Hosting Unlimited Indonesia

Sholat Dhuha: Waktu, Cara Pelaksanaan, Keutamaan dan Manfaatnya dengan Dalil

  • admin 
waktu pagi dhuha setelah matahari terbit sepanjang tombak

Sholat dhuha adalah salah satu sholat sunnah (nafilah) muakkadah(1) yang dikerjakan di waktu dhuha dan memiliki banyak keutamaan. Pada artikel ini kami akan mengulas tentang sholat dhuha, yang mencakup waktunya, tata cara pelaksanaan, keutamaan dan manfaatnya. Demikian juga doa dan dzikir setelah sholat dhuha, dilengkapi dengan dalil-dalilnya. Selamat membaca.

Waktu Pelaksanaan Sholat Dhuha

Waktu sholat dhuha dimulai ketika matahari telah terbit dan telah meninggi setinggi tombak. Sholat dhuha disebut juga dengan sholat isyraq/syuruq apabila dikerjakan di awal waktunya (yaitu ketika matahari telah meninggi seukuran tombak).

Waktu yang paling baik untuk pelaksanaan sholat dhuha adalah ketika matahari telah mulai memanas. Sholat di waktu ini dinamakan juga dengan sholat awwabin. Hal ini sesuai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

صلاة الأوابين حين ترمض الفصال – رواه مسلم  748 

“Sholat awwabin (orang-orang yang banyak bertaubat dan kembali ta’at) adalah ketika anak-anak unta mulai kepanasan.” (HR. Muslim: 748)

Waktu terbaik pelaksanaan sholat dhuha ini diperkirakan oleh ulama, adalah waktu pertengahan antara  terbitnya matahari dan awal waktu zhuhur. Mungkin sekitar pukul 9 sampai dengan 10 waktu Indonesia barat (WIB), tentunya berbeda daerah berbeda pula waktu.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “(Waktu dhuha) dimulai ketika matahari telah meninggi setinggi tombak, yakni sekitar 20 atau 30 menit setelah matahari terbit, (dan berakhir) sampai beberapa saat sebelum matahari tergelincir(2), sekitar 5 sampai 10 menit saja.” (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 14/306)

Penting: tidak boleh melakukan sholat ketika matahari baru terbit sampai meninggi setinggi tombak, karena waktu ini adalah waktu terlarang untuk sholat.

Jumlah Rak’atnya

Jumlah raka’at sholat dhuha minimal dua rak’at dan maksimalnya tidak dibatasi, maka boleh dilakukan empat raka’at, enam raka’at, delapan raka’at dan seterusnya. Dalilnya:

روى مسلم (1176) من حديث عائشة رضي الله عنها ، أنها قالت : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ 

Diriwayatkan oleh Muslim ( hadits nomor 1176) dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha, bahwasanya beliau berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah sholat dhuha empat raka’at, dan beliau menambahnya sebanyak yang dikehendaki Allah.”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

Baca juga:  Apakah Do'a Iftitah Dibaca pada Setiap Raka'at Tarawih atau Cukup di Raka'at Pertama saja?

“Sholat dhuha paling sedikit dua raka’at, jika ingin dilakukan empat, enam, delapan raka’at dan seterusnya, maka tidak mengapa, sesuai kemampuan, dan tidak ada batasan maksimal rak’at dhuha.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 11/399)

Tata Cara Sholat Dhuha

Tata cara pelaksanaan sholat dhuha tidak berbeda dari cara pelaksanaan sholat sunnah pada umumnya, hanya saja ia dilakukan pada waktu dhuha. Sholat ini minimal dilakukan dua raka’at. Jika anda ingin melakukan lebih dari dua raka’at, maka dilakukan dengan salam setiap selesai dua rak’at, seperti sholat tahajjud atau tarawih.

Keutamaan dan Manfaat

Banyak kelebihan, keutamaan dan manfaat sholat dhuha. Berikut beberapa keutamaan dan manfaat sholat ini dilengkapi dengan dalil haditsnya.

Sholat Dhuha adalah Sedekah

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ( يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى – رواه مسلم :1181

Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: “Di pagi hari ada sedekah yang harus ditunaikan oleh setiap persendian kalian. Setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan Lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu akbar) adalah sedekah, menyuruh (mengajak) pada kebaikan adalah sedekah dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat tercukupi dengan melaksanakan dua raka’at dari sholat dhuha.” (HR. Muslim: 1181)

Menjaga Wasiat Nabi

Sholat dhuha adalah diantara wasiat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang tidak seharusnya disia-siakan. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ :  أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Dari Abu Hurairah Radhiyallallahu’anhu ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) telah mewasiatkan padaku dengan tiga hal yang tidak akan aku tinggalkan sampai aku mati, yaitu: puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dan tidur dalam keadaan telah sholat witir .” (HR. Bukhari 1178 dan Muslim 721)

Baca juga:  Apakah Do'a Iftitah Dibaca pada Setiap Raka'at Tarawih atau Cukup di Raka'at Pertama saja?

وعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه قَالَ : ( أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ : بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلَاةِ الضُّحَى ، وَبِأَنْ لَا أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ ) رواه مسلم 1183

Dan dari Abu Darda radhiyallallahu’anhu berkata: “Kekasihku shallallahu’alaihi wa sallam mewasiatkanku dengan 3 perkara dimana aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup: yaitu agar berpuasa 3 hari di setiap bulan, sholat dhuha dan agar aku tidak tidur sampai aku mengerjakan sholat witir.” (HR. Muslim 1183)

Sholat Awwabin

Ada beberapa makna Awwabun atau awwabin, namun inti kalimat ini menunjuk kepada orang-orang yang banyak keta’atannya dan selalu kembali kepada Allah.

Sholat dhuha sendiri disifatkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai sholat awwabin, sebagaimana sabdanya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين ) رواه ابن خزيمة ، وحسنه الألباني في “صحيح الترغيب والترهيب” (1/164)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullallah shallallahu’alaihi wa sallam  bersabda: “Tiada yang menjaga sholat dhuha kecuali awwab, dan ia adalah sholat orang-orang awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah. Hadits ini disahihkan oleh Al-Albani didalam kitab Shahih At-targhib wa At-tarhib 1/164)

Mendapatkan Pahala Seperti Haji dan Umroh yang Sempurna

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ ، وَعُمْرَةٍ ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ) رواه الترمذي برقم (586) ، وحسنه الشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح سنن الترمذي” 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda: “Barangsiapa yang sholat di pagi hari (sholat fajar/subuh) secara berjama’ah, kemudian ia duduk untuk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, kemudian ia sholat dua raka’at, maka baginya pahala seperti pahala sekali haji dan umroh yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. At-tirmidzi no. 586, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah didalam shahih sunan At-tirmizdi)

Baca juga:  Apakah Do'a Iftitah Dibaca pada Setiap Raka'at Tarawih atau Cukup di Raka'at Pertama saja?

Do’a dan Dzikir Sholat Dhuha

Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad 1/619 dan disahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ‏:‏ صَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الضُّحَى ثُمَّ قَالَ‏:‏ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، حَتَّى قَالَهَا مِئَةَ مَرَّةٍ‏

Dari ‘Aisyah radhiyallallahu’anha berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah sholat dhuha, kemudian beliau berdoa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau maha menerima taubat lagi maha penyayang.”

Selain itu, sejauh telaah kami, tidak terdapat dalil tentang do’a dan dzikir khusus setelah sholat dhuha, akan tetapi seseorang boleh memanjatkan doa apa saja yang ia inginkan selama isinya tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturrahim. Namun, tetaplah doa yang paling baik adalah do’a yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Catatan Kaki:

(1) Sunnah Muakkad (muakkadah) ialah sunnah yang sangat dianjurkan dan ditekankan, dan hukumnya mendekati wajib.

(2) Zawal atau tergelincirnya matahari adalah adalah istilah syar’i untuk menunjukkan waktu ketika matahari berada tepat ditengah langit antara timur dan barat dan mulai condong (beranjak) ke arah barat, dan bayangan suatu benda mulai condong ke timur. Waktu zawal menandakan masuknya waktu sholat zhuhur.

Referensi: