Hosting Unlimited Indonesia

Sholat Witir Wajib atau Sunnah?

  • admin 
hukum sholat witir wajib atau sunnah

Mungkin sebagian kita merasa aneh dengan pertanyaan hukum sholat witir wajib atau sunnah? karena selama ini yang kita ketahui bersama bahwa sholat witir hukumnya sunnah, dan sebagian kita mungkin tidak pernah mendengar bahkan opini tentang wajibnya sholat witir.

Tapi, tahukah Anda, ternyata ada satu madzhab dari madzhab yang empat yang berpendapat bahwa sholat witir hukumnya wajib?

Madzhab yang berpendapat wajibnya hukum sholat witir adalah madzhab Hanafi.

Menurut madzhab Abu Hanifah, sholat witir hukumnya wajib sama seperti sholat 5 waktu yang tidak boleh ditinggalkan.

Dalil wajibnya sholat witir menurut madzhab Hanafi, diantaranya adalah sebagai berikut:

Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Witir adalah haq, barangsiapa yang tidak melaksanakan witir, maka bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Dawud: 1419)

حديث عمرو بن العاص رضي الله عنه خطب الناس يوم الجمعة فقال: أن أبا بصرة حدثني أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:”إن الله زادكم صلاة وهى الوتر فصلوها فيما بين صلاة العشاء إلى صلاة الفجر

 Hadits yang diriwayatkan oleh Amr bin Al ‘Ash radhiyalllahu’anhu, bahwasanya ia pernah berkhutbah di hari Jum’at, lalu berkata, bahwasanya Abu Bashrah menceritakan kepadaku, bahwasnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda. “Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian sebuah sholat yaitu witir, maka kerjakanlah sholat ini pada waktu diantara sholat ‘Isya dan sholat Fajr (subuh).” (HR. Imam Ahmad di dalam Musnadnya)

Hanafiah berpendapat bahwa hadits diatas adalah perintah, dan perintah menunjukkan kewajiban.

Pendapat Mayoritas Ulama Bahwa Witir Hukumnya Sunnah Muakkad, Bukan Wajib

Sementara madzhab Hanafi berpendapat wajibnya sholat witir, mayoritas ulama lainnya berpendapat bahwa sholat witir hukumnya sunnah muakkad (1)

Mereka membantah pendapat madzhab hanafi yang mengatakan wajibnya sholat witir.  Bahwa dalil yang mereka gunakan lemah (dhaif), dan bahwa tidak semua perintah itu berarti wajib, tergantung qarinah (indikasinya). Sekalipun jika shahih, tidak serta merta menjadikan sisi pendalilan mereka benar, terutama ada dalil-dalil yang lain yang lebih sahih dan jelas yang bertentangan dengan pendapat mereka.

Baca juga:  Apakah Sah Shalat Tidak Memakai Mukena

Ada banyak hadits yang sahih yang menguatkan pendapat jumhur  (mayoritas) bahwa hukum sholat witir sunnah muakkad dan bukan wajib, diantaranya:

Hadits #1

حديث طلحة بن عبيد الله رضي الله عنه في الأعرابي الذي سأل النبي صلى الله عليه وسلم عما فرض عليه في اليوم والليلة، “فقال: خمس صلوات، فقال: هل عليَّ غيرها؟ قال: لا، إلا أن تطوع شيئاً

Hadits Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu’anhu, bahwa ada  seorang Arab badui yang bertanya kepada Nabi shallahu’alaihi wa sallam tentang apa yang diwajibkan kepadanya dalam sehari semalam, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, “engkau mengerjakan lima sholat”, kemudian ia bertanya kembali, “adakah yang lain selain itu?”, beliau menjawab,Tidak, kecuali jika engkau ingin mengamalkan suatu amalan tathawwu’ (sunnah/anjuran).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits #2

ما رواه النسائي وغيره عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “خمس صلوات كتبهن الله على العباد، فمن جاء بهن لم يضيع منهن شيئاً استخفافاً بحقهن، كان له عند الله عهد أن يدخله الجنة، ومن لم يأت بهن فليس له عهد عند الله، إن شاء عذبه، وإن شاء أدخله الجنة”

An Nasa’i dan lainnya meriwayatkan dari ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu’anhu bahwa ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam  bersabda: “Ada lima sholat yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-hamba Nya, barangsiapa yang mengerjakannya dan tidak melalaikan satupun darinya karena menganggap remeh terhadap hak-haknya, maka ia telah memegang janji dari Allah bahwa ia akan dimasukkan surga, dan barangsiapa yang tidak mengerjakannya maka ia tidak mendapatkan janji Allah tersebut, jika Allah berkehendak niscaya Dia mengazabnya, dan jika Dia berkehendak niscaya Dia memasukkannya ke surga.” (HR. An-Nasa’i: 322)

Baca juga:  Hukum Sholat Pakai Sarung tanpa Celana Dalam

Perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

عن علي رضي الله عنه أنه قال: “الوتر ليس بحتم كهيئة المكتوبة ولكنه سنة سنها صلى الله عليه وسلم”

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata: “Witir bukanlah wajib seperti sholat wajib (5 waktu) akan tetapi ia sunnah yang disunnahkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. An-Nasa’i: 1676, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Kesimpulan

Dari dalil-dalil yang dikemukakan tampak jelas bahwa yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa sholat witir hukumnya sunnah muakkad, bukan wajib seperti yang dikatakan oleh golongan madzhab hanafi.

Mayoritas ulama sepakat bahwa sholat witir hukumnya sunnah muakkad, ini artinya kita harus memprioritaskan sholat witir dalam pelaksanaannya sebelum sholat-sholat sunnah yang lain. Tapi, tentu idealnya kita harus berusaha mengerjakan semua atau mayoritas sunnah-sunnah yang ada tanpa tebang pilih. Tapi dari segi prioritas maka sunnah muakkad harus diprioritaskan seperti sholat witir ini.

Bahkan orang yang meninggalkan sholat witir sama sekali dianggap oleh sebagian ulama sebagai orang yang buruk, Imam Ahmad berkata:

“من ترك الوتر عمداً فهو رجل سوء ولا ينبغي أن تقبل شهادته”

“Barangsiapa yang meninggalkan sholat witir dengan sengaja maka ia adalah seorang yang berperilaku buruk dan tidak layak diterima kesaksiannya.” (Al-Mughni 2/594)

 

Demikian tulisan ini kami susun, semoga kita diberi tawfiq oleh Allah Ta’ala untuk mengamalkan sholat witir dan sunnah-sunnah lainnya, terutama sunnah muakkad, setelah menyempurnakan amalan-amalan wajib.

Baca juga:  Pengertian Talfiq dalam Istilah Fiqih dan Hukum Boleh atau Tidaknya

 


catatan kaki:

(1) Sunnah muakkad /muakkadah adalah sunnah yang sangat ditekankan dan dianjurkan. Kedudukan sunnah muakkad dibawah kedudukan wajib. Para ulama menentukan sebuah hukum sunnah muakkad dengan melihat kepada dalil yang memerintahkan atau menganjurkannya. Jika dalil perintahnya sangat kuat tapi tidak mencapai derajat wajib maka suatu amalan dikategorikan sebagai sunnah Muakkad. Contoh sunnah muakkad seperti sunnah bersiwak terutama ketika hendak sholat, sholat witir, dll.

Secara prioritas pengerjaannya, sunnah muakkad harus didahulukan setelah yang wajib daripada sunnah yang tidak muakkad jika terjadi pertentangan antara keduanya.

Referensi: