Hosting Unlimited Indonesia

Toleransi Dalam Islam, Batasan dan Contohnya

  • admin 
Toleransi Dalam Islam, Batasan dan Contohnya

Toleransi Dalam Islam, Batasan dan Contohnya – Toleransi adalah suatu sikap yang mencerminkan kesabaran, pemaaf, menahan diri, menghargai dan menghormati antar pihak dalam menyikapi perbedaan yang ada pada masing-masing.

Tujuan dari sikap toleransi adalah untuk menghindari terjadinya konflik antar dua pihak yang berbeda, baik itu individu, kelompok, ras, suku, agama dan lainnya.

Toleransi Dalam Islam

Islam adalah agama pelopor toleransi yang ajarannya penuh dengan muatan toleransi terhadap kelompok yang berbeda. Bahkan Islam memiliki peraturan yang sempurna dan lengkap tentang cara hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda agama dengan kaum muslimin.

Islam tidak hanya menjadikan toleransi sebagai slogan belaka yang dikoarkan sebagai pemanis bibir, tapi Islam memiliki teknis tentang bagaimana cara bertoleransi terhadap sesama dengan intruksi yang begitu detail. Toleransi yang begitu apik ini hanya bisa Anda temukan dalam Islam.

Diantara kunci keadilan dalam Islam adalah karena Islam menjunjung tinggi keadilan. Keadilan dalam Islam harus ditegakkan kepada siapa saja tanpa pandang status nya dan kepada golongan apa saja, walaupun ia orang berbeda akidah. Konsep keadilan yang sempurna ini adalah perintah Allah dalam firman Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah : 8)

Tidak ada ruang bagi kezhaliman dalam bentuk apapun dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat.”

Contoh Toleransi Dalam Islam

Jika ditelusuri, sangat banyak sekali ajaran toleransi yang telah diatur begitu sempurna oleh Allah dan Rasul Nya. Diantara contoh toleransi tersebut adalah:

Larangan Memaksakan Agama dalam Islam

Islam mengharamkan pemaksaan memeluk agama karena setiap orang memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri tanpa paksaan. Allah Ta’ala berfirman:

 لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ   – البقرة: 256

“Tiada paksaan dalam (memeluk) agama, karena petunjuk sudah jelas dari kesesatan.” (QS. Al-baqarah: 256)

Tidak memaksa bukan berarti tidak boleh mengajak seseorang untuk masuk Islam, karena berdakwah dengan menjelaskan Islam kepada manusia adalah kewajiban. Tindakan yang tidak dibolehkan adalah memaksa baik dengan ucapan seperti ancaman maupun tindakan fisik agar seseorang memeluk Islam. Tugas seorang Da’i hanyalah menjelaskan dan menawarkan Islam kepada orang lain tanpa paksaan.

Sudah maklum bahwa setiap ideologi secara alamiah memiliki sistem untuk menyebarkan diri, baik secara terbuka maupun tidak, karena setiap orang tentu ingin agar orang sekelilingnya memiliki kesamaan ideologi dengannya.

Begitu juga dengan Islam, Islam adalah agama dakwah yang memiliki sistem penyebaran. Sistem penyebaran Islam adalah dengan mengajak dan menjelaskan Islam kepada manusia tanpa paksaan. Cara berdakwah Islam ini juga mencerminkan sisi toleransi Islam yang tidak memaksa, tapi mengedepankan ajakan untuk berfikir dan menggunakan akal dalam menerima sebuah pemikiran, ideologi maupun agama. Allah berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ – النحل: 125

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan (jika diperlukan) debatlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. an-Nahl : 125)

Prinsip tidak memaksa dalam mengajak manusia kedalam Islam ini tertuang dalam firman Alla Ta’ala:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS. Yunus : 99)

Dalam islam, cara mengajak orang adalah dengan argumentasi dan logika bukan dengan pemaksaan dalam bentuk apapun.

Larangan Mencela Sesembahan Agama Lain

Meskipun Islam memandang konsep akidah, terutama konsep ketuhanan pada agama lain tidak benar, namun demikian Islam tidak membenarkan cara-cara yang tidak terpuji seperti mencela, menghina sesembahan dan simbol-simbol agama lain, karena cara-cara seperti ini akan menimbulkan perpecahan antar sesama masyarakat dan terjadi saling caci dan cela. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am:108)

 

Perintah Untuk Berbuat Baik Kepada Sesama Manusia

Islam tidak melarang pengikutnya untuk berbuat baik dengan non muslim dan keharusan berbuat adil kepada semua orang yang tidak memusuhi dan memerangi mereka. Allah Ta’ala berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah : 8)

Islam Menjamin Keamanan Non-Muslim yang Hidup di Negara Islam

Dalam pemerintahan Islam, non-muslim yang menjadi warga negara (kaum dzimmi) dan orang kafir yang terikat perjanjian dengan muslim (Mu’ahad) harus dijamin keamanan dan kebebasannya beribadah. Hal inilah yang dilakukan Nabi shallallahu’alaihiwasallam ketika beliau menjadi penguasa pemerintahan di Madinah, diantara yang paling utama beliau lakukan ialah membuat perjanjian dengan suku-suku Yahudi disana yang diantaranya berisi jaminan keamanan dan kebebasan mereka beribadah di komunitasnya.

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ketahuilah, siapa yang mendzalimi seorang kafir mu’ahad, atau merendahkannya, atau membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan dirinya, maka aku adalah lawannya pada hari kiamat” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’).

Boleh Memakan Sembelihan Ahlul Kitab

Diantara bentuk toleransi dalam hukum Islam ialah dibolehkannya bagi muslim memakan hewan sembelihan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan syarat hewan tersebut halal dan disembelih (bukan dibunuh dengan cara lain) dan bolehnya seorang muslim menikahi wanita Ahlul Kitab, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

  الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ – المائدة:  5

“Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu,” (QS. Al-Maidah: 5)

Anjuran Sabar dan Memaafkan Musuh

Dalam Islam sifat sabar dan memaafkan (yang merupakan sifat kunci dari toleransi) terhadap orang yang telah berlaku buruk kepada kita sangat ditekankan. Allah Ta’ala berfirman,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-syura : 40)
Dan firman Nya,
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran : 134)

Sifat pemaaf ini dicontohkan sendiri oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam pada banyak kesempatan dalam hidup beliau. Bayangkan, ketika kafir Quraisy, penduduk Makkah pada saat itu yang sangat memusuhi beliau shallallahu’alaihiwasallam, mereka tidak bosannya menyiksa, membikot bahkan membunuh sebagian sahabat dan pengikut-pengikut beliau hanya karena mereka meyakini Tuhan yang Esa, dan pada puncaknya beliau harus hijrah (migrasi) ke Madinah karena kafir Quraisy telah berkomplot untuk membunuh beliau.

Pada saat beliau menjadi penguasa di Madinah, telah terjadi banyak peperangan antara kaum muslimin dan penduduk Makkah selama sekitar 10 tahun, hingga akhirnya kaum Muslimin mendapat kemenangan dan kekuatan. Saat kaum muslimin hendak menaklukkan kota mekkah (yang dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah), yaitu tempat musuh bebuyutan ummat islam tinggal saat itu, jika Rasulullah ingin, sangat wajar jika beliau membalas kejahatan mereka dengan balasan yang setimpal. Namun demikian, beliau tidak mengambil langkah itu, justru beliau memilih memaafkan kesalahan-kesalahan mereka dan membiarkan mereka hidup setelah bertahun-tahun menyiksa, membunuh, mengusir dan memerangi ummat Islam.

Pada saat penduduk Mekkah telah berkumpul untuk menunggu keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mereka, saat situasi menegangkan ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada penduduk Mekkah: “Menurut kalian apa yang akan aku perbuat untuk menghukum kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak saudara kami yang mulia.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  memberi keputusan dengan bersabda, “Pergilah, karena (aku) telah bebaskan (maafkan) kalian!”

Ini merupakan contoh toleransi yang sungguh tiada tandingannya yang dicontohkan oleh ummat Islam.

Banyak contoh-contoh lainnya dimana Rasulullah sangat toleran dalam berinteraksi dengan kesalahan dan perbedaan yang ada pada saat itu. Contoh toleransi, juga banyak ditunjukkan oleh ummat Islam sepanjang sejarah Islam, contohnya bagaimana kisah tolerannya Umar ketika menaklukkan Yerusalem, toleransi Salahuddin Al-Ayyubi ketika berhasul menaklukkan kembali Yerussalem dari tentara salib dll.

Dalil yang paling nyata tentang bagaimana tolerannya ummat islam sepanjang sejarah adalah fakta keberlangsungan hidup orang-orang non Muslim, rumah ibadah dan tempat-tempat suci mereka sampai saat ini di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh islam selama ratusan tahun, sebut saja Kristen Koptik dan orthodox di Mesir dan wilayah Syam (Syiria, Palestina, Jordan), Hindu di India, dan orang-orang Yahudi yang hidup tersebar di wilayah-wilayah Islam. Seandainya muslim tidak memiliki konsep toleransi yang baik, maka orang-orang non muslim dan rumah ibadah mereka tidak mungkin tersisa saat ini.

Batasan Toleransi Dalam Islam

Segala sesuatu ada batasannya, demikian juga toleransi. Meskipun toleransi merupakan anjuran pokok dalam Islam, namun, ada batasan-batasan dimana seseorang harus bersikap tegas dalam tindakannya. Karena tujuan dari toleransi ialah mencapai kemaslahatan untuk kedua belah pihak, nah, jika tujuan maslahat ini tidak bisa dicapai dengan jalan toleransi, bahkan pelaku terus-menerus menyakiti dan memusuhi walaupun sudah berkali-kali ditolerir dan dimaafkan, maka seseorang boleh melakukan tindakan yang dibenarkan untuk mencapai tujuan kemaslahatan tersebut tanpa kezhaliman dan tindakan melampaui batas.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, berkata Ibnu Taimiyah,

الإصلاحُ واجب، والعفوُ مندوبٌ، فإذا كان في العفو فواتُ الإصلاحِ، فمعنى ذلك أننا قدَّمْنَا مندوبًا على واجبٍ، وهذا لا تأتي به الشريعةُ

 “Mencari kemaslahatan adalah kewajiban, sedangkan toleransi dan memberi maaf (orang yang telah berlaku aniaya) adalah anjuran (pilihan; bukan wajib) Nah, jika pada sikap toleran kita tidak menghasilkan maslahat, berarti kita telah mendahulukan anjuran atas kewajiban, dan ini bertentangan dengan tujuan Syari’at.” (Kitab Al-‘Ilm, Ibnu ‘Utsaimin : 181)

Karena ketika seseorang dizhalimi, ia diberikan kebebasan untuk memilih sikap:

  • Memaafkan dan memberi tolerasi kepada orang yang menzhaliminya. Inilah sikap yang paling utama dan dianjurkan oleh Allah, selama sikap maaf ini lebih bermanfaat.
  • Membalas dengan balasan yang setimpal. Sikap ini dibolehkan karena ini adalah hak dia untuk mendapatkan keadilan atas penganiayaan. Tapi sikap ini tidak dianjurkan kecuali jika dengan membalas dengan setimpal terdapat maslahat bagi pelaku penganiayaan.

Kesimpulan

Islam adalah agama yang menekankan sikap pemaaf dan toleransi kepada pihak yang menganiaya dan sikap ini harus menjadi bingkai utama dalam kehidupan setiap muslim.

Namun, seorang muslim harus pandai-pandai melihat kondisi kapan ia harus bersikap tegas terhadap orang zhalim, terutama jika sikap tolerannya dipandang sebagai kelemahan dirinya yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku untuk terus menerus berbuat aniaya, maka pada saat itu seorang muslim harus mengambil sikap yang lebih mashlahat.

Referensi:

http://quran.com/

https://www.alukah.net/social/0/74580/

https://www.alukah.net/sharia/0/62413/

http://www.islamweb.net/ar/fatwa/345748/

 

Artikel Lainnya: