Hosting Unlimited Indonesia

Penjelasan Ringkas Sebab Perbedaan Pendapat antar Madzhab Fiqh dalam Islam

  • admin 
Penjelasan Ringkas Sebab Perbedaan Pendapat antar Madzhab Fiqh dalam Islam

Ketika membahas masalah fiqh, kita sering menjumpai perbedaan pendapat diantara 4 madzhab dalam Islam. Kadang dalam satu masalah terdapat beberapa pendapat yang berbeda, bahkan dalam madzhab yang sama sekalipun, tidak jarang terdapat perbedaan pendapat dari ulama atau tokoh madzhab tersebut.

Maka sangat normal jika kita bertanya-tanya, apa gerangan latar belakang yang menyebabkan perbedaan perndapat tersebut? bukankah dalil yang digunakan sama, yaitu Al-Quran dan Sunnah?

Pada tulisan kali ini kami akan mencoba menjelaskan secara ringkas sebab terjadinya perbedaan pendapat dalam fiqh antar madzhab yang empat. Semoga dengan penjelasan singkat ini membuka sedikit wawasan kita tentang masalah perbedaan pendapat dalam fiqh dan liku-likunya.

Perbedaan Pendapat Masalah Fiqh Sudah Terjadi Sejak Zaman Sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat dalam masalah fiqh bukanlah hal yang baru terjadi pada masa imam madzhab yang 4, melainkan perbedaan pendapat (khilaf/ikhtilaf) ini telah terjadi sejak zaman Sahabat, bahkan telah terjadi sejak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam masih hidup.

Hal ini seperti tergambarkan dalam sebuah hadits yang sering dibawakan oleh para ulama ketika membahas tentang perselisihan pendapat para ulama. Berikut haditsnya:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنَ الأَحْزَابِ ‏ “‏ لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ ‏”‏‏.‏ فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمُ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا، وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ‏.‏ فَذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ‏.‏

Dari Ibnu ‘Umar ia berkata, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada kami ketika beliau kembali dari (perang) Ahzab, “Janganlah kalian sholat ‘Asar kecuali di (kampung) Bani Quraizhah.” (1) Maka ketika waktu ‘Asar tiba sedangkan mereka masih di perjalanan, maka sebagian mereka berkata, “kita tidak boleh sholat sampai kita tiba disana”, dan sebagian lainnya berkata, “bahkan kita sholat sekarang, beliau (Nabi) tidak menginginkan kita hal demikian”. Maka hal (perselisihan) itu diadukan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan beliau tidak bersikap keras kepada salah satu pihakpun dari mereka. (HR. Bukhari: 946)

Baca juga:  Arti dan Makna Kata Qiyas

Hikmah Perselisihan Pendapat Ulama dalam Fiqh

Kisah perselisihan sahabat dalam hadits diatas menjadi salah satu dasar hukum bahwa perbedaan pendapat bukanlah hal yang tercela, asalkan perbedaan itu didasari dengan dalil dan cara berdalil yang benar sesuai manhaj yang telah dirumuskan ulama Ahlus sunnah wal jama’ah.

Dalam hadits diatas, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  tidak mencela dan tidak pula membenarkan maupun menyalahkan salah satu pihak dari Sahabat tersebut. Karena kedua-duanya berpatokan pada sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, namun mereka berbeda dalam memahami teks perkataan beliau shallallahu’alaihi wa sallam .

Satu pihak memahami teks secara harfiah, bahwa mereka tidak boleh sholat ‘Asar kecuali setelah sampai di perkampungan Bani Quraizhah meskipun waktu asar telah masuk ditengah perjalanan. Sedangkan sebagian lainnya memahami bahwa Nabi menginginkan mereka agar bergegas dalam perjalanan sehingga sampai di Bani Quraizhah tepat di waktu ‘Asar, beliau tidak bermaksud bahwa kita tidak boleh sholat meskipun waktu ‘Asar telah masuk ketika masih dalam perjalanan.

Sikap Nabi shallallahu’alaihi wa sallam  yang tidak menyalahkan mereka adalah indikasi bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang sah saja, dan ini juga merupakan salah satu bentuk rahmat Allah kepada kaum Muslimin bahwa Allah tidak mewajibkan mereka hanya berpatokan pada satu pendapat, dan memberi ruang kepada ulama untuk berijtihad menggali kesimpulan hukum dari dalil-dalil yang ada.

Bahkan jika seorang ulama Mujtahid telah berusaha menggali hukum dari dalil yang ada, kemudian keputusan hukumnya ternyata salah, ia akan tetap mendapat pahala dari usahanya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

“‏إذا حكم الحاكم، فاجتهد، ثم أصاب، فله أجران، وإن حكم واجتهد، فأخطأ، فله أجر‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

“Apabila seorang hakim (ulama/mujtahid) memutuskan hukum, setelah berusaha keras (berijtihad) kemudian hukumnya tersebut benar, maka ia mendapat dua pahala, dan jika ia memutuskan hukum setelah berijtihad, kemudian ternyata hukumnya salah, maka ia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim, Riyadhus-sholihin)

Baca juga:  Ijma': Pengertian, Defenisi, Syarat dan Pembagiannya

Dengan dibukanya pintu bagi ulama yang telah memenuhi syarat dalam berijtihad maka Islam telah memberi ruang bagi ummat untuk berpikir dan mengerahkan seganap  kemampuan akal mereka dalam menentukan hukum yang paling dekat kepada kebenaran berdasarkan dalil-dalil yang ada. Akal pikirian yang terlatih adalah kunci untuk tumbuh dan berkembangnya suatu peradaban.

Ada banyak lagi hikmah yang dapat dipetik dalam perselisihan pendapat para ulama dalam masalah fiqh, tapi kami kira beberapa hal yang kami sebutkan diatas sudah cukup mewakili.

Sebab Terjadinya Perselisihan Pendapat Ulama dalam Masalah Fiqh

Secara ringkas, sebab terjadinya khilaf ulama mujtahid dalam masalah hukum fiqh dapat digolongkan dalam 3 kategori, yaitu:

Pertama: perbedaan pendapat disebabkan karena riwayat sunnah/hadits, hal ini mencakup diantaranya:

  • Kurangnya telaah/penyelidikan sebagian mujtahid terhadap hadits tertentu
  • Perbedaan dalam mensahihkan hadits
  • Lupa terhadap hadits

Kedua: Perbedaan sudut pandang atau kemampuan memahami antara para mujtahid dalam suatu masalah, diantaranya:

  • Perbedaan para mujtahid dalam memahami teks dalil
  • Perbedaan para mujtahid dalam mengambil kesimpulan hukum pada masalah yang tidak ada teks dalilnya secara eksplisit (nyata/jelas).
  • Perbedaan para mujtahid dalam mengkompromikan atau mentarjih (2) diantara teks dalil yang tampaknya bertentangan.
  • Perbedaan para mujtahid dalam kaidah-kaidah ushul (pokok)

Ketiga: Perbedaan yang disebabkan oleh bahasa, diantara sebab utamanya:

  • Perkongsian kata, dimana satu kata yang sama bisa memiliki dua atau lebih makna yang saling berseberangan.
  • Perbedaan dalam memahami suatu lafadz apakah majaz (kiasan) atau hakikat (harfiah)
  • Perbedaan dan Qira’at (Quran)
Baca juga:  Hukum Taklifi: Pengetian, Pembagian dan Penjelasannya

Nah, demikian penjelasan ringkas mengenai sebab-sebab perselisihan para ulama, baik antar madzhab maupun antar ulama dalam satu madzhab.

Ini hanyalah penjelasan ringkas semata untuk membuka sedikit wawasan kita kepada dinamika hukum fiqh Islam, jika Anda ingin mengerti hal ini secara lebih mendalam, Anda dapat mempelajarinya di kitab-kitab ushul fiqh atau kitab-kitab yang membahas perbandingan madzhab fiqh.

 

Catatan kaki:

(1) Bani Quraizhah adalah salah satu suku Yahudi yang tinggal di Madinah. Setelah perang Ahzab (perang Khandaq) selesai, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengutus sebagian sahabatnya ke kampung Bani Quraizhah untuk menghukum mereka, karena mereka telah terbukti mengkhianati perjanjian damai dengan Nabi dan kaum Muslimin dengan membantu pihak kafir yang tergabung dalam sekutu (Ahzab) pada perang Ahzab/Khandaq.

Perang khandaq sendiri dimenangkan oleh kaum muslimin tanpa perlawanan dari pihak musuh atas bantuan Allah yang mengirimkan angin puting beliung yang memporak-porandakan kemah dan basecamp mereka yang berada diseberang khandaq (parit) yang digali oleh Nabi dan para sahabat beliau. 

(2) Tarjih adalah menentukan mana dalil yang paling kuat diantara dua dalil yang kelihatannya saling bertentangan.


referensi:  https://www.aliftaa.jo/Research.aspx?ResearchId=80#.Xj1rxmkxeyU