Hosting Unlimited Indonesia

Pengertian Takabur, Hukum, Contoh dan Macam-Macamnya

  • admin 
Pengertian Takabur, Hukum, Contoh dan Macam-Macamnya

Pada artikel ini kita akan mengulas tentang arti kata dan pengertian takabur menurut bahasa dan istilah, hukum takabbur, contoh dan macam-macamnya.

Arti dan Definisi Takabur dalam Islam

Takabur atau takabbur (تَكَبُّر) secara bahasa artinya membesarkan diri atau merasa diri besar dan agung atau disebut juga dengan sombong. Kata takbur berasal dari akar  kata yang sama dengan akbar (paling besar), misal contoh kalimat “Allahu Akbar” (Allah maha besar). Kata lain yang digunakan untuk makna sombong selain takabur adalah kibr.

Lalu apa pengertian takabbur atau sombong menurut Islam? hal ini telah dijawab sendiri oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقالُ ذرة من كبر.  قال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسناً ونعله حسنةً. قال: إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس – رواه مسلم

“Tidak masuk surga orang yang memiliki keseombongan meskipun sekecil atom di hatinya”, seseorang bertanya, “sungguh seseorang suka dengan pakaian indah dan sandal indah.” Beliau besabda, “Seungguhnya Allah maha indah dan menyukai keindahan, kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Maka, menurut hadits diatas kesombongan dalam Islam tidak dinilai dan diukur dari tampilan, melainkan dinilai dari hati dan sikap seseorang dalam menerima atau menolak kebenaran, dan juga pandangannya terhadap sesama manusia.

Hukum Takabur/Sombong

Takabaur/sombong dalam islam hukumnya haram dan dosa besar. Sombong termasuk akhlak buruk dan orang yang memiliki kesombongan di dalam hatinya meskipun sangat kecil, sekecil partikel atau (dzarrah) ia tidak akan masuk surga sebagaimana yang ditegaskan didalam hadits Nabi diata.

Baca juga:  Arti Kata Ghibah dan Namimah Menurut Bahasa dan Istilah

Sifat sombong hanya layak dimiliki oleh raja segala raja, sang pencipta, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Makhluk ciptaan siapapun mereka tidak patut untuk sombong, karena pada hakikatnya, makhluk tidak memiliki suatu apapun. Apa yang dimiliki manusia berupa harta, kekuatan, kekuasaan, keluarga, bahkan hidupnya, pada dasarnya adalah milik Allah yang ditipkan pada manusia untuk ujian mereka.

Maka dari itu, manusia sebesar apapun pangkatnya di dunia tidak berhak untuk menyombongkan dan meninggikan diri terhadap kebenaran dan merendahkan manusia yang lain.

Banyak sekali dalil baik di dalam Al-quran maupun As-sunnah mengenai haramnya sifat  takabbur atau sombong, bentuk-bentuknya, ancamannya dan contoh orang sombong yang dibinasakan oleh Allah.

Dalam hadits qudsi (1) disebutkan,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ ‏”‏

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘kesombongan adalah selendang Ku dan keagungan dan kebesaran adalah kain Ku, barangsiapa yang mencabutnya salah satunya dari Ku, niscaya aku campakkan ia kedalam Neraka.'” (HR. Abu Dawud dan lainnya, dan ini adalah lafadz abu Dawud)

Sombong adalah dosa yang paling buruk dan merupakan dosa yang paling pertama dilakukan di langit oleh Iblis ketika ia enggan diperintah oleh Allah bersujud kepada Adam karena kesombongan dan kedengkiannya kepada Adam, seperti dalam firman Allah azza wa jalla,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.  (QS. Al-Baqarah: 34)

Baca juga:  Pengertian dan Arti Dinul Islam

Sifat sombong adalah sifat yang paling dibenci dan tidak disukai oleh Allah, bahkan penghuni neraka adalah mereka yang notabene orang-orang sombong yang tidak mau menerima kebenaran dari Allah dan mereka yang merendahkan manusia semasa di dunia seperti Fir’aun, Qarun, Namrud dan selain mereka. Allah Ta’ala berfirman,

إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٌ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ

Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.

لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. An-nahl: 22-23)

Macam-Macam Bentuk takabur dan Contohnya

Banyak macam bentuk sombong atau takabbur yang intinya berporos pada merasa diri tinggi dan lebih besar sehingga tidak mau menerima kebenaran setelah kebenaran itu jelas baginya, dan juga merasa dirinya lebih tinggi dari manusia yang lain.

Di dalam Al-quran, Allah banyak menyebutkan contoh orang sombong dan kehancuran mereka untuk menjadi pelajaran bagi kita agar tidak berlaku sombong sehingga kita hancur seperti hancurnya mereka.

Diantara contoh orang sombong yang paling terdepan adala Iblis, ia adalah pemimpin orang-orang sombong. Awalnya Iblis bertempat tinggal di langit bersama para Malaikat, ia dahulu termasuk ahli ibadah. Namun, semua itu berubah ketika Allah memerintahkan seluruh Malaikat termasuk Iblis untuk sujud menghormat kepada Adam ‘alaihissalam. Iblis enggan untuk sujud, menurutnya ia tidak pantas bersujud kepada Adam, karena ia terbuat dari api sedangakan Adam dari tanah. Menurutnya api lebih baik dari tanah yang rendahan.

Baca juga:  Arti Kata Takjil Secara Bahasa dan Istilah

Ketika  iblis enggan sujud kepada Adam, saat itu ia telah mengumpulkan berbagai bentuk kesombongan. Pertama ia telah menolak kebenaran, dengan menolak perintah dan titah Allah ta’ala, karena kebenaran datangnya dari Allah ta’ala. Kedua ia menganggap rendah dan remeh Nabi Adam ‘alaihissallam dan merasa diri lebih tinggi dan lebih baik dari Adam tanpa hak dan otoritas sama sekali.

Akibat dari kesombongan Iblis tersebut, Allah menvonisnya untuk berada kekal di Neraka Jahannam dan diusir dari surga Allah. Namun, atas permintanya yang terakhir, Iblis diberi tangguh oleh Allah sampai hari kiamat untuk menyesatkan manusia, anak keturunan Adam. Karena selain sombong, Iblis juga menyimpan dendam kesumat dan hasad (kedengkian) kepada Adam dan anak cucunya. Allah mengizinkan permintaan Iblis tersebut, sekaligus sebagai ujian kepada manusia selama di dunia.

 

Catatan Kaki:

(1) Hadits qudsi adalah firman Allah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan redaksinya juga dari beliau. Berbeda dengan Al-Quran, hukum membaca hadits qudsi tidak seperti membaca Al-quran.

Referensi: