, ini termasuk zhalim terhadap diri sendiri dan juga mencakup 3 jenis kezhaliman sekaligus. (Lih. Majmu’ Al-fatawa 1/190-191)

Maka hendaknya seorang imam menimbang antara kerusakan dan maslahatnya, dan hanya memenuhi permintaan orang kira-kira lebih baik jika dipenuhi.

Kedua: Bukan merupakan petunjuk Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat beliau untuk berdoa secara berjama’ah ketika ada orang yang meminta didoakan. Oleh karena itu, yang terbaik jika ada orang yang meminta didoakan, engkau mendoakannya tanpa berjama’ah, dan engkau mengajarkannya cara berdoa yang terbaik yaitu ia sendiri yang berdo’a kepada Allah. Tidak mengapa jika engkau meminta kepada para jamaah masjid untuk berdoa kepadanya secara sendiri-sendiri (bukan do’a jama’ah) dan yang lebih baik lagi jika mereka mendoakannya sewaktu orang yang didoakan tidak hadir, karena ini lebih terkabul.

Baca juga:  Bolehkah Membaca Doa dari Quran Ketika Ruku' dan Sujud?

Adapun jika hal darurat terjadi padanya, atau ia sedang ditimpa suatu musibah, kemudian ia meminta agar didoakan orang banyak, maka itu tidak mengapa, In Syaa Allah.

Adapun jika hal itu menjadi sebuah kebiasaan setiap ada musafir atau orang butuh didoakan, maka hal ini lebih dekat kepada perkara bid’ah daripada perkara yang disyari’atkan. Pada zaman Nabi Shallallahu’alaihiwasallam  sering terjadi orang sakit, orang musafir dan orang yang membutuhkan, tapi mereka tidak serta merta mendatangi Nabi Shallallahu’alaihiwasallam untuk didoakan. Dan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tidak pula mendoakan secara khusus untuk orang yang diketahui sakit atau membutuhkan, kecuali atas permintaan mereka. Ini menunjukkan bahwa menjadikan hal ini (meminta didoakan) sebuah kebiasaan seperti yang disebutkan diatas adalah perkara bid’ah atau lebih dekat kepada bid’ah daripada sunnah.

Wallahu’alam

Sumber: islamqa.info

Artikel lainnya: 

Siapa Yang Menciptakan Allah?

Pergi Umroh, Wajib atau Sunnah?

Penjelasan Ringkas Macam-macam Riba Dalam Islam