Hosting Unlimited Indonesia

Wabah Penyakit Tha’un: Pengertian, Sejarah, Pencegahan dan Pengobatannya

  • admin 
Wabah Penyakit Thaun Pengertian Sejarah Pencegahan dan Pengobatannya

Wabah Penyakit Tha’un: Pengertian, Sejarah, Pencegahan dan Pengobatannya – Dunia saat ini sedang digemparkan dengan wabah virus Corona (Covid-19) yang bermula dari kota Wuhan, China, kemudian menyebar dengan ganas hampir ke seluruh dunia. Saat tulisan ini dibuat (22, Maret 2020) telah terjadi 335.403 kasus orang terjangkit dan 14.611 orang meninggal dunia karena wabah pandemik (epidemi) Corona ini.

Dampaknya tidak terkecuali juga mengenai ummat Islam, bahkan saat ini aktivitas umroh dihentikan sementara oleh pemerintah Saudi untuk menghindari semakin meluasnya penyebaran virus mematikan ini. Banyak negara telah mengambil kebijakan Lockdown membatasi bahkan menghentikan arus keluar-masuk ke negara masing-masing

Di Indonesia sendiri, pihak MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa dan himbauan untuk ummat Islam di Indonesia agar tidak mengadakan sholat jum’at dan jama’ah di masjid untuk sementara waktu sampai wabah berlalu.

Warga masyarakat dihimbau untuk melakukan isolasi dan social distancing atau menjaga jarak dan interaksi agar tidak saling menularkan virus berbahaya ini.

Wabah semacam ini bukan hanya terjadi kali ini saja, tapi jika kita buka lembaran sejarah, telah banyak kejadian serupa bahkan mungkin lebih parah yang terjadi diberbagai belahan dunia, tidak terkecuali di negeri-negeri Islam. Wabah yang merata seperti ini dikenal dengan sebutan tha’un. Apa pengertian tha’un? Bagaimana sejarah, cara pengobatan dan pencegahannya? berikut ini kami telah menyusun beberapa penjelasan tentang tha’un dan seluk beluknya.

Pengertian Tha’un

Tha’un (الطاعُون) memiliki akar kata yang sama dengan tha’n (الطَّعْنُ) yang secara bahasa bermakna tobakan atau tusukan. Diriwayatkan dalam hadits bahwa penyakit tha’un disebabkan oleh tusukan yang dilakukan oleh Jin kepada manusia.

Sebagian orang menyamakan Tha’un dengan wabah (wabaa). Ibnu Mandzur mendefinisikan: Tha’un  adalah penyakit dan wabah yang menyebar secara merata yang merusak udara lalu merusak sistem tubuh dan badan manusia. (Lisanul ‘Arab, Ibnu Manzhur)

Penanganan Tha’un dalam Sejarah Islam

Telah banyak kasus wabah tha’un terjadi di dunia yang dicatat oleh ahli sejarah, salah satunya yang paling terkenal adalah Tha’un Amwas yang terjadi pada zaman sahabat. Amwas adalah nama sebuah daerah di Syam dekat Palestina sekarang tempat dimana tha’un ini terjadi, sehingga dinamakan tha’un amwas.

Isolasi, social distance dan lockdown terbukti efektif dalam menghentikan penyebaran wabah tha’un. Solusi ini telah dilakukan sejak dahulu oleh ummat Islam, berdasarkan anjuran  Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

وعن أسامة بن زيد رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏ إذا سمعتم الطاعون بأرض، فلا تدخلوها، وإذا وقع بأرض، وأنتم فيها، فلا تخرجوا منها‏ 

 ‏‏متفق عليه‏)‏‏)

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Jika kalian mendengar ada wabah tha’un di suatu tempat, maka jangan kalian masuk dan datang kesana, dan apabila terjadi disuatu tempat sedangkan kalian ada didalamnya, maka jangan kalian keluar darinya.” (Muttafaqun ‘alaih /HR. Bukhari dan Muslim)

Solusi yang diberikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits diatas adalah yang pada zaman ini diistilahkan dengn lockdown, yaitu menghentikan keluar masuknya orang kedalam area wabah. Kita dilarang masuk ke area wabah agar wabah tersebut tidak menjangkiti kita, demikian juga penduduk yang terkena wabah dilarang keluar meninggalkan kampungnya supaya dia tidak menularkan wabah tersebut kepada penduduk lain yang berakibat semakin meluasnya wabah ini.

Tha’un ‘Amwas

Tha’un ‘Amwas (طاعون عمواس) adalah wabah tha’un pertama yang terjadi dalam sejarah Islam, terjadi pada zaman kekhalifahan ‘Umar bin Khattab tahun 18 Hijriyah. Terjadi di kota yang bernama  ‘Amwas. Akibat tha’un ini, banyak sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjadi korbannya, diantara mereka Abu ‘Ubaidah, Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, Syurahbil bin Hasanah, Abu Jandal Sahl bin ‘Umar dan ayahnya dan Al-Fadhl bin Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib, sepupu Nabi, saudara Ibnu ‘Abbas, semoga Allah meridhoi mereka semua.peta kota amwas tempat terjadinya thaun amwas

Pada saat tha’un ‘amwas ini terjadi, para sahabat sempat kebingunan dalam nengatasinya, karena fenomena itu baru pertama kali terjadi dalam dunia Islam. Sedangkan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tempat bertanya ketika terjadi masalah telah lama wafat dan para sahabat yang mungkin mengetahui solusinya dari Nabi telah berpencar ke berbagai penjuru dunia Islam saat itu yang terbentang dari Afrika utara sampai ke perbatasan Cina.

Sempat terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat, sebagian mereka ada yang menyerukan agar pindah atau minggat dari tempat wabah menuju ke tempat lainnya. Sedangkan yang lain berpendapat hal itu adalah bentuk lari dari takdir Allah dan ajal yang telah ditetapkan.

Kisah yang paling populer dalam masalah ini adalah dialog yang terjadi antara Khalifah Umar bin Khattab dengan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radhiyallahu’anhuma. Ketika Umar mengajak Abu Ubaidah untuk bermigrasi dari tempat wabah tha’un yang waktu itu ia berada. Permintaan itu dijawab oleh Abu ‘Ubaidah, “Wahai Amirul Mu’minin, apakah kita hendak lari dari takdir Allah?” 

Maka dijawab oleh Umar, “Andai yang mengatakan hal itu selainmu wahai Abu Ubaidah! Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu jika engkau memiliki unta lalu unta itu berhenti (untuk makan) di sebuah lembah yang mempunyai dua sisi, salah satu sisinya subur dan sisi yang lain gersang. Bukankah jika engkau menggembalakan untamu disisi yang subur engkau lakukan itu karena takdir Allah? demikian juga jika engkau gembalakan untamu disisi yang gersang, juga engkau lakukan itu karena takdir Allah?”. Abu Ubaidah menjawab, “Iya!”

Meski demikian, Abu ‘Ubaidah tetap menolak ajakan Umar untuk pindah dan ia lebih memilih untuk menetap ditempat wabah tersebut sampai ia wafat karenanya. Saat itu ia mengumpulkan warganya dan berpidato, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya wabah ini adalah rahmat bagi kalian, ia adalah do’a Nabi kalian dan merupakan penyebab kematian banyak orang shaleh sebelum kalian, dan sesungguhnya (aku) Abu ‘Ubaidah memohon kepada Allah agar Dia memberikan bagianku (untuk mati syahid dengan sebab wabah ini)”. 

Tidak lama setelah itu Abu ‘Ubaidah pun wafat dan jabatan kepemimpinan Syam telah ia wasiatkan agar dipikul oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhum. Setelah mejabat, Muadz pun berpidato di hadapan warganya dan mengatakan seperti yang dikatakan oleh Abu ‘Ubaidah. Setelah itu anaknya ‘Abdurrahman terkena tha’un dan wafat, tidak lama berselang Mu’adz juga terkena tha’un. Penyakit tersebut pertama kali menjalar dari tangannya. Seorang perawi yang meriwayatkan kisah ini berkata, “sungguh aku melihat ia memandang pada tangannya, kemudian ia membalik telapak tangannya sambil berkata, “sunggu aku tidak suka mengganti apa yang menimpamu dengan suatu apapun dari kesenangan duniawi.” Ucapannya tersebut terlontar karena ia meyakini pahala besar yang  akan ia dapat karena musibah tersebut.

Baca juga:  Pengertian Sifat Hasad dan Dalilnya

Khalifah Umar bin Khattab Turun Tangan

Saking ganasnya wabah tha’un amwas ini, sampai-sampai khalifah Umar yang berada di Madinah, ibu kota pusat pemerintahan Islam saat itu langsung turun tangan ke Amwas untuk mencarikan solusi penyembuhan dan juga agar wabah berhenti menyebar. Wabah tersebut telah menyebabkan kematian sebanyak 30 ribu orang (pendapat lainnya mengatakan 70 ribu orang) hanya dalam waktu tiga hari.

Ummat Islam juga saat itu menghadapai tantangan baru tentang masalah pembagian harta warisan (faraidh atau mawarith) karena antara pewaris dan orang yang diwarisi meniggal dalam waktu begitu cepat secara bersamaan, sehingga tidak diketahui siapa yang meninggal terlebih dahulu. Sehingga dalam kasus ini sulit untuk menerapkan pembagian harta warisan dengan cara biasa.

Permasalahan itu ditangani langsung oleh Umar bin Khattab, sehingga masyarakat merasa terobati dengan kedatangannya, sekaligus memutus ambisi musuh yang memanfaatkan kondisi itu untuk merampas negeri Islam.

Solusi Isolasi (Social distancing) yang Cerdas dari ‘Amr bin ‘Ash

Wabah tha’un ‘amwas yang menimpa ummat islam di syam tersebut belum juga reda dan seolah tak kunjung berhenti. Ummat Islam waktu itu hidup dengan melewati hari-hari yang sulit. Sampai seorang sahabat yang cerdas, ‘Amr bin ‘Ash gubernur mesir saat itu datang memberi solusi. Amr bin ‘Ash dikenal dengan kecerdasannya dalam menyelesaikan masalah, bahkan kecerdasannya sudah dikenal sejak masa jahiliyah.

Setelah sahabat Muadz bin Jabal wafat dan posisi kepemimpinan dipegang oleh ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhum, ia mengumpulkan seluruh rakyat dan berpidato:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya penyakit wabah ini ketika terjadi, maka ia menyala seperti nyala api, karena itu bentengilah diri kalian dengan berpencar di bukit-bukit.”

Maksud beliau bahwa keadaan wabah ini mirip dengan api, apabila api tidak mendapatkan bahan bakarnya maka ia akan padam. Itu adalah nasehat kepada rakyat agar berpencar di sudut-sudut kota untuk beberapa waktu. Akhirnya, atas kebijakan itu, dengan izin Allah, wabah tha’un bisa diatasi dan penyebarannya berhenti. Alhamdulillah.

Tha’un, Adzab bagi Sebagian Orang dan Rahmat bagi Orang Beriman

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa kondisi duniawi dalam islam bukan tolak ukur kesuksesan disisi Allah. Penderitaan, kemiskinan, sakit dan semisalnya bukan patokan bahwa Allah tidak mencintai seseorang, demikian juga sebaliknya kesehatan, kekayaan dan jabatan bukan tolak ukur bahwa Allah mencintai seseorang.

Tolak ukur disisi Allah adalah iman dan amal sholeh. Boleh jadi seseorang yang dicintai Allah, diberi berbagai ujian seperti kemiskinan, penyakit dsb, inilah keadaan kebanyakan para Nabi dan Rasul. Demikian juga boleh jadi orang yang paling dibenci oleh Allah diberi kekayaan dan kekuasaan, contohnya Fir’aun dan Qarun.

Nabi mengabarkan bahwa wabah tha’un adalah bala yang diutus oleh Allah baik kepada orang beriman maupun selain mereka. Namun, Allah jadikan bala tersebut sebagai azab dan siksaan untuk orang yang Allah kehendaki dan rahmat bagi orang beriman. Orang beriman yang terkena tha’un dan ia sabar dalam menghadapinya, maka ia mendapat pahala sama seperti pahala orang yang mati syahid karena berperang dijalan Allah.

عن عائشة أنها سألت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن الطاعون، فقال عليه الصلاة والسلام : (إنه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء ، فجعله الله رحمة للمؤمنين) رواه البخاري

Dari ‘Aisyah istri Nabi radhiyallahu’anha, bahwasanya beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang wabah tha’un, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya ia adalah azab yang Allah utus kepada siapa yang Ia kehandaki, kemudian Allah jadikan ia sebagai rahmat bagi orang-orang beriman.” (HR. Bukhari)

Perlu digaris bawahi disini bahwa meskipun tha’un dijadikan sebagai azab bagi sebagian orang yang Allah kehendaki, kita tidak boleh menghakimi orang yang terkena tha’un karena azab, karena perkara azab atau bukan hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Bisa jadi orang yang terkena tha’un menjadi azab bagi orang yang secara zhahirnya muslim tapi pada hakikatnya ia adalah orang munafik.

Orang Beriman yang Mati karena Tha’un adalah Syahid

Dalam sebuah hadits disebutkan:

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏”‏ما تعدون الشهداء فيكم‏؟‏ قالوا‏:‏ يا رسول الله من قتل في سبيل الله فهو شهيد‏.‏ قال‏:‏ ‏”‏إن شهداء أمتي إذًا لقليل‏!‏‏”‏ قالوا‏:‏ فمن يا رسول الله ‏؟‏ قال‏:‏ ‏”‏من قتل في سبيل الله فهو شهيد، ومن مات في سبيل الله فهو شهيد، ومن مات في الطاعون فهو شهيد، ومن مات في البطن فهو شهيد، والغريق شهيد‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏‏
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bertanya, “menurut kalian siapa saja yang termasuk para syahid?”, mereka (para sahabat) menjawab, “wahai Rasulullah, syahid adalah orang yang terbunuh di jalan Allah.” Beliau menjawab, “jika demikian para syuhada pada ummatku sungguh sedikit!”, mereka bertanya, “lalu siapa saja mereka wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda, “siapa yang terbunuh dijalan Allah (peperangan) ia adalah syahid, siapa yang mati dijalan Allah (peperangan) ia adalah syahid, orang yang mati karena tha’un adalah syahid, orang yang mati karena penyakit perut maka ia syahid dan orang yang mati tenggelam adalah syahid.” (HR. Muslim)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ ‏”‏‏

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tha’un adalah syahadah bagi setiap orang islam.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik)

Baca juga:  Hukum Taklifi: Pengetian, Pembagian dan Penjelasannya

Hikmah kenapa Allah jadikan orang yang terkena wabah ini sebagai rahmat dan mendapatkan pahala syahid adalah karena wabah ini begitu berat deritanya dan begitu cepat menggerogoti seluruh tubuh, sehingga penderitanya harus menahan sakit yang begitu pedih seperti orang yang kena tusukan tombak di medan perang, sehingga matinya dianggap syahid oleh Allah sama seperti orang mati di medan perang.

Tha’un antara Rahmat dan Usaha untuk Berobat

Seperti yang telah disebutkan dalam hadits bahwa wabah tha’un dijadikan sebagai rahmat oleh Allah untuk orang beriman, dengan diampuni dosa-dosa mereka dan diangkat derajat mereka di surga kelak atas kesabaran mereka menghadapi takdir Allah. Demikian juga orang yang beriman yang mati disebabkan wabah ini akan mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid di medan jihad.

Sakit dan musibah secara umum adalah rahmat Allah untuk orang beriman. Banyak dalil tentang hal itu, terkhusus wabah penyakit tha’un ini. Dengan sakit Allah ingin memberi pahala sabar untuk hambanya, dimana pahala sabar berbeda dengan pahala amalan lainnya yang masih memiliki nilai angka. Pahala sabar sebagaimana yang disebutkan oleh Allah, tanpa batas. Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zuma: 10)

Namun demikian, bukan berarti seseorang tidak berusaha untuk mencari solusi dan pengobatan ketika sakit. Karena usaha dan pengobatan juga merupakan anjuran Allah dan Rasul Nya. Banyak dalil baik dari Quran dan Sunnah yang menganjurkan kita untuk berobat, diataranya adalah solusi yang diajarkan Nabi agar orang yang berada di tempat wabah tidak keluar darinya demikian juga orang yang dari luar tidak masuk ke area yang terkena wabah.

Demikian juga contohnya Nabi shallallahhu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

 لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada tanda kesialan (dari burung), tidak ada Hammah dan tidak ada tanda kesialan pada bulan Safar, dan menjauhlah (hati-hatilah) dari penderita kusta seperti engkau menjauh dari singa. (HR. Bukhari: 5707)

Dalam sebuah peristiwa sumpah setia (bai’at) yang mengharuskan pemimpin mengambil sumpah setia untuk ta’at dan patuh dari rakyatnya sambil bersalaman, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak membai’at seorang yang terkena kusta dengan bersalaman. Ini seperti yang diceritakan dalam hadits berikut,

عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ كَانَ فِي وَفْدِ ثَقِيفٍ رَجُلٌ مَجْذُومٌ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ إِنَّا قَدْ بَايَعْنَاكَ فَارْجِعْ ‏”‏ ‏

Dari ‘Amr bin Asy-syarid, dari ayahnya, ia berkata, dahulu ada seorang laki-laki yang menderita kusta utusan Bani Tsaqif (untuk membai’at Nabi shallallahu’alaihi wa sallam), maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengutus seseorang kepadanya untuk menyempaikan pesan, “kami telah mengambil bai’at kamu, maka kembalilah.” (HR. Muslim: 2231)

Hadits diatas dan hadits-hadits lainnya adalah tuntunan dan contoh bagi kita untuk menjalani sebab dan ikhtiar, baik untuk kesembuhan dari suatu penyakin maupun mencegahnya, diwaktu yang sama kita juga dituntut untuk memiliki tawakkal kepada Allah dan menerima apapun takdir dan ketetapan Allah untuk kita setelah berusaha dan berikhtiar. Diriwayatkan dalam sebuah hadits,

 قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ ‏ : اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ ‏

Seseorang berkata, “wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat (unta ku) kemudian bertawakkal pada Allah, atau aku biarkan tanpa terikat dan bertawakkal kepada Allah?”, maka Rasulullah bersabda, “Ikatlah ia kemudian engkau bertawakkal!” (HR. At-tirmidzi, hadits ini dinilai lemah oleh sebagian ulama dan sebagian menilainya hasan, tapi maknanya benar berdasarkan dalil-dalil yang lain)

Kota Madinah Tidak Dimasuki Tha’un dan Dajjal

Kota tempat hijrahnya Nabi, Madinah merupakan salah satu kota istimewa di dalam Islam. Selain terdapat Masjid Nabawi yang pahala sholat di dalamnya mencapai 1000 kali lipat dibandingkan sholat di masjid yang lain (selain masjidil haram Makkah), Madinah juga memiliki keistimewaan lain, yaitu tha’un dan Dajjal tidak dapat memasuki kota Madinah. Ini sebagaimana sabda Nabi shallallhu’alaihi wa sallam:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ الْمَدِينَةُ يَأْتِيهَا الدَّجَّالُ فَيَجِدُ الْمَلاَئِكَةَ يَحْرُسُونَهَا فَلاَ يَقْرَبُهَا الدَّجَّالُ وَلاَ الطَّاعُونُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ‏”‏‏‏

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Madinah akan didatangi oleh Dajjal, lalu ia dapati kota ini dijaga oleh para Malaikat. Maka kota Madinah tidak akan didekati oleh Dajjal dan tidak pula tha’un, In Sya Allah.” (HR. Bukhari: 7473)

Baca juga:  Mukallaf: Pengertian, Syarat dan Dalilnya

Pencegahan

Selain menjaga kebersihan baik badan,pakaian dan tempat tinggal, berikut ini beberapa cara untuk mencegah penyakit, wabah dan hal-hal buruk lainnya secara umum yang diajarkan dalam Islam.

1. Mencuci Tangan dan Wudhu

Selain wudhu, Nabi juga mengajarkan kita agar mencuci tangan terutama ketika baru saja bangun dari tidur. Ketika baru bangun tidur kita dilarang langsung mencelupkan tangan ke bejana sebelum tangan dicuci terlebih dahulu. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اِسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسُ يَدَهُ فِي اَلْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian baru bangun dari tidurnya, maka janganlah ia langsung menyelupkan tangannya kedalam bejana, sampai ia cuci terlebih dahulu dengan air tiga kali, karena ia tidak mengetahui tangannya bermalam dimana.” (HR. Bukhari dan Muslim, dan ini dari lafazh Muslim)

2. Mandi Junub (Mandi Wajib)

Setelah berhubungan suami istri atau keluar mani karena mimpi atau lainnya, atau setelah habis haid diwajibkan mandi yang disebut dengan mandi junub atau mandi wajib. Caranya adalah dengan berniat mandi junub dan menyiramkan air ke seluruh badan. Disunnahkan sebelum mandi junub untuk mencuci kemaluan dan berwudhu’ terlebih dahulu.

Selain mandi wajib diatas seseorang dianjurkan untuk banyak mandi untuk kesegaran, terutama ketika hendak sholat jum’at.

3. Memotong Kuku, Mencabut Bulu Ketiak, Menipiskan Kumis dan Mencukur Bulu Kemaluan

وعن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏”‏الفطرة خمس، أو خمس من الفطرة‏:‏ الختان، والاستحداد، وتقليم الأظفار، ونتف الإبط، وقص الشارب‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏

Dari Abu Hurairah radhiyallallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda, “ada lima perkara fithrah: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan memotong kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Menutup semua Wadah dan Bejana

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ (غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ) ‏

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “tutuplah bejana dan wadah air kalian. Karena dalam setahun ada satu malam yang turun padanya wabah, tidaklah wabah tersebut melewati suatu bejana atau wadah yang tidak ditutup kecuali wabah tersebut akan turun padanya.” (HR. Muslim: 2014)

5. Menutup Pintu dan Jendela Bila Waktu Malam telah Tiba

، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ ‏”‏ غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَحُلُّ سِقَاءً وَلاَ يَفْتَحُ بَابًا وَلاَ يَكْشِفُ إِنَاءً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلاَّ أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ ‏”‏ ‏.‏ وَلَمْ يَذْكُرْ قُتَيْبَةُ فِي حَدِيثِهِ ‏”‏ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ ‏”‏

Dari Jabir , dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: “tutuplah bejana, wadah air kalian, kuncilah pintu dan matikanlah lampu, karena syaithan tidak dapat membuka tutup wadah, tidak pula dapat membuka pintu, tidak pula dapat menyibak tutup bejana. Jika salah seorang diantara kamu tidak menemukan sesuatu penutup kecuali dengan membentangkan diatasnya sebuah tongkat kayu dengan menyebut nama Allah, maka hendaklah ia lakukan hal itu. Karena tikus dapat menyebabkan kebakaran rumah dan penghuninya.” Dalam riwayat lain oleh Qutaibah tidak ia sebutkan kalimat “kuncilah pintu” (HR. Muslim: 2012)

6. Mengibaskan Kasur ketika Hendak Tidur

Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللهَ فَإِنَّهُ لاَ يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَه

“Apabila seorang dari kalian beranjak ke tempat tidurnya hendaklah ia mengmabil kain kemudian mengibaskan pada tempat tidur tersebut, dan hendaklah ia ucapkan nama Allah (bismillah) karena ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada tempat tidurnya itu ketika ia tinggalkan.” (HR. Bukhari, Muslim dan selain keduanya)

7. Memadamkan Api dan Mematikan Lampu ketika Ingin Tidur

Haditsnya telah kami sebutkan pada poin nomor 5 diatas, terutama jika lampunya berupa lentera yang masih menggunakan api, karena bisa menyebabkan kebakaran disaat tidur karena ulah tikus dan binatang lainnya. Selain itu, dengan mematikan lampu, maka tidur menjadi lebih lebih nyenyak dan berkualitas, tidur berkualitas penting untuk kesehatan. Tidur berkualitas adalah tidur diawal waktu, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam langsung tidur setelah sholat Isya dan bangun malam untu sholat tahajjud.

7. Mengkonsumsi Obat Terutama Obat Alami Anjuran Nabi (Thibbun Nabawi)

Diantaranya mengkonsumsi habbatus sauda (jintan hitam) dan madu. Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sungguh pada habbatus sauda’ terdapat pengobatan untuk segala penyakit, kecuali as-sam.” Saya bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian”.

Demikian ulasan singkan tentang wabah tha’un, semoga kita selalu dijaga oleh Allah dan diberikan kesehatan. Dan semoga ummat Islam yang terkena wabah ini dapat bersabar dan diberi kesembuhan oleh Nya, dan jika mereka wafat semoga diterima sebagai syuhada disisi Allah ‘Azza wa jalla.

Referensi: