Hosting Unlimited Indonesia

Benarkah ada Tiga Tingkatan Orang Puasa yang Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali?

Benarkah ada Tiga Tingkatan Orang Puasa yang Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali

Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa puasa memiliki 3 tingkatan, yaitu: puasa awam, puasa khusus, dan puasa paling khusus.Adapun puasa awam/umum adalah menahan perut dan kemaluan dari syahwat, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya. Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan segenap anggota tubuh dari perbuatan dosa. Adapun puasa paling khusus adalah puasanya hati dari ambisi rendahan, pemikiran-pemikiran duniawi dan menahan hati secara total dari memikirkan selain Allah ‘Azza wa jalla.” (Ihya ‘Ulumuddin 1/234)

Pertanyaan:

Apakah benar ada pembagian tiga tingkatan orang yang berpuasa seperti yang disebutkan oleh Al-Ghazali diatas?

Jawaban: 

Pembagian seperti itu benar adanya bahwasanya ada perbedaan level orang dalam berpuasa. Orang yang beriman hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan puasa sepenuhnya sebagaimana yang dituntut oleh Allah.

Bukanlah maksud dari pembagian tersebut bahwa orang awam memiliki puasa sendiri dan orang khusus memiliki puasa tersendiri, akan tetapi semua orang islam dituntut untuk menjalankan puasa sesempurna dan sebaik mungkin. Akan tetapi sunnatullah tetap berlaku bahwa dalam hal itu manusia berbeda-beda sebagaimana perbedaan mereka dalam mendirikan sholat dan merealisasikan khusyu’ didalamnya.

Baca juga: Benarkah Rokok Tidak Membatalkan Puasa?

Benarkah ada Tiga Tingkatan Orang Puasa yang Disebutkan oleh Imam Al-Ghazali?

Makna dari pembagian yang disebutkan oleh imam Ghazali tersebut benar ada, kaum muslimin berdeda-beda dalam realisasi puasa mereka. Sebagian orang ada yang berpuasa sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak tidak berhubungan badan, tapi masih melakukan ghibah (gosip), namimah (adu domba), dusta. Masih mau melihat yang haram, mendengar nyanyian dan musik, dan sebagainya. Ini adalah model puasa yang kurang dan lemah.

Baca juga:  Penjelasan Lengkap Zakat Fitrah, Hukum, Ketentuan dan Dalilnya

Mengenai ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsipa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram, dan perilaku bodoh, maka Allah tidak memiliki kebutuhan terhadap ia meninggalkan makanan dan minumannya.”  (HR. Bukhari 6057)

Juga sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش، ورب قائم حظه من قيامه السهر

“Mungkin saja orang berpuasa yang ia dapat darinya hanya lapar dan dahaga, dan orang yang berdiri (sholat malam) yang ia peroleh hanya tidak tidur.”  (HR. Ahmad: 8856, hadits ini dinyatakan jayyid (baik) sanadnya oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Umar radhiyallahu’anhu juga berkata:

ليس الصيام من الطعام والشراب وحده، ولكنه من الكذب، والباطل، واللغو، والحلف

“Puasa bukanlah sekedar menahan makan dan minum semata, akan tetapi juga menahan diri agar tidak berdusta, berbuat kebatilan, kesia-siaan dan sumpah palsu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, no. 8882, ucapan yang sama diriwayatkan juga oleh Ali bin Abi Thalib pada no.8884, pada no. 8883 dari Maimun bin Mihran berkata, “Sesungguhnya puasa yang paling ringan adalah sekedar meninggalkan makan dan minum.”)

Maka tingkatan pertama puasa adalah tingkatan paling rendah, puasa yang penuh kekurangan, puasa yang tidak menghentikan pelakunya dari perbuatan haram dan perkataan haram.

Baca juga:  Wanita Hamil dan Menyusui, Apakah Mengqodo' atau Membayar Fidyah?

Ibnu Rajab Al hambali berkata, “Sebagian ulama salaf berkata, “seringan-ringan puasa adalah sekedar meninggalkan makan dan minum.”

Jabir berkata: “Apabila engkau berpuasa maka hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan yang haram. Tinggalkanlah menyakiti tetangga. Hendaklah di hari-hari engkau berpuasa memiliki  kewibawaan dan ketenangan, jangan engkau jadikan hari puasamu dan hari-hari lainnya sama saja.”

Maka, siapa yang mampu menahan dirinya dari segala yang haram, maka ia telah merealisasikan puasa yang sebenarnya dan ini adalah tingkatan kedua yang dinamakan oleh Al Ghazali dengan puasa khusus.

Adapun tingkatan puasa yang ketiga adalah puasanya hati dari ambisi-ambisi rendahan dan pemikiran-pemikiran duniawi, dan mengerahkan seluruh perhatian hati kepada Allah semata. Maka, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah tingkatan paling tinggi dan jarang orang yang bisa mencapainya kecuali mereka yang diberi tawfiq oleh Allah ta’ala. Karena hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuh, hati tempatnya ketakwaan dan tempat dimana Allah melihat kepada hamba Nya. Maka ibadah yang sempurna adalah yang mengerahkan perhatian hati hanya kepada Allah ‘Azza wa jalla, totalitas dalam menghadap Nya dan memutus segala kesibukan duniawi untuk Nya.

Siapa yang mampu mempuasakan hati dan anggota tubuhnya sekaligus, maka ia telah meraih kesempurnaan dan tingkat tertinggi (paling khusus) dalam puasa.

Kesimpulan

Pembagian seperti itu benar adanya bahwa ada perbedaan tingkatan orang dalam berpuasa. Orang yang beriman hendaknya berusaha maksimal menjalankan puasa sepenuhnya sebagaimana yang dituntut oleh Allah.

Baca juga:  Apakah Do'a Iftitah Dibaca pada Setiap Raka'at Tarawih atau Cukup di Raka'at Pertama saja?

Bukanlah maksud dari pembagian tersebut bahwa orang awam memiliki puasa sendiri dan orang khusus memiliki puasa tersendiri, akan tetapi semua orang islam dituntut untuk menjalankan puasa sesempurna dan sebaik mungkin. Akan tetapi sunnatullah tetap berlaku bahwa dalam hal itu manusia berbeda-beda sebagaimana perbedaan mereka dalam mendirikan sholat dan merealisasikan khusyu’ didalamnya.

 

Referensi: islamqa.info