Hosting Unlimited Indonesia

Pengertian Penyakit Ain dan Apakah Hoax atau Fakta?

  • admin 
Pengertian penyakit ain dan apakah ain hoax

Pengertian Penyakit Ain dan Apakah Hoax atau Fakta? Mungkin sebagian kita sering mendengar tentang ‘Ain atau penyakit ‘ain, tapi cukup jarang yang mengetahui maknanya secara lebih mendalam.

Nah, kali ini kami termotivasi untuk sedikit mengulas tentang pengertian penyakit ‘ain, apakah hoax atau fakta, dan cara mencegah dan mengobatinya.

Pengertian Penyakit ‘Ain

‘Ain berasal dari kata bahasa arab عين (‘Ain) yang salah satu artinya menurut bahasa adalah mata. 

Adapun pengertian ‘Ain menurut istilah Islam adalah sebuah penyakit yang menimpa korban disebabkan oleh mata atau pandangan yang disertai rasa  kagum, kemudian rasa kagum itu berubah jadi andai-andai.

Ibnul Qayyim menjelaskan: “Asalnya ‘Ain adalah rasa kagum seseorang terhadap sesuatu, kemudian dari rasa kagum diikuti dengan angan-angan jiwa yang jelek, kemudian jiwa tersebut memanfaatkan pandangan untuk menghembuskan racunnya kepada sesuatu (orang/korban). Seseorang bisa jadi menimpakan penyakit ‘ain atas dirinya sendiri, bahkan seseorang bisa jadi menimpakan ain tanpa ia inginkan tapi karena tabi’atnya… (Zaadul Ma’aad, Ibnul Qayyim)

Penyakit ‘Ain Fakta Bukan Hoax

Sebelum mengatakan apakah penyakit ‘ain hoax atau tidak, kita perlu bertanya terlebih dahulu: apa yang menjadikan kita muslim?

Jawabannya simple yaitu karena kita beriman kepada Allah dan Rasul Nya, dan konsekwensi iman adalah tunduk dan patuh serta menerima segala yang datang dari Allah dan Rasul Nya dengan lapang dada.

Kita beriman berita-berita ghaib yang disebutkan di dalam Al-Quran dan Sunnah, kita beriman kepada Malaikat, hari akhir dan lainnya. Kita beriman terhadap sesuatu yang tidak kita lihat karena itulah konsekwensi iman.

Maka demikian juga halnya dengan masalah ‘ain. Rasulullah telah menyebutkan bahwa penyakit ‘ain itu benar adanya, maka kita sebagai orang beriman mendengar, patuh dan beriman kepada sabda beliau. Terlebih di dalam sejarah dulu dan kini, sudah banyak bukti kejadian orang yang mengalami efek ‘ain, maka ini adalah fakta yang bisa disaksikan.

Baca juga:  Pengertian Takabur, Hukum, Contoh dan Macam-Macamnya

Penyakit ‘ain benar adanya dan bukan hoax, ini berdasarkan dalil hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan juga realita dan pengalaman.

Tentu penyakit ain bisa menimpa seseorang atas idzin dan kehendak Allah Ta’ala, karena segala sesuatu di alam semesta tidak mungkin terjadi tanpa izin dari Nya.

Sebagai orang muslim yang beriman, kita wajib percaya segala sesuatu yang bersumber dari wahyu baik Al-quran maupun As-sunnah, karena percaya kepada wahyu adalah konsekwensi dari iman. Banyak dalil tentang adanya ‘ain, diantaranya firman Allah ta’ala,

وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. (QS. Al-Qalam: 51)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma dan lainnya ketika menafsirkan ayat ini mengatakan: “Bahwa mereka (orang-orang kafir) itu hampir menggelincirkanmu dengan ‘ain.”

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu haditsnya:

 العين حق ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

“Penyakit ‘ain adalah benar ada (haq), seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir maka akan didahului oleh ‘ain.” (HR. Muslim dalam sahihnya)

Berkata Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah :

Sebagian orang yang kurang perbendaharaan ilmu dan akalnya mengingkari perkara ‘ain dan mereka berkata bahwa penyakit ‘ain adalah halusinasi semata yang tidak ada realitanya. Mereka itu adalah orang yang paling bodoh mengenai dalil dan rasionalitas, paling tebal penghalangnya (untuk melihat suatu hakikat), paling bebal watak dan tabi’atnya dan paling jauh pengetahuannya mengenai ruh dan jiwa, sifat-sifatnya, perilaku dan pengaruhnya. Orang-orang  berakal dari berbagai suku bangsa meski berbeda agama dan keyakinannya tidak memungkiri adanya ‘ain meskipun mereka berbeda pandangan mengenai sebab dan cara ‘ain bisa berpengaruh. (Zaadul Ma’aad)

Baca juga:  4 Cara Menurunkan Berat Badan Dalam Seminggu

Penyebab dan Cara Penyakit Ain Menimpa Seseorang

Ada beberapa pendapat tentang bagaimana penyakit ‘ain bisa terkena pada seseorang. Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad nya menjelaskan:

Sebagian kelompok berpendapat: bahwa bila jiwa seseorang (pelaku) ‘ain berangan-angan buruk, maka muncul pada matanya suatu energi racun (kekuatan negatif) yang terhubung kepada korban (orang atau benda) sehingga ia terkena dampak buruk ‘ain. Menurut mereka, hal ini tidak mustahil terjadi seperti halnya ular yang dapat menyemburkan energi bisa atau racunnya yang dapat mengenai manusia dan membunuhnya. Hal ini telah dikenal pada suatu jenis ular yang dapat membunuh apabila matanya memandang manusia, demikian juga cara kerja orang yang memiliki ‘ain.

Kelompok lain mengatakan, bahwa tidak mustahil sebagian mata manusia dapat mentransfer (menyemburkan) partikel-partikel halus yang tidak kelihatan sehingga menimpa korban, lalu ia bercampur pada tubuh korban sehingga menyebabkan korban sakit.

Kelompok lainnya berpendapat pula: bahwa Allah telah menjadikan suatu hukum pada alam dimana  Dia menciptakan apa saja yang Ia inginkan berupa bahaya ketika pemilik ‘ain bertemu dengan korban tanpa harus ada suatu energi ataupun suatu sebab dan pengaruh sama sekali. Ini adalah pendapat kelompok yang mengingkari adanya sebab, energi dan pengaruh di alam semesta. Mereka ini telah menutup untuk diri mereka adanya sebab dan pengaruh, dalam hal ini mereka telah menyelisihi seluruh orang yang berakal.

Baca juga:  Arti Ihsan Menurut Bahasa dan Istilah, Tingkatan dan Contohnya

Tidak diragukan bahwa Allah telah menjadikan pada pada badan dan ruh suatu energi dan tabi’at yang bermacam-macam. Dan Ia menjadikan banyak diantaranya keistimewaan khusus dan suatu pengaruh. Tidak mungkin bagi orang yang berakal mengingkari pengaruh ruh pada tubuh, karena hal itu adalah sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan. Engkau bisa melihat bagaimana wajah seseorang menjadi sangat merah ketika ia dilihat orang yang ia sangat malu padanya, dilain sisi wajah seseorang bisa pucat kuning jika ia dilihat oleh orang yang ditakutinya. Orang-orang juga telah menyaksikan bagaimana sesorang bisa jatuh sakit dan kehilangan kekuatan (lemah) karena pandangan orang.

Ini semua terjadi melalui pengaruh ruh (jiwa) dan kuatnya hubungan ruh dengan mata sehingga aktifitas tersebut dinisbahkan kepada mata (‘‘ain) padahal pada dasarnya ini terjadi bukan karena mata, melainkan karena pengaruh dari ruh. Dan ruh-ruh sendiri berbeda-beda karakternya, energinya, kaifiyat dan ciri khususnya. Ruh  yang iri dan dengki sangat jelas pengaruhnya kepada korban, (Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim)

Referensi: https://islamqa.info

Artikel berikutnya: