jual kurma curah impor dari uni emirat arab (UAE) grosir

Pengertian Talfiq dalam Istilah Fiqih dan Hukum Boleh atau Tidaknya

pengertian talfiq, hukum dan contohnya dalam fiqh

Talfiq adalah salah satu istilah dalam ilmu fiqh yang secara sederhana memiliki pengertian: mencari pendapat (ijtihad) fiqih para ulama antar madzhab maupun dalam madzhab yang sama untuk membolehkan perbuatan tertentu yang memiliki beberapa sisi, dimana perbuatan ini jika ditinjau dari keseluruhannya merupakan perbuatan batil atau haram disisi para ulama.

“Hakikat talfiq dalam taqlid madzhab-madzhab adalah bahwa seorang muqallid madzhab tertentu mencoba untuk memilih pendapat dalam satu masalah yang memiliki dua atau banyak cabang yang saling berkaitan, dengan cara yang tidak dibenarkan menurut pendapat madzhab yang ia ikuti.” (Ketetapan Majma’ Fiqhi, muktamar ke 8)

Contoh talfiq: Seseorang yang telah berwudhu kemudian  ia menyentuh wanita asing, disaat yang sama ia memiliki luka yang mengeluarkan darah ditangannya. Wudhu tersebut tidak sah menurut madzhab syafi’i dan hanafi, karena menurut syafi’iyah menyentuh wanita asing membatalkan wudhu dan menurut hanafiyah, keluarnya darah membatalkan wudhu.

Tapi wudhu tersebut mungkin dicari celahnya agar sah (tidak batal) dengan cara mentalfiq antara dua madzhab tersebut. Karena syafi’iah menganggap bahwa keluarnya darah tidak membatalkan wudhu, sedangkan hanafiah memandang menyentuh wanita asing tidak membatalkan wudhu.

Berdasarkan dua pendapat ini maka wudhu tersebut sah, meskipun masing-masing dari kedua madzhab tersebut menganggap tidak sahnya wudhu tersebut jika dilihat dari kasusnya secara utuh.

Baca juga:  Hukum Menolak Lamaran Laki-laki Idaman?

Hukum Talfiq

Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya melakukan talfiq, pendapat yang kuat (menurut kami) adalah bolehnya talfiq, kecuali jika talfiq tersebut mengakibatkan mafsadah (kerusakan) maka pada saat itu talfiq terlarang.

Talfiq terlarang jika:

  • Hanya dalam rangka mencari kemudahan sesuai keinginan nafsu, atau tidak cukupnya syarat dalam kaidah mengambil kemudahan;
  • Talfiq tersebut mengakibatkan batalnya hukum qadha
  • Mengakibatkan batalnya apa yang sedang ia amalkan berdasarkan taqlid dalam satu waktu
  • Mengakibakan batalnya ijma’ 
  • Mengakibatkan masalah komplikasi yang tidak dibenarkan oleh seorangpun dari ulama mujtahid.

Namun, apabilah seorang alim berijtihad dalam suatu hukum dan ia sampai pada kesimpulan hukum yang mulaffaq (menggabungkan) dari berbagai madzhab, maka hal ini dibolehkan, karena ia sampai pada kesimpulan hukum tersebut dengan cara meneliti dan membandingkan dalil-dalil bukan karena taqlid kepada ulama tertentu dan bukan pula karena niat ingin  melakukan talfiq. Contohnya adalah masalah wudhu yang telah kita sebutkan diawal pembahasan ini. Apabila seseorang sampai pada kesimpulan hukum sahnya wudhu tersebut dari hasil ijtihadnya meneliti dalil, maka hal itu tidak mengapa dan tidak terlarang.

 

 


Referensi:

https://islamqa.info/ar/answers/218154/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%84%D9%81%D9%8A%D9%82-%D8%A8%D9%8A%D9%86-%D8%A7%D9%82%D9%88%D8%A7%D9%84-%D8%A7%D9%87%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85